91757 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN HAKKI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS IV PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran HAKKI
sebagai alat pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas IV
mengenai materi hak dan kewajiban. Metode yang digunakan adalah Research
and Development (R&D) dengan model ADDIE yang terdiri dari tahap analisis,
desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Desain yang digunakan
adalah quasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini
terdiri dari siswa kelas IV A dan IV B di salah satu sekolah dasar di Kabupaten
Sumedang, dengan masing-masing kelas berjumlah 30 siswa. Kelas IV A sebagai
kelas eksperimen yang menggunakan media HAKKI, sedangkan kelas IV B
sebagai kelas kontrol yang menggunakan media konvensional. Metode
pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, serta penggunaan soal tes
(pretest-posttest) untuk kedua kelas, dan angket respon siswa. Peningkatkan
pemahaman siswa yang di uji menggunakan uji N-Gain mendapatkan nilai rata
rata 0,73 dengan kategori “Tinggi” untuk kelas eksperimen dan 0,25 dengan
kategori “Rendah” untuk kelas kontrol. Tingkat perbedaan pemahaman
menggunakan uji independent sample t-test mendapat nilai sebesar 0,001 < 0,05,
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara hasil belajar
siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol. Selain itu, siswa memberikan
respon positif terhadap penggunaan media pembelajaran HAKKI. Temuan ini
mengindikasikan bahwa media HAKKI dapat menjadi solusi yang efektif dalam
meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila.
This study aims to develop HAKKI learning media as a learning tool that can
improve fourth-grade students' understanding of rights and obligations. The
method used is Research and Development (R&D) with the ADDIE model, which
consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages.
The design used is a quasi-experimental study with a quantitative approach. The
subjects of this study consisted of students in grades IV A and IV B at an
elementary school in Sumedang Regency, with 30 students in each class. Grade IV
A served as the experimental class using HAKKI media, while grade IV B served
as the control class using conventional media. Data collection methods were
conducted through interviews, pretest-posttest for both classes, and student
response questionnaires. The improvement in students' understanding, tested
using the N-Gain test, obtained an average score of 0.73, categorized as "High"
for the experimental class and 0.25, categorized as "Low" for the control class.
The difference in understanding using the independent sample t-test obtained a
value of 0.001 < 0.05, thus it can be concluded that there is an average difference
between the learning outcomes of students in the experimental class and those in
the control class. Furthermore, students responded positively to the use of HAKKI
learning media. This finding indicates that HAKKI media can be an effective
solution in improving student understanding in Pancasila Education learning
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA KELAS XI DI SMK NEGERI 2 PURWAKARTA
Media pembelajaran memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas dan ketertarikan siswa dalam proses belajar. Observasi di SMK Negeri 2 Purwakarta menunjukkan bahwa media yang digunakan masih bersifat statis, seperti PowerPoint, sehingga kurang mendukung pemahaman siswa terhadap materi Pendidikan Pancasila, khususnya topik keragaman budaya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif menggunakan platform Unity untuk siswa kelas XI. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan Multimedia Development Life Cycle (MDLC) yang mencakup enam tahap: concept, design, material collecting, assembly, testing, dan distribution. Validasi dilakukan oleh ahli materi dan media menggunakan instrumen Learning Object Review Instrument (LORI). Uji fungsionalitas dilakukan melalui Black-Box Testing, sedangkan kelayakan pengguna dinilai menggunakan kuesioner System Usability Scale (SUS). Hasil validasi menunjukkan bahwa media dinilai sangat layak dari sisi isi dan tampilan. Black-Box Testing membuktikan seluruh fitur berjalan sesuai fungsi. Skor SUS sebesar 83 menunjukkan tingkat kelayakan yang tinggi. Dengan demikian, media pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan efektif dan layak digunakan sebagai alternatif pembelajaran interaktif dalam menyampaikan materi Pendidikan Pancasila.
Kata Kunci : Keragaman Budaya, Multimedia Interaktif, Pendidikan Pancasila, Unity.
-----
Learning media play an important role in increasing students’ effectiveness and engagement in the learning process. Observations at SMK Negeri 2 Purwakarta indicated that the media used were still static, such as PowerPoint, which did not adequately support students' understanding of Pancasila Education, particularly on the topic of cultural diversity. This study aims to develop interactive multimedia-based learning media using the Unity platform for Grade XI students. The research method employed is Research and Development (R&D) using the Multimedia Development Life Cycle (MDLC) model, which consists of six stages: concept, design, material collecting, assembly, testing, and distribution. Validation was carried out by subject matter and media experts using the Learning Object Review Instrument (LORI). Functionality testing was conducted using the Black-Box Testing method, while user feasibility was assessed through the System Usability Scale (SUS) questionnaire. The validation results showed that the media were rated as highly feasible in terms of content and appearance. Black-Box Testing confirmed that all features functioned properly. The SUS score of 83 indicated a high level of usability. Therefore, the developed learning media is considered effective and appropriate to be used as an alternative interactive learning tool for delivering Pancasila Education material.
Keywords: Cultural Diversity, Interactive Multimedia, Pancasila Education, Unity
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KEMANDIRIAN BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROJECT BASED LEARNING
Di era perkembangan teknologi dan tuntutan abad ke-21, model Project-Based Learning (PjBL) menjadi salah satu pendekatan pembelajaran inovatif yang menekankan kolaborasi, pemecahan masalah, dan kemandirian dalam mengelola tugas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar mahasiswa dalam program Studi Independen batch 7 di Educourse.id yang menerapkan pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa yang menjadi responden berasal dari berbagai disiplin ilmu dan terlibat dalam kegiatan pengembangan Platform and Web Developer (Specialist Education Platform). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Ex-Post Facto. Sampel penelitian terdiri atas 119 mahasiswa peserta Studi Independen, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan metode survei melalui angket retrospektif self-assessment berbasis skala Likert lima poin, yang disusun berdasarkan indikator keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar.
Analisis data dilakukan melalui uji validitas, uji reliabilitas, analisis statistik deskriptif, dan Paired Sample T-Test. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar setelah penerapan PjBL, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa model PjBL efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar mahasiswa pada konteks pembelajaran berbasis proyek
In the era of technological advancement and the demands of the 21st century, the Project-Based Learning (PjBL) model has emerged as an innovative instructional approach that emphasizes collaboration, problem-solving, and self-regulated learning in managing tasks. This study aims to analyze the improvement of critical thinking skills and Self-regulated learning among students participating in the Independent Study Program batch 7 at Educourse.id, which implements project-based learning. The participants came from various academic disciplines and were involved in the development of Platform and Web Developer (Specialist Education Platform). This research employed a quantitative approach with an Ex-Post Facto design. The sample consisted of 119 students from the Independent Study Program, selected through purposive sampling. Data were collected using a survey method through a retrospective self-assessment questionnaire based on a five-point Likert scale, developed according to indicators of critical thinking skills and self-regulated learning. Data analysis involved validity testing, reliability testing, descriptive statistical analysis, and the Paired Sample T-Test. The results showed a significant increase in both critical thinking skills and self-regulated learning after the implementation of PjBL, with a significance value of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that the PjBL model is effective in enhancing students’ critical thinking skills and self-regulated learning in the context of project-based learning
PENINGKATAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS DAN SELF-EFFICACY SISWA SMA MELALUI PENERAPAN MODEL NOVICK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengungkapkan hasil analisis statistik terkait perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Novick dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, (2) mengungkapkan hasil analisis statistik terkait perbedaan peningkatan kemampuan self-efficacy siswa yang menggunakan model pembelajaran Novick dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, (3) mengungkapkan hasil analisis statistik terkait hubungan antara kemampuan representasi matematis dan self-efficacy siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain kelas kontrol non-ekuivalen (Non-equivalent Control Group Design). Subjek penelitian adalah 44 siswa kelas X di salah satu SMA di Kota Garut, dengan dua kelas yang dipilih sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes kemampuan representasi matematis, angket self-efficacy, dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis yang signifikan antara siswa yang menggunakan model pembelajaran Novick dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, (2) terdapat perbedaan peningkatan self-efficacy yang signifikan antara siswa yang menggunakan model pembelajaran Novick dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, (3) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan representasi matematis dan self-efficacy siswa, baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
This study aims to: (1) reveal the results of statistical analysis related to the differences in improving mathematical representation abilities of students who use the Novick learning model with students who follow conventional learning, (2) reveal the results of statistical analysis related to the differences in improving self-efficacy abilities of students who use the Novick learning model with students who follow conventional learning, (3) reveal the results of statistical analysis related to the relationship between mathematical representation abilities and students' self-efficacy. The research method used is a quasi-experimental with a non-equivalent control group design. The research subjects were 44 class X students at a high school in Garut City, with two classes selected as the experimental class and the control class. The instruments used consisted of a mathematical representation ability test, a self-efficacy questionnaire, and an observation sheet. The results of the study showed that: (1) there was a significant difference in the increase in mathematical representation ability between students who used the Novick learning model and students who followed conventional learning, (2) there was a significant difference in the increase in self-efficacy ability between students who used the Novick learning model and students who followed conventional learning, (3) there was no significant relationship between mathematical representation ability and students' self-efficacy, both in the experimental and control classes
IMPLEMENTASI KRIPTOGRAFI HIBRIDA BLUM BLUM SHUB-VERNAM CIPHER DAN MERKLE-HELLMAN KNAPSACK DALAM PENYANDIAN PESAN TEKS DISERTAI PENGUJIAN AVALANCHE EFFECT
Dalam era digital, pertukaran informasi rahasia melalui jaringan komputer menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Untuk menjaga kerahasiaan dan integritas informasi tersebut, penelitian ini mengimplementasi kriptografi hibrida Vernam Cipher dengan Merkle-Hellman Knapsack. Vernam Cipher adalah kriptografi simetris yang dikenal aman, namun memiliki kelemahan yaitu panjang kunci yang digunakan harus sama dengan panjang pesan atau plainteks, sehingga digunakan pembangkit bilangan acak Blum Blum Shub untuk menghasilkan kunci Vernam. Sedangkan Merkle-Hellman Knapsack adalah kriptografi asimetris yang bergantung pada sulitnya memecahkan Knapsack problem. Merkle-Hellman Knapsack digunakan untuk mengenkripsi kunci Vernam. Sistem hibrida ini dirancang untuk mengamankan baik pesan maupun kunci yang digunakan. Kinerja keamanan dari setiap kriptografi diuji menggunakan pengujian Avalanche Effect. Pengujian Avalanche Effect memanfaatkan perubahan setiap bit yang terjadi pada cipherteks. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi Blum Blum Shub dan Vernam Cipher memberikan perubahan yang signifikan pada cipherteks, sementara Merkle-Hellman Knapsack memberikan dasar matematis yang kuat untuk keamanan sistem. Program aplikasi dibuat dengan menggunakan Graphical User Interface (GUI) dalam bahasa pemograman Python.
In the digital era, the exchange of confidential information through computer networks has become an inevitable need. To maintain the confidentiality and integrity of the information, this research implements a hybrid cryptography of Vernam Cipher with Merkle-Hellman Knapsack. Vernam Cipher is a symmetric cryptography that is known to be secure, but has the disadvantage that the key length used must be the same as the length of the message or plaintext, so the Blum Blum Shub random number generator is used to generate the Vernam key. Meanwhile, Merkle-Hellman Knapsack is an asymmetric cryptography that depends on the difficulty of breaking the Knapsack problem. Merkle-Hellman Knapsack is used to encrypt the Vernam key. This hybrid system is designed to secure both the message and the key used. The security performance of each cryptography is tested using Avalanche Effect testing. Avalanche Effect testing utilizes each bit change that occurs in the ciphertext. The results show that the combination of Blum Blum Shub and Vernam Cipher provides significant changes to the ciphertext, while Merkle-Hellman Knapsack provides a strong mathematical basis for system security. The application program was created using Graphical User Interface (GUI) in Python programming language
ANALISIS MODEL PEMASARAN WISATA OLAHRAGA ARUNG JERAM DI PARAKAN KONDANG SUMEDANG
Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan dalam arung jeram yang bertujuan untuk menganalisis model pemasaran kegiatan arung jeram di Parakan Kondang, Kabupaten Sumedang. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data wawancara dan dokumentasi didampingi validasi data berupa teknik triangulasi, pengolahan data menggunakan software Nvivo 15. Subjek penelitian 3 orang diantaranya Disparbudpora, pemilik usaha dan mahasiswi part time. Hasil Word Frequency Query yang ditemukan selama wawancara banyak dibicarakan seperti wisata olahraga arung jeram, media promosi, fasilitas dan paket wisata olahraga. Berdasarkan hasil riset pum ditemukan 6 temuan utama yaitu strategi pemasaran, kolaborasi dan keterlibatan pelaku usaha, inovasi produk dan promosi pemasaran wisata, penggunaan media social, fasilitas, target, dan paket wisata, efektivitas distribusi informasi wisata olahraga arung jeram. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil temuan tersebut bahwa hal ini terdapat faktor eksternal dan internal yang saling bersangkutan untuk memajukan model pemasaran yang telah dipakai wisata olahraga arung jeram tersebut. Seperti contoh besarnya model pemasaran ini berkaitan dengan kerjasama dengan pihak media sosial juga antar wisata lainnya. Implikasi positif antara lain, dengan analisis model pemasaran wisata olahraga arung jeram di Parakan Kondang ini, wisata olahraga arung jeram memberikan kontribusi pada wisata di daerah Sumedang.Berdasarkan hasil analisis peneliti, model pemasaran digital ini merupakan model pemasaran yang digunakan oleh wisata olahraga arung jeram di Parakan Kondang Sumedang untuk meningkatkan jumlah wisatawan.
Kata Kunci: Arung Jeram; Pemasaran; Wisata Olahraga.
This research delves into the marketing model for rafting activities in Parakan Kondang, Sumedang Regency, addressing specific challenges within this niche of sports tourism. Employing a qualitative case study methodology, the study gathers data through in-depth interviews and documentation, subsequently processed using NVivo 15 software. Data validation is ensured through triangulation. The research subjects encompass key stakeholders: representatives from Disparbudpora, business owners directly involved in rafting operations, and part-time students contributing to the local tourism landscape. The analysis centers on rafting sports tourism, promotional media, facility provisions, and the design of tour packages. Key findings highlight the implemented marketing strategies, the dynamics of business collaboration, product innovation, social media utilization, facility offerings, and the effectiveness of information dissemination. The research underscores the interdependent nature of external and internal factors in shaping the marketing model. Crucially, cooperation with social media platforms and inter- tourism partnerships is identified as vital for success. The analysis emphasizes the efficacy of digital marketing strategies in driving increased tourist numbers, thereby contributing to the broader tourism sector in Sumedang. The study concludes that tailored marketing strategies are indispensable for the sustainable growth of rafting sports tourism in the region, offering insights into effective promotional and collaborative practices.
Keywords: Rafting, Marketing, Sports Tourism
PENGEMBANGAN LKPD PADA PEMBELAJARAN TEKS EKSPLANASI BERMUATAN LITERASI EMOSI DI SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguatan literasi emosi bagi peserta didik, serta belum tersedianya Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang mampu memfasilitasi aktivitas pembelajaran untuk mendukung pemahaman konsep literasi emosi. Tujuan penelitian untuk: (1) mendeskripsikan hasil analisis kebutuhan LKPD pada pembelajaran teks eksplanasi bermuatan literasi emosi di sekolah dasar; (2) mendeskripsikan rancangan produk LKPD; (3) mendeskripsikan kelayakan produk LKPD; dan (4) mendeskripsikan respons penggunaan LKPD dalam pembelajaran teks eksplanasi bermuatan literasi emosi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Educational Design Research (EDR) meliputi tiga tahapan: analisis dan eksplorasi, desain dan konstruksi, serta evaluasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis kebutuhan menunjukkan bahwa LKPD bermuatan literasi emosi belum tersedia, dan pendidik belum mengetahui potensi integrasi literasi emosi dalam LKPD, meskipun mendukung pengembangannya. Rancangan produk disusun berdasarkan analisis kurikulum dan prinsip desain, dengan integrasi literasi emosi yang sistematis menggunakan aplikasi Canva. Hasil validasi ahli materi memperoleh skor 90% dan validasi ahli bahan ajar 88%, keduanya termasuk dalam kategori sangat layak. Hasil uji respons peserta didik menunjukkan kepraktisan LKPD dengan skor 87% di SDN 3 Sukamaju dan 92% di SDN 2 Sindangpalay, sementara dari pendidik diperoleh skor 98% dan 100%. Maka LKPD bermuatan literasi emosi ini layak dan sangat praktis untuk digunakan dalam pembelajaran teks eksplanasi di sekolah dasar.
This study was motivated by the urgency of strengthening emotional literacy among students, as well as the lack of Student Worksheets (LKPD) that can facilitate learning activities to support the understanding of emotional literacy concepts. The objectives of this study are to: (1) describe the needs analysis of student worksheets (LKPD) in teaching explanatory texts integrated with emotional literacy in elementary schools; (2) describe the product design of the LKPD; (3) describe the feasibility of the LKPD; and (4) describe the users’ responses to the use of LKPD in the learning process. This study employed the Educational Design Research (EDR) method, which consists of three phases: analysis and exploration, design and construction, and evaluation and reflection. The results show that the needs analysis revealed that emotional literacy-based LKPD had not been available, and teachers were not yet aware of its integration, although they supported its development. The LKPD was systematically designed based on curriculum analysis and design principles, with emotional literacy components integrated using Canva. The product validation yielded a 90% score from the material expert and 88% from the teaching material expert, both categorized as very feasible. User response tests showed practicality, with student scores of 87% at SDN 3 Sukamaju and 92% at SDN 2 Sindangpalay, while teacher scores reached 98% and 100%, respectively. Therefore, this LKPD containing emotional literacy is appropriate and very practical for use in teaching explanatory texts in elementary schools
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS ESD UNTUK MENINGKATKAN SYSTEM THINKING COMPETENCY MATERI KEANEKARAGAMAN HAYATI PESERTA DIDIK FASE B SEKOLAH DASAR UNTUK MENUNJANG TUJUAN SDG’S NO 15
Penulisan ini dilatarbelakangi dengan ditemukannya kondisi peserta didik fase B Sekolah Dasar yang belum bisa menerapkan system thingking competency pada pembelajaran IPAS materi keanekaragaman hayati di kelas. Hal ini dikarenakan sumber belajar yang digunakan peserta didik terbatas dimana belum ada yang memuat nilai-nilai ESD dan menunjang system thingking competency. Penulisan ini bertujuan mengembangan bahan ajar berbasis ESD untuk meningkatkan system thingking competency peserta didik fase B sekolah dasar untuk menunjang tujuan SDG’s No. 15. Metode pada penulisan ini adalah Design and Development (D&D) dengan model pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan validasi ahli dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dan kuantitatif. Bahan ajar ini disusun berdasarkan Indikator Tujuan Pembelajaran (ITP) hasil dari pengintegrasian Capaian Pembelajaran, ESD, dan system thingking competency serta disesuaikan dengan materi keanekaragaman hayati. Hasil validasi ahli bahan ajar ini mendapatkan kategori “Sangat Layak” untuk digunakan oleh peserta didik. Hasil uji efektivitas bahan ajar menggunakan rumus perbedaan terhadap skor N-gain dan termasuk ke dalan kategori “Tinggi”. Maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar “Warisan Daerahku” berbasis ESD dapat meningkatkan system thingking competency pada peserta didik fase B Sekolah Dasar. Bahan ajar ini direkomendasikan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati. Pengembangan lanjutan perlu dilakukan agar lebih variatif, menarik, dan mendukung tujuan ESD dan SDG’s lainnya.
This research is motivated by the discovery that phase B elementary school students were unable to apply system thinking competency in learning IPAS material on biodiversity in the classroom. This was due to the limited learning resources available to students, none of which contained ESD values or supported system thinking competency. This paper aims to develop ESD-based teaching materials to improve the system thinking competency of phase B elementary school students to support SDG No. 15. The method used in this paper is Design and Development (D&D) with the ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) development model. Data collection techniques were carried out through expert validation and testing. The data analysis techniques used are qualitative and quantitative data analysis. This teaching material is structured based on Learning Objective Indicators (LOI) resulting from the integration of Learning Outcomes, ESD, and system thinking competency, and is aligned with biodiversity content. The expert validation of this teaching material received the category “Highly Suitable” for use by students. The results of the effectiveness test of the teaching materials using the N-gain score difference formula fall into the “High” category. Therefore, it can be concluded that the ESD-based “My Local Heritage” teaching materials can enhance system thinking competency among elementary school students in phase B. These teaching materials are recommended for use
PERBANDINGAN PEMBELAJARAN EKSTRAKURIKULER ANTARA TARUNG DERAJAT DENGAN PENCAK SILAT TERHADAP KEBUGARAN JASMANI DAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA PESERTA DIDIK
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan membandingkan tingkat kebugaran jasmani dan keterampilan sosial antara peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler Tarung Derajat dengan Pencak Silat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling yang bertujuan untuk merinci keadaan keterampilan sosial dan kebugaran jasmani peserta didik
dengan mempertimbangkan jenis ekstrakurikuler Pencak Silat dan Tarung Derajat. Sampel terdiri dari 30 peserta didik aktif di SMAN 1 Ciawi yang telah mengikuti ekstrakurikuler minimal selama tiga bulan. Instrumen yang digunakan mencakup Tes Kebugaran Pelajar Nusantara (TKPN) untuk mengukur kebugaran jasmani dan kueisioner Social Skills Improvement System-Rating Scale (SSIS-RS) untuk mengukur keterampilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran jasmani pada kedua kelompok ekstrakurikuler mayoritas berada pada kategori “cukup” dengan proporsi yang sebanding (80%). Untuk keterampilan sosial, sebagian peserta didik di ekstrakurikuler Tarung Derajat (53%) maupun Pencak Silat (67%) berada pada kategori “sedang”. Uji hipotesis dengan menggunakan Independent Sample T-Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan segnifikan antara kedua kelompok, baik pada aspek kebugaran jasmani (Sig.=0,791) maupun dalam aspek keterampilan sosial (Sig.=0,518). Berdasarkan temuan tersebut, kedua jenis ekstrakurikuler memiliki kontribusi yang serupa dalam mengembangkan kebugaran jasmani dan keterampilan sosial peserta didik. Oleh karena itu, keduanya dapat menjadi alternatif kegiatan sekolah yang efektif dalam mendukung pengembangan fisik dan karakter peserta didik.
The aim of this research was to evaluate and contrast the levels of physical fitness and social skills among students engaged in Tarung Derajat and Pencak Silat extracurricular programs. This study employed a quantitative descriptive method along with purposive sampling techniques to examine the social skills and physical fitness of students, considering the distinct extracurricular activities, specifically Pencak Silat and Tarung Derajat. The study sample comprised 30 active students from SMAN 1 Ciawi who had been involved in extracurricular activities for a minimum of three months. The tools used for measurement included the Nusantara
Student Fitness Test (TKPN) to assess physical fitness and the Social Skills Improvement System-Rating Scale (SSIS-RS) questionnaire to evaluate social skills. The findings demonstrated that the physical fitness levels of both groups involved in extracurricular activities fell primarily within the “adequate” category, with similar proportions Keywords (80%). In terms of social skills, a portion of students involved in Tarung Derajat (53%) and Pencak Silat (67%) extracurricular
activities fell into the “moderate” category. Hypothesis testing through the Independent Samples T-test revealed no significant differences between the two groups, whether in relation to physical fitness (Sig.=0.791) or social skills
(Sig.=0.518). Based on these results, both types of extracurricular activities appear to contribute similarly to the enhancement of students’ physical fitness and social skills. Consequently, both serve as effective school programs in fostering students' physical and character development
RIWAYAT PRAKTIK PEMBERIAN MAKAN, PREFERENSI MAKANAN, DAN EMOTIONAL EATING PADA MAHASISWA GIZI LEBIH DAN NORMAL DI KOTA BANDUNG
Pendahuluan: Tingginya prevalensi status gizi lebih pada usia dewasa masih menjadi permasalahan baik di Indonesia maupun di dunia. Pada dasarnya, status gizi lebih disebabkan oleh kelebihan asupan energi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti preferensi makanan, perilaku makan, status sosial ekonomi, dan lainnya. Orang tua memegang peranan utama dalam pemberian makanan sejak usia dini, yang dapat membentuk perilaku dan preferensi makan anak dan dibawa hingga dewasa. Tujuan: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah riwayat praktik pemberian makan oleh orang tua, preferensi makanan manis dan berlemak, dan perilaku emotional eating menjadi faktor risiko dari status gizi lebih pada mahasiswa Kota Bandung. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan case-control. Penelitian dilakukan pada tanggal 18-28 Februari 2025 di beberapa perguruan tinggi Kota Bandung. Subjek penelitian didapatkan melalui teknik purposive sampling sebanyak 47 orang kelompok kasus (status gizi lebih) dan 47 orang kelompok kontrol (status gizi normal). Hasil: Ditemukan hubungan antara riwayat praktik pemberian makan (p = 0,038, OR = 2,616) dan emotional eating (p = 0,001, OR = 4,551) terhadap status gizi. Namun, tidak ditemukan hubungan antara preferensi makanan manis dan berlemak dengan status gizi (p = 1,000; OR = 0,489). Kesimpulan: Praktik pemberian makan yang tidak baik dan perilaku emotional eating dapat meningkatkan risiko status gizi lebih. Oleh karena itu, masyarakat umum dan orang tua disarankan menerapkan pemberian makan yang responsif serta perilaku makan dan regulasi emosi yang baik.
Introduction: The high prevalence of overnutrition in adolescents remains a problem in Indonesia as well as worldwide. Overnutrition is essentially caused by excessive energy intake, which is influenced by a lot of factors, including food preference, eating behavior, social economic status, and others. Parents hold an important role of feeding in children, which can shape their eating behavior and food preferences thats carried out to adulthood. Objective: This research was done to analyze whether the history of parental feeding, sweet and fatty food preference, and emotional eating are risk factors of overnutrition in college students in Bandung. Methods: This research is a quantitative case-control study. This research was conducted from February 18-28, 2025 in several colleges in Bandung. Sampling was done with purposive sampling consisting of 47 subjects in case group (overweight and obese) and 47 subjects in control group (normalweight). Results: Associations were found between history of feeding (p = 0,038, OR = 2,616) and emotional eating (p = 0,001, OR = 4,551) with nutritional status. Meanwhile no association was found between sweet and fatty food preference with nutritional status (p = 1,000; OR = 0,489). Conclusion: Nonresponsive parental feeding and emotional eating can increase the risk of overnutrition in adulthood. Therefore, general public and parents are advised to implement responsive feeding and healthy eating behavior as well as emotion regulation