91757 research outputs found
Sort by
PENGARUH BUDAYA KERJA GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI MPLB DI SMK PASUNDAN 1 BANDUNG
Penelitian ini mengkaji pengaruh budaya kerja guru terhadap motivasi belajar siswa di SMK Pasundan 1 Bandung. Motivasi belajar optimal sangat penting untuk pencapaian tujuan pembelajaran, dan budaya kerja guru menjadi salah satu faktor penentunya.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi penelitian adalah 120 siswa kelas XI, dengan sampel 92 siswa yang dipilih melalui proportional random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (α budaya kerja = 0,884; motivasi belajar = 0,871). Analisis data dilakukan dengan regresi linier sederhana.
Hasil penelitian menunjukkan budaya kerja guru berkategori baik dengan skor rata-rata 82,45, sedangkan motivasi belajar siswa juga baik dengan skor 80,12. Persamaan regresi yang diperoleh Y = 23,514 + 0,682X, dengan koefisien korelasi
(r) 0,612 yang berarti hubungan positif dan kuat. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,374 menunjukkan 37,4% variasi motivasi belajar dipengaruhi budaya kerja guru. Uji t menunjukkan t hitung 7,402 > t tabel 1,986 (sig. 0,000), sehingga budaya kerja guru berpengaruh positif signifikan, dengan etos kerja sebagai indikator dominan.
This study examines the influence of teachers’ work culture on students’ learning motivation at SMK Pasundan 1 Bandung. Optimal learning motivation is essential for achieving educational goals, and teachers’ work culture is one of the determining factors.
The research employed a quantitative method with a correlational approach. The population consisted of 120 eleventh-grade students, with a sample of 92 selected using proportional random sampling. The research instrument was a Likert-scale questionnaire tested for validity and reliability (α work culture = 0.884; learning motivation = 0.871). Data were analyzed using simple linear regression.
The findings show that teachers’ work culture is categorized as good, with an average score of 82.45, while students’ learning motivation is also good, with an average score of 80.12. The regression equation obtained was Y = 23.514 + 0.682X, with a correlation coefficient (r) of 0.612, indicating a strong positive relationship. The coefficient of determination (R²) of 0.374 means that 37.4% of learning motivation variation is influenced by teachers’ work culture. The t-test result (t count 7.402 > t table 1.986, sig. 0.000) confirms a significant positive effect, with work ethic as the most dominant indicator
DAMPAK PELAKSANAAN TRADISI LARUNG CAI DIRAGA TERHADAP PENGUATAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN : Studi Kasus di Desa Jatiseeng Kidul, Kecamatan Ciledug
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kerusakan lingkungan di wilayah Kabupaten Cirebon, khususnya Kecamatan Ciledug dengan ditandai seringnya terjadi bencana banjir. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan penguatan karakter peduli lingkungan pada masyarakat, salah satunya dapat melalui bentuk kebudayaan yaitu tradisi Larung Cai Diraga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai-nilai yang muncul dalam pelaksanaan tradisi Larung Cai Diraga sebagai bentuk pendidikan karakter bagi masyarakat dan menganalisis dampaknya terhadap penguatan karakter peduli lingkungan pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, karena dapat diteliti dengan lebih luas dan mendalam untuk mengembangkan berbagai fenomena yang terjadi di lapangan. Adapun teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dengan pengolahan data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Larung Cai Diraga yang meliputi kegiatan kirab budaya, tarian cai diraga, do’a lintas iman, dan prosesi larung cai, mampu menanamkan nilai-nilai persatuan, toleransi, gotong royong, serta peduli lingkungan kepada masyarakat. Terdapat perubahan signifikan pada perilaku masyarakat, seperti tidak
membuang sampah ke sungai, aktif dalam kerja bakti, dan mendukung normalisasi daerah aliran sungai. Namun, masih ditemukan kendala berupa perbedaan pemahaman nilai tradisi dan rendahnya partisipasi generasi muda. Pelaksanaan tradisi Larung Cai Diraga memberikan dampak positif dalam menguatkan karakter peduli lingkungan pada masyarakat. Keberhasilan penguatan karakter ini sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap makna pada tradisi, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan kolaboratif dari berbagai pihak terkait.
This study was motivated by environmental degradation issues in the Cirebon Regency, particularly in the Ciledug District, which is frequently affected by flooding. These issues can be addressed by strengthening environmental awareness among the community, one of which can be done through cultural practices such as the Larung Cai Diraga tradition. The purpose of this research is to analyze the values that emerge in the implementation of the Larung Cai Diraga tradition as a form of character education for the community and to analyze its impact on strengthening the community's environmental awareness. This study employs a qualitative approach using the case study method, as it allows for a broader and deeper exploration of various phenomena occurring in the field. Data collection techniques include observation, interviews, and documentary studies, with data analysis involving data reduction, data display, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the implementation of the Larung Cai Diraga tradition, which includes cultural parades, cai diraga dances, interfaith prayers, and larung cai processions, is able to instill values of unity, tolerance, mutual cooperation, and environmental awareness in the community. There have been significant changes in community behavior, such as not littering in rivers, actively participating in community service, and supporting river basin normalization. However, challenges remain, including differing interpretations of traditional values and low participation among the younger generation. The implementation of the Larung Cai Diraga tradition has apositive impact on strengthening environmental awareness among the community. The success of this character-building effort is greatly influenced by an understanding of the meaning behind the tradition, active community participation, and collaborative support from various relevant parties
PENGARUH ONLINE BRAND REPUTATION TERHADAP ONLINE PURCHASE DECISION MELALUI E-TRUST (Survei pada Pengguna Aplikasi Online Streaming Video Berbayar)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dan pengaruh online brand reputation terhadap online purchase decision melalui e-trust pada pengguna aplikasi online streaming video berbayar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah explanatory survey dan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan ukuran sebanyak 349 responden. Data diolah secara statistik menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan menggunakan program AMOS for Windows. Hasil penelitian ini menemukan bahwa gambaran online brand reputation, e-trust, dan online purchase decision berada pada kategori tinggi. Online brand reputation memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap online purchase decision melalui e-trust. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung online brand reputation memperoleh besaran pengaruh yang lebih rendah terhadap online purchase decision, dibadingkan pengaruh langsung. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti merekomendasikan agar aplikasi online streaming video mempertahankan dan meningkatkan online brand reputation agar dapat meningkatkan jumlah pengguna yang memilih dan menggunakan aplikasi online streaming video dalam melakukan pembelian produk online streaming video.
This study aims to obtain an overview and the influence of online brand reputation on online purchase decisions through e-trust among users of paid online video streaming applications. This study uses a descriptive and verification
method with a quantitative approach. The research method used in this study is an explanatory survey, and the sampling technique is purposive sampling with a sample size of 349 respondents. Data are processed statistically using Structural
Equation Modeling (SEM) with the AMOS program for Windows. The results of this study found that online brand reputation, e-trust, and online purchase decisions are in the high category. Online brand reputation has a positive and
significant influence on online purchase decisions through e-trust. This finding indicates that the indirect influence of online brand reputation is lower than the direct influence. Based on the study's findings, the researchers recommend that online video streaming applications maintain and improve their online brand reputation to increase the number of users choosing and using online video streaming applications to purchase products
PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN NUMERASI PADA PEMBUATAN SELAI NANAS DI SMK NEGERI 1 KUNINGAN
Penelitian ini membahas penerapan model Project Based Learning untuk meningkatkan kemampuan numerasi siswa SMK melalui proyek pembuatan selai nanas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keterlaksanaan model Project Based Learning, kemampuan numerasi siswa pada aspek kognitif dan psikomotorik pembuatan selai nanas Kelas XI. Penelitiaan ini menggunakan metode penelitian Tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus 1 melibatkan pembelajaran di kelas, sedangkan siklus 2 melibatkan praktik di ruang praktik sekolah. Instrumen pada penelitian ini menggunakan lembar observasi, tes pre-test post-test, dan penilaian psikomotorik siswa selama pembelajaran berbasis proyek, terutama dalam kegiatan pembuatan selai nanas. Penelitian PTK ini dilaksanakan pada siswa kelas XI APHP 2 SMK Negeri 1 Kuningan. Sampel ditentukan berdasarkan kelas dengan rata-rata nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang rendah. Semua tahapan model Project Based Learning terlaksana dengan baik dengan kategori “Sangat Baik”. Penerapan model Project Based Learning menunjukkan peningkatan numerasi siswa. Hal ini ditunjukkan dengan nilai N-Gain sebesar 0,43 pada kategori “Sedang”. Pada penilaian psikomotorik siswa mencapai kategori “Sangat Terampil” untuk seluruh kelompok. Dengan demikian, penerapan model Project Based Learning pada materi pembuatan selai nanas efektif dalam meningkatan kemampuan numerasi serta mendapat hasil keterlaksanaan dan psikomotorik siswa yang baik.
This research discusses the application of the Project Based Learning model to improve the numeracy skills of vocational students through a pineapple jam making project. The purpose was to determine the implementation of the Project Based Learning model, numeracy, and psychomotor skills of students in learning the material of making pineapple jam in Class XI. This research used the method of classroom action research (CAR) which was carried out in two cycles. Cycle 1 involved classroom learning, while cycle 2 involved practice in the school practice room. The instruments in this study used observation sheets, pre-test post-test, and psychomotor assessment of students during project-based learning, especially in pineapple jam making activities. This CAR research was conducted on students of class XI APHP 2 SMK Negeri 1 Kuningan. The sample was determined based on the class with low average minimum completeness criteria scores. All stages of the Project Based Learning model were well implemented with the “Very Good” category. The application of the Project Based Learning model shows an increase in student numeracy. This is indicated by the N-Gain value of 0.43 in the “Moderate” category. In the psychomotor assessment, students reached the “Highly Skilled” category for all groups. Thus, the application of the Project Based Learning model in pineapple jam making material is effective in increasing numeracy skills and getting good student implementation and psychomotor results
PERBANDINGAN METODE SEASONAL ARIMA DAN HOLT-WINTERS DAMPED TREND DALAM MEMPREDIKSI PERMINTAAN SEPATU PADA PT. XYZ
PT. XYZ, sebuah perusahaan industri alas kaki, menghadapi tantangan dalam merencanakan jumlah produksi yang menyebabkan ketidakseimbangan signifikan antara volume produksi dan penjualan. Kondisi ini menimbulkan masalah overstock dan out of stock, di mana ketidaksesuaian antara produksi dan permintaan menandakan adanya kebutuhan akan peramalan yang lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode Seasonal ARIMA (SARIMA) dan Holt-Winters Damped Trend guna menentukan model peramalan permintaan sepatu yang paling akurat di PT. XYZ. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder penjualan bulanan dari Januari 2022 hingga Desember 2024. Analisis model dilakukan dengan software RStudio dan akurasi diukur menggunakan Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Squared Error (RMSE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), Mean absolute scaled error (MASE) dan Percent Bias (PBIAS). Hasil penelitian mengidentifikasi ARIMA(1,0,0)(0,1,0)[12] sebagai model SARIMA terbaik dengan nilai MAE (6.034,5630), MAPE (15,9648%) berada pada kategori “baik”, dan MASE (0,6104) yang terendah dibandingkan kedua model Holt-Winters Damped Trend. Hasil peramalan untuk periode Januari hingga Mei 2025 dibandingkan dengan data penjualan aktual, model SARIMA terbukti lebih mendekati dengan selisih PBIAS 13,8736 (underestimation) yang dikategorikan dalam peringkat kinerja (Baik/B). Selain itu, hasil peramalan SARIMA untuk puncak permintaan Juli 2025 selaras dengan target internal PT.XYZ sebesar 130.000 pasang sepatu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model SARIMA merupakan model yang paling akurat pada peramalan ini dan direkomendasikan untuk implementasi dalam perencanaan permintaan dan produksi di PT. XYZ.
Kata Kunci: Akurasi Model, Holt-Winters Damped Trend, Peramalan, Permintaan Sepatu, SARIMA.
PT. XYZ, a footwear manufacturer, faces challenges in planning production quantities, resulting in a significant imbalance between production volume and sales. This condition has led to overstock and stockout issues, indicating the need for more accurate demand forecasting. This study aims to compare the Seasonal ARIMA (SARIMA) and Holt–Winters Damped Trend methods to determine the most accurate model for forecasting shoe demand at PT. XYZ. A quantitative approach is employed using monthly secondary sales data from January 2022 to December 2024. Model analysis is conducted in RStudio, and accuracy is evaluated using Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Squared Error (RMSE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), Mean Absolute Scaled Error (MASE), and Percent Bias (PBIAS). The results identify ARIMA(1,0,0)(0,1,0)[12] as the best SARIMA model, with MAE of 6,034.5630, MAPE of 15.9648% (classified as “good”), and the lowest MASE (0.6104) compared with the two Holt–Winters Damped Trend models. For January–May 2025, when forecasts are compared with actual sales, the SARIMA model more closely tracks reality, with a PBIAS of 13,8736 (underestimation) rated Good (B). In addition, the SARIMA forecast for the July 2025 demand peak aligns with PT. XYZ’s internal target of 130,000 pairs of shoes. Therefore, it can be concluded that the SARIMA model is the most accurate in this forecasting and is recommended for implementation in PT. XYZ’s demand and production planning.
Keywords: Forecasting, Holt-Winters Damped Trend, Model Accuracy, SARIMA, Shoe Demand
OPTIMALISASI DESAIN MICROGRID HYBRID SURYA-DIESEL-BATERAI UNTUK KETAHANAN ENERGI DI DESA CISOLOK JAWA BARAT: Analisis Techno-Economic Dengan Homer Pro
Permintaan energi listrik di wilayah terpencil Indonesia, khususnya di Jawa Barat, masih menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan akses dan ketergantungan pada generator diesel yang mahal serta menghasilkan emisi tinggi. Desa Cisolok merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi energi terbarukan melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model optimasi sistem mikrogrid hybrid surya-diesel-baterai menggunakan pendekatan tekno-ekonomi melalui perangkat lunak HOMER Pro. Metode penelitian dilakukan dengan simulasi untuk mengevaluasi berbagai konfigurasi sistem, mempertimbangkan parameter radiasi matahari, kebutuhan beban, biaya investasi, biaya operasional, serta dampak lingkungan. Data radiasi menunjukkan potensi rata-rata sebesar 4,80 kWh/m²/hari, dengan nilai tertinggi pada September (5,50 kWh/m²/hari) dan terendah pada Februari (4,37 kWh/m²/hari). Hasil optimasi menunjukkan bahwa konfigurasi PV-Diesel-Baterai memberikan performa terbaik, menghasilkan total produksi listrik sebesar 207.887 kWh/tahun, dengan kontribusi PV sebesar 47% dan diesel 53%. Konfigurasi ini menghasilkan Levelized Cost of Energy (LCOE) terendah sebesar Rp 601,99/kWh, jauh di bawah target Rp 1.500/kWh, serta Net Present Cost (NPC) sebesar Rp 1.960.824.000. Dari sisi lingkungan, sistem ini mampu mengurangi emisi karbon dioksida dan karbon monoksida sebesar 56,64% dibandingkan sistem diesel murni. Temuan ini membuktikan bahwa integrasi energi surya, diesel, dan baterai merupakan solusi teknis dan ekonomis yang efektif untuk meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan di desa-desa terpencil Jawa Barat.
Electricity demand in remote areas of Indonesia, particularly in West Java, still faces significant challenges related to limited access and dependence on expensive diesel generators that produce high emissions. Cisolok Village is one such area with abundant renewable energy potential that has not yet been optimally utilized. This study aims to develop an optimization model for a hybrid solar-diesel-battery microgrid system using a techno-economic approach through the HOMER Pro software. The research method involves simulations to evaluate various system configurations, considering parameters such as solar radiation, load requirements, investment costs, operational costs, and environmental impacts. Radiation data indicates an average potential of 4.80 kWh/m²/day, with the highest value in September (5.50 kWh/m²/day) and the lowest in February (4.37 kWh/m²/day). Optimization results indicate that the PV-Diesel-Battery configuration provides the best performance, generating a total electricity production of 207,887 kWh/year, with a 47% contribution from PV and 53% from diesel. This configuration achieves the lowest Levelized Cost of Energy (LCOE) of Rp 601.99/kWh, well below the target of Rp 1,500/kWh, and a Net Present Cost (NPC) of Rp 1,960,824,000. From an environmental perspective, this system reduces carbon dioxide and carbon monoxide emissions by 56.64% compared to a pure diesel system. These findings demonstrate that the integration of solar energy, diesel, and batteries is an effective technical and economic solution for enhancing energy resilience while supporting environmental sustainability in remote villages in West Java
STRATEGI VISUALISASI DALAM MEREPRESENTASIKAN COMING OF AGE DAN KONFLIK GENERASI DALAM FILM FIKSI REVA'S BOOK
Film Reva’s Book merupakan karya skripsi penciptaan yang mengeksplorasi strategi visualisasi dalam merepresentasikan tema coming of age dan konflik generasi melalui pendekatan sinematik. Film ini menyoroti fenomena “ketegangan tak terucap” dalam keluarga, yang berakar pada perbedaan nilai antara Reva (Generasi Z) yang bercita-cita menjadi penulis, dengan ayahnya (Generasi X) yang baru saja kehilangan pekerjaan dan menuntut kepastian masa depan anaknya. Dengan metode penelitian berbasis praktik, pencipta menelaah bagaimana elemen mise-en-scène, sinematografi, warna, dan penyuntingan bekerja secara sinergis untuk menyampaikan emosi dan makna tanpa bergantung pada dialog. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa strategi visualisasi mampu memetakan konflik emosional secara konkret: latar rumah yang sempit menghadirkan tekanan psikologis, pencahayaan yang kontras menegaskan perbedaan nilai, hingga staging meja makan berfungsi sebagai simbol jarak emosional antargenerasi. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa bahasa visual tidak hanya efektif untuk menggambarkan perjalanan pendewasaan tokoh, tetapi juga memperkuat representasi konflik generasi dalam konteks drama keluarga kontemporer Indonesia.
Reva’s Book is a creation thesis that explores visualization strategies in representing the themes of coming of age and generational conflict through cinematic approaches. The film highlights the phenomenon of “unspoken tension” within a family, rooted in the clash of values between Reva (Generation Z), who aspires to become a writer, and her father (Generation X), who has recently lost his job and demands certainty for his daughter’s future. Using a practice-based research method, the creator examines how mise-en-scène, cinematography, color, and editing synergistically convey emotions and meanings without relying on dialogue. The results demonstrate that visualization strategies can concretely map emotional conflict: the cramped house setting embodies psychological pressure, contrasting lighting underscores value differences, and dinner table staging symbolizes intergenerational distance. This study concludes that visual language is not only effective in portraying the protagonist’s coming-of-age journey but also in strengthening the representation of generational conflict within the context of contemporary Indonesian family drama
PENGARUH PEER SUPPORT TERHADAP PENGEMBANGAN SUBJECTIVE WELL-BEING SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA BANDUNG
Subjective well-being merupakan indikator penting dalam mengukur kualitas hidup dan kesejahteraan siswa. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh peer support terhadap pengembangan subjective well-being siswa sekolah menengah atas di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental tipe one group pretest-posttest. Populasi penelitian adalah siswa kelas X dan XI di SMA Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2024/2025, dengan sampel sebanyak 12 siswa, terdiri dari 2 siswa sebagai peer support dan 10 siswa sebagai penerima layanan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan inventori subjective well-being untuk siswa sekolah menengah atas. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji wilcoxon serta perhitungan effect size dengan rumus Cohen’s d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjective well-being siswa berada pada kategori sedang, dan terdapat peningkatan signifikan setelah intervensi peer support. Uji wilcoxon menunjukkan perbedaan bermakna antara skor pretest dan posttest (p < 0,05), dengan effect size yang besar, menunjukkan bahwa intervensi memiliki dampak yang kuat terhadap peningkatan subjective well-being. Temuan ini menegaskan bahwa peer support efektif tidak hanya sebagai alat intervensi, tetapi juga sebagai strategi pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya mengintegrasikan program peer support dalam sistem sekolah sebagai bagian dari upaya sistematis dalam membangun lingkungan belajar yang suportif dan berkelanjutan.
Subjective well-being is a critical indicator for assessing students’ quality of life and overall well-being. This study aimed to examine the effect of peer support on the development of subjective well-being among senior high school students in Bandung City. A quantitative approach was employed using a one-group pretest- posttest pre-experimental design. The research population consisted of 10th and 11th-grade students at the UPI Laboratory High School during the 2024/2025 academic year. The sample included 12 students: 2 serving as peer supporters and 10 as recipients of the peer support intervention. Data were collected using a subjective well-being inventory specifically developed for high school students. Both descriptive and inferential statistical analyses were conducted, including the Wilcoxon signed-rank test and Cohen’s d for effect size calculation. The results indicated that students’ subjective well-being was initially at a moderate level and improved significantly following the intervention. The Wilcoxon test revealed a statistically significant difference between pretest and posttest scores (p<.05), with a large effect size, indicating that the intervention had a substantial impact on students’ subjective well-being. These findings suggest that peer support is effective not only as an intervention tool but also as a strategy for fostering students’ social and emotional competencies. The implications underscore the importance of integrating peer support programs into school systems as part of a systematic effort to build a supportive and sustainable learning environment
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PADA PEMBELAJARAN GEOGRAFI DI SMA EL FITRA BANDUNG
Penelitian ini bertujuan untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam upaya meningkatkan minat belajar peserta didik pada mata pelajaran Geografi, khususnya materi mitigasi bencana di kelas XI IPS SMA El Fitra Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri atas dua pertemuan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Rancangan pembelajaran menggunakan pembagian kelompok asal dan kelompok ahli, di mana setiap peserta didik mempelajari bagian materi tertentu dan kemudian menyampaikannya kembali kepada kelompok asalnya. Hasil pra-penelitian menunjukkan hanya 18% siswa yang aktif, meningkat menjadi 27% pada siklus I, mencapai 55% pada siklus II, dan mencapai 82% pada siklus III. Hambatan yang muncul pada awal pelaksanaan adalah kebingungan siswa dalam memahami mekanisme Jigsaw dan rasa kurang percaya diri untuk menyampaikan materi, namun upaya perbaikan dilakukan melalui pemberian panduan peran yang jelas, penggunaan media visual, serta pendampingan guru sebagai fasilitator. Wawancara dengan siswa dan guru mendukung temuan bahwa pembelajaran dengan Jigsaw lebih menarik, memotivasi, serta menciptakan suasana belajar yang kolaboratif. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan model Jigsaw tidak hanya efektif dalam meningkatkan minat belajar peserta didik, tetapi juga mampu mengatasi hambatan awal sehingga tercipta proses pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna.
This study aims to design, implement, and evaluate the cooperative learning model of the Jigsaw type in an effort to enhance students’ learning interest in Geography, particularly on the topic of disaster mitigation in Class XI IPS at SMA El Fitra Bandung. The research employed Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles, each consisting of two meetings with the stages of planning, implementation, observation, and reflection. The instructional design applied the division of home groups and expert groups, where each student learned a portion of the material and subsequently explained it to their home group members. Preliminary findings indicated that only 18% of students were actively involved, which increased to 27% in the first cycle, reached 55% in the second cycle and reached 82% in third cycle. The main obstacles identified in the initial cycle included students’ confusion in understanding the Jigsaw mechanism and lack of confidence in presenting material. These challenges were addressed by providing clear role guidelines, utilizing visual aids, and strengthening the teacher’s role as facilitator. Interviews with students and teachers supported the findings, indicating that Jigsaw made the learning process more engaging, motivating, and collaborative. Thus, this study concludes that the Jigsaw model is not only effective in enhancing students’ learning interest but also capable of overcoming initial challenges, resulting in a more interactive and meaningful learning experience
PENGARUH PERMAINAN MUSIK DRUMBAND TERHADAP SENSITIVITAS IRAMA PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh permainan musik drumband terhadap sensitivitas irama anak usia 5–6 tahun di RA Al-Hidayah. Latar belakang penelitian berangkat dari rendahnya kecerdasan musikal anak, khususnya kemampuan membedakan dan mengikuti pola irama, yang selama ini kurang distimulasi secara optimal. Metode penelitian menggunakan desain kuasi eksperimen tipe Non-equivalent Control Group Design, dengan dua kelompok: eksperimen (15 anak) yang mendapat perlakuan permainan musik drumband, dan kontrol (15 anak) yang mengikuti pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui tes pra (pre-test) dan pasca (post-test) menggunakan instrumen observasi berbasis enam indikator sensitivitas irama menurut Campbell & Scott-Kassner serta Gordon. Validitas isi instrumen diuji oleh ahli musik dan dinilai menggunakan uji Kendall’s W. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan sensitivitas irama pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol, baik dari aspek ketepatan ketukan, kepekaan tempo, daya ingat ritmis, persepsi perubahan irama, keterlibatan afektif, maupun koordinasi motorik ritmis. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney menguatkan bahwa permainan musik drumband berpengaruh positif terhadap perkembangan kemampuan ritmis anak. Kesimpulan penelitian ini permainan musik drumband efektif meningkatkan sensitivitas irama anak usia dini melalui stimulasi terintegrasi antara aspek auditori, motorik, dan sosial-emosional. Temuan ini merekomendasikan penerapan drumband sebagai metode pembelajaran musik yang inovatif dan menyenangkan di pendidikan anak usia dini.
This study aims to analyze the effect of drumband music activities on rhythmic sensitivity among children aged 5–6 years at RA Al-Hidayah. The background of this research is rooted in the low level of children’s musical intelligence, particularly in their ability to distinguish and follow rhythmic patterns, which has not been optimally stimulated in early childhood education. The study employed a quasi-experimental design with a Non-equivalent Control Group Design, involving two groups: an experimental group (15 children) who received drumband music activities and a control group (15 children) who experienced conventional learning. Data were collected through pre-test and post-test using an observation instrument based on six indicators of rhythmic sensitivity proposed by Campbell & Scott-Kassner and Gordon. The content validity of the instrument was assessed by music experts using Kendall’s W. The results revealed a significant improvement in rhythmic sensitivity in the experimental group compared to the control group, particularly in beat accuracy, tempo awareness, rhythmic memory, perception of rhythm changes, affective engagement, and rhythmic motor coordination. Statistical analysis with the Wilcoxon and Mann-Whitney tests confirmed the positive effect of drumband activities on the development of children’s rhythmic abilities. The study concludes that drumband music effectively enhances early childhood rhythmic sensitivity through integrated auditory, motor, and socio-emotional stimulation. These findings recommend implementing drumband as an innovative and enjoyable approach in early childhood music education