Indonesia University of Education

Repository UPI
Not a member yet
    91757 research outputs found

    HUBUNGAN ANTARA SOCIAL COMPARISON DENGAN DIETARY BEHAVIOR PADA MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS SUMEDANG

    Get PDF
    Social comparison merupakan sebuah fenomena sosial pada individu dengan kecenderungan membandingkan diri sendiri dengan orang lain, terutama pada tampilan fisik. Social comparison menjadi faktor terhadap individu dalam menginternalisasi bentuk tubuh ideal yang dilihat di media sosial, sehingga individu akan melakukan upaya perilaku diet atau dietary behavior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison dengan dietary behavior pada mahasiswa keperawatan. Adapun metode dari penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif dengan pendekatan korelasional. Penentuan sampel menggunakan metode cluster random sampling dengan perhitungan sampel sebanyak 215 mahasiswa dari populasi sebanyak 466 mahaiswa. Alat ukur yang digunakan untuk penelitian menggunakan instrumen social comparison diadopsi dari The Upward and Downward Appearance Comparison Scale (UDACS) untuk mengukur social comparison serta Dutch Eating Behaviour Questionnaire (DEBQ) untuk mengukur dietary behavior. Analisa data menggunakan uji korelasi pearson product moment. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif antara social comparison dengan dietary behavior, P value = 0,003 dan nilai R (Pearson’s r) = 0,200. Artinya, semakin tinggi social comparison maka semakin tinggi pula individu melakukan dietary behavior, namun hubungan ini memiliki kekuatan korelasi yang lemah. Social comparison is a social phenomenon in individuals with a tendency to compare themselves to others, especially in terms of physical appearance. Social comparison is a factor influencing individuals in internalizing the ideal body shape seen on social media, leading them to engage in dietary behaviors. This study aims to determine the relationship between social comparison and dietary behavior in nursing students. As for the method of this research, it uses descriptive quantitative with a correlational approach. The sample was determined using the cluster random sampling method, with a sample size of 215 students from a population of 466 students. The measurement tools used for the research were the Social Comparison Instrument, adapted from The Upward and Downward Appearance Comparison Scale (UDACS) to measure social comparison, and the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) to measure dietary behavior. Analyze the data using the Pearson product-moment correlation test. The results of this study indicate a positive correlation between social comparison and dietary behavior, with a P value of 0.003 and an R value (Pearson's r) of 0.200. This means that the higher the social comparison, the higher the individual's dietary behavior, but this relationship has a weak correlation strength

    SIKAP MORAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATLET FUTSAL USIA 11 - 12 TAHUN KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap moral dalam pengambilan keputusan atlet futsal usia 11–12 tahun dengan fokus pada tiga indikator utama: sikap terhadap kecurangan, sikap terhadap gamesmanship, dan sikap mempertahankan kemenangan secara proporsional. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif komparatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner moralitas dalam olahraga yang telah disesuaikan untuk anak-anak usia dini. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada indikator sikap menerima kecurangan dan mempertahankan kemenangan secara proporsional, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar atlet dalam kelompok usia ini menunjukkan konsistensi dalam menolak perilaku tidak sportif serta memahami pentingnya mempertahankan kemenangan secara adil. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan pada indikator penerimaan terhadap gamesmanship, yaitu strategi manipulatif dalam permainan yang meskipun legal, sering kali dianggap tidak etis. Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap etika bermain fair play pada usia 11–12 tahun masih berkembang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan sosial, pelatih, dan pengalaman bermain. Oleh karena itu, pembinaan moral sejak usia dini sangat penting untuk membentuk karakter atlet yang menjunjung tinggi sportivitas This study aims to analyze moral attitudes in decision-making among futsal athletes aged 11–12, focusing on three main indicators: attitudes toward cheating, attitudes toward gamesmanship, and attitudes toward maintaining a fair win. The method used was quantitative with a comparative descriptive design approach. Data were collected through a morality questionnaire in sports adapted for early childhood. The analysis revealed no significant differences in the indicators of attitudes toward accepting cheating and maintaining a fair win, indicating that most athletes in this age group consistently reject unsportsmanlike behavior and understand the importance of maintaining a fair win. However, there were significant differences in the indicator of acceptance of gamesmanship, a manipulative strategy in the game that, although legal, is often considered unethical. These findings suggest that understanding of fair play ethics among 11–12-year-olds is still developing and is influenced by various factors such as the social environment, coaches, and playing experience. Therefore, moral development from an early age is crucial for shaping athletes' character that upholds sportsmanship

    HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK HARIAN DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA REMAJA DI SMAN 3 SUMEDANG

    Get PDF
    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan kemajuan signifikan pada kalangan remaja. Kemudahan akses terhadap gadget menunjukkan bahwa mayoritas remaja saat ini memiliki tingkat aktivitas fisik rendah. Fungsi kognitif yang baik sangat berpengaruh pada prestasi akademik dan kemampuan belajar siswa. Namun, rendahnya tingkat aktivitas fisik pada remaja dapat berdampak negatif terhadap fungsi kognitif, seperti penurunan konsentrasi dan memori. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik harian dengan fungsi kognitif pada remaja di SMAN 3 Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan dengan desain korelasional. Sampel ditentukan dengan cluster random sampling berdasarkan tabel Issac dan Michael, dengan jumlah 307 responden dari 3 kelas dalam masing-masing satu angkatan. Instrumen yang digunakan yaitu Physical Activity Questionnaire for Adolescent (PAQ-A) untuk mengukur aktivitas fisik dan Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-INA) untuk mengukur fungsi kognitif. Analisis data meliputi uji deskriptif dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki aktivitas fisik pada kategori rendah dan fungsi kognitif pada kategori menurun. Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan cenderung kuat antara aktivitas fisik harian dan fungsi kognitif dengan nilai koefisien korelasi r= 0,755 dengan tingkat signifikasi p <0,001. Artinya, semakin rendah tingkat aktivitas fisik, maka semakin menurun fungsi kognitifnya. sebaliknya, semakin tinggi tingkat aktivitas fisik, semakin baik pula fungsi kognitif yang dimilikinya. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara aktivitas fisik harian dengan fungsi kognitif pada remaja di SMAN 3 Sumedang. The development of information and communication technology has provided significant progress among adolescents. Easy access to gadgets shows that the majority of adolescents today have low levels of physical activity. Good cognitive function greatly influences academic achievement and student learning abilities. However, low levels of physical activity in adolescents can have a negative impact on cognitive function, such as decreased concentration and memory. This study aims to analyze the relationship between daily physical activity and cognitive function in adolescents at SMAN 3 Sumedang. This study used a quantitative approach with a correlational design. The sample was determined by cluster random sampling based on the Issac and Michael table, with a total of 307 respondents from 3 classes in each year. The instruments used were the Physical Activity Questionnaire for Adolescents (PAQ-A) to measure physical activity and the Montreal Cognitive Assessment Indonesian Version (MoCA-INA) to measure cognitive function. Data analysis included descriptive tests and Spearman correlation tests. The results showed that most students had low physical activity and decreased cognitive function. The Spearman correlation test showed a positive and significant relationship between daily physical activity and cognitive function, with a correlation coefficient of r = 0.755 with a significance level of p <0.001. This means that the lower the level of physical activity, the lower the cognitive function. Conversely, the higher the level of physical activity, the better the cognitive function. Conclusion: There is a significant positive relationship between daily physical activity and cognitive function in adolescents at SMAN 3 Sumedang

    ANALISIS PROSES MANAJEMEN KADERISASI INTRA KAMPUS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER KEPEMIMPINAN MAHASISWA KEPERAWATAN

    Get PDF
    Pembentukan karakter kepemimpinan yang berintegritas dan kompeten merupakan tuntutan utama dalam pendidikan keperawatan. Proses kaderisasi intra kampus yang dikelola melalui fungsi manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) diharapkan menjadi wahana efektif untuk membentuk karakter tersebut, meskipun sering menghadapi kendala akademik dan inkonsistensi pelaksanaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara proses manajemen kaderisasi intra kampus dengan pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 120 mahasiswa keperawatan angkatan 2024 yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen menggunakan kuesioner valid dan reliabel yang dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kaderisasi dinilai efektif (61,7%) dan karakter kepemimpinan berada pada kategori kuat (61,7%) dengan aspek Moral Feeling tertinggi. Terdapat hubungan signifikan yang positif namun lemah (p = 0,001; rho = 0,394) antara kedua variabel, di mana dimensi Organizing memiliki hubungan paling erat sedangkan Controlling paling lemah. Disimpulkan bahwa manajemen kaderisasi berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter kepemimpinan meski bukan faktor penentu tunggal. Organisasi kemahasiswaan disarankan lebih mengutamakan pendekatan pengorganisasian yang memberdayakan (empowering) daripada pengawaThe formation of competent and high-integrity leadership character is a primary demand in nursing education.1 Intra-campus cadreization, managed through POAC functions (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), is expected to be an effective vehicle for shaping such character, despite facing academic constraints and execution inconsistencies. This study aims to analyze the relationship between the intra-campus cadreization management process and the formation of nursing student leadership character. This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach involving 120 nursing students from the class of 2024 selected via total sampling technique. Instruments included valid and reliable questionnaires analyzed using the Spearman Rank test. The results indicated that the cadreization management process was perceived as effective by the majority of respondents (61.7%), and student leadership character was in the strong category (61.7%), with Moral Feeling as the highest aspect. Statistical tests revealed a significant positive relationship between cadreization management and leadership character( p = 0.001), although the correlation strength was weak (rho = 0.394). Dimensional analysis indicated that Organizing had the strongest relationship, while Controlling had the weakest. It is concluded that cadreization management contributes positively to leadership character formation, though it is not the sole determinant factor. Student organizations are recommended to prioritize empowering organizing approaches over strict controlling to optimize character buildingsan ketat untuk mengoptimalkan pembentukan karakter

    PEMAKNAAN GENDER DAN KAITANNYA DENGAN LGBT (Studi Fenomenologi Perempuan Penonton Drama Boys’ Love Thailand di Kota Bandung)

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya popularitas drama Boys’ Love Thailand di kalangan perempuan Indonesia dan bagaimana tayangan tersebut berpotensi membentuk pemaknaan baru mengenai gender serta sikap terhadap LGBT. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami konstruksi gender yang dimiliki perempuan penonton drama Boys’ Love Thailand, menggali proses terbentuknya pemaknaan gender baru setelah menonton, serta menganalisis keterkaitan pemaknaan tersebut dengan penerimaan terhadap LGBT. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap tujuh informan perempuan berusia 18–30 tahun yang aktif mengonsumsi drama Boys’ Love Thailand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan gender informan dibentuk oleh pengalaman sosialisasi gender sejak kecil yang cenderung patriarkal, kemudian mengalami perubahan melalui representasi relasi yang setara, ekspresi gender yang fleksibel, dan narasi cinta yang tidak terbatas pada heteronormativitas dalam drama Boys’ Love Thailand sehingga memicu pergeseran pemaknaan gender. Meskipun demikian, informan tetap melakukan negosiasi antara pandangan baru dan nilai-nilai sosial yang telah mereka anut, sehingga penerimaan terhadap LGBT cenderung bersifat personal, selektif, dan kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa drama Boys’ Love Thailand berfungsi sebagai ruang refleksi yang memungkinkan terbentuknya renegosiasi makna gender, namun belum sepenuhnya mengubah sikap sosial informan terhadap LGBT di kehidupan nyata, terutama ketika berhadapan dengan norma budaya dan religius yang dominan. ; This study is motivated by the growing popularity of Thai Boys’ Love (BL) dramas among Indonesian women and how such media potentially shapes new understandings of gender and attitudes toward LGBT issues. The purpose of this research is to explore the gender constructions held by female viewers of Thai Boys’ Love dramas, examine the process through which new gender meanings are formed after viewing, and analyze how these meanings relate to their acceptance of LGBT individuals. This study employs a qualitative method with a phenomenological approach through In-depth Interviews, observations, and document analysis involving seven female informants aged 18–30 who actively consume Thai Boys’ Love dramas. The findings indicate that the participants’ gender meanings were initially shaped by early gender socialization characterized by patriarchal norms, but gradually shifted through representations of egalitarian relationships, flexible gender expressions, and non-heteronormative depictions of romance in Boys’ Love narratives. However, the informants continued to negotiate between these new perspectives and the social values they had long internalized, resulting in attitudes toward LGBT individuals that remain personal, selective, and contextual. The study concludes that Thai Boys’ Love dramas function as a reflective space that enables the renegotiation of gender meanings, yet do not fully transform viewers’ social attitudes toward LGBT identities in real-life contexts, particularly when confronted with prevailing cultural and religious norms

    PENGARUH COACH-ATHLETE RELATIONSHIP TERHADAP COMPETITIVE ANXIETY YANG DIMODERASI MENTAL TOUGHNESS PADA ATLET REMAJA DI KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah mental toughness memoderasi pengaruh coach-athlete-relationship terhadap competitive-anxiety pada atlet remaja di-Kota Bandung. Penelitian kuantitatif ini-menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah responden sebanyak 283. Tiga alat ukur yang digunakan yaitu Coach-Athlete Relationship-Questionnaire (CART-Q), Competitive State Anxiety-Inventory-2R (CSAI-2R) dan Mental-Toughness-Index (MTI), yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa coach-athlete relationship secara signifikan memengaruhi competitive anxiety, serta mental toughness secara signifikan juga memengaruhi competitive anxiety. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa mental toughness tidak memoderasi pengaruh coach-athlete relationship terhadap competitive anxiety. Meskipun begitu, ditemukan bahwa coach-athlete relationship dan mental toughness secara simultan dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap competitive anxiety. Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan adanya perbedaan yang signifikan pada coach-athlete relationship, competitive anxiety dan mental toughness berdasarkan faktor sosiodemografi seperti jenis kelamin dan lama berlatih. This study aims to determine whether mental toughness moderates the influence of coach-athlete relationships on competitive anxiety among adolescent athletes in Bandung. This quantitative study used accidental sampling with a total of 283 respondents. Three measurement tools were used, namely the Coach-Athlete Relationship Questionnaire (CART-Q), Competitive State Anxiety Inventory-2R (CSAI-2R), and Mental Toughness Index (MTI), which had been adapted into Indonesian. The results of simple linear regression analysis showed that the coach-athlete relationship significantly influenced competitive anxiety, and mental toughness also significantly influenced competitive anxiety. The results of multiple linear regression analysis show that mental toughness does not moderate the influence of the coach-athlete relationship on competitive anxiety. However, it was found that the coach-athlete relationship and mental toughness simultaneously have a significant influence on competitive anxiety. In addition, this study also found significant differences in the coach-athlete relationship, competitive anxiety, and mental toughness based on sociodemographic factors such as gender and length of training

    PENGELOLAAN DIGITAL REPOSITORY SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI ILMIAH DI POLITEKNIK PARIWISATA NHI BANDUNG: Studi Kualitatif Deskriptif

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi pemanfaatan Digital Repository Politeknik Pariwisata NHI Bandung yang belum optimal sebagai sarana komunikasi ilmiah Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pengelolaan digital repository dalam mendukung fungsi komunikasi ilmiah di Poltekpar NHI Bandung dengan fokus pada aspek keragaman konten, pengelolaan, promosi, dan diseminasi karya ilmiah pada repository. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan pada penelitian ini yaitu pengelola repository (ADAK), pustakawan dan pengguna repository. Hasil menunjukkan bahwa repository sudah cukup beragam dengan menghimpun berbagai karya ilmiah lokal sivitas akademika. Pengelolaan dilakukan berdasarkan SOP dengan alur pengumpulan karya ilmiah, verifikasi, unggah ke repository serta pengarsipan ke beberapa media. Promosi repositori yang dilakukan mengandalkan sosialisasi, masih belum cukup untuk meningkatkan visibilitas repository Diseminasi karya ilmiah dilaksanakan menggunakan sarana repository dengan aturan pembatasan akses sehingga berdampak pada pemanfaatan digital repository. Namun, terdapat prosedur khusus apabila pengguna ingin mengakses karya ilmiah secara penuh. Kesimpulannya, digital repository Politeknik Pariwisata NHI Bandung telah menjalankan peran dasar sebagai sarana penyimpanan karya ilmiah lokal sivitas akademika tetapi masih memerlukan penguatan pada aspek promosi serta diseminasi karya ilmiah terkait evaluasi pemanfaatan repository agar dapat berfungsi lebih optimal dalam mendukung fungsi komunikasi ilmiah dan peningkatan visibilitas repository. Penelitian ini dapat memperkaya kajian pengelolaan digital repository pada bidang Perpustakaan ataupun pada perguruan tinggi dalam mendukung fungsi komunikasi ilmiah serta dapat menjadi pertimbangan untuk perbaikan kebijakan dan praktik pengelolaan repositori di Politeknik Pariwisata NHI Bandung. This study was motivated by the suboptimal utilization of the Digital Repository of Politeknik Pariwisata NHI Bandung as a medium for scholarly communication. The study aimed to examine the management process of the digital repository in supporting scholarly communication functions at Poltekpar NHI Bandung, with a focus on content diversity, management, promotion, and dissemination of scholarly works in the repository. This research employed a qualitative approach with a descriptive method through interviews, observations, and documentation studies. The informants in this study were repository managers (ADAK), librarians, and repository users. The findings indicate that the repository has a fairly diverse collection by accommodating various local scholarly works produced by the academic community. Management is carried out based on standard operating procedures (SOPs), including the collection of scholarly works, verification, uploading to the repository, and archiving in several media. Promotion of the repository mainly relies on socialization activities, which are still not sufficient to increase the visibility of the repository. Dissemination of scholarly works is implemented through the repository with access restrictions, which affects the utilization of the digital repository, although specific procedures are available for users who request full access to the works. In conclusion, the digital repository of Politeknik Pariwisata NHI Bandung has fulfilled its basic role as a storage medium for local scholarly works of the academic community but still requires strengthening in the aspects of promotion and dissemination, along with evaluation of repository utilization, so that it can function more optimally in supporting scholarly communication and enhancing repository visibility. This study can enrich the discussion on digital repository management in the field of Library and Information Science and in higher education institutions in supporting scholarly communication functions, as well as serve as a consideration for improving policies and management practices of the repository at Politeknik Pariwisata NHI Bandung

    PENGARUH GASTRONOMY EXPERIENCE TERHADAP KEPUASAN WISATAWAN DI KUPAT TAHU GEMPOL KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gastronomy experience terhadap kepuasan wisatawan di Kupat Tahu Gempol Kota Bandung. Gastronomy experience dalam penelitian ini diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu kualitas lingkungan fisik, kualitas pelayanan, dan kualitas produk. Kupat Tahu Gempol dipilih sebagai objek penelitian karena merupakan salah satu kuliner tradisional legendaris Bandung yang memiliki nilai historis dan daya tarik wisata gastronomi yang kuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 wisatawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial kualitas pelayanan dan kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan wisatawan, sedangkan kualitas lingkungan fisik tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan, ketiga dimensi gastronomy experience berpengaruh signifikan terhadap kepuasan wisatawan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman gastronomi memiliki peran penting dalam membentuk kepuasan wisatawan di destinasi kuliner tradisional. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pelayanan dan konsistensi kualitas produk perlu menjadi prioritas utama dalam pengelolaan Kupat Tahu Gempol sebagai destinasi wisata gastronomi. This study aims to analyze the effect of gastronomy experience on tourist satisfaction at Kupat Tahu Gempol, Bandung City. In this study, gastronomy experience is measured through three main dimensions: physical environment quality, service quality, and product quality. Kupat Tahu Gempol was selected as the research object because it is a legendary traditional culinary destination in Bandung with strong historical value and gastronomic tourism appeal. This research employed a quantitative approach using a survey method. A purposive sampling technique was applied, involving 100 tourist respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using descriptive analysis and multiple linear regression with the assistance of SPSS version 27. The results indicate that service quality and product quality have a positive and significant effect on tourist satisfaction, while physical environment quality does not have a significant effect. Simultaneously, all dimensions of gastronomy experience have a significant influence on tourist satisfaction. These findings suggest that gastronomic experience plays an important role in shaping tourist satisfaction at traditional culinary destinations. Therefore, improving service quality and maintaining product quality consistency should be prioritized in the management of Kupat Tahu Gempol as a gastronomic tourism destination

    HUBUNGAN KONSUMSI KOPI DENGAN KEMAMPUAN STUDENT ORAL CASE ANALISYS (SOCA) PADA MAHASISWA SEMESTER 7 PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

    Get PDF
    Kopi merupakan minuman berkafein yang umum dikonsumsi oleh mahasiswa untuk meningkatkan konsentrasi dan daya tahan belajar, terutama saat menghadapi tekanan akademik. Dalam konteks pendidikan keperawatan, kemampuan analisis merupakan factor yang sangat penting, terutama dalam menghadapi ujian Student Oral Case Analysis (SOCA) yang menilai kemampuan berpikir kritis dan klinis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi dengan kemampuan analisis mahasiswa semester 7 Program Studi S1 Keperawatan Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional analitik korelasional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester 7 yang diambil melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai konsumsi kopi dan Kemampuan SOCA, lalu dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson sesuai dimana data dinyatakan normal berdasar uji asumsi Kolmogorov-smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat konsumsi kopi pada kategori sedang (74,1%) dan kemampuan SOCA pada kategori tinggi (48,2%). Uji korelasi Pearson menghasilkan nilai r = 0,240 dengan p < 0,004, yang berarti terdapat hubungan positif signifikan antara konsumsi kopi dan kemampuan SOCA, meskipun kekuatannya tergolong lemah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa konsumsi kopi dalam jumlah wajar dapat membantu meningkatkan konsentrasi, kewaspadaan, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, namun bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kemampuan analisis SOCA. Kata Kunci: Kemampuan Analisis, Konsumsi Kopi, SOCA

    PENGARUH MODEL DIRECT TEACHING MELALUI METODE CAMPURAN TERHADAP KETERAMPILAN VOLLEY BALL LIKE GAMES PADA SISWA SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh model Direct Teaching melalui metode campuran terhadap peningkatan keterampilan Volleyball Like Games pada siswa sekolah dasar, dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan bermain bola voli modifikasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental (One Group Pretest–Posttest Design). Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SDN 053 Cisitu Kota Bandung yang dipilih melalui purposive sampling, yang menerima perlakuan berupa model Direct Teaching dengan metode campuran (kombinasi latihan per bagian dan keseluruhan). Instrumen penelitian menggunakan Game Performance Assessment Instrument (GPAI) untuk mengukur keterampilan sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank Test (taraf signifikansi 0,05) setelah uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan keterampilan yang signifikan, dibuktikan dengan nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,001 (< 0,05). Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa penerapan model Direct Teaching melalui metode campuran efektif secara signifikan dalam meningkatkan keterampilan Volleyball Like Games siswa sekolah dasar

    91,208

    full texts

    91,757

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository UPI is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇