Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
421 research outputs found
Sort by
Penggunaan Media Plastisin untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Pecahan Siswa Kelas III SDN Mojolangu 1 Malang
ABSTRAK Wicaksono, H. 2014. The Use of Plasticine as a Media to Improve Story Problem Solving Ability of Smithers for third Grade Students of SDN Mojolangu 1 Malang. Thesis, Teacher Education Program Elementary School, Department of Elementary Education and Pre School, Faculty of Education, University of Malang. Mentors: (I) Dra. Sri Harmini, S.Pd., M.Pd. (II) Drs. Tumardi, S.Pd., M.Pd. Keywords: Plasticine as a Media, Story Problem Solving Ability, Fraction Story Problem. Based on the results of exploratory tests conducted by the researcher on mathematics learning of story problems in class for third grade SDN Mojolangu 1 Malang shows that, on average, students' ability in solving word problems is low at 43,7. This is because the students are not able to understand the purpose of the sentence on word problems and math learning activities on word problems that occur in the classroom could not optimize students' physical activity. During the lesson, students are highly optimized in any mental activity, and because of that, learning becomes less stable and meaningful for students. This study aims to describe the implementation of learning mathematics through the use of plasticine as a media to enhance the ability of students finishing fractions word problems. In addition, this study also aims to improve the ability to solve fraction word problems for students after using the plasticine as the media. The study design used is PTK model by Kemmis and Taggart Cycles, comprising the steps of an action plan, action, observation and reflection. This study was conducted in two cycles in simple fractions with the subject matter of research are third grade students of SDN Mojolangu 1 Malang as many as 13 students. The results showed that after implementing teacher learning about mathematics word problems through the use of plasticine as the media it can enhance students' ability in solving fraction word problems. The average ability students in solving word problems fraction increased from 77,4 in the first cycle up to 86,6 in the second cycle. Through the data analysis it can be concluded that the use of plasticine as a media, it can improve the ability to solve fraction word problems for third grade students of SDN Mojolangu 1 Malang. Suggestions by the researcher are the use of varied instructional media should always be held, in order to optimize the activity by students when learning, both physically and mentally
penerapan model Problem Based Learning untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas V di SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung
ABSTRAK Novitasari, Neti. 2014. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Kelas V Di SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Heru Agus Triwidjaja,M.Pd, (2) Drs. Dimyati, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model Problem Based Learning (PBL) PBL merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berdasarkan hasil observasi terhadap pembelajaran IPA di kelas V SDN Pojok 1 Kota Tulungagung, ditemukan fakata- fakta antara lain: (1) Guru melakukan pembelajaran IPA hanya dengan ceramah dan memberikan drill soal, (2) Keaktifan di dalam kelas saat pembelajaran IPA didominasi oleh beberapa orang siswa saja baik aktif dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan guru, (3) Siswa belum mendapatkan kesempatan untuk aktif memperoleh pengetahuan maupun memecahkan masalah, misalnya pengamatan objek secara langsung maupun diskusi kelompok, (4) Kegiatan yang dilakukan siswa hanya meliputi membaca, mendengarkan dan mengerjakan soal, (5) Keterkaitan antara materi pelajaran dengan keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari- hari belum diperhatikan. Akibatnya hasil belajar siswa rendah. Diperoleh data rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 58,70 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 37,04% , sedangkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan adalah 70. Agar dapat meningkatkan pembelajaran IPA perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran PBL. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model Problem Based Learning PBL untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas V SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung, (2) aktivitas siswa di kelas V SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung selama pembelajaran dengan model Problem Based Learning PBL, (3) hasil belajar siswa di kelas V SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung setelah diterapkan model Problem Based Learning PBL.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Jenis penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan model PBL, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, dan lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran PBL untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung menunjukkan keberhasilan guru dalam penerapan model PBL, pada siklus I yaitu 83,35 dan meningkat pada siklus II menjadi 96,5. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 73,11 dan siklus II menjadi 88,42. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 83,31 pada siklus I menjadi rata-rata 94,06. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penerapan moel PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di SDN Pojok 1 Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung
Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Keterampilan Kolase Pada Siswa Tuna Grahita Ringan Kelas 1 SLB Widya Shantika Karangploso Malang
ABSTRAK Dinar Chairunissa. 2014. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Keterampilan Kolase Pada Siswa Tuna Grahita Ringan Kelas 1 SLB Widya Shantika Karangploso Malang . Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Usep Kustiawan, M.Sni (II) Drs. Abdul Huda, M.Pd Kata kunci : Keterampilan kolase, motorik halus, tunagrahita ringan Berdasarkan hasil observasi peneliti di SLB Widya Shantika Karangploso Malang diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa tunagrahita kelas I mengalami kesulitan dalam motorik halusnya. Salah satu penyebabnya adalah keterampilan guru masih kurang. Misalnya dalam menyiapkan keterampilan yang dapat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran. Selain itu pembelajaran hanya terbatas penjelasan dari guru dan pemberian tugas. Kondisi pembelajaran seperti ini belum sepenuhnya dapat memfasilitasi peserta didik dalam mencapai kompetensi yang diharapkan, terutama untuk anak tuna grahita yang memiliki kelemahan pada motorik halusnya. Disamping itu hasil dari menulis permulaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih kurang dari standart nilai ketuntasan yang ditetapkan oleh sekolah. KKM yang ditentukan oleh sekolah adalah 60 sedangkan rata-rata di kelas hanya 54.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan keterampilan kolase yang melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran. Keterampilan ini diharapkan dapat meningkatkan motorik halus siswa tuna grahita kelas 1 SLB Widya Shantika Karangploso Malang. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penggunaan keterampilan kolase untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak tunagrahita ringan kelas 1 di SLB Widya Shantika Karangploso Malang, dan (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan motorik halus pada anak tunagrahita ringan kelas 1 di SLB Widya Shantika Karangploso Malang. Desain penelitian yang digunakan dalam adalah penelitian tindakan kelas (action classroom research). Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi, serta refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan tes. Siklus I dilaksanakan pada 10 dan 13 Mei 2014 dan siklus II dilaksanakan pada 17 dan 20 Mei 2014. Pada setiap siklus dilakukan pengamatan terhadap kemampuan menulis permulaan siswa. Penelitian pada siklus I di peroleh hasil rata-rata nilai mencapai 59. Sedangkan pada siklus II diperoleh rata-rata nilai kelas mencapai 69. Hasil evaluasi siklus II telah mencapai indikator keberhasilan yaitu ketuntasan belajar individual minimal 60. Penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa melalui keterampilan kolase kemampuan motorik halus siswa tuna grahita kelas 1 SLB Widya Shantika Karangploso Malang dapat meningkat
Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak Usia 3-4 Tahun di PAUD ANDREA Kabupaten Blitar.
ABSTRAK Putri, Fella Yully Andyas. 2014. Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak Usia 3-4 Tahun di PAUD ANDREA Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ahmad Samawi, M. Hum, (II) Dra. Lilik Bintartik, M. Pd Kata kunci: kemampuan kognitif, bermain, lotto warna dan bentuk Hasil observasi proses pembelajaran di PAUD Andrea menunjukkan bahwa guru cenderung menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, sehingga pembelajaran kurang menarik dan anak menjadi cepat bosan. Penggunaan media pembelajaran tidak melibatkan anak secara langsung, sehingga kemampuan kognitif kurang berkembang optimal. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan permainan lotto warna dan bentuk untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok usia 3-4 tahun, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif anak kelompok usia 3-4 tahun melalui permainan lotto warna dan bentuk. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, unjuk kerja dan dokumentasi. Instrumen terdiri dari lembar penilaian kemampuan kognitif, lembar observasi, dan kamera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan permainan lotto warna dan bentuk dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok usia 3-4 tahun di PAUD Andrea Kabupaten Blitar. Peningkatan kemampuan kognitif anak dapat dilihat dari persentase hasil belajar anak. Pada siklus I aktivitas guru mencapai 83% dengan kategori baik, aktivitas anak mencapai 35% dengan kategori kurang, kemampuan kognitif mencapai 35% dengan kualifikasi kurang dan kategori kurang mampu, pada siklus II aktivitas guru mencapai 95% dengan kategori sangat baik, aktivitas anak mencapai 69% dengan kategori cukup, kemampuan kognitif mencapai 75% dengan kualifikasi baik dan kategori baik. Peningkatan kemampuan anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan menyebutkan warna, menyebutkan bentuk geometri, mengelompokkan warna, dan mengelompokkan bentuk geomtri. Disarankan bahwa dalam pembelajaran kognitif hendaknya menerapkan permainan lotto warna dan bentuk, dan disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan masalah lain yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bidang pengembangan selain bidang kemampuan kognitif, yaitu moral agama, bahasa, fisik motorik, dan sosial emosional.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA MELALUI MEDIA KARTU GAMBAR DAN KATA PADA ANAK KELOMPOK A TK AN-NUR DOKO KABUPATEN BLITAR
ABSTRAK Meiristya, Dwi Restu. 2014. Peningkatan Kemampuan Berbahasa Melalui Media Kartu Gambar Dan Kata Pada Kelompok A di TK AN-NUR Desa Doko Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan PraSekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd.,M.Pd, (II) Dr. Alif Mudiono, M.Pd. Kata Kunci: anakkelompok A, kemampuan berbahasa, TK Kemampuan berbahasa dalam kegiatan membaca permulaan dengan mengenal huruf dalam kata harus dikuasai anak pada usia 4-5 tahun. Berdasarkan observasi awal pada anak kelompok A di TK AN-NUR Desa Doko Kabupaten Blitar, diketahui bahwa kemampuan berbahasa dalam kegiatan pembelajaran membaca melalui media kartu gambar dan kata ini masih belum berkembang dan diterima oleh anak. Hal ini dibuktikan bahwa dari 11 anak ditemukan 9 anak yang sedang mengalami kesulitan dalam belajar membaca dan memahami huruf dalam kata. Ditemukan beberapa masalah yang menjadi penyebabnya, yaitu penggunaan media kurang bervariasi untuk anak menjadi suasana belajar anak masih kurang menarik dan anak cepat bosan menerima kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Tujuan dari penelitian adalah (1) mendeskripsikan penerapan penggunaan Media Kartu Gambar dan Kata untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak kelompok A di TK AN-NUR Desa Doko Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan peningkatan penggunaan Media Kartu Gambar dan Kata pada anak kelompok A di TK AN-NUR Desa Doko Kabupaten Blitar. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pada setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian yaitu kelompok A TK AN-NUR Desa Doko Kabupaten Blitar sebanyak 11 anak. Intrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan dilengkapi dengan dokumentasi foto. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertemuan siklus I pertemuan I mencapai rata-rata 53.4 dan persentase ketuntasan 27.2% dengan kategori belum tercapai, pada pertemuan II mencapai rata-rata 62.5 dan persentase ketuntasan 36.3% dengan kategori belum tercapai, pada siklus I pertemuan I terdapat 3 anak yang mampu dan 8 anak belum tercapai, pada siklus I pertemuan II terdapat 4 anak yang mampu dan 7 anak belum tercapai, pada siklus II mencapai rata-rata 89.7 dan persentase ketuntasan 100% dengan kategori tercapai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan: (1) Bagi peneliti lain: disarankan hasil peneliti ini dapat memberikan kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa dalam membaca permulaan, (2) Bagi kepala TK: disarankan untuk menerapkan mutu pembelajaran membaca permulaan pada anak melalui media kartu gambar dan kata, (3) Bagi guru TK: disaranakan untuk menerapkan kegiatan pembelajaran membaca permulaan dengan media yang dapat menarik perhatian belajar anak.
Penerapan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Berbasis Eksperimen untuk Meningkatkan Kualitas dan Hasil Pembelajaran IPA Siswa Kelas V SDN Madyopuro 6 Kota Malang
ABSTRAK Utamy, Wiji. 2014. Penerapan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Berbasis Eksperimen untuk Meningkatkan Kualitas dan Hasil Pembelajaran IPA Siswa Kelas V SDN Madyopuro 6 Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Estu Winahyu, M.Pd, (II) Drs. Dimyati, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: LKS berbasis eksperimen, pembelajaran IPA Pembelajaran IPA di SDN Madyopuro 6 Kota Malang belum secara maksimal memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep melalui penemuan sendiri. Data hasil observasi tentang aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa selama pra tindakan masih tergolong rendah diduga karena LKS yang digunakan kurang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep dengan melalui kegiatan eksperimen. Dari hasil tersebut ditemukan masalah yaitu LKS yang digunakan tidak menuntun siswa untuk melakukan kegiatan eksperimen, sehingga untuk mengatasi permasalahan dilakukan perbaikan dengan penerapan LKS berbasis eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan LKS berbasis eksperimen pada pembelajaran IPA kelas V, aktivitas belajar siswa selama pembelajaran IPA dengan menerapkan LKS berbasis eksperimen, dan hasil belajar siswa di kelas V setelah penerapan LKS berbasis eksperimen pada pembelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena bertujuan untuk menggambarkan objek secara faktual dalam memecahkan masalah. Data diperoleh dengan mengumpulkan lembar pengamatan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar dengan teknik observasi dan tes. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis data. Hasil penelitian menyatakan (1) penerapan LKS berbasis eksperimen pada pembelajaran IPA kelas V memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan sendiri. Pada siklus I, rata-rata aktivitas guru 81 dan mengalami peningkatan 7,41 % pada siklus II menjadi 87. (2) penerapan LKS berbasis eksperimen mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Peningkatan rata-rata aktivitas siswa sebesar 5,41% dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I rata-rata aktivitas siswa 74, sedangkan pada siklus II menjadi 78. (3) penerapan LKS berbasis eksperimen mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada saat pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa 63, sedangkan pada siklus I 76, dan pada siklus II meningkat 2,63% menjadi 78. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu penerapan LKS berbasis eksperimen dapat meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran IPA, ditandai dengan peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa. Jika peneliti selanjutnya menginginkan LKS berbasis eksperimen, maka perlu pengembangan LKS berbasis eksperimen pada pembelajaran IPA di sekolah dasar
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS MULTIMEDIA PADA MATERI PECAHAN SEDERHANA ANAK TUNARUNGU KELAS 3 SDLB PEMBINA MALANG
ABSTRAK Rahmadhani S, Gisella. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Berbasis Multimedia Pada Materi Pecahan SederhanaTunarungu di SDLB Pembina Lawang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Moh. Efendi, M.Pd, M.Kes, (II) Henry Praherdiono, S. Si, M. Pd. Kata Kunci:Pengembangan Media Pembelajaran Matematika, PecahanSederhana, Tuna rungu Siswa regular mudah untuk mempelajari matematika, dari pada siswa yang memiliki hambatan pendengaran. Siswa yang memiliki hambatan pendengaran biasa disebut sebagai tunarungu. Siswa tunarungu mengalami kesulitan pada persepsi menerima informasi materi yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu siswa tunarungu memerlukan media yang dapat menerjemahkan materi yang Disampaikan sesuai dengan karakteristiknya. Pengembangan media ini menggunakan metode pengembangan Lee dan Owens (2004) dengantahapan (1) identifikasi kebutuhan, (2) rancangan, (3) pengembangan, dan (4) evaluasi. Subyek uji kelayakan media adalah (1) ahli media, (2) ahli materi, dan (3) ahli praktisi (guru). Subyek uji coba lapangan yang terdiri dari 4 siswa tunarungu kelas 3 di SDLB Pembina Lawang. Hasil pengembangan menunjukan media pembelajaran matematika berbasis multimedia pada materi pecahan yang valid untuk digunakan oleh siswa tunarungu di SDLB Pembina Lawang Malang. Hasil penilaian ahli media pada nilaikeefektifan, kemenarikan, danefisien media diperolehhasilrata-rata 91,7 % dengan kriteria sangat valid. Hasil penilaian ahli materi pada materi yang disajikan, bahasa, dan karakteristik sasaran diperoleh hasil 75 % dengan kriteria valid. Hasil penilaian praktisi (guru) pada aspek penggunaan, keefektifan media denganwaktudiperolehhasil 85 % dengan kriteria sangat valid. Hasil uji coba lapangan didapatkanrata-rata44,38 dengan kualifikasi cukup valid digunakan. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu produk yang dihasilkan mendapatkan hasil yang tepatdan valid digunakan oleh siswa Tunarungu SDLB Pembina Lawang Malang. Saran yang diajukan adalahpeneliti selanjutnya hendaknya mengembangkan media pembelajaran dengansubyek yang bervariasi.
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA 3-4 TAHUN MELALUI PERMAINAN PUZZLE DI PAUD PKK PERMATA TUMPAKKEPUH KABUPATEN BLITAR
ABSTRAK Riasih. 2014. Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Permainan Puzzle di PAUD PKK Permata Tumpakkepuh Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd.,M.Pd. (II) Drs. H. Hadi Mustofa, M.Pd. Kata Kunci: kemampuan kognitif, permainan puzzle Berdasarkan observasi pembelajaran di PAUD PKK Permata Tumpakkepuh Kabupaten Blitar ditemukan beberapa masalah yang menjadi penyebabnya, yaitu penggunaan media pembelajaran yang kurang bervariasi dan tidak sesuai dengan tema sehingga pembelajaran anak kurang optimal dan membosankan, pembelajaran berpusat pada guru, metode pembelajaran yang dilakukan guru masih secara klasikal, pembelajaran tampak begitu serius, dalam pembelajaran suasana bermainnya sangat kurang sehingga anak merasa bosan. Rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimanakah penerapan permainan puzzle dapat meningkatan kemampuan kognitif anak usia 3-4 tahun di PAUD PKK Permata Tumpakkepuh Kabupaten Blitar? (2) Apakah penerapan permainan puzzle dapat meningkatan kemampuan kognitif anak usia 3-4 tahun di PAUD PKK Permata Tumpakkepuh Kabupaten Blitar? Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pada setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian yaitu anak usia 3-4 tahun di PAUD PKK Permata Tumpakkepuh Kabupaten Blitar sebanyak 16 anak. Instrument penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan dilengkapi dengan dokumentasi foto Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian peningkatan kemampuan kognitif pada pratindakan mencapai persentase ketuntasan 37,5% dari 6 anak yang mampu dan 10 anak belum mampu, siklus I aktivitas guru mencapai rata-rata 100% dengan kualifikasi sangat baik, aktivitas anak mencapai 62% dengan kualifikasi cukup, kemampuan kognitif mencapai rata-rata 59% dengan kualifikasi cukup. Pada siklus II aktivitas guru mencapai rata-rata 100% dengan kualifikasi sangat baik, aktivitas anak mencapai 87,5% dengan kualifikasi baik dan kemampuan kognitif mencapai 87,5% dengan kualifikasi baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan kegiatan permainan puzzle dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak sehingga disarankan: (1) bagi peneliti selanjutnya, kegiatan permainan puzzle dapat digunakan untuk meneliti dan meningkatkan aspek perkembangan yang lain, (2) bagi guru, hasil penelitian dapat dijadikan referensi dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak, (3) bagi kepala sekolah: disarankan untuk mensosialisasikan pengembangan metode belajar salah satunya melalui permainan puzzle di PAUD yang dipimpinnya dalam peningkatan kemampuan kognitif anak usia dini dalam hal memecahkan masalah sederhana.
Penggunaan Satuan Luas dalam Peningkatan Transfer Belajar Pelajaran Matematika Tentang Luas Bangun Datar pada Siswa Kelas III SDN Karangrejo 2
ABSTRAK Nurhidayatiningtyas. 2014. Penggunaan Satuan Luas dalam Peningkatan Transfer Belajar Pelajaran Matematika Tentang Luas Bangun Datar pada Siswa Kelas III SDN Karangrejo 2. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tumardi, S.Pd., M.Pd. (II) Dra. Siti Umayaroh, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Satuan Luas, Transfer Belajar, Luas Bangun Datar Berdasarkan dokumen dan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti pada pembelajaran Matematika di kelas III SDN Karangrejo 2 menunjukkan bahwa indikator keberhasilan transfer belajar belum tampak secara mantab. Hasil belajar Matematika secara utuh pada dokumen yang tersedia di sekolah menunjukkan siswa yang mendapat nilai di atas KKM ada 50% dengan nilai rata-rata 67,75 sedangkan hasil observasi menunjukkan bahwa guru belum cukup banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkaitkan materi sebelumnya yang terkait dengan materi yang akan dipelajari. Pembelajaran dilakukan dengan menekankan menghafal. Media pun belum membantu terjadinya transfer belajar secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan satuan luas dalam peningkatan transfer belajar pelajaran Matematika tentang luas bangun datar, hasil belajar siswa dan peningkatan transfer belajar pelajaran Matematika tentang luas bangun datar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK dengan model Siklus Kemmis dan Taggart yang terdiri dari tahap rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus pada materi luas bangun datar dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas III SDN Karangrejo 2 sebanyak 24 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran guru dengan penggunaan satuan luas dapat meningkatkan transfer belajar pelajaran Matematika tentang luas bangun datar. Hasil belajar secara utuh mengalami peningkatan mulai dari 77,48 pada siklus 1 hingga mencapai 81,25 pada siklus 3. Pencapaian transfer belajar juga mengalami peningkatan mulai dari 13 siswa pada siklus 1 hingga mencapai 17 siswa pada siklus 3. Melalui analisis data dapat disimpulkan bahwa penggunaan satuan luas dapat meningkatkan transfer belajar pelajaran Matematika tentang luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Karangrejo 2. Saran peneliti yaitu pembelajaran luas bangun datar dengan menggunakan satuan luas ini untuk diterapkan agar dapat meningkatkan transfer belajar khususnya pada pelajaran Matematika
pemberian bantuan dalam penyelesaian soal cerita pada operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan siswa kelas V SDN Junrejo 1 Batu
ABSTRAK Sundari, Amalia. 2014 Giving Guidance for Learning Story Number that Include Addition and Subtraction of Fraction in Fifth Grade of Elementary School student SDN Junrejo 1 Batu. Thesis, Studies Program Elementary School Teacher of the FIP State University of Malang. Supervisor (I) Dra. Setyo Winarni Endang, M. Pd, (II) Drs. Gunawan Roebyanto, S.Pd., M.Pd. Based on preliminary observations by the author in SDN Junrejo 1 Batu City on January 27, 2014, it is known that the ability of fifth grade students are still lacking, especially when given word problems that include a category about solving the problem. Students who pass the study only 38.46%. This was due to the lack of understanding of the students' problem-solving approach. Students are also less able to understand the language problem, in other words, students do not understand the problem. Learning by problem-solving approach allows students to solve a given problem better. Therefore, in this study will be assessed on the application of problem-solving approach to help resolve issues related to word problems. This study aims to determine how the application of problem-solving approach can help menyelesaiakan problems at word problems so as to improve student learning outcomes. This research was conducted in SDN Junrejo 1 Batu City in March-April 2014, with the design of a classroom action research study that consists of two cycles. Activities performed at each cycle includes action planning, action, observation, and reflection. Research subjects Junrejo fifth grade students of SDN 1 Batu City 2013/2014 school year as many as 26 students. The instrument used to measure a student's ability evaluation tests were conducted at the end of each meeting in the form of a story about solving problems related to arithmetic operations addition and subtraction of fractions. Learning with the application of problem-solving approach consists of four steps: (1) step to understand the problem, students read about the problems of arithmetic operations of addition and subtraction of fractions, students write down what is known and what is asked, (2) step plan completion, students choose strategies right in menyelesaiakan problems, (3) steps to solve the problem in accordance with the plan, students solve problems in accordance with the strategy that has been determined at step plan for completion, (4) checking step back terhadapsemua steps that have been done, students examine the ways of truth and hasi calculation step by step, and students make inferences. The average value of the students in the first cycle is 77.21 with 61.53% mastery learning, after the second cycle becomes 84.09 by 80.76% mastery learning. Learning by problem-solving approach to deliver positive results and improve student learning outcomes that can be used as an alternative learning school with better again. Keywords: problem-solving approach, learning outcomes, story numbe