Indonesia University of Education

Repository UPI
Not a member yet
    91757 research outputs found

    PENGARUH KEGIATAN MEWARNAI GAMBAR SESUAI ANGKA TERHADAP PENINGKATAN FOKUS ANAK USIA DINI DI TK PGRI KEDUNGHALANG KABUPATEN TASIKMALAYA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kegiatan mewarnai gambar sesuai angka terhadap peningkatan fokus anak usia dini di TK PGRI Kedunghalang, Kabupaten Tasikmalaya. Fokus merupakan kemampuan penting untuk memusatkan perhatian secara konsisten dan berperan besar dalam keberhasilan belajar. Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Subjek terdiri dari 20 anak usia 5–6 tahun, dibagi menjadi kelompok eksperimen (10 anak) yang mengikuti kegiatan mewarnai sesuai angka, dan kelompok kontrol (10 anak) tanpa perlakuan tersebut. Instrumen penelitian berupa lembar observasi empat aspek fokus: fokus perhatian, ketelitian, kemandirian, dan kecepatan menyelesaikan tugas. Data diperoleh melalui pretest dan posttest, dianalisis dengan statistik deskriptif dan uji Mann-Whitney U. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen, dengan rata-rata skor pretest 31,8 (sedang) menjadi 42,2 (sedang–tinggi), serta nilai Asymp. Sig < 0,05. Kegiatan mewarnai sesuai angka efektif membantu anak mempertahankan perhatian, mengurangi distraksi, mengikuti instruksi, serta meningkatkan ketelitian dan kemandirian. Kegiatan ini direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran kreatif untuk mendukung perkembangan kognitif anak usia dini. This study aims to examine the effect of color-by-number activities on improving focus among early childhood students at TK PGRI Kedunghalang, Tasikmalaya Regency. Focus is an essential skill that enables children to consistently concentrate on a task, significantly influencing learning success. The research employed a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The subjects were 20 children aged 5–6 years, divided into an experimental group (10 children) who participated in color-by-number activities and a control group (10 children) without such treatment. The research instrument was an observation sheet covering four focus aspects: attention, accuracy, independence, and task completion speed. Data were collected through pretests and posttests and analyzed using descriptive statistics and the Mann-Whitney U test. Results showed a significant improvement in the experimental group, with the mean pretest score increasing from 31.8 (moderate) to 42.2 (moderate–high), and Asymp. Sig < 0.05. Color-by-number activities effectively helped children maintain attention, reduce distractions, follow instructions, and improve accuracy and independence. This activity is recommended as a creative teaching strategy to support the cognitive development of early childhood learners

    PERBEDAAN DIABETES SELF MANAGEMENT EDUCATION (DSME) MELALUI MEDIA FLIP CHART DAN VIDEO TERHADAP PENINGKATAN SELF CARE PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2

    Get PDF
    Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak terkelola dengan baik. Peningkatan kemampuan self-care menjadi aspek penting dalam mendukung pengendalian mandiri pasien. DSME telah banyak digunakan dalam edukasi pasien, namun perbedaan pengaruh penggunaan media video yang bersifat audio-visual dan media flipchart yang menekankan penyampaian visual terstruktur masih belum dijelaskan secara konsisten. Oleh karena itu, perbandingan kedua media tersebut terhadap peningkatan self-care pasien diabetes melitus tipe 2 perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Mengetahui perbedaan DSME menggunakan media flipchart dan video terhadap peningkatan kemampuan self care pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experiment dengan pendekatan pretest posttest two group. Sampel terdiri dari 30 orang yang ditentukan dengan teknik proposive sampling. Instrumen SDSCA digunakan untuk menilai kondisi sebelum dan sesudah intervensi. Edukasi diberikan dalam empat sesi, dengan media flipchart pada satu kelompok dan media video pada kelompok lainnya. Analisis data mencakup uji Shapiro-Wilk untuk normalitas, uji paired t-test untuk melihat perubahan skor dalam masing-masing kelompok, serta uji independent t-test untuk mengetahui perbedaan efektivitas antar kelompok. Hasil: Kedua kelompok mengalami peningkatan signifikan setelah diberikan pendidikan, dengan nilai p = 0,001 (p 0,05), sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan antara penggunaan media flipchart dan video dalam meningkatkan kemampuan self care. Kesimpulan: Diabetes Self-Management Education (DSME) yang diberikan melalui media flipchart dan video mampu meningkatkan kemampuan self-care pada pasien diabetes melitus tipe 2, tanpa perbedaan yang bermakna secara statistik antara kedua media, sehingga menunjukkan hasil yang sebanding dalam mendukung pengelolaan self care pasien. Background: Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that can lead to various complications if not managed well. Improving self-care abilities is an important aspect in supporting patient self-management. DSME has been widely used in patient education, but the difference in the impact of using audio-visual video media and flipchart media, which emphasizes structured visual delivery, has not yet been consistently explained. Therefore, the differences between these two media regarding the improvement of self-care in type 2 diabetes patients need to be further investigated. Objective: To determine the difference in DSME using flipchart and video media on improving self-care ability in type 2 diabetes mellitus patients. Method: This study uses a pre-experimental design with a pretest-posttest two-group approach. The sample consists of 30 people determined using purposive sampling technique. The SDSCA instrument is used to assess conditions before and after the intervention. Education was delivered in four sessions using a flipchart for one group and video for the other. Data analysis includes the Shapiro-Wilk test for normality, the paired t-test to examine score changes within each group, and the independent t-test to determine differences in effectiveness between groups. Results: Both groups showed significant improvement after receiving education, with a p-value of 0.001 (p 0.05), indicating no significant difference between using flipcharts and videos in improving self-care abilities. Conclusion: Diabetes Self-Management Education (DSME) delivered thru flipcharts and videos is able to improve self-care abilities in type 2 diabetes mellitus patients, with no statistically significant difference between the two media, indicating comparable results in supporting patient self-care management

    PENGARUH EDUKASI TENTANG KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN ANAK TUNARUNGU

    Get PDF
    Anak tunarungu sangat rentan mengalami kekerasan seksual karena hambatan komunikasi, keterbatasan pemahaman batasan tubuh, dan rendahnya literasi seksual orang tua. Edukasi kepada orang tua menjadi langkah preventif penting untuk melindungi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang kekerasan seksual terhadap peningkatan pengetahuan orang tua anak tunarungu. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Responden penelitian berjumlah 46 orang tua siswa tunarungu di SLB X yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Analisis data bivariat dilakukan dengan Uji Wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden (60,9%) memiliki pengetahuan kurang dengan mean skor 10,39. Setelah diberikan edukasi, pengetahuan responden meningkat secara signifikan, di mana seluruh responden (100%) berada pada kategori pengetahuan baik dengan mean skor meningkat menjadi 19,34. Hasil Uji Wilcoxon memperoleh nilai Z = –5,915 dan P-value 0,000 (p < 0,05), yang menandakan adanya perbedaan yang bermakna antara skor Pre-Test dan Post-Test. Kesimpulan penelitian ini adalah edukasi menggunakan media poster efektif dalam meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai kekerasan seksual pada anak tunarungu. Deaf children are highly vulnerable to sexual abuse due to communication barriers, limited understanding of body boundaries, and low sexual literacy among parents. Education for parents is an important preventive measure to protect children. This study aimed to determine the effect of education on sexual abuse on increasing the knowledge of parents of deaf children. This research employed a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The study involved 46 parents of deaf students at SLB X, selected using total sampling. Bivariate data analysis was conducted using the Wilcoxon signed-rank test. The results showed that before the intervention, most respondents (60.9%) had poor knowledge with a mean score of 10.39. After the education intervention, respondents’ knowledge increased significantly, with all respondents (100%) categorized as having good knowledge and the mean score rising to 19,34. The Wilcoxon test yielded a Z value of –5.915 and a P-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference between Pre-Test and Post-Test scores. The study concluded that education using poster media is effective in increasing parents’ knowledge regarding sexual abuse in deaf children

    HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG PENGGUNAAN HIGH CONTRAST BOOK SAAT TUMMY TIME TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR BAYI USIA 3-6 BULAN

    Get PDF
    Perkembangan motorik kasar bayi dipengaruhi oleh berbagai bentuk stimulasi, termasuk aktivitas tummy time yang dapat didukung dengan penggunaan media visual seperti High contrast book (HCB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan orang tua tentang penggunaan HCB saat tummy time dengan perkembangan motorik kasar bayi usia 3-6 bulan. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 97 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti mencakup pengetahuan orang tua mengenai penggunaan HCB dan perkembangan motorik kasar bayi, yang diukur menggunakan kuesioner pengetahuan berbasis Skala Guttman serta Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (98%) dan mayoritas bayi memiliki perkembangan motorik kasar normal (96%). Uji Spearman menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua dan perkembangan motorik kasar (p = 0,108; r = 0,164). Kesimpulannya, pengetahuan orang tua mengenai penggunaan HCB saat tummy time tidak berhubungan dengan perkembangan motorik kasar bayi, yang kemungkinan dipengaruhi oleh homogenitas pengetahuan serta faktor lain di luar penelitian. Gross motor development of infants is influenced by various forms of stimulation, including tummy time activities that can be supported by the use of visual media such as High contrast book (HCB). This study aims to determine the relationship between parental knowledge about the use of HCB during tummy time with gross motor development of infants aged 3-6 months. The research design used is quantitative analytic with cross-sectional approach. A sample of 97 respondents were selected using purposive sampling technique. The variables studied included parental knowledge regarding HCB use and infant gross motor development, which was measured using Guttman scale-based knowledge questionnaires and developmental pre-screening questionnaires (KPSP). Data analysis was conducted univariate and bivariate using Spearman Rank test. The results showed that most respondents had good knowledge (98%) and the majority of infants had normal gross motor development (96%). Spearman's test showed no significant relationship between parental knowledge and gross motor development (p = 0.108; r = 0.164). In conclusion, parents knowledge of HCB use during tummy time was not related to infants gross motor development, which was likely influenced by homogeneity of knowledge as well as other factors outside the study

    HUBUNGAN ANTARA MENTORSHIP DENGAN PERKEMBANGAN GROWTH MINDSET MAHASISWA MAGANG: Peran Intrinsic Motivation Dan Work Engagement

    Get PDF
    Mahasiswa magang menghadapi tantangan penting dalam proses transisi menuju dunia kerja profesional, yang menuntut kesiapan mental, motivasi internal, dan keterlibatan aktif. Salah satu pendekatan yang dinilai dapat mendukung perkembangan psikologis tersebut adalah mentorship. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara mentorship dan growth mindset pada mahasiswa magang, dengan fokus khusus pada peran mediasi motivasi intrinsik dan work engagement. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional eksplanatori. Data dikumpulkan dari 256 mahasiswa magang di Indonesia menggunakan kuesioner daring dan dianalisis menggunakan SPSS (PROCESS Model 4 by Hayes) serta SmartPLS 4 untuk validasi model struktural. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara mentorship dan growth mindset, baik secara langsung maupun melalui motivasi intrinsik dan work engagement sebagai mediator. Temuan ini menegaskan bahwa pembentukan pola pikir berkembang pada mahasiswa magang tidak hanya bergantung pada dukungan eksternal, tetapi juga pada dinamika psikologis internal yang diperkuat oleh keterlibatan kerja. Implikasi praktis ditujukan bagi institusi pendidikan dan organisasi untuk merancang program magang yang menekankan kualitas mentoring dan pemberdayaan mahasiswa. Internship students face significant challenges during their transition to the professional world, requiring mental preparedness, internal motivation, and active engagement. One approach considered supportive in this psychological development is mentorship. This study aims to examine the relationship between mentorship and growth mindset among internship students, with a specific focus on the mediating roles of intrinsic motivation and work engagement. A quantitative approach with an explanatory correlational design was employed. Data were collected from 256 internship students in Indonesia using an online questionnaire and analyzed using SPSS (PROCESS Model 4 by Hayes) and SmartPLS 4 for structural model validation. The results indicate a significant and positive relationship between mentorship and growth mindset, both directly and indirectly through intrinsic motivation and work engagement as mediators. These findings suggest that the development of a growth mindset among internship students is not solely shaped by external support but also by internal psychological dynamics strengthened through active work engagement. Practical implications are addressed to educational institutions and organizations in designing internship programs that prioritize high-quality mentoring and student empowerment

    LITERASI MATEMATIS SISWA MELALUI IMPLEMENTASI DESAIN DIDAKTIS PADA MATERI BANGUN DATAR

    Get PDF
    Literasi matematis merupakan kemampuan individu yang sangat penting untuk dimiliki siswa agar dapat menyelesaikan masalah sehari-hari dalam berbagai konteks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan literasi matematis siswa melalui implementasi desain didaktis pada materi bangun datar, khususnya pada segitiga dan persegi panjang. Subjek penelitian ini adalah 34 siswa kelas VII di salah satu SMP Negeri di Kota Cimahi, yang telah diidentifikasi mengalami hambatan dalam pemahaman konsep dasar bangun datar. Penelitian ini menggunakan pendekatan Didactical Design Research (DDR), dengan menganalisis data prospektif, metapedagogik, dan retrospektif melalui asesmen diagnostik dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami hambatan epistemologis, ontogenik, dan didaktik yang menghalangi pemahaman mereka terhadap konsep dasar bangun datar dan penerapan rumus dalam kehidupan sehari- hari. Siswa kesulitan dalam memformulasikan rumus, menggunakan rumus secara tepat, dan menyimpulkan hasil perhitungan dengan benar. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan dan menguji desain didaktis yang berfokus pada literasi matematis dan pemahaman konsep dasar bangun datar dan penerapan pembelajaran berbasis masalah yang kontekstual. Implementasi desain didaktis terbukti efektif dalam mengatasi hambatan belajar, dengan meningkatkan kemampuan literasi matematis siswa terhadap materi segitiga dan persegi panjang, serta kemampuan mereka dalam menghubungkan konsep matematika dengan situasi dunia nyata. Penelitian ini juga menekankan pentingnya penguatan pemahaman dasar sebelum beralih ke topik yang lebih kompleks. Sebagai rekomendasi, pembelajaran geometri sebaiknya lebih mengaitkan teori dengan aplikasi praktis untuk membantu siswa dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep matematis. Evaluasi berkelanjutan terhadap desain pembelajaran ini juga sangat penting untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan dan dinamika kelas. Mathematical literacy is a fundamental competence that enables individuals to apply mathematical knowledge and reasoning to analyze, interpret, and solve real-world problems across diverse contexts. This study aims to analyze and describe students’ mathematical literacy through the implementation of didactical design in plane geometry, particularly on triangles and rectangles. The subjects of this research were 34 seventh-grade students at a public junior high school in Cimahi City, who had been identified as experiencing difficulties in understanding the basic concepts of plane geometry. The study employed a Didactical Design Research (DDR) approach, analyzing prospective, metapedadidactic, and retrospective data through diagnostic assessments and structured interviews. The findings revealed that students encountered epistemological, ontogenic, and didactic obstacles that hindered their understanding of fundamental geometric concepts and the application of formulas in daily life. Students struggled to formulate formulas, apply them correctly, and accurately conclude the results of calculations. Based on these findings, the study developed and tested a didactical design focusing on mathematical literacy and conceptual understanding of plane geometry through the application of contextual problem-based learning. The implementation of the didactical design proved effective in overcoming learning barriers by enhancing students’ mathematical literacy on the topics of triangles and rectangles, as well as their ability to connect mathematical concepts with real-world situations. The study also emphasizes the importance of strengthening basic conceptual understanding before transitioning to more complex topics. As a recommendation, geometry learning should be more closely linked to practical applications to support students in comprehending and applying mathematical concepts. Continuous evaluation of this learning design is also essential to ensure alignment with classroom needs and dynamics

    DESAIN DIDAKTIS MATERI BARISAN DAN DERET BERORIENTASI LITERASI MATEMATIS MENGGUNAKAN KONTEKS ISU SOSIAL DAN LINGKUNGAN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi learning obstacle yang dialami siswa SMA dalam menyelesaikan masalah literasi matematis pada materi barisan dan deret menggunakan konteks isu sosial–lingkungan, serta mengembangkan desain didaktis hipotetis dalam kerangka Didactical Design Research (DDR). Penelitian melibatkan 35 siswa kelas XI sebagai partisipan pada tahap studi pendahuluan. Data diperoleh melalui tes diagnostik berbasis konteks dan wawancara untuk mengungkap proses berpikir siswa secara mendalam. Hasil analisis menunjukkan tiga kategori utama hambatan belajar. Hambatan ontogenik tampak pada kesulitan siswa dalam mengenali pola perubahan linear dan proporsional, keterbatasan generalisasi simbolik, dan lemahnya kemampuan representasi. Hambatan epistemologis terlihat dari miskonsepsi mengenai beda, rasio, akumulasi deret, serta ketidakpahaman terhadap konsep tak hingga dan konvergensi. Hambatan didaktis mencakup dominasi pembelajaran prosedural, penggunaan konteks yang tidak bermakna, serta penekanan pada substitusi rumus tanpa pemahaman struktural. Sebagai respons terhadap temuan tersebut, penelitian ini menyusun enam situasi didaktis hipotetis yang merepresentasikan lintasan belajar dari pola linear hingga barisan dan deret geometri tak hingga, serta pemodelan fenomena kompleks. Setiap situasi didaktis dirancang dengan memanfaatkan konteks sosial–lingkungan yang autentik sebagai titik awal proses guided reinvention untuk membangun struktur matematis secara progresif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain didaktis berbasis konteks dan reinvensi terbimbing berpotensi meminimalkan learning obstacle yang teridentifikasi. Studi lanjutan direkomendasikan untuk mengimplementasikan desain ini secara empirik guna mengevaluasi efektivitasnya terhadap perkembangan kemampuan literasi matematis siswa. This study aims to identify senior high school students’ learning obstacles in solving mathematical literacy tasks on sequences and series situated in socio-environmental contexts, and to develop a hypothetical didactical design within the framework of Didactical Design Research (DDR). The preliminary study involved 35 eleventh-grade students as participants. Data were collected through a context-based diagnostic test and interviews to examine students’ reasoning processes in depth. The analysis revealed three major categories of obstacles. Ontogenic obstacles include difficulties in recognizing linear and proportional patterns, limited symbolic generalization, and weak representational abilities. Epistemological obstacles manifest in students’ misconceptions regarding differences, ratios, accumulation in arithmetic and geometric series, and misunderstandings of infinity and convergence. Didactical obstacles arise from predominantly procedural instruction, decontextualized tasks, and heavy reliance on formula substitution without structural comprehension. In response to these findings, six hypothetical didactical situations were constructed to outline a learning trajectory extending from linear patterns to infinite geometric series and the modeling of complex socio-environmental phenomena. Each situation was designed to employ authentic contexts as a starting point for guided reinvention, enabling students to construct the underlying mathematical structures progressively. The study concludes that contextualized didactical design grounded in guided reinvention has the potential to reduce the identified learning obstacle. Further research is recommended to experimentally implement and evaluate the proposed design to determine its effectiveness in enhancing students’ mathematical literacy abilities

    ENKRIPSI TERAUTENTIKASI DENGAN CHACHA20 DAN HASH-BASED MESSAGE AUTHENTICATION CODE SECURE HASH ALGORITHM 256

    Get PDF
    Perkembangan teknologi yang pesat mendorong data disimpan dalam bentuk file digital dengan berbagai format. Namun, tidak semua format file memiliki proteksi bawaan. Oleh karena itu, keamanan dan integritasnya perlu untuk dijaga agar terhindar dari serangan siber. Untuk mengatasi hal tersebut, teknik kriptografi berupa enkripsi terautentikasi digunakan untuk menjaga kerahasiaan dan integritas data secara bersamaan. Enkripsi terautentikasi merupakan gabungan dari algoritma enkripsi dan autentikasi. Penelitian ini menggunakan ChaCha20 sebagai algoritma enkripsi dan Hash-based Message Authentication Code Secure Hash Algorithm 256 (HMAC SHA-256) sebagai algoritma autentikasi. Kedua algoritma tersebut digabungkan menggunakan skema Encrypt-then-MAC. Skema ini bekerja dengan cara mengenkripsi file sehingga menghasilkan cipherteks. Lalu, cipherteks tersebut dihitung nilai MAC-nya dan disisipkan pada cipherteks. Nilai MAC tersebut digunakan untuk memverifikasi perubahan data pada file sebelum didekripsi. Program aplikasi enkripsi terautentikasi dengan ChaCha20 dan HMAC SHA-256 dikonstruksi menggunakan bahasa pemograman Python. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program tersebut dapat mengamankan file dalam berbagai format serta dapat mendeteksi perubahan pada file sehingga integritasnya dapat terjaga. Rapid technological developments encourage data to be stored in digital files in various formats. However, not all file formats have built-in protection. Therefore, their security and integrity need to be maintained to avoid cyber attacks. To address this issue, cryptographic techniques specifically authenticated encryption is used to simultaneously maintain data confidentiality and integrity. Authenticated encryption is a combination of encryption and authentication algorithms. This study uses ChaCha20 as the encryption algorithm and Hash-based Message Authentication Code Secure Hash Algorithm 256 (HMAC SHA-256) as the authentication algorithm. These two algorithms are combined using the Encrypt-then-MAC scheme. This scheme works by encrypting a file to produce ciphertext. Then, the ciphertext's MAC value is calculated and embedded into the ciphertext. The MAC value is used to verify data changes in the file before decryption. The authenticated encryption application program with ChaCha20 and HMAC SHA-256 is constructed using the Python programming language. The research results show that the program can secures files in various formats and detects file modification so that their integrity can be maintained

    PENGEMBANGAN BOLU KUKUS DENGAN PENAMBAHAN KACANG MERAH SEBAGAI MAKANAN SELINGAN TINGGI ZAT BESI UNTUK REMAJA PUTRI

    Get PDF
    Anemia merupakan salah satu permasalahan gizi yang banyak dialami oleh remaja putri, yang sebagian besar disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi. Salah satu upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pengembangan pangan selingan bergizi yang disukai oleh remaja putri. Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk bolu kukus dengan penambahan kacang merah sebagai makanan selingan tinggi zat besi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Penentuan starting recipe dilakukan melalui analisis resep yang dilanjutkan dengan uji Quantitative Descriptive Analysis (QDA) oleh lima panelis terlatih untuk menilai dan menyempurnakan mutu sensorik. Formula pengembangan menggunakan kacang merah rebus yang dihaluskan. Formula pengembangan dibuat dalam lima formulasi yaitu BKKM 1 dengan penambahan kacang merah 60 g, BKKM2 dan BKKM4 dengan penambahan 80 g, serta BKKM3 dan BKKM5 dengan penambahan 100g. Hasil QDA menunjukkan bahwa produk pengembangan terpilih yaitu produk BKKM5 memiliki warna cerah, tekstur lembut, rasa manis seimbang, aroma vanili dan mempunyai rasa dari kacang merah. Uji kandungan zat besi dilakukan pada produk terpilih yaitu BKKM5 dengan melakukan analisis perhitungan berdasarkan TKPI serta dengan melakukan uji laboratorium dengan menggunakan metode Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectrometry (ICP- OES). Hasil perhitungan zat besi berdasarkan TKPI adalah 1,8 mg/55 g. Sedangkan, hasil uji laboratorium menyatakan bahwa sampel BKKM5 dengan penambahan kacang merah 100 g memiliki kandungan zat besi sebesar 0,017mg/55g. Berdasarkan hasil tersebut, maka bolu kukus dengan penambahan kacang merah 100 g belum cukup untuk memenuhi kebutuhan harian makanan selingan untuk remaja putri. Anemia is a common nutritional problem among adolescent girls, primarily caused by inadequate iron intake. One preventive strategy is to develop nutritious snack foods that appeal to adolescent girls. This study aimed to develop a steamed cake enriched with red beans as a snack of iron. The method used in this research is the experimental method. The starting recipe was determined through recipe analysis, followed by Quantitative Descriptive Analysis (QDA) conducted by five trained panelists to evaluate and refine sensory quality. The development formula uses mashed boiled red beans. The development formula is made in five formulations, there are BKKM 1 with the addition of 60 g of red beans, BKKM2 and BKKM4 with the addition of 80 g, and BKKM3 and BKKM5 with the addition of 100 g. The QDA results show that the selected development product, BKKM5, has a bright color, soft texture, balanced sweetness, vanilla aroma, and has a red bean flavor. Iron content tests were carried out on the selected product, BKKM5, by conducting calculation analysis based on TKPI and by conducting laboratory tests using the ICP-OES method. The result of the iron calculation based on TKPI is 1.8 mg/55 g. Meanwhile, the laboratory test results stated that the BKKM5 sample with the addition of 100 g of red beans has an iron content of 0.017 mg/55 g. Based on these results, steamed cake with the addition of 100 g of red beans is not enough to meet the daily needs of snacks for adolescent girls

    MODEL BIMBINGAN PSYCHO-CYBERNETICS UNTUK PENGEMBANGAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA PENYANDANG DEPRIVASI SOSIAL DI KABUPATEN PANGANDARAN

    Get PDF
    Kepercayaan diri merupakan aspek fundamental dalam perkembangan psikologis remaja yang memengaruhi motivasi belajar, relasi sosial, dan pencapaian diri. Siswa penyandang deprivasi sosial, yaitu mereka yang hidup dalam kondisi keterbatasan ekonomi, dukungan emosional, serta pengakuan sosial, cenderung mengalami kepercayaan diri rendah. Kondisi ini menimbulkan hambatan adaptasi sosial dan akademik yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji dampak model bimbingan psycho-cybernetics dalam mengembangkan kepercayaan diri siswa SMA penyandang deprivasi sosial. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, diawali tahap pengembangan model melalui analisis kebutuhan, validasi ahli, dan uji terbatas, kemudian diikuti tahap implementasi eksperimen dengan rancangan pre-experiment one-group pretest-posttest design. Subjek penelitian terdiri dari 12 siswa SMA di Kabupaten Pangandaran yang teridentifikasi memiliki tingkat kepercayaan diri rendah dan merupakan penyandang deprivasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model bimbingan psycho-cybernetics berdampak dengan signifikan dalam mengembangkan kepercayaan diri siswa penyandang deprivasi sosial. Secara kualitatif, siswa menunjukkan pergeseran pola pikir dari self-doubt menuju self-acceptance, serta peningkatan motivasi dan partisipasi sosial di lingkungan sekolah. Temuan penelitian memperluas teori psycho-cybernetics dalam konteks pendidikan, khususnya bimbingan dan konseling, dengan menekankan pentingnya dimensi sosial dan kultural dalam pembentukan citra diri positif. Secara praktis, model ini dapat menjadi acuan bagi guru dan konselor sekolah dalam merancang intervensi bimbingan yang humanistik, kontekstual, dan adaptif terhadap kebutuhan siswa penyandang deprivasi sosial. Kata kunci: Bimbingan Psycho-cybernetics, Kepercayaan Diri, Deprivasi Sosial.   Self-confidence is a fundamental aspect of adolescent psychological development that influences learning motivation, social relationships, and self-achievement. Socially deprived students, namely those who live in conditions of economic limitation, emotional support, and social recognition, tend to have low self-confidence. This condition creates ongoing social and academic adaptation barriers. This study aims to develop and test the impact of a psycho-cybernetics guidance model in developing the self-confidence of high school students experiencing social deprivation. The research used a mixed methods approach with a sequential explanatory design, beginning with the model development stage through needs analysis, expert validation, and limited testing, followed by the experimental implementation stage with a pre-experiment one-group pretest-posttest design. The research subjects consisted of 12 high school students in Pangandaran Regency who were identified as having low self-confidence and experiencing social deprivation. The results showed that the psycho-cybernetics guidance model had a significant impact on developing the self-confidence of students experiencing social deprivation. Qualitatively, students showed a shift in mindset from self-doubt to self-acceptance, as well as increased motivation and social participation in the school environment. The findings of this study expand the theory of psycho-cybernetics in the context of education, particularly guidance and counseling, by emphasizing the importance of social and cultural dimensions in the formation of a positive self-image. In practical terms, this model can be used as a reference for teachers and school counselors in designing guidance interventions that are humanistic, contextual, and adaptive to the needs of students suffering from social deprivation. Keywords: Psycho-cybernetics Guidance, Self-Confidence, Social Deprivation

    91,208

    full texts

    91,757

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository UPI is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇