Indonesia University of Education

Repository UPI
Not a member yet
    91757 research outputs found

    PENGARUH FAKTOR-FAKTOR NON-INTELEKTUAL TERHADAP GEJALA BERPRESTASI KURANG : Studi Terhadap Siswa SMA Proyek Perintis Sekolah Pembangunan

    Full text link
    At least there are three components involved, namely the learner, the learning process, and the learning Luation producing together achievement. The degree of achievement will depend on the optimal interaction among the factors of the three components, intellectual as well as non-intellectual. Intellectual factors as a potential capacity form the basic pattern of the degree of achievement reached throug learning activities and processes. Non-intellectual factors, internal as well as external, appear to influence the achievement also.Individual differences in the achievement can be explained by the interaction among these factors; when one of the factors is constant, the difference can be explained by the others. In this connection one of the learning problems is underachicvoment which has asso

    PENGEMBANGAN KONSEP KOMPETENSI PROFESIONAL DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN

    Full text link
    Tidak Ada Abstra

    SUATU STUDI TENTANG SISTEM GURU BIDANG DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI SEKOLAH DASAR

    Full text link
    Tiga puluh'satu tahun Indonesia t siali merdeka. Banyak baharuan dalaa berbagai bidang. De.mikian Juga dala;n bidang pon didikan tidak ketinggalan. Salah satu usaha dalam bidang yaiig terakhir ini, tertera dalam Master Des¿3:1 Pembaharuan Pendidik an Uelalui Proyek Perintis Sekolak Pembangunan yang pelaksanaannya dipercayakan kepada 3 UU? di Indonesia di bawah naungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan P? partsaen Pendidikan dan Kebudayaan P.opublik Indonesia. Dalam 'laster Design itu terdapat empat -ucaha pokok yang berkenaan do ngan masalah relevansi, peningkatan mutu, efisiensi dan pemera taan pendidikan, ma s in g ~ma s in g terdiri atas berbagai alterna -•tif-pemecahan, Salah satu alternatif untuk meningkatkan mutu pendidikan ialah kemungkinan penerrosa sistim departe~:e tali c risi atau sictin guru bidang di Sekolah Dasar Sejak tahun 1972, sistin tersebut berangsur-angsur diterapkan di SD PP3P IKIP Semarang, Bandung dan U^'ung Pandnng dan telah terdapat keinginan untuk diterapkan di kelima SD PP3? la innycr.-Sidalc mengherankan pula bila terdapat keinginan yer.g sa rupa di SD-3D di luar PPSP, apalagi bila memperhatikan Gurat Putusan Menteri P dan X no. OOS-a/U/lOT3 yang dalam salah satu pasal terdapat kemungkinan penerapan sistim guru bidang studi di Sekolah Dasar. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa sistia guru bidang merupakan salah satu alternatif yang ¿ruat yang memungkinkan untuk merubah Sistim Pendidikan Nasional In donesia untuk tingkat SD yang secak beberapa abad yang lalu te lah menerapkan, sistini guru kelas.Permasalahan yang timbul di lapangan, apakah penerapan sistim baru itu mempunyai pengaruh yang lebih baik, sana atau lebih buruk dari pada sistim yang sedang berjalan ? Keterangan keterangan yang mengenai manalah tersebut belum cukup memada

    STRATEGI AGILITY UNTUK MENINGKATKAN KINERJA RANTAI PASOK PETANI KOPI MILENIAL JAWA BARAT

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk membangun dan menguji model peningkatan supply chain performance berbasis ambidexterity dan agility dalam konteks petani kopi milenial di Jawa Barat. Petani milenial menghadapi tantangan dalam menghadapi dinamika pasar, rendahnya ketahanan rantai pasok, serta keterbatasan penciptaan nilai bersama mitra usaha. Model dikembangkan dengan pendekatan Resource-Based View (RBV), Dynamic Capabilities (DC), Relational View (RV), dan Contingency Theory (CT), yang mengintegrasikan Ambidexterity Capability sebagai pemicu terbentuknya Strategic Agility, Supply Chain Resilience, dan Supply Chain Value Realization (SCVR) untuk meningkatkan Supply Chain Performance.Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei, dan dianalisis menggunakan Covariance-Based Structural Equation Modeling (CB-SEM). Responden penelitian terdiri dari 143 petani kopi milenial di Jawa Barat yang tergabung dalam koperasi produsen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalur paling signifikan adalah dari Ambidexterity Capability melalui Strategic Agility dan SCVR, kemudian berdampak langsung terhadap peningkatan Supply Chain Performance. SCVR dioperasionalkan ke dalam empat dimensi aplikatif: customer-oriented, information-based, partnership-driven, dan innovation-driven. Peningkatan supply chain performance tidak dapat dicapai secara langsung, tetapi melalui proses strategis bertahap yang dimulai dari kelincahan (agility), ketahanan (resilience), hingga penciptaan nilai (value realization). Temuan ini memberikan kontribusi teoretis terhadap literatur manajemen rantai pasok berbasis kapabilitas dan menawarkan panduan praktis bagi pengembangan organisasi serta strategi pendampingan petani kopi milenial berbasis nilai. This study aims to develop and validate a strategic model for improving supply chain performance based on ambidexterity and agility within the context of millennial coffee farmers in West Java. These farmers face significant challenges, including market dynamics, limited supply chain resilience, and constraints in value creation with business partners. The model was developed using theoretical frameworks from the Resource-Based View (RBV), Dynamic Capabilities (DC), Relational View (RV), and Contingency Theory (CT), integrating Ambidexterity Capability as the foundational driver of Strategic Agility, Supply Chain Resilience, and Supply Chain Value Realization (SCVR) to enhance overall Supply Chain Performance.This quantitative research employed a survey method and was analyzed using Covariance-Based Structural Equation Modeling (CB-SEM). The respondents consisted of 143 millennial coffee farmers affiliated with producer cooperatives across West Java. The findings reveal that the most significant pathway occurs through a serial mediation from Ambidexterity Capability, Strategic Agility to SCVR, which in turn directly impacts Supply Chain Performance. SCVR is operationalized into four applicable dimensions: customer-oriented, information-based, partnership-driven, and innovation-driven. The results suggest that improving supply chain performance cannot be achieved instantly but must follow a gradual strategic process starting with agility, followed by resilience, and culminating in value realization. This research contributes theoretically to the literature on capability-based supply chain management and offers practical guidance for cooperative development and value-driven support strategies for millennial coffee farmers

    VALIDITAS ACTIGRAPH GT3X UNTUK MENGUKUR AKTIVITAS FISIK MAHASISWA BERBASIS LABORATURIUM

    Full text link
    Validitas ActiGraph GT3X sebagai perangkat pengukur aktivitas fisik berbasis akselerometer diuji dengan membandingkan data dari treadmill dan ergocycle di lingkungan laboratorium. Penelitian ini melibatkan 50 mahasiswa dan menggunakan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara data dari ActiGraph GT3X dengan alat laboratorium. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas fisik dan intensitas metabolik dari ActiGraph GT3X berbeda dengan hasil dari treadmill dan ergometer. Korelasi antar perangkat menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan secara statistik, yang mengindikasikan keterbatasan ActiGraph GT3X dalam menyesuaikan hasil pengukurannya dengan alat laboratorium. Perbedaan ini disebabkan oleh variasi prinsip kerja perangkat dan faktor eksternal lainnya. Studi ini menyoroti perlunya validasi lebih lanjut untuk meningkatkan akurasi pengukuran ActiGraph GT3X di lingkungan terkontrol, dengan melibatkan populasi yang lebih besar dan metodologi yang lebih komprehensif

    KAJIAN PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG KARAKTER BANGSA DAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN, 2017

    Full text link
    Tesisiniberjudul“PemikiranKi HajarDewantaratentangkarakterbangsadanpendidikankebangsaan”. Penulismengharapkanmelaluihasilpenelitiantesis yang penulisbuatmampumemberikanmanfaatbagimahasiswadanmasyarakatumummengenaipemikiran Ki HajarDewantara. Metode yang digunakanadalahmetodehistoris, denganpendekatankualitatif, karenabertujuanmenuangkanhasilkajianberdasarkanargumentasidanpemahaman yang mendalamsecaradeskripsi. Metodehistorisadalahsuatu proses mengujidanmenganalisissecarakritisrekamanpeninggalan masa lampau. Sehinggadalamhalini, penelitiakanmelakukanpengujiandananalisisterhadapsumber-sumber yang berhubungandengankajian yang penelitibahas. Langkah-langkahdalammetodehistorisiniterdiridari, heuristik, kritiksumber, interpretasi, danhistoriografi. Masalahutamadalamtesisiniterbagikedalamempatpertanyaanpenelitiandiantaranya, 1) Bagaimanapokok-pokokpemikiran Ki HajarDewantaratentangkarakterdanpendidikankebangsaan di Indonesia?, 2) Sumber-sumberpemikiranapa yang menginspirasipemikiran Ki HajarDewantara?, 3) Bagaimanaimplementasipemikiran Ki HajarDewantaratentangkarakterdanpendidikankebangsaanterhadappendidikan di Indonesia?, 4) Bagaimanarelevansipemikirankarakterdanpendidikankebangsaan Ki HajarDewantaradalamkeilmuanpendidikankewarganegaraan?. Ki HajarDewantaramengungkapkanbahwa, “pendidikannasionalseharusnyamenimbulkan rasa cintaterhadapkebudayaandankebatinan (mental culture) sendiri”. Beliau juga mengungkapkanbahwa, a) pengajaranrakyatharuslahbersemangatkeluhuranbudimanusia; karenanyaharusmementingkansegalanilaikebatinan (mental culture) danmenghidupkansemangat idealism; b) pengajaranrakyatharusmendidikkearahkecerdasanbudipekerti, yaknimatangnyajiwaseutuhnya (character building); c) pengajaranrakyatharusmendidikkearahkekeluargaan, yaknimerasabersama-samahidup, bersama-samasusahdansenang, bersama-samatanggungjawab, dsb; mulaikekeluargaandalamlingkungankecil, sampaikekeluargaan yang besar (misalnyakekeluargaanbangsa-bangsa). Pendidikankarakterharusdilaksanakandenganngerti-ngroso-nglakoni (menyadari, menginsyafi, danmelakukan). Ki HajarDewantaramenggunakan kata karakterdengan kata lain yaknibudi-pekerti, yang bermaknaperpaduangerakantarafikiran, perasaandankehendak yang menghasilkantenaga. Sedangkanpendidikankebangsaanmerupakanpendidikan yang berlandaskanakankebudayaanbangsa. Kata kunci:Ki HajarDewantara, Karakter, PendidikanKebangsaan;--- This thesis entitled "Ki HajarDewantara's thoughts on character and national awareness education". The authors expected through the thesis research,she could be able to provide benefits for students and the general public about the thoughts of Ki HajarDewantara. The method used was the historical method, using a qualitative approach, aimed to pour the results of the study based on intensive argumentation and in-depth understanding of a description. The historical method was a process of examining and critically analyzing the recording of the past relic. So in this case, researchers conducted testing and analysis of the sources related to the study that researchers discussed. The steps in this historical method consisted of, heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The main problem in this thesis was divided into four research questions i.e.: 1) How were the main points of Ki HajarDewantara’s thoughts about the character and education of nationhood in Indonesia?, 2) What sources of thought inspired Ki HajarDewantara's thinking?, 3) How to implemented thinking Ki HajarDewantara about the character and education of nationality towards education in Indonesia?, 4) How was the relevance of character thinking and national education Ki HajarDewantara in the scholarship of civic education?. Ki HajarDewantararevealsed that, "National education should generate a sense of love for culture and mental culture itself." He also revealsed that a) the teaching of the people must be passionate to the virtues of man; Therefore if must attach the importance to all the values of mental culture and enliven the spirit of idealism; b) the teaching of the people must educate towards the intelligence of character, the maturation of the whole soul (character building); c) the teaching of the people should educate them toward kinship, that was to feel together life, together with hard and happy, together responsibility, etc.; begin kinship in small environments, to large the families (eg, the kinship of nations). Character education should be done with ngerti-ngroso-nglakoni (realize, come to realize, and do).Ki HajarDewantara uses the word character in other words ie mind-pekerti, which means a blend of motion between the mind, feelings, and wills that generate energy. While the education of nationality was an education based on the nation's culture. Keywords: Ki HajarDewantara, Character, National Awarness Educatio

    No full text

    91,208

    full texts

    91,757

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository UPI is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇