Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
    282 research outputs found

    Analisa Penentuan Skala Prioritas Genangan atau Banjir di Kecamatan Bogor Selatan

    Get PDF
    Abstract Drainage system is a water structure that has a function to reduce excess water from an area or land (Suripin, 2004). Based on the 2018 Bogor City Drainage Masterplan, there are drainage channel problems in 18 flood innudation points in South Bogor District. Out of 18 innudation points, 9 points have been choosen to be prioritized according to a priority scale after comparing parameters stated in Minister of Public Works and Public Housing Regulation No.12 of 2014 concerning the Implementations of Urban Drainage System. The 9 innudation points are located in 4 villages, and villages with the highest flood innudation points are Lawanggintung, Cikaret, Kertamaya and Batutulis. Flooding in South Bogor District is caused by problems in the drainage channel system. Problems that arise includes the conversion of irrigation and waste in drainage channels, overloaded drainage channels, broken water embankment, lack of drainage channels, reduction of channel capacity by permanently narrowing or closing channels, lack of channel capacity, as well channel siltation due to the waste.  Keywords: drainage, water puddles, flooding  Abstrak Sistem drainase merupakan bangunan air yang memiliki fungsi untuk mengurangi kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan. (Suripin, 2004). Berdasarkan masterplan drainase Kota Bogor tahun 2018, Kecamatan Bogor Selatan memiliki permasalahan saluran drainase meliputi 18 titik genangan banjir. Pada 18 titik genangan banjir, terdapat 9 titik genangan banjir yang menjadi prioritas berdasarkan metode skala prioritas, yakni dengan memberikan skoring pada kondisi genangan terhadap parameter-parameter yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.12 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.  Daerah yang meliputi 9 titik genangan banjir tersebar di 4 kelurahan. Kelurahan dengan titik genangan banjir paling tinggi adalah Kelurahan Lawanggintung, Cikaret, Kertamaya, dan Batutulis. Permasalahan yang menyebabkan terjadinya genangan banjir di wilayah Kecamatan Bogor Selatan adalah pada sistem saluran drainase. Permasalahan yang timbul meliputi alih fungsi saluran irigasi dan sampah, kapasitas saluran drainase terlampaui, rusaknya tanggul penampung air, belum adanya saluran drainase, pengurangan kapasitas saluran seperti tertutupnya saluran secara permanen dan penyempitan, kapasitas saluran drainase yang minim, serta terjadinya pendangkalan saluran oleh sampah. Kata Kunci: drainase, genangan air, banji

    Cover

    No full text
    Cove

    Pengaruh Konsentrasi NaOH pada Deasetilasi Kitin dari Cangkang Udang Putih (Litopenaeus vannamei) dan Aktivitasnya pada Air Gambut

    Get PDF
    Abstract The potential of shrimp shells as a source of chitosan for the processing of West Kalimantan peat water has been studied. Chitin as a precursor of chitosan was extracted from the shrimp shells by means of deproteination and demineralization processes. Deproteination was performed by suspending the shrimp shells to 3,5% NaOH at 65oC for 4 hours. The demineralization process was done by using 1.5M HCl at the same temperature and time. Difference concentration of NaOH (30 – 70%) was applied in deacetylation of chitin to chitosan in order to obtain informations on the effect of base on chitosan deacetylation degree. The results obtained showed that the higher the concentration of NaOH, the higher the chitosan deacetylation degree. The highest deacetylation degree was obtained when chitin was deacetylation using 70% NaOH with the value of 87.5%. Performance of the chitosan was examined in the peat water treatment process. Some test parameters showed that chitosan added to peat water causes coagulation and flocculation with peat water components. This was indicated by the decreasing in color parameter value of 337 PtCo, the decreasing of organic substances in peat water of 10 mg/L and the increasing of pH value to 7.9. Keywords: chitin, chitosan, coagulation, flocculation, peat water Abstrak Potensi cangkang udang putih sebagai sumber kitosan untuk proses pengolahan air gambut Kalimantan Barat telah dipelajari. Kitin sebagai prekursor dari kitosan diekstrak dari kulit udang putih melalui dua tahap yaitu deproteinasi dan demineralisasi. Deproteinasi dilakukan dengan menggunakan NaOH 3,5% pada suhu 65oC selama 4 jam dan dilanjutkan dengan proses demineralisasi menggunakan HCl 1,5M dengan suhu dan waktu yang sama. Variasi konsentrasi basa NaOH sebesar 30 – 70 % dilakukan pada proses deasetilasi kitin menjadi kitosan guna mendapatkan informasi pengaruh konsentrasi basa terhadap derajat deasetilasi kitosan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi basa NaOH yang digunakan maka semakin tinggi pula derajat deasetilasi kitosan yang diperoleh. Konversi tertinggi diperoleh ketika kitin dideasetilasi menggunakan NaOH 70% dengan nilai derajat deasetilasi sebesar 87,5%. Performa kitosan hasil deasetilasi terbaik diuji pada proses pengolahan air gambut. Beberapa parameter uji menunjukkan bahwa kitosan yang ditambahkan pada air gambut menyebabkan terjadinya koagulasi dan flokulasi dengan komponen air gambut. Hal ini ditandai dengan menurunnya nilai parameter warna sebesar 337 PtCo kandungan zat organik di dalam air gambut sebesar 10 mg/L dan nilai pH yang meningkat menjadi 7,9.  Kata kunci: kitin, kitosan, koagulasi, flokulasi, air gambu

    PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA SEBAGAI KOAGULAN UNTUK MENURUNKAN KADAR BOD DAN TSS LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN

    Get PDF
    ABSTRAKLimbah cair yang dihasilkan oleh aktivitas rumah makan mengandung senyawa organik berupa karbohidrat, protein, lemak dan minyak yang apabila masuk ke badan air dapat menyebabkan pencemaran. Pengolahan koagulasi-flokulasi menggunakan koagulan kimia masih menghasilkan endapan mengandung unsure kimia, maka dari itu pemanfaatan koagulan alami seperti biji asam jawa digunakan untuk pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efisiensi penggunaan biji asam jawa sebagai koagulan untuk menurunkan kadar BOD dan TSS pada limbah cair rumah makan. Berdasarkan hasil uji pendahuluan, konsentrasi BOD sebesar 2234 mg/L dan TSS sebesar 1430 mg/L. Nilai tersebut masih berada diatas standar baku mutu berdasarkan Permen LH No 5 Tahun 2014 yaitu konsentrasi BOD sebesar 100 mg/L dan TSS sebesar 100 mg/L. Variabel penelitian yang digunakan adalah pemberian dosis koagulan biji asam jawa dengan variasi dosis 3 gram/L, 4 gram/L, 5 gram/L, 6 gram/L dan 7 gram/L, dengan kecepatan pengadukan lambat sebesar 100 rpm selama 1 menit dan kecepatan pengadukan lambat sebesar 40 rpm selama 3 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara dosis koagulan dan kecepatan pengadukan terhadap efisiensi penurunan parameter BOD sebesar 90,97 % dari 2.234 mg/L menjadi 201,8 mg/L dan parameter TSS sebesar 95,18 % dari 1430 mg/L menjadi 68,88 mg/L. Efektivitas pengolahan belum sesuai yang diharapkan karena hasil yang diperoleh masih melewati baku mutu, untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan penambahan pengolahan lain yang dapat mendukung penurunan pararameter BOD dan TSS agar hasil yang di dapat melewati baku mutu Permen LH No 5 Tahun 2014. Kata kunci : Koagulan, biji asam jawa (Tamarindus indica), koagulasi-flokulas

    PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KOMUNIKASI PEKERJA PABRIK PT. X, KECAMATAN MANIS MATA, KABUPATEN KETAPANG

    Get PDF
    ABSTRAKPT. X merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang. Proses produksi minyak kelapa sawit menggunakan mesin berkapasitas tinggi dan pengoperasian cukup panjang. Dimana kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja salah satunya gangguan komunikasi. Sementara itu, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13 tahun 2011 telah menetapkan bahwa nilai ambang batas kebisingan sebesar 85 dB. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi sumber mesin produksi yang berpotensi menghasilkan kebisingan melebihi nilai ambang batas dan mengidentifikasi pengaruh tingkat kebisingan terhadap komunikasi pekerja yang terpapar kebisingan melebihi nilai ambang batas. Berdasarkan hasil pengukuran, sumber stasiun produksi yang berpotensi menghasilkan tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas tertinggi tanpa dipengaruhi aktivitas stasiun produksi lainnya terjadi pada stasiun power house dengan nilai sebesar 96,2 dB dan tingkat kebisingan terendah terjadi pada stasiun loading ramp dengan nilai sebesar 66,8 dB. Sedangkan tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas tertinggi dengan dipengaruhi aktivitas stasiun produksi lainnya terjadi pada stasiun kernel dengan nilai sebesar 97 dB dan tingkat kebisingan terendah terdapat pada stasiun loading ramp dengan nilai sebesar 69,3 dB. Hasil statistik menggunakan SPSS versi 18.0 dengan uji regresi sederhana didapatkan dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengaruh tingkat kebisingan terhadap komunikasi pekerja yang terpapar kebisingan melebihi nilai ambang batas sebesar 21% yang termasuk dalam tingkatan “rendah”. Dimana nilai tersebut menyatakan bahwa kebisingan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komunikasi pekerja, yang dapat dilihat pada hasil tes audiometri. Berdasarkan hasil uji audiometri dari 32 responden, 59% diantaranya mengalami penurunan daya dengar dengan kategori tingkat pengaruh “gradasi berat”.Kata Kunci : Tingkat Kebisingan, Sumber Bunyi, Komunikasi Pekerj

    PEMBUATAN PUPUK KOMPOS SLUDGE IPAL RUMAH POTONG HEWAN (RPH) NIPAH KUNING DENGAN PENAMBAHAN RUMEN SAPI

    No full text
    ABSTRAKRumah Potong Hewan (RPH) di Kota Pontianak memegang peranan penting dalam pengelolaan dan penyediaan daging untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Proses penyembelihan hewan dilakukan di RPH sehingga limbah yang dihasilkan terkonsentrasi di RPH.  Ada 2 jenis limbah yang dihasilkan oleh RPH yaitu limbah cair dan padat. Limbah padat yang dihasilkan berasal dari proses pengolahan limbah cair dan pemotongan hewan. Penelitian ini memanfaatkan limbah padat dari RPH yaitu sludge dan rumen sapi untuk dijadikan sebagai kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kematangan kompos sludge-rumen secara fisik dan kimia agar dapat menambah nilai jual kompos. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil kompos dengan dan tanpa penambahan starter menggunakan uji Mann-Whitney. Pengomposan dilakukan selama 6 minggu dengan total 8 perlakuan dan dilakukan secara duplo. Ciri fisik dari hasil pengomposan telah memenuhi standar SNI 19-7030-2004 yaitu berwarna kehitaman, tidak berbau dan tekstur menyerupai tanah. Temperatur sampel juga sudah mendekati temperatur tanah yaitu sekitar 290C. Kualitas kematangan kompos secara kimia yaitu kandungan N, P dan K juga telah melampaui batas minimum standar SNI 19-7030-2004. Kandungan tertinggi parameter N yaitu pada perlakuan P2 (60% sludge dan 40% rumen) dengan nilai 1,995%. Hal ini dikarenakan N yang tidak stabil karena berbentuk gas amonia. Kualitas kematangan tertinggi untuk parameter P dan K yaitu perlakuan P8 (80% sludge dan 20% rumen) dengan nilai P=1,975% dan K=3,755%.Hanya parameter C/N pada perlakuan P8 yang memenuhi rentang standar yaitu 10,15 sedangkan perlakuan lain masih di bawah batas minimum. Baku mutu pH pada kompos yaitu 6,8 – 7,49 sedangkan pH pada perlakuan P1 (50% sludge dan 50% rumen) masih belum memenuhi SNI yaitu 8,5. Hal ini dikarenakan masih terjadi perombakan didalam kompos sehingga memerlukan waktu lebih lama dibandingkan perlakuan lain. Hasil uji Mann-Whitney pada parameter kimia menunjukkan perbedaan signifikan pada parameter C/N rasio sedangkan N, P dan K tidak menunjukkan perbedaan. Hasil pengujian statistik ini didukung dengan hasil laboratorium dari kompos dengan dan tanpa penambahan starter yang tidak jauh berbeda sehingga parameter N, P dan K tidak terlihat perbedaan yang signifikan. Kata Kunci: Kompos, rumah potong hewan, rumen, sludge, starte

    Dewan Redaksi

    Get PDF
    Dewan Redaks

    Kajian Rezim Hidrologi dan Salinitas DAS Landak-Kapuas dalam Rangka Pengembangan Sumber Air Baku Spam Regional Pontianak - Zona Hujan Equatorial

    Get PDF
    Abstract: The existence of sustainable development plan in kapuas coastal areas toward Pontianak Metropolitan Cities, requires a decent source of raw water in terms of quality, quantity and continuity according to national standards. This study discusses the hydrological regime for the reliability of raw water source (quality and quantity) of interbasin Ambawang River Landak River (Biyung) were selected as new raw water source for drinking water infrastructure development Regional Pontianak. The results showed that Ambawang River periodically affected by tidal and seawater interution, so the dam was built to break salinity. While the Landak River (Biyung) has a random discharge and is influenced by rainfall. The result of the division of discharge Discrit Markov against salinity values showed that, the highest salinity occurs in dry climates, dry month and daily discharge dry where the amplitude tidal estuary maximum. The minimum daily discharge Landak River recorded in 1997 at 21 m3 / sec analog with R20  daily discharge plan of 23.38 m3/ sec. Pontianak Regional raw water needs of 4.6 m3 / sec in the 2030, while the used discharge for the allocation of drinking water a debit 20 years of dry, dry R20 on the River Ambawang of 12.05 m3/sec, so the 2030 needs raw water Regional Pontianak can be met.Abstrak: Adanya rencana pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir kapuas menuju Kota Metropolitan Pontianak, memerlukan sumber air baku yang layak dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas sesuai standar nasional. Penelitian ini membahas mengenai rezim hidrologi untuk keandalan sumber air baku (kualitas dan kuantitas) dari Sungai Ambawang interbasin Sungai Landak (Biyung) yang terpilih dijadikan sumber air baku yang barudalam pengembangan infrastruktur air minum Regional Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Ambawang secara periodik terpengaruh pasang surut yang berpotensi terinterusi air laut, sehingga dibangun bendungan untuk memutus salinitas. Sedangkan Sungai Landak (Biyung) memiliki debit yang acak dan dipengaruhi oleh curah hujan. Hasil pembagian debit Discrit Markov terhadap nilai salinitas menunjukkan bahwa, salinitas tertinggi terjadi pada iklim kering, bulan kering dan debit harian kering dimana amplitudo pasut di muara sungai maksimum. Debit harian minimum Sungai Landak tercatat pada tahun 1997 sebesar 21 m3/detik analog dengan debit rencana R20 1 harian sebesar 23,38 m3/detik.  Kebutuhan air baku Regional Pontianak sampai dengan tahun 2030 sebesar 4,6 m3/det sedangkan debit untuk alokasi air minum menggunakan debit 20 tahun kering, R20 kering pada Sungai Ambawang sebesar 12,05 m3/det, sehingga sampai dengan tahun 2030 kebutuhan air baku Regional Pontianak dapat terpenuhi

    EFEKTIVITAS VEGETASI SEBAGAI PENJERAP TOTAL SUSPENDED PARTICULATE (TSP) DI KAWASAN SD NEGERI 24 PONTIANAK UTARA

    Get PDF
    ABSTRAKKondisi sekolah yang berada di tepi jalan mengakibatkan kemungkinan adanya kontaminasi udara dengan polutan yang berasal dari kendaraan bermotor. Apabila polusi udara terjadi di lingkungan sekolah, maka hal ini akan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap penyakit pernafasan pada anak. Salah satu pencemar udara adalah Total Suspended Particulate (TSP). Cara yang dapat dilakukan agar kualitas lingkungan udara menjadi lebih baik adalah dengan adanya vegetasi di lingkungan sekolah karena vegetasi dapat menjerap TSP yang ada di udara. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas vegetasi yang ada di lingkungan SD Negeri 24 Pontianak Utara yaitu tanaman pucuk merah dan ketapang dalam menjerap TSP. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur konsentrasi TSP dengan menggunakan High Volume Air Sampler (HVAS) serta dilakukan perhitungan volume kendaraan dan volume kerimbunan daun. Nilai konsentrasi tertinggi selama penelitian tergolong berada diatas baku mutu PP RI Nomor 41 Tahun 1999 yaitu sebesar 104,7644 µg/Nm3. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tanaman ketapang memiliki efektivitas yang lebih besar dibandingkan dengan efektivitas pada tanaman pucuk merah. Efektivitas terbesar terjadi pada siang hari dimana tanaman ketapang memiliki efektivitas sebesar 53,37%, sedangkan tanaman pucuk merah hanya sebesar 22,41%. Tanaman ketapang memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menjerap TSP disebabkan karena volume kerimbunan daun yang dimiliki tanaman ketapang lebih besar yaitu 155,83 m3 dibandingkan dengan tanaman pucuk merah hanya 2,56 m3. Selain itu tanaman ketapang memiliki bentuk daun yang lebih lebar serta memiliki batang yang lebih besar bila dibandingkan dengan tanaman pucuk merah.Kata Kunci :    Pucuk Merah, Ketapang, Total Suspended Particulate (TSP), SD Negeri 24 Pontianak Utar

    RANCANGAN TEKNIK PENYEDIAAN AIR BERSIH IBU KOTA KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK

    Get PDF
    ABSTRAKSumber mata air Bukit Godang merupakan salah satu sumber mata air yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber air baku di Kecamatan Mandor. Penelitian yang dilakukan meliputi; proyeksi kebutuhan air penduduk Kecamatan Mandor hingga tahun 2037, analisis kualitas air sumber air baku yang ditinjau, analisis kuantitas dan kontinuitas air baku, serta pembuatan rencana desain jaringan pipa transmisi, bangunan penangkap mata air, dan reservoir. Hasil proyeksi penduduk pada tahun 2037 adalah 11.881 jiwa. Dari hasil analisis diketahui bahwa sumber air Bukit Godang layak dikembangkan sebagai sumber air baku. Hasil analisis debit andalan 99%  dengan menggunakan Metode Mock adalah 42,78 liter/detik, besarnya debit ini masih dapat memenuhi kebutuhan air penduduk sampai dengan tahun 2037 yang besarnya 5,16 liter/detik, Hasil analisis terhadap uji kualitas air memenuhi kelas mutu air kelas 1 berdasarkan PPRI 82 tahun 2001. Hasil analisis rencana jaringan pipa menggunakan EPANET 2.0, dapat diketahui bahwa sistem pengaliran secara gravitasi,  panjang pipa 2.230 m, velocity 1,5 meter/detik dan tekanan rata-rata adalah 12,82 m. Dalam penelitian ini juga dilakukan perencanaan bangunan penangkap mata air / broncaptering yang terletak pada titik kordinat 0o20’21,9” LU, 1090 18’17,8” BT. Reservoir terletak didesa Salatiga dengan kapasitas 326 m3.Kata Kunci: Air baku, debit andalan, kebutuhan air

    253

    full texts

    282

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇