Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan
Not a member yet
247 research outputs found
Sort by
TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK X KABUPATEN BEKASI
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kefarmasian dan tempat apoteker melakukan praktik kefarmasian. Standar Pelayanan Kefarmasian merupakan tolak ukur yang digunakan sebagai pedoman tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien. Pelayanan Kefarmasian di apotek meliputi penyediaan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinik yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian yang berkualitas dapat memuaskan masyarakat sebagai pasien, loyalitas pasien, serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui evaluasi pelayanan kefarmasian di Apotek X Kabupaten Bekasi meliputi aspek penampilan apotek, keramahan petugas, pelayanan informasi obat, ketersediaan obat dan kecepatan pelayanan. Jenis penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Cara pengambilan sampel dengan metode accidental sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan pada bulan Juli –September 2023 dengan total sampel 150 responden Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan lima penilaian dan total 20 pernyataan. Hasil uji validitas dan reliabilitas menyatakan kuesioner yang digunakan valid dan reliable. Hasil penelitian didapatkan, tingkat kepuasan pasien terhadap indikator pelayanan kefarmasian menunjukkan bahwa penampilan apotek memperoleh skor 87,63% (sangat puas), keramahan petugas 91,2% (sangat puas), pelayanan informasi obat 89,44% (sangat puas), ketersediaan obat 88,16% (sangat puas), dan kecepatan pelayanan mencapai 91,3% (sangat puas). Secara keseluruhan pasien merasa sangat puas terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek X Kabupaten Bekasi
UJI AKTIVITAS GEL MOISTURIZER ANTI-AGING TOMAT (Solanum lycopersicum L.)DAN BUNGA MAWAR MERAH (Rosa x damascena Herrm.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Penuaan dini terjadi akibat radiasi sinar matahari ditandai dengan kulit kering, tidak elastis, kulit tipis, kematian sel kulit, dan keriput yang disebabkan karena pecahnya kolagen dan sintesa kolagen yang rusak. Salah satu sediaan semisolid yang digunakan untuk kosmetik yaitu gel. Gel merupakan sediaan yang mampu menciptakan kondisi lembab sehingga pada saat dioleskan akan timbul rasa dingin yang dapat melembabkan kulit sehingga kulit tidak kering. Tomat dan bunga mawar merah dapat menangkal radikal bebas karena tomat mengandung senyawa antioksidan tinggi yang berpotensi sebagai anti-aging pada kulit. Metode penyarian buah tomat dan bunga mawar merah dengan cara ekstraksi maserasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan aktivitas antioksidan buah tomat (Solanum lycopersicum L.) dan bunga mawar merah (Rosa x damascena Herrm.) dengan menggunakan metode DPPH. Sediaan dibuat dengan tiga formulasi dan disetiap formulasi menggunakan konsentrasi zat aktif 7% dengan perbedaan konsentrasi perbandinggan geeling agent, F1 menggunakan karbopol 0,5% dan HPMC 0,5%, F2 menggunakan HMPC 1%, dan F2 menggunakan 1%. Hasil evaluasi uji karakteristik sediaan didapatkan hasil bahwa perbedaan konsentrasi gelling agent antara karbopol dan HPMC dapat mempengaruhi karakteristik sediaan gel dan hasil evaluasi uji antioksidan dianalisa menggunkan software SPSS sengan tingkat kepercayaan 0,05. Berdasarkan pengujian aktivitas antioksidan F1, F2, dan F3 memiliki aktivitas mampu menangkal radikal bebas. Berdasarkan hasil yang diperoleh F1 memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC₅₀ 43,353 ± 0,07 ppm
EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN KADER MUHAMMADIYAH/ AISYIYAH
Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan umum yang berperan penting dalam kualitas hidup. Rendahnya pengetahuan masyarakat, termasuk kader kesehatan, masih menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka masalah kesehatan gigi di Indonesia. Edukasi kesehatan berbasis komunitas menjadi strategi efektif dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan gigi dan mulut terhadap peningkatan pengetahuan kader Muhammadiyah/Aisyiyah di Bantar, Kulon Progo. Metode: Penelitian menggunakan desain one group pretest–posttest dengan pendekatan pre-eksperimental. Sampel terdiri atas 30 kader Muhammadiyah/Aisyiyah yang mengikuti kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut. Instrumen penelitian berupa kuesioner berisi lima pertanyaan pilihan ganda yang diberikan sebelum dan sesudah edukasi. Data dianalisis menggunakan Paired t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Terdapat peningkatan skor rata-rata pengetahuan peserta dari 78.79 ± 18.31 pada pretest menjadi 92.12 ± 14.31 pada posttest. Paired t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest (t = 4.74, p < 0,001), menunjukkan bahwa edukasi berpengaruh positif terhadap peningkatan pengetahuan kader. Simpulan: Edukasi kesehatan gigi dan mulut terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader Muhammadiyah/Aisyiyah di Bantar, Kulon Progo. Kegiatan edukasi serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung peningkatan perilaku kesehatan masyarakat
GAMBARAN HASIL PEWARNAAN DIFF QUICK PADA SEDIAAN EFUSI PLEURA DI RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR
Efusi pleura merupakan kondisi patologis berupa akumulasi cairan di rongga pleura yang dapat disebabkan oleh berbagai etiologi, termasuk infeksi, keganasan, dan penyakit sistemik. Di negara-negara maju, prevalensi efusi pleura tercatat sekitar 320 kasus per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan di Amerika Serikat mencapai 1,5 juta kasus setiap tahunnya. Di Indonesia, data nasional mengenai prevalensi efusi pleura belum dipublikasikan secara resmi. Di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, terdapat 109 pasien efusi pleura sepanjang tahun 2024. Diagnosis sitologi cairan efusi pleura sangat bergantung pada teknik pewarnaan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pewarnaan Diff Quick dan Papanicolau pada sediaan efusi pleura di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Desain penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diperoleh dari pasien efusi pleura yang menjalani pemeriksaan sitologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pada bulan Maret 2025. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dengan SPSS versi 25. Hasil analisis menunjukkan kualitas pewarnaan diff Quick baik dalam memberikan warna pada sediaan efusi pleura
URINE PROTEIN PICTURE IN PREGNANT WOMEN WITH HIPERTENS STATUS IN TASIKMALAYA CITY HOSPITAL
Preeclampsia is a pregnancy complication that usually occurs after the 20th week of pregnancy. Preeclampsia is caused by an inflammatory reaction. It is characterized by high blood pressure (hypertension) and high protein in the urine (proteinuria). The purpose of this study was to determine the picture of urine protein in pregnant women with preeclampsia at Tasikmalaya City Hospital. The benefits of this study are to increase insight and knowledge about the picture of urine protein in pregnant women with preeclampsia. This study uses a research method or descriptive method using a purposive sampling blood sampling technique. The results of the study were analyzed using frequency distribution and average. The results of the study from 20 pregnant women (100%) showed that 10 people (50%) had urine protein levels (1+), 7 people (35%) had urine protein levels (2+), 3 people (15%) had urine protein levels (3+), in the third trimester of pregnancy there were 9 pregnant women, in the second trimester there were 3 pregnant women, and in the third trimester there were 4 pregnant women. The conclusion of this study is that the picture of urine protein results can be a predictive factor for preeclampsia
HUBUNGAN HEMOGLOBIN DENGAN KREATININ PADA PASIEN GANGGUAN FUNGSI GINJAL DI LABORATORIUM KLINIK PRODIA KEDIRI
Gangguan fungsi ginjal diindikasikan dengan peningkatan kadar kreatinin serum dalam darah, yang diikuti dengan penurunan kadar hemoglobin. Ada dua bentuk gangguan fungsi ginjal yaitu: gagal ginjal akut dan kronik. Keduanya dapat diketahui melalui gejala-gejalanya maupun pemeriksaan laborartorium dengan melihat kadar kreatininnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara kadar hemoglobin dengan kadar kreatinin pada pasien gangguan fungsi ginjal di Laboratorium Klinik Prodia Kediri. Metode yang digunakan adalah metode prospektif untuk penentuan tempat, sampel dan waktu penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Klinik Prodia Kediri pada bulan Mei 2023 dengan jumlah sampel 48 pasien. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan sampel darah, rekam medik, dan kuesioner. Analisis data menggunakan korelasi Sperman’s Rank. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat hubungan bermakna antara kadar hemoglobin dengan kadar kreatinin pada pasien gangguan fungsi ginjal di Laboratorium Klinik Prodia Kediri, dengan nilai korelasi P =0,000, kemudian nilai kekuatan korelasinya -0,527 yang berarti berkorelasi sedang dan arah hubungannya diketahui negatif yang berarti berlawanan arah. Hal ini berarti semakin besar kadar kreatinin maka semakin kecil kadar hemoglobinnya. Pada karakteristik pasien didapati prosentase pasien laki-laki (52%) lebih tinggi dibanding perempuan (48%). Dilihat dari umur didapati sebagian besar (31%) sudah usia lanjut (66-75 tahun), dengan peyebab terbanyak diabetes militus dan hipertensi sekaligus (44%). Dilihat dari gejalanya, sebagian besar pasien cepat lelah (48,5%) dan kombinasi antara cepat lelah, sering kencing, nyeri pinggang, dan kesemutan (29,2%). Dilihat dari riwayat keluarga, seluruh pasien (100%) memiliki riwayat keluarga dengan diabetes militus dan hipertensi
IDENTIFIKASI KANDUNGAN KOMPONEN AKTIF DALAM ECO ENZYME YANG DIHASILKAN DARI BAHAN BAKU ORGANIK DENGAN PERBANDINGAN SUBSTRAT GULA AREN DAN MOLASE
Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2022, timbulan sampah sebesar 36,218,012.28 ton/tahun dan 40.4% merupakan sampah sisa makanan. Salah satu usaha untuk mengurangi timbulan sampah organik adalah dengan mengelola sampah organik khusus nya limbah buah dan sayur dengan metode eco enzyme. Tujuan: penelitian ini menganalisis karakteristik eco enzyme dengan perbandingan substrat gula aren dan molase. Metode: penelitian menggunakan analisis kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan triangluasi. Pengujian organoleptic untuk mengukur variable aroma dan warna. Juga mengukur pH juga suhu. Hasil: variabel eco-ezyme substrat gula merah memiliki warna cairan coklat keruh, hijau dan hijau kehitaman, sedangkan subtrat molase memiliki warna cairan coklat tua. variabel eco-ezyme substrat molase memberikan aroma asam segar dominan nanas, asam segar aroma kunyit, aroma segar dominan seledri sedangkan substrat gula aren memberikan aroma asam segar dominan nanas, aroma asam segar dominan kunyit, dan memiliki aroma tidak segar, seperti aroma dari sayur yang membusuk. eco enzyme subtrat gula merah menunjukkan pH akhir 6 sedangkan subtrat molase menunjukkan pH akhir 5. Pengukuran suhu eco enzyme subtrat gula merah dan molase menunjukkan suhu 24 ºC hingga 28 ºC. Simpulan. Ada Perbedaan varian eco enzyme dengan perbandingan subtrat gula merah dan molase
IDENTIFIKASI BAKTERI GRAM POSITIF DAN GRAM NEGATIF PADA PASIEN TUBERCULOSIS DENGAN METODE KULTUR DARAH DI RS JOMBANG
Tuberkulosis adalah penyakit kronis yang dapat mentransmisikan bakteri yang berasal dari bakteri tuberkulosis. Tuberkulosis dapat ditularkan dari percikan air ludah yang  mengandung bakteri, karena pasien tuberkulosis merupakan  sumber dari permeabilitas tuberkulosis. Kondisi paru-paru yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat menyebabkan risiko infeksi seperti melemahnya kekebalan tubuh, komplikasi penyakit, beberapa infeksi, sepsis, dan infeksi pernapasan serta dapat menginfeksi juga dalam darah. Kekebalan yang melemah disebabkan oleh tanda-tanda infeksi pada organ manusia dan terjadi pada aliran darah manusia sehingga dapat menyebabkan kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan adanya infeksi bakteri Gram-positif dan Gram-negatif pada pasien TBC yang dapat menyebabkan infeksi tambahan seperti infeksi nosokomial dan bakteriemia pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan yang berpotensi fatal. Studi ini menggunakan desain deskriptif dan teknik sampel yang digunakan menggunakan purposive dengan total 36 sampel.Studi ini menggunakan sampel darah dari pasien dengan tuberkulosis menggunakan metode kultur darah. Hasil penelitian ini didapatkan 25% Gram positif sebanyak 9 sampel dengan spesies Staphylococcus aureus. 55,6% Gram negatif sebanyak 20 sampel dengan spesies Salmonella paratyphi A  dan 19,4% sebanyak 7 sampel dengan  spesies Pseudomonas sp dari pasien tuberkulosis
TATA LAKSANA PELEPASAN INFORMASI PASIEN BPJS KESEHATAN DI PUSKESMAS PERAWATAN X KOTA KEDIRI
Latar Belakang : Pelepasan informasi medis diberikan kepada pihak yang membutuhkan informasi medis. Pada studi awal, prosedur pelepasan informasi kepada pihak asuransi belum dibuat sehingga tidak ada acuan yang dapat berdampak pada kebocoran data hingga tuntutan. Tujuan :Tujuan penelitian adalah mengetahui pelaksanaan pelepasan informasi medis di Puskesmas Perawatan X Kota Kediri. Metode : Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan retrospective. Populasi penelitian ini adalah 3 petugas rekam medis dengan sampel 2 petugas rekam medis sebagai informan, diambil dengan purposive sampling. Instrumen penelitian yaitu lembar wawancara dan checklist. Hasil : Sudah tersedia kebijakan pelepasan informasi yaitu Surat Keputusan Tentang Akses Terhadap Rekam Medis. SOP pelepasan informasi yaitu SOP tentang Pelepasan Informasi Medis, namun SOP pelepasan informasi kepada pihak asuransi belum ada. Pelaksanaan  pelepasan informasi ke asuransi BPJS Tahun 2022 didapatkan 8 kasus tidak sesuai karena SOAP belum dimasukkan, pelayanan tidak dicatat, pelayanan sudah ditagihkan sebelumnya, tagihan tidak terbaca, tidak ada laporan operasi. Kesimpulan : peraturan pelepasan informasi diatur dalam kebijakan dan SOP, dan pelaksanaan pelepasan informasi belum sesuai karena ketidaklengkapan persyaratan. Saran : Kebijakan dan SOP Pelepasan Informasi Medis segera disahkan dan petugas menambahkan alur dan prosedur, serta petugas membuat SOP khusus pelepasan informasi kepada pihak asuransi, dan diharapkan petugas asuransi lebih teliti mencocokan dokumen untuk klai
HOUNSFIELD UNIT (HU) VALUE ANALYSIS ON CT-SCAN STONOGRAPHY EXAMINATION IN UROLITHIASIS
Abstract
Background: The use of CT-Scan is an examination of the urinary tract or what is usually called a non-contrast urography CT-Scan or CT-Scan Stonography. CT-Scan Stonography is a CT-Scan examination of the kidney tract which is usually used to detect the presence of stones in the kidneys. Stonography is used as an alternative to IVP (Intravenous Pyelography) examination because the IVP examination is limited in providing information to diagnose a disease, especially in cases of urolithiasis. In CT-Scan stonography examinations, the Hounsfield Unit (HU) value plays an important role in diagnosing abnormalities in the urinary system. The Hounsfield Unit (HU) value is the density level of various types of tissue which has 4,096 shades of gray, and has different density levels. differences found in CT-Scan. In establishing a diagnosis in patients with clinical urolithiasis or abnormalities in the presence of stones in the urinary system which are formed from crystals of Ca Oxalate, Ca Phosphate, Strufit stones, Cystine stones, and uric acid stones, the use of HU values helps in measuring the density value of the stones so that treatment can be estimated. that will be given to the patient. Objective: The aim of this study is to determine the Hounsfield Unit (HU) value in clinical urolithiasis using CT-Scan Stonography examination. Method: This research is a qualitative descriptive study, namely by carrying out CT-Scan stonography examinations on urolithiasis patients and analyzing the results of measuring Hounsfield Unit (HU) values. Results: Based on 10 research data results, the characteristics of stone composition based on Hounsfield Unit (HU) value analysis on 10 samples were categorized into 3 groups, namely, the calcium phosphate stone group consisting of 3 samples, cystine stone consisting of 5 samples, and 2 samples on uric acid stone group. Conclusion: Hounsfield Unit (HU) value to determine further medical actio