91757 research outputs found
Sort by
IMPROVING CLASSROOM MANAGEMENT SKILLS THROUGH MICRO TEACHING FOR PRE-SERVICE TEACHERS OF VOCATIONAL SCHOOLS
Classroom management is vital for fostering productive learning environments. As a leading teacher-training institution, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) employs microteaching to equip students with pedagogical skills. This qualitative case study examines how microteaching enhances classroom management competencies among six Mechanical Engineering Education students, preparing them for the Program Penguatan Profesional Kependidikan (P3K). Data were collected through interviews on microteaching implementation, classroom management practices, and observations of teaching sessions. Supporting documentation and triangulation ensured validity. Analysis followed stages of reduction, presentation, and conclusion. Findings indicate that structured microteaching significantly improves classroom management abilities, evident in students' enhanced performance during school-based teaching. The program's procedural adherence enables participants to refine lesson delivery, behavioural management, and instructional adaptability. Practical experience through microteaching not only bridges theoretical knowledge with real-world application but also builds confidence and readiness for first aid challenges. Thus, microteaching is a critical preparatory tool, equipping future educators with the skills to navigate dynamic classroom settings and meet professional demands. These outcomes underscore the value of experiential training in teacher education, positioning UPI's approach as a model for cultivating adaptable, classroom-ready educators.
Mengelola kelas berperan penting dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan produktif. Sebagai lembaga pencetak calon guru, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membekali mahasiswa melalui berbagai program, yaitu salah satunya micro teaching. Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran pelaksanaan micro teaching dalam meningkatkan keterampilan mengelola kelas untuk mempersiapakan mahasiswa mengikuti Program Penguatan Profesional Kependidikan (P3K). Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan penelitian 6 mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin UPI. Teknik pengumpulan data dengan wawancara kepada informan mengenai pelaksanaan micro teaching dan mengelola kelas ketika P3K. Observasi dilakukan kepada informan yang sedang mengajar di sekolah. Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dokumen yang mendukung penelitian. Keabsahan data dengan triangulasi yaitu triangulasi teknik. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa micro teaching yang dilaksanakan sesuai prosedur dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mengelola kelas, yang terlihat dari peningkatan kemampuan mahasiswa saat mengajar di sekolah. Micro teaching berperan penting dalam mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan di dunia pendidikan. Selain itu, pengalaman praktik melalui micro teaching membantu mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan nyata ketika mengajar kelas
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS ULASAN VIDEO PENDEK DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY BASED LEARNING PADA SISWA KELAS VIII
ABSTRAK
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS ULASAN VIDEO
PENDEK DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY BASED LEARNING PADA SISWA KELAS VIII
Salah satu keterampilan kunci dalam pembelajaran bahasa Indonesia di
tingkat SMP adalah menulis teks ulasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks ulasan video singkat
untuk pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa SMP Kahuripan Lembang
menjadi subjek penelitian ini, yang menggunakan metodologi Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Tes, wawancara, dan observasi digunakan sebagai
metode pengumpulan data. Berdasarkan temuan pra-penelitian, kemampuan
menulis siswa dikategorikan cukup karena terbatasnya sumber belajar yang
tersedia dan dianggap sulit untuk diperoleh dan dipahami. Untuk mengatasi
masalah ini, peneliti menggunakan Pendekatan Technology Based Learning
yang melibatkan dua siklus yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa
kemampuan menulis siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Kemampuan
menulis siswa berada dalam kategori "cukup" pada siklus I, tetapi meningkat
ke tingkat "sangat baik" pada siklus II. Keterlibatan, penyerapan materi, dan
kemampuan berpikir kritis siswa terhadap informasi semuanya meningkat
sebagai hasil dari peningkatan aktivitas belajar mereka. Hasilnya, penggunaan
Pendekatan Technology Based Learning telah berhasil membantu siswa
meningkatkan kemampuan menulis mereka dalam materi teks ulasan. Kata Kunci: Kemampuan Menulis, Pendekatan Technology Based
Learning, Penelitian Tindakan Kelas, Teks Ulasan, Video Pendek
ABSTRACT
IMPROVEMENT OF THE ABILITY TO WRITE SHORT VIDEO REVIEW TEXT
WITH TECHNOLOGY BASED LEARNING APPROACH
IN CLASS VIII STUDENTS
One of the key skills in learning Indonesian at the junior high school
level is writing review texts. The purpose of this study is to improve students' ability to write short video review texts for Indonesian language learning. Students of Kahuripan Lembang Junior High School were the subjects of this
study, which used the Classroom Action Research (CAR) methodology. Tests, interviews, and observations were used as data collection methods. Based on
pre-research findings, students' writing skills were categorized as sufficient
due to limited available learning resources and were considered difficult to
obtain and understand. To address this problem, the researcher used a
Technology Based Learning Approach involving two cycles consisting of four
stages: planning, implementation, observation, and reflection. The research
findings showed that students' writing skills improved from cycle I to cycle II. Students' writing skills were in the "sufficient" category in cycle I, but
increased to the "very good" level in cycle II. Students' engagement, material
absorption, and critical thinking skills towards information all increased as a
result of their increased learning activities. As a result, the use of the
Technology Based Learning Approach has successfully helped students
improve their writing skills in review text. Keywords: Writing Skills, Technology Based Learning Approach, Classroom Action Research, Review Text, Short Vide
STRATEGI COPING MAHASISWA SEMESTER AKHIR DALAM MENGHADAPI STRES AKADEMIK: Studi Kasus di Universitas Pendidikan Indonesia
Latar Belakang:Stres akademik masih menjadi masalah umum yang dihadapi mahasiswa, terutama pada semester akhir yang ditandai dengan tekanan akademik dan emosional yang tinggi. Mahasiswa sering dihadapkan pada tenggat waktu yang ketat, tuntutan penyelesaian skripsi, serta ketidakpastian setelah lulus. Dalam situasi ini, strategi coping atau cara menghadapi stres berperan penting dalam menjaga ketahanan psikologis dan kinerja akademik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi coping yang digunakan oleh mahasiswa semester akhir dalam mengelola stres akademik, dengan menyoroti efektivitasnya dalam konteks pendidikan di Indonesia. Metode:Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Delapan mahasiswa semester akhir dari Universitas Pendidikan Indonesia dipilih sebagai partisipan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstrukturdan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola coping yang dominan serta dampaknya terhadap kesejahteraanmahasiswa. Hasil:Analisis menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan berbagai strategi coping, yaitu: (1) Problem-focused copingyang mencakup manajemen waktu, pemecahan tugas menjadi bagian-bagian kecil (chunking), dan konsultasi akademik secara rutin; (2) Emotion-focused copingseperti menulis jurnal, latihan mindfulness, dan mencari dukungan emosional; (3) Religious coping melalui ibadah dan refleksi spiritual; dan (4) Avoidance copingseperti penundaan dan penghindaran masalah. Di antara strategi tersebut, pendekatan problem-focusedterbukti paling efektif dalam mengurangi stres akademik dan mempertahankan keterlibatan belajar mahasiswa. Diskusi:Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif merencanakan, mencari dukungan akademik, dan menjaga rutinitas kerja yang konsisten lebih mampu menghadapi stres akademik. Strategi emotion-focuseddan religious copingmembantu menjaga kestabilan emosi, sedangkan avoidance copingcenderung memperburuk tingkat stres. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan institusi pendidikan dalam membangun keterampilan coping yang adaptif dan memberikan pendampingan akademik bagi mahasiswa tingkat akhir
LEARNING OBSTACLES SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PADA MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS
Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa, karena pada dasarnya kemampuan pemecahan masalah matematis adalah tujuan utama dalam proses pembelajaran matematika. Meski kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa, namun faktanya terjadi kesenjangan antara kemampuan pemecahan masalah matematis secara ideal dan di lapangan. Faktanya, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih tergolong rendah termasuk pada materi persamaan garis lurus. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis pada materi persamaan garis lurus menunjukkan siswa mengalami learning obstacles. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang learning obstacles siswa sekolah menengah pertama dalam pemecahan masalah matematis pada materi persamaan garis lurus serta merancang hypothetical learning trajectory dan desain didaktis rekomendasi berdasarkan learning obstacles yang teridentifikasi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan Didactical Design Research sebagai kerangka penelitian serta dengan pendekatan fenomenologi hermeneutik. Teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi teknik. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adanya learning obstacles yang teridentifikasi diantaranya hambatan ontogenik psikologis, hambatan ontogenik konseptual, hambatan ontogenik instrumental, hambatan epistermologis, dan hambatan didaktis. Oleh karena itu, dirancang hypothetical learning trajectory dan desain didaktis rekomendasi pada pembelajaran materi persamaan garis lurus terkait kemampuan pemecahan masalah matematis untuk mengurangi learning obstacles yang teridentifikasi sehingga siswa dapat memahami konsep persamaan garis lurus secara utuh dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematisnya.
Mathematical problem-solving is a fundamental skill that students are expected to master, as it represents a primary goal of mathematics education. Despite its recognized importance, there remains a significant gap between the expected ideal performance and actual classroom outcomes. In fact, students’ mathematical problem-solving abilities remain relatively low, including in the topic of linear equations, suggesting the presence of learning obstacles. This study aims to describe the learning obstacles experienced by junior high school students in mathematical problem solving related to linear equations and to develop a Hypothetical Learning Trajectory along with a recommended didactical design based on the identified obstacles. The research employed a qualitative approach within the framework of Didactical Design Research, adopting a hermeneutic phenomenological approach. Data were collected using method triangulation. The findings identified several categories of learning obstacles, including ontogenic psychological, ontogenic conceptual, ontogenic instrumental, epistemological, and didactical obstacles. In response, a Hypothetical Learning Trajectory and a corresponding didactical design were developed to address these challenges. The design aims to support students in achieving a more comprehensive understanding of linear equations and in enhancing their mathematical problem-solving skills
TRANSFORMASI PERAN GURU DALAM ADMINISTRASI DAN PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI DIGITAL DI SMAN KOTA TANGERANG SELATAN
Transformasi peran guru dalam administrasi dan pembelajaran berbasis teknologi digital di SMAN Kota Tangerang Selatan telah menunjukkan perubahan signifikan dalam dunia pendidikan menengah, di mana guru kini tidak hanya bertugas sebagai pelaksana administrasi manual dan penyampaian materi, tetapi juga sebagai pengelola data digital, fasilitator, inovator, dan pendamping siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran guru dalam administrasi dan pembelajaran berbasis digital, meneliti penerapannya, mengidentifikasi tantangan, serta mengkaji upaya yang dilakukan sekolah untuk mendukung digitalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan selama lima bulan, wawancara dengan guru, siswa, dan wakil kurikulum, serta dokumentasi berupa foto dan video. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru aktif memanfaatkan aplikasi seperti Pijar, Gemini, Canva, Quizizz, Wordwall, dan Mindmeister untuk memudahkan administrasi dan menciptakan pembelajaran yang interaktif. Namun, tantangan seperti literasi digital guru yang belum merata, resistensi sebagian guru senior, serta potensi plagiarisme tugas digital oleh siswa masih dihadapi. Untuk mengatasinya, sekolah melakukan pelatihan rutin dan membentuk kelompok belajar (KomBel). Pemanfaatan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan pada pola kerja dan peran guru, memudahkan administrasi dan pembelajaran, namun keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada pelatihan berkelanjutan, kolaborasi antar guru, dan dukungan infrastruktur yang memadai, sehingga penguatan literasi digital dan pendampingan intensif sangat diperlukan agar transformasi berjalan optimal dan merata di seluruh kalangan guru.
The transformation of teachers’ roles in digital technology-based administration and learning at SMAN Kota Tangerang Selatan reflects a fundamental shift in secondary education, where teachers are no longer limited to manual administrative task and delivering material, but also act as digital data managers, facilitators, innovators, and student mentors. This study aims to analyze the role of digital technology inadministration and learning, examine its impementation, identify challenges, and review the efforts made by schools to support digitalization. A qualitative case study approach was used, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model with triangulation of sources, techniques, and time to ensure data validity. The result show that teachers actively utilize applications such as Pijar, Gemini, Canva, Quizizz, Wordwall, and Mindmeister to improve administrative efficiency and create more interactive learning. However, challenges remain, including uneven digital literacy among teachers, resistance from some senior teachers, and the potential for plagiarism in digital assignments by students. To address these issues, schools conduct regular training and form learning groups (KomBel). In conclusion, the use of digital technology has brought significant changes to teachers’ work patterns and roles, increasing administrative efficiency and quality of learning. However, the success of digital transformation depends greatly on continuous training, teaching collaboration, and adequate infrastructure support, making it essential to strengthen digital literacy and provide intersive assistance so that digital transformation can run optimally and evenly among all teachers
EKSPLORASI FAKTOR DEMOTIVASI BERBICARA BAHASA KOREA PADA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA KOREA
Kemampuan berbicara merupakan kunci dalam penguasaan bahasa asing, tetapi tidak sedikit mahasiswa yang mengalami hambatan psikologis seperti demotivasi, yang berdampak pada kepercayaan diri dan partisipasi aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor internal dan eksternal demotivasi berbicara dalam bahasa Korea pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Korea. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini melibatkan 110 mahasiswa yang telah menyelesaikan mata kuliah Malhagi 4 dalam dua tahun terakhir sebagai responden, dengan enam di antaranya dipilih untuk diwawancarai secara mendalam. Data yang diambil dari angket dihitung persentasenya untuk menentukan kecenderungan faktor demotivasi yang terlibat. Sedangkan, transkrip wawancara dianalisis dengan mengidentifikasi kode yang terkandung dalam ujaran para responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal meliputi kemampuan dasar (37%), pengalaman belajar (34%), dan sikap negatif (29%) yang berkontribusi terhadap rendahnya kepercayaan diri. Di sisi lain, faktor eksternal meliputi ekspektasi sosial (38%), lingkungan kelas (34%), dan perilaku pengajar (28%). Temuan ini menegaskan bahwa demotivasi berbicara bahasa Korea sebagai bahasa asing dipengaruhi oleh tidak hanya keterbatasan penguasaan kebahasaan individu, tetapi juga oleh tekanan sosial serta dinamika lingkungan akademik yang membentuk pengalaman belajar mahasiswa secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan suasana kelas yang lebih suportif dan strategi pengajaran yang dapat meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa.
Speaking ability is a key component in mastering a foreign language; however, many students experience psychological barriers such as demotivation, which affect their self-confidence and active participation in the learning process. This study aims to explore the internal and external factors of speaking demotivation in Korean language learning among students of the Korean Language Education Study Program. The research employed a descriptive method with both quantitative and qualitative approaches. This study involved 110 students who had completed the Malhagi 4 course within the past two years as respondents, with six of them selected for in-depth interviews. Questionnaire data were analyzed using percentage calculations to identify the predominant demotivating factors, while interview transcripts were examined by identifying codes emerging from the respondents’ statements. The findings revealed that internal factors include basic ability (37%), learning experience (34%), and negative attitudes (29%), which contribute to decreased self-confidence. Meanwhile, external factors consist of social expectations (38%), classroom environment (34%), and teacher behavior (28%). These findings underscore that speaking demotivation in learning Korean as a foreign language is influenced not only by individual linguistic limitations but also by social pressures and the dynamics of the academic environment that shape student’s overall learning experiences. Therefore, creating a more supportive classroom atmosphere and applying teaching strategies that enhance student’s confidence are necessary.
본 연구는 한국어 교육과 대학생을 대상으로 말하기 학습에서 나타나는 학습 의욕 저하 요인을 내적 요인과 외적 요인으로 나누어 탐색하는 것을 목적으로 한다. 연구 방법으로는 양적 질적 접근을 병행한 서술적 연구를 사용하였다. 최근 2년간 말하기 4 교과목을 이수한 110명의 학생이 설문 조사에 참여하였으며, 이 중 6명을 선별하여 심층 면담을 진행하였다. 설문 자료는 요인별 비율을 산출하여 학습 의욕 저하의 경향성을 분석하였고, 면담 자료는 발화에서 나타나는 코드를 도출하여 분석하였다. 연구 결과, 내적 요인은 기본 능력(37%), 학습 경험(34%), 부정적 태도(29%)로 나타났으며 이는 학습자의 자신감 저하와 관련이 있었다. 외적 요인은 사회적 기대(38%), 교실 환경(34%), 교사 행동(28%)으로 나타났다. 이러한 결과는 외국어로서의 한국어 말하기 학습에서 학습 의욕 저하가 개인의 언어 능력 한계뿐만 아니라 사회적 압력과 학습 환경의 역동성에 의해서도 형성된다는 점을 시사한다. 따라서 보다 지원적인 교실 분위기를 조성하고 학생들의 자신감을 높이는 교수 전략을 적용하는 것이 필요한다
TINGKAT DAN FAKTOR KECEMASAN BERBICARA BAHASA KOREA PADA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA KOREA TINGKAT MENENGAH
Kecemasan berbicara merupakan salah satu tantangan utama dalam pembelajaran bahasa asing, termasuk dalam konteks pembelajaran Bahasa Korea sebagai bahasa asing di Indonesia. Mahasiswa sering kali menunjukkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran berlebih saat diminta berbicara di kelas, yang pada akhirnya dapat menghambat pengembangan keterampilan berbicara secara optimal. Meskipun kecemasan berbicara telah banyak diteliti dalam pembelajaran bahasa asing lainnya, masih terbatas penelitian yang secara khusus mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan berbicara mahasiswa Indonesia dalam pembelajaran Bahasa Korea pada level menengah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecemasan serta mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap kecemasan berbicara mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan partisipasi 61 mahasiswa semester empat Program Studi Pendidikan Bahasa Korea Universitas Pendidikan Indonesia tahun ajaran 2024/2025 yang telah menempuh mata kuliah 말하기 쓰기 4. Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 16 pernyataan berdasarkan indikator kecemasan berbicara dan faktor demografis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berbicara mahasiswa berada dalam kategori tinggi sebesar 76,97%, dengan faktor utama meliputi aspek linguistik, psikologis, sosial, lingkungan pembelajaran, kognitif, dan demografis. Temuan ini menegaskan bahwa kecemasan berbicara bukan hanya fenomena emosional, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika lingkungan dan karakteristik individu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih adaptif dan suportif, guna membantu mahasiswa mengatasi kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara Bahasa Korea.
Speaking anxiety is one of the main challenges in foreign language learning, including in the context of Korean language education as a foreign language in Indonesia. Students often exhibit discomfort and excessive worry when asked to speak in class, which can hinder the optimal development of their speaking skills. Although speaking anxiety has been widely studied in other foreign language learning contexts, research specifically examining the factors influencing speaking anxiety among Indonesian students learning Korean at the intermediate level remains limited. In light of this, the present study aims to analyze the level of speaking anxiety and identify the key factors that contribute to it. This research employed a descriptive quantitative approach involving 61 fourth-semester students of the Korean Language Education Program at Universitas Pendidikan Indonesia in the 2024/2025 academic year who had completed the course 말하기 쓰기 4 (Speaking and Writing 4). Data were collected through a questionnaire comprising 16 statements based on speaking anxiety indicators and demographic factors. The analysis revealed that students’ speaking anxiety was at a high level, with an overall percentage of 76.97%. The primary contributing factors include linguistic, psychological, social, classroom environment, cognitive, and demographic aspects. These findings highlight that speaking anxiety is not merely an emotional issue, but a complex phenomenon shaped by individual characteristics and learning environments. This study is expected to serve as a foundation for developing more adaptive and supportive teaching strategies that can help students manage their anxiety and build confidence in speaking Korean as a foreign language.
본 연구는 인도네시아에서 외국어로서의 한국어를 학습하는 대학생들의 말하기 불안 수준을 파악하고, 그에 영향을 미치는 주요 요인을 분석하는 것을 목적으로 한다. 이를 위해 2024/2025학년도 인도네시아교육대학교 한국어교육과 4학기 재학생 61명을 대상으로 양적 서술적 연구를 실시하였다. 연구 참여자들은 ‘말하기 쓰기 4’ 과목을 이수한 학생들로, 말하기 불안과 인구통계학적 요인에 관한 16문항의 설문지를 통해 자료를 수집하였다. 분석 결과, 전체 학생들의 말하기 불안 수준은 76.97%로 나타나 높은 수준임을 확인하였다. 말하기 불안에 영향을 주는 요인으로는 언어적 요인, 심리적 요인, 사회적 요인, 학습 환경, 인지적 요인, 그리고 인구통계학적 요인이 포함되었다. 이러한 결과는 말하기 불안이 단순한 정서적 반응이 아닌 학습자 개인의 특성과 학습 환경 간의 상호작용에서 비롯되는 복합적인 현상임을 보여준다. 본 연구는 한국어 말하기 수업에서 학습자의 정서적 부담을 고려한 교수-학습 전략 수립에 기초 자료로 활용될 수 있으며, 학생들이 말하기 불안을 극복하고 자신감을 가지고 한국어로 의사소통할 수 있도록 돕는 데에 기여할 수 있다.
Kata Kunci: Kecemasan Berbicara, Bahasa Korea, Pembelajaran Bahasa Asing, Faktor Afektif, Kuantitatif
Keywords: Speaking Anxiety, Korean Language, Foreign Language Learning, Affective Factors, Quantitative
핵심어: 말하기 불안, 한국어 교육, 외국어 학습, 정서적 요인, 양적 연
PENGARUH PEMBELAJARAN SEPAK BOLA TERHADAP PERKEMBANGAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILLS) SISWA: Studi Eksperimen pada Siswa Ekstrakurikuler Sepak Bola di SMAN 2 Brebes
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pembelajaran sepak bola terhadap perkembangan life skills siswa ekstrakurikuler sepak bola SMAN 2 Brebes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen jenis quasi-experimental dengan the matching-only pre-test post-test control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa SMAN 2 Brebes yang mengikuti ekstrakurikuler sepak bola. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 24 siswa yang terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok A (eksperimen) yang terintegrasi program life skills (n=12 orang) dan kelompok B (kontrol) yang tidak terintegrasi program life skills (n=12 orang). Kemudian instrumen yang digunakan adalah Life Skills Scale for Sport (LSSS). Analisis data untuk uji hipotesis menggunakan Paired Sample T-Test dengan bantuan Microsoft Excel 2021 dan IBM SPSS versi 30. Hasil penelitian yang sekaligus menjadi hipotesis penelitian, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada pembelajaran sepak bola yang secara sengaja diintegrasikan dengan program life skills terhadap perkembangan life skills siswa di SMAN 2 Brebes. Pernyataan itu terlihat pada nilai signifikansinya yang < 0,001 dengan perkembangan nilai rata-rata sebesar 31,333. Lalu dari sisi gain score, kelompok A mendapat perkembangan lebih tinggi sebesar 30,54% daripada kelompok B yang hanya 14,64%. Atas hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sepak bola yang secara sengaja diintegrasikan dengan program life skills memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan life skills siswa ekstrakurikuler sepak bola di SMAN 2 Brebes. Dengan demikian, H0 ditolak dan H1 diterima.
The purpose of this study was to determine the effect of football learning on the life skills development of extracurricular football students in SMAN 2 Brebes. This study used an experimental method of quasi-experimental type with the matching-only pre-test post-test control group design. The population in this study were students of SMAN 2 Brebes who participated in extracurricular football. While the sample in this study was 24 students who were divided into 2 groups, namely group A (experimental) integrated life skills programme (n = 12 people) and group B (control) which was not integrated life skills programme (n = 12 people). The instrument used was the Life Skills Scale for Sport (LSSS). Data analysis for hypothesis testing used Paired Sample T-Test with the help of Microsoft Excel 2021 and IBM SPSS version 30. The results of the study, which also serve as the research hypothesis, indicate that there is a significant effect on soccer learning that is deliberately integrated with the life skills program on the development of students' life skills at SMAN 2 Brebes. This statement is evident in the significance value of < 0.001 with an average value development of 31.333. Then in terms of gain score, group A got a higher development of 30.54% than group B which was only 14.64%. Based on these results, it can be concluded that football learning that is intentionally integrated with the life skills programme has a significant influence on the life skills development of extracurricular football students at SMAN 2 Brebes. Thus, H0 is rejected and H1 is accepted
HUBUNGAN BODY IMAGE DAN ASUPAN GIZI DENGAN KURANG ENERGI KRONIK PADA CALON PENGANTIN WANITA: Studi Penelitian di Kecamatan Cibiru Kota Bandung
Latar Belakang: Kurang Energi Kronik (KEK) merupakan masalah gizi yang sering dialami oleh wanita usia subur, termasuk calon pengantin, dan dapat berdampak pada kesehatan reproduksi serta kualitas keturunan. KEK dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan zat gizi dan persepsi negatif terhadap body image yang mendorong perilaku makan tidak sehat. Kecamatan Cibiru memiliki prevalensi gizi kurang tertinggi di antara calon pengantin di Kota Bandung. Tujuan: Menganalisis hubungan antara persepsi body image dan kecukupan asupan zat gizi (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) dengan kejadian KEK pada calon pengantin wanita. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 41 responden yang dipilih melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran LiLA, wawancara food recall 2 x 24 jam, dan kuesioner MBSRQ-AS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson dan Spearman. Hasil Penelitian: Sebanyak 29,3% responden tidak mengalami KEK, dan lebih dari separuh memiliki body image yang positif. Namun, sebagian besar responden belum mencapai kecukupan energi maupun zat gizi makro. Hanya kecukupan lemak yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian KEK pada calon pengantin wanita (p = 0,029; r = 0,341. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif yang lemah antara kecukupan lemak dan kejadian KEK pada calon pengantin wanita. Sementara itu, persepsi body image serta kecukupan energi, protein, dan karbohidrat tidak menunjukkan hubungan yang signifikan
Kata kunci: kurang energi kronik, body image, asupan gizi, calon pengantin wanita, wanita usia subur
Background: Chronic Energy Deficiency (CED) is a nutritional problem commonly experienced by women of reproductive age, including brides-to-be, and can impact reproductive health and offspring quality. CED can be caused by an imbalance in nutrient intake and negative perceptions of body image, which encourage unhealthy eating behaviors. Cibiru Subdistrict has the highest prevalence of malnutrition among brides-to-be in Bandung City. Purpose: To analyze the relationship between body image perception and adequate nutrient intake (energy, protein, fat, and carbohydrates) with the occurrence of CED among female brides-to-be. Methods: This study used a cross-sectional design with 41 respondents selected through consecutive sampling. Data were collected through MUAC measurements, 2 x 24-hour food recall interviews, and the MBSRQ-AS questionnaire. Analysis was performed using univariate and bivariate methods with Pearson and Spearman tests. Results: 29.3% of respondents did not experience CED, and more than half had a positive body image. However, most respondents had not achieved adequate energy or macronutrient intake. Only fat sufficiency showed a significant association with the occurrence of CED in female brides-to-be (p = 0.029; r = 0,341). Conclusion: There is a weak positive association between fat sufficiency and the occurrence of CED in female brides-to-be. Meanwhile, body image perception, as well as energy, protein, and carbohydrate sufficiency, did not show significant associations.
Keywords: chronic energy deficiency, body image, nutritional intake, brides-to-be, women of reproductive ag
HYGIENE SANITASI PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH DENGAN KEJADIAN KERACUNAN MAKANAN : Studi Kasus di SDN 1 Cimerang Kabupaten Bandung Barat Tahun 2025
Latar Belakang: Keracunan makanan masih menjadi masalah kesehatan Masyarakat, terutama pada anak usia sekolah dasar. Rendahnya pemahaman siswa dan pedagang tentang hygiene dan sanitasi membuat jajanan sekolah berisiko. Kasus keracunan di SDN 1 Cimerang menegaskan pentingnya dilakukan penelitian, karena belum pernah ada studi yang secara khusus menggali praktik dan pemahaman terkait hygiene dan sanitasi di sekolah tersebut. Tujuan: Memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai praktik hygiene dan sanitasi pangan jajanan anak sekolah serta persepsi, pengalaman, dan tanggapan para pedagang, siswa, dan pihak sekolah terhadap faktor-faktor yang berkontribusi pada kejadian keracunan makanan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian sebanyak 14 orang yang terdiri dari siswa, pedagang jajanan, dan kepala sekolah yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa lembar cheklist observasi dan panduan wawancara. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis tematik menggunakan software NVivo 12 secara induktif yaitu berdasarkan temuan dalam data melalui project map, matrix coding dan word frequency. Hasil: Siswa masih sering makan tanpa mencuci tangan dan cenderung membeli jajanan di luar sekolah. Pedagang juga belum sepenuhnya menerapkan hygiene yang baik, seperti tidak menggunakan celemek, merokok saat berjualan, serta kurang memperhatikan kebersihan tangan, kuku, dan peralatan. Minimnya perhatian terhadap label, izin edar, dan sertifikasi BPOM. Makanan disimpan dan disajikan terbuka, sementara pengelolaan sampah tidak memenuhi standar. Upaya pengawasan dari sekolah sudah dilakukan, namun belum berjalan optimal karena lemahnya regulasi dan koordinasi lintas sektor. Kesimpulan: Personal hygiene siswa, kebersihan pedagang makanan, dan kebijakan sekolah di SDN 1 Cimerang masih belum optimal, yang berpotensi meningkatkan risiko keracunan makanan.
Kata kunci: Hygiene Sanitasi, Keracunan makanan, Pedagang Jajanan, Personal hygiene
Background: Food poisoning is still a public health problem, especially in elementary school-aged children. Students' and traders' lack of understanding about hygiene and sanitation makes school snacks risky. The case of poisoning at SDN 1 Cimerang emphasizes the importance of conducting research, as there has never been a study that specifically explores practices and understanding related to hygiene and sanitation at the school. Objective: To gain an in-depth understanding of the hygiene and sanitation practices of school snacks as well as the perceptions, experiences, and responses of vendors, students, and school officials to factors contributing to the incidence of food poisoning. Methods: This study is a qualitative research with case study method. The study subjects were 14 people consisting of students, snack traders, and school principals who were selected by purposive sampling. The instruments used were observation checklist sheet and interview guide. Data analysis was carried out using a thematic analysis approach using NVivo 12 software inductively, based on findings in the data through project map, matrix coding, and word frequency. Results: Students still often eat without washing their hands and tend to buy snacks outside the school. Vendors have also not fully implemented good hygiene, such as not using aprons, smoking while selling, and not paying attention to the cleanliness of hands, nails, and equipment. Lack of attention to labeling, distribution permits, and BPOM certification. Food is stored and served openly, while waste management does not meet standards. Supervision efforts from schools have been made, but have not run optimally due to weak regulations and cross-sector coordination. Conclusion: Students' personal hygiene, food vendors' hygiene, and school policies at SDN 1 Cimerang are not optimal, potentially increasing the risk of food poisoning.
Keywords: Sanitation Hygiene, Food poisoning, Street Food Vendors, Personal hygien