Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan
Not a member yet
247 research outputs found
Sort by
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK DAN FRAKSI HASIL FERMENTASI FUNGI ENDOFIT GENUS Cephalosporium sp. DIISOLASI DARI DAUN MENIRAN (Phyllantus niruri Linn.)
Latar Belakang: Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup berkoloni dalam jaringan tumbuhan yang dapat memproduksi senyawa bioaktif yang sama bahkan identik dengan senyawa yang dihasilkan tumbuhan inangnya. Tujuan: Mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak etil asetat, fraksi n-heksana, fraksi dietil eter, dan fraksi etanol hasil fermentasi fungi endofit genus Cephalosporium sp yang diisolasi dari tumbuhan meniran dilakukan terhadap sel kanker jenis T47D dan sel normal jenis Vero secara in vitro. Metode: Fungi endofit diisolasi dari daun meniran dan dilakukan analisis morfologi, fungi genus Cephalosporium sp dikembangbiakkan dengan media potatoes dextrose broth. Pemisahan ekstrak dan miselium dilakukan dengan cara disaring. Ekstraksi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dan pemisahan fraksi menggunakan metode kromatografi kolom menggunakan pelarut dengan kepolaran bertingkat. Hasil: Fraksi etanol mempunyai aktivitas sitotoksik tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 15,47±0,71 μg/mL dan memiliki nilai selectivity index antara sel kanker jenis T47D dan sel normal Vero memenuhi syarat >3 dengan nilai sebesar 23,31. Simpulan dan saran: Fraksi etanol mempunyai aktivitas sitotoksik yang poten dan memiliki nilai selectivity index antara sel kanker payudara jenis T47D dan sel normal Vero memenuhi syarat >3. Isolasi dan identifikasi senyawa aktif di dalam fraksi etanol diperlukan untuk mengetahui senyawa yang mempunyai aktivitas sitotoksik secara spesifik
KORELASI JUMLAH SEL MONOSIT DENGAN KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA PASIEN HIPERKOLESTEROLEMIA DI RUMAH SAKIT X KOTA KEDIRI
Latar Belakang: Hiperkolesterolemia dapat meningkatkan sekresi sitokin proinflamasi dan stress oksidatif yang dapat mengaktivasi sel monosit sebagai respon proinflamasi. Sitokin proinflamasi dan stress oksidatif, diduga merupakan penyebab primer sindrom metabolik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan membuktikan adanya korelasi jumlah monosit dengan kadar kolesterol total pada pasien hiperkolesterolemia. Metode: Desain penelitian adalah studi cross-sectional dengan teknik sampling secara Purposive. Pasien hiperkolesterolemia dirawat di RSUD Kediri dengan kadar kolesteril >200 mg/dk dan rentang leukosit 4-10 x 103 sel/ml Hasil: Berdasarkan hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara jumlah monosit dengan kadar kolesterol total dengan nilai p = 0.038(<0.05), berkorelasi positif dengan tingkat korelasi sedang yang ditunjukkan oleh nilai r = 0.380, dengan jumlah monosit 0.48 103 sel /μl. Simpulan dan saran: Ada korelasi antara kadar kolesterol total dengan jumlah sel monosit pada pasien hiperkolesterolemia, peningkatan kadar kolesterol total akan meningkatan jumlah monosit. Penelitian selanjutnya perlu memperhatikan C-Reactive Protein sebagai penanda adanya infeksi dalam inklus
PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KLB DIFTERI DI KECAMATAN GENENG DAN KARANG JATI KABUPATEN NGAWI TAHUN 2015
Latar belakang: Difteri merupakan suatu penyakit menular dan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa wilayah. Kasus difteri di Jawa Timur merupakan kasus difteri terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2015 terjadi tiga kasus difteri klinis di Kabupaten Ngawi. Tujuan: Memastikan adanya KLB dan mencari faktor risiko KLB Difteri tersebut. Metode: Penyelidikan Epidemiologi partisipatif yang dilakukan bersama antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, TIM FETP Unair, dan Puskesmas Setempat.. Hasil: Klasifikasi Difteri kasus Pasien I dan Pasien II adalah Difteri Faring sedangkan kasus Pasien III adalah Difteri Tonsil. Capaian Imunisasi Desa Z sudah baik karena telah UCI dan IDL telah mencapai 95.1%, berbeda dengan Desa X dan Y. Pada tahun 2014, kedua desa tersebut belum UCI dan IDL belum mencapai 90%. Cold cain di kedua Puskesmas telah baik dan sesuai SOP. Permasalahan yang ditemukan di lapangan antara lain Pengambilan swab pada kontak erat masih kurang, Profilaksis tidak berjalan dengan baik dan tidak ada PMO. Simpulan dan saran: Telah terjadi KLB Difteri Di Kecamatan Geneng dan Kecamatan Karang Jati. Faktor risiko utama adalah belum tercapainya UCI dan IDL. Kurangnya pengambilan swab dan hasil pemeriksaan laboratorium yang negatif perlu manjadi bahan evaluasi untuk kegiatan PE selanjutnya
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STATUS GIZI KURANG PADA BALITA UMUR 1 – 5 TAHUN
Latar belakang: Gizi kurang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan terjadinya mortalitas dan morbiditas pada balita. Salah satu hal yang diduga berkaitan dengan kejadian gizi kurang pada balita adalah pemberian ASI Eksklusif. Tujuan: Menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian status gizi kurang pada balita umur 1-5 tahun. Metode: Jenis Penelitian adalah survey analitik dengan jenis penelitian cross sectional study. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling total, yaitu sebanyak 33 orang. Variabel independen yaitu pemberian ASI eksklusif, sedangkan variabel dependen yaitu status gizi yang dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden (60.6%) tidak memberikan ASI Ekslusif. Sebanyak 51.5% balita yang mengalami gizi kurang berusia 2-3 tahun, Hasil uji statistik menggunakan chi square dengan nilai signifikansi p=0,000 lebih kecil dari p yang ditetapkan yaitu <0,05 maka hipotesis diterima. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita umur 1 – 5 tahun. Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan gizi kurang pada balita dengan variabel lain sebagai pengontrol
PENGEMBANGAN DAN UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SAWO MANILA (Manilkara zapota) SEBAGAI LOTIO TERHADAP Staphyllococcus aures
Latar belakang: Tanaman sawo manila (Manilkara zapota L) dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif sebagai obat tradisional untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit misalnya jerawat yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak dan lotio ekstrak daun sawo manila memiliki aktivitas antibakteri pada Staphylococcus aureus. Metode: Dalam penelitian ini ekstrak daun sawo manila diformulasikan menjadi lotio pada konsnetrasi 90mg, 120 mg, 150 mg dan dibagi dalam 5 perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol negatif, lotio ekstrak daun sawo manila 90mg, lotio ekstrak daun sawo manila 120 mg, lotio ekstrak daun sawo manila 150mg. Hasil: Hasil dari penelitian bahwa lotio ekstrak daun sawo manila memiliki aktifitas antibakteri pada Staphylococcus aureus dan terdapat perbedaan aktitifat pada setiap konsnetrasi. Konsentrasi lotio ekstrak daun sawo manila 90 mg telah memberikan aktifitas antibakteri, sedangkan konsentrasi 150 mg memberikan aktifitas yang besar. Adapun pada perlakuan antibitotik pembanding yaitu Tetrasiklin 56 mg memberikan hasil yang lebih besar dibanding konsentrasi 150 mg. Simpulan dan saran: terdapat perbedaan aktitifas pada setiap konsnetrasi lotion ekstrak daun sawo manila
PENGARUH PROSES PENGOLAHAN BIJI MELINJO (Gnetum gnemon L.) TERHADAP KADAR TOTAL LIKOPEN DAN KAROTEN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI-Vis
Latar belakang: Biji melinjo mempunyai kandungan yang sangat diperlukan oleh tubuh salah satunya yaitu likopen dan karoten. Kulit melinjo mengandung total karoten sebesar total karoten 241,220 ppm dan aktivitas antioksidan sebesar 28.43 mg. Tujuan: Menganalisis pengaruh proses pengolahan biji melinjo terhadap kadar total likopen dan karoten. Metode: Sampel penelitian berupa melinjo segar, melinjo rebus, dan melinjo goreng. Tiap sampel diekstraksi dengan menggunakan pelarut N-Heksana:Aseton:Etanol dengan perbandingan 2:1:1 kemudian diuji dengan menggunakan spektroftometri. Kadar likopen dan karoten melinjo dianalisis uji Nonparametrik pada taraf uji 5%. Hasil: Terdapat perbedaan yang nyata kadar likopen dan karoten biji melinjo rebus, melinjo segar dan melinjo goreng (p<0,05). Kadar likopen biji melinjo rebus, melinjo segar dan melinjo goreng berturut-turut adalah 0.0194±0.0003 mg/g; 0.0194 ±0.0002 mg/g dan 0.00094±0 mg/g. Kadar karoten melinjo biji melinjo rebus, melinjo segar dan melinjo goreng masing-masing adalah 290.89±0.60 mg/g; 183.94 ±0.56 mg/g dan 167.04± 0.73 mg/g. Simpulan dan saran: Terdapat pengaruh proses pengolahan terhadap kadar total likopen dan karoten biji melinjo (Gnetum gnemon L.). Perlu dilakukan uji lanjut terhadap karoten
IDENTIFIKASI JENIS PESTISIDA DAN PENGGUNAAN APD PADA PETANI PENYEMPROT DI KECAMATAN NGANTRU KABUPATEN TULUNGAGUNG
Latar belakang: Penggunaan pestisida kimia tidak dapat lepas dari bidang pertanian. Salah satu upaya untuk mengurangi risiko keracunan pestisida pada petani adalah dengan menggunakan APD. Tujuan: Mengidentifikasi jenis pestisida dan APD yang digunakan oleh petani di Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh petani di Kecamatan Ngantru. Besar sampel sebanyak 28 orang diambil dengan teknik accidental sampling. Variabel penelitian adalah jenis pestisida dan jenis APD yang digunakan petani. Hasil: Insektisida yang paling banyak digunakan yaitu berbahan aktif Klorantraniliprol (67,8%). Fungisida yang paling banyak digunakan yaitu berbahan aktif Propineb (82,1%). Semua petani selalu menggunakan APD berupa masker, topi, baju lengan panjang, dan celana panjang. Simpulan dan saran: Petani di Kecamatan Ngantru menggunakan insektisida dan fungisida dalam sekali penyemprotan. Petani sudah menggunakan APD dengan baik untuk melindungi diri dari paparan pestisida. Perlu dilakukan penelitian untuk menggambarkan risiko keracunan pestisida pada petani serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
INDEKS PREDIKSI RISIKO KEMATIAN JEMAAH HAJI DI PROVINSI JAWA TIMUR
Latar belakang: Ibadah haji merupakan ibadah bagi umat Islam yang selalu diminati, tetapi selalu ada peningkatan jumlah kematian jemaah haji. Jemaah haji Provinsi Jawa Timur yang meninggal di Arab Saudi tahun 2014 sebanyak 50 orang dan meningkat menjadi 122 orang pada tahun 2015. Tujuan: Mengembangkan indeks prediksi risiko kematian jemaah haji di Provinsi Jawa Timur. Metode: Pendekatan case-control menggunakan data sekunder dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jemaah haji yang terdaftar di wilayah Provinsi Jawa Timur Tahun 2015. Sampel penelitian sebanyak 102 jemaah haji, dibagi menjadi 2 kelompok, 54 jemaah haji sebagai kasus dan 54 jemaah haji sebagai kontrol. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil: Merokok, kurang aktivitas fisik, penyakit sirkulasi, penyakit respiratori, penyakit endokrin dan metabolik merupakan indikator yang masuk ke dalam model indeks prediksi kematian jemaah haji. Model indeks prediksi kematian jemaah haji adalah -2,615 + (0,495*merokok) + (0,703*kurang aktivitas fisik) + (3,221*penyakit sirkulasi) + (2,889*penyakit respiratori) + (1,451*penyakit endokrin & metabolik). Simpulan dan saran: Merokok, kurang aktivitas fisik, penyakit sirkulasi, penyakit respiratori, penyakit endokrin dan metabolik dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi kematian jemaah haji. Perlu dilakukan suatu upaya untuk menekan angka kematian jemaah haji dengan memperhatikan indikator perilaku dan penyakit yang dimiliki oleh jemaah haji
HUBUNGAN ANTARA PRAKTIK PEMBERIAN MAKAN, PERAWATAN KESEHATAN, DAN KEBERSIHAN ANAK DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 1-2 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OEBOBO KOTA KUPANG
Latar Belakang: Stunting menggambarkan kejadian kurang gizi pada balita yang berlangsung dalam waktu yang lama dan dampaknya tidak hanya secara fisik, tetapi justru pada fungsi kognitif. Tujuan: menganalisis hubungan antara praktik pemberian makan, perawatan kesehatan dan kebersihan anak dengan kejadian stunting pada anak usia 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Oebobo Kota Kupang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan observasional dengan menggunakan pendekatan desain kasus-kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Oebobo Kota Kupang. Hasil: Hasil analisis bivariat, olahraga tidak ideal p = 0,014(OR: 4,64; 95% CI: 1,29-17,36), tidak olahraga = 0,000 (OR: 18,06; 95% CI: 4,44-80,25). Kebiasaan merokok p = 0,000, (OR: 6,633; 95% CI: 2,420-17,884).. Faktor obesitas tidak terbukti sebagai faktor risiko dengan nilai p = 0,440. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara praktik pemberian makan (OR=2,037; 95% CI: 1,318-3,149) dan praktik kebersihan terhadap kejadian stunting (OR=1,447; 95% CI: 1,007-2,079), sedangkan praktik perawatan kesehatan tidak memiliki hubungan karena tingkat signifikan (p) > α (0,05). Penelitian selanjutnya sebaiknya melibatkan karakteristik sosial budaya ekonomi responden
RISIKO HIPERTENSI, DIABETES, DAN KONSUMSI MINUMAN HERBAL PADA KEJADIAN GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUP DR WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR TAHUN 2015
Latar belakang: Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan dunia dengan peningkatan insidensi, prevalensi, serta tingkat morbiditas dan mortalitas. Tujuan: Menganalisis besar risiko hipertensi, diabetes, dan konsumsi obat herbal pada kejadian gagal ginjal kronik. Metode: Pendekatan adalah case control study melalui wawancara langsung dengan responden. Popolasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien gagal ginjal yang berobat di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Tahun 2014. Jumlah sampel kelompok kasus sebanyak 70 diambil dengan teknik purposive sampling, dan kelompok kontrol sebanyak 70 sampel. Variabel independen yaitu hipertensi, diabetes, dan konsumsi minuman herbal sedangkan variabel dependen yaitu gagal ginjal kronik yang dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil: Bahwa faktor risiko kejadian gagal ginjal kronik adalah hipertensi (OR=21,45), diabetes (OR=12,37), dan konsumsi obat herbal (OR=11,76). Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara hipertensi, diabetes, dan konsumsi minuman herbal. Perlu dilakukan penyuluhan terkait risiko konsumsi minuman herbal dan perubahan pola hidup untuk penderita hipertensi dan diabetes