Bungamputi
Not a member yet
215 research outputs found
Sort by
Meningkatkan Kemampuan Sosial Anak Melalui Metode Kerja Kelompok di Kelompok B TK Yaspia Wani
Masalah dalam tulisan ini adalah kemampuan sosial anak belum berkembang sesuai harapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan sosial anak melalui metode kerja kelompok, subjek dan settingnya anak kelompok B TK Yaspia Wani berjumlah 17 anak. Terdaftar pada tahun ajaran 2015/2016. Rancanganya menggunakan desain PTK model Kemmis dan Mc. Taggart, yang dilaksanakan secara bersiklus. Data yang dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi, selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Data pra tindakan, berbagai dengan teman BSB 5,88%, BSH 11,76%, MB 29,41%,dan BB 52,94
Pengaruh Metode Bercerita Terhadap Kemampuan Anak Berbahasa di Kelompok B TK Al-Khairaat Boya Baliase Kecamatan Marawola
Masalah pokok dalam artikel ini adalah kemampuan anak berbahasa belum berkembang sesuai harapan. Upaya mengatasi masalah tersebut, telah dilakukan penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode bercerita terhadap kemampuan anak berbahasa di kelompok B tk AL-Khairaat Boya Baliase Kecamatan Marawola yang berkumlah 20 anak. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif untuk menggambarkan keadaan sesungguhnya dan kemudian disimpulkan. Adapun teknik observasi dan teknik dokumentasi. Selanjutnya, pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan persentase. Peningkatan dilihat dari minggu pertama 6,66% dalam kategori BSB, 13,33 kategori BSH, 35% kategori MB, dan 45% kategori BB. Selanjutnya pada pengamatan minggu ke empat terdapat kategori BSB 35%, kategori BSH 26%, kategori MB 26%, dan ketegori BB 12%.Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode bercerita memiliki pengaruh terhadap kemampuan anak berbahasa di kelompok B TK AL-Khairaat Boya Baliase Kecamatan Marawola
Pengaruh Alat Permainan Edukatif Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak di Kelompok B3 TK Aisyiyah V Palu
Masalah pokok dalam tulisan ini adalah perkembangan motorik halus anak yang belum berkembang sesuai harapan. Sehubungan dengan masalah tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh alat permainan edukatif terhadap perkembangan motorik halus anak. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, adapun subjek seluruh anak di kelompok B3 TK Aisyiyah V Palu yang berjumlah 15 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, data dianalisis dengan teknik presentase. Data sebelum penelitian, kelenturan jari jemari 7% kategori (BSB), 20% kategori (BSH), 33% kategori (MB), dan 40% kategori (BB). Kecepatan jari jemari, 7% (BSB), 20% (BSH), 20% kategori (MB), 53% kategori (BB). Ketepatan jari jemari, 7% kategori (BSB), 13% kategori (BSH), 20% kategori (MB), dan 60% kategori (BB). Sesudah menggunakan APE ada peningkatkan motorik halus, kelenturan jari jemari 33% kategori (BSB), 53% kategori (BSH), 7% kategori (MB) dan 7% kategori (BB). Kecepatan jari jemari 33% kategori (BSB), 47% kategori (BSH), 13% kategori (MB) dan 7% kategori (BB). Ketepatan jari jemari 33% kategori (BSB), 53% kategori (BSH), 7% kategori (MB) dan 7% kategori (BB). Disimpulkan bahwa ada pengaruh alat permainan edukatif terhadap perkembangan motorik halus anak, terbukti ada peningkatan rata-rata 40% kategori (BSB), 71% kategori (BSH), 31% kategori (MB), 58% kategori (BB)
Meningkatkan Keterampilan Motorik Kasar Anak Melalui Kegiatan Gerak dan Lagu di Kelompok A TK Aba Lambara Taweli
Masalah dalam tulisan ini adalah keterampilan motorik kasar anak belum berkembang sesuai harapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar anak. Subjek penelitian ini melibatkan 13 anak, terdiri dari 7 anak perempuan dan 6 anak laki-laki yang terdaftar pada tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart, dilakukan secara bersiklus. Data yang dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan pemberian tugas, selanjutnya diolah secara deskriptif. Data pra tindakan, keterampilan motorik kasar saat berjalan maju mundur kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) 7,69%, Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 15,38%, Mulai Berkembang (MB) 15,38%, dan Belum Berkembang (BB) 61,53%. Keterampilan motorik kasar saat melompat kategori BSB 7,69%, BSH 23,07%, MB 15,38%, dan BB 53,84%. Keterampilan motorik kasar saat merayap kategori BSB 7,69%, BSH 15,38%, MB 23,07%, dan BB 53,84%. Setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan kegiatan gerak dan lagu dapat meningkatkan keterampilan motorik kasar anak, terbukti ada peningkatan tindakan siklus I dan tindakan siklus II. Keterampilan motorik kasar saat berjalan maju mundur kategori BSB, BSH, MB dari 61,52% menjadi 84,6%. Keterampilan motorik kasar saat melompat kategori BSB, BSH, dan MB dari 69,21% menjadi 84,6%. Keterampilan motorik kasar saat merayap kategori BSB, BSH, dan MB dari 69,21% menjadi 92,3%. Secara umum, peningkatan rata-rata dari Siklus I ke Siklus II, yaitu 20,52% kategori BSB, BSH, dan MB. Walaupun masih ada yang belum meningkat kemampuannya 12,81% atau kategori BB.Kata Kunci : Kegiatan Gerak dan Lagu, Keterampilan Motorik Kasa
Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Menganyam di Kelompok B TK Aba II Pantoloan
Masalah dalam tulisan ini adalah sebagian anak kurang mampu atau kurang terampil dalam kegiatan yang menggunakan motorik halus. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Subyek penelitian ini melibatkan 15 anak, terdiri dari 9 anak perempuan dan 6 anak laki-laki yang terdaftar pada tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart. Data yang dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan pemberian tugas, selanjutnya diolah secara deskriptif. Data yang diperoleh pada pra tindakan, kemampuan motorik halus dalam kecepatan kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) 6,66%, Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 13,33%, Mulai Berkembang (MB) 20%, dan Belum Berkembang (BB) 60%. Kemampuan motorik halus dalam kelenturan kategori BSB 13,33%, BSH 13,33%, MB 20%, dan BB 53,33%. Kemampuan motorik halus dalam ketepatan kategori BSB 13,33%, BSH 13,33%, MB 26,66%, dan BB 46,66%. Setelah dilakukan kegiatan menganyam dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak, terbukti ada peningkatan tindakan siklus I ke tindakan siklus II. Kemampuan motorik halus dalam kecepatan kategori BSB, BSH, MB dari 66,65% menjadi 93,32%. Kemampuan motorik halus dalam kelenturan kategori BSB, BSH, dan MB dari 59,99% menjadi 86,66%. Kemampuan motorik halus dalam ketepatan kategori BSB, BSH, dan MB dari 73,33% menjadi 86,66%. Secara umum, peningkatan rata-rata dari tindakan siklus I ke tindakan siklus II, yaitu 22,22% kategori BSB, BSH, dan MB. Walaupun masih ada yang belum meningkat kemampuannya 11,10% atau kategori BB.Kata Kunci : Kegiatan Menganyam, Kemampuan Motorik Halu
Meningkatkan Kemampuan Dasar Kognitif Anak Melalui Metode Pemberian Tugas di Kelompok B TK Teratai Sunju
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah kemampuan dasar kognitif pada anak dapat ditingkatkan melalui metode pemberian tugas di TK Teratai Sunju? Penelitian dilaksanakan di TK Teratai Sunju, melibatkan 20 orang anak terdiri atas 10 orang anak laki-laki dan 10 orang anak perempuan yang terdaftar pada tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri atas dua siklus. Di mana pada setiap siklus dilaksanakan tiga kali pertemuan di kelas dan setiap siklus terdiri empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data yang dikumpulkan melalui teknik obsevasi, pemberian tugas, dan dokumentasi kemudian dianalisis secara deskriptif dari data kualitatif dan kuantitatif. Data yang dikumpulkan sebelum tindakan pada kemampuan membilang bilangan dengan kategoti BSB 5%, BSH 10%, MB 35%, dan BB 50%, kemudian anak yang mampu menyebutkan macam-macam buah dengan kategori BSB 5%, BSH 10%, MB 40%, BB 45%, dan anak yang mampu mengelompokkan buah sesuai dengan warnanya dengan kategori BSB 10%, BSH 10%, MB 30%, BB 50%. Setelah dilakukan tindakan maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui alat permainan edukatif dapat meningkatkan kemampuan kognitif pada anak, terbukti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II dalam membilang bilangan kategori BSB dan BSH dari 50% menjadi 80% (30%), mampu menyebutkan macam-macam buah kategori BSB dan BSH dari 45% menjadi 85% (40%), melipat mengelompokkan buah sesuai dengan warnanya kategori BSB dan BSH dari 50% menjadi 80% (30%). Secara umum terjadi peningkatan rata-rata 33,33% dari siklus satu ke siklus dua, walaupun masih ada anak yang belum meningkat kemampuan dasar kognitifnya tetapi hanya berkisar 6,66% dari masing-masing aspek yang diamati dengan kategori BB.Kata Kunci : Peningkatan Kognitif Anak, Alat Permainan Edukati
Meningkatkan Penerapan Nilai Agama dan Moral Melalui Metode Demonstrasi di Kelompok B TK Karya Thayyibah Nupabomba
Masalah dalam kajian ini adalah belum berkembangnya penerapan nilai agama dan moral. Upaya mengatasi masalah tersebut, telah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan penerapan nilai agama dan moral melalui metode demonstrasi. Setting dan subjeknya yaitu anak kelompok B TK TK Karya Thayyibah Nupabomba yang berjumlah 20 anak. Teknik pengumpulan data yaitu observasi dan pemberian tugas. serta dianalisis menggunakan persentase. Data pra tindakan perilaku membuang sampah 5% kategori BSB, 5% BSH, 10% MB, dan 80% BB. Perilaku berdoa 5% BSB, 10% BSH, 10% MB, dan 75% BB. Perilaku mencuci tangan 10% BSB, 10% BSH, 10% MB, dan 70% BB. Setelah dilakukan tindakan, maka terdapat peningkatan penerapan nilai agama dan moral dari siklus I ke siklus II. Perilaku membuang sampah kategori BSB, BSH dan MB dari 40% menjadi 90% (50%). Perilaku berdoa kategori BSB, BSH dan MB dari 50% menjadi 90% (40%). Perilaku mencuci tangan kategori BSB, BSH dan MB dari 45% menjadi 90% (45%). Rata-rata peningkatannya 45%, namun masih ada 20% kategori BB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan penerapan nilai agama dan moral anak kelompok B TK Karya Thayyibah Nupabomba.Kata Kunci: Nilai Agama dan Moral; Metode Demonstras
Peranan Media Gambar terhadap Motivasi Belajar Anak di Kelompok B TK Melati Buranga Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigi Moutong
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaiman cara guru menggunakan media gambar, bagaimana motivasi belajar anak, dan apakah ada peranan media gambar terhadap motivasi belajar anak di Kelompok B TK Melati Buranga Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigi Moutong. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara guru menggunakan media gambar, motivasi belajar anak, dan peranan media gambar terhadap motivasi belajar anak di Kelompok B TK Melati Buranga Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigi Moutong. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan kualitatif untuk menggambarkan keadaan sesungguhnya, kemudian disimpulkan. Adapun subjek penelitian adalah seluruh anak kelompok B TK Melati Buranga yang berjumlah 20 anak, terdiri dari 12 anak laki-laki dan 8 anak perempuan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pengolahan data dilakukan dengan teknik persentase. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa ada peranan media gambar terhadap motivasi belajar anak di Kelompok B TK Melati Buranga, terbukti dari 20 anak yang menjadi subyek penelitian pada aspek antusias mengikuti materi pembelajaran, aktif dalam mengerjakan tugas, dan mengumpulkan tugas tepat waktu, terdapat 12 anak (60%) kategori Tinggi, 6 anak (30%) kategori Sedang, dan 2 anak (10%) kategori Rendah.Kata Kunci: Media Gambar, Motivasi Belajar
Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif Mewujudkan Anak yang Sehat, Cerdas, Ceria dan Berakhlak Mulia
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pembinaan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU No 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional ).Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan Fundamental bagi kehidupan selanjutnya, anak usia dini pada rentang usia 0 – 6 tahun, pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Berk, 16992 : 18 ) proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan kepada anak harus memperhatikan karakteristik yang di miliki setiap perkembangan anak. Pendidikan anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman dalam dirinya.Pendidikan anak usia dini tidak dapat dilaksanakan secaratersendiri artinya hanya satu aspek yang diajarkan tetapimemerlukan perpaduan dari beberapa aspek agar anak dapattumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, cerdas, ceriadan berakhlak mulia, untuk itu diperlukan penyelenggaraanpendidikan anak usia dini yang terintegrasi.Namun kenyataannya banyak anak-anak disekitarlingkungan kita belum semua mendapat layanan pendidikan,pengasuhan , perlindungan , kesehatan ,gizi dll . Hal itudisebabkan oleh berbagain faktor yang saling berkaitan.Dampaknya pertumbuhan dan perkembangan mereka terhambat, ketika usia sekolah berpotensi mengulang kelas atau putus sekolah.Kemungkinan mereka menjadi generasi yang kurang produktif atau menjadi pekerja kasar dengan penghasilan rendah bahkan terbelit kemiskinan sepanjang hidupnya. Oleh karena itu rantai kemiskinan ini harus kita putus,agar anak –anak bangsa ini menjadi generasi yang sehat, cerdas, tangguh berkarakter. Berbagai cara dapat dilakukan baik oleh pememrintah,masyarakat dan keluarga.. Solosi yang tidak dapat di tawar tawar lagi adalah pelaksanaan progam pendidikan anak usia dini harus dilakukan ke seluruh pelosok nusantra.lebih khusus lagi program PAUD berbasis holistik integratif , dan berkesinambungan sebagai wujud mengupayakan generasi yang berkarakter, unggul, mandiri ,cerdas ,sehat mampu menyongsong masa depannya
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Minat Belajar Anak di Kelompok B TK Kartini Lalundu Kecamatan Rio Pakava
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah Bagaimana bentuk pola asuh yang diterapkan orang tua? Bagaimana minat belajar anak? Apakah ada hubungan anatara pola asuh orang tua dengan minat belajar anak? Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif untuk menggambarkan keadaan sesungguhnya, kemudian ditarik kesimpulan. Adapun subjek penelitian ini adalah seluruh anak di kelompok B TK Kartini Lalundu Kecamatan Rio Pakava yang berjumlah 15 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan Melalui observasi, angket dan dokumentasi. Pengelolaan data dilakukan dengan teknik persentase, yaitu dalam aspek Perhatian, Aspek Ketertarikan dan Apek Rasa Suka. Berdasarkan hasil penelitian dari analisis deskriptif, Dalam Aspek Perhatian Terdapat 4 anak (27%) dalam kategori Sangat Tinggi, ada 10 anak (66%) dalam kategori Tinggi, ada 1 Anak (7%) dalam kategori Sedang . Aspek Ketertarikan terdapat 8 anak (54%)dalam Kategori Sangat Tinggi, ada 7 anak (46%) dalam kategori Tinggi, Aspek Rasa Suka terdapat 6 anak (40%) dalam kategori Sangat Tinggi, ada 9 anak (60%) dalam kategori Tinggi dan tidak terdapat anak dalam kategori Sedang maupun Rendah Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Minat Belajar anak dapat Meningkat Melalui Pola Asuh Orang Tua. Oleh karena itu, ada Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Minat Belajar Anak.Kata Kunci : Pola Asuh Orang Tua, Minat Belaja