91757 research outputs found
Sort by
KETERLIBATAN WARGA NEGARA DALAM KEBIJAKAN PERTAMBANGAN TIMAH DI LAUT DESA BATU BERIGA KABUPATEN BANGKA TENGAH : Studi Kasus Pada Kelompok Nelayan Tradisional
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya peningkatan kapasitas keterlibatan nelayan tradisional Desa Batu Beriga sebagai bentuk pendidikan kewarganegaraan, menganalisis implikasi kebijakan pertambangan timah di laut terhadap hak dan kewajiban warga negara, serta mengkaji implementasi kebijakan pertambangan timah di laut dari perspektif teori Kewarganegaraan Republikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus kritis. Data penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan studi dokumen yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tidak ada upaya peningkatan kapasitas yang diinisiasi oleh pemerintah. Peran tersebut diinisiasi WALHI Bangka Belitung melalui pendampingan pada nelayan tradisional Desa Batu Beriga yang menjadi bentuk pendidikan kewarganegaraan non-formal, sehingga meningkatkan pengetahuan (civic knowledge), sikap (civic disposition), dan keterampilan (civic skills) sebagai warga negara; 2) Kebijakan pertambangan timah di laut, telah mengancam dan mendistorsi hak-hak nelayan tradisional yang mencakup hak sipil, hak politik dan hak sosial; 3) Implementasi kebijakan pertambangan timah di laut telah gagal memenuhi prinsip republikanisme karena prosesnya yang eksklusif dan tidak berorientasi pada kepentingan bersama (common good). Kegagalan negara dalam memfasilitasi partisipasi yang bermakna bagi warga negara, justru menjadi pemicu kebangkitan paradoksal kebajikan sipil (civic virtue) dari komunitas nelayan tradisional yang terpinggirkan. Oleh karena itu, perlu adanya reformulasi kebijakan pertambangan timah di laut dengan menempatkan nelayan tradisional sebagai subjek aktif dalam proses perumusan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selain itu, penguatan kapasitas warga negara untuk mendukung keterlibatan yang bermakna dan berkelanjutan dalam kebijakan, menjadi aspek krusial bagi kelompok nelayan tradisional.
This study aims to analyze efforts to increase the capacity of traditional fishermen in Batu Beriga Village as a form of civic education, analyze the implications of tin mining policy at sea on the rights and obligations of citizens, and examine the implementation of tin mining policy in the sea from the perspective of Republican Citizenship theory. This research uses a qualitative approach with a critical case study method. The data of this study was collected through in-depth interviews, non-participatory observations, and document studies which were then analyzed using the Miles & Huberman interactive model. The results of the study show that: 1) there are no capacity building efforts initiated by the government. This role was initiated by WALHI Bangka Belitung through mentoring traditional fishermen in Batu Beriga Village which is a form of non-formal citizenship education, thereby improving civic knowledge, attitudes, and civic skills as citizens; 2) Tin mining policies at sea, have threatened and distorted the rights of traditional fishermen which include civil rights, political rights and social rights; 3) The implementation of the tin mining policy at sea has failed to meet the principle of republicanism because the process is exclusive and not oriented to the common good. The state's failure to facilitate meaningful participation for citizens has actually triggered the paradoxical revival of civic virtue from the marginalized traditional fishing community. Therefore, there is a need for a reformulation of tin mining policies in the sea by placing traditional fishermen as active subjects in the formulation, implementation, and evaluation process. In addition, strengthening the capacity of citizens to support meaningful and sustainable engagement in policy, is a crucial aspect for traditional fishery groups
PREDICTIVE CLASSIFICATION MODEL DALAM TAHAPAN FRAMEWORK NIJ UNTUK OTOMATISASI INVESTIGASI DIGITAL FORENSIK STUDI KASUS: CYBERBULLYING
Penggunaan aplikasi pesan instan seperti Line dan Telegram semakin populer dan memiliki peran penting dalam digital forensik sebagai bukti digital dalam investigasi kejahatan siber. Salah satu bentuk kejahatan siber yang marak terjadi adalah cyberbullying, yang sering dilakukan melalui pesan pribadi atau grup tertutup di aplikasi tersebut. Pengumpulan bukti dari aplikasi ini menghadapi tantangan besar, seperti volume data yang besar, enkripsi end-to-end, serta variasi bahasa informal. Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini menggunakan Predictive Classification Model (PCM) untuk melakukan klasifikasi otomatis terhadap data percakapan, log aktivitas, dan metadata. Dua algoritma machine learning digunakan dalam PCM, yaitu Complement Naive Bayes dan Random Forest, untuk dibandingkan performanya dalam mengklasifikasikan konten yang mengandung unsur cyberbullying. Data uji diambil dari dataset komentar Instagram bertema cyberbullying yang relevan dan digunakan untuk mengevaluasi akurasi kedua model. Sementara proses akuisisi dan ekstraksi data dari aplikasi Line dan Telegram dilakukan dengan pendekatan forensik digital berbasis standar National Institute of Justice (NIJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Predictive Classification Model (PCM) berbasis Complement Naive Bayes memiliki akurasi klasifikasi lebih tinggi dibanding Random Forest, serta lebih seimbang dalam menangani data bullying dan non-bullying. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap otomatisasi investigasi forensik digital, khususnya dalam mendeteksi interaksi bermuatan perundungan secara cepat dan efisien
ANALISIS DAYA PREDIKSI KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KETERAMPILAN BERMAIN FUTSAL SISWA EKSTRAKULIKULER FUTSAL SMA NEGERI 1 SURADE
Tujuan penelitian ini untuk menguji pangaruh atau daya prediksi antara kepercayaan diri dengan keterampilan bermain futsal siswa ekstrakulikuler futsal SMA Negeri 1 Surade. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deksriptif dengan desain komparatif. Populasi dalam penelitian ini siswa ekstrakulikuler futsal SMAN 1 Surade. Teknik pengambilan sampel menggunakan kuesioner (angket) untuk mengukur tingkat kepercayaan diri dan Game Performance Assesnent Instrument (GPAI) untuk mengetahui keterampilan bermain futsalnya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini 60 siswa ekstrakulikuler futsal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat keterkaitan antara kepercayaan diri dan keterampilan bermain futsal siswa ekstrakulikuler futsal di SMAN 1 Surade dengan besar daya prediksinya sebesar 21,6%, sedangkan sisanya sebesar 78,4% diprediksi oleh variabel lain selain variabel kepercayaan diri.
Kata Kunci : Kepercayaan Diri, Keterampilan Bermain Futsal, Futsal.
The purpose of this study was to test the influence or predictive power between self-confidence and futsal playing skills of students of futsal extracurricular at SMA Negeri 1 Surade. This study used a quantitative descriptive approach with a comparative design. The population in this study were students of futsal extracurricular at SMAN 1 Surade. The sampling technique used a questionnaire to measure the level of self-confidence and the Game Performance Assessment Instrument (GPAI) to determine their futsal playing skills. The sample used in this study was 60 futsal extracurricular students. The results of the study indicate that there is a relationship between self-confidence and futsal playing skills of extracurricular futsal students at SMAN 1 Surade with a large predictive power of 21.6%, while the remaining 78.4% is predicted by variables other than self-confidence variables.
Keywords: Self-Confidence, Futsal Playing Skills, Futsal
RANCANG BANGUN TOOLS ENUMERATION CIPHERION DALAM ANALISIS KEAMANAN WEBSITE NINJA SHL DENGAN TEKNIK PENETRATION TESTING
Keamanan informasi merupakan salah satu aspek yang sangat krusial dalam dunia digital yang semakin berkembang pesat. Seiring meningkatnya ketergantungan pada teknologi informasi, ancaman terhadap sistem dan data menjadi semakin kompleks dan beragam. Dalam konteks keamanan web, proses enumerasi sebagai bagian dari penetration testing berperan penting dalam mengidentifikasi subdomain, direktori tersembunyi, layanan berjalan, dan konfigurasi sistem yang dapat diakses publik, yang kemudian dapat menjadi celah potensial bagi serangan siber. Namun, metode manual dalam enumerasi kerap tidak efisien dan rentan terhadap kesalahan, sehingga diperlukan pendekatan otomatis yang lebih akurat dan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah alat enumerasi otomatis bernama Cipherion, yang hanya berfokus pada aspek information gathering dan tidak melibatkan eksploitasi aktif terhadap sistem target. Cipherion dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman Python dan diuji pada sistem operasi Linux dan Windows, dengan fitur identifikasi aset yang relevan seperti subdomain, direktori tersembunyi, layanan terbuka, dan konfigurasi publik berbasis protokol umum seperti HTTP, HTTPS, dan FTP. Pengujian dilakukan secara terkontrol pada website Ninja Shl sebagai simulasi target, tanpa melibatkan sistem produksi guna menjaga etika dan keamanan.
-----
Information security is a critical aspect in today’s rapidly evolving digital landscape. As dependence on information technology increases, threats to systems and data have become more complex and diverse. In the context of web security, enumeration plays a pivotal role in penetration testing by identifying subdomains, hidden directories, active services, and publicly accessible system configurations, all of which may serve as potential entry points for cyberattacks. However, manual enumeration methods tend to be inefficient and prone to human error, necessitating an automated approach that enhances both accuracy and speed. This research aims to develop an automated enumeration tool called Cipherion, designed specifically for the information gathering phase without engaging in active exploitation of the target system. Cipherion is developed using Python and tested on both Linux and Windows operating systems, featuring capabilities to identify assets such as subdomains, hidden directories, open services, and publicly accessible configurations using standard web protocols like HTTP, HTTPS, and FTP. The testing process is conducted in a controlled environment targeting the Ninja Shl website, ensuring ethical and secure analysis without involving live production systems
OPTIMALISASI KETERLIBATAN GENERASI MUDA DALAM BELA NEGARA PADA ORGANISASI KEPEMUDAAN : Studi Kasus pada Organisasi GP Ansor dan Pemuda Muhamadiyah Provinsi Banten
Penelitian ini berangkat dari pemasalahan generasi muda di Banten pada masalah bela negara, mulai dari permasalahan pendidikan karakter, digitalisasi, polarisasi isu-isu yang beridentik RAS, intoleran, penikaman, perjudian, persekusi rumah ibadah, bullying. Penelitian ini mengkaji optimalisasi generasi muda pada bela negara di organisasi kepemudaan (OK). Penelitian ini di lakukan di dua OK besar yaitu Gerakan Pemuda Ansor dan Pemuda Muahamdiyah provinsi Banten. Teknis analisis pengambilan data penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan observasi, wawancara, studi literatur, studi dokumentasi. Hasil penelitian meliputi: (1) bentuk-bentuk kegiatan. (2) faktor-faktor doktrin kebangsaan, kiyai kiyai sepuh sebagai tokoh, doktrin kebangsaan, faktor eksternal kolaborasi dengan stake holder, menjaga toleransi, kestabilitasan politik, pembangunan kompetensi akar rumput (3) adapun pendekatan keterlibatan yaitu tradisi zikir atau pengajian masih sangat kental untuk membina hubungan baik kepada masyarakat. Dialog antar kader menentukan tema untuk memberikan pendidikan politik mendirikan majelis-majelis (4). Kemudian hambatan dan upaya, pada upaya keterlibatan generasi muda terhadap OK yaitu dari faktor geografi karena banten sering kali rapat pengurus itu terkendala jarak, faktor finansial juga karena nonprofitnya organisasi, politik praktis dan polarisasi tokoh politik pemahaman idiologi dan juga bela negara. Adapun upaya mencari titik temu permasalahan, melakukan evaluasi pada setiap kegiatan, sowan kepada kiyai-kiyai minta pencerahan dan petunjuk. Penelitian ini mengungkapkan optimalisasi peran generasi muda pada OK harus di tingkatkan, dan berkelanjutkan, agar generasi muda sadar, tahu, terlibat dalam pembangunan sumber daya manusia di daerah Banten.
This research is based on the problems of the young generation in Banten in defending the country, starting from the problems of character education, digitalization, polarization of issues that are identical to RAS, intolerance, stabbing, gambling, persecution of places of worship, bullying. This research examines the optimization of the young generation in defending the country in youth organizations (OK). This research was conducted in two large OKs, namely the Ansor Youth Movement and the Muhammadiyah Youth of Banten province. The technical analysis of data collection in this research uses a qualitative case study approach with observation, interviews, literature studies, documentation studies. The results of the research include: (1) the forms of activities. (2) factors of national doctrine, senior kiyai kiyai as figures, national doctrine, external factors of collaboration with stakeholders, maintaining tolerance, political stability, grassroots competency development (3) the involvement approach, namely the tradition of dhikr or religious studies, is still very strong in fostering good relations with the community. Dialogue between cadres determines the theme for providing political education to establish assemblies (4). Then the obstacles and efforts, in the effort to involve the younger generation zin OK, namely from geographical factors because Banten often has management meetings hampered by distance, financial factors also because the organization is non-profit, practical politics and polarization of political figures understanding ideology and also defending the country. As for efforts to find common ground on the problem, conducting evaluations on each activity, visiting the kiyai to ask for enlightenment and guidance. This study reveals that the optimization of the role of the younger generation in OK must be increased, and sustainable, so that the younger generation is aware, knows, and is involved in human resource development in the Banten region
STUDI ETNOGRAFI TENTANG ETNOMATEMATIKA SUKU MALIND DAN SUKU ASMAT RUMPUN BISMAM
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk etnomatematika yang terdapat dalam budaya masyarakat Suku Malind dan Suku Asmat Rumpun Bismam (Rumpun Bismam: salah satu rumpun dari dua belas forum adat rumpun yang ada di kabupaten Asmat) di Papua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian ini dilaksanakan di dua wilayah, yakni Kabupaten Merauke dan Kabupaten Asmat. Teknik pengumpulan data mencakup observasi lapangan, wawancara, serta analisis dokumen. Proses wawancara melibatkan berbagai informan kunci, termasuk tokoh adat, pemerhati budaya dan guru matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa artefak budaya tersebut mengandung prinsip-prinsip geometri, simetri, isometri, pola frieze, konsep himpunan, relasi dan fungsi yang mencerminkan pemahaman matematika kontekstual dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat. Penelitian ini menemukan bahwa intuisi dan estimasi memainkan peran penting dalam proses penciptaan dan penggunaan artefak-artefak tersebut. Berdasarkan temuan hasil penelitian ini, diperoleh suatu konjektur yang menyatakan bahwa keterkaitan masyarakat Suku Malind dengan persepsi mereka terhadap matematis diindikatori oleh kemampuan intuisi dan estimasi, pola dan simbolisme dalam karya budaya, serta klasifikasi dalam sistem sosial (hubungan Klan dengan totem) sedangkan konjektur yang menyatakan keterkaitan masyarakat Suku Asmat Rumpun Bismam dengan persepsi mereka terhadap matematis diindikatori oleh kemampuan intuisi dan estimasi, pola dan simbolisme dalam karya budaya. Pembelajaran matematika dengan pendekatan etnomatematika yang mengintegrasikan konteks budaya Rumah Jew dan alat musik Kandala mendapatkan respons positif dari siswa dan guru. Siswa menunjukkan antusiasme, rasa bangga, dan keterlibatan aktif karena materi dikaitkan dengan budaya mereka sendiri, sementara guru menilai pendekatan ini mempermudah pemahaman konsep matematika dan menciptakan suasana belajar yang kontekstual dan bermakna.
This study aimed to examine forms of ethnomathematics embedded in the cultural practices of the Malind and Asmat (Bismam subgroup The Bismam subgroup is one of the twelve customary clan forums found in Asmat Regency). This research employed a qualitative methodology with an ethnographic methods. The study was conducted in two regions: Merauke Regency and Asmat Regency. Data were collected through field observations, interviews, and document analysis. Key informants included traditional leaders, cultural practitioners, and mathematics teachers. The findings revealed that the cultural artifacts incorporate principles of geometry, symmetry, isometry, frieze patterns, set theory, relations, and functions, reflecting a contextual understanding of mathematics in the everyday lives of indigenous communities. The study found that intuition and estimation played a significant role in the creation and use of these artifacts. Based on the study’s findings, it was conjectured that the Malind people's perception of mathematics was shaped by their intuitive and estimative abilities, the use of patterns and symbolism in cultural expressions, and classificatory system within their social structure (particularly clan-totem relationships). A similar conjecture for the Asmat people of the Bismam subgroup highlights the roles of intuition, estimation, and symbolic patterns in their cultural practices. Mathematics learning that integrated the cultural context of the Rumah Jew and the Kandala musical instrument through an ethnomathematical approach received positive responses from both students and teachers. Students demonstrated enthusiasm, pride, and active engagement as the material was connected to their own cultural background. Teachers noted that this approach enhanced concept comprehension and fostered a meaningful, contextual learning environment
PELATIHAN RAMAH DISABILITAS UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PENDETA TENTANG PELAYANAN TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS DI GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN (GKPS)
ABSTRAK
Masih terbatasnya pemahaman dan keterampilan pendeta dalam melayani jemaat penyandang disabilitas menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan gereja yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelatihan ramah disabilitas dapat meningkatkan pemahaman pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dalam memberikan pelayanan yang tepat kepada penyandang disabilitas, yang mencakup lima ragam disabilitas yaitu: netra, rungu, fisik, intelektual, dan mental. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experiment) model one group posttest-only, dengan instrumen pengumpulan data berupa tes pilihan ganda yang mencakup enam aspek, yaitu pemahaman tentang ragam disabilitas serta pelayanan kepada masing-masing ragam disabilitas, dan diberikan kepada 30 orang pendeta sebagai sampel penelitian. Data dianalisis menggunakan uji tanda statistik nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan ramah disabilitas terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pendeta GKPS tentang pelayanan kepada penyandang disabilitas. Peningkatan ini mencerminkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap kebutuhan, hak, dan pendekatan pelayanan yang tepat bagi berbagai ragam disabilitas dalam konteks gerejawi. Dengan demikian, pelatihan ramah disabilitas dapat dijadikan pendekatan strategis dalam pengembangan kapasitas pendeta guna mewujudkan pelayanan gerejawi yang setara, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
ABSTRACT
The limited understanding and skills of pastors in serving congregations with disabilities is one of the challenges in realizing an inclusive and welcoming church for all. This study aims to determine the extent to which disability-friendly training can enhance the understanding of pastors in the Simalungun Protestant Christian Church (GKPS) in providing appropriate services to people with disabilities, covering five types of disabilities: visual, hearing, physical, intellectual, and mental. This study uses a quantitative approach with a quasi-experimental design, specifically a one-group posttest-only model, employing a multiple-choice test as the data collection instrument. The test covers six aspects: understanding of disability types and services for each type of disability, and was administered to 30 pastors as the research sample. Data were analyzed using nonparametric statistical tests. The results of the study indicate that disability-friendly training is effective in enhancing GKPS pastors' understanding of services for people with disabilities. This improvement reflects a more comprehensive understanding of the needs, rights, and appropriate service approaches for various types of disabilities in a church context. Thus, disability-friendly training can be used as a strategic approach in developing the capacity of pastors to realize church services that are equitable, participatory, and responsive to the needs of people with disabilities
PEMBELAJARAN TARI JAIPONGAN BAGI SISWA DOWN SYNDROME DI SANGGAR PADEPOKAN SEKAR PANGGUNG KOTA CIMAHI
Tesis ini berjudul “Pembelajaran Tari Jaipongan Bagi Siswa Down
Syndrome Di Sanggar Padepokan Sekar Panggung”Latar belakang penelitian
ini berangkat dari pentingnya memberikan layanan pendidikan adaptif bagi anak
berkebutuhan khusus, khususnya penyandang Down Syndrome, melalui pendekatan seni tari. Tari Jaipongan sebagai kesenian tradisional Jawa Barat tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga potensi pedagogis untuk mengembangkan aspek motorik, kognitif, sosial, dan emosional siswa. Namun, pembelajaran tari bagi
siswa Down Syndrome di lingkungan nonformal masih menghadapi tantangan, baik
dari sisi kompetensi pelatih, strategi pembelajaran, maupun evaluasi yang
digunakan. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: (1) bagaimana
kompetensi pelatih/pengajar siswa down syndrome di Sanggar Padepokan Sekar
Panggung Kota Cimahi, (2) bagaimana strategi pembelajaran tari Jaipongan yang
diterapkan terhadap siswa down syndrome di Sanggar Padepokan Sekar Panggung
Kota Cimahi, dan (3) bagaimana cara evaluasi hasil pembelajaran tari Jaipongan
terhadap siswa down syndrome di sanggar Padepokan Sekar Panggung kota Cimahi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data
diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelatih memiliki kompetensi pedagogik adaptif, profesional di bidang tari, kompetensi sosial, kepribadian, serta pemahaman konteks nonformal. Pelatih memiliki sikap equality (kesetaraan) dalam pembelajaran dengan tidak membeda-bedakan siswa regular dan siswa down syndrome. (2) strategi pembelajaran meliputi pengulangan materi gerak, penguatan positif, pendekatan secara personal terhadap siswa down syndrome; yang terbukti efektif meningkatkan keterlibatan siswa, dengan penggunaan metode imitatif, drill dan tutor sebaya; pelatih berposisi sebagai fasilitator dan motivator yang berupaya menjalin komunikasi melalui penerapan nilai kasih sayang, memberikan pembelajaran tanpa lelah, senantiasa memberikan pujian terhadap siswa down syndrome, kehadiran siswa down syndrome diterima dengan baik oleh siswa regular, yang meskipun sempat merasa ragu atau takut dikarenakan pengalaman menyaksikan siswa down syndrome saat tantrum, namun akhirnya merasa nyaman dikarenakan strategi pendekatan yang digunakan oleh pelatih. Hal ini memperkuat bahwa pembelajaran tari Jaipong di sanggar Padepokan Sekar Panggung memiliki potensi besar dalam membangun masyarakat yang inklusif dan empatik. (3) evaluasi pembelajaran lebih menekankan pada proses daripada hasil, evaluasi dilakukan melalui observasi, rubrik penilaian sederhana, dan catatan perkembangan individu.
This thesis is titled “Jaipongan Dance Education for Students with Down
Syndrome at the Padepokan Sekar Panggung Studio.” The background of this
research stems from the importance of providing adaptive education services for
children with special needs, especially those with Down Syndrome, through the
approach of dance. Jaipongan dance, as a traditional art form of West Java, not only
has aesthetic value but also pedagogical potential to develop students' motor,
cognitive, social, and emotional aspects. However, teaching dance to students with
Down Syndrome in a non-formal environment still faces challenges, both in terms
of the competence of the trainers, the learning strategies, and the evaluation
methods used. The research questions in this study include: (1) what are the
competencies of trainers/teachers of students with Down Syndrome at the
Padepokan Sekar Panggung Studio in Cimahi City, (2) what Jaipongan dance
learning strategies are applied to students with Down Syndrome at the Padepokan
Sekar Panggung Studio in Cimahi City, and (3) how the results of Jaipongan dance
learning are evaluated for students with Down Syndrome at the Padepokan Sekar
Panggung Studio in Cimahi City. This study uses a qualitative approach with a case
study method. Data was obtained through observation, in-depth interviews, and
documentation. The research method used was a case study method with a
qualitative approach. Data collection techniques used observation, interviews, and
documentation.
The results of the study show that: (1) coaches have adaptive pedagogical
competencies, are professionals in the field of dance, have social competencies,
personality, and an understanding of the non-formal context. Trainers have an
attitude of equality in learning by not discriminating between regular students and
students with Down syndrome. (2) Learning strategies include repetition of
movement material, positive reinforcement, and a personal approach to students
with Down syndrome, which have been proven effective in increasing student
engagement through the use of imitative methods, drills, and peer tutoring. The
trainer acts as a facilitator and motivator who strives to establish communication
through the application of compassion, providing tireless learning, constantly
praising students with Down syndrome. The presence of students with Down
syndrome is well accepted by regular students, who, despite initially feeling hesitant or afraid due to their experience of witnessing students with Down syndrome having tantrums, eventually feel comfortable due to the approach used by the trainer. This reinforces that Jaipong dance learning at the Sekar Panggung dance studio has great potential in building an inclusive and empathetic society. (3) Learning evaluation emphasizes process over results, with evaluation conducted through observation, simple assessment rubrics, and individual progress notes
EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN KETERAMPILAN BEPIKIR DIVERGEN SISWA SMA PADA MATERI FLUIDA DINAMIS
Model Problem Based Learning dilaksanakan secara sistematis sehingga dapat membangun keterampilan peserta didik melalui proses pemecahan masalah, pengidentifikasian, serta solusi yang diberikan dalam menyelesaikan permasalah. Sintaks Model Problem Based Learning yang digunakan adalah 1) Fase Pendahuluan (observasi awal), 2) Fase Perumusan Masalah, 3) Fase Merumuskan Strategi Pemecahan Masalah, 4) Fase Pengumpulan Data, 5) Fase Diskusi, dan 6) Fase Kesimpulan dan Evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa efektifnya model problem based learning (PBL) terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir divergen siswa SMA pada materi fisika fluida dinamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian quasy eksperimen, dimana menggunakan 2 kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol (kelas pembanding). Kelas eksperimen menggunakan model problem based learning (PBL) dan kelas kontrol menggunakan model discovery learning. Instrumen penelitian menggunakan soal pilihan ganda dengan lima option untuk mengukur kemampuan kognitif dan soal uraian untuk mengukur keterampilan berpikir divergen (flexibility). Analisis data dilihat dari hasil peningkatan kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir divergen peserta didik yang diperoleh dari skor pretest dan skor posttest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai peningkatan (N-gain) untuk kemampuan kognitif siswa yang menggunakan model problem based learning lebih besar daripada peserta didik yang menggunakan model discovery learning dengan nilai 0,37 kategori sedang. Sedangkan untuk keterampilan berpikir divergen memiliki peningkatan yang sama dengan kategori rendah. Dapat disimpulkan bahwa model problem based learning (PBL) efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa dan sama efektifnya dengan model discovery learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir divergen.
The Problem Based Learning model is applied systematically so that it can build students' skills through the process of problem solving, identification, and solutions provided in solving problems. The syntax of the Problem Based Learning Model used is 1) Preliminary Stage (initial observation), 2) Problem Formulation Stage, 3) Problem Solving Strategy Formulation Stage, 4) Data Collection Stage, 5) Discussion Stage, and 6) Conclusion and Evaluation Stage. This study aims to determine the effectiveness of the problem-based learning (PBL) model in improving cognitive abilities and divergent thinking skills of high school students in fluid dynamics physics material. The method used in this study is a quasi-experimental study, which uses two classes, namely the experimental class and the control class (comparison class). The experimental class uses the problem-based learning (PBL) model and the control class uses the discovery learning model. The research instrument uses multiple-choice questions with five options to measure cognitive abilities and essay questions to measure divergent thinking skills (flexibility). Data analysis is seen from the increase in cognitive abilities and divergent thinking skills of students obtained from pretest and posttest scores. The results show that the increase value (N-gain) for cognitive abilities of students who use the problem-based learning model is greater than students who use the discovery learning model with a value of 0.37 in the medium category. Meanwhile, for divergent thinking skills, the increase is the same as the low category. It can be concluded that the problem-based learning (PBL) model is effective in improving students' cognitive abilities and is as effective as the discovery learning model in improving divergent thinking skills
PENGARUH MODEL GAME-BASED LEARNING (GBL) BERBANTUAN ZEPQUIZ TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PADA MATERI PENGUKURAN SUDUT PESERTA DIDIK KELAS IV DI SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika peserta didik, khususnya materi pengukuran sudut, yang seringkali dianggap sulit di tingkat sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran inovatif yang mampu membuat proses pembelajaran lebih menarik, interaktif, dan efektif. Salah satu metode yang diusulkan adalah model Game-Based Learning (GBL) berbantuan media ZepQuiz, yang mengintegrasikan unsur permainan dan teknologi untuk memotivasi peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Game-Based Learning (GBL) berbantuan ZepQuiz terhadap pemahaman konsep peserta didik kelas IV SDN 034 Patrakomala Bandung. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen tipe nonequivalent control group, dengan melibatkan dua kelas yang sudah terbentuk sebelumnya. Sampel penelitian terdiri dari 50 peserta didik, dengan 25 sebagai kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran GBL berbantuan ZepQuiz dan 25 sebagai kelas kontrol yang mengikuti pembelajaran konvensional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa tes pemahaman konsep yang diberikan sebelum (pretest) dan setelah (posttest) perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik, penerapan GBL berbantuan ZepQuiz belum terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman konsep peserta didik. Namun, hasil deskriptif menunjukkan adanya peningkatan lebih tinggi pada kelas eksperimen dengan rata-rata N-gain sebesar 0,57 yang termasuk kategori sedang, dibandingkan kelas kontrol dengan rata-rata N-gain 0,40. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan GBL berbantuan ZepQuiz mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, serta mendorong motivasi dan partisipasi aktif peserta didik. Implikasi penelitian ini merekomendasikan penggunaan media pembelajaran berbasis game digital sebagai alternatif untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman konsep peserta didik.
This study was motivated by the need to improve students’ conceptual understanding of mathematics, particularly in the topic of angle measurement, which is often considered difficult at the elementary school level. Therefore, innovative learning methods are required to make the learning process more engaging, interactive, and effective. One such method is the Game-Based Learning (GBL) model assisted by ZepQuiz, which integrates elements of games and technology to motivate students. The purpose of this study was to examine the effect of the Game-Based Learning (GBL) model assisted by ZepQuiz on the conceptual understanding of fourth-grade students at SDN 034 Patrakomala Bandung. This research employed a quasi-experimental design with a nonequivalent control group, involving two pre-existing classes. The sample consisted of 50 students, with 25 assigned to the experimental class receiving GBL with ZepQuiz and 25 to the control class receiving conventional instruction. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected through a conceptual understanding test administered before (pretest) and after (posttest) the intervention. The results showed that, statistically, the application of GBL assisted by ZepQuiz did not significantly affect students’ conceptual understanding. However, descriptive analysis indicated a higher improvement in the experimental class, with an average N-gain of 0.57 (moderate category), compared to the control class with an average N-gain of 0.40. These findings suggest that GBL with ZepQuiz fosters a more interactive and enjoyable learning environment, enhancing student motivation and active participation. The study recommends the use of digital game-based learning media as an alternative to improve students’ motivation and conceptual understanding