91757 research outputs found
Sort by
MODEL PERILAKU PENGGUNA DALAM MENINGKATKAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN DAN LOYALITAS MEREK APLIKASI STATISTIK LAPANGBOLA
Loyalitas merek pada platform digital semakin dipengaruhi oleh pengalaman pengguna dan kebiasaan pengguna dalam mengonsumsi media, namun model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) klasik belum mengakomodasi variabel tersebut dalam konteks aplikasi olahraga. Penelitian ini mengisi gap terkait dengan pengembangan model perilaku pengguna berbasis integrasi UTAUT dan digital media habit dalam menjelaskan pengaruh keputusan penggunaan terhadap loyalitas merek, serta gap terkait minimnya studi yang menelaah loyalitas pengguna aplikasi statistik sepak bola secara komprehensif di tengah menurunnya tingkat loyalitas pengguna Lapangbola. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model perilaku pengguna dengan mengintegrasikan UTAUT dan variabel digital media habit, guna meningkatkan keputusan penggunaan dan loyalitas merek terhadap aplikasi statistik Lapangbola. Populasi penelitian terdiri atas 14.000 pengguna aktif platform live.lapangbola.com, dengan 189 responden yang dipilih secara acak (Simple Random Sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui survey online, dan analisis data menggunakan Partial Least Squares (PLS) dengan SmartPLS 3.27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Performance Expectancy, Effort Expectancy, dan Digital Media Habit secara signifikan mempengaruhi keputusan penggunaan aplikasi, sedangkan Social Influence dan Facilitating conditions tidak berpengaruh signifikan. Keputusan penggunaan terbukti memediasi hubungan antara variabel-variabel tersebut dengan loyalitas merek. Penelitian ini menawarkan perluasan teori dengan memasukkan aspek digital media habit yang relevan di era digitalisasi saat ini. Kontribusi penelitian ini terletak pada pembangunan model yang lebih komprehensif untuk menjelaskan adopsi dan loyalitas pengguna aplikasi olahraga berbasis digital, menyempurnakan teori loyalitas merek dalam sektor digital, memperluas pengetahuan terkait perilaku konsumen digital, dan memperkaya teori pemasaran digital.
Brand loyalty on digital platforms is increasingly shaped by user experience and media consumption habits; however, the classical Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) has yet to incorporate these variables in the context of sports applications. This study addresses the theoretical gap concerning the integration of UTAUT with digital media habit to explain the effect of decision to use on brand loyalty, and the empirical gap arising from the scarcity of comprehensive investigations into the loyalty of football statistics app users, particularly amid the declining loyalty of Lapangbola users. The research aims to develop a user behaviour model that integrates UTAUT constructs with the digital media habit variable to enhance decision to use and brand loyalty toward the Lapangbola statistics application. The study population comprises 14,000 active users of the live.lapangbola.com platform, from which 189 respondents were selected through simple random sampling. Data were collected via an online survey and analysed using Partial Least Squares (PLS) in SmartPLS 3.27. The results indicate that Performance Expectancy, Effort Expectancy, and Digital Media Habit significantly influence decision to use, whereas Social Influence and Facilitating Conditions do not exert a significant effect. The decision to use are shown to mediate the relationships between the aforementioned variables and brand loyalty. By incorporating digital media habit—a construct highly pertinent in the current era of digitalisation—this study extends existing theory. The contribution of this research lies in building a more comprehensive model to explain the adoption and loyalty of digital-based sports application users, refining the theory of brand loyalty in the digital sector, expanding knowledge related to digital consumer behavior, and enriching digital marketing theory
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA SEKATA CARD GAME UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MATERI DIRI DAN LINGKUNGAN PADA SISWA FASE A SEKOLAH DASAR
Latar belakang penelitian ini bermula dari permasalahan rendahnya kemampuan membaca permulaan siswa, yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan karakteristik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media sekata card game dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada materi diri dan lingkungan siswa Fase A di sekolah dasar. Sebagai solusi, diterapkan media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan melalui sekata card game. Penelitian ini menggunakan pendekatan pre-eksperimental dengan desain yang memungkinkan pengukuran kemampuan siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Subjek penelitian terdiri dari siswa kelas rendah di salah satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Pangalengan. Instrumen yang digunakan meliputi tes membaca permulaan untuk memperoleh data yang komprehensif. Teknik analisis data mencakup uji distribusi data, hasil implementasi sebelum dan sesudah perlakuan, serta analisis peningkatan kemampuan siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca permulaan setelah penggunaan media sekata card game. Media ini terbukti cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca awal siswa, terutama karena mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, bermakna, dan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi diri dan lingkungan.
The background of this study stems from the problem of low students' beginning reading skills, one of which is caused by the limitations of learning media that are interesting and in accordance with the characteristics of students. This study aims to determine the effectiveness of using sekata card game media in improving the ability of beginning reading on the material of self and environment of Phase A students in elementary school. As a solution, interactive and fun learning media through sekata card game is applied. This study used a pre-experimental approach with a design that allows the measurement of students' abilities before and after treatment. The research subjects consisted of low-grade students in one of the public elementary schools in Pangalengan District. The instruments used included a beginning reading test to obtain comprehensive data. Data analysis techniques included data distribution tests, implementation results before and after treatment, and analysis of student ability improvement. The results showed a significant improvement in beginning reading ability after the use of sekata card game media. This media proved to be quite effective in improving students' early reading skills, especially because it was able to create a fun, meaningful learning atmosphere, and involve students actively in the learning process of Indonesian language, especially in the material of self and environment
ANALYSIS OF THE ROLE OF THE SCHOOL ENVIRONMENT IN IMPROVING THE SELF-CONFIDENCE OF 4TH GRADE STUDENTS AT SDIT AT-TAQWA ANALISIS PERAN LINGKUNGAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN SIKAP PERCAYA DIRI SISWA KELAS 4 SDIT AT-TAQWA
This study aims to identify and analyze the role of the school environment in enhancing the self-confidence of fourth-grade students at SDIT At-Taqwa. The school environment in this context includes the social environment (teachers and peers), the non-social environment (physical facilities), as well as school programs that support students' courage and participation in the learning process.
This research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through classroom observation, interviews with the principal, homeroom teacher, and subject teachers (Islamic Studies, Physical Education, and Qur’an memorization), as well as documentation for supporting data. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing.
The findings indicate that the school environment plays an active role in improving students' self-confidence through supportive teacher approaches, regular speaking practices in the Ta’lim program, peer support, and a child-friendly, flexible classroom setting. School facilities such as comfortable classrooms and spacious sports areas also contribute to a safe atmosphere that encourages students to participate actively.
The study concludes that a positively managed and integrated school environment can significantly contribute to the development of students’ self-confidence. Future researchers are encouraged to expand this study using a quantitative approach or by conducting comparative studies across different grade levels.
Keywords: school environment, self-confidence, fourth-grade students, Ta’lim program.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran lingkungan sekolah dalam meningkatkan sikap percaya diri siswa kelas IV SDIT At-Taqwa. Lingkungan sekolah yang dimaksud mencakup lingkungan sosial (guru dan teman sebaya), lingkungan nonsosial (fasilitas fisik), serta program-program sekolah yang mendukung keberanian dan partisipasi siswa dalam pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi di kelas IV, wawancara dengan kepala sekolah, guru wali kelas, dan guru mata pelajaran (PAI, PJOK, dan hafalan surat), serta dokumentasi sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah berperan aktif dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui pendekatan guru yang suportif, pembiasaan tampil dalam program Ta’lim, dukungan dari teman sebaya, dan pengelolaan kelas yang ramah serta fleksibel. Fasilitas sekolah seperti ruang kelas yang nyaman dan area olahraga yang luas turut mendukung rasa aman dan keberanian siswa untuk berpartisipasi aktif.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa lingkungan sekolah yang dikelola secara positif dan terpadu mampu memberikan kontribusi nyata dalam menumbuhkan sikap percaya diri siswa. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan studi ini dengan pendekatan kuantitatif atau membandingkan antar jenjang kelas.
Kata Kunci: lingkungan sekolah, kepercayaan diri, siswa kelas IV, program Ta’li
IMPLEMENTASI ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBORS PADA MODEL REKOMENDASI MAKANAN BERDASARKAN NUTRISI INDIVIDU
Nutrisi yang tepat dan seimbang merupakan aspek yang krusial untuk menjaga kesehatan, mencegah malnutrisi dan menurunkan risiko penyakit kronis seperti obesitas, hipertensi, gangguan ginjal, dan diabetes. Meskipun akses informasi mengenai nutrisi dan gizi semakin mudah diakses, rekomendasi makanan yang saat ini ada cenderung bersifat umum, konvensional dan hanya berbasis kecocokan kalori, tanpa mempertimbangkan personalisasi nutrisi dan kebutuhan makronutrien termasuk karbohidrat, protein, dan lemak secara personal. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan algoritma K-Nearest Neighbors (KNN) karena kemampuaanya dalam menangani data numerik dan kategorikal serta adaptif terhadap variasi individu. Dataset yang digunakan terdiri dari data profil individu dan data resep makanan. KNN diterapkan dalam dua tahap utama yaitu prediksi kebutuhan nutrisi harian individu yang diperoleh berdasarkan data usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan tingkat aktivitas harian dan rekomendasi makanan berdasarkan kebutuhan nutrisi tersebut. Dengan menggunakan nilai K = 5 dan metrik Euclidean Distance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model prediksi nutrisi menghasilkan nilai Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,262252 dan Root Mean Squared Error (RMSE) sebesar 0,387986. Sementara, model rekomendasi makanan menghasilkan MAE sebesar 0,281922 dan RMSE sebesar 0,403113. Hasil ini menunjukkan bahwa model mampu memprediksi kebutuhan nutrisi secara akurat dan merekomendasikan makanan secara sesuai.
---------
Appropriate and balanced nutrition is a crucial aspect of maintaining health, preventing malnutrition, and reducing the risk of chronic diseases such as obesity, hypertension, kidney disorders, and diabetes. Although access to information about nutrition and dietary intake is increasingly easy, current food recommendations tend to be general, conventional, and based solely on caloric matching, without considering personalized nutrition and personal macronutrient needs, including carbohydrates, protein, and fats. This study aims to implement the K-Nearest Neighbors (KNN) algorithm because of its ability to handle both numerical and categorical data and its adaptability to individual variation. The dataset used consists of individual profile data and meal recipe data. KNN is applied in two main stages, predicting an individual’s daily nutritional requirements based on age, gender, height, weight, and daily activity level and recommending foods according to those nutritional requirements. A value of K = 5 and the Euclidean Distance metric are used. The results show that the nutritional prediction model achieves a Mean Absolute Error (MAE) of 0.262252 and a Root Mean Squared Error (RMSE) of 0.387986. Meanwhile, the food recommendation model yields an MAE of 0.281922 and an RMSE of 0.403113. These findings indicate that the model is capable of accurately predicting nutritional needs and recommending foods accordingly
PENGARUH MODEL PROBLEM-BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIS BERDASARKAN KATEGORI RESILIENSI MATEMATIS PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS
Penelitian ini mengkaji pengaruh model Problem-based Learning (PBL) terhadap kemampuan literasi matematis siswa Sekolah Menengah Atas, dengan mempertimbangkan kategori resiliensi matematis mereka. Matematika merupakan mata pelajaran esensial untuk pengembangan kognitif dan prestasi siswa, serta penting dalam pemecahan masalah kehidupan modern. Namun, kemampuan literasi matematis di Indonesia masih menjadi tantangan, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ketergesaan siswa, kurangnya ketelitian, kesalahan penulisan simbol, rumus tidak lengkap, dan kurangnya inovasi pengajar. Di sisi lain, resiliensi matematis, yang didefinisikan sebagai sikap gigih, percaya diri, dan antusias dalam menghadapi kesulitan matematika, merupakan soft skill penting yang memengaruhi literasi matematis. Siswa dengan resiliensi tinggi cenderung lebih mampu mengontrol emosi, bersikap optimis, berinteraksi sosial, dan kreatif dalam memecahkan masalah. Model problem-based learning, yang berfokus pada masalah nyata, mendukung pemikiran kritis dan kreatif siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen dan desain non-equivalent group design. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dari siswa kelas X di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test literasi matematis, serta angket resiliensi matematis, kemudian dianalisis dengan IBM SPSS 26 dan Microsoft Excel. Hasil analisis menunjukkan bahwa model Problem-based Learning tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan literasi matematis secara keseluruhan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh durasi perlakuan yang singkat (hanya 3 pertemuan), di mana pengembangan literasi matematis yang kompleks membutuhkan adaptasi lebih lama. Selain itu, ditemukan kemiripan dalam proses menjawab tes antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, karena model pembelajaran konvensional di kelas kontrol secara tidak langsung menerapkan beberapa langkah yang menyerupai model Problem-based Learning. Namun, resiliensi matematis secara signifikan memengaruhi kemampuan literasi matematis siswa. Tidak ditemukan interaksi signifikan antara model Problem-based Learning dan resiliensi matematis terhadap literasi matematis. Ini menyiratkan bahwa resiliensi adalah kemampuan diri sendiri yang konsisten memengaruhi literasi matematis, terlepas dari metode pembelajaran.
This research investigates the influence of the Problem-based Learning (PBL) model on the mathematical literacy ability of High School students, considering their categories mathematical resilience. Mathematics is a crucial subject for cognitive development and student achievement, and it is important in solving modern life problems. However, mathematical literacy, the ability to identify, interpret, use, and communicate information to solve daily problems, remains a challenge in Indonesia. Factors such as student haste, lack of thoroughness, incorrect symbol notation, incomplete formulas, and lack of educator innovation contribute to low mathematical literacy. Additionally, mathematical resilience, defined as a tenacious, confident, and enthusiastic attitude when facing mathematical difficulties, is an important soft skill that affects mathematical literacy. Students with high resilience are better able to control their emotions, be optimistic, have good social interactions, and be creative in solving problems. The Problem-based Learning model, as a teaching model focused on real-world problems, supports students' critical and creative thinking. This study used a quantitative approach with a quasi-experimental method and a non-equivalent group design. Samples were selected using a purposive sampling technique from class X students in a State High School in Bandung. Data were collected through pre-test and post-test for mathematical literacy ability, and a mathematical resilience questionnaire, then analyzed with IBM SPSS 26 and Microsoft Excel. The analysis results showed that the Problem-based Learning model did not have a significant influence on overall mathematical literacy ability. This is likely due to the short duration of the intervention (only 3 meetings), where the development of complex mathematical literacy requires a longer adaptation period. Furthermore, similarities were found in the test answering process between the experimental and control classes, as the conventional learning model in the control class indirectly applied some steps resembling the Problem-based Learning model. However, mathematical resilience significantly influenced students' mathematical literacy ability. There was no significant interaction between the Problem-based Learning model and mathematical resilience on mathematical literacy. This implies that resilience is an intrinsic ability that consistently affects mathematical literacy, regardless of the teaching method
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PREDICT OBSERVE EXPLAIN (POE) TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA SEKOLAH DASAR: Quasi-Eksperimen pada Kelas V dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SDIT Al-Bina Tahun ajaran 2024/2025
Keterampilan sosial menjadi salah satu keterampilan yang sangat penting dikembangkan dalam pembelajaran IPS karena dapat melatih tanggung jawab, interaksi-komunikasi, kerja sama, empati-simpati, pengendalian diri dan berbagai aspek sosial lainnya. Namun fenomena yang ditemukan menunjukan masih rendahnya keterampilan sosial siswa sekolah dasar. Penerapan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) identik dengan pembelajaran berbasis sains, namun dengan adanya penerapan pada pembelajaran IPS menjadi salah satu inovasi baru dalam meningkatkan keterampilan sosial. Hal ini menjadi dasar dari terlaksananya penelitian pada skripsi ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui peningkatan keterampilan sosial siswa yang menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) lebih baik dari siswa yang menggunakan model pembelajaran kontekstual. 2) mengetahui pengaruh penggunaan model Predict Observe Explain (POE) terhadap peningkatan keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan bentuk non-equivalent control group design pada pembelajaran IPS materi perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme. Instrument yang digunakan dalam penelitian adalah tes keterampilan sosial. Hasil penelitian dari perhitungan skor n-gain kelas eksperimen sebesar 0.5320 dan kelas control sebesar 0.3111 dan hasil dari perhitungan regresi menunjukan adanya pengaruh model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) sebesar 36,4%. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah; 1) Terdapat peningkatan keterampilan sosial terhadap siswa sekolah dasar yang menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) lebih baik daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran konteksstual; 2) Terdapat pengaruh model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) .
Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE) .
-----
Social skills are among the essential skills that need to be developed in social studies learning as they can foster responsibility, interaction-communication, cooperation, empathy-sympathy, self-control, and various other social aspects. However, the phenomenon observed indicates a still low level of social skills among elementary school students. The application of the Predict Observe Explain (POE) learning model is identical to science-based learning, but its implementation in social studies learning represents a new innovation to enhance social skills. This underpins the conduct of research in this thesis. The purpose of this study is 1) to determine whether the increase in social skills of students using the Predict Observe Explain (POE) learning model is better than that of students using the contextual learning model. 2) to find out the effect of using the Predict Observe Explain (POE) model on the improvement of social skills of elementary school students. The method used in this research is a quasi-experiment with a non-equivalent control group design on social studies learning material about the struggle of the Indonesian nation against colonialism and imperialism. The instrument used in the study was a social skills test. The results of the study from the n-gain score calculations showed that the experimental class had a score of 0.5320 and the control class also had a score of 0.3111. Furthermore, the results from the regression analysis indicated that the Predict Observe Explain (POE) learning model had an influence of 36,4%. The conclusions obtained from this study are: 1) There is an improvement in social skills among elementary school students using the Predict Observe Explain (POE) learning model compared to students using the contextual learning model; 2) There is an effect of the Predict Observe Explain (POE) learning model
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBANTUAN MEDIA DIGITAL ASSEMBLR EDU TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SEKOLAH DASAR: Penelitian Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas V SDN PUCUNG III
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan media digital Assemblr Edu terhadap keterampilan proses sains siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group. Subjek penelitian adalah 50 siswa kelas V SDN Pucung III, dengan kelas eksperimen memperoleh perlakuan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan Assemblr Edu dan kelas kontrol memperoleh pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian berupa tes berupa soal pilihan ganda keterampilan proses sains (Pretest dan Pretest ) serta lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara keterampilan proses sains siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis data menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan Assemblr Edu memberikan pengaruh positif dengan peningkatan keterampilan proses sains sebesar 0,71 (kategori tinggi) pada kelas eksperimen, sedangkan kelas kontrol hanya mencapai peningkatan sebesar 0,32 (kategori sedang). Kemudian terdapat pengaruh dari model inkuiri terbimbing berbantuan Assemblr Edu terhadap peningkatan keterampilan proses sains siswa sekolah dasar sebesar 64%. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Model Inkuiri Terbimbing berbantuan Assemblr Edu dalam pembelajaran IPA berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa; 2) Peningkatan keterampilan proses sains siswa yang mendapatkan perlakuan model Inkuiri Terbimbing berbantuan Assemblr Edu lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan perlakuan model konvensional.
-----
This study aims to determine the effect of the guided inquiry learning model assisted by the digital media Assemblr Edu on the science process skills of elementary school students. The study employed a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The research 50 subjects were fifth-grade students at SDN Pucung III, where the experimental class received guided inquiry learning assisted by Assemblr Edu, while the control class received conventional learning. The research instrumens included multiple-choice science process skills tests (Pretest and Pretest ) and observation sheets. The results showed a significant difference in science process skills between students in the experimental class and the control class. Data analysis indicated that the guided inquiry learning model assisted by Assemblr Edu had a positive effect, with an increase in science process skills of 0.71 (high category) in the experimental class, while the control class only achieved an increase of 0.32 (moderate category). Furthermore, the guided inquiry learning model assisted by Assemblr Edu contributed to a 64% improvement in elementary school students’ science process skills. It can be concluded that: 1) The guided inquiry model assisted by Assemblr Edu in science learning has an effect on students’ science process skills; 2) The improvement in science process skills of students who received the guided inquiry learning model assisted by Assemblr Edu is better than that of students who received conventional learning
PENGUJIAN ASIMILASI DATA DALAM MENGANALISIS POLA ANGIN MUSIM DI SELAT SUNDA
Model numerik sering digunakan untuk menggambarkan kondisi laut dan atmosfer, namun hasilnya tidak selalu akurat karena keterbatasan dalam merepresentasikan kondisi nyata. Oleh karena itu, diperlukan proses asimilasi data dengan menggabungkan hasil model dan data observasi guna mengurangi ketidakpastian observasi dan kesalahan representasi model. Penelitian ini berfokus pada Selat Sunda, jalur maritim strategis dengan dinamika oseanografi kompleks yang dipengaruhi oleh angin. Tujuan penelitian adalah melakukan asimilasi data angin ASCAT dan ERA serta menganalisis pola angin sebelum dan sesudah asimilasi. Metode yang digunakan adalah Ensemble Transform Kalman Filter (ETKF). Hasil menunjukkan bahwa asimilasi memberikan peningkatan akurasi, baik pada validasi dependen maupun independen. Nilai Root Mean Square Error (RMSE) menurun setelah melalui proses asimilasi. Pengujian dilakukan pada dua periode mewakili musim berbeda, yaitu 16 Agustus 2024 (musim timur) dan 17 Desember 2024 (musim barat). RMSE pada 16 Agustus sebesar 1.4040 m/s (komponen zonal) dan 0.8111 m/s (komponen meridional), sedangkan pada 17 Desember sebesar 1.0334 m/s (komponen zonal) dan 0.7453 m/s (komponen meridional). Pola angin hasil asimilasi juga menunjukkan kesesuaian dengan data observasi BMKG. Penelitian ini mengindikasikan bahwa asimilasi data meningkatkan akurasi model dan mengisi kekosongan data secara spasial.
Numerical models are widely used to describe oceanic and atmospheric conditions; however, their results are not always accurate due to limitations in representing real-world conditions. Therefore, a data assimilation process is required by combining model outputs with observational data to reduce observational uncertainty and model representation errors. This study focuses on the Sunda Strait, a strategic maritime route with complex oceanographic dynamics influenced by wind. The objective is to assimilate ASCAT and ERA wind data and analyze wind patterns before and after assimilation. The method used is the Ensemble Transform Kalman Filter (ETKF). The results show improved accuracy through assimilation, both in dependent and independent validations. Root Mean Square Error (RMSE) values decreased after assimilation. Testing was conducted on two periods representing different monsoon seasons: 16 August 2024 (southeast monsoon) and 17 December 2024 (northwest monsoon). On 16 August, RMSE values were 1.4040 m/s (zonal component) and 0.8111 m/s (meridional component), while on 17 December, they were 1.0334 m/s (zonal component) and 0.7453 m/s (meridional component), respectively. The assimilated wind patterns showed better agreement with BMKG observational data. This study indicates that data assimilation improves model accuracy and lack of data spatially
ANALISIS IDIOM BAHASA KOREA MENGGUNAKAN LEKSEM MATA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna idiomatik leksem mata dalam idiom bahasa Korea serta menjelaskan nilai budaya Korea yang tercermin di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi. Data yang digunakan berupa 24 idiom yang mengandung leksem “mata” yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti kamus, buku, dan situs web resmi bahasa Korea. Analisis data mencakup klasifikasi idiom berdasarkan makna denotatif dan konotatif, serta unsur budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa idiom dengan leksem “mata” memiliki makna yang beragam, tidak hanya merujuk pada fungsi penglihatan secara harfiah, tetapi juga mencerminkan emosi, persepsi, penilaian, serta hubungan sosial dalam budaya Korea. Dalam penelitian ini makna idiom berleksem mata dalam bahasa Korea lebih banyak mencerminkan emosi dan dinamika sosial, bukan sekadar soal cinta meski cinta tetap jadi tema penting. Nilai-nilai budaya seperti hierarki, kolektivisme, dan citra diri pun tercermin kuat dalam penggunaannya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran bahasa Korea sebagai bahasa asing, khususnya dalam penguasaan idiom yang sarat makna budaya
MEMBENTUK KARAKTER MUSEUM DI ERA DIGITAL: ANALISIS STRATEGI SOCIAL MEDIA MARKETING DALAM MEMPERKUAT PERSONALITY BRAND MUSEUM GEOLOGI SEBAGAI SMART MUSEUM
Pada era digital, social media marketing (SMM) menjadi strategi utama dalam membentuk personality brand dan menjangkau audiens secara luas, termasuk pada sektor edukasi seperti museum. SMM memungkinkan institusi membangun hubungan interaktif dan memperkuat daya tarik melalui ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi social media marketing yang digunakan Museum Geologi dalam memperkuat personality brand sebagai smart museum, serta menganalisis perspektif wisatawan terhadap strategi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui in-depth interview dan semi-structured interview terhadap 3 pengelola Museum Geologi dan 21 wisatawan, serta observasi melalui media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Geologi telah berhasil menggunakan berbagai platform yang dinilai “mainstream” sebagai salah satu strategi yang digunakan dalam strategi social media marketing dengan memperhatikan karakteristik dari setiap platform serta segmentasi audiens. Konsistensi dan keteraturan dalam publikasi konten juga menjadi fokus penting. Konten yang diunggah oleh Museum Geologi tidak hanya memberikan informasi secara umum, tetapi juga edukatif sesuai dengan tren digital saat ini. Museum Geologi memanfaatkan berbagai fitur pada media sosial yang digunakan seperti feeds, reels, story, direct message, caption, hashtag, bio, audio atau music, bahkan kolaborasi dengan pengunjung. Temuan lain menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan oleh Museum Geologi diterima dengan baik oleh wisatawan, dinilai informatif, edukatif, serta mencerminkan karakter yang modern dan adaptif terhadap teknologi. Hal ini membentuk persepsi Museum Geologi sebagai smart museum dan menegaskan keberhasilan strategi social media marketing dalam memperkuat personality brand melalui media sosial.
In the digital era, social media marketing (SMM) has become a key strategy in shaping personality brands and reaching wider audiences, including in the educational sector such as museums. SMM enables institutions to build interactive relationships and enhance appeal through digital platforms. This study aims to analyze the social media marketing strategies employed by the Museum Geologi in strengthening its personality brand as a smart museum, as well as to explore visitor perspectives on these strategies. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth and semi-structured interviews with 3 museum management team and 21 visitors, supported by social media observations. The results show that the Museum Geologi has successfully utilized various mainstream platforms as part of its SMM strategy by adapting to each platform's characteristics and audience segmentation. Content consistency and regularity are also emphasized. The content shared by the Geological Museum is not only informative but also educational and aligned with current digital trends. The museum maximizes various social media features such as feeds, reels, stories, direct messages, captions, hashtags, bios, audio or music, and even collaborations with visitors. Further findings indicate that the information shared by the museum is well-received by visitors perceived as informative, educational, modern, and technologically adaptive. This has fostered the perception of the Museum Geologi as a smart museum and highlights the effectiveness of social media marketing in strengthening its personality brand