91757 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN WEBSITE TAMANCODING SEBAGAI WADAH PENGETAHUAN BAGI GURU DAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN COMPUTATIONAL THINKING MELALUI PERMAINAN UNPLUGGED CODING: Penelitian Design Research Methodology pada Guru dan Orang Tua
Computational Thinking (CT) merupakan keterampilan berpikir yang berfokus pada pemecahan masalah secara sistematis melalui konsep logis, algoritmik, dan berpola. Keterampilan ini penting bagi anak usia dini karena menjadi dasar bagi penguasaan literasi digital, pemrograman, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif di era digital. Anak yang tidak memiliki kemampuan Computational Thinking cenderung mengalami kesulitan dalam menganalisis masalah, berpikir secara sistematis, dan mengembangkan solusi yang efektif, yang dapat berdampak pada keterbatasan dalam menghadapi tantangan di berbagai aspek kehidupan dan pendidikan di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang sesuai untuk menanamkan Computational Thinking sejak dini, salah satunya melalui aktivitas Unplugged Coding, yang dapat dilakukan tanpa menggunakan perangkat digital. Penelitian ini bertujuan untuk merancang website TamanCoding sebagai sumber informasi bagi guru dan orang tua dalam menanamkan konsep Computational Thinking kepada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Design Research Methodology (DRM) dengan pendekatan Design Thinking, yang terdiri dari tahapan empati, definisi, ideasi, pembuatan prototipe, dan pengujian. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa desain website memperoleh rata-rata skor kelayakan sebesar 90% dari validator ahli, 96% dari guru, dan 87% dari orang tua. Website ini dirancang dengan berbagai fitur, seperti penjelasan konsep Computational Thinking, aktivitas Unplugged Coding, modul ajar untuk guru, serta contoh permainan yang mudah diterapkan oleh orang tua di rumah. Respon positif dari guru dan orang tua menunjukkan bahwa website ini efektif digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan Computational Thinking pada anak usia dini. Dengan demikian, website TamanCoding diharapkan dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat dalam pembelajaran berbasis STEAM, serta mendukung kolaborasi antara guru dan orang tua dalam proses pembelajaran anak.
-------
Computational Thinking (CT) is a thinking skill that focuses on solving problems systematically through logical, algorithmic, and pattern-based concepts. This skill is essential for young children as it serves as the foundation for digital literacy, programming, and the development of critical and creative thinking in the digital era. Children who lack Computational Thinking skills tend to struggle with analyzing problems, thinking systematically, and developing effective solutions, which may limit their ability to face challenges in various aspects of life and education in the future. Therefore, an appropriate approach is needed to instill Computational Thinking from an early age, one of which is through Unplugged Coding activities that can be conducted without digital devices. This study aims to design the TamanCoding website as an information source for teachers and parents in fostering Computational Thinking in early childhood. The research method used is the Design Research Methodology (DRM) with a Design Thinking approach, consisting of empathy, definition, ideation, prototyping, and testing stages. The feasibility test results indicate that the website design received an average feasibility score of 90% from expert validators, 96% from teachers, and 87% from parents. The website is designed with various features, including explanations of Computational Thinking concepts, Unplugged Coding activities, teaching modules for teachers, and examples of games that parents can easily implement at home. The positive responses from teachers and parents indicate that this website is effective as a learning medium to enhance Computational Thinking skills in young children. Therefore, the TamanCoding website is expected to be a valuable resource in STEAM-based education and support collaboration between teachers and parents in the learning process of young children
PENINGKATAN MUTU SEKOLAH BERBASIS MANAJEMEN SEKOLAH DAN PARTISIPASI MASYARAKAT
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu sekolah dengan fokus pada manajemen sekolah dan partisipasi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Meranti. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran, dengan pendekatan eksplanatory sequential, yang menggabungkan data kuantitatif melalui survei dan data kualitatif melalui wawancara mendalam. Menurut teori manajemen mutu pendidikan yang dikemukakan oleh Sallis (2012), sekolah dapat meningkatkan kualitas pendidikan mereka melalui pengelolaan yang efektif yaitu manajemen sekolah yang baik, yang mencakup perencanaan yang cermat, pengorganisasian yang efisien, kepemimpinan yang kuat, pengawasan yang cermat, dan evaluasi yang terus menerus terhadap kinerja sekolah dan pentingnya peran partisipasi masyarakat yaitu melibatkan orang tua, komunitas lokal, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan keputusan serta pelaksanaan program sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen sekolah berpengaruh positif signifikan terhadap mutu sekolah dengan koefisien sebesar 0,576. Partisipasi masyarakat juga menunjukkan pengaruh positif terhadap kualitas sekolah dengan nilai sebesar 0,173. Temuan ini menekankan pentingnya kepemimpinan yang efektif, kolaborasi dengan masyarakat, dan manajemen sekolah yang matang dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang dikaji. Merujuk hasil penelitian tersebut, dirumuskan Model Hipotetik (Model KP4) yang dikembangkan berdasarkan analisis terhadap kepentingan sekolah, manajemen sekolah, budaya organisasi, dan partisipasi masyarakat. Model KP4 diharapkan dapat menjadi acuan bagi kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan dalam mengelola sekolah secara lebih partisipatif dan efektif, guna mencapai mutu pendidikan yang lebih baik. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori manajemen pendidikan dan dapat menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan pendidikan yang berorientasi mutu.
This study aims to improve school quality by focusing on school management and community participation in Kepulauan Meranti Regency. The research method used is a mixed method, with an explanatory sequential approach, which combines quantitative data through surveys and qualitative data through in-depth interviews. According to the theory of educational quality management proposed by Sallis (2012), schools can improve their education quality through effective management, namely good school management, which includes careful planning, efficient organization, strong leadership, careful supervision, and continuous evaluation of school performance and the importance of the role of community participation, namely involving parents, local communities, and other stakeholders in decision making and implementing school programs. The results of the study showed that school management had a significant positive effect on school quality with a coefficient of 0.576. Community participation also showed a positive effect on school quality with a value of 0.173. These findings emphasize the importance of effective leadership, collaboration with the community, and mature school management in improving the quality of education in the studied area. Referring to the results of the study, a Hypothetical Model (KP4 Model) was formulated which was developed based on an analysis of school interests, school management, organizational culture, and community participation. The KP4 Model is expected to be a reference for principals, teachers, and stakeholders in managing schools in a more participatory and effective manner, in order to achieve better education quality. This study also contributes to the development of educational management theory and can be a basis for formulating quality-oriented education policies
ANALISIS MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI BUNYI DI KELAS V SEKOLAH DASAR
Miskonsepsi merupakan pemahaman yang tidak tepat tentang suatu konse, salah dalam menggunakan nama konsep, salah dalam mengklasifikasikan contoh-contoh konsep, kebingungan terhadap konsep-konsep yang berbeda, ketidakcocokan dalam menghubungkan berbagai konsep. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis miksonsepsi siswa kepada materi bunyi di kelas V SD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan mix metohode. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas V SD Negeri Wangkelang III dengan jumlah siswa 26 dengan siswa laki-laki berjumlah 16 dan siswa perempuan berjumlah 10 Sebagai kelas yang akan digunakan untuk penelitian. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data pada peneltian ini menggunakan 4 tahapan diantaranya: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, 3) Penyajian data, 4) Penarikan kesimpulan dan verifikasi. Selain itu, analisis data kuantitaf menggunakan statistik deskriptif. Hasil dari penelitian ini yaitu miskonsepsi yang terjadi pada siswa keseluruhan dari 10 soal yang mempunyai miskonsepsi paling rendah adalah pada soal nomor 1 yaitu tentang menyebutkan sifat-sifat bunyi yang dipresentasekan dengan 88, 46% atau dari 26 siswa yang menjawab benar ada 24 siswa. Kemudian miskonsepsi paling tinggi yakni pada soal nomor 5 yakni mengelompokkan bunyi keras dan pelan dengan 17 siswa mengalami miskonsepsi yang dipresentasikan sebesar 57,69%.
Misconception is an incorrect understanding of a concept, wrong in using the name of the concept, wrong in classifying examples of concepts, confusion about different concepts, incompatibility in connecting various concepts. This study aims to analyze students' misconceptions of sound material in grade V elementary school. The method used in this research is descriptive qualitative method. The research subject used in this study was the fifth grade of SD Negeri Wangkelang III with a total of 26 students with 16 male students and 10 female students as the class to be used for research. Data collection techniques in this study used observation, interviews, tests, and documentation. Data analysis in this research uses 4 stages including: 1) Data collection, 2) Data reduction, 3) Presentation of data, 4) Drawing conclusions and verification and descriptive statistic. The results of this study are misconceptions that occur in students as a whole of 10 questions that have the lowest misconceptions are in question number 1, namely about mentioning the properties of sound which is represented by 88, 46% or of the 26 students who answered correctly there were 24 students. Then the highest misconception is in question number 5, namely classifying loud and slow sounds with 17 students experiencing misconceptions which are presented at 57.69%
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENGGAMBAR DENGAN TEMA TEMAN DISEKITAR: Penelitian Tindakan Kelas di TK X Bandung
Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan motorik halus dalam mengeksplorasi kreativitasnya dalam kegiatan menggambar anak usia dini, faktor-faktor yang mendukung atau menghambat proses eksplorasi dalam kegiatan menggambar anak usia dini dan peran guru dalam memfasilitasi kegiatan menggambar untuk membangun kreativitas anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk eksplorasi mendalam tentang keterampilan motorik halus anak usia dini dalam kegiatan menggambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian proses penerapan kegiatan menggambar untuk meningkatkan kemampuan matorik halus anak usia 5 smapai 6 tahun dilakukan dalam dua tindakan, yaitu tindakan I dan tindakan II. Pelaksanaan pembelajaran pada setiap tindakannya dimulai dari kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kemampuan motorik halus anak dapat meningkat setiap indikatornya yaitu kemampuan menggenggam pensil, mengontrol gerak tangan, kemampuan mengkoordinasikan mata dan tangan, ekspresi wajah anak saat menggambar dan interaksi anak dengan teman sebaya. Hasil peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 5 smapai 6 tahun setelah penerapan kegiatan menggambar masuk dalam kategori sangat tinggi. Kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan dari tindakan I sampai tindakan II. Pada tindakan I diperoleh hasil rata-rata persentase sebesar 35,5 % yang masuk dalam kategori cukup baik dengan kemampuan motorik halus anak yang masih belum mencapai indikator yang diharapkan. Pada tindakan II kemampuan motorik halus anak diperoleh hasil ratarata persentase sebesar 92,5% yang masuk dalam kategori sangat baik. Hasil peningkatan dari kedua tindakan yang dilakukan yang sudah dilakukan 0,883 yang masuk dalam kategori sangat tinggi, sehingga menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak sudah mengalami peningkatan yang signifikan, dapat dilihat dari anak sudah mampu mencapai seluruh indikator kemampuan motorik halus anak.
----------------
This study aims to analyse and describe fine motor skills in exploring creativity in early childhood drawing activities, factors that support or hinder the exploration process in early childhood drawing activities and the role of teachers in facilitating drawing activities to build early childhood creativity. The research method used is classroom action research. Classroom action research (PTK) is action research conducted with the aim of in-depth exploration of early childhood fine motor skills in drawing activities. The results showed that the research process of applying drawing activities to improve the fine motor skills of children aged 5 to 6 years was carried out in two actions, namely action I and action II. The implementation of learning in each action starts from opening activities, core activities and closing activities. Children's fine motor skills can improve each indicator, namely the ability to grip a pencil, control hand movements, the ability to coordinate eyes and hands, children's facial expressions when drawing and children's interactions with peers. The results of improving the fine motor skills of children aged 5 to 6 years after the application of drawing activities are in a very high category. Children's fine motor skills have increased from action I to action II. In action I, the average percentage of 35.5% was obtained which was included in the good enough category with children's fine motor skills that still had not reached the expected indicators. In action II, children's fine motor skills obtained an average percentage of 92.5% which is in the very good category. The results of the increase from the two actions taken that have been carried out are 0.883 which is included in the very high category, thus showing that children's fine motor skills have experienced a significant increase, it can be seen from the children being able to achieve all indicators of children's fine motor skills
PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PERBANDINGAN DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT DAN FIELD INDEPENDENT
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan penalaran matematis siswa dalam menyelesaikan masalah perbandingan yang ditinjau dari gaya kognitif Field Dependent dan Field Independent. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan wawancara. Instrumen tes yang digunakan adalah intrumen GEFT dan soal tes kemampuan penalaran matematis. Subjek penelitian terdiri dari enam orang siswa, yaitu tiga siswa dengan gaya kognitif Field Dependent (FD) dan tiga siswa dengan gaya kognitif Field Independent (FI). Penelitian ini dilaksanakan pada kelas VII dan VIII salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil capaian kemampuan penalaran matematis siswa dengan gaya kognitif FI lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya kognitif FD dalam menyelesaikan masalah perbandingan. Siswa dengan gaya kognitif FD mampu memenuhi empat indikator penalaran matematis dengan cukup baik, diantaranya mengajukan dugaan, melakukan manipulasi matematis, menyusun bukti serta memberikan argumen untuk mendukung kebenaran solusi, dan menarik kesimpulan dari pernyataan yang ada. Akan tetapi, siswa tersebut kurang mampu untuk memenuhi indikator penalaran matematis memeriksa keabsahan jawaban atau argumen. Sementara itu, siswa dengan gaya kognitif FI mampu memenuhi seluruh indikator penalaran matematis pada penelitian ini, termasuk memeriksa keabsahan jawaban.
This study aims to examine the mathematical reasoning ability of junior high school students in solving proportional problems reviewed from Field Dependent and Field Independent cognitive styles. The methods used in this study were tests and interviews. The test instruments used were the GEFT instrument and mathematical reasoning ability tes. The subjects of the study consisted of six students, namely three students with Field Dependent (FD) cognitive styles and three students with Field Independent (FI) cognitive styles. This study was conducted in grades VII and VIII of a State Junior High School in Bandung Regency. The results of the study showed that the achievement of mathematical reasoning abilities of students with FI cognitive styles was better than students with FD cognitive styles in solving comparative problems. Students with FD cognitive styles were able to fulfill most of the indicators of mathematical reasoning, such as submitting conjectures, carrying out mathematical manipulations, and compiling evidence, but were lacking in checking the validity of the answers. Meanwhile, students with the FI cognitive style are able to fulfill almost all indicators of mathematical reasoning, including checking the validity of the answers
HUBUNGAN POLA ASUH PERMISIF DENGAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PESERTA DIDIK KELAS V DI SEKOLAH DASAR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh permisif dengan perkembangan psikososial peserta didik kelas V di sekolah dasar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pola asuh orang tua dalam membentuk perkembangan psikososial anak. Pada kenyataanya masih banyak peserta didik kelas V yang menunjukkan perkembangan psikososial yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya. Penelitian ini didasarkan pada teori perkembangan psikososil Erik Erikson, khususnya pada tahap industri vs inferioritas (industry vs inferiority) yang relevan dengan usia anak sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket yang diberikan kepada orang tua untuk mengidentifikasi pola asuh dan kepada peserta didik untuk mengukur perkembangan psikososial mereka. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas V disebuah sekolah dasar, sedangkan sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif memiliki hubungan signifikan dengan perkembangan psikososial peserta didik. Anak yang diasuh dengan pola asuh permisif cenderung mengalami perkembangan psikososial yang kurang optimal. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pola asuh yang seimbang untuk mendukung perkembangan psikososial anak sesuai dengan tahapan usia mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kostribusi dalam bidang pendidikan dan parenting, serta menjadi acuan bagi orang tua dan pendidik untuk memilih pola asuh yang tepat, guna meningkatkan perkembangan psikososial anak.
This study aims to determine the relationship between permissive parenting patterns and the psychosocial development of fifth grade students in elementary schools. This study is motivated by the importance of parental parenting patterns in shaping children's psychosocial development. In reality, there are still many fifth grade students who show psychosocial development that is not in accordance with their developmental stage. This study is based on Erik Erikson's theory of psychosocial development, especially at the industry vs. inferiority stage which is relevant to the age of elementary school children. The research method used is a correlational method with a quantitative approach. Data were collected through the distribution of questionnaires given to parents to identify parenting patterns and to students to measure their psychosocial development. The population of the study was fifth grade students in an elementary school, while the sample was determined using a purposive sampling technique. The results showed that permissive parenting patterns had a significant relationship with students' psychosocial development. Children who are raised with permissive parenting patterns tend to experience less than optimal psychosocial development. This finding underscores the importance of balanced parenting patterns to support children's psychosocial development according to their age stages. This research is expected to provide contributions in the field of education and parenting, as well as being a reference for parents and educators to choose the right parenting pattern, in order to improve children's psychosocial development
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PJBL) DALAM MENINGKATKAN KARAKTER ADVENTUROUS SPIRIT DAN PERSISTENCE: Penelitian Kuantitatif Deskriptif pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Materi Struktur dan Fungsi Tumbuhan di Kelas 4 SD
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya siswa yang minim akan karakter adventurous spirit (semangat petualang) dan persistence (kegigihan) selama pembelajaran berlangsung khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari implementasi pembelajaran berbasis proyek (PJBL) pada materi stuktur dan fungsi tumbuhan dalam meningkatkan karakter adventurous spirit dan persistence. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi dengan teknik analisis data Creswell meliputi frekuensi dan persentase, mean, dan visualisasi data. Hasil penelitian menunjukkan implementasi pembelajaran berbasis proyek (PJBL) dalam meningkatkan karakter adventurous spirit dan persistence melalui beberapa tahap, yaitu kegiatan perlakuan, pelaksanaan proyek, presentasi hasil proyek, serta hasil akhir yang dilihat ketika sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis proyek (PJBL). Berdasarkan dari kegiatan pembelajaran berbasis proyek (PJBL) yang dilakukan, mampu meningkatkan karakter adventurous spirit dan persistence berdasarkan dimensi-dimensi yang dinilai pada masing-masing karakter, yaitu dimensi kemampuan mengambil risiko dan antisipatif pada karakter adventurous spirit dan dimensi hasrat (passion), latihan (practice), tujuan (purpose), dan harapan (hope) pada karakter persistence. Sejalan hal tersebut juga diperkuat dengan respon guru dan siswa yang setuju dengan perolehan 88%, 11% ragu-ragu, dan 1% tidak setuju. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi pembelajaran berbasis proyek (PJBL) mampu meningkatkan karakter adventurous spirit dan persistence.
----------
This research was motivated by the fact that many students lack adventurous spirit and persistence during the learning process, particularly in Science subjects. The purpose of this study was to examine the outcomes of implementing project-based learning (PJBL) on the topic of plant structure and function in enhancing students' adventurous spirit and persistence. Data collection techniques included observation, interviews, questionnaires, and documentation. The data analysis technique followed Creswell's framework, which involves frequency and percentage, mean, and data visualization. The results of the study show that the implementation of project-based learning (PJBL) in improving the character of adventurous spirit and persistence through several stages, namely treatment activities, project implementation, presentation of project results, and final results seen when carrying out project-based learning activities (PJBL). Based on the project-based learning activities (PJBL) carried out, it is able to improve the character of adventurous spirit and persistence based on the dimensions assessed on each character, namely the dimensions of risktaking and anticipatory ability in the adventurous spirit character and the dimensions of passion, practice, purpose, and hope in the persistence character. In line with this, it was also strengthened by the responses of teachers and students who agreed with the results of 88%, 11% hesitated, and 1% disagreed. Thus, it can be concluded that the implementation of project-based learning (PJBL) is able to increase the character of adventurous spirit and persistence
MODEL TOURIST EXPERIENCED-GENERATED DAN NLP-BASED CHATBOT RECOMMENDATION DALAM MENINGKATKAN TOURIST VISIT DECISION: Survei pada Wisatawan Nusantara di Jawa Barat
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh langsung tourist experienced-generated recommendation dan NLP-based chatbot recommendation terhadap tourist visit decision, serta peran mediasi tourist perceived value dan tourist perceived trust dalam pengaruh tersebut, dengan menggunakan kerangka model stimulus-organism-response (S-O-R). Dalam perspektif teori informational social influence, tourist visit decision seringkali dipengaruhi oleh rekomendasi dari orang lain. Namun, dengan meningkatnya peran NLP-based chatbot sebagai agen pemberi rekomendasi, muncul kebutuhan untuk mengevaluasi ulang teori ini, terutama terkait dengan jenis rekomendasi yang didasarkan pada pengalaman langsung wisatawan, karena penelitian terdahulu belum ada yang secara eksplisit menjelaskan bahwa destinasi pariwisata yang direkomendasikan kepada orang lain itu apakah destinasi yang pernah dikunjungi atau yang belum pernah dikunjungi pemberi rekomendasi. Penelitian ini melibatkan 530 responden melalui teknik sampling purposif kepada wisatawan domestik yang telah berkunjung ke Jawa Barat, telah menggunakan NLP-based chatbot sebagai sumber informasi dan sebagai penentu keputusan. Analisis dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS versi 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tourist experienced-generated recommendation dan NLP-based chatbot recommendation tidak terbukti memiliki pengaruh langsung terhadap tourist visit decision. Namun, tourist perceived value dan tourist perceived trust berperan sebagai mediator yang kuat dalam memperkuat pengaruh kedua jenis rekomendasi terhadap tourist visit decision. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa rekomendasi saja tidak cukup dalam mendorong keputusan wisatawan untuk berkunjung ke destinasi pariwisata, sehingga pendekatan yang dapat meningkatkan persepsi nilai dan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi pariwisata menjadi krusial dalam strategi pemasaran pariwisata.
This study aims to investigate the direct influence of tourist experienced-generated recommendation and NLP-based chatbot recommendation on tourist visit decision, as well as the mediating role of tourist perceived value and tourist perceived trust in this influence, using the stimulus-organism-response (S-O-R) model framework. In the perspective of informational social influence theory, tourist visit decision are often influenced by recommendations from others. However, with the increasing role of NLP-based chatbots as recommendation agents, there is a need to re-evaluate this theory, especially related to the type of recommendations based on tourists' direct experiences, because previous studies have not explicitly explained whether the tourist destinations recommended to others are destinations that have been visited or have not been visited by the recommender. This study involved 530 respondents through purposive sampling techniques to domestic tourists who had visited West Java, had used NLP-based chatbots as a source of information and as a decision maker. The analysis was conducted using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS version 4.0. The results showed that tourist experienced-generated recommendations and NLP-based chatbot recommendations did not have a significant direct effect on tourist visit decision. However, tourist perceived value and tourist perceived trust acted as strong mediators in strengthening the influence of both types of recommendations on tourist visit decision. The implications of this study indicate that recommendations alone are not enough to encourage tourists' decision to visit, so that approaches that increase tourist perceived value and tourist perceived trust in tourist destinations are important in tourism marketing strategies
ANALISIS SCHOOL BRANDING DENGAN KERANGKA KERJA MCKINSEY 7S: Studi Kasus di SMAN Cahaya Madani Banten Boarding School
ABSTRAK
Salah satu sekolah negeri di Provinsi Banten yang sering dijadikan sebagai contoh sekolah unggulan adalah SMAN Cahaya Madani Banten Boarding School. SMAN CMBBS telah melakukan pembentukan school branding melalui penguatan digital marketing. Namun, sekolah tersebut belum melakukan analisis kondisi organisasi dan sumber daya sekolah secara mendalam yang dapat menjadi acuan untuk pengembangan school branding ke depannya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi organisasi sekolah dengan menggunakan kerangka kerja McKinsey 7S. Kerangka kerja McKinsey 7S adalah sebuah alat dari manajemen berbasis nilai yang dapat diaplikasikan pada lembaga pendidikan. Penelitian ini dirancang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah para wakil kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, wali asuh, siswa, dan alumni SMAN CMBBS. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi ATLAS.ti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang dapat menjadi pendukung dalam pengembangan school branding di SMAN CMBBS ada pada elemen strategy, structure, system, staff, skill, style, dan shared value. Sedangkan faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pengembangan school branding di SMAN CMBBS ada pada elemen skill, style, dan shared value. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa untuk pengembangan school branding ke depannya, SMAN CMBBS dapat mengandalkan perencanaan strategi prestasi dan kegiatan sekolah, struktur tim HUMAS, sistem sekolah yang terbuka, pendidik dan tenaga kependidikan yang kolaboratif, pengembangan kompetensi pendidik dari komunitas belajar, gaya kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis, serta nilai cerdas dan karakter dalam budaya sekolah.
SMAN CMBBS has established a school brand through the implementation of a robust digital marketing strategy. However, the school has not yet conducted a comprehensive analysis of its organizational structure and available resources, which could inform future development of its branding strategy. In light of the above, the objective of this study is to analyse the condition of the school organisation using the McKinsey 7S framework. This research was conducted using a qualitative method with a case study approach. The research subjects are vice principals, educators and education personnel, foster guardians, students, and alumni of SMAN CMBBS. This research employs a variety of data collection methods, including interviews, observations, and document analysis. The data analysis technique employed in this study utilized the ATLAS.ti application. The results demonstrated that the key factors that can facilitate the development of school branding at SMAN CMBBS are found within the elements of strategy, structure, system, staff, skill, style, and shared value. The factors that could impede the development of school branding at SMAN CMBBS are in the elements of skill, style, and shared value. Based on the results of the data analysis, it can be concluded that SMAN CMBBS can rely on the following factors to develop its school branding in the future: strategic planning of school achievements and activities, an open school system, an open school system, a collaborative approach to education and personnel, competency development of educators from the learning community, a democratic leadership style of the principal, and smart values and characters in the school culture
VALIDITY AND RELIABILITY OF THE INDONESIAN VERSION OF THE INTERNATIONAL PHYSICAL ACTIVITY QUESTIONNAIRE AMONG STUDENTS: A CONFIRMATORY ANALYSIS USING THE ACTIGRAPH GT3X+ ACCELEROMETER
Questionnaires and accelerometers are the most commonly used instruments by researchers to analyze physical activity. This study aims to evaluate the relationship between physical activity measurements using two methods: the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and the Actigraph GT3X+ device. The study sample consisted of 27 male and 23 female students from Universitas Pendidikan Indonesia. The instruments utilized in the research were the Actigraph GT3X+ accelerometer and the IPAQ. Data analysis was conducted by correlating the data obtained from the IPAQ and the Actigraph GT3X+. The results indicated that there was no correlation between IPAQ and Actigraph GT3X+ across various physical activity intensities. Further analysis is required, considering an increased sample size and minimizing self-reporting biases through a more structured approach to achieve more accurate results