Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
421 research outputs found
Sort by
Penerapan Permainan Bisik Berantai Untuk meningkatkan kemampuan Berbahasa Padaanak Kelompok B di TK Pertiwi Kecamatan Sananwetan Kota Blitar
ABSTRAK Grihanwanti, Susi. 2013. Penerapan Permainan Bisik Berantai Untuk meningkatkan kemampuan Berbahasa Padaanak Kelompok B di TK Pertiwi KecamatanSananwetan Kota Blitar.Skripsi, Program StudiPendidikan Guru PendidikanAnakUsiaDini, JurusanKependidikanSekolahDasardanPrasekolah, FIP UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Retno Tri Wulandari, S.Pd, M.Pd (2) Drs. HadiMustofa, M.Pd. Kata Kunci :kemampuanbahasa, permainanbisikberantai Penelitianiniberlatarbelakanghasilobservasi yang penelitilakukan di kelompok B TK Pertiwi Kota Blitar. Pada waktu kegiatan pembelajaran ditemukan beberapa permasalahan terutama dalam kemampuan bahasa. Padawaktu guru menjelaskandidepan, anakbanyak yang tidakmemperhatikan, salingberbicaradenganteman-temannya, ketika guru memintaanakuntukberceritadidepan, anakberceritadenganbahasa yang tidakterstruktur, danketikadiberipertanyaan,menjawabdengankalimat yang kurangkompleks.Berdasarkanpermasalahantersebutpenelitianinibertujuanuntuk:(1) Mendiskripsikan penerapan permainan bisikberantaiuntukmeningkatkankemampuanberbahasa anak kelompok B di TK Pertiwi Kota Blitar dan, (2) Mendiskripsikan peningkatan kemampuan bahasa melalui permainanbisikberantai pada anak kelompok B TK Pertiwi Kota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2013. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danrefleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dengan 2 pertemuandansiklus 2 dengan 1 pertemuan. Subyek penelitian adalah anak kelompok B yang berjumlah 22 anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dandokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik data kualitatif yang meliputi cara reduksi data, penyajian data dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan permainan bisik berantai padaanakkelompok B dapatberjalanbaiksesuaidenganrencana. Hasilpenelitiandibuktikandenganhasilobservasiaktivitas guru yang sudahterlaksanasesuaidengan 8 langkah-langkah dalam penerapan permainan bisikberantai. (2) Hasilpenelitianobservasi kemampuan bahasa anak menunjukkan peningkatan, pada siklus I persentase anak tuntas mencapai 63,6%, padasiklus II meningkatmenjadi 95,4%.Berdasarkananalisis data tersebutdisarankanbagiparapendidik, untukmenerapkanpermainaniniuntukmembantumengatasikesulitananakpadapembelajaranbahasa, dan disarankanpenelitilainnya agar menerapkan permainan bisikberantai dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasadankemampuanlainnyaseperti: kognitif, fisikmotorik, sosialemosionaldan moral agama
MENINGKATKAN MOTORIK HALUS ANAK DENGAN BERMAIN MERONCE MANIK-MANIK BERWARNA ANAK KELOMPOK A TK ISLAM AT-TAQWA KABUPATEN TULUNGAGUNG
ABSTRAK Setyoningtyas, Lusi. 2013. Meningkatkan Motorik Halus Anak dengan Bermain Meronce Manik-Manik Berwarna pada Anak Kelompok A TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Pramono, S.Pd, M.Or (2) Dr. H. Alif Mudiono, M.Pd Kata Kunci : kemampuan motorik halus, meronce manik-manik berwarna, anak kelompok A Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelompok A TK Islam At-Taqwa Kabupaten Tulungagung, dan ditemukan masalah dalam kemampuan motorik halus yaitu anak belum bisa mengkoordinasikan antara mata dan tangan untuk memasukkan manik-manik dalam benang dan ketidaksabaran anak dalam meronce, kegiatan pembelajaran guru juga kurang menyenangkan. Dari hasil evaluasi menunjukkan hanya 2 anak (20%) dari 10 anak kemampuan meroncenya mencapai hasil yang memuaskan, dan 8 anak (80%) dari 10 anak kurang berhasil dalam meronce manik-manik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran meronce manik-manik berwarna untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak dan untuk mendeskripsikan penerapan kemampuan motorik halus anak melalui bermain meronce manik-manik berwarna di Tk Islam At-Taqwa KabupatenTulungagung. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danrefleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dengan2 pertemuan dan siklus 2 dengan 1 pertemuan. Subyek penelitian adalah anak kelompok A yang berjumlah 10 anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik data kualitatif yang meliputi cara reduksi data, penyajian data dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bermain meronce manik-manik berwarna pada anak kelompok A dapat berjalan baik sesuai dengan langkah-langkah, hal ini dibuktikan dengan hasil observasi aktivitas guru, penerapan meronce manik-manik berwarna dan peningkatan hasil penilaian aktivitas anak dengan hasil pekerjaan pada siklus I yang mencapai 90% dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan bermain meronce manik-manik berwarna dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Melihat keberhasilan peningkatan kemampuan motorik halus melalui bermain meronce manik-manik berwarna, disarankan bagi guru agar menerapkan meronce manik-manik berwarna melalui bermain dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak
Perancangan Media Interaktif Berupa Pengenalan Asmaul Husna Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum
ABSTRAK Fitrianingsih, Nur, 2013. “Perancangan Media Interaktif Berupa Pengenalan Asmaul Husna Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum”. Tugas Akhir, Program Studi Game Animasi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Sarjono, M. Sn (II) Andy Pramono, S.Kom. MT Kata Kunci : Perancangan, Media interaktif, Asmaul husna Asmaul Husna memuat nama dan sifat-sifat Allah SWT yang wajib diketahui oleh masyarakat. Asmaul Husna tidak sekedar dihafalkan, namun diterapkan, dihayati untuk diamalkan. Pada tingkat sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum kelas 1-3, Asmaul Husna kurang mendapat perhatian, karena media pembelajaran yang digunakan kurang menarik sehingga materi yang disampaikan juga mudah lupa, selama ini menggunakan buku cetak. Namun data yang didapat dari hasil wawanacara tentang Asmaul Husna pada Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum menunjukan bahwa masih minimnya dalam media pembelajaranya sehingga siswa pun menjadi bosan, dari pemaparaan permasalahan tersebut, maka solusi pemecahan masalah kebutuhan media melalui karya Perancangan Media Interaktif Berupa Pengenalan Asmaul Husna Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum agar pesan pada siswa madrasah Ibtidaiyah dapat tersampaiakan dengan baik dan benar pada target audience yaitu Siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum kelas 1-3 Perancangan media interaktif diharapkan menjadi alternatif pilihan untuk mengenal Asmaul Husna data dalam perancangan ini berupa data primier yang didapat dalam wawancara dan data sekunder yanng di dapat dalam literatur buku, media online. Kegiatan Perancangan diawali dengan merumuskan latar belakang masalah,rumusan masalah, tujuan, pengumpulan data, menetapkan konsep perancangan media dilanjutkan dengan tahap perencanaan media media dan perencanaan kreatif, kemudian menghasilkan sebuah desain akhir dengan media pembelajaran Interaktif. Produk yang dihasilkan berupa media pembelajaraan interaktif yang memuat Asmaul Husna yang disertai cara membaca, cara mewarnai, cerita tentang contoh suri tauladan Asmaul Husna melalui gambar yang sederhana menggunakan warna yang ceria. Desain ini disesuaikan dengan target audience yaitu anak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum kelas 1-3. Untuk mendukung hasil perancangan dilampirkan produk berupa buku panduan, buku mewarnai, poster, dan X-banner. Pesan yang disampaikan adalah mengenai masalah kurangnya mendapat perhatian dalam pembelajaraan Asmaul Husna dengan cara Menciptakan pola pembelajaran yang menarik dengan media yang menyenangakan yang sesuai dengan target audinc
Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Picture And Picture Bagi siswa Kelas IV SDN Turi II Kota Blitar.
ABSTRAK Rumlus, Jakobus. 2012. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Picture And Picture Bagi siswa Kelas IV SDN Turi II Kota Blitar. Skripsi. Jurusan Kepandidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi Sarjana Kependidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Suminah, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si Kata Kunci : hasil belajar, pembelajaran IPS, model picture and picture Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas pembelajaran di kelas IV SDN Turi II Kota Blitar yang masih rendah. Karena proses pembelajaran guru sangat tergantung pada penggunaan buku paket, terpusat pada guru, disamping itu keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga masih rendah. Hal tersebut ditunjukkan dari sikap siswa yang pasif, kurang bersemangat, karena siswa hanya duduk, dengar dan catat sehingga timbul kejenuhan pada siswa yang berdampak pada hasil belajar siswa. Dari 37 siswa yang mencapai ketuntasan 18 siswa (49%), yang belum tuntas 19 siswa (51%) dari jumlah 37 siswa. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan model Picture and Picture dalam peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS bagi kelas IV SDN Turi II Kota Blitar, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS bagi kelas IV SDN Turi II Kota Blitar Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Turi II Kota Blitar dengan jumlah siswa sebanyak 37 siswa. Instrument penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : 1) tes, 2) observasi, dan 3) dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Penerapan model picture and Picture dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas siswa pada pratindakan adalah 62% dan peningkatan pada siklus I menjadi 70%.dan pada siklus II terjadi peningkatan menjadi 82%, dari pra tindakan hasil belajar siswa yang tuntas 18 dan yang belum tuntas 19 dari 37 siswa,siklus I dari 37 siswa, yang tuntas 29 yang belum tuntas 8 siswa, siklus II dari 37 siswa yang tuntas 34 yang belum tuntas 3 siswa. Kesimpulan bahwa model pembelajaran picture and picture bila dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkahnya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
PENGARUH PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) PADA HASIL BELAJAR OPERASI PECAHAN DI KELAS V SDN SUMBERPUCUNG 02 KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar pokok bahasan pecahan siswa SDN Sumberpucung 02 Kabupaten Malang. Masalah pokok yang perlu dibahas dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengaruh Pendekatan PMRI Pada Hasil Belajar Konsep Pecahan Kelas V SDN Sumberpucung 02 Kabupaten Malang. Keadaan demikian mungkin terjadi karena di dalam proses pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya. Perubahan cara berpikir yang perlu sejak awal diperhatikan ialah bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi secara langsung oleh karakteristik siswa sendiri dan pengalaman belajar yang baik (Marpaung, 2004) Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pendekatan dalam pembelajaran Matematika yang sesuai dengan paradigma pendidikan sekarang. PMRI Menginginkan adanya perubahan dalam paradigma pembelajaran, yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma belajar (Marpaung, 2004). Pengalaman belajar akan terbentuk apabila siswa ikut terlibat dalam pembelajaran yang terlihat dari aktivitas belajarnya. PMRI juga menekankan untuk membawa matematika pada pengajaran bermakna dengan mengkaitkan dalam kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat realistik. Siswa disajikan masalah-masalah konstektual, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi yang menarik. Kata realistik disini dimaksudkan sebagai situasi yang dapat dibayangkan oleh siswa atau menggambarkan situasi dalam dunia nyata (Zulkarnain,2002). Aktivitas belajar yang terjadi dalam pembelajaran dengan pendekatan belajar yang relatif baru ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan peningkatan hasil belajar konsep perkalian dan pembagian pecahan siswa kelas V SDN Sumberpucung 02 Kabupaten Malang Kata kunci: PMRI dan Pecaha
Upaya Meningkatkan Pembelajaran IPA Melalui Penerapan Model Pembelajaran Guide Inquiry Di Kelas IV SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan
Kata Kunci: Pembelajaran, IPA, Guide Inquiry. Peran guru pada pembelajaran IPA di kelas IV SD Negeri Pogar III Bangil Kabupaten Pasuruan pada materi energi alternatif dan penggunaannya, sangat dominan dan masih menggunakan penerapan model konvensional. Guru tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran, penggunaan metode ceramah dan pemilihan model pembelajaran terkesan membosankan sehingga hasil belajar siswa kurang optimal. Berdasarkan pengamatan hasil belajar pada materi energi alternatif dan penggunaannya, dari 35 siswa hanya 11 siswa yang mendapatkan nilai memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan dalam pembelajaran IPA yaitu 70,00 sedangkan sisanya masih di bawah KKM. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pembelajaran dengan model pembelajaran guide inquiry dalam meningkatkan pembelajaran IPA, mendeskripsikan aktivitas belajar siswa, dan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Pogar III Bangil Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Pogar III Bangil Kabupaten Pasuruan sebanyak 2 siklus, di setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian sebanyak 35 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), metode pengolahan data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan model guide inquiry dalam pembelajaran IPA telah berhasil meningkat pada tiap siklusnya, di akhir siklus I persentase keberhasilan penerapan model adalah 62,5% dan di akhir siklus II adalah 89,06%. Sehingga dapat dikatakan telah terjadi peningkatan persentase keberhasilan penerapan model yaitu 26,56%. Dengan kata lain, penerapan model guide inquiry telah berhasil meningkatkan pembelajaran IPA di kelas IV SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Meningkatnya aktivitas belajar siswa dibuktikan dengan adanya peningkatan indikator pencapaian pada tiap siklusnya, sebagai berikut; mengajukan pertanyaan 37%, menjawab pertanyaan 15%, antusias dalam mengikuti pembelajaran 15%, menanggapi presentasi 29%, tepat waktu dalam mengerjakan tugas 34%, tertib dalam prosedur kerja 34%, mengembalikan dengan rapi semua peralatan 18%, tidak melakukan aktivitas lain di luar kegiatan pembelajaran 29%, bekerja sama dalam kinerja kelompok 21%, mau mendengarkan pendapat anggota kelompok 9%, berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok 29%, bertanggung jawab dalam menyelesaikan ketuntasan tugas-tugas 50%. Dengan kata lain, penerapan model guide inquiry telah berhasil meningkatkan aktivitas siswa SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri Pogar III Bangil kabupaten Pasuruan pada siklus 1 nilai rata-ratanya adalah 60,86 di siklus II menjadi 70,29, mengalami keningkatan sebesar 9,43. Sesuai dengan indikator keberhasilan dikatakan berhasil jika telah mencapai skor 70,00. Dengan kata lain, telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa SDN Pogar III Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan setelah penerapan model guide inquiry. Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan mengguna-kan model pembelajaran guide inquiry dapat meningkatkan pembelajaran IPA dalam materi energi alternatif dan penggunaannya. Saran yang perlu disampaikan kaitannya dengan hasil penelitian ini adalah model guide inquiry dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran IPA dalam materi energi alternatif dan penggunaannya
Peran Komite Sekolah dalam Proses Manajamen Sekolah (Study Kasus di SDN Dinoyo 2 Malang)
ABSTRAK Puspitaningtyas, Yulia Eka. 2013. Peran Komite Sekolah dalam Proses Manajemen Sekolah (Studi Kasus di SDN Dinoyo 2). Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Abdul Huda, M. Pd (II) Drs. Tomas Iriyanto, S. Pd, M. Pd. Kata Kunci: Peran, Komite Sekolah, Manajemen Sekolah Peran komite sekolah diatur dalam Kepmendiknas no 044/U/2002 yaitu dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, komite sekolah berperan sebagai pemberi pertimbangan, pendukung, pengontrol, mediator, dan evaluator. Berawal dari pentingnya peran komite sekolah, maka penelitian ini difokuskan pada komite sekolah di SDN Dinoyo 2. SDN Dinoyo 2 mempunyai banyak prestasi, salah satunya sebagai sekolah adiwiyata tingkat nasional. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan peran komite sekolah dalam proses manajemen sekolah. Manajemen sekolah meliputi manajemen sarana prasarana, kurikulum, kesiswaan, keuangan, personalia, dan manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri. Sumber datanya yaitu Kepala sekolah, guru, komite sekolah, pengurus forum kelas, dan orangtua siswa. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, penyajian, dan verifikasi data. Untuk memperoleh tingkat kepercayaan dan kebenaran terhadap hasil penelitian dilakukan uji kredibilitas data dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) peran komite sekolah dalam proses manajemen sarana prasarana, membantu pengadaan fasilitas sekolah dengan menggalang dana dari masyarakat; (2) dalam proses manajemen kurikulum, memberikan masukan terhadap proses pengelolaan pendidikan di sekolah; (3) perannya dalam proses manajemen kesiswaan, memenuhi kebutuhan siswa terkait ekstrakurikuler agar mampu meningkatkan kreativitas dan keterampilan siswa; (4) dalam manajemen keuangan, terlibat dalam penyusunan RAPBS serta melakukan kontrol dana pendidikan; (5) dalam manajemen personalia, memonitoring dan mengikuti perkembangan prestasi kerja guru, serta mengupayakan peningkatan kesejahteraan guru dan karyawan; (6) dalam manajemen humas, meningkatkan komunikasi yang harmonis dan jembatan antara orangtua serta sekolah. Saran yang diberikan kepada sekolah, supaya setiap kebijakan yang akan dibuat selalu melibatkan komite sekolah sehingga secara bersama-sama mewujudkan tujuan sekolah. Bagi komite sekolah, agar perannya lebih ditingkatkan dalam manajemen kesiswaan dan humas serta seluruh pengurus komite dapat berperan aktif dalam mengembangkan manajemen sekolah. Penelitian ini perlu dilanjutkan oleh peneliti lain tentang korelasi antara peran komite sekolah dengan prestasi siswa
PENINGKATAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI MELALUI MODEL SAVI PADA SISWA KELAS IV SDN PETUNGASRI 03 KECAMATAN PANDAAN KABUPATEN PASURUAN
ABSTRAK Menulis merupakan peyampaikan gagasan melalui bahasa tulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan pada semua sekolah dasar, salah satunya SDN Petungasri 03 Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi awal, siswa kelas IV mengalami kesulitan pada pelajaran Bahasa indonesia, khususnya keterampilan menulis. Siswa sulit dalammemulai menulis suatu karangan karena pembelajaran yang diterapkan kurang menarik dan tidak bervariasi. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan inovasimodel pembelajaran yang melibatkan gerakan fisik dan semua indera siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang dimaksud adalah SAVI. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran SAVI pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa dengan menerapkan model pembelajaran SAVI. Penelitian ini adalah menggunakan rancangan PTK. Dalam penelitian ini dilakukan secara bersiklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Analisis deskriptif dilakukan terhadap hasil belajar siswa yang berupa keterampilan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunkan instrumen penelitian yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi dan data yang diperlukan meliputi observasi, tes, angket siswa, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaranSAVI pada pelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase ketuntasan KKM keterampilan menulis siswa, baik pada siklus I maupun siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran SAVI dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsisiswa pada pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu siswa menjadi lebih aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada guru sekolah dasar yaitudiharapkan mampu menerapkan model pembelajaran SAVI pada pelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik. Sedangkanuntuk peneliti lain, diharapkan mampu melanjutkan penelitian ini tetapi dengan inovasi yang berbeda serta mampu menjawab kekurangan dalam penelitian ini
Upaya Meningkatkan Pembelajaran IPA Melalui Model discovery Di kelas IV SDN Purwantoro 4 Kota Malang
ABSTRAK Cahyani, Tuti. 2013. Upaya Meningkatkan Pembelajaran IPA Melalui Model Discovery di Kelas IV SDN Purwantoro 4 Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Heru Agus Tri Widjaja, M.Pd, (II) Drs. Sutrisno, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: pembelajaran IPA, model discovery, SD Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran IPA yang dilakukan selama ini bersifat content based, aktivitas siswa kurang/pasif, siswa jarang mengajukan pertanyaan, hasil tes individu masih belum memenuhi standar yang diharapkan. Tingkat ketidak berhasilan mencapai 58 % dari 34 siswa. 20 orang siswa masih memiliki nilai kurang dari 75, nilai tersebut berada kurang dari KKM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut digunakan model Discovery. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah tahap perencanaan (planning), tindakan (acting), mengobservasi (observing) proses, refleksi (reflecting), dan memperbaiki perencanaan awal (revise planning) kemudian berputar sampai terjadi perbaikan atau peningkatan yang diharapkan sesuai dengan kriteria ketercapaian tujuan penelitian. Dalam hal ini peneliti dan siswa sebagai instrumen utama. Data penelitian berupa penerapan pembelajaran, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Dalam mengumpulkan data melalui observasi peneliti menggunakan instrumen pengamatan guru dan aktivitas siswa, pengumpulan data hasil evaluasi dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian penerapan model Discovery dari pertemuan I hingga pertemuan IV meningkat dari 83,3%, menjadi 95,8%. Maka model Discovery dapat diterapkan dengan baik pada pembelajaran IPA. Aktivitas siswa diperoleh rata-rata pada pertemuan I adalah 6,62, meningkat menjadi 7,38 pada pertemuan IV. Maka aktivitas siswa mengalami peningkatan menjadi lebih aktif dalam pembelajaran IPA, siswa lebiha aktif dalam mengamati, bekerja kelompok dan mengemukakan pendapat dalam diskusi. Sedangkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan rata-rata kelas sebesar 68,38, menjadi 78,82 pada pertemuan ke IV. Maka hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari setiap pertemuan menjadi lebih baik dan mencapai KKM yang telah ditentukan oleh sekolah. Penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN Purwantoro 4 dengan menggunakan model Discovery mampu meningkatkan aktivitas siswa pada saat pembelajaran dan hasil belajar siswa, maka disarankan :guru hendaknya mengikuti inovasi-inovasi pembelajaran yang menunjang peningkatan pendidikan, salah satu cara dengan menggunakan model Discovery, sekolah hendaknya menyediakan sumber-sumber belajar yang relevan dan sarana prasarana sekolah yang menunjang pembelajaran aktif dikelas dan bagi peneliti lain hendaknya lebih kritis dan tanggap terhadap berbagai permasalahan dunia pendidikan
Faktor-Faktor Penyebab dan Upaya Guru Mengatasi Kesulitan Siswa dalam Pembelajaran IPS (Peta) Siswa Kelas IV SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang
ABSTRAK Darojat, Arlis Isnaini. 2013. Faktor-Faktor Penyebab dan Upaya Guru Mengatasi Kesulitan Siswa dalam Pembelajaran IPS (Peta) Siswa Kelas IV SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi Jurusan KSDP Program Studi S1-PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd, (II Dra.Hj. Murtiningsih, S.Pd, M. Pd. Kata Kunci: kesulitan belajar, pembelajaran peta, pembelajaran IPS. Pembelajaran IPS memiliki tujuan salah satunya yaitu mengenalkan siswa pada lingkungan sekitarnya. Melalui pembelajaran peta siswa dapat mengenal lingkungannya dengan baik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti pada siswa kelas IV sekolah di gugus II Kecamatan Kedungkandang terdapat masalah dalam pembelajaran peta. Permasalahan pendidikan muncul dapat disebabkan faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun dari luar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan faktor faktor penyebab kesulitan siswa dalam pembelajaran peta dan mendeskripsikan cara guru untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran peta di kelas IV SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif Populasi dan sampel penelitian adalah kelas IV di SDN Gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Subyek penelitian adalah 6 Sekolah Dasar (SD yang terdiri dari 246 siswa dan 6 orang guru kelas. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif, dengan jenis penelitian statistik deskriptif yang dihitung dengan persentase (%). Hasil penelitian ini diketahui (1) terdapat 125 siswa (50,574%) dari 246 siswa keseluruhan mengalami kesulitan dalam pembelajaran membaca dan menggambar peta. Kesulitan terbesar disebabkan karena faktor dari dalam diri siswa yaitu ketidakmampuan dalam penggunaan skala. (2) Mengenai cara guru mengatasi siswa dalam pembelajaran membaca dan menggambar peta terdapat 93,582% menyetujui alternatif mengatasi masalah siswa dalam pembelajaran peta yang diberikan penulis. Kesimpulan penelitian menunjukkan 50,574% siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran membaca dan menggambar peta dengan faktor terbesar dari dalam diri siswa berupa menggunakan skala. Alternatif pemecahan masalah disetujui oleh guru sebesar 93,582%. . Alternatif tersebut meliputi langkah-langkah pembelajaran yang mengedepankan pengalaman siswa dalam menggunakan peta di dalam kehidupannya sehari-hari dengan tahapan: 1 membaca peta dengan bantuan seluruh komponen yang ada pada peta, 2 menafsirkan peta, 3: menggambar peta. Saran yang diberikan penulis berkenaan dengan faktor-faktor kesulitan belajar membaca dan menggambar peta diharapkan guru dapat mengikuti alternatif langkah pembelajaran peta yang telah diberikan peneliti dan mengedepankan penggunaan lingkungan sekitar dalam pembelajaran