Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
ANALISIS KADAR MERKURI PADA KOMPONEN EKOSISTEM AKIBAT PETI DI SUNGAI TEBAUNG KABUPATEN KAPUAS HULU
ABSTRAKPETI di Sungai Tebaung Kabupaten Kapuas Hulu telah berlangsung sejak tahun 1999 dengan menggunakan merkuri sebagai amalgaman. Merkuri dapat menyebabkan pencemaran sungai, dapat menganggu ekosistem sungai serta kesehatan manusia. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menganalisis kadar merkuri pada air permukaan, sedimen, ikan dan tumbuhan di Sungai Tebaung, menganalisis akumulasi merkuri pada rambut manusia yang tinggal di bantaran Sungai Tebaung serta menganalisis persebaran merkuri pada komponen ekosistem di Sungai Tebaung. Pengujian merkuri dilakukan sampel dilakukan dengan meode AAS. Dari hasil penelitian menunjukan konsentrasi merkuri pada air permukaan di hulu sungai sebesar 0,004 mg/l , di tengah sungai 0,0049 mg/l dan hilir Sungai 0,0063 mg/l ketiga titik sampel melebihi baku mutu menurut PP 82 Tahun 2001 kelas 2 sebesar 0,002 mg/l. Konsentrasi merkuri pada sedimen di hulu sungai sebesar 0,1815 mg/l, tengah sungai 0,0585 mg/l dan hilir sungai 0,124 mg/l ketiga titik sampel juga telah melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh PP 18 tahun 1999 yaitu 0,1 mg/l. Konsentrasi merkuri pada paku sayur di hulu sungai sebesar 0,0096 mg//kg, di tengah sungai 0,0124 mg/kg dan hilir sungai 0,0193 mg/kg ketiga sampel juga telah melebihi baku mutu SNI 7383-2009 yaitu 0,003 mg/kg. Konsentrasi merkuri pada ikan di hulu dan di tengah sungai sebesar <0,004 mg/kg, di hilir sungai 0,0047 mg/kg ketiga sampel dibawah baku mutu yang ditetapkan WHO 2005 yaitu 0,5 mg.kg. Akumulasi merkuri pada sampel rambut manusia di Desa Semangut sebesar 0,05 mg/kg, Desa Sebilit 0,067 mg/kg dan Desa Nanga Suruk sebesar 0,813 mg/kg ketiga sampel masih dibawah baku mutu yang ditetapkan oleh WHO 1990 yaitu 1 mg/kg.Kata Kunci : merkuri, sungai, ekosistem, persebara
PEMANFAATAN AMPAS TAHU SEBAGAI BAHAN PENYERAP LOGAM TEMBAGA (Cu) PADA LIMBAH CAIR LABORATORIUM TEKNIK LINGKUNGAN
ABSTRAK Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura merupakan satu diantara laboratorium yang belum memiliki pengolahan. Hasil pengujian limbah cair laboratorium kandungan tembaga (Cu), COD dan pH masih melebihi standar baku mutu berdasarkan PERMEN LH No.5 Tahun 2014 tentang baku mutu air limbah, yaitu tembaga (Cu) 19,085 mg/L, pH 1,15. Berdasarkan permasalahan tersebut dibutuhkan pengolahan untuk mereduksi zat pencemaran yang ditimbulkan. Satu diantara teknologi yang digunakan yaitu adsorpsi menggunakan ampas tahu. Adsorpsi dengan pemanfaatan ampas tahu karena tahu mengandung protein. Kandungan protein yang terdapat pada ampas tahu dalam 100 gram adalah 17,4 gram (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Protein tersebut memiliki daya serapan dari asam-asam amino yang membentuk ion bermuatan dua (zwitter ion). Logam yang bersifat toksik dapat diikat dengan protein sebagai metalotionein. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efisiensi penggunaan ampas tahu sebagai penyerap logam tembaga (Cu), COD dan Ph serta mengetahui pengaruh waktu kontak dari ampas tahu terhadap penyerap logam tembaga (Cu), COD dan pH. Pengolahan limbah cair laboratorium dilakukan dengan cara aktivasi fisika terhadap ampas tahu agar bisa digunakan sebagai adsorben. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan melakukan penelitian skala laboratorium. Ampas tahu yang digunakan sebanyak 1 gram dengan limbah 100 ml lalu dikontakkan dengan alat shaker pada variasi waktu 30, 60, 90, 120 dan 150 menit. Dilakukan duplo agar didapatkan hasil yang akurat. Hasil penelitian dari pengolahan limbah cair Laboratorium Teknik Lingkungan adalah tembaga (Cu) dengan efisiensi penurunan sebesar 47,523% dari 19,085 mg/L menjadi 10,013 mg/L pada waktu kontak 150 menit. Untuk parameter COD naik sebesar 5% dari 360 mg/L menjadi 379 mg/L dan pH turun sebesar 18% dari 1,15 menjadi 0,94. Nilai tersebut masih belum memenuhi standar baku mutu berdasarkan PERMEN LH No. 5 Tahun 2014. Kata kunci : adsorpsi, ampas tahu, limbah laboratorium, tembaga (Cu
PEMETAAN KEBISINGAN PADA KAWASAN PENDIDIKAN AKIBAT TRANSPORTASI DI AREA ZOSS (ZONA SELAMAT SEKOLAH) DI KOTA PONTIANAK
ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan pada kawasan sekolah kota Pontianak yaitu SDN 17, TK Pertiwi dan SMPN 9 kota Pontianak yang memiliki ZoSS (Zona Selamat Sekolah) yang dibangun pada tahun 2015. Berdasarkan Pada pasal 31 Perda No 2 Tahun 2013 tentang RTRW 2013-2033 di sebutkan bahwa kawasan peruntukan pelayanan umum yaitu kawasan pendidikan seharusnya berada di jalan Ampera di kelurahan Sungai Jawi kecamatan Pontianak kota. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan yang terjadi di lokasi sesungguhnya, dimana lokasi sekolah yang masih berada di kawasan yang bukan di peruntukan khusus untuk sekolah. SDN 17 berlokasi di Jalan Putri Candramidi kota pontianak, TK Pertiwi berlokasi di jalan K.H A. Dahlan, dan SMPN 9 berlokasi di jalan Pengeran Natakusuma dimana ketiga jalan termasuk daerah yang cukup padat transportasinya di kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan, memetakan sebaran tingkat kebisingan, dan membuat upaya penanggulangan akibat tingkat kebisingan di masing-masing lokasi. Penentuan titik pengukuran dilakukan pada aplikasi google earth, yang kemudian pada saat di lapangan titik koordinatnya diambil menggunakan aplikasi GPS. Pengukuran tingkat kebisingan pada penelitian dengan menggunakan alat Sound Level Meter. Pengukuran dilakukan selama 10 menit pada setiap titik, dan data yang diperoleh adalah data tingkat kebisingan dengan mengacu pada SNI 7231:2009. Pemetaan sebaran tingkat kebisingan menggunakan aplikasi surfer 11. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kebisingan di SDN 17, TK Pertiwi dan SMPN 9 kota Pontianak melebihi baku mutu ambang batas kebisingan untuk kawasan pendidikan dalam hal ini sekolah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP.48/MENLH/11/1996 yaitu sebesar 55 dB. Berdasarkan hasil penelitian bahwa nilai tingkat kebisingan tertinggi adalah 72,8 dBdenganjarakbangunansekolahterhadapjalanraya 13 m, yaitu pada SDN 17 kota Pontianak. Tingkat kebisingan terendah terdapat pada SMPN 9 kota Pontianak yaitu dengan nilai kebisingan 52,3 dBdenganjarakbangunansekolahterhadapjalanraya 40 m. Peta sebaran tingkat kebisingan di kawasan pendidikan kota pontianak dominan berwarna kuning dan merah, yang artinya tingkat kebisingan di area sekolah rata-rata di antara 60-70 dB. Upaya untuk meminimalisir kebisingan dari aktivitas transportasi di Pontianak yaitu membuat BPB dapat berupa penghalang alami (natural barrier) dan penghalang buatan (artificial barrier), Menmbahkan tanaman yang dapat meredam bising. Serta untuk pemerintah kota bisa membuat kebijakan mengenai pemakaian moda transportasi umum. Kata Kunci :Zoss, sekolah, surfer 11, pemetaan kebisinga
Model Wanamina (Silvofishery) Sebagai Optimalisasi Pasca Rehabilitasi Kawasan Mangrove di Pesisir Dusun Benteng Kabupaten Mempawah
ABSTRAKPemanfaatan dan pelestarian kawasan hutan mangrove dilakukan dalam upaya mendukung pengembangan wilayah pesisir Kabupaten Mempawah. Luas ekosistem mangrove di Kabupaten Mempawah adalah sebesar 1.521,39 ha. Untuk menghindari eksploitasi mangrove di daerah tersebut sekaligus mencegah terjadinya abrasi kembali maka perlu dilakukan pengelolaan ekosistem mangrove di daerah Dusun Benteng. Satu diantara teknik pengelolaan mangrove adalah sistem wanamina (Silvofishery). Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model perencanaan pengelolaan hutan mangrove dengan Silvofishery di Dusun Benteng Kabupaten Mempawah secara optimal dalam upaya mendukung pengembangan wilayah pesisir Kabupaten Mempawah. Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode luas wilayah menggunakan ARC GIS dan metode pengambian sampel air menggunakan grab sampling. Pemeriksaan sampel air dilakukan pada 3 titik pengambilan pada perencanaan tambak wanamina dengan parameter pH, suhu dan salinitas. Hasil uji untuk pengukuran pH dan salinitas air permukaan dari masing-masing titik sampel telah memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh KEPMEN Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2004 tentang Pedoman Umum Budidaya Udang di Tambak dan hasil uji suhu air permukaan dari masing-masing titik sampel telah memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh WWF-Indonesia (2014). Luas areal lahan pembangunan tambak Silvofishery sebesar 15 ha, jarak antara garis pantai surut tertinggi dengan lokasi tambak adalah 100 m. Lahan ini dibagi menjadi 4 tambak dengan luasan masing–masing 0,63 ha dan memiliki 2 buah kolam tandon dengan luasan masing–masing 0,25 ha. Rencana pengelolaan tambak Silvofishery dilakukan oleh masyarakat sekitar Dusun Benteng, pembentukan kelompok masyarakat pengelola tambak bertujuan untuk memberdayakan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan bagi nelayan musiman. Manfaat lainnya dari pembentukan kelompok masyarakat pengelola tambak ialah menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem mangrove di wilayah tersebut.Kata Kunci : mangrove, wanamina, Dusun Benten
ANALISA DISPERSI SULFUR DIOKSIDA (SO2) DARI SUMBER POINT SOURCE INSINERATOR RUMAH SAKIT ST. ANTONIUS MENGGUNAKAN MODEL METI-LIS
AbstrakInsinerator adalah tungku pembakaran untuk mengolah limbah padat, yang mengkonversimateri padat (sampah) menjadi materi gas, dan abu, (bottom ash dan fly ash) yang menghasilkan gas SO2. Aktifitas insinerator Rumah Sakit ST. Antonius yang menghasilkan kandungan gas SO2 yang takdapat dihindari membutuhkan perhatian yang lebih dalam pengendalian aktifitas insineratornya. Tujuandari penelitian ini untuk memvisualisasi pola persebaran dispersi zat pencemar gas SO2 dari sumber tetapdengan menggunakan model Meti-lis, membandingkan konsentrasi pencemar hasil pemodelan terhadappemantauan kualitas udara di lapangan dan validitas dari kedua hasil pengukuran tersebut sertamemberikan rekomendasi penanggulangan untuk Rumah Sakit dan pemukiman yang terkonsentrasipersebaran SO2. Penelitian menggunakan program Meti-lis untuk mengetahui pola persebaran gas SO2 diudara. Hasil nilai konsentrasi dari sampling langsung tertinggi berada pada titik 1 dengan nilai 296,107μg/Nm3 pada koordinat 0°01'12.5"S 109°19'39.4"E sedangkan hasil nilai konsentrasi dari pemodelanMet-lis tertinggi juga berada pada titik 1 dengan nilai 294,643μg/Nm3. Jika dibandingkan dengan standarbaku mutu sesuai dengan PP RI No. 41 Tahun 1999 maka tingkat pencemaran kedua titik masih dibawahbaku mutu dan aman. Nilai validasi konsentrasi SO2 antara sampling langsung dengan pemodelan Meti-lismasih dibawah nilai 10% RMSPE dimana hasil pemodelan memiliki tingkat validitas yang tinggi. Dalamupaya menurunkan nilai konsentrasi SO2 yang menyebar pihak rumah sakit St. Antonius dapat menggantibahan bakar dengan Biodiesel dan juga pemukiman warga yang terkena dampak pencemarannya dapatmenanam tanaman sansevieria.Kata Kunci : Insinerator, rumah sakit, meti-lis, point sourc
EVALUASI TEKNIK OPERASIONAL PERSAMPAHAN KECAMATAN SAMBAS
ABSTRAKPermasalahan sampah timbul karena tidak seimbangnya produksi sampah dengan pengelolaannya. Menurut data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kecamatan Sambas memiliki 56.787 warga pada tahun 2015. Setiap hari warga Kecamatan Sambas menghasilkan sampah sekitar 156,164 m3/ hari dan hanya 45% warga yang terlayani dengan asumsi satu orang menghasilkan 2,75 liter sampah perhari. Kinerja dari sistem pengelolaan sampah pada suatu kawasan atau wilayah akan menentukan kondisi lingkungan pada wilayah tersebut. Pengelolaan sampah di Kecamatan Sambas merupakan suatu permasalahan yang menjadi prioritas untuk diselesaikan. Peningkatan volume sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas masyarakat membutuhkan penanganan dengan teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan agar sampah – sampah yang dihasilkan oleh aktivitas masyarakat tidak menimbulkan berbagai masalah yang dapat mengganggu lingkungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur zona timbunan TPA Sorat dan mengevaluasi teknik operasional persampahan di Kecamatan Sambas. Metode yang digunakan adalah pengamatan langsung di lapangan dan membandingkan antara kondisi teknik operasional di Kecamatan Sambas dengan SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan. Analisis data dilakukan dengan melakukan perhitungan sesuai dengan SNI 3242-2008 tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur zona timbunan TPA Sorat diprediksi dapat mencapai hingga 9 tahun kedepan dengan akumulasi timbunan sampah mencapai 122.315 m3 dan zona timbunan yang dipersiapkan seluas 1,25 Ha, yaitu dari tahun 2016 sampai tahun 2025 serta teknik operasional persampahan pada aspek pengumpulan sampah dan pengangkutan sampah di Kecamatan Sambas masih belum seluruhnya menerapkan SNI 19-2454-2002.Kata Kunci : Kecamatan Sambas, TPA Sorat, Teknik Operasiona
STUDI PENENTUAN STATUS MUTU AIR SUNGAI KUALA DUA UNTUK KEPERLUAN BAHAN BAKU AIR BERSIH
ABSTRAK Sungai Kuala Dua merupakan bagian dari sub DAS Kapuas yang aliran airnya bermuara pada Sungai Kapuas Kecil dan letak hulu Sungai Kuala Dua yang berada dan berhubungan langsung dengan Sungai Kapuas Besar. Keberadaan pemukiman penduduk yang padat di wilayah aliran Sungai Kuala Dua sangat mempengaruhi kualitas air, seperti aktifitas buangan domestik yang berasal dari rumah tangga. Keberadaan salon, bengkel, rumah makan, dan Pasar Kuala Dua yang belum memiliki IPAL di bantaran Sungai Kuala Dua juga semakin menambah sumber beban pencemar yang masuk ke Sungai Kuala Dua. Hal tersebut menjadi dasar peneltian ini, yaitu untuk menentukan status mutu air Sungai Kuala Dua yang digunakan sebagai keperluan bahan baku air bersih oleh warga sekitar dan memberikan rekomendasi untuk Sungai Kuala Dua yang dilihat dari status mutu air Sungai Kuala Dua. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi kualitas air dengan melakukan uji terhadap parameter-parameter pencemaran air yang dibandingkan dengan baku mutu air kelas II PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang meliputi parameter fisik (suhu dan TSS); parameter kimia (pH, BOD, dan Minyak dan Lemak); dan parameter mikrobiologi (Total Koliform). Penentuan status mutu air dengan menggunakan metode indeks pencemaran yang dibandingkan dengan baku mutu air kelas II PP No. 82/2001, dimana metode ini terlampir dalam Kepmen LH No. 115/2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Penentuan lokasi pengambilan sampel dibagi menjadi 4 lokasi yaitu hulu Sungai Kuala Dua, pemukiman, pasar, dan hilir Sungai Kuala Dua saat kondisi pasang dan surut pada bulan Januari 2017. Kondisi Kualitas air Sungai Kuala Dua berdasarkan uji parameter pencemaran air menunjukkan parameter pH, BOD, dan Total Koliform yang melebihi baku mutu kelas II di semua lokasi pengambilan sampel pada saat kondisi pasang dan surut. Analisis Indeks Pencemaran Sungai Kuala Dua menunjukkan saat kondisi pasang nilai Indeks Pencemaran 4,09 (hulu sungai), 4,22 (pemukiman), 4,25 (pasar), 1,97 (hilir sungai). Saat kondisi surut nilai Indeks Pencemaran 4,22 (hulu sungai), 4,52 (pemukiman), 4,44 (pasar), 3,62 (hilir sungai). Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan status mutu air Sungai Kuala Dua dalam kondisi cemar ringan pada semua lokasi pengambilan sampel saat kondisi pasang dan surut, yang ditunjukkan dengan nilai Indeks Pencemaran 1,1 – 5,0 merupakan mutu perairan yang memiliki status kondisi cemar ringan (Kepmen LH No. 115 tahun 2003). Rekomendasi yang diberikan untuk pengendalian pencemaran air Sungai Kuala Dua adalah melakukan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemaran air, meningkatkan pengelolaan limbah, dan meningkatkan pemantauan kualitas air Sungai Kuala Dua. Kata kunci: Sungai Kuala Dua, Status Mutu Air, Indeks Pencemara
ANALISA JUMLAH TITIK PANAS (HOTSPOT) TERHADAP INDEX STANDAR PENCEMARAN UDARA (ISPU) SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS UDARA DI KOTA PONTIANAK
ABSTRAKPencemaran udara di Kota Pontianak sebagian besar disebabkan oleh pembukaan lahan yang di lakukan oleh masyarakat untuk membuka lahan pertanian baru, perumahan serta industri. Aktivitas ini selain menyebabkan dari pencemaran udara juga mengakibatkan munculnya Titik Panas (Hotspot) dari kebakaran hutan yang terjadi paling banyak pada musim kemarau. Sebagian besar kebakaran hutan terjadi pada lahan gambut yang berpotensi menghasilkan kabut asap. Kabut asap ini menyebabkan adanya perubahan kualitas udara. Untuk mengetahui adanya hubungan antara memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat korelasi antara ISPU dengan jumlah titik panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah titik panas (Hotspot) tahun 2010 – 2015 di Kota Pontianak, mengetahui konsentrasi parameter kualitas udara () dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)dan menganalisa hubungan antara jumlah titik panas (Hotspot) dengan konsentrasi parameter () dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pontianak tahun 2010 – 2015. Data yang digunakan adalah data titik panas (Hotspot) yang didapat dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dan nilai dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang di dapat dari Dinas Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak dengan menggunakan alat Fix Station AQMS. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis statistik korelasi terhadap dua data tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada rentang tahun 2010 hingga 2015, jumlah titik panas (Hotspot) tertinggi terjadi pada tahun 2014 pada bulan Februari dengan jumlah 37 titik panas (Hotspot). Nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tertinggi terjadi pada tahun 2010 pada Bulan Oktober dengan jumlah rata-rata 256,38 ug/m3. Sementara titik panas (Hotspot) terendah terjadi pada tahun 2010 pada Bulan Januari dengan jumlah 2 titik panas (Hotspot), sedangkan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) terendah terjadi pada tahun 2013 pada Bulan Maret dengan jumlah rata-rata 121,1 ug/m3. Hal ini terjadi karena titik panas (Hotspot) yang tertangkap oleh satelit NOAA bukan hanya berasal dari kebakaran hutan tetapi juga dari sumber lain sepeti asap transportasi, pabrik maupun pembakaran untuk buka lahan pertanian dan perumahan yang baru. Satelit NOAA dapat menangkap titik yang lebih panas dari lingkungan sekitarnya.Untuk mengetahui kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut, dilakukan analisa korelasi dengan program SPSS. Pada uji korelasi antara jumlah Hotspot dengan nilai pada tahun 2014, didapatkan nilai signifikan 0,028 (kurang dari 0,05), yang berarti ada hubungan secara signifikan antara jumlah hotspot dengan nilai PM10.Pada tahun 2010, didapatkan nilai signifikan 0,552 (lebih dari 0,05) yang artinya tidak ada hubungan secara signifikan antara jumlah hotspot dengan nilai PM10. Kata Kunci : Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara,titik panas (hotspot)
PENGARUH RESIRKULASI LINDI SECARA ANAEROBIK PADA SAMPAH SEGAR DAN SAMPAH TPA BATU LAYANG, PONTIANAK
ABSTRAK TPA Batu Layang, Pontianak adalah salah satu TPA di Indonesia yang beroperasi dengan sistem open dumping. Salah satu kelemahan sistem ini yaitu rendahnya tingkat reduksi sampah pada TPA. Sementara itu, nilai BOD dan COD lindi TPA Batu Layang belum memenuhi standar baku mutu yang berlaku. Komposisi sampah TPA Batu Layang didominasi oleh sampah organik, sehingga pengolahan biologis sesuai untuk diterapkan. Resirkulasi lindi adalah jenis pengolahan biologis yang telah diketahui dapat menurunkan kandungan organik pada lindi, mempercepat proses biodegradasi sampah, serta memperbesar volume biogas yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh resirkulasi lindi pada sampah segar dan sampah TPA terhadap kualitas effluent lindi, laju degradasi sampah, dan volume biogas yang dihasilkan. Sehingga akan diketahui jenis sampah yang tepat untuk aplikasi resirkulasi lindi di TPA. Resirkulasi lindi dilakukan pada 2 buah bioreaktor dengan debit resirkulasi lindi sebesar 23,4 l/hari selama 28 hari. Lindi ditempatkan di wadah stok lindi untuk dialirkan kedalam bioreaktor sampah dalam waktu satu hari. Lindi yang keluar dari bioreaktor sampah ditampung di bak penampung sebelum ditempatkan kembali secara manual di wadah stok lindi. Hasil penelitian menunjukkan nilai BOD dan COD lindi yang semula 203,38 mg/l dan 986,7 mg/l pada akhir penelitian turun menjadi 42,03 mg/l dan 285,7 mg/l setelah diresirkulasi pada sampah segar, dan turun menjadi 50,67 mg/l dan 300 mg/l setelah diresirkulasikan pada sampah TPA. Pada akhir penelitian, persentase penurunan nilai BOD dan COD lindi pada reaktor berisi sampah segar (R1) sebesar 79,33% dan 71,04% sedangkan pada reaktor berisi sampah TPA (R2) sebesar 75,09% dan 69,50%. Namun, penurunan BOD dan COD lindi R2 sebesar 72% dan 60% terjadi pada minggu pertama perlakuan resirkulasi lindi. Laju degradasi sampah pada R1 sebesar 0,6768/minggu sedangkan pada R2 sebesar 0,0784/minggu. Volume biogas pada R1 mulai terukur pada hari ke-14 hingga akhir penelitian pada hari ke-28 dengan volume maksimum dicapai pada hari terakhir sebesar 163 ml. Pada R2 volume biogas tidak terukur selama masa penelitian. Kata Kunci : resirkulasi lindi, degradasi anaerob, laju degradasi sampa
PERENCANAAN REKLAMASI PADA LAHAN BEKAS PERTAMBANGAN BAUKSIT PT ANEKA TAMBANG UNIT BISNIS PERTAMBANGAN BAUKSIT TAYAN, KABUPATEN SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT
ABSTRAK Pada PT Aneka Tambang Unit Bisnis Pertambangan Bauksit Tayan merencanakan pembukaan lahan tambang sampai akhir tahun 2017 adalah seluas 134,88 ha. Untuk itu diperlukan suatu rencana penataan lahan untuk mengembalikan lahan bekas penambangan bauksit menjadi lahan tumbuh tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perencanaan yang efektif dan efesien serta membuat rancangan peta pola tanam vegetasi. Metode yang digunakan dalam penataan tanah pucuk iyalah sistem pot atau lubang tanam dengan kebutuhan tanah pucuk, yaitu sebanyak 1.686 m3 tanah pucuk dengan jumlah lubang tanam 13.488 buah. Waktu yang diperlukan untuk menata tanah pucuk adalah 8 hari yang dipilih yaitu kombinasi alat berat dan tenaga manusia. Pola penanaman dilakukan dengan metode tumpang sari bertujuan untuk meningkatkan tumbuh tanaman yang maksimal dan meningkatkan kesuburan tanah dengan mengkombinasikan tanaman asli lokal seperti durian,rambutan,langsat dan cempedak dan tanaman penutup. Kata kunci : Reklamasi, sistem pot, tumpang sar