91757 research outputs found
Sort by
MORPHOLOGICAL FORMS AND PRAGMATIC FUNCTIONS OF IMPERATIVE CONSTRUCTIONS IN THE QUR'AN: An Analisysis of Verses About the Israelites
The Israelites, as one of the communities most frequently mentioned in the Qur'an, received various forms of
divine guidance and commands that reflected an educational and authoritative communication strategy. The
imperative expressions addressed to them were an important form of speech act in communication because they
contained meaning, directive influence, and profound pragmatic implications. This investigation seeks to
categorize the morphological patterns of imperative constructions found in Qur'anic passages addressing the
Israelites while examining their underlying pragmatic purposes through Al-Hasyimi's theoretical framework of
imperatives. The methodology adopts a qualitative research design utilizing content analysis of textual
materials. The corpus encompasses 17 Qur'anic verses, revealing 18 occurrences (94.74%) manifesting as fiʻil
amr and 1 occurrence (5.26%) appearing as masdar. Classical and contemporary exegetical sources, including
Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Kasyāf, and Tafsir Al-Nasafi, provided analytical support for validation and
triangulation purposes. Results demonstrate that fiʿil amr represents the predominant imperative structure.
Pragmatically, these imperatives fulfill six distinct functions: supplication (al-du’ā’), request (amr al-iltimās),
guidance (amr al-irshād), threat (amr al-tahdīd), reflection (amr al-iʿtibār), and reminder of divine favor (amr al
imtinān). Notably, (amr al-irshād) emerges as the most frequently employed function, highlighting the Qur'an's
pedagogical emphasis on ethical and spiritual development. This research advances Qur'anic pragmatic
scholarship by illuminating the communicative complexity of divine directives and establishing groundwork for
subsequent comparative discourse analysis and Islamic educational methodology studies.
Bani Israil sebagai salah satu kelompok yang paling sering disebut dalam Al-Qur'an menerima berbagai bentuk
arahan dan perintah ilahi yang mencerminkan strategi komunikasi edukatif dan otoritatif. Ungkapan imperatif
yang ditujukan kepada mereka merupakan bentuk tindak tutur yang penting dalam komunikasi karena
mengandung maksud, daya pengaruh direktif, dan implikasi pragmatis yang mendalam. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkategorikan pola-pola morfologis konstruksi imperatif yang ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur'an
yang membahas Bani Israil sambil mengkaji tujuan pragmatis yang mendasarinya melalui kerangka teoritis
imperatif Al-Hasyimi. Metodologi penelitian mengadopsi desain penelitian kualitatif dengan memanfaatkan
analisis konten dari materi tekstual. Korpus penelitian mencakup 17 ayat Al-Qur'an, yang mengungkapkan 18
kemunculan (94,74%) yang termanifestasi sebagai fiʻil amr dan 1 kemunculan (5,26%) yang muncul sebagai
masdar. Sumber-sumber tafsir klasik dan kontemporer, termasuk Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Kasyāf, dan Tafsir
Al-Nasafi, memberikan dukungan analitis untuk tujuan validasi dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa fiʿil amr merepresentasikan struktur imperatif yang dominan. Secara pragmatis, bentuk imperatif
memenuhi enam fungsi yang berbeda: permohonan (al-du’ā’), permintaan (amr al-iltimās), bimbingan (amr al
irshād), ancaman (amr al-tahdīd), refleksi (amr al-iʿtibār), dan pengingat nikmat ilahi (amr al-imtinān). Secara
khusus, amr al-irshād muncul sebagai fungsi yang paling sering digunakan, menyoroti penekanan pedagogis Al
Qur'an pada pengembangan etika dan spiritual. Penelitian ini memajukan studi pragmatik Al-Qur'an dengan
mengungkap kompleksitas komunikatif dari arahan-arahan ilahi dan menetapkan dasar bagi analisis wacana
komparatif dan studi metodologi pendidikan Islam selanjutnya
ANALISIS KECUKUPAN MATERI IPA FASE B SEKOLAH DASAR PADA KURIKULUM MERDEKA
Penelitian ini menganalisis kecukupan materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk siswa Fase B (kelas 3 dan 4) Sekolah Dasar dalam konteks Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dan pembelajaran yang berpusat pada siswa, mengintegrasikan IPA ke dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dan kegiatan tematik lainnya. Namun, implementasinya menghadapi tantangan, termasuk ketersediaan bahan ajar yang relevan, pemerataan distribusi, serta perlunya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan eksploratif dan penilaian berbasis proses. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memastikan bahwa pendidikan IPA pada usia dini tidak hanya menyebarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu yang esensial. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tiga aspek: (1) kebutuhan pembelajaran IPA yang harus dipenuhi untuk siswa Fase B, (2) sikap guru dalam menyikapi kebutuhan pembelajaran IPA dalam konteks Kurikulum Merdeka, dan (3) tingkat pemahaman siswa Fase B terhadap materi IPA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan penelitian terdiri dari 25 siswa Fase B, 2 guru IPA, dan 1 kepala sekolah dari SDN 1 Kalangsari, Kota Tasikmalaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, yang memungkinkan peneliti mendapatkan informasi mendalam dan holistik. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis pada literatur pendidikan IPA di tingkat dasar serta manfaat praktis bagi berbagai pihak. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif, membantu siswa mencapai pemahaman yang lebih baik, dan menjadi acuan bagi sekolah serta pembuat kebijakan untuk mengembangkan kebijakan pendidikan yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan belajar siswa dalam era Kurikulum Merdeka.
This research analyzes the adequacy of Science (IPA) material for students in Phase B (grades 3 and 4) of Elementary School within the context of the Merdeka Curriculum. This curriculum is designed to provide flexibility and student-centered learning, integrating Science into the Natural and Social Sciences (IPAS) subject and other thematic activities. However, its implementation faces challenges, including the availability of relevant teaching materials, equitable distribution, and the need to enhance teachers' abilities in applying explorative approaches and process-based assessment. This study is motivated by the need to ensure that early science education not only disseminates knowledge but also fosters essential critical thinking and curiosity. The main objectives of this research are to describe three aspects: (1) the learning needs in Science that must be met for Phase B students, (2) teachers' attitudes in responding to these Science learning needs within the Merdeka Curriculum, and (3) Phase B students' level of understanding of Science material. The research uses a qualitative approach with a case study design. The research participants consist of 25 Phase B students, 2 Science teachers, and 1 principal from SDN 1 Kalangsari, Tasikmalaya City, who were selected using a purposive sampling technique. Data collection was conducted through observation, semi-structured interviews, and documentation, which allowed the researcher to obtain in-depth and holistic information. The collected data were then analyzed using the interactive Miles & Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of this study are expected to contribute theoretically to the literature on elementary-level science education and provide practical benefits for various stakeholders. These findings can serve as a basis for teachers to develop more effective learning strategies, help students achieve a better understanding, and become a reference for schools and policymakers to develop educational policies that are more adaptive and responsive to students' learning needs in the era of the Merdeka Curriculum
HUBUNGAN URUTAN KELAHIRAN DALAM KELUARGA DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara urutan kelahiran dalam keluarga dengan kecerdasan emosional anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif-korelasi, dengan dua variabel utama yaitu Urutan Kelahiran (X) dan Kecerdasan Emosional (Y). Sampel penelitian berjumlah 39 anak usia dini dari beberapa taman kanak-kanak di Kecamatan Mandalajati yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa angket dengan 25 item pernyataan yang disusun berdasarkan lima sub variabel kecerdasan emosional, yaitu mengenali emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengatur diri, mengenali emosi orang lain, serta kecakapan sosial atau membina hubungan dengan orang lain. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan penilaian 1–3. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara urutan kelahiran dengan kecerdasan emosional anak usia dini (p = 0,440; p > 0,05). Namun, hasil deskriptif memperlihatkan kecenderungan bahwa anak sulung memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan anak tengah maupun bungsu. Temuan ini menegaskan pentingnya peran pola asuh, komunikasi, dan stimulasi lingkungan yang seimbang dalam mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak.
This study aims to determine the relationship between birth order in the family and the emotional intelligence of early childhood. The research employed a quantitative method with a descriptive-correlational approach, involving two main variables: Birth Order (X) and Emotional Intelligence (Y). The sample consisted of 39 early childhood students from several kindergartens in Mandalajati District, selected using purposive sampling. The research instrument was a questionnaire comprising 25 statement items based on five sub-variables of emotional intelligence, namely recognizing one’s own emotions, self-motivation, self-regulation, recognizing others’ emotions, and social skills or building relationships with others. A Likert scale with a score range of 1–3 was used for measurement. Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test. The results showed no significant relationship between birth order and emotional intelligence of early childhood (p = 0.440; p > 0.05). However, descriptive findings indicated a tendency for firstborn children to have higher emotional intelligence compared to middle and youngest children. These findings highlight the importance of parenting patterns, communication, and balanced environmental stimulation in supporting children’s emotional development
ANALISIS PENGARUH EMISI KARBON DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP RETURN SAHAM: Studi pada Perusahaan Sektor Energi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2023
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh emisi karbon yang diukur dengan Carbon Emissions Intensity (CEI) dan kebijakan dividen yang diukur dengan Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap return saham perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020-2023. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan data sekunder yang berasal dari annual report dan sustainability report masing-masing perusahaan. Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 64 perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2020-2023. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 8 perusahaan setelah dilakukan teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Dilakukan juga uji Keberartian Regresi (Uji F), uji Keberartian Koefisien Regresi
(Uji t), dan uji Koefisien Determinasi (Adjusted R-Squared) untuk mengetahui pengaruh emisi karbon dan kebijakan dividen terhadap return saham. Berdasarkan hasil analisis regresi data panel dengan Common Efect Model sebagai model yang terpilih, ditemukan bahwa emisi karbon (CEI) tidak berpengaruh terhadap return saham sedangkan kebijakan dividen (DPR) berpengaruh positif terhadap return saham. Selain itu, pada penelitian ini ditemukan bahwa gambaran return saham dan emisi karbon cenderung menurun sedangkan gambaran kebijakan dividen cenderung meningkat pada perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020-2023.
The purpose of this study is to determine how the effect of carbon emissions as measured by Carbon Emissions Intensity (CEI) and dividend policy as measured by Dividend Payout Ratio (DPR) on stock returns of energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the period 2020-2023. The research method used is a descriptive and verification method with secondary data derived from the annual report and sustainability report of each company. The population in this study amounted to 64 energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2020-2023 period. The sample used in this study amounted to 8 companies after the sampling technique was carried out using purposive sampling method. Regression Significance test (F test), Regression Coefficient Significance test (T test), and Adjusted R-Squared test to determine the effect of carbon emissions and dividend policy on stock returns. Based on the results of panel data regression analysis using the Common Effect Model as the selected model, it was found that carbon emissions (CEI) had no effect on stock returns, while dividend policy (DPR) had a positive effect on stock returns. Additionally, this study found that stock returns and carbon emissions tended to decline, while dividend policy tended to increase in energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2020-2023 period
PENGEMBANGAN MODEL KONTEKSTUAL STRATTA (KS) BERBANTUAN APLIKASI MOBILE CIPTA PUISI DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Model Kontekstual Stratta (KS) berbantuan aplikasi Mobile Cipta Puisi (MCP) dalam pembelajaran menulis puisi di tingkat Sekolah Menengah Atas. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pembelajaran menulis puisi sebagai bagian dari keterampilan berbahasa yang tidak hanya menonjolkan nilai estetika dan ekspresi personal, tetapi juga mendorong pengembangan imajinasi, kreativitas, kepekaan sosial, dan kosakata siswa. Aktivitas ini turut membentuk karakter dan meningkatkan apresiasi sastra. Selanjutnya, pembelajaran menulis puisi masih menghadapi kendala, seperti rendahnya minat siswa karena dianggap sulit dan abstrak, kesulitan dalam memilih diksi, serta keterbatasan bimbingan dan akses referensi. Hal ini diperkuat dengan diperlukannya model pembelajaran yang inovatif dan relevan serta mengintegrasikan keterampilan abad 21 atau 6C (Character, Citizenship, Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication). Penelitian ini menggunakan pendekatan model R2D2 (Recursive, Reflective Design and Development) dari Willis, yang bersifat non- linier dan menekankan pada proses reflektif, kolaboratif, dan kontekstual. Proses pengembangan dimulai dari analisis kebutuhan dan konteks, dilanjutkan dengan perancangan awal model KS berbantuan MCP, validasi oleh para ahli, uji kepraktisan oleh guru, serta uji coba kepada peserta didik untuk menilai keberterimaan dan efektivitas model. Model KS dikembangkan berdasarkan integrasi pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan strategi Stratta yang menekankan proses bertahap dalam berpikir, berkarya, dan berefleksi. Model ini dikemas dalam lima sintaks pembelajaran: Eksposisi, Interpretasi, Mencipta, Seranta, dan Ulasan, yang merupakan penyempurnaan dari struktur sintaks KS terdahulu. Aspek kebaruan model ini terletak pada tiga hal utama: pertama, penguatan sintaks seranta sebagai ruang interaktif berbasis refleksi dan dialog antarkarya, yang belum muncul secara eksplisit dalam model sebelumnya; kedua, integrasi menyeluruh dengan aplikasi digital MCP yang tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai ruang belajar terpadu yang menyediakan kamus diksi, galeri puisi inspiratif, musik imajinatif, dan umpan balik digital; dan ketiga, penekanan pada dimensi personalisasi dan publikasi karya siswa dalam konteks pembelajaran literasi digital. Model KS berbantuan MCP tidak hanya mereplikasi pendekatan KS yang telah ada, tetapi mengadaptasi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan abad ke-21 melalui pendekatan berbasis teknologi, literasi media, dan kreativitas terarah, sehingga memperluas ruang belajar sastra dari kelas konvensional menjadi ruang digital yang dinamis, responsif, dan adaptif terhadap kebutuhan pembelajar generasi digital. Hasil validasi menunjukkan bahwa model yang dikembangkan memiliki validitas isi yang sangat tinggi (koefisien kesepakatan antar ahli = 0,89). Uji kepraktisan yang melibatkan guru memperoleh skor 0,74 dan berada dalam kategori tinggi, sementara hasil uji pengguna menunjukkan tingkat keberterimaan yang sangat baik, dengan skor angket mencapai 80,13% dari total skor maksimum. Pengujian efektivitas model menggunakan desain kuasi-eksperimen (one-group pretest-posttest design) menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan menulis puisi, dengan rata-rata skor pretest sebesar 71,14 dan posttest sebesar 84,29. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model KS berbantuan MCP terbukti valid, praktis, dan efektif. Model ini juga dapat meningkatkan motivasi, kreativitas, dan kemampuan literasi sastra peserta didik. Temuan ini berdampak positif pada pengembangan pembelajaran sastra, perumusan kurikulum berbasis teknologi, dan media pembelajaran digital yang lebih adaptif. Oleh karena itu, model ini layak diterapkan secara lebih luas untuk mendukung pembelajaran sastra yang interaktif, reflektif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi digital.
This study aims to develop the Kontekstual Stratta (KS) model supported by the Mobile Cipta Puisi (MCP) application for teaching poetry writing at the senior high school level. The research is grounded in the importance of poetry writing as a language skill that not only emphasizes aesthetic value and personal expression but also fosters imagination, creativity, social sensitivity, and vocabulary development. Poetry writing contributes to character formation and enhances literary appreciation. However, the teaching of poetry writing continues to face challenges, including low student interest due to its perceived complexity and abstractness, difficulties in diction selection, and limited guidance and access to references. These issues highlight the need for an innovative and relevant instructional model that integrates 21st-century skills, known as the 6Cs (Character, Citizenship, Critical Thinking, Creativity, Collaboration, and Communication). This research employs the R2D2 model (Recursive, Reflective Design and Development) developed by Willis, which emphasizes a non-linear, reflective, collaborative, and contextual development process. The development stages included needs and context analysis, initial design of the KS model with MCP integration, expert validation, practicality testing by teachers, and implementation trials with students to assess the model’s acceptability and effectiveness. The KS model is constructed by integrating the Contextual Teaching and Learning approach with the Stratta strategy, which emphasizes a gradual process of thinking, creating, and reflecting. It is structured into five instructional syntax components: Exposition, Interpretation, Creation, Seranta, and Review an enhancement of the previous KS model. The novelty of this model lies in three main aspects: (1) the reinforcement of the seranta syntax as an interactive space for reflection and dialogue among student works, which was not explicitly present in earlier models; (2) comprehensive integration with the MCP digital application, which functions not only as a teaching aid but also as an integrated learning space providing a diction dictionary, a gallery of inspirational poems, imaginative music, and digital feedback; and (3) an emphasis on the personalization and publication of student work in the context of digital literacy education. The KS model supported by MCP does not merely replicate the existing KS approach but adapts and aligns it with 21st-century learning demands through technology integration, media literacy, and directed creativity. As such, it expands the literary learning environment beyond traditional classrooms into dynamic, responsive, and adaptive digital spaces suited for the digital generation. The validation process showed very high content validity (expert agreement coefficient = 0.89). The practicality test involving teachers yielded a high category score of 0.74, while user acceptance was rated very positively, with questionnaire results reaching 80.13% of the maximum possible score. Effectiveness testing using a quasi-experimental design (one-group pretest-posttest) demonstrated a significant improvement in students' poetry writing abilities, with mean pretest and posttest scores of 71.14 and 84.29, respectively. The findings indicate that the KS model supported by MCP is valid, practical, and effective. It enhances student motivation, creativity, and literary literacy skills. These results have significant implications for the development of literature learning, the formulation of technology-based curricula, and the design of more adaptive digital learning media. Therefore, this model is suitable for broader implementation to support interactive, reflective, and digitally relevant literature education
AN ANALYSIS OF ENGLISH FOR NURSING CURRICULUM AND ITS ALIGNMENT WITH THE NEEDS OF STUDENTS AND HEALTHCARE STAKEHOLDERS IN A PRIVATE UNIVERSITY IN SOUTH KALIMANTAN PROVINCE, INDONESIA
ABSTRAK
Meskipun program English for Specific Purposes (Bahasa Inggris Tujuan Khusus) dirancang
untuk memenuhi kebutuhan komunikasi spesifik suatu disiplin ilmu, penelitian yang mengkaji
sejauh mana komponen kurikulum saling selaras serta sesuai dengan kebutuhan pembelajar
dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk
menyelidiki keselarasan kurikulum English for Nursing dengan kebutuhan bahasa akademik
dan dunia kerja mahasiswa serta pemangku kepentingan kesehatan di sebuah universitas swasta
di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kajian ini menggunakan kerangka triangulasi yang
mengintegrasikan Objectives Model dari Tyler (1949), Grassroots Model dari Taba (1962), dan
Language Curriculum Development Framework dari Richards (2001) untuk menganalisis
tujuan, konten, strategi pembelajaran, dan praktik asesmen dalam kurikulum. Penelitian ini
menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan menganalisis dokumen berupa profil mata
kuliah, dua silabus, dan dua modul pembelajaran, serta wawancara semi-terstruktur dengan dua
puluh satu partisipan yang dipilih secara purposif, terdiri atas mahasiswa keperawatan, alumni,
dosen ESP, dosen keperawatan, koordinator program, dan manajer perawat. Temuan
menunjukkan bahwa kurikulum menyediakan struktur dasar bagi kompetensi komunikatif
umum dalam konteks klinis dan telah memuat beberapa konten spesifik keperawatan. Namun
demikian, keselarasan antara tujuan, isi pembelajaran, dan asesmen hanya bersifat parsial,
dengan adanya kesenjangan nyata dalam autentisitas konteks serta keterbatasan penggunaan
tugas-tugas yang relevan dengan dunia kerja seperti simulasi, role-play, dan dokumentasi
keperawatan. Analisis kebutuhan mengindikasikan bahwa keterampilan berbicara, menyimak,
dan menulis merupakan keterampilan yang paling krusial untuk kinerja akademik maupun
klinis, namun keterampilan tersebut belum mendapat penekanan yang memadai dalam praktik
pengajaran dan asesmen. Keterlibatan pemangku kepentingan dalam perumusan kurikulum,
khususnya dari alumni, manajer perawat, dan mahasiswa, juga masih minim, sehingga
menimbulkan ketidaksesuaian antara pembelajaran di kelas dan harapan dunia kerja. Selain itu,
kurikulum belum merujuk pada kerangka internasional seperti Common European Framework
of Reference for Languages (CEFR), yang membatasi keselarasan dengan standar global
keterampilan kerja perawat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan autentisitas tugas
pembelajaran, penguatan keselarasan asesmen dengan tujuan pembelajaran, integrasi kerangka
internasional dalam asesmen, serta peningkatan partisipasi pemangku kepentingan dalam
desain kurikulum. Penekanan juga perlu diberikan pada kolaborasi interdisipliner, sensitivitas
budaya, dan komunikasi berpusat pada pasien. Secara teoretis, penelitian ini memperluas kajian
kurikulum ESP dengan menerapkan analisis keselarasan berbasis multi-kerangka. Secara
praktis, penelitian ini memberikan wawasan berbasis data bagi pendidik ESP, pengembang
kurikulum, dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan program English for Nursing di
Indonesia. Dari perspektif kebijakan, penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan
kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis kebutuhan dan melibatkan pemangku kepentingan.
Keterbatasan penelitian ini mencakup lingkup lokasi tunggal dan tidak adanya observasi kelas;
penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji di berbagai institusi, menggunakan desain
longitudinal, serta mengeksplorasi model integratif yang menggabungkan pengajaran bahasa
dengan pelatihan klinis.
Kata Kunci: keselarasan kurikulum, English for Nursing, ESP, analisis kebutuhan,
keterlibatan pemangku kepentingan, pendidikan keperawatan, Indonesia.
ABSTRACT
Although English for Specific Purposes (ESP) programmes are intended to address discipline
specific communication needs, limited research has examined the extent to which their
curriculum components align with one another and the needs of learners and healthcare
stakeholders. This study investigates the alignment of an English for Nursing curriculum with
the academic and workplace language needs of students and healthcare stakeholders at a private
university in South Kalimantan Province, Indonesia. The study used a triangulated framework
integrating Tyler’s Objectives Model (1949), Taba’s Grassroots Model (1962), and Richards’s
Language Curriculum Development Framework (2001) to analyse curriculum objectives,
content, instructional strategies, and assessment practices. This study adopted a qualitative case
study design involving document analysis of a course profile, two syllabi, and two learning
modules, as well as semi-structured interviews with twenty-one purposively selected
participants comprising nursing students, alumni, ESP lecturers, nursing lecturers, a
programme coordinator, and nurse managers. Findings revealed that the curriculum provided
a foundational structure for general communicative competence in clinical contexts and
included some nursing-specific content. However, alignment among objectives, instructional
content, and assessment was only partial, with obvious gaps in contextual authenticity and
limited use of workplace-relevant tasks such as simulations, role-plays, and nursing
documentation. Needs analysis indicated that speaking, listening, and writing were the most
critical skills for academic and clinical performance, yet these were insufficiently emphasised
in teaching practices and assessments. Stakeholder involvement in curriculum formulation,
especially from alumni, nurse managers, and students, was minimal, contributing to
misalignments between classroom instruction and workplace expectations. The curriculum also
needed references to international frameworks, such as the Common European Framework of
Reference for Languages (CEFR), which limited its alignment with global nursing
employability standards. The study suggests enhancing the authenticity of instructional tasks,
strengthening the alignment of assessment with learning objectives, integrating international
language proficiency frameworks into the assessment, and increasing stakeholder participation
in curriculum design. Emphasis should also be placed on interdisciplinary collaboration,
cultural sensitivity, and patient-centred communication. Theoretically, this study extends ESP
curriculum research by applying a multi-framework alignment analysis. Practically, it provides
data-driven insights for ESP educators, curriculum developers, and policymakers aiming to
improve English for nursing programme in Indonesia. From a policy perspective, it underscores
the
importance of institutionalising needs-based, stakeholder-informed curriculum
development in higher education. Limitations include the single-site scope and the absence of
classroom observations; future research should examine multiple institutions, adopt
longitudinal designs, and explore integrated models combining language instruction with
clinical training
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR TEORI MATA PELAJARAN PASTRY BAKERY POKOK BAHASAN CHOUX PASTE di SMK TARUNA TERPADU 2 BOGOR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar kognitif siswa pada materi Choux
Paste di SMK Taruna Terpadu 2 Bogor. Latar belakang penelitian ini didasarkan
pada rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep dasar pembuatan Choux Paste,
yang selama ini didominasi oleh metode pembelajaran konvensional dan ceramah.
Model PBL dianggap mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif,
berpikir kritis, dan keterampilan analisis yang sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran vokasional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
desain quasi experimental nonequivalent control group. Variabel terdiri atas model
Problem Based Learning sebagai variabel bebas dan hasil belajar kognitif sebagai
variabel terikat. Subjek dalam penelitian merupakan kelas XI kuliner di SMK
Taruna Terpadu 2 Bogor. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada
penelitian ini adalah tes pilihan ganda (multiple choice) berdasarkan indikator
kognitif Bloom dalam enam tingkatan kompetensi. Analisis data menggunakan uji
normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis (Independent Sample T-test, paired
sample T-test), uji Regresi Linear Sederhana dan N-Gain. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Nilai rata-rata posttest kelas eksperimen adalah 87,50 sedangkan
kelas kontrol sebesar 76,03. Hasil uji independent sample t-test menghasilkan nilai
signifikansi 0,000 < 0,05. Selain itu, nilai rata-rata N-Gain pada kelas eksperimen
adalah 0,7237 (kategori tinggi), sedangkan kelas kontrol sebesar 0,3984 (kategori
sedang). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem
Based Learning berpengaruh signifikan dan efektif dalam meningkatkan hasil
belajar kognitif siswa pada materi Choux Paste.
This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning (PBL)
learning model on students' cognitive learning outcomes on the Choux Paste
material at SMK Taruna Terpadu 2 Bogor. The background of this study is based
on students' low understanding of the basic concept of making Choux Paste, which
has been dominated by conventional learning methods and lectures. The PBL model
is considered capable of increasing active student involvement, critical thinking,
and analytical skills that are in accordance with vocational learning needs. This
study uses a quantitative method with a design quasi experimental nonequivalent
control group. Variables consist of models Problem Based Learning as independent
variables and cognitive learning outcomes as dependent variables. The subjects in
the study were class XI culinary at SMK Taruna Terpadu 2 Bogor. The data
collection technique used in this study was a multiple-choice test.(multiple choice)
based on Bloom's cognitive indicators in six levels of competency. Data analysis
using normality test, homogeneity test, hypothesis test (Independent Sample T-test,
paired sample T-test), Simple Linear Regression and N-Gain The results of the
study showed that there was a significant difference between the experimental class
and the control class. The average posttest score of the experimental class was 87.50
while the control class was 76.03. The results of the independent sample t-test
produced a significance value of 0.000 <0.05. In addition, the average N-Gain value
in the experimental class was 0.7237 (high category), while the control class was
0.3984 (moderate category). Thus, it can be concluded that the Problem Based
Learning learning model has a significant and effective effect in improving students'
cognitive learning outcomes in the Choux Paste material
PENERAPAN PENDEKATAN DEEP LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERMPILAN GERAK DASAR SERVIS MELALUI MEDIA DINDING DALAM PEMBELAJARAN BULUTANGKIS
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan servis backhand bulutangkis siswa melalui penerapan media dinding berbasis pendekatan deep learning (joyful, mindful, meaningful). Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan melibatkan 33 siswa kelas VIII di SMPN 12 Bandung. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi teknik servis yang menilai akurasi, posisi tubuh, dan konsistensi ayunan. Hasil pretest menunjukkan 13 siswa (39,39 %) tuntas; setelah Siklus I ketuntasan meningkat menjadi 17 siswa (51,52 %); dan pada akhir Siklus II mencapai 20 siswa (71,43 %), sehingga target klasikal (≥ 70 %) terpenuhi. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan media dinding dengan strategi deep learning efektif meningkatkan keterampilan servis dan membangun kemampuan reflektif serta kemandirian belajar siswa.
This study aims to enhance eighth-grade students’ backhand serve skills in badminton through the implementation of wall-based training media grounded in a deep-learning approach (joyful, mindful, meaningful). A Classroom Action Research design was employed over two cycles, involving 33 students at SMPN 12 Bandung. Data were collected using an observational checklist assessing serve accuracy, body positioning, and swing consistency. The pretest results showed that 13 students (39.39 %) achieved mastery (KKM ≥ 70). After Cycle I, mastery increased to 17 students (51.52 %), and by the end of Cycle II, 20 students (71.43
%) met the criterion, thus fulfilling the classical success threshold (≥ 70 %). These findings confirm that integrating simple wall media with deep-learning strategies effectively improves serve skills while fostering students’ reflective capacity and learning autonomy
PENGEMBANGAN MEDIA WATER CYLCLE BOX UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatar belakangi oleh keterbatasan media water cycle in a bag yang bersifat ekonomis dan praktis, namun dianggap terlalu sederhana dan kurang menantang secara kognitif bagi siswa di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, kurangnya pemahaman dan munculnya miskonsepsi siswa terkait konsep siklus air menunjukkan perlunya media pembelajaran yang lebih efektif dan kontekstual. Media yang sebelumnya digunakan di sekolah hanya berupa gambar, sehingga belum mampu memfasilitasi kegiatan praktikum secara optimal. Oleh karena itu, dikembangkanlah water cycle box sebagai inovasi dari media water cycle bag, yang dirancang dalam bentuk kotak tiga dimensi menggunakan bahan polycar bonate yang lebih kokoh dan tahan lama. Media ini memungkinkan siswa untuk mengamati langsung proses siklus air seperti evaporasi, kondensasi, dan presipitasi dalam bentuk miniatur, sehingga membantu pemahaman konsep yang bersifat abstrak. Untuk mengatasi kendala cuaca mendung yang sering terjadi pada penggunaan media sebelumnya, media ini juga dapat digunakan dengan air panas untuk mempercepat proses penguapan.water cycle box dilengkapi dengan buku petunjuk penggunaan dan dirancang sebagai penyempurnaan dari metode eksperimen sederhana sebelumnya, dengan tujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan efektif. Pengembangan media ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep siklus air sekaligus mendukung pembelajaran berbasis eksperimen yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dan integrasi teknologi.
This study is motivated by the limitations of the water cycle in a bag media, which, although economical and practical, is considered too simplistic and cognitively unchallenging for students at higher levels of education. Moreover, students’ lack of understanding and the emergence of misconceptions related to the water cycle concept highlight the need for more effective and contextual learning media. The media previously used in schools consisted only of static images, which were insufficient in facilitating optimal hands-on learning activities. Therefore, the water cycle box was developed as an innovation of the water cycle bag, designed in a three-dimensional box form using durable and sturdy polycarbonate material. This media allows students to directly observe the stages of the water cycle such as evaporation, condensation, and precipitation in miniature form, thereby enhancing their understanding of abstract concepts. To address the challenge of cloudy weather that often hindered the effectiveness of the previous media, this model can also utilize hot water to accelerate the evaporation process. The water cycle box is equipped with an instructional guide and serves as an improvement over earlier simple experimental methods, aiming to provide a deeper and more effective learning experience. Its development is intended to enhance students’ conceptual understanding of the water cycle while supporting experiment-based learning that adapts to environmental conditions and integrates technology
PENGARUH BEAUTY PRIVILEGE TERHADAP RESPONS NETIZEN DAN SANKSI SOSIAL ATAS PERILAKU KONTROVERSIAL PUBLIC FIGURE DI MEDIA SOSIAL
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena beauty privilege, yaitu kecenderungan bahwa individu yang memenuhi stan dar kecantikan memperoleh perlakuan lebih baik serta sanksi sosial lebih ringan dibandingkan mereka yang tidak sesuai standar tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penampilan fisik terhadap perlakuan sosial, serta pengaruh beauty privi lege terhadap respons netizen dan sanksi sosial atas perilaku kontroversial public figure di media sosial. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif dan uji korelasi Spearman Rank. Sampel penelitian terdiri atas 350 re sponden pengguna aktif TikTok berusia 18 34 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert 1 4 yang kemudian dianalisis secara statistik. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa variabel beauty privilege berada pada kategori sedang dengan persentase 68,9%, variabel respons netizen berada pada kategori sedang dengan persentase 55,1%, dan variabel sanksi sosial berada pada kategori sedang dengan persentase 74%. Temuan ini memberikan gambaran bahwa meskipun faktor penampilan masih memiliki pengaruh dalam interaksi digital, persepsi netizen tidak sepenuhnya ditentukan oleh aspek fisik semata, melainkan juga dipengaruhi faktor lain seperti kualitas konten, perilaku, dan interaksi sosial public figure. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa: (1) penampilan fisik berpengaruh negatif terhadap perlakuan sosial dengan nilai korelasi 0,145 (sangat lemah); (2) beauty privilege berpengaruh positif terhadap respons netizen dengan nilai korelasi 0,459 (sedang); dan (3) beauty privilege berpengaruh negatif terhadap sanksi sosial dengan nilai korelasi 0,360 (lemah). Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa beauty privilege turut membentuk cara netizen merespons dan memberikan sanksi sosial terhadap public figure. Implikasi penelitian ini mendorong masyaraka t untuk lebih kritis agar tidak terjebak bias penampilan, serta membangun budaya interaksi digital yang adil dan beretika.
This study is motivated by the phenomenon of beauty privilege, namely the tendency for individuals who meet prevailing beauty standards to receive better treatment and lighter social sanctions compared to those who do not. The purpose of this research is t o examine the influence of physical appearance on social treatment, as well as the influence of beauty privilege on netizens’ responses and social sanctions toward controversial behaviors of public figures on social media. The research method employed a qu antitative approach with descriptive analysis and Spearman Rank correlation tests. The sample consisted of 350 active TikTok users aged 18 34 years. Data were collected through a 4 point Likert scale questionnaire and analyzed statistically. The descriptiv e analysis results indicate that the beauty privilege variable falls into the moderate category with a percentage of 68.9%, the netizen response variable also falls into the moderate category with 55.1%, and the social sanction variable falls into the mode rate category with 74%. These findings illustrate that while physical appearance still plays a role in shaping digital interactions, netizens’ perceptions are not solely determined by physical aspects, but are also influenced by other factors such as conte nt quality, behavior, and social interaction of public figures. The Spearman correlation results reveal that: (1) physical appearance has a negative effect on social treatment with a correlation value of 0.145 (very weak); (2) beauty privilege has a posit ive effect on netizens’ responses with a correlation value of 0.459 (moderate); and (3) beauty privilege has a negative effect on social sanctions with a correlation value of 0.360 (weak). Thus, it can be emphasized that beauty privilege significantly sha pes how netizens respond to and impose social sanctions on public figures. The implications of this study encourage society to be more critical in avoiding appearance bias and to foster a fair and ethical culture of digital interaction