Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
    421 research outputs found

    perbedaan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 4 dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diberi reinforcement

    No full text
    ABSTRAK     Sitatun, Reni. 2012. Perbedaan Tingkat Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN Madyopuro 4 Kota Malang dalam Pembelajaran IPS Sebelum dan Sesudah Diberi Reinforcement. Skripsi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Kependidikan Sekolah dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Toha Mashudi, S. Pd M. Pd (2) Drs. Sutarno, M. Pd   Kata Kunci: Reinforcement, Aktivitas Belajar Siswa, Hasil Belajar, IPS   Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut mampu merangsang munculnya proses berpikir, harus dapat membantu tumbuhnya sikap kritis, serta harus mampu mengubah pandangan siswanya. Salah satu usaha untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran adalah melalui reinforcement. Penggunaan reinforcement yang tepat dalam proses belajar-mengajar dapat menimbulkan pengaruh berupa sikap yang lebih positif dari pihak siswa sehingga partisipasinya dalam proses belajar mengajar akan meningkat dan dengan begitu dapat diharapkan bahwa pencapaian prestasi belajar mengajar menjadi lebih tinggi. Tujuan penelitian ini secara rinci adalah membuktikan ada tidaknya perbedaan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 4 dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diberi reinforcement. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental Design). Rancangan penelitian ini menggunakan dua kelas untuk dijadikan sampel penelitian. Satu kelas dijadikan kelas kontrol dan satu kelas lainnya dijadikan kelas eksperimen. Kelas kontrol dalam penelitian ini yaitu kelas tanpa adanya pemberian penguatan selama pembelajaran IPS (kelas IVA), sedangkan kelas eksperimen adalah kelas dengan adanya pemberian penguatan selama pembelajaran IPS (kelas IVB). Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi untuk mengetahui keaktifan siswa dan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan berupa uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji t independent. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh Rata-rata aktivitas kelompok eksperimen (69,23) lebih tinggi dari rata-rata aktivitas kelompok kontrol. Selain aktivitas siswa, juga diperoleh perbedaan hasil belajar siswa atau kelas yang diberi reinforcement  dengan siswa atau kelas yang tidak diberi reinforcement dalam pembelajaran. Rata-rata gain score kelompok eksperimen (8,21) lebih tinggi dari rata-rata gain score kelompok kontrol (5,77). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian yang dibantu dengan program SPSS 15.0 for windows untuk analisis Compare Means Independent Sampel t- test, menunjukkan nilai probabilitas ≤ 0,05 (0,032 ≤ 0,05) yang berarti Ha diterima. Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro 4 dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diberi reinforcement

    Penerapan Permainan “Next Number” untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang”.

    No full text
    ABSTRAK   Rahayu, Siti, Vatimah Dwi. 2012. Penerapan Permainan Next Number untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak TK Kelompok A di Tk Al-Ghufron Sawojajar Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (1) Drs. Ahmad Samawi, M. Hum,  (2) Drs. I Wayan Sutama, M. Pd.   Kata Kunci: Anak Kelompok A, Kemampuan Kognitif, Permainan  Next Number Latar belakang penelitian yaitu: dalam menstimulasi kemampuan kognitif, guru dalam memberikan pembelajaran menekankan pada lembar kerja siswa dan tanya jawab. Metode yang digunakan menjadi monoton, karena menekankan pada latihan-latihan dengan mengerjakan lembar kerja siswa dalam mengenalkan lambang bilangan pada anak. Dalam penyelesaian masalah maka peneliti menggunakan kegiatan pembelajaran permainan Next Number. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimana penerapan permainan Next Number untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang (2) Apakah dengan penerapan permainan Next Number dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang yang berjumlah 14 anak. Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dihitung menggunakan rumus prosentase untuk setiap komponen penilaiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan Next Number yang dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan perkembangan anak dapat meningkatkan kemampuan kognitif dengan langkah-langkah permainan yaitu, anak mengambil bola angka, melompati jejak kaki sambil berhitung, menukarkan bola dan mengambil topi sesuai dengan nomor bola, melewati maze, menyusun kartu angka sesuai dengan gambar topi yang dipakai. Terdapat peningkatan pada siklus I kemampuan kognitif mencapai 67,55%, pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 82,73 %. Peningkatan rata-rata kemampuan kognitif mencapai 15,18%. Permainan Next Number dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang. Bertitik tolak dari kesimpulan beberapa saran yang dikemukakan: (1) bagi pendidik, penelitian ini dapat menjadi inspirasi dengan menggunakan teknik permainan untuk membantu mengembangkan konsep berhitung, (2) untuk peneliti selanjutnya dapat mengembangkan kemampuan dalam bidang lain seperti kemampuan fisik motorik dan bahasa

    IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING MELALUI PERMAINAN TEBAK KATA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK KELOMPOK B1 DI TK MUSLIMAT NU 17 NUR ROKHMAT KEBONSARI MALANG SKRIPSI OLEH MEGA ELVIRA TRIA DEWINTA NIM 100153405991 UNIV

    No full text
    ABSTRAK   Dewinta, Mega, Elvira Tria. 2012. Implementasi Pembelajaran Snowball Throwing melalui Permainan Tebak Kata untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Kelompok B1 di TK Muslimat NU 17 Nur Rokhmat Kebonsari Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing:  (1) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd, (2) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum.   Kata Kunci: Pembelajaan Snowball Throwing, Permainan Tebak Kata, Kemampuan Berbahasa, Taman Kanak-kanak Latar belakang penelitian yaitu: dalam menstimulasi kemampuan berbahasa, guru dalam memberikan pembelajaran hanya berupa penjelasan-penjelasan dan lebih menggunakan metode tanya jawab serta media yang digunakan cenderung menggunakan lembar kerja siswa dan kurang melatih kemandirian anak. Dalam Penyelesaian masalah tersebut, maka peneliti menggunakan pembelajaran Snowball Throwing melalui permainan tebak kata. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimanakah implementasi pembelajaran Snowball Throwing melalui permainan tebak kata untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B1 di TK Muslimat NU 17 Nur Rokhmat Kebonsari Malang?, (2) Apakah implementasi pembelajaran Snowball Throwing melalui permainan tebak kata dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B1 di TK Muslimat NU 17 Nur Rokhmat Kebonsari Malang? Rencana Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini direncanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B1 TK Muslimat NU 17 Nur Rokhmat Kebonsari Malang yang berjumlah 15 anak. Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dihitung menggunakan rumus presentase untuk setiap komponen penilaiannya. Hasil tindakan penelitian pada penerapan permainan ”tebak kata” untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak di TK Muslimat NU 17 Nur Rokhmat Kebonsari Malang pra tindakan dengan rata-rata 52,77 %, setelah diadakan tindakan siklus I mengalami peningkatan pencapaian perkembangan dengan baik 7 dari 15 anak (65%). Selanjutnya untuk tindakan penelitian pada siklus II rata-rata kemampuan bahasa anak mengalami peningkatan pencapaian perkembangan baik dalam kelas dengan perolehan (12 dari 15 anak) dengan rata-rata 84,44%. Implementasi pembelajaran Snowball Throwing ini dikolaborasikan dengan sebuah permainan tebak kata dengan menggunakan media flashcard binatang darat, laut dan udara. Pada permainan ini anak dapat bercerita tentang gambar binatang yang sudah disediakan oleh guru, anak dapat menyebutkan nama binatang yang suara huruf awalnya sama, dan anak dapat menirukan kembali kata dengan melihat gambar binatang dengan bantuan guru. Penerapan permainan tebak gambar dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak terbukti dengan semakin banyaknya kosa kata yang didapat anak melalui bermain menggunakan kartu gambar yang bertuliskan kata. Saran yang diberikan untuk pihak sekolah hendaknya untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak khususnya ketrampilan berbicara, diharapkan menerapkan permainan tebak kata yang lebih menarik dan bervariasi

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR BANGUN DATAR MELALUI MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS II SDN BIROWO 02 KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN BLITAR

    No full text
    ABSTRAK   Prastuti, Reswita Dwi. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Bangun Datar Melalui Model Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas II SDN Birowo 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan sekolah dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H.M. Zainuddin, M.Pd, (II) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si.   Kata kunci: hasil belajar, bangun datar, model Contextual Teaching and Learning (CTL) Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas II SDN Birowo 02 proses pembelajaran matematika tentang bangun datar adalah kurangnya aktifitas siswa selama pembelajaran, guru hanya memberikan ceramah mengenai materi dan siswa hanya duduk mendengarkan saja, tidak digunakannya benda konkret sebagai media pembelajaran sehingga siswa tidak melakukan aktifitas belajar matematika untuk menemukan pengetahuannya sendiri, serta guru tidak runtut dalam penyampaikan materi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran bangun datar melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) pada materi bangun datar di kelas II SDN Birowo 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan observasi. Teknik analisa yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahawa penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) pada pembelajaran bangun datar di kelas II SDN Birowo 02 dapat meningkatkan hasil belajar bangun datar siswa yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan adalah 55, siklus I adalah 60,93, dan siklus II adalah 69,09. Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 25%, siklus I sebesar 37,5 %, dan siklus II sebesar 93,75%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar bangun datar siswa kelas II SDN Birowo 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar

    Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui Model PAKEM di kelas IV SDN Turi 01 Kota Blitar.

    No full text
    ABSTRAK   Talaohu, Irawaty. 2012. Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui Model PAKEM di kelas IV SDN Turi 01 Kota Blitar. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Alif Mudiono, M.Pd, Pembimbing (2) Dra. Sri Nuryati, M.Pd.   Kata Kunci: meningkatkan keterampilan, menulis narasi, pakem Keterampilan menulis narasi di kelas IV SDN Turi 01 Kota Blitar kurang memuaskan, yaitu hanya terdapat 12 siswa dari 29 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Hal ini di awali dengan pembelajaran yang bersifat konfensional. Pada waktu pembelajaran masih di dominasi oleh guru dan siswa sangat pasif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya  model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa. Tujuan diadakan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran PAKEM untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi di kelas IV SDN Turi 01 Kota Blitar, (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa di kelas IV SDN Turi 01 Kota Blitar dengan model pembelajaran PAKEM. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Turi 01 Kota Blitar dengan subjek penelitian siswa kelas IV sebanyak 29 anak. Hasil penelitian pada siklus I nilai rata-rata 64, ada 11 siswa yang tuntas belajar 38% dan 18 siswa belum tuntas dengan persentase ketuntasan 62%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata siswa 82, ada 26 siswa yang tuntas belajar 90%  dan 3 siswa belum tuntas belajar dengan persentase ketuntasan 10%. Hasil kegiatan belajar kelompok siswa pada siklus I secara keseluruhan dikategorikan cukup dengan rata-rata persentase 57%. Pada siklus II secara keseluruhan dikategorikan baik dengan rata-rata persentase 84%. Sedangkan hasil pelaksanaan kegiatan guru pada siklus I dikategorikan cukup dengan skor yang diperoleh 70. Pada siklus II dikategorikan sangat baik dengan skor yang diperoleh 100. Peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan model pembelajaran PAKEM nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 64 dengan persentase ketuntasan 62% meningkat menjadi 90% pada siklus II. Dari 11 siswa yang tuntas belajar pada siklus I meningkat menjadi 26 siswa pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis narasi. Untuk itu, hendaknya para guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran PAKEM kepada siswa supaya keterampilan menulis narasi siswa semakin meningkat

    ANALISIS KESALAHAN PENULISAN TANDA BACA PADA TULISAN PERCAKAPAN SISWA KELAS IV SDN MASANGAN KEC. BANGIL KAB. PASURUAN

    No full text
    ARTIKEL   Lutfiyah, 2012. Analysis Mistake of Writing of Punctuation Mark [At] Article Conversation of Student Class of IV SDN Masangan District of Bangil Sub-Province of Pasuruan.. Skripsi. Prodi Education of Elementary Schoolteacher and Pre go to School Majors of KSDP Unlucky University Country, Counselor.: (1) Drs. H. M. Thoha AR, S.Pd, M.Pd     (2) Drs. Sjafruddin A.R, M.Pd   Keyword : Mistake of Writing of Punctuation Mark, conversation of SD.     Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum 2004, di arahkan pada pengajaran terpadu untuk lebih menumbuhkan kemampuan berbahasa Indonesia. Dalam pembelajaran baik lisan maupun tulisan. Dalam pengajaran Bahasa Indonesia mempunyai berbagai kemampuan berbahasa Indonesia. Terdapat empat aspek keterampilan yang dilakukan secara terpadu. Keempat aspek yang dilakukan secara terpadu, adalah (1) Keterampilan menyimak (2) Keterampilan berbicara (3) Keterampilan membaca (4) Keterampilan menulis (Santoso, 2009:3). Menurut kamus besar Bahasa Inonesia (1995:102), tanda baca merupakan tanda-tanda yang dipakai dalam system ejaan (seperti titik, koma, titik dua, dan lain lain). Tanda baca dapat dikatakn sebagai pelengkap dari aturan dari penulisan. Sebuah tulisan yang hanya berbentuk tanda-tanda tertentu dengan pemakaian yang tertentu pula. Bila sebuah tulisan tanpa tanda baca maka susunan kata yang hendak dilengkapkan tak dapat terbaca atau tertangkap, maksudnya dalam kali ini, siswa sekolah dasar khusunya siswa kelas IV SDN Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dengan pengertian tanda baca yang merupakan alat bantu untuk menjelaskan maksud penentuan (Poerwadar Minta, 1981:14). Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan ada/tidak ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa kelas IV SD Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dalam menuliskan tanda baca berupa : Tanda baca titik (.); tanda baca koma (,); tanda baca Tanya (?); tanda baca titik dua (:); tanda baca petik (“,”) dalam menuliskan tanda baca pada tulisan percakapan. Pengajaran Bahasa Indonesia disekolah dasar mempunyai dua Matra (dimensi), yaitu apa yang disampaikan (tata bahasa, struktur, perbendaharaan kata dan topic), serta bagaimana menyampaikan dengan (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) ( Tangyong, dkk 1985;3). Selanjutnya Tangyong (1985;3) mengemukakan bahwa siswa harus mengetahui bahasa mereka dan dengan demikian harus mengembangkan daftar perbendaharaan kata-kata baru, pola tata bahasa baru, dan ketentuan tanda baca. Mereka juga harus berlatih dalam empat keterampilan bahasa : banyak kegiatan mendengarkan, bermacam-macam kegiatan berbicara, bekerja dengan aneka ragam kegiatan membaca, dan akhirnya banyak latihan menulis. Muslich, dkk (1987;128) mengemukakan bahwa empat keterampilan bahasa tersebut dalam proses belajar mengajar dapat dikelompokan menjadi empat tahap pengajaran yaitu : (1) Tahap introduksi (yaitu membangkitkan semangat belajar siswa dengan seperangkat kegiatan yang menarik) (2) Tahap pembimbingan belajar (yaitu memberikan penghargaan, memberikan pujian, dan hukuman) (3) Tahap penerangan (yaitu penghargaan pada usaha yang menunjang daya ingatan dan transfer belajar) (4) Tahap performansi dan baliak (yaitu tahap terakhir dalam proses pengajaran yang berisikan asahan memberikan kepada siswa menampilkan kemampuannya), adapun tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yaitu pembelajaran bahasa Indonesia disekolah dasar berdasarkan kurikulum pendidikan dasar, tujuan umum pengajaran bahasa Indonesia ialah (1) agar siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara, (2) agar siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, dan keadaan (3) agar siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional dan kematangan social (4) berbahasa (berbicara dan menulis) (5) agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil,dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dank eras lembut, disela jeda, dan di akhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun gsinilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf capital dan diakhiri dengan Tanda Titik (.), Tanda Tanya (?), atau Tanda Seru (!) ; Sementara itu, didalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik koma (;), tanda pisah (-) dan spasi . Tanda Titik ,Tanda Tanya, dan Tanda Seru sepadan dengan Intonasi akhir, Sedangkan tanda baca lain sepadan dengan jeda, spasi yang mengikuti Tanda Titik, Tanda Tanya, dan Tanda Seru melambangkan kesenyapan. Kalimat merupakan satuan dasar wacana artinya, wacana hanya akan terbentuk jika ada dua kalimat, atau lebih yang letaknya berurutan dan berdasarkan kaidah kewacanan. Dengan demikian, setiap tuturan, berupa kata atau untaian kata, yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan diatas pada suatu wacana atau Teks, berstatus kalimat agaknya jelas bahwa pembicaraan tentang wacana memerlukan pengetahuan tentang kalimat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kalimat.   METODE Metode penelitian merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga agar pengetahuan yang diperoleh dan suatu penelitian mempunyai nilai tambah yang tinggi. keberhasilan suatu penelitian banyak dipengaruhi oleh ketetapan dalam memilih dan menentukan metode yang digunakan. Berdasarkan menjawab kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa kelas IV dalam penulisan tanda baca pada tulisan percakapan diperlukan rancangan penelitian, maka untuk menjawab kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa kelas IV dalam penulisan tanda baca pada tulisan percakapan diperlukan rancangan penelitian yang sesuai. Menurut Maman (2002 : 2) penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Menurut Sujana dan Ibrahim (1989:64) penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang ini dengan kata lain penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian kepada masalah-masalah, aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan. Menurut Anggoro (2007:124) penulisan deskriptif adalah penulisan yang berupaya mengumpulkan informasi atau menggambarkan suatu gejala atau keadaan yang menurut apa adanya pada saat penulisan dilakukan penulisan deskriptif bertujuan untuk melukiskan atau menggambarkan secara verbal dan grafis terhadap situasi atau peristiwa yang akan diamati. Pada penelitian ini kehadiran peneliti di sekolah sangat di perlukan, peranan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrument sekaligus sebagai pengumpul data selain itu, peneliti juga mempunyai kedudukan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, dan pelapor data. Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan pihak sekolah dan guru Bahasa Indonesia yang di letakkan Guba dan Hincolu bahwa manusia sebagai instrument penelitian memiliki kualifikasi baik. Hal ini di karenakan sifatnya yang responsive, adaptif lebih kolistik, kesadaran pada konteles mampu menyelesaikan kesulitan yang lebih dalam Arikunto (1992:128) berpendapat “ didalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera, jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui pengelihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap”. Pada metode ini pengamat secara langsung dan sengaja melalui pengamatan serta pencatatan terhadap kegiatan belajar mengajar di kelas IV SDN Masangan Kec. Bangil Kab. Pasuruan pada waktu Pelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi percakapan dengan penggunaan tanda baca. Untuk menyaring data yang di perlukan, digunakan  “Tes” yaitu tes mengguanakan tanda bacan yang terdiri dari tanda baca titik (.), tanda baca (,), tanda baca Tanya (?), tanda baca titik dua (:), tanda baca petik(“…”).   HASIL Bab ini berisi paparan tentang hasil penelitian, paparan hasil penelitian ini mencakup kesalahan – kesalahan siswa kelas IV SDN Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dalam penulisan Tanda Baca pada tulisan percakapan berupa : tanda baca titik (.), tanda baca koma (,), tanda baca Tanya (?), tanda baca titik dua (:), tanda baca petik (“….”).   PEMBAHASAN Mengacu pada uraian hasil penelitian yang peneliti paparkan di depan, maka pembahasan hasil penelitian adalah sebagai berikut : dari 36 siswa 86,2 % memperoleh nilai 7,41, maka dapat dikatakan mampu dalam menggunakan tanda baca berupa tanda titik ( . ), dan 36 siswa 97 % memperoleh nilai > 41, maka dapat dikatakan mampu dalam menggunakan tanda baca 5 % memperoleh nilai  > 41, maka tanda baca berupa tanda baca tanya ( ? ) dari 36 siswa 89 % memperoleh nilai > 41, maka dapat dikatakan mampu dalam menggunakan tanda baca berupa tanda baca titik dua ( : ), dari 36 siswa 30,5 % memperoleh nilai > 40, maka dapat dikatakan tidak mampu dalam menggunakan tanda baca berupa tanda baca petik (“, “)   KESIMPULAN Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa kelas IV SDN Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dalam penulisan tanda baca pada tulisan percakapan Tahun 2012, dapat dikatakan belum semua mampu menggunakan tanda baca dalam benar. Hambatan-hambatan pembelajaran bahasa Indonesia dalam penggunaan tanda baca pada siswa kelas IV SDN Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 adalah dalam hal ragam bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bisa menggunakan bahasa Indonesia di dalam maupun di luar jam pelajaran, sehingga pada waktu guru menyajikan pembelajaran tentang tanda baca, siswa sudah terampil menggunakannya.   SARAN Disarankan kepada guru bahasa Indonesia agar dapat memanfaatkan pola dan hasil penelitian ini sebagai suatu alternatif dalam memberikan pelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran penggunaan tanda baca pada tulisan percakapan. Selain itu diharapkan para guru bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) sering memberikan latihan atau pekerjaan rumah kepada siswa tentang penggunaan tanda baca yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Kepada siswa SD dianjurkan meningkatkan tradisi membaca wacana bahasa Indonesia, dengan cara ini siswa secara tidak langsung akan mengetahui bagaimana penggunaan tanda baca yang benar sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, siswa tidak perlu segan atau malu dalam bertanya khususnya pertenyaan mengenai penggunaan tanda baca. Dengan demikian siswa akan mengetahui penggunaan tanda baca dalam bahasa Indonesia dan dapat menerapkannya dan menyusun wacana bahasa Indonesia. Kepada peneliti selanjutnya yang berminat dalam bidang pengajaran bahasa Indonesia, hendaknya dapat mengembangkan pola dan teknik penelitian ini menjadi modal penelitian yang lebih baik, diharapkan penelitian lebih lanjut dapat mengembangkan bentuk kajiannya yang mengarah kepada penelitian kualitatif atau setidaknya gabungan penelitian kuantitatif dan kualita

    Pengembangan Rasa Tanggung Jawab dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang

    No full text
    Pengembangan rasa tanggung jawab dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah upaya yang dilakukan guru secara terstruktur dan bertahap, baik di dalam maupun di luar kelas untuk memfasilitasi siswa mencapai tujuan yang dikehendaki, yaitu sikap tanggung jawab siswa. Pengembangan tersebut dilakukan melalui mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) yang meliputi pengintegrasian  nilai tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan, serta melalui pengondisian lingkungan sekolah, yang meliputi pengintegrasian dalam tata tertib, kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian fasilitas sekolah.             Tujuan dari penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan yaitu: (1) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam mengembangkan rasa tanggung jawab siswa kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang?; (2) Apakah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dapat mengembangkan rasa tanggung jawab siswa kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang?; (3) Apakah pengondisian lingkungan sekolah melalui kejelasan aturan dapat mengembangkan rasa tanggung jawab siswa kelas V SDN Lowokwaru 5 Kota Malang?. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Sementara pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh hasil bahwa kegiatan yang efektif dalam pengembangan rasa tanggunggung jawab siswa pada mata pelajaran PKn dilakukan melalui kegiatan pembiasaan, keteladanan, serta  pengondisian lingkungan sekolah meliputi tata tertib, kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengondisian fasilitas sekolah. Sementara kegiatan pembelajaran PKn kurang memberikan kontribusi karena guru lebih menekankan pada aspek kognitif berupa pemahaman materi pelajaran daripada penekanan pada aspek afeksi dan konasi dalam pembentukan sikap tanggung jawab siswa. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu kegiatan yang memberikan kontribusi dalam pengembangan rasa tanggung jawab yaitu kegiatan pembiasaan, pengondisian lingkungan sekolah, dan keteladanan guru sebagai model sikap tanggung jawab. Sedangkan saran yang dapat penulis sampaikanyaitu sebaiknya dalam pengembangan rasa tanggung jawab siswa, guru dapat menggunakan kegiatan pembiasaan, keteladanan dan pengondisian lingkungan sekolah. Sementara dalam kegiatan pembelajaran PKnsebaiknya guru lebih menekankan pada aspek afeksi dan konasi dalam pembentukan sikap siswa

    Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SDN Bunulrejo 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Rusaria, Ika. 2012. Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SDN Bunulrejo 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd, (II) Dra Purwendarti, M.Pd.   Kata Kunci: Model Problem Based Learning, pembelajaran, IPA. Berdasarkan hasil observasi awal di SDN Bunulrejo 2 Kota Malang ditemukan bahwa dalam pembelajaran IPA kelas IV masih menggunakan metode ekspositori dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang konvensional, sehingga mengakibatkan siswa menjadi pasif dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah yang ditunjukkan dengan ketuntasan hasil belajar kelas belum tercapai karena hanya 47% telah tuntas dan 53% belum tuntas belajar. Model Problem Based Learning (PBL) membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektualnya, karena adanya keterlibatan langsung dalam pengalaman nyata serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa setelah menerapkan model Problem Based Learning, dan (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa setelah menerapkan model Problem Based Learning. Penelitian ini dilakukan di SDN Bunulrejo 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV berjumlah 30 siswa,  terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Tagart, meliputi 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan tes. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL pada pembelajaran IPA kelas IV dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan guru mengajar dengan sangat baik yaitu tercapainya sebagian besar dari indikator dalam RPP. Penerapan model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa melalui observasi pada siklus I sebanyak 70% meningkat menjadi 82% pada sikus II. Sementara untuk hasil belajar siswa meningkat dari rata-rata nilai 66 dengan 47% siswa tuntas belajar pada siklus I meningkat menjadi 82 dengan 87% siswa tuntas belajar pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran menggunakan model PBL perlu dilakukan karena dapat mengaktifkan siswa selama pembelajaran, penilaian aktivitas siswa diharapkan lebih teliti, selalu memotivasi siswa, serta diharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan pembelajaran IPA dengan materi yang berbeda

    Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Metode Simulasi pada Siswa Kelas II SDN 03 Bendorejo Kabupaten Trenggalek.

    No full text
    ABSTRAK   Perwitasari, Aties. 2012. Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Metode Simulasi pada Siswa Kelas II SDN 03 Bendorejo Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Prodi S-I PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Hadi Mustofa,M.Pd, (II) Drs. H. Suhel Madyono, M.Pd   Kata Kunci: hasil belajar, PKn, metode simulasi. Berdasarkan observasi proses pembelajaran dikelas II SDN 03 Bendorejo, dalam mengerjakan soal siswa yang mendapatkan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu hanya 3 siswa dengan persentase 20%, sedangkan siswa yang tidak memenuhi KKM sebanyak 12 siswa dengan persentase 80% dan nilai rata-rata sebesar 52,3 dari 15 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih berada di bawah standar ketuntasan yang ditetapkan yaitu 70. Untuk memperbaiki keadaan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) penerapan pembelajaran PKn melalui simulasi pada siswa Kelas II SDN 03 Kabupaten Trenggalek, dan (2) peningkatan hasil belajar PKn melalui metode simulasi pada siswa Kelas II SDN 03 Bendorejo Kabupaten Trenggalek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan desain penelitiannya adalah PTK. Penelitian ini peneliti berperan sebagai observer, sedangkan guru kelas II berperan sebagai pelaksana pembelajaran dengan metode simulasi. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu hasil belajar siswa dari siklus I pertemuan I dan pertemuan II mendapat persentase siswa tuntas sebesar 60% pada siklus II pertemuan I dan pertemuan II mendapat persentase sebesar 80%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar PKn siswa kelas II SDN 03 Bendorejo Kabupaten Trenggalek dengan menggunakan metode simulasi dapat meningkat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran PKn dengan menggunakan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.kelas II SDN 03 Bendorejo Kabupaten Trenggalek. Oleh karena itu, guru disarankan untuk menggunakan metode simulasi sebagai pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran PKn

    Penerapan Permainan “Next Number” untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang”.

    No full text
    ABSTRAK   Rahayu, Siti, Vatimah Dwi. 2012. Penerapan Permainan Next Number untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak TK Kelompok A di Tk Al-Ghufron Sawojajar Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (1) Drs. Ahmad Samawi, M. Hum,  (2) Drs. I Wayan Sutama, M. Pd.   Kata Kunci: Anak Kelompok A, Kemampuan Kognitif, Permainan  Next Number Latar belakang penelitian yaitu: dalam menstimulasi kemampuan kognitif, guru dalam memberikan pembelajaran menekankan pada lembar kerja siswa dan tanya jawab. Metode yang digunakan menjadi monoton, karena menekankan pada latihan-latihan dengan mengerjakan lembar kerja siswa dalam mengenalkan lambang bilangan pada anak. Dalam penyelesaian masalah maka peneliti menggunakan kegiatan pembelajaran permainan Next Number. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimana penerapan permainan Next Number untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang (2) Apakah dengan penerapan permainan Next Number dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang yang berjumlah 14 anak. Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dihitung menggunakan rumus prosentase untuk setiap komponen penilaiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan Next Number yang dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan perkembangan anak dapat meningkatkan kemampuan kognitif dengan langkah-langkah permainan yaitu, anak mengambil bola angka, melompati jejak kaki sambil berhitung, menukarkan bola dan mengambil topi sesuai dengan nomor bola, melewati maze, menyusun kartu angka sesuai dengan gambar topi yang dipakai. Terdapat peningkatan pada siklus I kemampuan kognitif mencapai 67,55%, pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 82,73 %. Peningkatan rata-rata kemampuan kognitif mencapai 15,18%. Permainan Next Number dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Al-Ghufron Sawojajar Malang. Bertitik tolak dari kesimpulan beberapa saran yang dikemukakan: (1) bagi pendidik, penelitian ini dapat menjadi inspirasi dengan menggunakan teknik permainan untuk membantu mengembangkan konsep berhitung, (2) untuk peneliti selanjutnya dapat mengembangkan kemampuan dalam bidang lain seperti kemampuan fisik motorik dan bahasa

    0

    full texts

    421

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇