Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Air Leri dan Air Mikroorganisme Lokal Sebagai Pengendali Rayap Tanah
Termites (Coptotermes curvignathus) are considered more dangerous than other termite species as they can cause significant damage to plantation and agricultural crops, with widespread distribution. The use of chemical pesticides to control this pest can lead to resistance and have negative impacts on the environment and human health. An environmentally friendly solution involves utilizing natural plants/substances as botanical insecticides, such as rice washing water and local microorganism (MOL) water. The aim of this research is to evaluate the effects of these two substances on termite population control and determine the optimal formulation that can act as a termite repellent. and to determine the optimal formulation as an anti-termite. The research methodology involves determining formulations of botanical insecticides, namely 100% rice washing water, 100% MOL water, 50% rice washing water : 50% MOL water, 75% rice washing water : 25% MOL water, 25% rice washing water : 75% MOL water. Each test box is filled 5 soldier termites and 20 worker termites, then provided with test papers that have been soaked in the predetermined formulation. Each treatment is repeated three times and observed every 24 hours for 72 hours. The research results indicate that all formulations uses did not have a significant impact on termite mortality. It can be concluded that the use of rice washing water and MOL water in the tested formulations is not effective as an insecticide to control termite
Penerapan Metode Gabungan Netralisasi, Koagulasi, Filtrasi dan Adsorpsi dalam Pengelolaan Limbah Cair Laboratorium
Limbah laboratorium adalah jenis limbah yang dihasilkan dari kegiatan praktikum mahasiswa dan mengandung banyak zat berbahaya bagi lingkungan. Limbah di Laboratorium Lingkungan dihasilkan dari praktikum yang dilaksanakan oleh mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dan efisiensi penurunan parameter (COD, Fe, Pb dan pH) pada limbah cair Laboratorium Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura menggunakan penerapan teknologi pengolahan dengan kombinasi proses netralisasi, koagulasi, filtrasi dan adsorpsi. Pengolahan limbah Laboratorium ini dengan proses Netralisasi menggunakan NaOH, koagulasi menggunakan PAC, dan Filtasi-Adsorpsi menggunakan pasir silika, batu kerikil, zeolit dan arang aktif. Dosis NaOH yang digunakan pada pengolahan ini adalah 2.325 ml, dan dosis PAC yang digunakan adalah 280 gram. Efisiensi pengolahan limbah Laboratorium dengan metode kombinasi netralisasi, koagulasi, filtrasi dan adsorpsi yaitu COD sebesar 31,19 % dari 3.853 mg/L menjadi 2.654 mg/L, ion Fe sebesar 89,61% dari 53,6 mg/L menjadi 5,57 mg/L dan ion Pb sebesar 80,07% dari 0,56 mg/L menjadi 0,259 mg/L. Diharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam merencanakan pengolahan limbah cair di Laboratorium Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura
Pengolahan Sampah Daun Pisang dengan Proses Biodrying Aerobik Sebagai Upaya Pemulihan Energi
Daun pisang sering menjadi limbah dari aktivitas manusia. Meskipun demikian, daun pisang memiliki kandungan karbon yang membuatnya berpotensi sebagai bahan bakar. Namun, kendalanya adalah kadar air yang tinggi dalam daun pisang, yang dapat menghambat efektivitasnya sebagai sumber energi. Untuk mengatasi hal ini, diperkenalkan proses Biodrying. Melalui Biodrying, mikroorganisme digunakan untuk mengurangi kadar air dalam limbah organik, seperti daun pisang, sehingga meningkatkan potensinya sebagai bahan bakar. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa seberapa efektif Biodrying dalam meningkatkan nilai kalor daun pisang. Selama proses Biodrying, terjadi pengurangan massa dan kadar air pada daun pisang. Sejak hari pertama, suhu dalam tumpukan sampah daun pisang meningkat, menandakan aktivitas mikroorganisme, dengan pH yang tetap normal. Hasil akhir menunjukkan bahwa kadar air daun pisang berkurang sekitar 45,3% hingga 50,49%, dan nilai kalor yang dihasilkan mencapai standar pellet biomassa, yaitu antara 19.9 MJ/kg hingga 21.4 MJ/kg. Ini menunjukkan bahwa daun pisang, setelah melalui proses Biodrying, memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi yang efisien
Pengendalian Non-Revenue Water Menggunakan Manajemen Tekanan pada Zona Pelayanan Pompa Junok di Perumda Air Minum Sumber Sejahtera Kabupaten Bangkalan
Perumda Air Minum Sumber Sejahtera di tahun 2022 memiliki nilai NRW sebesar 37,36%, lebih tinggi dibandingkan Tingkat Kehilangan air yang diijinkan yaitu 18 – 20 % dan Target RPJMN (2020-2024) yaitu 25%. Tingginya nilai NRW saat ini dikarenakan belum ada program penanganan NRW di Perumda Air Minum Sumber Sejahtera. Penanganan yang dilakukan hanyalah sebatas pengendalian kebocoran yang dilaporakan oleh masyarakat dan penanganan kebocoran yang tampak pada permukaan tanah. Salah satu faktor penting dalam pengendalian NRW adalah pengendalian kebocoran fisik air. Kebocoran fisik air memiliki hubungan erat dengan nilai tekanan pada pipa. Makin besar tekanan pada pipa maka makin besar pula kebocoran yang terjadi. Maka dari itu pada penanganan nilai nrw, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memaksimalkan manajemen tekanan. Manajemen tekanan dilakukan dengan pengaturan variable speed drive pada pompa junok, penggantian pipa dengan headloss terbesar, serta penambahan pompa booster pada Jaringan Distribusi Junok. Manajemen tekanan yang dilakukan berfokus pada pemerataan tekanan guna memastikan tekanan pada setiap pelanggan lebih dari 5 m dan mengurangi tekanan maksimal sehingga kebocoran dapat dikurangi. Pada penelitian ini manajemen tekanan berhasil menurunkan nilai NRW dari 38,26% menjadi 31,48%.
Kajian Dampak Penambangan Pasir Terhadap Kualitas Air Sungai Untuk Irigasi di Indonesia
The high demand for sand as a material is in line with the increase in sand mining activities. The main sand mining location commonly takes place in rivers. Even though rivers are also used as the main source for agricultural irrigation. The sand mining activities could affect river water quality, which could also impact irrigation on plant growth and crop yields. This review aimed to analyze the impact of sand mining in several locations in Indonesia on river water quality for irrigation. The data collection method was carried out by searching for articles according to the topic on Google Scholar using several predetermined keywords. Analysis and review were carried out through several stages and 6 articles were obtained according to the topic. Sand mining activities in rivers are frequently carried out using manual and mechanical techniques. The use of manual techniques in mining can have an impact on river morphology as well as the physical and chemical quality of river water. Mechanical techniques have a greater impact on changes in river water quality, where most mining is carried out using manual techniques. Therefore, the sand mining with mechanical techniques, especially using excavators, can have a higher impact on the quality of river water for irrigation
Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum (PBPAM) Di Desa Mekar Sari Kecamatan, Kabupaten Kubu Raya
Sejalan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan bertambah luasnya permukiman, maka tingkat pelayanan air bersih menjadi prioritas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Beberapa wilayah masih belum memiliki akses air bersih yang memadai, termasuk Desa Mekar Sari yang termasuk dalam daerah tersebut. Oleh karena itu, telah disusun perencanaan untuk Sistem Penyediaan Air Bersih yang akan mencukupi kebutuhan selama 15 tahun ke depan. Tujuan penelitian adalah Mengetahui kualitas air baku serta menentukan jenis sistem pengolahan yang akan digunakan, Mengetahui dan menghitung jumlah kebutuhan air untuk melayani masyarakat hingga 15 tahun mendatang, dan Merencanakan dan mendesain Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Desa Mekar Sari. Metode penelitian mencakup pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer meliputi pengambilan sampel air di Sumber Air Baku, pengukuran debit permukaan air, dan analisis kondisi eksisting lokasi perencanaan IPA. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah penduduk dan fasilitas di Desa Mekar Sari. Hasil pengujian kualitas air menunjukkan bahwa parameter Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), Nitrit (N), Boron (B), Besi (Fe), Seng (Zn), dan Timbal (Pb) tidak memenuhi standar baku mutu air minum, sehingga diperlukan pengolahan yang dapat menurunkan parameter-parameter tersebut. Jenis pengolahan yang dipilih adalah pengolahan konvensional lengkap. Proyeksi kebutuhan air pada tahun 2037 menunjukkan bahwa masyarakat Desa Mekar Sari membutuhkan air sebesar 20 L/detik pada kondisi harian maksimum dan 30,14 L/detik pada kondisi debit jam puncak. Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk perencanaan PBPAM ini adalah sebesar 8.054.344.887. Perencanaan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Desa Mekar Sari untuk jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat
Analisis Kualitas Air Tanah di Kawasan TPA Sampah Desa Sungai Bakau Besar Laut Kabupaten Mempawah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air tanah di TPA Sampah Sungai Bakau Besar Laut yang meliputi kualitas fisik dan kimia. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah random sampling. Metode yang digunakan untuk melihat sebaran polutan adalah metode interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). Hasil uji parameter pH berada pada rentang 5,5-6. Suhu air tanah berada pada rentang 27 oC-30,5oC, berada di bawah baku mutu. Nilai TDS berada pada rentang 271 mg/L – 405 mg/L, berada di bawah baku mutu. Air tanah dan air lindi parameter TDS saling berhubungan. Timbal dan kadmium berada di bawah Limit Of Detection (LOD) masing-masing <0,093 mg/L dan <0,038 mg/L. Mangan berada pada rentang 0,302 mg/L - 0,597 mg/L. Pola sebaran air tanah di kawasan TPA sampah Kabupaten Mempawah dipengaruhi oleh kondisi topografi dan jenis tanah
Dampak Perubahan Luas Tutupan Lahan Terhadap Stok Karbon di Kecamatan Paloh
Peningkatan jumlah penduduk mendorong aktivitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dengan mengubah fungsi dari suatu lahan. Kecamatan Paloh merupakan wilayah yang memiliki wilayah hutan yang dominan berada di Desa Sebubus dengan luas 7.090 ha dan berdasarkan penelitian sebelumnya telah terjadi penurunan luas tutupan lahan hutan di kecamatan ini. Perubahan luas tutupan lahan khususnya tutupan lahan hutan akan berdampak pada besaran stok karbon yang tersimpan pada suatu wilayah karena tutupan lahan hutan memiliki fungsi penting dalam menyimpan cadangan karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan luas tutupan lahan kepada besaran stok karbon di Kecamatan Paloh. Luas setiap kelas tutupan lahan diperoleh menggunakan metode klasifikasi citra dan perhitungan perubahan stok karbon dilakukan menggunakan metode stock difference method. Berdasarkan hasil penelitian, telah terjadi penurunan stok karbon sebesar 91.708 ton atau 2,03 % selama periode waktu 5 tahun dari Tahun 2018-2023 yang diakibatkan oleh penurunan luas hutan sekunder dan hutan mangrove sekunder. Terjadi peningkatan luas untuk kelas tutupan lahan perkebunan sebesar 24,45 %, yang membuat cadangan karbon meningkat sebesar 142.987 ton.
Evaluasi Kondisi Eksisting Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Sorat Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas
Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Sorat yang terletak di Kecamatan Sambas dengan sistem pengelolaan controlled landfill memiliki Instalasi Pengolahan Lindi (IPL). Hasil pengolahan air lindi pada IPL TPAS Sorat belum memenuhi standar baku mutu menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.59/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 dikarenakan pengolahan pada unit bak biofilter aerob tidak berfungsi dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik air lindi TPAS Sorat yang kemudian merekomendasikan sistem pengolahan yang cocok sebagai pengganti dari bak biofilter aerob. Parameter yang diuji pada bagian inlet dan outlet pada bak biofilter aerob yaitu pH dengan nilai 8,01 dan 7,80, TSS 12,8 dan 121, BOD 244 dan 291, COD 998 dan 1.039, Timbal (Pb) <0,093 dan <0,093, Kadmium <0,038 dan <0,038. Perhitungan debit air lindi menggunakan intensitas hujan yang dihitung dengan menggunakan model rumus monobe yang menghasilkan debit air lindi sebesar 91,324 m3/hari. Rekomendasi yang diberikan yaitu unit pengolahan bak fakultatif atau bak aerasi dengan besar volume 92 m2 dengan waktu tinggal 6,45 hari dan biaya yang diperlukan Rp 340.874.204,-, sedangkan pada bak aerasi memiliki besar volume 6 m3 dengan waktu tinggal 9 hari dan biaya yang diperlukan Rp 85.769.127,-. Dengan dilakukan evaluasi pada IPL TPAS Sorat diberikan alternatif pengolahan fakultatif atau aerasi agar dapat menurunkan parameter yang telah melewati standar baku mutu.
Potensi Bakteri Indigenous Pada Air Limbah Pencucian Bijih Bauksit Untuk Meremediasi Air Tercemar Logam Besi (Fe)
Kegiatan pertambangan bauksit di Kalimantan Barat yaitu PT. ANTAM menghasilkan bijih bauksit. Senyawa pengotor pada bauksit dipisahkan dengan pencucian. Proses pencucian menghasilkan limbah cair dan padatan yang dialirkan ke kolam pengendapan. Kolam pengendapan rentan terjadi kebocoran dan penambahan volume kolam saat hujan. Kapasitas kolam dijaga dengan mengalirkan air ke lingkungan sehingga menimbulkan pencemaran, mengganggu ekosistem akuatik dan menjadi racun bagi organisme karena mengandung logam Fe yang melebihi baku mutu. Maka, perlu dipulihkan dengan bioremediasi bantuan bakteri indigenous. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis isolat bakteri indigenous pada air limbah pencucian bijih bauksit dan air rawa PT. ANTAM yang berpotensi meremediasi air limbah yang tercemar logam besi (Fe) dan untuk mengetahui pengaruh bakteri indigenous dalam meremediasi air limbah yang mengandung logam besi (Fe) dengan berbagai variasi konsentrasi air limbah. Hasil didapat jenis isolat bakteri indigenous yang berpotensi meremediasi air limbah yang tercemar logam besi yaitu Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. Konsentrasi Fe setelah bioremediasi menunjukkan penurunan pada perlakuan reaktor limbah 25%, 75% dan 100%. Aktivitas bakteri Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. berpotensi menurunkan konsentrasi Fe pada berbagai konsentrasi limbah serta Bacillus sp. memiliki potensi menurunkan Fe lebih baik karena lebih resisten terhadap lingkungan cemaran yang tinggi.