Indonesia University of Education

Repository UPI
Not a member yet
    91757 research outputs found

    PENGARUH KID'S ATHLETICS PROGRAM  TERHADAP SELF-RESILIENCE SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN JENIS KELAMIN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah kid’s athletic program memiliki pengaruh terhadap self-resilience dengan membandingkan perbedaan hasil antara kelompok yang diberi treatment Kids’Athletics Program dan kelompok yang tidak diberi treatment, melalui pemberian Child and Youth Resilience Measure Revise, serta menganalisis perbandingan pengaruh tersebut berdasarkan jenis kelamin. Gangguan kesehatan mental seperti depresi, stress, gangguan kecemasan dan sosial emosional banyak dialami oleh seseorang sebelum berusia 18 tahun, self-resilience merupakan hal yang dapat mencegah terjadinya gangguan tersebut. Penelitian ini menggunakan Nonequivalent Control-Group Design. Penelitian ini melibatkan 80 orang siswa-siswi dengan rentang usia 10-12 tahun. Setelah data diolah menggunakan Paired Sample T-Test dan Two Way Anova didapatkan nilai signifikansi Paired Sample T-Test 0.014 < 0.05 artinya terdapat peningkatan setelah diberikan perlakuan, pada uji Two-Way Anova didapatkan nilai signifikansi 0.001 < 0.05 artinya adalah kedua variabel independen memberikan pengaruh pada variabel dependen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kid’s athletics program memberikan pengaruh terhadap peningkatan self-resilience siswa sekolah dasar. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan subjek dalam rentang usia yang berbeda. This research aims to analyze whether a kid's athletic program influences self-resilience by comparing the difference in results between a group given the Kids' Athletics Program treatment and a group not given the treatment, through the administration of the Child and Youth Resilience Measure Revised, as well as analyzing the comparison of this influence based on gender. Mental health issues such as depression, stress, anxiety disorders, and social-emotional problems are often experienced by individuals before the age of 18, and self-resilience is something that can prevent these disturbances. This study uses a Nonequivalent Control-Group Design. The research involved 80 students with an age range of 10-12 years. After the data were analyzed using the Paired Sample T-Test and Two-Way ANOVA, with a Paired Sample T-Test significance value of 0.014 < 0.05, meaning there was an increase after the treatment was given, and in the Two-Way ANOVA test, a significance value of 0.001 < 0.05 was obtained, meaning both independent variables had an influence on the dependent variable. The conclusion of this study is that the kid's athletics program influences the improvement of self-resilience in elementary school students. Further research using subjects in a different age range is necessary

    PENGARUH METODE LATIHAN PREDICTABLE DAN UNPREDICTABLE TERHADAP KECEPATAN REAKSI KIPER FUTSAL

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode latihan predictable dan unpredictable terhadap kecepatan reaksi kiper futsal. Kecepatan reaksi merupakan kemampuan penting bagi seorang kiper yang sedang merespons situasi permainan yang cepat dan dinamis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan kuasi-eksperimen pretest-posttest control group design. Subjek penelitian terdiri dari 45 orang kiper yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, kelompok predictable, kelompok unpredictable, dan kelompok latihan kontrol konvensional. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah Hand Touch Reaction Test untuk mengukur kecepatan reaksi kiper futsal. Program latian dilakukan selama 4 minggu dengan total pertemuan 12 kali sesi latihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara metode latihan predictable dan unpredictable terhadap peningkatan kecepatan reaksi kiper futsal. Uji One Way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara ketiga kelompok tersebut. Latihan dengan metode unpredictable menghasilkan peningkatan kecepatan reaksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode predictable dan metode konvensional. Hasil uji Turkey adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok unpredictable dan predictable (p=0.013), dan dengan kelompok kontrol (p<0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan yang memerlukan adaptasi terhadap situasi yang tidak dapat diprediksi lebih efektif dalam melatih respons kecepatan reaksi kiper. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan program pelatihan kiper dan merekomendasikan integrasi pelatihan unpredictable ke dalam rutinitas pelatihan. Kata Kunci: Futsal, Kiper, Reaks

    PENGEMBANGAN MODEL MAGANG RESKILLING UNTUK PENINGKATAN KOMPETENSI GURU NON VOKASI: Studi Pada SMKN 1 Campaka Kabupaten Cianjur

    Get PDF
    Keterlibatan guru non-vokasi dalam pengalaman industri masih rendah, meskipun mereka berperan penting dalam mencetak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang terampil dan siap kerja. Kesenjangan keterampilan sikap atau budaya kerja guru non-vokasi yang tidak selaras dengan tuntutan industri modern berdampak pada rendahnya kesiapan kerja lulusan. Permasalahan ini menuntut solusi inovatif berupa pengembangan model Reskilling yang dapat menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model magang Reskilling yang valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan kompetensi guru non-vokasi di Sekolah Menengah Kejuruan Kabupaten Cianjur. Menggunakan pendekatan Research and Development dengan model Define, Design, Develop, Disseminate yang mengintegrasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi partisipatif, dan survei persepsi siswa dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan: (1) mayoritas guru non vokasi belum memiliki pengalaman industri namun menunjukkan motivasi sangat tinggi untuk mengikuti magang; (2) model dikembangkan berbasis integrasi experiential learning, lifelong learning, dan andragogi dengan keunikan dual mentorship system dan reciprocal learning partnership; (3) validasi ahli menyatakan model relevan dan layak dengan saran penguatan kolaborasi industri; (4) implementasi melalui tahap input meliputi dimensi personal, instrumen, dan environmental, tahap proses terdiri dari persiapan dengan analisis kebutuhan, pelaksanaan magang melalui fase adaptasi dan pelibatan langsung, serta evaluasi dan implementasi hasil dalam pembelajaran, tahap output berupa peningkatan kompetensi sikap, pengetahuan, keterampilan, dan self-directed learning, tahap outcome menghasilkan pembelajaran berbasis industri dan kemitraan berkelanjutan; (5) efektivitas terbukti melalui peningkatan persepsi siswa terhadap guru pertama dari kategori cukup baik menjadi sangat baik, sedangkan guru kedua setelah mengikuti program magang, Guru P1 unggul dalam penguasaan materi ajar, pembentukan karakter kerja siswa, dan penyampaian materi yang efektif. Sementara itu, Guru P2 lebih unggul secara keseluruhan, dengan kelebihan dalam membina hubungan interpersonal dan pengelolaan kelas. Namun, kedua guru perlu memperbaiki sikap profesional dalam berinteraksi serta beberapa kemampuan teknis, seperti pengelolaan emosi dan pengembangan diri. Model magang Reskilling efektif meningkatkan keterampilan sikap guru non-vokasi dengan kontribusi teoretis kerangka pembelajaran kolaboratif berkelanjutan. The involvement of non-vocational teachers in industrial experience is still low, despite their crucial role in producing skilled and job-ready graduates from Vocational High Schools. The gap in skills, attitudes, or work culture of non-vocational teachers, which is not aligned with the demands of modern industries, impacts the job readiness of graduates. This issue calls for innovative solutions in the form of developing a Reskilling model that can bridge the gap between the education sector and industry. This study aims to develop a valid, practical, and effective internship Reskilling model to improve the competencies of non-vocational teachers at Vocational High Schools in Cianjur Regency. Using a Research and Development approach with the Define, Design, Develop, Disseminate model, which integrates both qualitative and quantitative methods through in-depth interviews, focus group discussions, participatory observation, and student perception surveys using Likert scales, the research findings are as follows: (1) The majority of non-vocational teachers have no industrial experience but show very high motivation to participate in internships; (2) The developed model is based on the integration of experiential learning, lifelong learning, and andragogy, with the unique features of a dual mentorship system and reciprocal learning partnership; (3) Expert validation indicates that the model is relevant and feasible, with suggestions to strengthen industry collaboration; (4) Implementation through the input stage includes personal, instrument, and environmental dimensions; the process stage consists of preparation with needs analysis, internship implementation through adaptation and direct involvement phases, as well as evaluation and implementation of results in teaching; the output stage involves improvements in competencies related to attitude, knowledge, skills, and self-directed learning; and the outcome stage results in industry-based learning and sustainable partnerships; (5) Effectiveness is proven through an improvement in student perceptions of the first teacher, from the "fairly good" category to "very good," while the second teacher, after participating in the internship program, showed that Teacher P1 excelled in mastering the teaching material, shaping students' work character, and delivering effective lessons. Meanwhile, Teacher P2 was superior overall, particularly in building interpersonal relationships and classroom management. However, both teachers need to improve their professional attitude in interactions, as well as some technical skills, such as emotional management and self-development. The internship Reskilling model effectively enhances the attitude skills of non-vocational teachers, with a theoretical contribution to the framework of continuous collaborative learning

    PERANCANGAN MODEL SEKOLAH AMAN: Studi Kasus Relokasi SDN 026 Bojongloa Kidul

    Get PDF
    Lingkungan pendidikan yang ideal seharusnya terbebas dari berbagai hambatan, ancaman, maupun bahaya, baik yang muncul dari dalam maupun luar sekolah. Kondisi lingkungan pendidikan saat ini nyatanya masih mengalami berbagai risiko yang mengancam penghuni sekolah, baik mengancam fisik maupun nonfisik. Penelitian ini bertujuan membuat desain sekolah aman dengan metode kualitatif dengan pengumpulan data kuesioner, observasi, dan analisis dokumen. Hasil utama merupakan berbagai ancaman yang umum terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya di kota Bandung seperti ancaman fisik, keselamatan, keamanan dan perilaku negatif yang dapat membahayakan siswa dan tenaga pendidik. Hasil temuan digunakan sebagai dasar strategi perancangan model sekolah aman dengan metode kanonik yang dapat mengurangi risiko dan memberikan perlindungan keamanan dan keselamatan bagi seluruh warga sekolah. Kesimpulan penelitian bahwa resiko keamanan dan keselamatan seluruh warga sekolah dapat diminimalisir dengan aspek desain arsitektural seperti zoning, massa bangunan, sirkulasi, visibilitas, kelengkapan sarana dan prasarana pendukung lainya. An ideal educational environment should be free from various obstacles, threats, and dangers, both those arising from within and outside the school. The current condition of the educational environment in fact still experiences various risks that threaten school occupants, both physical and non-physical threats. This study aims to create a safe school design using qualitative methods by collecting questionnaire data, observation, and document analysis. The main results are various threats that commonly occur in educational environments, especially in the city of Bandung such as physical threats, safety, security and negative behavior that can endanger students and educators. The findings are used as the basis for a safe school model design strategy using the canonical method that can reduce risks and provide security and safety protection for all school residents. Conclusion of the study is that security and safety risks for all school residents can be minimized by architectural design aspects such as zoning, building mass, circulation, visibility, completeness of facilities and other supporting infrastructure

    KAJIAN NILAI FILOSOFIS ADAT KALUAR TI KAMPUNG SAATOS NIKAH DALAM MEMPERKUAT CIVICS IDENTITY PADA MASYARAKAT ADAT KAMPUNG PULO KABUPATEN GARUT

    Get PDF
    Masyarakat adat merupakan entitas sosial yang memegang teguh sistem nilai, norma, dan tradisi sebagai pedoman hidup bersama. Salah satu bentuk kearifan lokal yang masih lestari di Indonesia adalah adat Kaluar Ti Kampung Saatos Nikah di Kampung Pulo, Garut, Jawa Barat. Adat ini mewajibkan setiap warga yang telah menikah untuk meninggalkan rumah adat dan tinggal di luar lingkungan kampung paling lambat dua minggu setelah pernikahan. Tradisi ini tidak sekadar merupakan praktik budaya, tetapi sarat akan makna filosofis dan nilai kewargaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam adat tersebut serta relevansinya dalam memperkuat civics identity masyarakat Kampung Pulo. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi dengan pendekatan kualitatif. Studi ini menemukan bahwa adat Kaluar Ti Kampung Saatos Nikah di Kampung Pulo dipertahankan karena dianggap sakral dan bagian dari ajaran leluhur, terutama Arif Muhammad. Pembatasan jumlah rumah melambangkan keteraturan dan menjaga harmoni sosial serta spiritual. Adat ini mencerminkan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial, pelestarian budaya, dan komitmen terhadap identitas kolektif. Masyarakat berharap adat ini tetap lestari secara adaptif, dengan melibatkan generasi muda dan memanfaatkan teknologi, serta mendapat dukungan konkret dari pemerintah sebagai bagian dari civics identity. Di tengah arus modernisasi, keberlanjutan tradisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mempertegas identitas kewarganegaraan berbasis kearifan lokal. Oleh karena itu, pemahaman terhadap nilai filosofis dalam kearifan lokal menjadi penting untuk menjaga integritas budaya dan memperkuat karakter kebangsaan di masyarakat multikultural seperti Indonesia. Indigenous communities are social entities that firmly uphold a system of values, norms, and traditions as guidelines for living together. One form of local wisdom that is still preserved in Indonesia is the Kaluar Ti Kampung Saatos Nikah custom in Kampung Pulo, Garut, West Java. This custom requires every married resident to leave their traditional house and live outside the village environment no later than two weeks after the wedding. This tradition is not merely a cultural practice, but is also rich in philosophical meaning and civic values. This study aims to examine the philosophical values contained in this custom and its relevance in strengthening the civic identity of the Kampung Pulo community. The research method used is ethnography with a qualitative approach. This study found that the Kaluar Ti Kampung Saatos Nikah custom in Kampung Pulo is maintained because it is considered sacred and part of the teachings of ancestors, especially Arif Muhammad. The limitation on the number of houses symbolizes order and maintains social and spiritual harmony. This custom reflects the principles of social responsibility, cultural preservation, and a commitment to collective identity. The community hopes that this custom will remain sustainable adaptively, by involving the younger generation and utilizing technology, and receiving concrete support from the government as part of its civic identity. Amidst the tide of modernization, the sustainability of this tradition presents both a challenge and an opportunity to strengthen civic identity based on local wisdom. Therefore, understanding the philosophical values within local wisdom is crucial for maintaining cultural integrity and strengthening national character in a multicultural society like Indonesia

    PENGARUH WEBSITE QUALITY DAN INFLUENCER VALUE CO-CREATION TERHADAP ONLINE REPURCHASE INTENTION : Survei pada pengguna website fashion e-commerce Hijup

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dan pengaruh dari website quality dan influencer value co-creation terhadap online repurchase intention pada penggun website Hijup. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif serta metode explanatory survey. Teknik pengumpulan sampel menggunakan simple random sampling dengan ukuran sampel sebanyak 348 responden yang merupakan pengguna Website Hijup. Data diolah secara statistik menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM). Hasil temuan pada penelitian ini menemukan bahwa gambaran website quality, influencer value co-creation, dan online repurchase intention berada pada kategori tinggi. Website quality dan influencer value co-creation memiliki pengaruh signifikan terhadap online repurchase intention. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan website quality dan influencer value co-creation akan mendorong online repurchase intention pada pengguna website Hijup. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti merekomendasikan agar dapat mempertahankan dan meningkatkan online repurchase intention dengan menyelenggarakan berbagai program komunitas yang mendorong interaksi aktif pengguna, serta mengadakan kegiatan atau acara offline yang melibatkan partisipasi langsung, Hijup dapat membangun kedekatan hubungan yang lebih kuat dengan pengguna sekaligus memperkuat loyalitas mereka terhadap brand. This study aims to obtain an overview and influence of website quality and influencer value co-creation on online repurchase intentions among Hijup website users. This study uses descriptive and verification research types with a quantitative approach and explanatory survey method. The sample collection technique used simple random sampling with a sample size of 348 respondents who are Hijup website users. Data were processed statistically using the Structural Equation Modeling (SEM) method. The findings of this study found that the overview of website quality, influencer value co-creation, and online repurchase intentions were in the high category. Website quality and influencer value co-creation have a significant influence on online repurchase intentions. These findings indicate that the implementation of website quality and influencer value co-creation will encourage online repurchase intentions among Hijup website users. Based on the results of the study, the researcher recommends that in order to maintain and increase online repurchase intentions by organizing various community programs that encourage active user interaction, as well as holding offline activities or events that involve direct participation, Hijup can build stronger relationships with users while strengthening their loyalty to the brand

    ANALISIS GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENDUKUNG KEBUGARAN JASMANI SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER GURU DAN SISWA DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN CIMANGGUNG

    Get PDF
    Kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim sekolah yang mendukung penguatan karakter guru dan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mendukung kebugaran jasmani sebagai sarana pembentukan karakter di sekolah dasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru kelas V, guru PJOK, dan siswa kelas V dari lima sekolah dasar di Kecamatan Cimanggung. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui teknik thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif dan kolaboratif. Hal ini tercermin dari keterlibatan langsung kepala sekolah dalam kegiatan senam bersama, pengelolaan sumber daya sekolah termasuk dana BOS dan sarana olahraga, serta pendelegasian tugas kepada guru PJOK dan guru kelas. Sinergi antara kepala sekolah, guru, dan siswa menjadikan kegiatan kebugaran jasmani tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga membentuk karakter positif seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan religiusitas. Studi ini menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan partisipatif berbasis kolaborasi sangat relevan dalam mendukung kebugaran jasmani sebagai bagian integral dari penguatan karakter di sekolah dasar. Kata Kunci: Guru, Karakter, Kebugaran Jasmani, Kepala Sekolah, Kepemimpinan, Studi Kasus. Principals play a strategic role in creating a school climate that supports the character development of teachers and students. This study aims to describe the leadership style of principals in supporting physical fitness as a means of character formation in elementary schools. The research used a qualitative approach with a case study design. The subjects consisted of principals, fifth-grade teachers, physical education teachers, and fifth-grade students from five elementary schools in Cimanggung District. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using thematic analysis thecnique. The results showed that principals implemented participatory and collaborative leadership styles. This was reflected in their direct involvement in group exercise activities, the management of school resources including BOS funds and sports facilities, as well as the delegation of tasks to PE and classroom teachers. The synergy among principals, teachers, and students ensured that physical fitness activities not only improved physical health but also fostered positive character traits such as discipline, responsibility, cooperation, and religiosity. This study concludes that participatory and collaborative leadership styles are highly relevant in supporting physical fitness as an integral part of character strengthening in elementary schools. Keywords: Case Study, Character, Leadership, Physical Fitness, Principal, Teache

    PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI BENTUK STRATEGI PENCEGAHAN KRIMINALISASI GURU PADA LINGKUNGAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Penelitian ini berfokus pada fenomena pengkriminalisasian guru oleh siswa di Indonesia, serta relevansinya dalam konteks pendidikan di Kota Bandung. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dianggap sebagai strategi yang efektif dalam mencegah kriminalisasi guru di sekolah menengah atas. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi diterapkan, menggunakan teknik pengumpulan data seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting. Pertama, PKn berfungsi sebagai media untuk mengenalkan siswa kepada isu kriminalisasi guru melalui integrasi materi dalam kurikulum dan penggunaan metode pembelajaran yang variatif serta kreatif. Kedua, penerapan strategi hidden curriculum yang efektif dalam PKn meningkatkan kesadaran siswa mengenai masalah ini dan mempromosikan pemikiran kritis serta tanggung jawab sosial. Ketiga, efektivitas PKn juga dipengaruhi oleh faktor internal, seperti kualitas guru dan karakter siswa, serta faktor eksternal seperti kurikulum dan dukungan orang tua, yang berkontribusi pada pengembangan kesadaran hukum siswa. Terakhir, PKn di Sekolah Menengah Atas di Kota Bandung berimplikasi signifikan dalam menciptakan suasana sekolah yang aman dan positif, meningkatkan kesadaran hukum, dan membentuk karakter siswa yang lebih menghargai peran guru. Dengan demikian, PKn terbukti menjadi instrumen penting dalam mengurangi pengkriminalisasian terhadap guru dan mendukung pembangunan lingkungan pendidikan yang sehat. This research focuses on the phenomenon of the criminalization of teachers by students in Indonesia and its relevance within the educational context of Bandung City. Civic Education (PKn) is considered an effective strategy to prevent the criminalization of teachers in senior high schools. A qualitative approach utilizing phenomenological methods is applied, employing data collection techniques such as in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The findings of the study reveal several key points. First, PKn serves as a medium to introduce students to issues surrounding the criminalization of teachers through the integration of material into the curriculum and the use of varied and creative teaching methods. Second, the effective implementation of hidden curriculum strategies within PKn enhances students' awareness regarding this issue and promotes critical thinking and social responsibility. Third, the effectiveness of PKn is also influenced by internal factors, such as the quality of teachers and the character of students, as well as external factors such as curriculum and parental support, all contributing to the development of students' legal awareness. Finally, PKn in senior high schools in Bandung has significant implications for creating a safe and positive school environment, increasing legal awareness, and shaping a student character that respects the role of teachers. Thus, PKn proves to be an important instrument in reducing the criminalization of teachers and supporting the development of a healthy educational environment

    ASOSIASI TINGKAT AKTIVITAS FISIK DAN SEDENTARY BEHAVIOR DENGAN KEJADIAN SYNDROM METABOLIK PADA REMAJA

    Get PDF
    Pola aktivitas fisik anak masa kini telah mengalami pergeseran dari zaman dulu yang lebih banyak bergerak menjadi lebih sedikit beraktivitas fisik. Jumlah energi yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik seperti bermain bola, petak umpet atau lompat tali lebih besar jika dibanding dengan hanya duduk di depan komputer atau bermain dengan Smartphone. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mengubah pola aktifitas fisik bagi anak yang kurang mengenal gerak dan untuk mengetahui apakah aktifitas gerak dapat mencegah gaya hidup tidak sehat. Metode yang dipakai didalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Jumlah sampel yang berpartisipasi sebanyak 26 siswa. Instrumen yang dipakai untuk menganalisis aktivitas fisik adalah International Physical Activity Questionnaire for Older Children (IPAQ-C) dan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) untuk tes sedentary behavior lalu tes syndrom metabolik melalui 4 tes kesehatan yaitu lingkar pinggang, pengukuran tensi darah, tes gula darah serta tes kolestrol. Analisis data yang dipakai adalah crosstab dan uji korelasi spearman pada aplikasi SPSS. Hasil yang diperoleh dari uji crosstab adalah aktivitas fisik yang tergolong tinggi dengan jumlah 35%, sedentary behavior yang tergolong rendah dengan jumlah 42% serta syndrom metabolik yang tergolong rendah dengan jumlah 100%. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang saling terkait antara ketiga variabel penelitian. Dan pada uji korelasi spearman didapatkan hasil bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan diantara aktivitas fisik ke syndrom metabolik dan sedentary behavior pada syndrom metabolik. Pola aktivitas fisik anak masa kini telah mengalami pergeseran dari zaman dulu yang lebih banyak bergerak menjadi lebih sedikit beraktivitas fisik. Jumlah energi yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik seperti bermain bola, petak umpet atau lompat tali lebih besar jika dibanding dengan hanya duduk di depan komputer atau bermain dengan Smartphone. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mengubah pola aktifitas fisik bagi anak yang kurang mengenal gerak dan untuk mengetahui apakah aktifitas gerak dapat mencegah gaya hidup tidak sehat. Metode yang dipakai didalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Jumlah sampel yang berpartisipasi sebanyak 26 siswa. Instrumen yang dipakai untuk menganalisis aktivitas fisik adalah International Physical Activity Questionnaire for Older Children (IPAQ-C) dan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) untuk tes sedentary behavior lalu tes syndrom metabolik melalui 4 tes kesehatan yaitu lingkar pinggang, pengukuran tensi darah, tes gula darah serta tes kolestrol. Analisis data yang dipakai adalah crosstab dan uji korelasi spearman pada aplikasi SPSS. Hasil yang diperoleh dari uji crosstab adalah aktivitas fisik yang tergolong tinggi dengan jumlah 35%, sedentary behavior yang tergolong rendah dengan jumlah 42% serta syndrom metabolik yang tergolong rendah dengan jumlah 100%. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang saling terkait antara ketiga variabel penelitian. Dan pada uji korelasi spearman didapatkan hasil bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan diantara aktivitas fisik ke syndrom metabolik dan sedentary behavior pada syndrom metabolik

    HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA, LINGKUNGAN PERTEMANAN DAN POLA ASUH PELATIH DENGAN MOTIVASI BERLATIH ATLET SEPAKBOLA USIA REMAJA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan orang tua, lingkungan pertemanan dan pola asuh pelatih dengan motivasi berlatih atlet sepakbola usia remaja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi yang digunakan merupakan 30 atlet sepakbola SSB BIONSA. Tenik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tenik total sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah atlet sepakbola SSB BIONSA sebanyak 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah Angket Dukungan Orang Tua, Angket Dukungan Teman Sebaya, Angket Pola Asuh Pelatih dan Angket Motivasi Berlatih. Berdasarkan hasil penelitian dukungan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai signifikan sebesar 0.04, lingkungan pertemanan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai signifikan sebesar 0.57, dan pola asuh pelatih memiliki hubungan yang signifikan dengan signifikan sebesar 0.00, sehingga dapat disimpulkan bahwa dukungan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi berlatih atlet sepakbola usia remaja, lingkungan pertemanan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi berlatih atlet sepakbola usia remaja, pola asuh pelatih memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi berlatih atlet sepakbola usia remaja. This study aims to determine how parental support, the friendship environment, and the coach's parenting style relate to the motivation of adolescent soccer athletes to practice. This study is a quantitative descriptive study. The population used was 30 SSB BIONSA soccer athletes. The sampling technique in this study used the total sampling technique. The sample in this study was 30 SSB BIONSA soccer athletes. The instruments used were the Parental Support Questionnaire, Peer Support Questionnaire, Coach Parenting Style Questionnaire, and Training Motivation Questionnaire. Based on the results of the study, parental support has a significant relationship with a significant value of 0.04, the friendship environment does not have a significant relationship with a significant value of 0.57, and coach parenting style has a significant relationship with a significant value of 0.00, so it can be concluded that parental support has a significant relationship with the motivation to practice of adolescent soccer athletes, the friendship environment does not have a significant relationship with the motivation to practice of adolescent soccer athletes, and coach parenting style has a significant relationship with the motivation to practice of adolescent soccer athletes

    91,208

    full texts

    91,757

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository UPI is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇