91757 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN SANITATION STANDARD OPERATING PROCEDURE (SSOP) PENCEGAHAN KONTAMINASI SILANG PADA TEACHING FACTORY PRODUKSI SOSIS AYAM DI APHP SMKN 2 CILAKU CIANJUR
ABSTRACT
Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) for the prevention of cross-contamination in the implementation of teaching factory chicken sausage production at APHP SMKN 2 Cilaku Cianjur was developed because it was needed as a guide for the implementation of sanitation in the production process. The implementation of chicken sausage production still uses jobsheets that do not have complete cross-contamination prevention sanitation principles. For this reason, the SSOP for preventing cross-contamination was developed so that students have standardized guidelines that can be applied to chicken sausage production activities. The objectives of this study were 1) Knowing the feasibility of the SSOP for the prevention of cross-contamination developed for the teaching factory of chicken sausage production at APHP SMKN 2 Cilaku Cianjur; 2) Knowing the results of the implementation of sanitation in the sausage production unit using the jobsheet; 3) Knowing the results of the implementation of cross-contamination prevention in the sausage production unit applying the SSOP for cross-contamination prevention; 4) Knowing the results of the TPC test of chicken sausage products produced using the jobsheet and those produced using the SSOP document for cross-contamination prevention; 5) Knowing the results of observations of changes in the characteristics of chicken sausage products produced using the jobsheet and those produced using the SSOP document for cross-contamination prevention. The cross-contamination prevention SSOP was developed using the R&D method with the ADDIE model. The feasibility of the developed SSOP was assessed based on the validation criteria of linguists, material experts, teaching factory experts, and students' assessment responses. The application of the SSOP to prevent cross-contamination was studied using a quasi experimental research method. The results of the cross-contamination prevention SSOP development research were declared “Very Feasible” by linguists, material experts, and teaching factory experts, and were declared “Feasible” by students. The results of the sanitation implementation of the control group were declared “Good” by the observer. The results of the research on the implementation of cross-contamination prevention in the experimental group were declared “Very Good” by the observer. The results showed that the chicken sausage products produced by the experimental group had better TPC test results and had a longer time span for characteristic changes or damage compared to the control group chicken sausage products.
Keywords: Prevention Of Cross - Contamination, Sanitation Standard Operating
Procedure (SSOP), Chicken Sausage, Teaching Factory.
ABSTRAK
Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) pencegahan kontaminasi silang pada pelaksanaan teaching factory produksi sosis ayam di APHP SMKN 2 Cilaku Cianjur dikembangkan karena diperlukan sebagai panduan pelaksanaan sanitasi pada proses produksi. Pelaksanaan produksi sosis ayam masih menggunakan jobsheet yang belum memiliki prinsip sanitasi pencegahan kontaminasi silang yang lengkap. Untuk itu SSOP pencegahan kontaminasi silang dikembangkan agar peserta didik memiliki pedoman baku yang dapat diterapkan pada kegiatan produksi sosis ayam. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui kelayakan SSOP pencegahan kontaminasi silang yang dikembangkan untuk teaching factory produksi sosis ayam di APHP SMKN 2 Cilaku Cianjur; 2) Mengetahui hasil keterlaksanaan penerapan sanitasi di unit produksi sosis yang menggunakan jobsheet; 3) Mengetahui hasil keterlaksanaan penerapan pencegahan kontaminasi silang di unit produksi sosis yang menerapkan SSOP pencegahan kontaminasi silang; 4) Mengetahui hasil uji TPC produk sosis ayam yang dihasilkan menggunakan jobsheet dan yang dihasilkan menggunakan dokumen SSOP pencegahan kontaminasi silang; 5) Mengetahui hasil pengamatan perubahan karakteristik produk sosis ayam yang dihasilkan menggunakan jobsheet dan yang dihasilkan menggunakan dokumen SSOP pencegahan kontaminasi silang. SSOP pencegahan kontaminasi silang dikembangkan menggunakan metode R&D dengan model ADDIE. Kelayakan dari SSOP yang dikembangkan dinilai berdasarkan kriteria validasi ahli bahasa, ahli materi, ahli teaching factory, dan respon penilaian peserta didik. Penerapan SSOP pencegahan kontaminasi silang diteliti menggunakan metode penelitian quasi experimental. Hasil penelitian pengembangan SSOP pencegahan kontaminasi silang dinyatakan “Sangat Layak” oleh ahli bahasa, ahli materi, dan ahli teaching factory, serta dinyatakan “Layak” oleh peserta didik. Hasil keterlaksanaan sanitasi kelompok kontrol dinyatakan “Baik” oleh observer. Hasil penelitian keterlaksanaan pencegahan kontaminasi silang pada kelompok eksperimen dinyatakan “Sangat Baik” oleh observer. Hasil penelitian menunjukkan produk sosis ayam yang dihasilkan oleh kelompok eksperimen memiliki hasil uji TPC yang lebih baik dan memiliki rentang waktu perubahan karakteristik atau kerusakan yang lebih lama dibandingkan dengan produk sosis ayam kelompok kontrol.
Kata kunci: Pencegahan Kontaminasi Silang, Sanitation Standard Operating Procedure
(SSOP), Sosis Ayam, Teaching Factory
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS DITINJAU DARI TINGKAT SELF-EFFICACY: Studi Fenomenologi Siswa SMP pada Materi Penjabaran dan Pemfaktoran Bentuk Aljabar
Kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif matematis saling melengkapi dalam pemecahan masalah. Self-efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya menyelesaikan tugas tertentu. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tingkat self-efficacy siswa, kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif matematis serta bagaimana keduanya pada berbagai tingkat self-efficacy. Metode penelitian adalah fenomenologi dengan pendekatan kualitatif, melibatkan 25 siswa kelas IX di suatu SMP di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat yang telah mempelajari materi penjabaran dan pemfaktoran bentuk aljabar. Data dikumpulkan melalui teknik tes berupa tes kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif matematis dan teknik nontes berupa angket self-efficacy, pedoman wawancara, dan daftar cek studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki self-efficacy sedang. Pada tes berpikir kritis, mayoritas siswa memenuhi indikator elementary clarification dan basic support. Pada tes berpikir kreatif, mayoritas siswa memenuhi indikator fluency. Mayoritas siswa lebih dominan dalam berpikir kritis matematisnya. Siswa dengan self-efficacy tinggi memiliki kemampuan berpikir kritis yang bervariasi dan mencolok, self-efficacy sedang relatif setara (cukup baik), self-efficacy rendah cenderung rendah. Selanjutnya, setiap tingkat self-efficacy memiliki kemampuan berpikir kreatif cenderung rendah. Terakhir, siswa dengan self-efficacy tinggi menunjukkan capaian berpikir kritis bervariasi dan berpikir kreatif cenderung rendah, siswa dengan self-efficacy sedang relatif setara dalam berpikir kritis tetapi rendah dalam berpikir kreatif, siswa dengan self-efficacy rendah menunjukkan keterbatasan pada kedua kemampuan tersebut.
Mathematical critical thinking and creative thinking complement each other in problem-solving. Self-efficacy is an individual's belief in their ability to complete a particular task. This study aims to explore students' levels of self-efficacy, mathematical critical thinking, and creative thinking abilities, and how these two abilities differ at various levels of self-efficacy. The study method is phenomenology with a qualitative approach, involving 25 ninth-grade students at a junior high school in Bandung, West Java Province, who have studied expansion and factoring of algebraic forms material. Data was collected through testing techniques in the form of mathematical critical thinking and creative thinking tests, and non-test instruments included a self-efficacy questionnaire, interview guidelines, and document checklists. The results showed that most students had moderate self-efficacy. In the critical thinking test, most students met the elementary clarification and basic support indicators. In the creative thinking test, most students met the fluency indicator. Overall, students were more dominant in critical than in creative thinking. Students with high self-efficacy levels have varied and remarkable critical thinking ability, those with moderate levels are relatively equal (good), and those with low levels tend to be low. Furthermore, each level of self-efficacy tends to have low creative thinking ability. Finally, students with high self-efficacy levels show varying levels of critical thinking and tend to have low creative thinking, those with moderate levels are relatively equal in critical but low in creative thinking, and those with low levels show limitations in both abilities
ANALISIS STRATEGI SOCIAL MEDIA MARKETING 4C PADA AKUN INSTAGRAM PERPUSTAKAAN: Studi Kasus pada Akun Instagram Perpustakaan @the__room19
Perpustakaan The Room 19 berinovasi untuk memberikan sebuah tempat publik yang mewadahi aktivitas literasi untuk berbagai kalangan. Salah satu cara untuk dapat mempromosikan agar The Room 19 dapat dikenal secara luas adalah dengan menggunakan media sosial Instagram yaitu dengan mengunggah konten yang beragam. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemasaran media sosial pada akun Instagram @the__room19 menggunakan teori 4C (konteks, komunikasi, kolaborasi dan koneksi) dari Chris Heuer. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Informan dari penelitian ini adalah salah satu pendiri, staf media sosial, pengikut Instagram perpustakaan The Room 19. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa akun Instagram @the__room19 telah menerapkan strategi pemasaran media sosial 4C (konteks, komunikasi, kolaborasi dan koneksi) akan tetapi masih terdapat dimensi yang belum maksimal diterapkan yaitu pada dimensi koneksi hal ini disebabkan kurang adanya inisiatif dari pihak The Room 19. Maka dari itu disarankan agar kedepannya The Room 19 dapat meningkatkan dan menerapkan strategi untuk dapat mempererat kembali dan terhubung dengan komunitas yang terjalin dan pengikut di Instagram melalui kegiatan ataupun konten yang relevan.
The Room 19 Library innovates to provide a public space that accommodates literacy activities for various groups. One way to promote The Room 19 so that it can be widely known is by using Instagram social media platform, specifically by uploading diverse content. Therefore, this study aims to analyze the social media marketing strategy on the Instagram account @the__room19 using Chris Heuer's 4C theory (context, communication, collaboration, and connection). This research was conducted through a qualitative approach with a case study method. The informants of this study were co-founders, social media staff, and Instagram followers of The Room 19 library. The research findings revealed that the @the_room19 Instagram account has implemented the 4C social media marketing strategy (context, communication, collaboration, and connection). However, there are still dimension that have not been optimally implemented, namely the connection dimension. This is due to a lack of initiative from The Room 19. Therefore, it is recommended that The Room 19 improve and implement strategies to strengthen and reconnect with the existing community and followers on Instagram through relevant activities or content
TRANSFORMASI GAYA HIDUP “STARBOY’’ SEBAGAI BENTUK KONFORMITAS DAN HOMOGENITAS BUDAYA PADA GENERASI Z KOTA BANDUNG
Penelitian ini menganalisis transformasi gaya hidup Starboy sebagai bentuk konformitas dan homogenitas budaya pada Generasi Z di Kota Bandung. Fenomena Starboy yang dipopulerkan The Weeknd merepresentasikan kemewahan, individualisme, dan materialisme yang membentuk pola konsumsi serta relasi sosial di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan tujuh informan yang dipilih secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan analisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi gaya hidup Starboy dipengaruhi oleh konstruksi identitas melalui konsumsi simbolik, dinamika peer group, dan negosiasi identitas yang mempertahankan autentisitas diri. Konformitas dimaknai sebagai strategi penerimaan sosial, pembentukan identitas kolektif, ekspresi kebebasan pilihan, dan modal sosial ekonomi. Homogenitas budaya dipahami sebagai fasilitator interaksi sosial, standardisasi estetika, dan paradoks keunikan kolektif. Penelitian mengungkap bahwa adopsi gaya hidup ini didorong oleh fear of missing out (FOMO), tekanan pertemanan, menjadi modal sosial untuk berkelompok dengan kalangan atas dan kebutuhan validasi sosial yang memperkuat konformitas sekaligus menciptakan homogenitas budaya. Fenomena ini memberikan dampak ambivalen: membuka peluang relasi sosial dan ekonomi melalui personal branding, namun menimbulkan tekanan psikologis dan pola konsumsi berlebihan. Penelitian menegaskan peran sentral budaya populer dan media sosial dalam membentuk gaya hidup Generasi Z sebagai bagian dari transformasi sosial budaya kontemporer.
This study analyzes the transformation of the Starboy lifestyle as a form of conformity and cultural homogeneity among Generation Z in Bandung City. The Starboy phenomenon, popularized by The Weeknd, represents luxury, individualism, and materialism that shape patterns of consumption and social relations in the digital era. The research employs a qualitative approach with a phenomenological method, involving seven informants selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model. The findings reveal that the adoption of the Starboy lifestyle is influenced by identity construction through symbolic consumption, peer group dynamics, and identity negotiation aimed at maintaining self-authenticity. Conformity is understood as a strategy for social acceptance, the formation of collective identity, the expression of freedom of choice, and socio-economic capital. Cultural homogeneity is perceived as a facilitator of social interaction, aesthetic standardization, and the paradox of collective uniqueness. The study shows that the adoption of this lifestyle is driven by fear of missing out (FOMO), peer pressure, the pursuit of social capital to integrate with the upper class, and the need for social validation, which reinforce conformity while creating cultural homogeneity. This phenomenon has ambivalent impacts: it opens opportunities for social and economic relations through personal branding, yet also creates psychological pressure and patterns of excessive consumption. The study underscores the central role of popular culture and social media in shaping Generation Z’s lifestyle as part of contemporary socio-cultural transformation
PENGARUH KOMBINASI INTERMITTENT FASTING (IF) DAN LATIHAN AEROBIK TERHADAP PERSENTASE LEMAK TUBUH PADA PENDERITA KELEBIHAN BERAT BADAN
Pada saat ini prevelensi kelebihan berat badan dan obesitas terus mengalami peningkatan. Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal. Obesitas dapat diakibatkan karena ketidak seimbangan antara asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu relative lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan dan Intermittent Fasting terhadap penurunan persentase lemak tubuh pada penderita kelebihan berat badan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelitian eksperimen dengan desain pre-test post-test control group. Terdapat tiga kelompok dalam penelitian ini yang mendapatkan perlakuan latihan aerobik saja, Intermittent Fasting (IF) saja, dan kombinasi latihan aerobik + IF. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Uji Anova One-Way. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penurunan persentase lemak tubuh dari ketiga kelompok yang diberikan perlakuan. Namun, meskupin ketiganya terbukti mampu menurunkan persentase lemak tubuh pada penderita kelebihan berat badan, tetap terdapat perbedaan pengaruh penurunan body fat yang signifikan dari ketiga kelompok, dengan rata-rata penurunan terbesar ada pada kelompok kombinasi latihan aerobik + IF. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kombinasi latihan aerobik dan intermittent fasting (IF) memberikan hasil penurunan persentase lemak tubuh yang paling baik pada penderita kelebihan berat badan.
Kata Kunci: Intermittent Fasting, Latihan Aerobik, Persentase Lemak Tubuh
Currently, the prevalence of overweight and obesity continues to increase. Overweight and obesity are conditions in which there is an accumulation of excessive body fat, resulting in a person's weight significantly above normal. Obesity can be caused by an imbalance between energy intake and energy expenditure over a relatively long period of time. This study aims to determine the effect of exercise and intermittent fasting on reducing body fat percentage in overweight individuals. The method used in this study was an experimental study with a pre-test, post-test, and control group design. There were three groups in this study: aerobic exercise alone, Intermittent Fasting (IF) alone, and a combination of aerobic exercise + IF. Data analysis in this study used a One-Way ANOVA Test. The results of this study showed a significant effect on reducing body fat percentage in all three treatment groups. However, although all three groups were proven to be able to reduce body fat percentage in overweight individuals, there were still significant differences in the effect of body fat reduction between the three groups, with the largest average reduction in the aerobic exercise + IF combination group. Thus, it can be concluded that the combination of aerobic exercise and intermittent fasting (IF) provides the best results in reducing body fat percentage in overweight individuals.
Keywords: Intermittent Fasting, Aerobic Exercise, Body Fat Percentag
PENGARUH LIQUIDITY RISK TERHADAP FINANCIAL PERFORMANCE : Suatu kasus pada Industri Bank Digital di BEI Periode 2019 – 2023
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai liquidity risk dan financial performance serta bagaimana pengaruh liquidity risk terhadap financial performance pada industri bank digitaldi BEI periode 2019-2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan verifikatif. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan populasi 104 perusahaan bank digital yang terdaftar di BEI dan sampel lima Perusahaan bank digital yang terdaftar di BEI, Melalui hasil analisis dan uji yang telah dilaksanakan. Hasil penelitian deskriptif menunjukkan bahwa liquidity risk (LDR) cenderung meningkat dan financial performance (ROA) mengalami fluktuasi pada tahun 2019-2023. Hasil penelitian verifikatif menunjukkan bahwa liquidity risk (LDR) berpengaruh negatif terhadap financial performance. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa LDR yang tinggi menunjukkan bahwa bank tidak mampu mengelola liquidity risk secara optimal, penyaluran kredit yang berlebihan dapat meningkatkan risiko dan menurunkan kemampuan bank dalam menhasilkan profitabilitas, sehingga dapat berdampak buruk bagi financial performance.
This study aims to determine an overview of liquidity risk and financial performance and how liquidity risk affects financial performance in the digital bank industry on the IDX for the 2019-2023 period. The method used in this research is quantitative research with descriptive and verification research types. The analysis technique used is panel data regression analysis with a population of 104 digital bank companies listed on the IDX and a sample of five digital bank companies listed on the IDX, Through the results of the analysis and tests that have been carried out. Descriptive research results show that liquidity risk (LDR) tends to increase and financial performance (ROA) fluctuates in 2019-2023. The results of verification research show that liquidity risk (LDR) has a negative effect on financial performance. Based on the results of this study, It can be concluded that a high LDR indicates that the bank is unable to manage liquidity risk optimally, excessive credit distribution can increase risk and reduce the bank's ability to generate profitability, so that it can have a negative impact on financial performance
ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP KONTEN BERITA TINDAK PIDANA GURU DI MEDIA SOSIAL TIKTOK
Fenomena kriminalisasi guru yang viral di media sosial TikTok mencerminkan ketegangan antara peran pendidik, murid, dan masyarakat dalam konteks digital yang serba cepat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya kasus guru yang diposisikan sebagai pelaku kekerasan melalui pemberitaan sepihak tanpa klarifikasi memadai, yang kemudian memicu respons masif dari netizen. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan utama : (1) Bagaimana struktur teks dalam komentar netizen pada konten TikTok dikonstruksikan secara linguistik dan retoris? (2) Bagaimana bentuk kognisi sosial netizen dalam memahami dan memaknai kasus kriminalisasi guru? (3) Bagaimana konteks sosial masyarakat memengaruhi dan dipengaruhi oleh wacana yang berkembang? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis wacana digital dalam komentar netizen terhadap tiga kasus viral guru, yaitu kasus Ibu Supriyani di Konawe Selatan, Ibu Khusnul Khotimah di Jombang, dan guru SMK Negeri 12 Kota Malang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk, yang meliputi tiga dimensi utama: struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Data diperoleh melalui observasi digital, studi dokumentasi konten TikTok, serta wawancara mendalam dengan guru, netizen, dan pengunggah konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komentar netizen banyak dikonstruksi secara ekspresif, emosional, dan argumentatif. didominasi oleh opini yang membandingkan sistem pendidikan dulu dan sekarang, serta mengandung bias terhadap posisi guru. Kognisi sosial netizen terbentuk dari pengalaman kolektif, media, dan konstruksi sosial yang berkembang. Sementara itu, konteks sosial menunjukkan adanya ketimpangan ruang klarifikasi bagi guru, serta pergeseran nilai hormat akibat perubahan karakteristik peserta didik di era digital. Kesimpulannya, media sosial TikTok menjadi ruang reproduksi wacana yang memperkuat atau mendistorsi makna keadilan dalam dunia pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya penguatan literasi digital dan pembaruan kebijakan perlindungan guru dalam konteks media sosial.
Kata Kunci: Wacana Kritis, TikTok, Kriminalisasi Guru,
The phenomenon of teacher criminalization that has gone viral on TikTok social media reflects the tension between the roles of educators, students, and society in a fast-paced digital context. This research was motivated by the rampant cases of teachers who were positioned as perpetrators of violence through unilateral reporting without adequate clarification, which then triggered a massive response from netizens. Based on this phenomenon, this study formulated three main questions: (1) How is the text structure in netizens' comments on TikTok content constructed linguistically and rhetorically? (2) What is the form of social cognition of netizens in understanding and interpreting the case of criminalization of teachers? (3) How does the social context of society influence and be influenced by the evolving discourse? This study aims to critically examine the digital discourse in netizens' comments on three viral cases of teachers, namely the case of Mrs. Supriyani in South Konawe, Mrs. Khusnul Khotimah in Jombang, and teachers of SMK Negeri 12 Malang City. The approach used is qualitative descriptive with the Teun A. van Dijk Critical Discourse Analysis method, which includes three main dimensions: text structure, social cognition, and social context. Data was obtained through digital observations, TikTok content documentation studies, and in-depth interviews with teachers, netizens, and content uploaders. The results of the study show that netizens' comments are mostly rhetorically and emotionally constructed, dominated by opinions that compare the education system past and present, and contain biases against the position of teachers. Netizens' social cognition is formed from collective experiences, media, and developing social constructions. Meanwhile, the social context shows that there is an imbalance in the clarification space for teachers, as well as a shift in respect values due to changes in the characteristics of students in the digital era. In conclusion, TikTok social media is a space for reproducing discourses that strengthen or distort the meaning of justice in the world of education. This study recommends the importance of strengthening digital literacy and updating teacher protection policies in the context of social media.
Keywords: Critical Discourse, TikTok, Criminalization of Teache
STUDI KASUS: BALANCE EXERCISE UNTUK MENINGKATKAN KESEIMBANGAN FUNGSIONAL PADA LANSIA
Pendahuluan: Usia lanjut adalah kelompok yang sangat rentan terhadap penurunan fungsi
fisik, termasuk kekuatan otot serta keseimbangan. Salah satu akibat dari kondisi ini adalah
tingginya risiko terjatuh, yang dapat mengakibatkan berbagai masalah serius. Tujuan: Studi
kasus ini bertujuan untuk memberikan perawatan keperawatan melalui latihan keseimbangan
yang dapat meningkatkan kekuatan otot serta mengurangi risiko jatuh pada lansia di daerah
RW 03 Cibogo. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif dengan
metode kualitatif, melibatkan dua lansia pria berusia 71 dan 74 tahun sebagai partisipan. Hasil:
Penelitian mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan pada skor Berg Balance
Scale, di mana partisipan beranjak dari kategori risiko jatuh sedang ke risiko jatuh rendah.
Terdapat peningkatan rata-rata sebesar 17 poin bagi setiap partisipan. Hasil dari wawancara
mengungkapkan adanya penurunan keluhan seperti nyeri, kesemutan, dan ketegangan otot.
Selain itu, terdapat juga peningkatan rasa percaya diri dalam bergerak dan menjalani aktivitas
sehari-hari. Kedua partisipan melaporkan bahwa latihan yang mereka lakukan memberikan
manfaat positif. Kesimpulan: program latihan keseimbangan dilakukan secara teratur di
lingkungan komunitas, terutama di posyandu bagi lansia. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan mobilitas dan kualitas hidup yang lebih baik melalui pendekatan promotif dan
preventif.
Introduction: Older adults represent a population highly susceptible to physical decline,
particularly in muscle strength and balance. This deterioration substantially increases the risk
of falls, which may result in serious health complications. Objective: This case study aims to
describe nursing interventions through balance exercise programs designed to enhance muscle
strength and reduce fall risk among older adults in RW 03 Cibogo. Methods: A descriptive
case study with a qualitative approach was conducted involving two male participants, aged
71 and 74 years. Data were collected through balance assessments using the Berg Balance
Scale and in-depth interviews. Results: Findings demonstrated a notable improvement in
balance performance. Both participants progressed from a moderate to a low fall-risk
category, with an average increase of 17 points in their Berg Balance Scale scores. Qualitative
data further indicated a reduction in physical complaints such as pain, numbness, and muscle
stiffness, along with improved confidence in mobility and daily activities. Participants reported
perceiving the balance exercise program as beneficial. Conclusion: Community-based
balance exercise programs are recommended to be implemented on a regular basis,
particularly through elderly health services. As a public health intervention, these programs
are expected to promote mobility, prevent fall-related risks, and ultimately improve the quality
of life of older adults through promotive and preventive care strategies
ANALISIS FREKUENSI MAKAN DAN STATUS GIZI SISWA SMKN 2 KOTA CIREBON
ABSTRAK
Masalah gizi pada remaja merupakan isu penting dalam kesehatan masyarakat di Indonesia, yang dipengaruhi oleh pola konsumsi makanan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi konsumsi makanan dan status gizi remaja di SMKN 2 Kota Cirebon. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif, dengan populasi siswa SMKN 2 Kota Cirebon berjumlah 140 siswa, dan sampel berjumlah 46 responden. Data dikumpulkan melalui Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan pengukuran antropometri. Hasil menunjukkan bahwa 70% responden memiliki status gizi normal, sementara 17% tergolong overweight, 2% obesitas, 7% gizi kurang, dan 4% gizi buruk. Konsumsi makanan pokok sebagian besar adalah nasi putih (83%) di frekuensi 7–14 kali per minggu. Konsumsi sumber protein adalah ayam, separuhnya (50%) dikonsumsi 4–6 kali per minggu. Konsumsi sayur kangkung lebih dari separuh (65%) dikonsumsi 1–3 kali per minggu. Konsumsi buah-buahan seperti jeruk dikonsumsi lebih dari separuh responden (60%) sebanyak 1–3 kali per minggu. Konsumsi camilan dan minuman seperti teh manis juga cukup tinggi, dengan lebih dari separuh responden (59%) mengonsumsinya 1–3 kali per minggu. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki status gizi normal, namun masih ditemukan status gizi kurang maupun gizi lebih. Pola makan belum sepenuhnya seimbang, terutama dalam hal konsumsi sayur dan buah. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi yang berkelanjutan serta pemantauan rutin di sekolah melalui kerja sama dengan instansi kesehatan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan analitik dengan mempertimbangkan faktor tambahan seperti aktivitas fisik dan status ekonomi.
ABSTRACT
Nutritional problems among adolescents are an important public health issue in Indonesia, influenced by daily food consumption patterns. This study aimed to determine the frequency of food consumption and the nutritional status of adolescents at SMKN 2 Cirebon City. The study used a quantitative descriptive design, with a population of 140 students and a sample of 46 respondents. Data were collected using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) and anthropometric measurements. The results showed that 70% of respondents had normal nutritional status, while 17% were overweight, 2% obese, 7% undernourished, and 4% severely undernourished. Staple food consumption was predominantly white rice (83%) at a frequency of 7–14 times per week. Protein sources were mainly chicken, with half of respondents (50%) consuming it 4–6 times per week. Vegetable consumption, particularly water spinach, was reported by more than half (65%) at 1–3 times per week. Fruit consumption, such as oranges, was reported by more than half of respondents (60%) at 1–3 times per week. Snack and beverage consumption, such as sweet tea, was also quite high, with more than half of respondents (59%) consuming them 1–3 times per week. The conclusion of this study indicates that most adolescents have normal nutritional status, but cases of undernutrition and overnutrition were still found. Eating patterns were not yet fully balanced, especially in terms of vegetable and fruit consumption. Therefore, continuous nutrition education and regular monitoring at schools are needed through collaboration with health institutions. Future research is recommended to use an analytical approach by considering additional factors such as physical activity and socioeconomic status
ANALISIS KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN OLAHRAGA PRESTASI : STUDI KASUS DI PROVINSI BANTEN
Kebijakan pembangunan olahraga prestasi merupakan bagian penting dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pencapaian prestasi daerah. Provinsi Banten memiliki potensi besar dalam pengembangan olahraga, namun masih menghadapi kendala pada aspek perencanaan, koordinasi, dan implementasi kebijakan keolahragaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan penyelenggaraan pembangunan olahraga prestasi di Provinsi Banten, yang mencakup program, implementasi, dan dampaknya terhadap pembinaan atlet dan tata kelola olahraga daerah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, berlokasi di Dispora, KONI, DPRD Provinsi Banten, serta beberapa tempat latihan atlet. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan bantuan NVivo for Windows untuk proses coding dan analisis tematik. Hasil menunjukkan bahwa kebijakan olahraga di Provinsi Banten memiliki dasar hukum kuat melalui Perda Nomor 8 Tahun 2017 dan UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Namun, implementasi masih terkendala oleh keterbatasan pendanaan, sarana prasarana, dan koordinasi antarlembaga. Kolaborasi antara pemerintah, KONI, pelatih, dan masyarakat mulai menunjukkan hasil positif dalam pembinaan atlet meskipun belum optimal. Kesimpulan penelitian ini yaitu penyelenggaraan pembangunan olahraga prestasi di Provinsi Banten perlu diperkuat melalui peningkatan tata kelola, sinergi lintas sektor, inovasi pembiayaan, dan pembinaan berbasis data untuk menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
The policy on sports achievement development is an essential part of efforts to improve human resource quality and regional athletic performance. The Province of Banten possesses great potential in sports development; however, it still faces challenges in planning, coordination, and policy implementation. This study aims to analyze the policy implementation of sports achievement development in Banten Province, covering the programs, implementation process, and their impact on athlete development and sports governance. This research employs a qualitative approach with a case study design, conducted at the Banten Provincial Youth and Sports Office (Dispora), Banten National Sports Committee (KONI), Regional House of Representatives (DPRD), and several athlete training centers. Data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model with the support of NVivo for Windows for coding and thematic analysis. The results show that sports policies in Banten have a strong legal foundation through Regional Regulation (Perda) No. 8 of 2017 and Law No. 11 of 2022 on Sports. However, implementation remains constrained by limited funding, inadequate facilities, and weak inter-agency coordination. Collaboration among the government, KONI, coaches, and the community has begun to show positive outcomes in athlete development, although not yet optimal. The study concludes that the implementation of sports achievement development in Banten Province needs to be strengthened through improved governance, cross-sector synergy, innovative funding, and data-based athlete development to create a sustainable and competitive sports ecosystem