91757 research outputs found
Sort by
PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS DI SD: Penelitian Quasi Eksperimen siswa kelas IV di Salah Satu Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Purwakarta
Keterampilan komunikasi merupakan komponen penting dalam pembelajaran IPS di SD. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi siswa masih terbilang rendah. Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebabnya ialah kurang tepatnya pemilihan model pembelajaran dalam mendukung peningkatan keterampilan komunikasi siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Giving Question and Getting Answer terhadap peningkatan keterampilan komunikasi siswa dalam pembelajaran IPS di SD. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain kuasi eksperimen dengan tipe non-equivalent control group. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas, yaitu IVC dan IVB, di salah satu SD yang berada di Kabupaten Purwakarta yang berjumlah 25 siswa pada masing-masing kelas. Kelas IVC berperan sebagai kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Giving Question and Getting Answer, sementara IVB sebagai kelompok kontrol menggunakan model kooperatif tipe Jigsaw. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes (pre-test dan post-test) serta teknik nontes (observasi). Hasil analisis data menunjukan adanya pengaruh signifikan model kooperatif tipe Giving Question and Getting Answer terhadap peningkatan keterampilan komunikasi siswa sekolah dasar dibandingkan dengan model Jigsaw. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar model ini digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran IPS berfungsi mewujudkan suasana belajar yang interaktif, partisipatif, serta mendukung peningkatan keterampilan komunikasi siswa.
-----
Communication skills are an important component in social studies learning in elementary schools. However, the reality shows that students' communication skills are still relatively low. One of the factors suspected to be the cause is the inappropriate selection of learning models to support the improvement of students' communication skills. The purpose of this study was to examine the effect of the Giving Question and Getting Answer type of cooperative learning model on improving students' communication skills in social studies learning in elementary schools. The study was conducted with a quantitative approach using a quasi-experimental design with a non-equivalent control group type. The research sample consisted of two classes, namely IVC and IVB, in one of the elementary schools in Purwakarta Regency, totaling 25 students in each class. The IVC class acts as an experimental group using the Giving Question and Getting Answer cooperative learning model, while IVB as a control group uses the Jigsaw cooperative model. Data collection techniques are carried out through tests (pre-test and post-test) and non-test techniques (observation). The results of data analysis show a significant influence of the Giving Question and Getting Answer cooperative model on improving elementary school students' communication skills compared to the Jigsaw model. Based on the results of the study, it is recommended that this model be used as an alternative in social studies learning to create an interactive, participatory learning atmosphere, and support the improvement of students' communication skills
PENGARUH METODE SET TERHADAP PENINGKATAN POWER TUNGKAI DAN DUKUNGAN TERHADAP KELINCAHAN PADA ATLET
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh metode latihan set terhadap peningkatan kekuatan
otot tungkai dan kelincahan pada atlet futsal mahasiswa Ilmu Keolahragaan Universitas Pendidikan
Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-experiment dengan desain one group pre
test and post-test. Sampel penelitian terdiri dari 16 mahasiswa Ilmu Keolahragaan yang secara acak
dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen diberikan program latihan set
selama 4 minggu, sedangkan kelompok kontrol tidak. Data dikumpulkan melalui tes 3 Hop Test dan
Illinois Agility Test sebelum dan sesudah perlakuan. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji
paired sample t-test didapatkan nilai sig. 3 hop test sebesar 0,001 < 0,05 dan nilai sig. Ilinois agility
test sebesar 0,000 < 0,05. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa metode latihan set memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kekuatan otot tungkai dan kelincahan. Dengan
demikian, metode latihan set merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan performa fisik atlet
futsal, khususnya dalam hal kekuatan otot tungkai dan kelincahan.
This study aims to examine the effect of the set training method on increasing leg muscle strength and
agility in futsal athletes, Sports Science students at the Indonesian University of Education. The
research method used was quasi-experiment with a one group pre-test and post-test design. The
research sample consisted of 16 Sports Science students who were randomly divided into experimental
and control groups. The experimental group was given a set training program for 4 weeks, while the
control group was not. Data was collected through the 3 Hop Test and Illinois Agility Test before and
after treatment. Based on the results of data analysis using the paired sample t-test, the sig value was
obtained. 3 hop test of 0.001 < 0.05 and sig value. Illinois agility test is 0.000 < 0.05. So, it can be
concluded that the set training method has a significant influence on increasing leg muscle strength and
agility. Thus, the set training method is an effective intervention to improve the physical performance of
futsal athletes, especially in terms of leg muscle strength and agility
Study Habits of Student Athletes at the Faculty of Sports Education and Health, Indonesian University of Education
This article aims to explore the learning habits of student athletes at the Faculty of Sports Education and Health, Universitas Pendidikan Indonesia. Student athletes are faced with challenges in managing time between academic and sports activities, which requires effective and efficient learning strategies. This study identifies learning styles, GPA, learning habits, sports achievements, and the time span to prepare for championships and exams. The sample involved in this study were active students of the Faculty of Sports Education and Health who had participated in official matches at least at the provincial level, as many as 90 people. Based on the results of the analysis, most students at the Faculty of Sports Education and Health have quite high academic accountability and need to be improved
NILAI ESTETIS-PEDAGOGIS LAGU ANAK KARYA MANG KOKO
Tujuan utama penelitian ini adalah menyingkap nilai estetis-pedagogis lagu anak kelompok Bincarung dan Cangkurileung karya Mang Koko. Mang Koko (Koko Koswara) adalah salah seorang maestro pembaharu karawitan Sunda, yang banyak menghasilkan karya lagu. Di antara karya Mang Koko antara lain adalah kumpulan lagu anak yang terhimpun dalam kelompok Bincarung dan Cangkukurileung. Penelitian ini berupaya untuk menyingkap nilai estetis-pedagogis yang terkandung dalam kumpulan lagu kelompok Bincarung dan Cangkurileung karya Mang Koko. Dua aspek yang menjadi indikator untuk menjawab rumusan masalah penelitian, yaitu konstruksi musikal dan pesan moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui studi literatur, studi dokumentasi, wawancara, dan refleksi. Hasil penelitian ini adalah sintesis hasil kontruksi musikal dan pesan moral yang menjadi aspek penting dalam mengungkap nilai estetis-pedagogis kelompok lagu Bincarung dan Cangkurileung karya Mang Koko. Ditemukan bahwa nilai estetis-pedagogis adalah konsep yang mengintegrasikan konstruksi musikal dan pesan moral dalam karya musik. Tampak jelas pada temuan analisis konstruksi unsur musikal dan pesan moral di setiap lagu anak. Kompleksitas konstruksi musikal pada kumpulan lagu anak tingkat Bincarung lebih sederhana dibandingkan dengan kumpulan lagu anak tingkat Cangkurileung. Lagu-lagu kelompok Bincarung memiliki struktur lagu yang terdiri dari dua bagian, yakni intro (pangkat) dan melodi lagu. Ada pula lagu yang bentuk penyajiannya seperti dialog. Pergerakan melodi yang disusun lebih banyak melangkah. Laras yang digunakan hanya dua, yaitu salendro dan pelog. Pola ritme yang disusun terdiri dari satu hingga empat pola saja. Pesan moral yang terkandung dalam lirik lagu kelompok Bincarung menggambarkan sebagai manusia perlu menjadi pribadi yang rajin, memiliki sifat empati-simpati terhadap lingkungan sosial dan alam, juga selalu bangga menjadi warga negara yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Lagu-lagu kelompok Cangkurileung memiliki struktur lagu yang mirip, yakni intro dan melodi lagu. Namun, kombinasi penyusunan bagian anggana sekar dan rampak sekar lebih tampak. Pergerakan melodi lagu-lagu kelompok Cangkurileung lebih dinamis dan sering melompat (nada kempyung). Terdapat empat laras yang digunakan, yaitu salendro, pelog, madenda 4-tugu, dan mataraman. Pola ritme dalam lagu-lagu kelompok Cangkurileung terdiri dari satu hingga lima pola kombinasi. Pesan moral yang terkandung dalam lirik lagu kelompok Cangkurileung menggambarkan sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, alam, dan sosial. Namun, pesan yang kerap hadir adalah peran kita sebagai warga negara yang baik dan bijak. Ditemukan pula wujud konsep nilai estetis-pedagogis yang berasal dari sintesis proses analisis konstruksi unsur musikal dan pesan moral dalam lirik lagu anak karya Mang Koko.
The main objective of this study is to reveal the aesthetic and pedagogical value of children's songs from the Bincarung and Cangkurileung groups composed by Mang Koko. Mang Koko (Koko Koswara) is one of the maestros of Sundanese music innovation, who has produced many songs. Among Mang Koko's works are a collection of children's songs compiled in the Bincarung and Cangkukurileung groups. This study aims to uncover the aesthetic and pedagogical values contained in the collection of songs from the Bincarung and Cangkurileung groups by Mang Koko. Two aspects serve as indicators to address the research question: musical construction and moral messages. This study employs a qualitative approach using the phenomenological method. Data was collected through literature review, document analysis, interviews, and reflection. The results of this study are a synthesis of musical construction and moral messages, which are important aspects in revealing the aesthetic-pedagogical value of the Bincarung and Cangkurileung song groups by Mang Koko. It was found that aesthetic-pedagogical value is a concept that integrates musical construction and moral messages in musical works. This is clearly evident in the analysis of musical elements and moral messages in each children's song. The complexity of musical construction in the Bincarung children's song collection is simpler than that in the Cangkurileung children's song collection. The songs in the Bincarung group have a song structure consisting of two parts, namely the intro (pangkat) and the song melody. There are also songs whose presentation is like a dialogue. The melody movement is more step-like. Only two scales are used, namely salendro and pelog. The rhythm patterns consist of only one to four patterns. The moral messages contained in the lyrics of the Bincarung group songs describe how humans need to be diligent, have empathy and sympathy for their social environment and nature, and always be proud to be citizens of a country with extraordinary natural wealth. The songs of the Cangkurileung group have a similar song structure, namely an intro and melody. However, the combination of the anggana sekar and rampak sekar sections is more prominent. The melody movement of the Cangkurileung group's songs is more dynamic and often jumps (kempyung notes). There are four scales used, namely salendro, pelog, madenda 4-tugu, and mataraman. The rhythm patterns in the songs of the Cangkurileung group consist of one to five combinations. The moral message contained in the lyrics of the Cangkurileung group's songs depicts humans as responsible for themselves, nature, and society. However, the message that often appears is our role as good and wise citizens. There is also an aesthetic- pedagogical value concept that comes from the synthesis of the analysis process of the construction of musical elements and moral messages in the children's songs by Mang Koko
FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BUAHDUA
Kejadian ISPA pada balita merupakan masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan di negara berkembang, termasuk Indonesia. ISPA pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik individu, kondisi lingkungan tempat tinggal, pola gaya hidup keluarga, akses pelayanan kesehatan, serta faktor genetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Buahdua, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 78 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan kejadian ISPA adalah jenis kelamin, usia balita, asap rokok, Pendidikan ibu, genetik, polusi udara, menggendong anak saat memasak, ai ekslusif, malnutrisi, sirkulasi udara, sosial ekonomi, kepadatan hunian, status imunisasi, dan bahan bakar untuk memasak. Temuan ini mengindikasikan bahwa kejadian ISPA dapat dicegah melalui perbaikan lingkungan rumah, peningkatan cakupan imunisasi, serta edukasi mengenai pola asuh dan gaya hidup sehat. Oleh karena itu, upaya pencegahan ISPA pada balita perlu melibatkan peran aktif keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat secara luas dalam menciptakan lingkungan sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Pada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain analitik seperti studi case control atau cohort agar hubungan kausal antar variabel dapat dianalisis lebih mendalam.
The incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) in toddlers remains a significant public health challenge in developing countries, including Indonesia. ARI in toddlers is influenced by various factors such as individual characteristics, home environmental conditions, family lifestyle patterns, access to healthcare services, and genetic predispositions. This study aims to analyze the risk factors associated with ARI in toddlers in the working area of Buahdua Community Health Center, Sumedang Regency. This research employed a quantitative approach and involved 78 respondents selected using simple random sampling. Data were collected using a validated and reliable questionnaire and were analyzed univariately to determine the frequency distribution and percentage of each risk factor. The results showed that the most dominant risk factors associated with ARI incidence were gender, toddler age, exposure to cigarette smoke, maternal education, genetics, air pollution, carrying children while cooking, exclusive breastfeeding, malnutrition, air circulation, socioeconomic status, household density, immunization status, and cooking fuel. These findings indicate that ARI incidence can be prevented through home environmental improvements, increased immunization coverage, and education regarding parenting and healthy lifestyle practices. Therefore, ARI prevention efforts in toddlers require the active involvement of families, healthcare workers, and the broader community in creating a healthy environment that supports optimal child development. Future researchers are advised to use analytical study designs such as case-control or cohort studies to explore causal relationships between variables more comprehensively
IMPLEMENTASI PEMILIHAN PORTOFOLIO OPTIMAL MENGGUNAKAN METODE KLASTERISASI K-MEANS DAN MEAN VARIANCE EFFICIENT PORTOFOLIO (MVEP): studi kasus indeks saham LQ45
Investasi saham merupakan penanaman modal di pasar modal dengan tujuan memperoleh keuntungan, namun disertai risiko yang perlu dikelola. Salah satu strategi untuk meminimalkan risiko adalah membentuk portofolio, yaitu kombinasi saham yang dipilih secara strategis guna memaksimalkan imbal hasil pada tingkat risiko tertentu. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, diversifikasi risiko dalam pemilihan portofolio optimal menjadi sangat penting. Penelitian ini menerapkan metode klasterisasi hibrida dan Mean Variance Efficient Portofolio (MVEP) untuk membentuk dan mengoptimalkan portofolio yang efisien. Sebanyak 36 saham dari Indeks LQ45 periode Januari 2023 hingga Desember 2024 dikelompokkan berdasarkan karakteristik historis imbal hasil dan risiko menggunakan algoritma Centroid Linkage dan K-Means Clustering. Selanjutnya, dibentuk kombinasi portofolio beda klaster, sama klaster, dan tanpa klasterisasi, yang kemudian dioptimalkan menggunakan MVEP dengan kendala larangan short-selling (w_i>0) dan total bobot portofolio sama dengan satu. Evaluasi kinerja menggunakan sharpe ratio menunjukkan bahwa portofolio dari klaster yang sama memiliki kinerja terbaik dengan nilai sharpe ratio tertinggi sebesar 0,9034. Sementara itu, portofolio dari klaster sama menunjukkan efektivitas diversifikasi lebih baik dengan rata-rata korelasi antar saham terendah sebesar 0,0024. Portofolio tanpa klasterisasi menunjukkan performa terendah dengan nilai sharpe ratio sebesar −0,5312. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan klasterisasi meningkatkan efektivitas optimisasi portofolio menggunakan MVEP, serta memperkuat pentingnya diversifikasi berdasarkan karakteristik saham.
Stock investment is a form of capital placement in the capital market with the aim of generating future returns, but it also involves risks that must be managed. One strategy to minimize risk is by constructing a portfolio, which is a strategic combination of selected stocks aimed at maximizing returns at a certain level of risk. In a volatile market environment, risk diversification in the selection of an optimal portfolio becomes essential. This study applies a hybrid clustering method and the Mean Variance Efficient Portfolio (MVEP) approach to construct and optimize an efficient portfolio. A total of 36 stocks from the LQ45 Index for the period January 2023 to December 2024 were grouped based on historical return and risk characteristics using the Centroid Linkage and K-Means Clustering algorithms. Subsequently, portfolio combinations were formed across clusters, within clusters, and without clustering, and then optimized using MVEP under the constraints of no short-selling (w_i>0) and the total portfolio weight equal to one. Performance evaluation using the Sharpe Ratio shows that the portfolio formed within the same cluster achieved the best performance, with the highest Sharpe Ratio of 0,9034. Meanwhile, the cross-cluster portfolio demonstrated better diversification effectiveness with the lowest average inter-stock correlation of 0,0024. The non-clustered portfolio showed the weakest performance with a Sharpe Ratio of −0,5312. These findings indicate that the application of clustering enhances the effectiveness of portfolio optimization using MVEP and reinforces the importance of diversification based on stock characteristics
PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IPAS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR: Penelitian Tindakan Kelas pada Mata Pelajaran IPS Kelas VB di SDN 1 Munjuljaya Kabupaten Purwakarta Tuhan Ajaran 2024/2025
Dalam pelajaran IPS, penting bagi siswa untuk menguasai pemahaman tentang konsep karena ini dapat membantu dalam memahami isu-isu sosial. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa kelas VB masih cukup rendah. Model pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas VB dalam pelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilakukan di kelas VB SDN 1 Munjuljaya, Kabupaten Purwakarta pada Tahun Ajaran 2024/2025. Penelitian sesuai dengan tahap PTK menurut Kemmis dan McTaggart terdapat 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui tes untuk mengukur pemahaman konsep serta observasi terhadap aktivitas siswa selama belajar. Untuk mengevaluasi peningkatan aktivitas siswa dilakukan observasi dan untuk melihat hasil belajar pemahaman konsep diberikan tes evaluasi di akhir pembelajaran. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep setelah penerapan model Project Based Learning rata-rata nilai siswa pada siklus I adalah 69,52% dengan kelulusan klasikal mencapai 56%, kemudian meningkat menjadi 80,01% pada siklus II dengan ketuntasan kelas sebesar 88%. Peningkatan juga terlihat pada semua indikator pemahaman konsep berdasarkan Taksonomi Bloom versi Krathwohl pada aspek kognitif dari level C1 hingga C6. Temuan ini membuktikan bahwa penerapan model Project Based Learning efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep IPS serta membantu siswa mengembangkan kemampuan untuk berkolaborasi, berkomunikasi, dan berpikir kritis.
-----
In social studies, it is important for students to master the understanding of concepts because it can help in understanding social issues. However, conditions in the field show that the conceptual understanding of class VB students is still quite low. The project based learning model or Project Based Learning can be used to improve the conceptual understanding of class VB students in Natural and IPS lessons. This study uses the Classroom Action Research (CAR) method and was conducted in class VB SDN 1 Munjuljaya, Purwakarta Regency in the 2024/2025 Academic Year. Research in accordance with the PTK stages according to Kemmis and McTaggart has 4 stages, namely planning, implementation, observation, and reflection. Data collection is carried out through tests to measure conceptual understanding and observation of student activities during learning. To evaluate the increase in student activity, observations were conducted and to see the learning outcomes of conceptual understanding, an evaluation test was given at the end of the learning process. The results of the study showed an increase in conceptual understanding after the implementation of the Project Based Learning model, the average student score in cycle I was 69.52% with classical graduation reaching 56%, then increasing to 80.01% in cycle II with class completion of 88%. The increase was also seen in all indicators of conceptual understanding based on Krathwohl version of Bloom Taxonomy in the cognitive aspect from level C1 to C6. These findings prove that the implementation of the Project Based Learning model is effective in improving the understanding of social studies concepts and helping students develop their ability to collaborate, communicate, and critical thinking
PENGARUH MOTIVASI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DIVISI KITCHEN DI EXQUISE PATISSERIE
ABSTRAK
PENGARUH MOTIVASI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DIVISI KITCHEN DI EXQUISE PATISSERIE
Pengaruh Motivasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Exquise Patisserie. Idealnya pemberian motivasi dengan tepat akan dapat menimbulkan semangat, gairah dan keikhlasan kerja dalam diri seseorang. Sehingga kinerja yang ditimbulkan dapat maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah produktivitas kinerja karyawan dari faktor lingkungan kerja dan pemberian motivasi yang minim.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan divisi Kitchen di Exquise Patisserie. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif secara kuantitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, dan wawancara, serta dianalisis menggunakan SPSS.
Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukkan bahwa antara motivasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan divisi kitchen Exquise Patisserie memiliki pengaruh yang positif dan signifikan, berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y= 8,747 + 0,300X1 + 0,133X2 + E, a = 8,747 menunjukkan bahwa jika X (motivasi dan lingkungan kerja karyawan) nilainya adalah 0, maka kinerja karyawan nilainya adalah 8,747. b1 = 0,300 bahwa setiap penambahan variasi pada lingkungan kerja sebesar 1% maka akan mendorong dan mempengaruhi kinerja karyawan sebesar 0,300 dengan asumsi varibel yang lain tetap. b2 = 0,133 menunjukkan bahwa setiap penambahan variasi pada motivasi kerja karyawan sebesar 1% maka akan mendorong dan mempengaruhi kinerja karyawan sebesar 0,133 dengan asumsi varaibel yang lain tetap.
Kata Kunci : Motivasi, Lingkungan Kerja, dan Kinerja Karyawan
ABSTRACT
THE EFFECT OF MOTIVATION AND WORK ENVIRONMENT ON EMPLOYEE PERFORMANCE IN THE KITCHEN DIVISION AT EXQUISE PATISSERIE
The influence of motivation and work environment on employee performance at Exquise Patisserie shows that proper motivation can generate enthusiasm, passion, and sincerity in work, which leads to optimal performance. The research findings reveal that low employee productivity is caused by a lack of motivation and an inadequate work environment.
This study aims to determine the effect of motivation and work environment on the performance of employees in the kitchen division at Exquise Patisserie. The research uses a descriptive and verificative quantitative method, with data collected through observation, questionnaires, and interviews, and analyzed using SPSS. The results show that motivation and work environment have a positive and significant effect on employee performance. Based on the multiple linear regression analysis, the equation Y = 8.747 + 0.300X1 + 0.133X2 + E indicates that if motivation and work environment are zero, employee performance is 8.747. An increase of 1 percent in the work environment improves performance by 0.300, and a 1 percent increase in motivation improves performance by 0.133, assuming other variables remain constant.
Keyword : Motivation, Work Environment And Employee Performance
PENGEMBANGAN MEDIA GAME CARD "ASSERTIVE HEROES" UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ASERTIF DALAM MENCEGAH PERUNDUNGAN SISWA FASE B SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya penggunaan media pembelajaran
yang mampu menstimulasi kemampuan asertif siswa, khususnya dalam
menghadapi situasi seperti perundungan. Siswa cenderung pasif, kurang mampu
menyampaikan pendapat secara tegas, serta belum memahami pentingnya
menghormati hak diri dan orang lain. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini
memiliki tujuan untuk mengembangkan media pembelajaran Game Card Assertive
Heroes pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan materi hak
dan kewajiban. Metode penelitian yang digunakan adalah Design and Development
(D&D) dengan model pengembangan ADDIE (analyze, design, development,
implementation, and evaluation). Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes.
Skala yang digunakan oleh peneliti untuk penilaian angket mengggunakan skala
likert yang terdiri dari 5 kategori yaitu, sangat layak, layak, cukup layak, kurang
layak, dan tidak layak. Hasil penilaian ahli validasi menyatakan bahwa media
pembelajaran Game Card Assertive Heroes berada pada kategori sangat layak.
Validator I menyatakan bahwa pengembangan media pembelajaran Game Card
Assertive Heroes berada pada kategori sangat layak dengan beberapa perbaikan
yang harus dilakukan, validator kedua termasuk dalam kategori sangat layak
dengan beberapa perbaikan yang harus dilakukan, dan validator ketiga termasuk ke
dalama kategori sangat layak. Selain itu, melalui kegiatan pre-test dan post-test
diperoleh data adanya peningkatan rat-rata dari yang sebelumnya 65 menjadi 91,1.
Data tersebut juga didukung dengan hasil N-Gain 0,75 yang termasuk kategori
peningkatan tinggi, artinya media pembelajaran Game Card Assertive Heroes
cukup efektif digunakan untuk emningkatkan kemampuan asertif khususnya dalam
mecegah perundungan di sekolah dasar.
This research is motivated by the limited use of learning media that is able to
stimulate students' assertive abilities, especially in dealing with situations such as
harassment. Students tend to be passive, less able to express their opinions firmly,
and do not understand the importance of respecting the rights of themselves and
others. Based on this, this research has the aim to develop the learning media of the
Game Card Assertive Heroes in Pancasila Education Subjects and Citizenship
Material Rights and Obligations. The research method used is Design and
Development (D&D) with the ADDIE development model (Analyze, Design,
Development, Implementation, and Evaluation). The research instrument used was
a test. The scale used by researchers for questionnaire assessment uses a Likert
scale consisting of 5 categories, namely, very feasible, feasible, quite feasible, less
feasible, and inappropriate. The results of the validation expert assessment state
that the learning media of the game Card Assertive Heroes is in a very decent
category. Validator I states that the development of game card assertive heroes
learning media is in a very feasible category with some improvements that must be
made, the second validator is included in the very feasible category with some
improvements that must be made, and the third validator is included in the very
feasible category. In addition, through pre-test and post-test activities obtained data
on an average increase from previous 65 to 91.1. The data is also supported by the
result of N-Gain 0.75 which is included in the category of high increase, meaning
that the learning media of game card assertive heroes is quite effective in increasing
assertive capabilities, especially in preventing harassment in elementary schools
IMPLEMENTASI SISTEM PRESENSI SISWA DAN GURU BERBASIS WEB DENGAN INTEGRASI QR CODE MENGGUNAKAN PENDEKATAN RAD
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan sistem presensi siswa dan guru berbasis
web dengan integrasi QR Code di SMK Muhammadiyah Campaka, Purwakarta. Saat ini, sekolah
tersebut masih menggunakan sistem absensi manual yang terbukti kurang efisien, memakan waktu,
rentan terhadap kesalahan manusia, dan sulit untuk dipantau secara real-time. Sistem yang diusulkan
diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini dengan meningkatkan efisiensi pengelolaan dan
monitoring data kehadiran siswa. Pendekatan Rapid Application Development (RAD) digunakan dalam
pengembangan sistem ini, yang memungkinkan proses pengembangan yang lebih cepat dan fleksibel.
QR Code dipilih sebagai metode absensi karena dapat mempercepat pencatatan kehadiran dan
mengurangi kesalahan input data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem baru ini berhasil
mengurangi waktu pencatatan presensi hingga 50%, dari rata-rata 10 menit menjadi hanya 5 menit per
kelas. Selain itu, tingkat kesalahan pencatatan berkurang lebih dari 70%, dari sebelumnya 36% menjadi
hanya 9% setelah sistem diterapkan. Sistem ini juga memungkinkan laporan kehadiran yang dapat
diakses secara real-time, mendukung peningkatan efisiensi di lingkungan sekolah. Dengan implementasi
sistem ini, diharapkan proses absensi menjadi lebih cepat, akurat, dan mudah dipantau, yang pada
gilirannya dapat meningkatkan kualitas manajemen pendidikan di SMK Muhammadiyah Campaka.
-----
This study aims to implement a web-based student and teacher attendance system with QR Code integration at SMK Muhammadiyah Campaka, Purwakarta. Currently, the school still uses a manual attendance system that is proven to be inefficient, time-consuming, prone to human error, and difficult to monitor in real time. The proposed system is expected to overcome these problems by increasing the efficiency of managing and monitoring student attendance data. The Rapid Application Development (RAD) approach is used in developing this system, which allows for a faster and more flexible development process. QR Code was chosen as the attendance method because it can speed up attendance recording and reduce data input errors. The results showed that the new system succeeded in reducing attendance recording time by 50%, from an average of 10 minutes to only 5 minutes per class. In addition, the recording error rate was reduced by more than 70%, from the previous 36% to only 9% after the system was implemented. This system also allows attendance reports that can be accessed in real time, supporting increased efficiency in the school environment. With the implementation of this system, it is hoped that the attendance process will be faster, more accurate, and easier to monitor, which in turn can improve the quality of education management at SMK Muhammadiyah Campaka