Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan
Not a member yet
    247 research outputs found

    DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans DAN DAYA BUNUH Candida albicans EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum l.)

    No full text
    Latar Belakang: Candida albicans merupakan mikroorganisme dalam rongga mulut yang akan bersifat patogen ketika jumlahnya berlebih di dalam tubuh. Salah satu tanaman tradisional yang bersifat antifungi yaitu daun kemangi (Ocimum sanctum L.). Daun kemangi memiliki kandungan yaitu flavonoid (0,08%), minyak atsiri (1,76%), alkaloid (4,05%), tanin (2,17%) dan eugenol (0,31%) yang mampu menghambat pertumbuhan serta membunuh Candida albicans. Tujuan: Mengetahui efektivitas ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum L.) dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh Candida albicans. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian post only grup design dengan 5 perlakuan ekstrak 1 kontrol negatif dan 1 kontrol positif. Daun kemangi dimaserasi dengan etanol 96% kemudian dibuat 5 konsentrasi yaitu 100%; 50%; 25%; 12,5%; dan 6,25%. Suspensi Candida albicans yang telah diinkubasi dengan campuran ekstrak selama 18-24 jam kemudian ditanam pada media SDA. Jumlah koloni yang tumbuh dihitung dengan colony counter. Data dianalisis dengan One Way Anova dan dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD). Hasil: Ekstrak daun kemangi dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans pada konsentrasi 12,5% dan dapat membunuh Candida albicans pada konsentrasi 25%. Simpulan dan saran: Ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum L.) dapat menghambat pertumbuhan dan dapat membunuh Candida albicans. Penelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan untuk mengetahui uji toksisitas ekstrak daun kemangi

    FORMULASI DAN EVALUASI MUTU FISIK SABUN DARI EKSTRAK RUMPUT LAUT MERAH (Euchema cottoni)

    No full text
    Latar belakang: Sekarang ini semakin banyak orang tertarik menggunakan sabun herbal karena sifat bioaktif senyawa yang terkandung di dalamnya. Sabun herbal sebagai sabun alami dibuat dengan menggunakan bahan dasar minyak kelapa, NaOH dan ekstrak rumput laut merah.Tujuan: Mengetahui formulasi dan evaluasi fisik sabun ekstrak rumput laut merah. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental one-shot case study. Rumput laut merah diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak yang didapat dilakukan uji skrinning fitokimia. Selanjutnya ekstrak rumput laut merah diformulasi berdasarkan formula baku yang didapatkan dari pustaka dengan konsentrasi 5% dan 10%. Selanjutnya sediaan yang telah dibuat  dilakukan uji evaluasi mutu fisik yang meliputi uji organoleptis, uji pH, dan uji tinggi busa. Data dianalisa dengan uji T tidak berpasangan. Hasil: Uji fitokimia didapatkan ekstrak rumput laut merah mengandung saponin dan tannin.berdasarkan hasil uji T didapatkan data nilai p>0,05 sehingga kedua hasil menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Simpulan dan saran: Tidak terdapat perbedaan antara formula sabun dengan konsentrasi ekstrak 5% dan 10%. Perlu adanya uji antibakteri dan  kekerasan

    REVIEW KORTIKOSTEROID INDUKSI SINDROM PSIKOTIK

    No full text
    Latar belakang: Indikasi penggunaan kortikosteroid semakin meningkat, diikuti pula dengan efek samping yang semakin banyak. Salah satunya adalah steroid psikotik. Tujuan: Mereview potensi kortikosteroid dalam menginduksi terjadinya psikotik. Metode: Penelusuran menggunakan mesin pencari dengan melihat kesesuaian dan relevansi dari 5 laporan kasus, 7 review, 10 systematic review dan 3 meta analysis dengan sumber artikel, tahun penerbitan dan asal dari sumber artikel. Hasil: Efek psikotik kortkosteroid pada beberapa penelitian tidak dapat digeneralisasikan karena variasi jumlah dosis dan lama waktu pemberian sehingga tidak dapat memprediksi kejadian steroid induksi psikosis. Selain itu juga penggunaan steroid dihubungkan dengan data subyektif misalnya riwayat penyakit, usia dan jenis kelamin ataupun dari rute pemberian sediaan kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang pada kondisi tertentu juga dapat menurunkan angka mortalitas. Berdasarkan review artikel ini juga diketahui bahwa penggunaan kortikosteroid sebagai terapi tambahan pada flu dan pilek tidak dapat dibuktikan efektivitasnya. Simpulan dan saran: Belum didapatkan bukti yang cukup untuk mengidentifikasi efek samping kortikosteroid induksi psikotik sehingga diperlukan systematic review dengan mengurangi bias hasil review

    HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN BERISIKO DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI MAHASISWA KAMPUS X KEDIRI

    No full text
    Latar belakang: Masalah gizi terus meningkat, dan berbagai upaya intervensi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Program intervensi harus didasarkan pada identifikasi faktor risiko yang tepat. Tujuan: Menganalisis hubungan konsumsi makanan berisiko dan aktivitas fisik dengan status gizi mahasiswa di Kampus X Kota Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 60 responden yang dipilih secara acak. Variabel independen berupa konsumsi makanan berisiko dan aktivitas fisik, serta variable dependen adalah status gizi. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden adalah mahasiswa perantau (indekos/rumah sewa) dan memiliki uang saku cukup tinggi. Jenis kelamin berhubungan dengan status gizi, dimana responden laki-laki cenderung memiliki gizi lebih dibanding perempuan. Jenis makanan berisiko yang berhubungan dengan status gizi adalah makanan yang digoreng, berpenyedap, dan soft drink. Aktivitas fisik berhubungan dengan status gizi. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara jenis kelamin, kebiasaan konsumsi makanan yang digoreng, berpenyedap, soft drink¸dan aktivitas fisik dengan status gizi. Perlu adanya pengukuran jenis dan durasi aktivitas fisik, serta porsi makanan berisiko yang dikonsumsi

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PRELAKTEAL: STUDI CROSS SECTIONAL DI KOTA BOGOR TAHUN 2015

    No full text
    Latar belakang: Pemberian makanan prelakteal merupakan salah satu hal yang berpengaruh terhadap status gizi bayi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal perlu diketahui agar dapat ditentukan intervensi dalam penurunan prevalensi pemberian makanan prelakteal. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal di Kota Bogor. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilakukan di Kota Bogor. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 82 ibu bayi. Variabel terikat berupa pemberian makanan prelakteal sedangkan variabel bebas berupa karakteristik ibu dan perilaku terkait menyusui. Analisis yang dilakukan berupa uji univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square. Hasil: Prevalensi pemberian makanan prelakteal dalam penelitian ini adalah sebesar 34.1%. Variabel yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal (p<0.05) dalam penelitian ini adalah paritas ibu dan saran tenaga kesehatan terkait pemberian makanan prelakteal. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan paritas ibu dan saran tenaga kesehatan dengan pemberian makanan prelakteal. Perlu adanya penentuan variabel yang paling berpengaruh terhadap pemberian makanan prelakteal

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN KESEHATAN MENTAL PADA LANSIA: STUDI CROSS-SECTIONAL PADA KELOMPOK JANTUNG SEHAT SURYA GROUP KEDIRI

    No full text
    Latar belakang: Prevalensi gangguan kesehatan mental pada lansia cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental pada lansia sebagai dasar penentuan intervensi untuk menurunkan prevalensi gangguan kesehatan mental. Tujuan: Menganalisis prevalensi gangguan kesehatan mental dan faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kesehatan mental pada lansia anggota Kelompok Jantung Sehat Surya Group di Kota Kediri. Metode: Pendekatan cross-sectional dilakukan pada anggota Kelompok Jantung Sehat Surya Group di Kota Kediri, sebanyak 40 orang. Variabel bebas meliputi karakteristik responden, fungsi keluarga, kesehatan fisik, hubungan sosial, dan lingkunga sedangkan variabel terikat adalah kesehatan mental. Variabel kesehatan mental dinilai dengan intsrumen WHOQOL-BREF. Analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil: Prevalensi gangguan kesehatan mental pada lansia sebanyak 25%. Variabel yang berhubungan dengan kesehatan mental (p<0.05) adalah jenis kelamin, fungsi keluarga, kesehatan fisik, dan lingkungan. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara jenis kelamin, fungsi keluarga, kesehatan fisik, dan lingkungan dengan kesehatan mental. Perlu adanya penentuan gangguan kesehatan mental yang spesifik

    UJI DAYA HAMBAT AIR REBUSAN BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.)TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Esherichia coli

    No full text
    Latar belakang: Rosella merupakan salah satu tanaman obat keluarga yang banyak digunakan sebagai ramuan tradisional. Kandungan senyawa rosella seperti flavonoid, saponin dan tanin mampu menghambat pertumbuhan bakteri salah satunya bakteri Escherichia coli sebagai penyebab infeksi diare.Tujuan: Mengetahui daya hambat dan konsentrasi bunga rosella yang dapat menunjukkan zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli. Metode: Penelitian eksperimen yang dilakukan di wilayah Jombang. Populasi penelitian ini adalah seluruh bunga rosella merah kering yang dijual di pasar Jombang. Jumlah sampel sebanyak 10 sampel, diambil dengan tehnik total sampling. Hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa pada pengenceran rebusan bunga rosella apabila dibandingkan dengan antibiotik Kotrimoksazol pada konsentrasi 10%-70% bersifat resisten yang menunjukkan diameter zona hambat <11 mm, sedangkan pada konsentrasi 80%-100% bersifat sensitive yang menunjukkan diameter zona hambat 15-16 mm.Simpulan dan saran: Terdapat zona hambat pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan bakteri uji lainnya dan ekstrak hasil fraksinasi, sehingga efek manfaat dari ekstrak dapat terlihat lebih nyata

    HUBUNGAN PEMENUHAN GIZI IBU NIFAS DENGAN PEMULIHAN LUKA PERINEUM

    No full text
    Latar belakang: Pemulihan luka perineum yang lama pada ibu yang melahirkan secara normal (vaginal delivery) dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan pemulihan luka adalah faktor gizi. Tujuan: Menganalisis hubungan pemenuhan gizi ibu nifas dengan pemulihan luka perineum. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan di BPS Murtini,Amd.Keb, Surabaya dengan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 24 orang dan diambil secara accidental sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemenuhan gizi sedangakan variabel terikatnya berupa penyembuhan luke perineum. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hubungan antar variabel dikatakan bermakna jika p-value < 0.05 Hasil: Sebagian besar responden (66.7%) terpenuhi kebutuhan gizinya dan luka perineumnya mengalami pemulihan. Terdapat hubungan antara pemenuhan gizi ibu nifas dengan pemulihan luka perineum (p<0.05). Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara pemenuhan gizi ibu nifas dengan pemulihan luka perineum. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis faktor zat gizi yang paling dominan dalam pemulihan luka perineum

    ANALISIS KADAR VITAMIN C PADA BUAH NANAS SEGAR (Ananas comosus (L.) Merr) dan BUAH NANAS KALENG DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

    No full text
    Latar Belakang : Vitamin C memiliki sifat mudah larut dalam air, oleh karena itu pada waktu mengalami proses pengirisan, pencucian dan perebusan bahan makanan yang mengandung vitamin C akan mengalami penurunan kadarnya. Kandungan vitamin C dalam buah dan makanan akan rusak karena proses oksidasi oleh udara luar, terutama jika dipanaskan. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin C pada buah nanas segar yang dibandingkan dengan kadar vitamin C pada buah nanas kaleng. Metode : Penelitian ini menggunakan metode analitik eksperimen dengan memeriksa kadar vitamin C pada buah nanas segar dan buah nanas kaleng. Hasil : Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar vitamin C pada buah nanas segar dan buah nanas kaleng didapatkan hasil bahwa kadar vitamin C pada buah nanas segar sebesar 3, 4274 ppm, sedangkan kadar vitamin C pada buah nanas kaleng sebesar 1, 4225 ppm. Pada uji statistik, dihasilkan nilai signifikan (P>0,05) sehingga data tersebut normal dan dilanjutkan dengan uji parametrik. Uji parametrik yang digunakan adalah uji T berpasangan. Hasil dari uji T berpasangan adalah P=0,00. Simpulan dan saran : ada perbedaan antara kadar vitamin C pada buah nanas segar dan buah nanas kaleng. Perlu dilakukan uji kadar vitamin C pada buah nanas dengan bentuk pengolahan yang lain untuk dibandingkan kandungan vitamin C terbesarnya

    PENGARUH LAMA PEMANASAN TERHADAP KUALITAS MINYAK GORENG KEMASAN KELAPA SAWIT

    No full text
    Latar belakang: Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng diantaranya adalah kandungan Free Fatty Acid (FFA), warna, serta Cloud point. Semua faktor ini perlu dianalisis untuk mengetahui kualitas minyak goreng kelapa sawit. Adapun penurunan mutu dari minyak goreng kelapa sawit antara lain dapat disebabkan oleh pengaruh lama pemanasan. Tujuan: Mengetahui kualitas minyak goreng terhadap lama pemanasan. Metode: Jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Parameter yang diamati berupa kandungan Asan lemak bebas, warna dan Could Point. Hasil: Pemanasan akan menurunkan kualitas minyak goreng kualitas super setelah pemanasan sampai 15 menit (mendidih) (FFA= 0,1695,Warna = Merah:  1,5-2,0, dan  Kuning 15-20, dan Cloud point  (CP) = 6 oC.). Simpulan dan saran: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas minyak goreng menurun setelah pemanasan 15 menit. Perlu dilakukan analisa bilangan iod, bilangan asam, dan bilangan penyabunan untuk mengetahui kualitas minyak goreng yang sesuai dengan standar mutu SNI

    0

    full texts

    247

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇