Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
421 research outputs found
Sort by
Peningkatan Keterampilan Deklamasi Puisi Melalui Metode Demonstrasi Pada Siswa Kelas 2 SD Negeri Pakisaji 2 Kabupaten Malang
ABSTRACT Yulianto, Hendra. 2016. Peningkatan Keterampilan Deklamasi Puisi Melalui Metode Demonstrasi Pada Siswa Kelas 2 SD Negeri Pakisaji 2 Kabupaten Malang. Skripsi. Program Studi S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. M. Thoha A. R, S.Pd , M.Pd, (2) Dr. H. Muhana Gipayana, M,Pd.Kata Kunci: Keterampilan deklamasi, metode demonstrasi, puisi.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi di salah satu SDN Pakisaji 02 Kabupaten Malang pada pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu materi deklamasi puisi. Ditemukan fakta bahwa siswa dalam mengemukakan bahasa lisan dalam situasi formal sering timbul rasa gugup, sehingga gagasan yang diucapkan sering menjadi tidak teratur, dari kenyataan tersebut terlihat pada saat pembelajaran materi deklamasi puisi. Hal ini disebabkan oleh (1) tidak ada media yang digunakan dalam mendemonstrasikan mimik dan pantomimik secara konkret, (2) metode yang digunakan guru kurang tepat, (3) minat siswa dalam deklamasi puisi rendah. Tujuan penelitian skripsi ini yaitu:(1) menjelaskan penerapan metode demonstrasi yang dapat meningkatkan keterampilan deklamasi puisi pada siswa kelas 2 SD Negeri 02 Pakisaji, serta (2) mendeskripsikan hasil peningkatan keterampilan berdeklamasi puisi pada siswa kelas 2 SD Negeri Pakisaji 02 melalui metode demonstrasi. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Partisipan yang terdiri dari dua siklus, subjek penelitian ini adalah siswa kelas II B SDN Pakisaji 02 sejumlah 23 siswa, dalam melengkapi data ini teknik yang digunakan antara lain: (1) observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi, (4) dan tes, sedangkan Instrumen penelitian berupa lembar wawancara dan observasi pembelajaran setiap siklus. Analisa data penelitian ini adalah analisa deskriptif terhadap proses dan hasil deklamasi puisi. Berdasarkan hasil analisa data pada penelitian, proses peningkatan keterampilan deklamasi puisi dengan menggunakan metode demonstrasi siswa kelas II B pada tahap orientasi dengan persiapan demonstrasi yaitu: (1) mempersiapkan langkah-langkah pembelajaran dalam RPP beserta media video, (2) melakukan apersepsi yang menarik, (3) mengemukakan tujuan, selanjutnya pada tahap inti dengan pelaksanaan demonstrasi yaitu: (1) mengatur tempat duduk yang baik dan nyaman, (2) menciptakan suasana tanya jawab yang aktif dan kritis, (3) menjelaskan pengertian, unsur penilaian, serta teknik dan syarat deklamasi puisi yang baik, (4) mencermati mimik dan pantomimik di media video puisi, (5) siswa membentuk kelompok kecil, (6)siswa berlatih membaca dan menghafal puisi di dalam kelompok, (7) siswa dalam kelompok memberikan penilaian sesama teman, (8) guru memberi penilaian langsung saat penampilan deklamasi sesuai kriteria penilaian, (9) pemberian motivasi, sedangkan pada tahap kulminasi dengan mengakhiri demonstrasi yaitu: (1) menyimpulkan materi, (2) melakukan refleksi pembelajaran, (3) guru menyampaikan hasil penampilan perwakilan kelompok terbaik. Sedangkan hasil peningkatan keterampilan deklamasi puisi melalui metode demonstrasi pada siklus I dan II terdapat nilai proses dan hasil, proses menemukan hasil belajar dalam siklus dengan menjumlahkan nilai skor antara proses dan hasil kemudian dibagi dengan skor maksimal teoritis selanjutnya dikalikan 100, dalam penilaian hasil terdapat 3 aspek diantaranya kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada hasil deklamasi puisi siklus I nilai rata-rata secara keseluruhan unsur deklamasi dan penilaian proses sebesar 84, sedangkan siklus II diketahui seluruh 23 siswa dalam setiap aspek telah mencapai taraf ketuntasan baik penilaian proses dan hasil, dengan nilai rata-rata keseluruhan hasil deklamasi berkisar 92 jauh dari taraf ketuntasan 75. Kesimpulan dari penelitian skripsi ini pada penerapan metode demonstrasi melalui 3 tahap yaitu tahap orientasi dengan persiapan demonstrasi, tahap inti dengan pelaksanaan demonstrasi, dan tahap kulminasi dengan mengakhiri demonstrasi. Siswa terlihat antusias dan memfokuskan perhatiannya saat penggunaan media dan penjelasan oleh guru. keuletan seorang guru dalam menjelaskan materi serta penciptaan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan adalah kunci keberhasilan metode atau materi dapat tersampaikan terhadap siswa, sedangkan pada hasil deklamasi puisi dari siklus I ke II terdapat peningkatan seperti pada siklus I jumlah nilai ketuntasan klasikal sebesar 84 dan pada siklus II terdapat jumlah nilai ketuntasan klasikal sebesar 92, sehingga kedua siklus terdapat kenaikan nilai dengan diatas taraf ketuntasan. Dalam pembelajaran deklamasi puisi melalui metode demonstrasi sebaiknya disarankan menggunakan media video yang jelas baik audio maupun visual, bahan teks puisi sesuai dengan kesesuaian bacaan siswa kelas rendah, guru sebaiknya dalam pelatihan intonasi harus butuh ketenangan dalam mendemonstrasikan agar siswa secara pelan-pelan dapat menghayati bagaimana yang seharusnya dalam berintonasi, sebaiknya guru mendatangkan seseorang yang ahli dalam bidang deklamasi puisi di SD, selanjutnya guru juga berusaha meningkatkan dalam pengelolaan situasi kelas, serta sekolah diharapkan dapat membantu meningkatkan keterampilan siswa dalam berpuisi dengan mengadakan lomba puisi pada setiap hari tertentu. Hal ini setidaknya dapat memotivasi siswa untuk terus berusaha meningkatkan kemampuannya dalam bidang deklamasi puisi
penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk menigkatkan aktivitas dan hasil belajar ips kelas II MI cemorokandang kecamatan kedungkandang kota malang semester II tahun pelajaran 2015/2016
Samuji. 2016. Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Kelas II MI Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Dosen pembimbing 1). Drs. Toha Mashudi., S.Pd., M.Pd 2). Drs. Syaiful Imam., S.Pd., M.PdKata Kunci: Metode Pembelajaran Inkuiri, aktivitas, hasil belajar Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada hari Selasa, 19 Januari 2016, pukul 07.00-08.30, selama 2 jam pada pembelajaran di MI Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang khususnya dalam pembelajaran IPS di kelas II diketahui bahwa dalam proses pembelajaran IPS banyak siswa yang tidak memperhatikan pada saat guru memberikan penjelasan, pada pembelajaran inti siswa hanya mengerjakan buku LKS, tidak banyak siswa yang mau bertanya selama proses pembelajaran. Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan aktivitas belajar IPS Kelas II MI Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang?, 2) Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPS Kelas II MI Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang? Desain penelitian dalam penelitian ini adalah PTK dengan berkolaborasi dengan guru yang dilakukan 2 siklus. Dalam PTK ada 4 tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Data primer dengan menggunakan tes ulangan dan observasi dengan di checklist, dan data sekunder dengan wawancara. Peneliti menggunakan keharusan nilai sasaran atau KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) menentukan kriteria sukses untuk menganalisis data. Berdasarkan hasil penelitian di bab IV dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS mencapai 30% dari 65% menjadi 85% Kelas II MI Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, 2) Penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPS mencapai 24% dari 70% menjadi 94% Kelas II MI Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang
analisis kesesuaian buku guru dengan buku siswa kelas VI SD tema menuju masyarakat sehat kurikulum 2013
ABSTRAK Khotimah, Khusnul. 2016. Analisis Kesesuaian Buku Guru dengan Buku Siswa Kelas VI SD Tema Menuju Masyarakat Sehat Kurikulum 2013. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd., (II) Dra.Harti Kartini, M.Pd. Kata Kunci:Analisis, Buku Guru,Buku Siswa, Kelas VI SD, Kurikulum 2013 Buku guru merupakan panduan bagi guru untuk membelajarkan siswa, sedangkan buku siswa merupakan panduan siswa dalam melakukan aktivitas atau kegiatan pembelajaran. Idealnya buku guru dan buku siswa harus sesuai, tetapi kenyataannya tidak demikian. Berdasarkan pengamatan awal pada buku guru dan buku siswa kelas VI SD/MI tema Menuju Masyarakat Sehat, ditemukan contoh kekurangsesuaian antara kegiatan pembelajaran dalam buku siswa dengan kompetensi dasar (KD) yang terdapat di dalam buku guru. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis secara mendalam tentang kesesuaian antara buku guru dengan buku siswa tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kesesuaian antara: (1) KD dalam buku guru dengan Kurikulum 2013; (2) indikator dengan KD; (3) rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator; (4) kegiatan pembelajaran dengan rumusan tujuan pembelajaran; dan (5) kegiatan pembelajaran dengan penerapan pendekatan saintifik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis isi. Data penelitian diperoleh dari analisis buku guru dan buku siswa kelas VI SD tema Menuju Masyarakat Sehat Kurikulum 2013. Data dikumpulkan dengan studi dokumenter. Kegiatan analisis data dimulai dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, digunakan teknik triangulasi waktu dan sumber. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh temuan penelitian yaitu (1) sebagian kecil KD dalam buku guru kurang sesuai dengan Kurikulum 2013 (8 dari 40 KD kurang sesuai); (2) terdapat 40 dari 102 indikator yang kurang sesuai dengan KD; (3) sebagian besar rumusan tujuan pembelajaran kurang sesuai dengan indikator (92 dari 103 tujuan pembelajaran kurang sesuai); (4) setengah dari kegiatan pembelajaran dalam buku siswa kurang sesuai dengan rumusan tujun pembelajaran (47 dari 108 kegiatan pembelajaran kurang sesuai); dan (5) tidak semua pembelajaran yang terdapat pada buku siswa mencakup lima kegiatan saintifik. Dengandemikiandapatdisimpulanbahwamasihterdapatkekurangsesuaianantarabuku guru denganbukusiswaberkaitandenganaspek KD, indikator, rumusantujuanpembelajan, dankegiatanpembelajaran.Berdasarkankesimpulantersebut, disarankanbagipenyusunbukudapatmelakukanperbaikanbukudanbagi guru terlebihdahulumelakukananalisisbuku guru maupunbukusiswasebelummenggunakanpadawaktupembelajaran
Peningkatan Keterampilan Motorik Halus melalui Kegiatan Menganyam Kertas pada Anak Kelompok A1 TK Negeri Pembina Kota Blitar
ABSTRACT Primawati, Avi. 2016. Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menganyam Kertas pada Anak Kelompok A1 di TK Negeri Pembina Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Suminah, S.Pd.,M.Pd, (II) Drs. Sunyoto, S.Pd.,M.Si.Kata Kunci: keterampilan motorik halus melalui kegiatan menganyam kertaspada anak kelompok AHasil observasi awal pada keterampilan motorik halus anak kelompok A1 yang berjumlah 20 anak terdiri dari 9 anak laki-laki dan 11 anak perempuan di TK Negeri Pembina Kota Blitar khususnya pada kegiatan menganyam kertas masih kurang mendapat perhatian guru jadi hasil observasi pada kegiatan menganyam ada 14 anak atau 70% anak masih belum bisa menganyam, guru lebih sering menggunakan kegiatan menulis, mewarnai dan menggambar untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan penerapan kegiatan menganyam kertas dan meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak kelompok A1 di TK Negeri Pembina Kota Blitar.Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) sebanyak 2 siklus. Pada setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian meliputi langkah reduksi data, penyajian data dan pemberian kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan menganyam kertas dilaksanakan dengan baik oleh guru dan anak. Terlihat pada proses pembelajaran untuk aktivitas guru siklus I mencapai 69,2% dengan kriteria baik, sedangkan siklus II mencapai 88,45% dengan kriteria sangat baik, pada nilai aktivitas anak pada siklus I mencapai 58,54% dengan kriteria cukup selanjutnya untuk aktivitas siklus II mencapai 84,62%. Keterampilan motorik halus melalui kegiatan menganyam kertas pada pra tindakan mencapai 43,75% dengan kriteria cukup, siklus I mencapai 54,53125% dengan kriteria cukup, sedangkan pada siklus II mencapai 80,47% dengan kategori sangat baik. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penerapan kegiatan menganyam kertas yang dilakukan guru dan anak dengan sangat baik dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak kelompok A1 dengan baik. Disarankan pada guru kelompok A1 untuk menggunakan kegiatan menganyam kertas sebagai salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan motorik halus.
Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Se-Gugus I Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo
ABSTRACT Pradita, Rusita Ayu. 2016. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Se-Gugus I Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Harmini, S.Pd. M.Pd., (2) Drs. Goenawan Roebyanto, M.Pd.Kata Kunci : jenis kelamin, hasil belajar, Sekolah Dasar (SD)Pendidikan merupakan aspek penting dalam sebuah kehidupan bagi individu dan juga bagi negara. Suatu negara dapat berkembang melalui pendidikan yang ada di negara tersebut. Alasan tersebut yang menjadikan pendidikan wajib dilaksanakan dan diperoleh bagi seluruh warga negara, tidak memandang jenis kelamin, ras, suku, ataupun bahasa. Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan peneliti di MI Kemuning, Kabupaten Ponorogo, diperoleh informasi bahwa siswa perempuan meraih peringkat (ranking) yang lebih tinggi dari pada siswa laki-laki. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, perlu diadakan penelitian lebih lanjut hubungan antara jenis kelamin dengan hasil belajar siswa tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara jenis kelamin dengan hasil belajar siswa SD Negeri Se-Gugus I Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif. Data dalam penelitian ini berupa bilangan (data kuantitatif). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi nilai hasil UKK siswa kelas IV SDN Se-Gugus I Kecamatan Sambit. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data berupa check list. Data yang diperoleh dianggap sudah memenuhi dari segi validitas dan reliabilitas. Kegiatan analisis data dimulai dari deskripsi data, uji korelasi, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan dari hasil analisis data tersebut diperoleh tiga kesimpulan dari hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, persebaran jenis kelamin siswa kelas IV SD Negeri Se-Gugus I kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo yaitu terdiri dari 58 (57,43%) siswa laki-laki, dan 43 (43,57%) siswa perempuan. Kedua, hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Se-Gugus I Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo secara umum memiliki nilai terendah 56, nilai tertinggi 93,1, mean 81,371, dan median 81,800. Ketiga, ada hubungan antara jenis kelamin dengan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Se-Gugus I Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo, dan siswa laki-laki cenderung memiliki nilai hasil belajar yang lebih bagus daripada perempuan dengan koefisien korelasi siswa laki-laki sebesar 0,218, dan koefisien korelasi siswa perempuan sebesar −0,237
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TEMA 7 UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SDN PANDEAN 3 KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN NGAWI
ABSTRAK Ratnasari, Erma Deffi. 2016.Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Tema 7 untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.Sy, S.Pd, M.Pd (2) Dra. Murtiningsih, M.Pd Kata Kunci: Penerapan Model PBL, Aktivitas, Hasil Belajar, Tematik, SD Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di Kelas V SDN Pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi ditemukan bahwa (1) guru lebih dominan menggunakan metode ceramah pada saat pembelajaran dan siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru (2) pada saat pembelajaran berlangsung terdapat siswa yang main sendiri dengan teman sebangku dan ramai sehingga mengganggu teman lainnya (3) dalam pelaksanaannya banyak siswa banyak siswa menggunakan hafalan untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya (4) ketika guru memberi pertanyaan banyak siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut dan siswa lebih banyak diam jika ditanya oleh guru. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan perbaikan dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning. Model problem based learning merupakan model pembelajaran yang didalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah melalui tahap-tahap tertentu. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning pada tema 7 kelas V SDN Pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi? (2) Bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa melalui model pembelajaran problem based learning pada tema 7 Kelas V SDN Pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupatan Ngawi? (3) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem based learning tema 7 Kelas V SDN pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi?. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas, serta menggunakan siklus Kemmis & Mc. Tagart. Pada penelitian ini dilaksanakan dua siklus, satu siklus terdiri dari dua pertemuan. Adapun tahap-tahap yang dilakukan pada penelitian ini ada 4 tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data diawali dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesmpulan. Serta penghitungan data menggunakan kuantitatif.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning di Kelas V SDN Pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi telah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru pada siklus I pertemuan 1 80% meningkat pada pertemuan 2 menjadi 85 %. Kemudian pada siklus II pertemuan 1 sebesar 85% meningkat pada pertemuan 2 sebesar 90%. Pada aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan, peningkatan tersebut terlihat pada siklus 1 pertemuan 1 69% meningkat pada pertemuan 2 menjadi 78,25%. Kemudian pada siklus II pertemuan 1 sebesar 82,75% meningkat pada pertemuan 2 menjadi 86,25%. Pada hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 ketuntasan belajar klasikal sebesar 70% meningkat pada pertemuan 2 menjadi 80%. Dan pada siklus II pertemuan 1 sebesar 90% meningkat pada pertemuan 2 sebesar 95%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada tema 7 kelas V SDN Pandean 3 Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi. Dengan demikian disarankan hendaknya guru menerapkan model pembelajaran problem based learning agar aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat
Peningkatan Hasil Belajar IPS Perjuangan Para Tokoh Melawan Belanda JepangKelas V SDN Sumberdiren 2 Kabupaten Blitar
ABSTRACT Fauzi, Arif. 2016. Peningkatan Hasil Belajar IPS Perjuangan Para Tokoh Melawan Belanda JepangKelas V SDN Sumberdiren 2 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Suminah, S.Pd, M.Pd, (2) Dra. Widayati, M.H.Kata kunci: peningkatan, ips, model picture and picture.Hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pembelajaran IPS dengan materi sumber daya alam di kelas V SDN Sumberdiren 2 Kabupaten Blitar diketahui bahwa: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) guru selalu menggunakan model ceramah, (3) siswa kurang aktif dalam pembelajaran, dan (4) suasana pembelajaran kurang menyenangkan. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa rendah, yaitu dari 10 siswa hanya 3 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM, yaitu 75 sedangkan sebanyak 7 siswa dinyatakan belum tuntas.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model picture and picture pada pembelajaran IPS dengan materi perjuangan para tokoh melawan penjajahan Belanda dan Jepang, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS materi perjuangan para tokoh melawan penjajahan Belanda dan Jepang dengan menggunakan model picture and picture.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, satu siklus terdiri dari dua pertemuan yang masing-masing terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan, dan tes. Analisis data diawali dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian, persentase kemampuan guru dalam menggunakan model Picture and picture pada siklus I adalah 84% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 95%, dengan kualifikasi sangat baik. Rata-rata hasil belajar siswa pada tahap pratindakan adalah 55 dengan ketuntasan klasikal mencapai 30%. Pada siklus I, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 70 dengan ketuntasan klasikal 50%. Sedangkan pada siklus II, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 82 dengan ketuntasan klasikal mencapai 90% dengan kualifikasi baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapal model picture and picture dilaksanakan guru dengan sangat baik, dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan hasil belajar IPS siswa kelas V dari kurang sekali, menjadi baik. Disarankan kepada guru untuk menerapkan dan mengembangkan model picture and picture pada pembelajaran IPS materi yang lain, dan bagi sekolah hendaknya memberikan fasilitas yang lengkap dan pelatihan bagi guru
Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Teknik Bercerita pada Siswa Kelas III SDN Buring Kota Malang.
ABSTRACT Noli. 2016. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Teknik Bercerita pada Siswa Kelas III SDN Buring Kota Malang. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Syafruddin AR, S.Pd, M.Pd, (II) Dra.Harti Kartini, M.PdKata kunci: keterampilan, berbicara bercerita, Sekolah DasarHasil tes awal penelitian muatan materi Bahasa Indonesia dengan materi meceritakan pengalaman yang dilakukan di kelas III SDN Buring Kota Malang menunjukkan bahwa kemampuan bercerita mereka masih rendah. Siswa kesulitan dalam bercerita secara runtut dan benar. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya peningkatan keterampilan berbicara melalui penggunaan media gambar seri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan media gambar seri untuk meningkatan keterampilan berbicara kelas III SDN Buring Kota Malang Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas selama dua siklus, dengan empat tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta refleksi di setiap siklusnya. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas III SDN Buring Kota Malang, yang berjumlah 41 orang, terdiri atas 22 siswa laki laki dan 19 siswa perempuan. Data penelitian dikumpulkan dengan instrumen berupa panduan observasi, kamera, dan soal-soal tes, Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan kemampuan berbicara dari siklus satu ke siklus dua. Peningkatan keterampilan berbicara siswa menggunakan teknik bercerita sebelum tindakan diperoleh nilai rata-rata sebesar 50,12. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I rata-rata nilai siswa mengalami peningkatan yaitu menjadi 75,59. Namun, masih ada 18 siswa yang belum mencapai KKM. Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka dilakukan lagi tindakan pada siklus II. Hasil belajar siswa pada siklus II diperoleh nila rata-rata 88,80. Tetapi masih ada 4 siswa yang nilainya belum mencapai KKM. Jika dilihat dari capaian ketuntasan berdasarkan KKM dapat diungkapkan bahwa hasil penilaian keterampilan berbicara siswa dengan menerapkan teknik bercerita dari siklus I sebesar 56,10% bertambah menjadi 90,24% pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik bercerita dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas III SDN Buring Kota Malang. Dengan mengacu pada temuan dapat disarankan hendaknya guru melatih keterampilan berbicara siswa sejak dini dengan menggunakan berbagai teknik secara bervariasi.
Implementasi Penanaman Nilai Karakter Melalui Pembelajaran Sirah Nabawi diKelas Rendah SDIT Mutiara Ummat Desa Ngadisuko Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek
ABSTRAK Putri, Ike Sulistyowati. 2016. Implementasi Penanaman Nilai Karakter Melalui Pembelajaran Sirah Nabawi diKelas Rendah SDIT Mutiara Ummat Desa Ngadisuko Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Dr.H.Sa’dun Akbar, M.Pd, (II) Drs.Imam Nawawi,M.Si. Kata Kunci: Nilai Karakter, PembelajaranSirah Nabawi Penanamannilaikarakteryang menarik, dan mengupayakan keseimbangan aspek pikir dan dzikir pada siswa dilakukan oleh sekolah dasar islam terpadu (SDIT) melalui pembelajaran Sirah Nabawi.Untukmengetahuipelaksanaannya, penelitimelakukanpenelitiantentangImplementasi Penanaman Nilai Karakter Melalui Pembelajaran Sirah Nabawidi Kelas Rendah SDIT Mutiara Ummat Desa Ngadisuko Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Analisis data hasilpenelitiandilakukandenganreduksi data, penyajian data, danpenarikankesimpulan (verivikasi).Kegiatan yang ditelitiolehpenelitiadalahkegiatanpembelajaranSirahNabawi yang dilakukan di kelasrendahselama dua jam pelajaran (2 x 35 menit) satu kali dalam satu pekan.Peneliti juga mengamatievaluasipembelajaranSirahNabawi.Kemudianmengamatikarakter yang tampakpadasiswa, sertakendaladalamimplementasipembelajaranSirahNabawidanupayauntukmengatasikendaladalamimplementasipenanamannilaikaraktermelaluipembelajaranSirah Nabawi. HasilpenelitianmenunjukkanbahwasecaraumumimplmentasipenanamannilaikaraktermelaluipembelajaranSirahNabawi yang dilaksanakan di SDIT MutiaraUmmattelahterinternalisasidalamdirisiswadantampakpadaperilakubaiksiswaketikamelaksanakankegiatan-kegiatan di kelasdan di luarkelas. Kendala yang dialami dalam implementasi penanaman nilai karakter melalui Sirah Nabawiyang utamaadalahbelum ada sumber belajar yang disediakan oleh JaringanSekolah Islam Terpadu (JSIT).Upaya Mengatasi Kendala Dalam Membelajarkan Nilai Karakter Melalui Sirah Nabawi diantaranya sekolah berusaha menyusun buku ajar dan mencari penerbit yang menerbitkan buku ajar untuk pembelajaran Sirah Nabawi. Saran yang diberikanpenelitiuntuksekolahlain, hendaknyamemperkenalkanpembelajaranSirahNabawiinikepadasiswamuslimdalamrangkamenanamkannilaikarakterdenganmengenalkansuritauladanterbaik yang dapatditeladaniolehsiswa.
Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Kelas V di SDN Pandesari 05 Kabupaten Malang
ABSTRAK Wahyuningtyas, Sucy Aprillia. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Kelas V di SDN Pandesari 05 Kabupaten Malang. Skripsi Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sukamti, M.Pd., (2) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd. Kata Kunci : Model Mind Mapping, Pembelajaran IPA Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa ketika pembelajaran IPA ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan guru. Pembelajaran yang didominasi guru menyebabkan aktivitas belajar siswa menjadi rendah. Pada hasil belajar siswa juga menyebutkan dari 27 siswa kelas V, diperoleh data seorang siswa yang sudah memenuhi batas KKM (75), sedangkan untuk 26 siswa lainnya masih belum tuntas. Oleh karena itu diperlukan tindakan untuk mengatasinya yaitu dengan model Mind Mapping. Model ini digunakan peneliti karena sesuai dengan karakteristik siswa, bermakna, mampu melibatkan siswa aktif, kreatif, serta membantu siswa mengingat konsep-konsep dengan lebih mudah. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) Mendeskripsikan penerapan model Mind Mapping pada Pembelajaran IPA kelas V di SDN Pandesari 05 Kabupaten Malang; (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa pada Pembelajaran IPA saat penerapan model Mind Mapping kelas V di SDN Pandesari 05 Kabupaten Malang; (3) Mendeksripsikan hasil belajar siswa pada Pembelajaran IPA setelah penerapan model Mind Mapping kelas V di SDN Pandesari 05 Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan rancangan penelitian ini mengacu kepada model penelitian Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di SDN Pandesari 05 Kabupaten Malang pada semester 2 tahun ajaran 2015-2016 dengan subyek berjumlah 27 siswa, yang terdiri dari 18 siswa laki-laki, dan 9 siswa perempuan. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa penggunaan model Mind Mapping dapat terlaksana dengan baik. Keberhasilan guru dalam menerapkan model pembelajaran Mind Mapping pada siklus 1 mencapai 69,53% dan meningkat menjadi 86,72% pada siklus 2. Aktivitas belajar siswa pada siklus 1 mencapai rata-rata sebesar 64,31 menjadi 84,67 pada siklus 2, peningkatan yang terjadi sebesar 20,36. Rata-rata hasil belajar siswa juga meningkat menjadi 70,25 pada siklus 1 dan meningkat lagi pada siklus 2 menjadi 80,55. Secara keseluruhan, model Mind Mapping telah berhasil dilaksanakan, karena pada pembelajaran IPA sudah dapat meningkat