91757 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MEDIA EDUCATION BOARD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG ARITMETIKA DASAR PADA PESERTA DIDIK TUNARUNGU DI SLBN A CITEUREUP
Peserta didik tunarungu sering menghadapi kesulitan dalam memahami konsep operasi hitung
aritmetika dasar karena keterbatasan akses terhadap komunikasi verbal. Oleh karena itu,
diperlukan media pembelajaran yang konkret dan visual sesuai dengan karakteristik belajar
mereka. Media Education Board hadir sebagai alternatif yang mampu menjembatani konsep
abstrak menjadi lebih mudah dipahami melalui pengalaman belajar multisensori. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media Education Board terhadap
peningkatan kemampuan operasi hitung aritmetika dasar pada peserta didik tunarungu.
Metode penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan desain one group pretestposttest.
Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik tunarungu jenjang SDLB, dengan
sampel sebanyak lima orang siswa berusia 7–12 tahun yang dipilih menggunakan teknik
random sampling. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda sebanyak 30 butir soal yang
mencakup materi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Data hasil pretest
dan posttest dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa seluruh peserta didik mengalami peningkatan skor posttest
dibandingkan pretest. Hal ini dibuktikan dengan nilai Z sebesar -2.060 dan Asymp. Sig. (2-
tailed) sebesar 0.039 (< 0.05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan setelah diberikan
perlakuan. Dengan demikian, penggunaan media Education Board terbukti efektif dalam
meningkatkan kemampuan operasi hitung aritmetika dasar peserta didik tunarungu. Media ini
memberikan pengalaman belajar konkret dan visual yang sesuai dengan karakteristik belajar
siswa, sehingga mampu menjembatani konsep abstrak dalam operasi hitung menjadi lebih
mudah dipahami melalui manipulasi simbol angka yang nyata. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menjadi implikasi praktis bagi guru dalam memilih media pembelajaran yang tepat,
serta menjadi rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan media Education
Board pada materi atau jenjang pendidikan yang berbeda.
Kata kunci: Education Board, operasi hitung, aritmetika, tunarungu.
Deaf students often face difficulties in understanding the concepts of basic arithmetic
operations due to limited access to verbal communication. Therefore, concrete and visual
learning media are needed to match their learning characteristics. The Education Board media
serves as an alternative that can bridge abstract concepts, making them easier to understand
through multisensory learning experiences. This study aims to determine the effectiveness of
using the Education Board media in improving the basic arithmetic operation skills of deaf
students. The research method used was a pre-experimental design with a one-group pretestposttest
design. The population consisted of all deaf students at the elementary special school
(SDLB) level, with a sample of five students aged 7–12 years selected using random
sampling techniques. The research instrument was a multiple-choice test with 30 items
covering addition, subtraction, multiplication, and division. The pretest and posttest data were
analyzed using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed that all students
experienced an increase in their posttest scores compared to their pretest scores. This was
proven by a Z value of -2.060 and an Asymp. Sig. (2-tailed) of 0.039 (< 0.05), indicating a
significant difference after the treatment was given. Therefore, the use of the Education
Board media was proven to be effective in improving the basic arithmetic operation skills of
deaf students. This media provides concrete and visual learning experiences that align with
their learning characteristics, making it easier to bridge abstract concepts in arithmetic
operations through the manipulation of real number symbols. The results of this study are
expected to serve as a practical implication for teachers in selecting appropriate learning
media, as well as a reference for future researchers to develop the Education Board media for
different subjects or educational levels.
Keywords: Education Board, arithmetic operations, arithmetic, deaf students
PENGARUH METODE AUDIOLINGUAL TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN HURUF KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU DI SLB BC KURNIA
Keterbatasan berbahasa dalam pengucapan huruf, merupakan dampak dari hambatan pendengaran. Berdasarkan temuan empirik, subjek belum mampu dalam mengucapkan huruf konsonan bilabial. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh metode audiolingual terhadap kemampuan pengucapan huruf konsonan bilabial (b-p-m-w) pada peserta didik dengan hambatan pendengaran di SLB BC Kurnia. Penelitian ini, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen jenis Subject Single Research dengan desain penelitian A-B-A. Subjek penelitian ini, adalah satu orang peserta didik tunarungu kelas III dengan tingkat kehilangan pendengaran berat (75dB). Pengumpulan data, dilakukan dengan cara tes lisan. Instrumen yang digunakan, berupa tes pengucapan huruf konsonan bilabial di awal, di tengah, dan di akhir kata. Data yang didapatkan, dianalisis menggunakan analisis visual yang disajikan dalam bentuk grafik yang mencakup analisis dalam kondisi dan antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa metode audiolingual dapat meningkatkan kemampuan pengucapan huruf konsonan bilabial (b-p-m-w) pada anak tunarungu. Hal tersebut, ditunjukkan dengan adanya peningkatan dari fase baseline 1 (A1) sebesar 40% meningkat pada fase intervensi (B) menjadi 58,8%, kemudian terjadi peningkatan dari fase intervensi (B) ke fase baseline 2 (A2) menjadi 67,6%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan, bahwa metode audiolingual dengan mengandalkan latihan berulang, peniruan, dan koreksi langsung terbukti berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan pengucapan huruf konsonan bilabial anak tunarungu di SLB BC Kurnia.
Language limitations in pronouncing letters, are the impact of hearing impairment. Based on empirical findings, the subject has not been able to pronounce bilabial consonants. This study aims to determine the effect of the audiolingual method on the pronunciation ability of bilabial consonants (b-p-m-w) in students with hearing impairments at SLB BC Kurnia. This study uses a quantitative approach with an experimental method of the Single Subject Research type with an A-B-A research design. The subject of this study was one deaf student in grade III with a severe hearing loss level (75dB). Data collection was carried out by means of an oral test. The instrument used was a test of pronouncing bilabial consonants at the beginning, in the middle, and at the end of words. The data obtained were analyzed using visual analysis presented in graphical form that includes analysis within conditions and between conditions. The results of the study indicate that the audiolingual method can improve the pronunciation ability of bilabial consonants (b-p-m-w) in deaf children. This occurred with an increase from baseline phase 1 (A1) of 40%, increasing in the intervention phase (B) to 58.8%, then an increase from the intervention phase (B) to baseline phase 2 (A2) to 67.6%. Based on these results, it can be concluded that the audiolingual method, which relies on repeated practice, imitation, and direct correction, has been proven to have an effect on improving the pronunciation ability of bilabial consonants in deaf children at SLB BC Kurnia
PENGEMBANGAN RUBRIK PENILAIAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS NARASI DI SEKOLAH DASAR
Menulis narasi penting untuk melatih pemilihan kata dan pengembangan imajinasi siswa, serta kemampuan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Namun, guru sering kesulitan dalam menilai hasil belajar siswa terkait keterampilan menulis narasi. Penelitian ini bertujuan merancang rubrik penilaian keterampilan menulis teks narasi menggunakan metode design-based research (model Reeves). Langkah-langkahnya meliputi identifikasi masalah, pengembangan prototipe solusi, proses berulang, dan refleksi. Rubrik diujicobakan pada hasil tulisan teks narasi dua siswa dan dinilai oleh lima observer. Sebelum uji coba, produk divalidasi oleh ahli asesmen (87,5% sangat layak) dan ahli materi (80% layak). Hasil uji coba rubrik menunjukkan nilai probabilitas Kendall's W <0,05 (Asymp.Sig SB 0,046 dan HF 0,019), menandakan rubrik dapat digunakan. Selain itu, angket respons guru menunjukkan bahwa rubrik ini memfasilitasi guru dalam menilai karya siswa secara terstruktur, adil, serta menyederhanakan proses penilaian. Rubrik ini juga membantu guru memberikan umpan balik yang lebih spesifik dan terarah kepada siswa. Temuan ini mendukung upaya peningkatan kualitas asesmen autentik dalam Kurikulum Merdeka. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kompetensi guru dalam melakukan penilaian. Rubrik yang dikembangkan juga dapat menjadi acuan bagi guru lain dalam membuat instrumen penilaian yang serupa. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini memiliki nilai aplikatif tinggi dalam praktik pembelajaran sehari-hari di sekolah dasar. Pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada variasi topik dan digitalisasi rubrik agar lebih praktis dan mudah diakses oleh guru.
Writing narratives is important for training students' word choice and imagination, as well as their ability to use simple language that is easy to understand. However, teachers often find it difficult to assess students' learning outcomes related to narrative writing skills. This study aims to design a rubric for assessing narrative writing skills using the design-based research method (Reeves model). The steps involved include problem identification, prototype development, iterative processes, and reflection. The rubric was tested on the narrative writing of two students and evaluated by five observers. Prior to the trial, the product was validated by assessment experts (87.5% highly suitable) and subject matter experts (80% suitable). The results of the rubric trial showed a Kendall's W probability value <0.05 (Asymp.Sig SB 0.046 and HF 0.019), In addition, the teachers’ response questionnaire indicated that this rubric facilitates teachers in assessing students’ work in a structured and fair manner, as well as simplifying the assessment process. This rubric also helps teachers provide more specific and targeted feedback to students. These findings support efforts to improve the quality of authentic assessment in the Merdeka Curriculum. This research makes a tangible contribution to enhancing teachers’ competencies in conducting assessments. The rubric developed can also serve as a reference for other teachers in creating similar assessment instruments. Thus, The expected outcome of this research is to have a high practical value in everyday learning practices at elementary schools. Further development can be directed toward varying topics and digitalizing the rubric to make it more practical and accessible for teachers
KEBIJAKAN PEMBERIAN PENGHARGAAN PADA ATLET PELAJAR DI KABUPATEN BOGOR
Abstrak
Kebijakan pemberian penghargaan kepada atlet pelajar memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi dan kinerja atlet. Penelitian ini menegaskan bahwa penghargaan dapat meningkatkan motivasi atlet jika diberikan dengan pendekatan yang tepat, seperti umpan balik yang informatif dan lingkungan yang mendukung otonomi atlet. Dengan kebijakan yang efektif, diharapkan prestasi olahraga di Kabupaten Bogor dapat terus meningkat, sekaligus memberikan inspirasi bagi daerah lain dalam merancang kebijakan serupa. Menganalisis pengaruh anggaran dan implementasi terhadap efektivitas kebijakan pemberian penghargaan kepada atlet muda di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, variabel anggaran berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dengan nilai signifikansi 0,018 (p < 0,05), sementara variabel implementasi tidak berpengaruh signifikan secara statistik. Namun, secara simultan, anggaran dan implementasi bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas kebijakan.
Abstract
This study confirms that awards can increase athlete motivation if given with the
right approach, such as informative feedback and an environment that supports
athlete autonomy. With an effective policy, it is hoped that sports achievements in
Bogor Regency can continue to increase, while also providing inspiration for other
regions in designing similar policies. Analyzing the influence of budget and
implementation on the effectiveness of the policy of awarding young athletes in
Bogor Regency. Achievement sports are types that rely on skills to achieve certain
targets, with a foundation of science and innovation in sports technology. To achieve
optimal performance, an athlete must go through an intensive and focused training
process. Without structured training, athletes will not be able to hone the skills
needed to achieve their goals. Therefore, proper training management from an early
age is very important in developing sports talent.The results of the study showed that
partially, the budget variable had a significant effect on the policy with a significance
value of 0.018 (p <0.05), while the implementation variable did not have a
statistically significant effect. However, simultaneously, the budget and
implementation together had a significant effect on the effectiveness of the policy.
Keywords: awards, sport policy, student athlet
PERAN INSTAGRAM MARKETING DENGAN MEDIASI BRAND IMAGE TERHADAP PURCHASE DECISION PADA PAPA AUS DI KOTA BANDUNG
Sektor pariwisata, khususnya kuliner, mengalami perkembangan pesat dan menjadi bagian penting dalam perekonomian, dimana pemasaran digital melalui media sosial, terutama Instagram, memainkan peran krusial dalam mempromosikan produk dan memengaruhi perilaku konsumen. Dalam konteks Papa Aus, yang merupakan bisnis minuman kekinian, media sosial Instagram digunakan untuk membangun brand image dan meningkatkan keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai peran Instagram marketing (X) dengan mediasi brand image (Z) terhadap purchase decision (Y) pada konsumen Papa Aus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan analisis deskriptif dan verifikatif dengan penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang merupakan konsumen Papa Aus. Teknik analisis data menggunakan regresi jalur (path analysis) dan uji sobel test melalui aplikasi olah data (SPSS) Statistical Package for the Social Sciences versi 25. Hasil analisis menunjukan Instagram marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase decision, Instagram marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image, brand image berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase decision, dan brand image memediasi pengaruh Instagram marketing terhadap purchase decision.
The tourism sector, especially culinary, has experienced rapid development and has become an important part of the economy, where digital marketing through social media, especially Instagram, plays a crucial role in promoting products and influencing consumer behavior. In the context of Papa Aus, a contemporary beverage business, Instagram social media is used to build brand image and increase purchasing decisions. This study aims to provide an overview of the role of Instagram marketing (X) with brand image mediation (Z) on purchase decisions (Y) for Papa Aus consumers. The method used in this study is a quantitative method with descriptive and verification analysis by distributing questionnaires to 100 respondents who are Papa Aus consumers. The data analysis technique uses path regression and the Sobel test through the data processing application (SPSS) Statistical Package for the Social Sciences version 25. The results of the analysis show that Instagram marketing has a positive and significant effect on purchase decisions, Instagram marketing has a positive and significant effect on brand image, brand image has a positive and significant effect on purchase decisions, and brand image mediates the influence of Instagram marketing on purchase decisions
PENGARUH GERMINASI DAN FERMENTASI TERHADAP KANDUNGAN LEMAK TOTAL, PROFIL ASAM LEMAK DAN ASAM LEMAK BEBAS DALAM KACANG KORO PEDANG (Canavalia ensiformis)
Kedelai merupakan sumber protein dan bahan baku dari berbagai industri pangan di Indonesia. Namun produksi kedelai dalam negeri sangat rendah sehingga Indonesia bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan kedelai. Salah satu kacang yang dapat dijadikan sebagai alternatif dari kedelai adalah kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) karena mengandung protein tinggi. Kacang koro pedang mengandung senyawa anti nutrisi yang dapat menghambat pemanfaatannya. Proses pengolahan seperti germinasi dan fermentasi diketahui dapat mengurangi kandungan anti nutrisi sekaligus dapat mempengaruhi kandungan nutrisi, termasuk kandungan lipidnya yang jarang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari proses fermentasi, germinasi serta kombinasi germinasi dan fermentasi terhadap kadar lemak total, profil asam lemak dan kadar asam lemak bebas (FFA) pada kacang koro pedang. Terdapat empat sampel kacang dengan perlakuan yang berbeda, yaitu sampel kacang tanpa perlakuan (G0F0), sampel kacang yang difermentasi selama 48 jam dengan menggunakan ragi tempe (G0F48), serta sampel kacang yang digerminasi selama 24 atau 48 jam sebelum kemudian difermentasi dengan ragi tempe selama 48 jam (G24F48 dan G48F48). Analisis dilakukan terhadap kandungan lemak total (gravimetri), profil asam lemak (GC-MS), dan kadar FFA (titrasi asam basa). Hasil menunjukkan bahwa germinasi dan fermentasi berpengaruh signifikan terhadap semua parameter (p < 0,05). Seluruh perlakuan meningkatkan kadar lemak total dengan nilai tertinggi pada perlakuan fermentasi 48 jam (5,60%). Germinasi dan fermentasi juga mengubah profil asam lemak. Semua perlakuan menurunkan SFA, perlakuan fermentasi 48 jam menghasilkan MUFA tertinggi, sedangkan kombinasi germinasi 24 jam + fermentasi 48 jam menghasilkan PUFA tertinggi. Selain itu, kadar FFA meningkat secara signifikan setelah perlakuan, dengan nilai tertinggi juga pada perlakuan fermentasi 48 jam (78,99%).
Soybeans are a major source of protein and an important raw material for various food industries in Indonesia. However, domestic soybean production remains very low, leading Indonesia to rely heavily on imports to meet demand. One legume that can serve as an alternative to soybeans is jack bean (Canavalia ensiformis), which has a high protein content. Nevertheless, jack bean also contains antinutritional compounds that may limit its utilization. Processing methods such as germination and fermentation have been reported to reduce antinutritional content while simultaneously influencing nutrient composition, including lipid content, which has rarely been examined. This study aimed to evaluate the effects of fermentation, germination and the combination of germination and fermentation on total lipid content, fatty acid profile, and free fatty acid (FFA) levels in jack bean. Four treatments were applied: untreated sample (G0F0), sample fermented for 48 hours with tempeh starter (G0F48), and samples germinated for 24 or 48 hours followed by 48 hours of fermentation with tempeh starter (G24F48 and G48F48). Analyses included total lipid content (gravimetry), fatty acid profile (GC-MS), and FFA levels (acid-base titration). The results showed that germination and fermentation significantly affected all parameters (p < 0.05). All treatments increased total lipid content, with the highest value obtained in the 48-hour fermentation treatment (5.60%). Germination and fermentation also modified the fatty acid profile. All treatments reduced SFA, the 48-hour fermentation treatment yielded the highest MUFA, while the combination of 24-hour germination and 48-hour fermentation produced the highest PUFA. Furthermore, FFA levels increased significantly after treatment, with the highest value also recorded in the 48-hour fermentation treatment (78.99%)
ADAPTASI PLAYDATE DALAM DUNIA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI: Perspektif Orang Tua dan Para Praktisi
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya program playdate di Indonesia yang saat ini tengah menjadi tren bagi beberapa kalangan orang tua, khususnya orang tua perkotaan dengan tingkat ekonomi yang baik. Playdate merupakan sebuah agenda bermain bersama yang umumnya diadaptasi dari budaya orang luar negeri. Namun, penelitiannya masih sangat terbatas, terlebih penelitian yang ditinjau dari perspektif orang tua. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis adaptasi istilah playdate di Indonesia dari perspektif orang tua dan para praktisi. Teori Bourdieu tentang habitus, modal dan ranah digunakan dalam penelitian ini untuk dapat mengkritisi playdate yang pada kenyataannya merupakan bagian dari praktik sosial yang kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa playdate di Indonesia telah diadaptasi secara luas baik secara makna maupun fungsinya. Lebih lanjut, hasil analisis dengan menggunakan perspektif Bourdieu mengindikasikan playdate sebagai praktik sosial yang cukup kompleks, dimana pada kenyataannya bukan hanya sekedar ruang bermain, tetapi juga sebagai ranah sosial yang didalamnya terjadi proses produksi dan reproduksi modal budaya, sosial, ekonomi dan simbolik. Maka dari itu, adaptasi playdate di Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai inovasi pendidikan non-formal atau bentuk janjian bermain modern, tetapi juga merupakan praktik sosial yang sarat akan muatan kelas. Peneliti merekomendasikan penelitian selanjutnya untuk memperluas konteks geografis dan sosial agar dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang variasi bentuk adaptasi dan dinamika aksesibilitas penyelenggaraan playdate di Indonesia.
This research was prompted by the rise of playdate programs in Indonesia, which is currently a trend for some parents, especially urban parents with a good economic level. Playdate is an agenda for playing together that is generally adapted from foreign cultures. However, research is still very limited, especially research from the perspective of parents. Therefore, this study aims to describe and analyze the adaptation of the term playdate in Indonesia from the perspective of parents and practitioners. Bourdieu's theory of habitus, capital and domain is used in this research to be able to criticize playdates which in reality are part of complex social practices. The results show that playdates in Indonesia have been widely adapted both in meaning and function. Furthermore, the results of the analysis using Bourdieu's perspective indicate playdate as a fairly complex social practice, which in reality is not just a play space, but also a social sphere in which the production and reproduction of cultural, social, economic and symbolic capital occurs. Therefore, the adaptation of playdates in Indonesia cannot be understood simply as an innovation in non-formal education or a modern form of playdate, but also as a social practice with class content. The researcher recommends future research to expand the geographical and social context in order to gain a more comprehensive understanding of the various forms of adaptation and accessibility dynamics of playdate implementation in Indonesia
APPLICATION OF LONG INTERVAL TRAINING METHOD BASED ON LOW MAXIMUM AEROBIC SPEED CAPACITY TO IMPROVE CAPACITY ANAEROBIC ALAKTACID
This study aimed to determine the effect of Long Interval Training (LIT) based on low Maximum Aerobic Speed (MAS) on improving anaerobic alactate capacity in female futsal
athletes. The research involved 24 athletes from Universitas Pendidikan Indonesia, divided into groups according to training type—Short Interval Training (SIT), Intermediate
Interval Training (IIT), and Long Interval Training (LIT)—and MAS level, either high or low. Each group was assessed on dependent variables including aerobic capacity, anaerobic
lactacid, and anaerobic alactacid capacity. LIT is designed to stimulate the anaerobic energy system through a combination of high-intensity work and adequate recovery
periods. The primary analysis focused on four athletes with low MAS who participated in 16 LIT sessions. The study employed a one-group pretest-posttest design, and data were
analyzed using a paired sample t-test to evaluate performance changes. The results indicated an increase in the average 20-meter sprint time from 3.34 seconds to 3.69 seconds; however, this change was not statistically significant (p = 0.296). Despite the lack of statistical significance, low MAS-based LIT demonstrated practical potential in improving anaerobic alactate performance, particularly in athletes with lower aerobic capacity. This study has limitations, such as the small sample size and short intervention duration, which may affect generalizability. Future research should include larger samples, longer training periods, and control groups for more robust results. The findings imply that incorporating LIT into training plans can enhance explosive performance in futsal
athletes, offering coaches a practical, physiologically based approach to improve competitive readiness
RITUAL DALANG TOPENG KELANA BANDOPATI DI CIREBON SEBAGAI PANGGUNG TRANSENDENTAL
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ritual Tari Topeng Kelana Bandopati yang diselenggarakan di
Sanggar Purwa Kencana, Cirebon. Masalah difokuskan pada ritual yang dilakukan oleh dalang Topeng
Kelana Bandopati serta makna yang terkandung dalam setiap pertunjukan. Tarian ini ditandai dengan
gerakan energik, yang menjadi salah satu ciri khas dari Tari Topeng Kelana Bandopati, diantaranya
adalah gerakan galeong, gantung sikil, dan pasang naga seser yang mengandung makna ritual yang
mendalam. Tari Topeng Kelana Bandopati tidak sekadar dipahami sebagai sebuah pertunjukan seni,
melainkan juga sebagai sebuah ritual yang menjembatani dunia fisik dan spiritual, serta menciptakan
pengalaman transendental bagi penari, pengrawit dan penontonnya. Dalam penelitian ini, teori yang
digunakan meliputi teori simbolisme dalam pertunjukan, teori gerak dalam tari, dan teori spiritualitas
dalam seni ritual. Melalui pendekatan kualitatif dan metode pengumpulan data yang terdiri dari
observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini mengkaji dimensi simbolik, filosofis, serta sosial
dari ritual tari tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritual ini berperan sebagai pemelihara nilai
budaya Cirebon, serta dalam mempertahankan identitas budaya di tengah dinamika perkembangan
zaman yang akan tetap terlindungi meskipun di masa modern. Temuan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa Topeng Kelana Bandopati berfungsi sebagai sarana untuk mencapai kedamaian batin dan
pemahaman spiritual bagi masyarakat Cirebon maupun luar Cirebon.
This article aims to examine the ritual of the Topeng Kelana Bandopati dance held at Sanggar Purwa
Kencana, Cirebon. The focus is on the rituals performed by the Topeng Kelana Bandopati puppeteer and the
meanings contained in each performance. This dance is characterized by energetic movements, which are
one of the hallmarks of the Topeng Kelana Bandopati dance, including galeong movements, hanging sikil,
and pasang naga seser that embody profound ritual meanings. The Topeng Kelana Bandopati dance is not
merely understood as an art performance, but also as a ritual that bridges the physical and spiritual worlds,
creating a transcendental experience for the dancers, musicians, and the audience. In this study, the theories
used include the theory of symbolism in performances, the theory of movement in dance, and the theory of
spirituality in ritual art. Through qualitative approaches and data collection methods consisting of
observation, interviews, and documentation, this research examines the symbolic, philosophical, and social
dimensions of the dance ritual. The research concludes that this ritual plays a role in preserving the cultural
values of Cirebon, as well as maintaining cultural identity amidst the dynamics of contemporary
developments, which will remain protected even in modern times. The findings of this study indicate that the
Topeng Kelana Bandopati functions as a means to achieve inner peace and spiritual understanding for the
people of Cirebon as well as those outside of Cirebon
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROCESS ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING (POGIL) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: Studi Kuasi Eksperimen terhadap Peserta Didik Kelas X pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMA Bhakti Mulya Banjaran
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi penting abad ke-21 yang harus dimiliki peserta didik, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Namun, hasil observasi dan nilai Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) siswa kelas X SMA Bhakti Mulya Banjaran menunjukkan sebagian besar siswa memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yang mencerminkan rendahnya daya pikir kritis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group. Subjek penelitian terdiri dari kelas X-1 sebagai kelas eksperimen dan X-2 sebagai kelas kontrol. Instrumen pengumpulan data berupa Pre-test dan post-test kemampuan berpikir kritis yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan, serta skala sikap untuk melihat respon siswa terkait penggunaan model pembelajaran POGIL. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis yang signifikan pada kelas eksperimen yang menggunakan model POGIL, dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model konvensional. Hal ini dibuktikan melalui perolehan nilai N-Gain 63% yang lebih tinggi serta hasil uji-t yang menunjukkan signifikansi perbedaan antar kelompok. Dengan demikian, model pembelajaran POGIL terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena melibatkan mereka secara aktif dalam proses eksplorasi, diskusi, serta pemecahan masalah secara kolaboratif. Penelitian ini merekomendasikan penerapan model POGIL sebagai alternatif strategi pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar Pendidikan Pancasila.
This research is motivated by the fact that critical thinking skills are one of the important competencies of the 21st century that students must have, especially in Pancasila Education learning. However, the results of observations and Mid Semester Summative Assessment (PSTS) scores of class X students at SMA Bhakti Mulya Banjaran show that most students obtained scores below the Minimum Completion Criteria (KKM), which reflects low critical thinking skills of students. This study aims to determine the effect of the Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) learning model on improving students' critical thinking skills. The study used a quasi-experimental approach with a pretest-posttest control group design. The research subjects consisted of class X-1 as the experimental class and X-2 as the control class. Data collection instruments were Pre-tests and post-tests of critical thinking skills given before and after treatment, as well as an attitude scale to see students' responses regarding the use of the POGIL learning model. The results showed a significant increase in critical thinking skills in the experimental class using the POGIL model, compared to the control class using the conventional model. This is evidenced by the higher N-Gain scores 63% and the t test results showing significant differences between groups. Thus, the POGIL learning model has been proven effective in improving students' critical thinking skills by actively engaging them in exploration, discussion, and collaborative problem-solving. This study recommends the implementation of the POGIL model as an alternative innovative learning strategy to improve the quality of the Pancasila Education learning process and outcomes