Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
421 research outputs found
Sort by
Penerapan Metode Bermain sirkuit Jasmani untuk mengembangkan kemampuan berhitung pada siswa kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang
ABSTRAK Renata, Eny Dwi.2011. Penerapan Metode Bermain Sirkuit Jasmani Untuk Mengembangkan Kemampuan Berhitung Pada Kelompok A 2 di TK Tunas Rimba Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra sekolah, Fakultas Ilmu Pendidkan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing (I) Dr. Musa Sukardi, M.Pd (II) Drs.Heru Widijoto, MS. Kata Kunci: berhitung, sirkuit jasmani, TK Kemampuan berhitung khususnya membilang/menyebut urutan bilangan1-10, membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda sampai 5), dan menghubungkan/memasangkan lambang bilangan dengan benda 1-5, pada pra penelitian menunjukkan hanya 23,5% dari 17 anak kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang. Kegiatan berhitung pada anak Taman Kanak-kanak kurang menyenangkan karena hanya menggunakan metode ceramah sehingga kegiatan tidak berpusat pada anak, dan media yang digunakan kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode bermain Sirkuit Jasmani untuk meningkatkan kemampuan berhitung pada siswa kelompok A 2 di TK Tunas Rimba Malang dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan anak dalam berhitung melalui metode bermain Sirkuit Jasmani. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain PTK. Subyek Penelitian 17 anak pada kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilakukan selama dua siklus, setiap siklus meliputi tahapan: (1) Perencanaan tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. Analisis data secara deskriptif kualitatif. Instrumen Pengumpulan data berupa foto, dokumen yang berupa lembar kerja siswa, dan dokumen nilai yang menggambarkan kemampuan berhitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran melalui metode bermain sirkuit jasmani dapat meningkatkan kemampuan berhitung yaitu (1) membilang/menyebut urutan bilangan 1-10, (2) membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda sampai 5), dan (3) menghubungkan/memasangkan lambang bilangan dengan benda 1-5 pada kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang. Pada proses peningkatan kemampuan berhitung dengan penerapan metode sirkuit jasmani dikatakan meningkat dan berhasil. Pada siklus I rata-rata prosentase kemampuan berhitung siswa sebesar 52,9 %. Dan pada siklus II rata-rata prosentase kemampuan berhitung siswa sebesar 82,3 %. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berhitung siswa. Siklus II lebih baik dari pada siklus I. Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan kemampuan berhitung melalui metode bermain sirkuit jasmani dapat dilaksanakan dengan baik pada kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang. Disarankan pada guru TK maupun bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan pembelajaran melalui metode bermain sirkuit jasmani dengan media yang berbeda sehingga akan menambah rasa senang dalam belajar berhitung
Penerapan Model Example Non Example Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDN Madyopuro 5 Kota Malang
ABSTRAK Marlay, Albertina 2011. Penerapan Model Example Non Example Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDN Madyopuro 5 Kota Malang. Skripsi. Jurusan KSDP Program Studi S-I PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Toha Mashudi, S.Pd. M.Pd (2) Dra. Murtiningsih, S.Pd. M.Pd Kata Kunci : Hasil Belajar, Example Non Example, IPS SD Siswa Sekolah Dasar (SD), khususnya siswa kelas IV diharapkan dapat memiliki hasil belajar yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Bagaimana penerapan Example Non Example pada siswa kelas IV SDN madyopuro 5 Kota Malang. (2) apakah model pembelajaran example non example dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 5 Kota Malang. (3) apakah model example non example dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 5 Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Madyopuro 5 Kota Malang, yang berjumlah 46 anak, dengan rincian laki-laki 23 dan perempuan 23 anak. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar observasi, LKS, pedoman wawancara, soal tes. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan data menjadi dua, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari instrumen observasi,wawancara,dan dokumentasi. Sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dari instrumen tes. Hasil penelitian menunjuhkan bahwa peningkatan hasil belajar pada siswa kelas IV SDN Madyopuro 5 Kota Malang, mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini dapat diketahui dari hasil pra tindakan sebesar 62,66%, siklus 1 sebesar 72,82%, siklus 2 sebesar 81,73% siswa dengan menggunakan model Example Non Example. Secara umum dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD dapat ditingkatkan melalui model Example Non Example Disarankan kepada guru untuk menggunakan model example non example dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD maupun di kelas yang lain. Penerapan model example non example merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa SD sehingga dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa secara keseluruhan
Desain Karakter Dan Lingkungan Untuk Film Animasi 3D Dongeng Si Kancil
ABSTRAK Zainuri, Moch. 2011. Desain Karakter Dan Lingkungan Untuk Film Animasi 3D Dongeng Si Kancil. Tugas Akhir, Program Studi Game Animasi FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)Drs. Didiek Rahmanadji, (II) Dody Priyatmono, S.Sn Kata Kunci: Desain, karakter, lingkungan, film animasi 3d, dongeng si kancil Karakter merupakan bagian terpenting dari sebuah animasi atau pun game. Karakter dikatakan baik jika mampu tervisualisasi dengan detail, unik dan mempunyai ciri khas. Namun sekarang ini karakter-karakter lokal sudah semakin terlupakan. Munculnya animasi, game, dan komik dari luar negeri yang membuatnya semakin tenggelam. Untuk meningkatkan minat kesadaran terhadap rasa cinta pada karakter lokal terutama karakter yang ada pada Dongeng Si Kancil diupayakan dengan mendesain ulang karakter kedalam bentuk 3D. Karena sekarang ini hampir semua film animasi banyak menggunakannya untuk bisa menghasilkan karya yang sangat menarik. Data perancangan desain karakter dan lingkungan Dongeng Si Kancil diperoleh dari pengumpulan data website dan buku-buku. Perancangan desain ini menggunakan berbagai software grafis yaitu, Adobe Photoshop dan Autodesk 3DsMax 2009. Perancangan ini menghasilkan berbagai media yaitu, desain karakter dan setting lingkungan(sebagai media utama), kemasan CD desain, merchendaise berupa katalog desain, pembatas buku dan pin, media promosi berupa x-banner, poster, dan mug
penggunaan peta konsep untuk meningkatkan pemahaman konsep ips siswa kelas V mi darussalam malang
ABSTRAK Ismawati. 2011.Penggunaan Peta Konsep Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep IPS Siswa Kelas VMI Darussalam Malang. UAP. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Lia Yuliati, M.Pd. Kata kunci : pemahaman konsep, ips, peta konsep Ilmu Pengetahuan Sosial (social studies) pada hakekatnya adalah mempelajari interaksi antara individu dengan masyarakat dan lingkungannya. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memegang peranan penting dalam mengembangkan kemampuan hidup siswa. Pada waktu kegiatan pembelajaran IPS di MI Darussalam khususnya materi mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan jepang siswa tampak malas dan kurang antusias dalam memahami hal yang disampaikan Guru, waktu siswa mengerjakan soal suasana kelas tidak kondusif sehingga kelancaran pembelajaran terganggu, siswa juga kesulitan untuk memahami materi. Efek secara umum adalah pemahaman konsep IPS di kelas V menjadi rendah. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (a)Bagaimanakah penerapan penggunaan peta konsep untuk meningkatkan pemahaman konsep mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan jepang Siswa Kelas V MI Darussalam Malang? (b)Apakah penerapan penggunaan peta konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan jepang Siswa Kelas V MI Darussalam Malang? Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus menggunakan model Kemmis dan Taggart meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi hasil tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas V tahun pelajaran 2010-2011 MI Darussalam Malang. Instrumen yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep IPS siswa Kelas V MI Darussalam meningkat. Pada siklus ke-1 pertemuan 1 skor rata-rata siswa 47 yang termasuk dalam klasifikasi C (kemampuan berpeta konsep siswa kurang). Pada pertemuan ke-2 skor rata-rata siswa 59 yang termasuk dalam klasifikasi C (kemampuan berpeta konsep siswa kurang). Pada siklus ke-2 pertemuan 1 skor rata-rata siswa 79 yang termasuk dalam klasifikasi B (kemampuan berpeta konsep siswa cukup baik). Pada pertemuan ke-2 skor rata-rata siswa 85 yang termasuk dalam klasifikasi A (kemampuan berpeta konsep siswa baik). Hasil tes pada siklus 1 nilai rata-rata hasil belajar siswa 60 pada siklus 2 meningkat menjadi 65. Pada siklus 1, 56 % siswa mencapai KKM, sedangkan pada siklus 2, 89% siswa mencapai KKM. Dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1)Guru hendaknya menggunakan peta konsep dalam membelajarkan anak pada materi perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Dapat pula digunakan model dan metode pembelajaran yang lain untuk mengembangkan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan penuh kreativitas. (2) Kepala Sekolah dan Pengawas dapat mensosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru-guru lain sepengawasan
Problematika Pendampingan Belajar Siswa Autis di SDN Percobaan 1 Malang.
ABSTRAK Noer, Roby Zulkarnain. 2011. Problematika Pendampingan Belajar Siswa Autis di SDN Percobaan 1 Malang. Program Studi S1 PGSD. Jurusan Kependidikan Sekolah dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Moh. Efendi, M.Pd, M.Kes (II) Dra. Wiwik Dwi H, S.Pd, M.Pd Kata kunci: Peran pendamping, anak dengan gangguan autistik Salah satu program pendidikan yang berkembang bagi anak-anak autistik adalah pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi memungkinkan anak berkebutuhan khusus dapat belajar di sekolah umum yang ada di lingkungan mereka. Semenjak ditunjuk sebagai sekolah yang melaksanakan program pendidikan inklusi pada tahun 2002, SDN Percobaan 1 Malang mulai menerima siswa yang berkebutuhan khusus, salah satunya siswa dengan gangguan autistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran lingkungan sekolah terhadap siswa dengan gangguan autistik di SDN Percobaan 1 Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif termasuk dalam jenis penelitian studi kasus. Subyek penelitian ini adalah kepala sekolah, para guru dan teman sebaya siswa dengan gangguan autistik di SDN Percobaan 1 Malang. Alat pengumpul data adalah wawancara, observasi dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah, induksi, reduksi data, kategorisasi, keabsahan data, menafsirkan dan penyimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data dengan menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran yang besar terhadap siswa dengan gangguan autistik di SDN Percobaan 1 Malang. Kepala sekolah telah berperan sebagai evaluator, supervisor, inovator dan motivator. Para guru telah berperan sebagai pengajar, menumbuhkan sense of industry dan sebagai pelaksana program pembelajaran individual. Teman sebaya telah berperan sebagai kawan, pendorong, pemberi dukungan fisik dan ego, sebagai perbandingan sosial dan membina keakraban. Lingkungan sekolah berperan positif dalam mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, interaksi sosial dan memberikan bimbingan perilaku pada siswa dengan gangguan autistik di SDN Percobaan 1 Malang. Selain itu lingkungan sekolah juga berperan positif dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Peran Kepala Sekolah, Guru dan teman Sebaya kurang dapat berperan baik dalam mengatasi kekurang mampuan di bidang kognitif, dalam hal ini sekolah belum menerapkan sebuah program pembelajaran individual yang efektif. Interaksi dengan teman sebaya di sekolah juga memiliki peran negatif dalam megajarkan perilaku kurang terpuji seperti mengumpat, suka memeluk dan mencium. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi kepala sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan asesmen ulang terhadap siswa dengan gangguan autistik kemudian menyusun sebuah program pembelajaran yang efektif. Untuk para guru hendaknya dapat lebih fleksibel menjalankan kurikulum pada siswa dengan gangguan autistik. Untuk teman sebaya hendaknya dapat menjadi contoh yang baik dan dapat memperlakukan siswa dengan gangguan autistik secara wajar.
Kesulitan-Kesulitan Belajar Pada Siswa Kelas V SD Sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen –Kabupaten Pasuruan
Kesulitan belajar merupakan keadaan di mana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang dialami siswa dalam memahami satu atau lebih bidang studi sehingga mempengaruhi hasil belajar. Perkembangan intelektual dalam fase masa-masa kelas tinggi sekolah dasar (kira-kira 10 s/d 11 tahun) anak mengalami masa kesulitan pendidikan.Kesulitan pendidikan sebagai akibat dari soal-soal watak yang amat realistis, ingin tahu, ingin belajar serta adanya perhatian kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkret. Apabila dalam proses pembelajaran kebutuhan anak tersebut tidak dapat terpenuhi maka akan menyebabkan kesulitan belajar. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian terhadap siswa SD kelas V yang berada diwilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif murni (survei) karena bermaksud memaparkan apa yang terdapat atau terjadi dalam sebuah kancah, lapangan, atau wilayah tertentu.Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan survey karena dilihat dari keberadaan data penelitian sudah tersedia dan peneliti melakukan analisis untuk dapat mendeskripsikan keadaan di lapangan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan jenis kesulitan belajar pada siswa kelas V sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen dan mendeskripsikan penyebab kesulitan belajar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V sekolah dasar sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen diketahui Jenis kesulitan belajar yang cukup banyak ditemukan pada siswa kelas V sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen adalah variasi kesulitan dalam mencapai ketuntasan belajar karena ada konsep dasar yang belum dikuasai atau karena proses belajar yang sudah ditempuhnya tidak sesuai dengan karakteristik belajar siswa yang bersangkutan.Sedangkan penyebab kesulitan belajar siswa kelas V SD sewilayah UPTD Pendidikan Kecamatan Prigen berasal dari 4 faktor penyebab. Dari empat faktor penyebab utama terdapat kecenderungan sebagai faktor dominan yang ditunjukkan dengan persentase perolehan skor pada tiap indikator. Penyebab kesulitan belajar dari faktor fisiologi disebabkan oleh kondisi kesehatan siswa. Kemudian dari faktor psikologi disebabkan oleh kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan rendahnya motivasi siswa dalam belajar.Dari faktor sosial disebabkan oleh pola pengasuhan orangtua. Sedangkan penyebab kesulitan belajar dari faktor non sosial berasal dari penyajian bahan pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik belajar siswa serta kurangnya penyesuaian standar pelajaran yaitu tidak adanya penyesuaian materi pelajaran sesuai dengan kemampuan siswa. Dari hasil kesimpulan tersebut beberapa saran yang dapat dikemukakan kepada lembaga SD, guru, siswa, dan orangtua untuk bekerjasama dalam mengatasi masalah kesulitan belajar pada siswa. Selain itu, bagi peneliti lanjutan berupaya untuk mengembangkan hasil penelitian terutama dalam upaya mengatasi kesulitan belajar pada siswa
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL NHT (NUMBERRED HEADS TOGETHER) PADA SISWA KELAS V SDN I WAJAKKIDUL KABUPATEN TULUNGAGUNG
ABSTRAK Farida, Yeni. 2011. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Model NHT (Numberred Heads Together) pada Siswa Kelas V SDN I Wajakkidul Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si, (II) Suwarti, S.Pd, M.Pd.Kata kunci: hasil belajar, matematika, model nht (numbered heads together) Pembelajaran matematika Kelas V di SDN I Wajakkidul disajikan oleh guru sebagai pelajaran yang tidak menarik. Berdasarkan nilai tes pada pembelajaran pra tindakan, terdapat 11 siswa dari 17 siswa yang tidak memenuhi KKM. Individualisme siswa juga cukup tinggi. Model pembelajaran yang digunakan guru konvensional, sehingga menimbulkan kebosanan siswa untuk belajar. Oleh karena itu diperlukan penerapan model pembelajaran kooperatif yang mampu menumbuhkan aktivitas siswa sekaligus mampu meningkatkan hasil belajar siswa.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan dan peningkatan hasil belajar siswa dengan diterapkannya model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), menggunakan model siklus yang terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di SDN I Wajakkidul, Kabupaten Tulungagung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pengamatan, dokumentasi, dan tes. Instrumen yang digunakan adalah lembar pengamatan guru dan siswa, pedoman tes dan kamera. Data dan sumber data yang digunakan adalah data hasil kegiatan siswa, data hasil observasi kemampuan guru, dan data hasil belajar matematika melalui model NHT (Numbered Heads Together) siswa kelas V SDN I Wajakkidul.Berdasarkan hasil penelitian, presentase nilai kemampuan guru dalam menggunakan model NHT (Numberred Heads Together) pada siklus I adalah 83,35%, sedangkan pada siklus II 90,75%. Pada siklus I nilai rata-rata kegiatan siswa adalah 75,9 dan pada siklus II adalah 88. Hasil belajar siswa dari tahap pra tindakan hingga pelaksanaan siklus II telah meningkat. Pada tahap pra tindakan ketuntasan hasil belajar siswa adalah 35,3%. Untuk pembelajaran siklus I hasil belajar siswa dalam pembelajaran siklus I yang dilakukan peneliti, ketuntasan belajar siswa adalah 70,6%. Pada pembelajaran siklus I mengalami peningkatan dari pra tindakan. Pada pembelajaran siklus II, ketuntasan belajar siswa adalah 94,1%. Pada pembelajaran siklus II mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 23,5%.Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model NHT (Numberred Heads Together) pada pembelajaran matematika materi bilangan bulat dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN I Wajakkidul Kabupaten Tulungagung. Untuk itu guru hendaknya menerapkan model yang tepat untuk pembelajaran matematika seperti model NHT (Numberred Heads Together) untuk materi lainnya agar hasil belajar siswa bisa terus meningkat dengan baik
Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi FPB dan KPK Melalui Pendekatan Open Ended Kelas V Sdn Karangsari 2 Kota Blitar
ABSTRAKKostanSetiani, Ulfa. 2011. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi FPB dan KPK Melalui Pendekatan Open Ended Kelas V Sdn Karangsari 2 Kota Blitar.Skripsi, Program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Sunyoto, S.Pd, M. Si, (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd, M.Pd.Kata Kunci: hasil belajar, Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), pendekatan Open – EndedBerdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), siswa masih mendapatkankan nilai jauh dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yakni 65. Dari 15 siswa kelas Va, hanya 2 anak yang mendapata nilai 75, 1 anak mendapatkan nilai 65 dan sisanya mendapat nilai di bawah 65 yakni pada kisaran 42 sampai dengan 33. Rata – rata nilai kelas 46. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikkan pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dengan menggunakan pendekatan Open Ended. Rumusan masalah penelitian ini: (1) Bagaimanakah proses pembelajaran matematika materi Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) siswa kelas V di SDN Karangsari 2 Kota Blitar?, (2) Adakah peningkatan hasil belajar pembelajaran Matematika materi Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) siswa kelas V SDN Karangsari 2 Kota Blitar dengan menggunakan pendekatan Open Ended?Penelitian ini menggunakan jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V di SDN Karangsari 2, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar yang berjumlah 15 siswa terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Dalam penelitian ini peneliti sebagai Observer.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dengan menggunakan pendekatan open ended SDN Karangsari 2 Kota Blitar kelas V sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Presentase ketuntasan pada pra tindakan 13% (2 siswa yang tuntas dengan skor ≥65) sedangkan untuk persentase siswa tidak tuntas yaitu 87% (13 siswa yang tidak tuntas dengan skor ≤65), pada siklus 1 pertemuan 1 adalah 67% tuntas, siklus 1 pertemuan 2 adalah 73% siswa tuntas, siklus 2 pertemuan 1 adalah 80% siswa tuntas dan pada siklus 2 pertemuan 2 adalah 93% siswa tuntas.Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan guru kelas V SDN Karangsari 2 Kota Blitar dalam pembelajaran matematika materi FPB dan KPK menggunakan pendekatan Open Ended agar hasil belajar siswa meningkat dan lebih optimal
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) SISWA KELAS IV SDN KETAWANGGEDE 1 MALANG
ABSTRAK Fajariani, Titik Dwi. 2011. Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui Model Cooperative Learning tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Siswa Kelas IV SDN Ketawanggede I Malang . Skripsi, Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.Rumidjan,S.Pd, M.Pd, (2) Drs. H. M. Thoha AR, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, STAD, Menulis Narasi, hasil belajar Menulis narasi merupakan salah satu kemampuan yang diberikan kepada siswa mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, namun kenyataannya masih banyak siswa yang belum mampu menulis narasi secara benar. Mereka masih kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah paragraf yang utuh dan padu, siswa kurang paham dengan penggunaan ejaan dan tanda baca dan siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan sebuah kejadian atau peristiwa secara runtut berdasarkan pengalaman. Berdasarkan uraian tersebut peneliti memilih menulis narasi sebagai bahan pertimbangan ini. Salah satu materi dalam menulis narasi sebagai pengalaman pribadi. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis lebih banyak membahas tentang menulis pengalaman pribadi tujuannya agar siswa dapat menulis narasi dengan baik. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : 1) penerapan menulis narasi dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Malang; 2) Peningkatan hasil belajar siswa Kelas IV SDN Ketawanggede 1 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus melalui tahapan-tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan dalam siklus tersebut dituangkan dalam tiap tahapan proses penulisan, yang terdiri dari prapenulisan, penulisan, dan penyuntingan. Dalam penerapan pelaksanaan tindakan diterapkan tahapan-tahapan model STAD yang terdiri dari presentasi, kerja kelompok, tes, penentuan skor dan penghargaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran kooperatif kemampuan siswa dalam mengembangkan isi, penyusunan kalimat secara runtut, dan ketepatan penulisan EYD dalam menulis narasi semakin meningkat dari siklus ke siklus berikutnya, Siklus I yang menunjukkan ketuntasan klasikal 61% dan Siklus II yang menunjukkan 95% mengalami ketuntasan menulis. Narasi yang ditulis siswa menjadi lebih baik, lengkap, susunan paragrafnya beruntun dari kalimat satu ke kalimat yang lain, serta pola pengembangan isinya tepat. Peningkatan kemampuan siswa tersebut dilakukan dengan cara menerapkan bentuk-bentuk belajar yang efektif, menyenangkan, dan saling bekerja sama
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA UNTUK SISWA SD/MI KELAS IV BERBASIS COOPERATIVE LEARNING
ABSTRAK Rosita, Farida Yufarlina. 2011. Pengembangan Bahan Ajar Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia untuk Siswa SD/MI Kelas IV Berbasis Cooperative Learning. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Saksomo, M.Si, (II) Azizatuz Zahro, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, keterampilan berbicara, cooperative learning Berbicara merupakan hal yang penting karena digunakan sebagai bentuk komunikasi antarmanusia. Keterampilan berbicara sebagai salah satu keterampilan berbahasa sudah diajarkan sejak siswa duduk di bangku Sekolah Dasar. Akan tetapi, siswa belum ikut berperan aktif dalam pembelajaran berbicara di kelas karena belum tersedianya bahan ajar khusus untuk siswa SD/MI kelas IV. Berkaitan dengan itu, diperlukan pengembangan bahan ajar baru sebagai alternatif media berbicara yang khusus untuk siswa SD/MI kelas IV. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan bahan ajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia untuk siswa SD/MI kelas IV berbasis cooperative learning. Secara khusus, tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah dihasilkannya isi materi, penyajian, dan kelayakan bahasa bahan ajar. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan dan bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan pembelajaran berbicara dan mengembangkannya dalam bentuk bahan ajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia untuk siswa SD/MI kelas IV berbasis cooperative learning. Spesifikasi produk dari penelitian ini adalah dihasilkannya bahan cetak berupa bahan ajar yang berisi isi materi keterampilan berbicara, penyajian keterampilan berbicara, dan kelayakan bahasanya. Model pengembangan bahan ajar ini dirumuskan dengan tahapan analisis pendahuluan, analisis kurikulum, penyusunan RPP berbasis cooperative learning, penulisan dan penyusunan bahan ajar, uji coba, revisi, dan dihasilkan produk akhir. Uji coba produk dirumuskan dalam lima tahap, yaitu: a) desain uji coba, b) subjek uji coba, c) jenis data, d) instrumen pengumpulan data, e) teknik analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan penyebaran angket. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa human instrument, yaitu peneliti sendiri, pedoman wawancara, dan angket. Data verbal berupa catatan, komentar, saran, dan kritik langsung dituliskan pada angket maupun bahan ajar. Untuk mengetahui kevalidan data, dilakukan uji coba produk kepada dua pakar, satu guru, dan siswa. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, isi materi dalam bahan ajar akan lebih baik jika dilengkapi dengan materi yang membelajarkan keterampilan berbicara secara langsung. Kedua, penyajian bahan ajar meliputi contoh-contoh, gambar, ilustrasi, dan paduan warna. Penggunaan aspek-aspek tersebut dalam bahan ajar ini relevan dengan tingkat intelektual dan emosional siswa kelas IV SD/MI. Ketiga, aspek kelayakan bahasa yang digunakan dalam bahan ajar ini mudah dipahami oleh siswa kelas IV SD/MI karena bahasa yang digunakan dalam bahan ajar ini sederhana dan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan siswa dalam memahami sebuah bahasa