91757 research outputs found
Sort by
PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KESADARAN LINGKUNGAN SISWA SD KELAS V PADA MATERI PERUBAHAN KONDISI ALAM
Permasalahan yang dihadapi dan sering diperbincangkan yaitu lingkungan sekitar rusak karena aktivitas manusia. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran lingkungan dari setiap individu manusia, kurang pengetahuannya bahwa lingkungan rusak karena aktivitas manusia terutama siswa sekolah dasar. Permasalahan ini banyak siswa sekolah dasar yang kurang peduli terhadap lingkungan banyak sekali siswa yang masih mencoret-coret meja, kursi dan fasilitas lain di lingkungan sekolah. Padahal kesadaran lingkungan merupakan salah satu hal penting yang harus diajarkan sejak dini, karena pentingnya kesadaran lingkungan di kalangan muda terutama siswa sekolah dasar upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kesadaran lingkungan siswa SD kelas V pada materi perubahan kondisi alam. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group. Sampel penelitian yang digunakan melibatkan siswa kelas V A sebanyak 30 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas V B sebanyak 27 siswa sebagai kelas kontrol di SDN Pakuwon I kecamatan Sumedang Selatan, Kab. Sumedang. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui angket yang dirancang untuk mengukur tingkat kesadaran lingkungan siswa sebelum dan sesudah pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji hipotesis untuk membandingkan perbedaan skor kesadaran lingkungan antara kedua kelompok. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai p (sig 0,00 < 0,05) yang berarti bahwa pembelajaran berbasis masalah berpengaruh positif terhadap kesadaran lingkungan siswa. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kesadaran lingkungan siswa SD kelas V, sehingga mereka lebih peka terhadap perubahan kondisi alam di sekitar mereka.
The problem faced and often discussed is the surrounding environment being damaged by human activities. This is caused by the lack of environmental awareness of each individual, the lack of knowledge that the environment is damaged by human activities, especially elementary school students. This problem is that many elementary school students are less concerned about the environment, many students still scribble on tables, chairs and other facilities in the school environment. In fact, environmental awareness is one of the important things that must be taught from an early age, because of the importance of environmental awareness among young people, especially elementary school students, in an effort to create a better environment in the future. This study aims to examine the effect of problem-based learning on environmental awareness of fifth-grade elementary school students on the material of changes in natural conditions. This study used a quasi-experimental method with a non-equivalent control group design. The research sample used involved 30 students of class V A as the experimental class and 27 students of class V B as the control class at SDN Pakuwon I, South Sumedang District, Sumedang Regency. Data collection used in this study was through a questionnaire designed to measure the level of environmental awareness of students before and after learning. Data analysis was conducted using a hypothesis test to compare differences in environmental awareness scores between the two groups. The results of this study indicate a p-value (sig 0.00 < 0.05), indicating that problem-based learning has a positive effect on students' environmental awareness. The implications of this study indicate that the implementation of problem-based learning can increase the environmental awareness of fifth-grade elementary school students, making them more sensitive to changes in the natural conditions around them
IDENTIFIKASI TANTANGAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI KELAS V SDN 036 UJUNG BERUNG: Analisis Penelitian Studi kasus
Perubahan peraturan yang memasukan Bahasa Inggris kembali kedalam kurikulum sebagai mata pelajaran pilihan memaksa beberapa sekolah untuk menyerahkan tugas pengajaran kepada guru kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan guru dalam pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas V SDN 036 Ujung Berung, dengan fokus pada kesiapan guru, peserta didik, serta ketersediaan materi dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui angket, observasi pembelajaran, wawancara mendalam dengan lima orang guru yang berasal dari SDN 036 Ujung Berung, serta analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Bahasa Inggris telah dimasukkan sebagai muatan lokal dalam Kurikulum Merdeka, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kompetensi guru, kurangnya pelatihan profesional yang berkelanjutan, serta minimnya sarana pembelajaran. Selain itu, tidak adanya kebijakan yang secara eksplisit mewajibkan penempatan guru Bahasa Inggris di sekolah dasar menyebabkan pembelajaran masih banyak dilakukan oleh guru kelas tanpa latar belakang keahlian yang sesuai. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat, pengembangan profesional yang sistematis bagi guru, serta penyediaan materi ajar yang kontekstual untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini.
-----------
A regulatory change that reintroduced English into the curriculum as an elective subject forced some schools to hand over teaching duties to classroom teachers. This study aims to identify the challenges faced by teachers in teaching English in Grade V SDN )36 Ujung Berung, with a focus on teacher readiness, student preparedness, and the availability of materials and methods used in the learning process. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through questionnaires, classroom observations, in-depth interviews with five teachers from SDN 036 Ujung berung, and document analysis. The findings indicate that although English has been included as a local content subject in the Merdeka Curriculum, its implementation still encounters various challenges, such as limited teacher competence, lack of continuous professional training, and insufficient learning facilities. In addition, the absence of explicit policies requiring the placement of English teachers in elementary schools has led to English being taught by homeroom teachers without appropriate qualifications. Therefore, stronger policy support, systematic professional development for teachers, and the provision of contextual teaching materials are needed to improve the quality of English education from an early age
PENERAPAN PEMBELAJARAN DIFERENSIASI MELALUI PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI NUMERASI SISWA SD PADA MATERI PENYAJIAN DATA
Peningkatan mutu pendidikan nasional menuntut adanya penguatan literasi dasar,
salah satunya literasi numerasi. Namun, siswa masih kerap mengalami kesulitan
dalam memahami materi dan menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram,
yang berdampak pada rendahnya kemampuan literasi numerasi mereka pada materi
penyajian data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas belajar siswa,
peningkatan kemampuan literasi numerasi, dan perbedaan kemampuan literasi
numerasi antarkelompok kesiapan belajar setelah diterapkannya pembelajaran
diferensiasi melalui PBL pada materi penyajian data. Penelitian menggunakan
metode campuran dengan desain concurrent embedded dan melibatkan siswa kelas
V pada salah satu SD Negeri di Kabupaten Sumedang. Data diperoleh melalui tes,
observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dan
kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar selama penerapan
pembelajaran diferensiasi melalui PBL mampu mengakomodasi kebutuhan belajar
siswa yang beragam serta mendorong keterlibatan siswa dalam memahami dan
menyelesaikan permasalahan terkait materi penyajian data. Hasil uji paired sample
t-test menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai signifikansi 0,000 dan rata
rata nilai meningkat dari 41,54 (pretest) menjadi 76,12 (posttest). Selain itu,
terdapat perbedaan kemampuan literasi numerasi yang signifikan antarkelompok
kesiapan belajar berdasarkan hasil uji One Way ANOVA dengan signifikansi 0,000.
Uji lanjut Post Hoc Scheffe menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok
sangat mahir dan perlu bimbingan, serta antara kelompok mahir dan perlu
bimbingan. Dengan demikian, penerapan pembelajaran diferensiasi melalui PBL
dapat meningkatkan kemampuan literasi numerasi siswa SD pada materi penyajian
data.
------------------------------------------
Improving the quality of national education requires the strengthening of basic
literacy, one of which is numeracy literacy. However, students often experienced
difficulties in understanding the material and presenting data in the form of tables
and diagrams, which resulted in their low numeracy literacy skills in data
presentation. This study aims to examine students’ learning activities, the
improvement of numeracy literacy skills, and differences in numeracy literacy
performance among groups of learning readiness following the implementation of
differentiated instruction through Problem-Based Learning (PBL) on data
presentation material. This study employed a mixed-method approach with a
concurrent embedded design, involving fifth-grade students at an elementary school
in Sumedang Regency. Data were collected through tests, observations, interviews,
and documentation, and analyzed using both descriptive and quantitative methods.
The results indicated that that the learning activities implemented through
differentiated instruction using PBL effectively accommodated the varied learning
needs of students and promoted their engagement in comprehending and solving
problems related to data presentation. The paired sample t-test showed a significant
improvement, with a significance value of 0.000 and an increase in the average
score from 41.54 (pretest) to 76.12 (posttest). Furthermore, the One-Way ANOVA
test revealed significant differences in numeracy literacy abilities among the
learning readiness groups, with a significance value of 0.000. The Post Hoc Scheffe
test indicated significant differences between the highly proficient group and the
group requiring guidance, as well as between the proficient group and the group
requiring guidance. Thus, the implementation of differentiated instruction through
PBL successfully improved elementary students’ numeracy literacy skills in data
presentation material
EFEKTIVITAS MODEL QUANTUM LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP IPA MATERI SIFAT-SIFAT WUJUD ZAT DI KELAS IV MADRASAH IBTIDAIYAH
Rendahnya pemahaman konsep peserta didik khususnya dalam pembelajaran IPA di jenjang SD/MI masih perlu adanya perhatian yang sungguh-sungguh, karena akan menjadi tonggak pemahaman konsep-konsep IPA pada jenjang selanjutnya. Penelitian ini menawarkan alternatif solusi menggunakan model Quantum Learning pada pembelajaran, yang mana model ini dirancang agar peserta didik cenderung lebih aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian pre-experimental design bentuk desain one group pretest posttest yang dilaksanakan di salah satu MI X Kabupaten Garut dengan melibatkan 37 peserta didik kelas IV, yang mana kelas IV-A sebanyak 19 orang mengikuti tes untuk menguji validitas soal sebelum digunakan penelitian dan peserta didik kelas IV-B sebanyak 18 orang sebagai sampel penelitian yang mengikuti pretest, treatment, dan posttest dengan tujuan untuk mendapatkan data penelitian kemampuan pemahaman konsep IPA sebelum dan sesudah treatment menggunakan model Quantum Learning. Analisis data melalui uji normalitas Shapiro-Wilk memperoleh nilai Sig. 0,376 (> 0,05) yang menyatakan berdistribusi normal. Selanjutnya, uji hipotesis dengan paired sampels test menghasilkan nilai Sig. (p
< 0,001) yang menyatakan bahwa sangat signifikan secara statistik. Nilai rata-rata N-Gain memperoleh 0,75 dengan kriteria tinggi dan klasifikasi tingkatan yang cukup efektif. Hasil observasi menunjukkan skor 9,28 yang artinya bahwa aspek yang diamati muncul pada setiap sintak model Quantum Learning sehingga mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam mengikuti pembelajaran IPA sehingga pemahaman konsep peserta didik menjadi lebih meningkat. Namun, karena dilakukan pada satu kelompok sampel dengan pendekatan pre-experimental design sehingga belum bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih luas.
The low level of conceptual understanding among students, particularly in science education at the elementary school/madrasah ibtidaiyah level, still requires serious attention, as it will serve as a foundation for understanding science concepts at higher levels. This study offers an alternative solution using the Quantum Learning model in education, which is designed to encourage students to be more active in the learning process. This study uses a quantitative approach with a pre-experimental design in the form of a one-group pretest-posttest design conducted at one MI X in Garut Regency, involving 37 fourth-grade students. Of these, 19 students from class IV-A took a test to assess the validity of the questions before they were used in the study, while 18 students from class IV-B served as the research sample, participating in the pretest, treatment, and posttest with the aim of obtaining research data on science concept comprehension ability before and after treatment using the Quantum Learning model. Data analysis through the Shapiro-Wilk normality test obtained a Sig. value of 0.376 (> 0.05), indicating a normal distribution. Furthermore, the hypothesis test using the paired samples test yielded a Sig. value of (p < 0.001), indicating that it was statistically significant. The average N-Gain score was 0.75, meeting the high criteria and classified as sufficiently effective. The observation results showed a score of 9.28, meaning that the observed aspects appeared in every syntax of the Quantum Learning model, thereby encouraging active participation of students in science learning, thus improving their conceptual understanding. However, since it was conducted on a single sample group using a pre-experimental design, it cannot yet be generalized to a broader population
PENERAPAN MODEL PEMBERLAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DALAM TEKNIK GRADASI WARNA KARYA SENI DUA DIMENSI: Penelitian Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VI Sekolah Dasar
Pendekatan pembelajaran seni rupa yang digunakan di sekolah dasar masih cenderung bersifat konvensional, tidak interaktif, dan minim variasi, sehingga berpengaruh pada rendahnya kreativitas siswa. Salah satu alternatif solusi adalah dengan menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas langsung siswa (learning by doing), seperti model discovery learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model discovery learning terhadap peningkatan kreativitas siswa dalam materi teknik gradasi warna serta menguji perbedaan peningkatan kreativitas antara siswa yang menggunakan discovery learning dan siswa yang menggunakan model demonstration learning. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan penugasan (penilaian kinerja / performance assessment), dengan subjek penelitian siswa kelas IV SD di salah satu kecamatan di Batununggal. Berdasarkan hasil uji paired samples t-test pada kelas eksperimen, diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) 0,000 (< 0,05). Dengan kesimpulan bahwa terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran pembelajaran discovery learning dalam kreativitas siswa pada pembelajaran teknik gradasi warna seni rupa dua dimensi. Selain itu, hasil uji Independent Samples t-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,048 (< 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan dalam peningkatan kreativitas antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa model discovery learning efektif dalam meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran seni rupa.
-------
The art learning approach used in elementary schools still tends to be conventional, non-interactive, and lacks variety, thus impacting on low student creativity. One alternative solution is to implement learning that is oriented towards students' direct activities (learning by doing), such as the discovery learning model. This study aims to determine the effect of the application of the discovery learning model on increasing student creativity in the material of color gradation techniques and to test the differences in creativity improvement between students who use discovery learning and students who use the demonstration learning model. The method used is quantitative with a quasi-experimental approach. Data collection techniques through observation and tasks (performance assesment), with research subjects being fourth-grade elementary school students in one of the districts in Batununggal. Based on the results of the paired samples t-test in the experimental class, a significance value (Sig. 2-tailed) of 0.000 (<0.05) was obtained. With the conclusion that there is an effect of the application of the discovery learning learning model on student creativity in learning two-dimensional art color gradation techniques. In addition, the results of the Independent Samples t-Test showed a significance value of 0.048 (<0.05), which means there is a significant difference in increasing creativity between the experimental class and the control class. This shows that the discovery learning model is effective in increasing students' creativity in fine arts learning
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL BERBASIS VIDEO YOUTUBE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD PADA MATERI PERUBAHAN WUJUD BENDA
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran digital berbasis video Youtube terhadap hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar pada materi perubahan wujud benda. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimen yang melibatkan dua kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Instrumen pengumpulan data berupa pretest dan post-test untuk mengukur hasil belajar kognitif siswa serta angket untuk mengetahui respon siswa terhadap media yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan media video Youtube dengan siswa yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Dengan hasil rata-rata sebagai berikut kelas eksperimen sebesar 78,29 lebih besar dibanding kelas kontrol sebesar 63,50. Siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan video youtube menunjukkan peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi. Selain itu, respon siswa terhadap penggunaan video Youtube sangat positif karena materi yang disajikan lebih menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa media digital berbasis video dapat menjadikan alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, terutama pada aspek kognitif.
This study aims to examine the effect of using digital learning media based on YouTube videos on the learning outcomes of fourth-grade elementary school students, particularly on the topic of changes in the states of matter. The research employed a quantitative method with a quasi-experimental approach involving two groups: a control class and an experimental class. Data collection instruments included pretests and post-tests to assess students’ cognitive learning outcomes, and questionnaires to evaluate their responses to the learning media used. The findings revealed a significant difference in student achievement between those who used YouTube video-based learning and those who experienced conventional teaching methods. The experimental group achieved an average score of 78.29, higher than the control group's average of 63.50. Students who engaged with YouTube videos demonstrated greater learning improvement. Furthermore, student responses were overwhelmingly positive, citing that the content was more engaging, easier to understand, and highly relevant to real-life contexts. This research supports the conclusion that video-based digital media serves as an effective alternative for enhancing cognitive learning outcomes in elementary education
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE ROUND ROBIN BERBASIS MULTIMODALITAS DALAM KETERAMPILAN BERBICARA SISWA SD: Penelitian Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berbicara siswa sekolah dasar yang ditandai dengan kurangnya kelancaran, ke runutan ide, intonasi, ekspresi, dan kepercayaan diri. Kajian teori berlandaskan konsep keterampilan berbicara, model pembelajaran kooperatif tipe Round Robin berbasis multimodalitas, serta pembelajaran Think Pair Share (TPS) sebagai pembanding. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe The Matching Only Pre-test-Post-test Control Group Design. Sampel penelitian adalah siswa kelas V SDN Ciluluk II (kelas eksperimen) dan SDN Jayasari (kelas kontrol) yang masing-masing berjumlah 22 siswa. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan berbicara (pre-test dan post-test), dokumentasi, serta rekaman, dan dianalisis dengan uji deskriptif, uji normalitas, homogenitas, serta t-test berpasangan dan independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Round Robin berbasis multimodalitas berpengaruh signifikan dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa, dengan peningkatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan TPS. Kesimpulannya, Round Robin berbasis multimodalitas efektif diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk mengembangkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar.--------
This study was motivated by the low speaking skills of elementary school students, characterized by a lack of fluency, coherence of ideas, intonation, expression, and self-confidence. The theoretical framework is based on the concepts of speaking skills, the cooperative learning model Round Robin with a multimodal approach, and Think Pair Share (TPS) as a comparison. The research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design of The Matching Only Pre-test-Post-test Control Group Design. The sample consisted of fifth-grade students from SDN Ciluluk II (experimental class) and SDN Jayasari (control class), each with 22 students. Data were collected through speaking skills tests (pre-test and post-test), documentation, and recordings, and analyzed using descriptive statistics, normality tests, homogeneity tests, and paired and independent t-tests. The results revealed that the Round Robin multimodal approach had a significant effect on improving students’ speaking skills, with a higher average improvement compared to TPS. In conclusion, the Round Robin multimodal approach is effective for teaching Indonesian language to enhance speaking skills among elementary school students
PENGARUH PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DAN EFIKASI DIRI TERHADAP MINAT BERWIRAUSAHA HIJAU DIMEDIASI OLEH NORMA SUBJEKTIF: Survei pada Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi di Perguruan Tinggi Swasta Se-Kota Bandung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kewirausahaan dan efikasi diri terhadap minat berwirausaha hijau dengan norma subjektif sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi dari Universitas Pasundan dan Universitas Langlangbuana di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling dan sampling jenuh. Analisis data dilakukan dengan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan dan efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha hijau, serta keduanya juga berpengaruh terhadap norma subjektif yang terbukti memediasi hubungan tersebut. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya integrasi aspek kognitif, afektif, dan sosial dalam pendidikan kewirausahaan untuk mendorong minat mahasiswa pada praktik bisnis berkelanjutan. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya penguatan kurikulum kewirausahaan yang berwawasan lingkungan, pengembangan efikasi diri melalui pengalaman langsung, dan penciptaan lingkungan sosial yang mendukung minat berwirausaha hijau. Secara teoritis, hasil penelitian ini menekankan peran penting norma subjektif sebagai mediator kunci dalam pembentukan minat berwirausaha hijau. Penelitian berikutnya disarankan untuk mengkaji variabel lain seperti sikap terhadap perilaku, persepsi kontrol perilaku, pembelajaran melalui pengamatan, harapan hasil, dan pengaturan diri dalam memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap minat berwirausaha hijau di kalangan mahasiswa.
This study aimed to analyze the effect of entrepreneurship education and self-efficacy on green entrepreneurial intention, with subjective norms as a mediating variable. This study used a quantitative approach with a survey method that involved students of the Economics Education Study Program from Universitas Pasundan and Universitas Langlangbuana in Bandung City. The sampling technique used stratified random sampling and saturation sampling. Data analysis was carried out using the Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) approach. The results showed that entrepreneurship education and self-efficacy had a positive and significant effect on green entrepreneurial intention, and both also affected subjective norm which proved to mediate this relationship. The findings of this study emphasized the importance of integrating cognitive, affective, and social aspects in entrepreneurship education to encourage students' interest in sustainable business practices. The practical implicatios of this study was the need to strengthen environmentally oriented entrepreneurship curricula, develop self-efficacy through direct experience, and create a social environment that supported green entrepreneurial intention. Theoretically, the results of this study emphasized the important role of subjective norm as a key mediator in forming green entrepreneurial intention. Further research was suggested to examine other variables such as attitudes toward behavior, perceived behavioral control, learning through observation, outcome expectations, and self-regulation to provide a more comprehensive understanding of green entrepreneurial intention among students
DAMPAK PENDEKATAN STEAM TERHADAP KETERAMPILAN PRODUKTIVITAS DAN AKUNTABILITAS PADA ANAK USIA DINI
Tantangan abad 21 menekankan pentingnya memperoleh keterampilan abad 21 dalam pendidikan, di antaranya keterampilan hidup dan karir untuk memudahkan anak memilih karir masa depan. Salah satunya, keterampilan produktivitas dan akuntabilitas yang masih perlu distimulasi lebih untuk mengelola dan bertanggung jawab akan tugasnya, serta perlu lebih mendorong proses pembelajaran yang mengenalkan keterampilan tersebut. Oleh karenanya, STEAM dipilih menjadi pembelajaran untuk mengenalkan keterampilan produktivitas dan akuntabilitas. Tujuan penelitian yakni mendeskripsikan dan menganalisis peran guru, faktor, tantangan, dan dampak pendekatan STEAM terhadap keterampilan produktivitas dan akuntabilitas.Metode yang digunakan yakni Mixed Method dengan concurrent embedded design. Pada metode ini dilakukan kombinasi data antara, data primer kualitatif berupa wawancara, catatan anekdot, dan dokumentasi, serta data sekunder kuantitatif berupa data profil perkembangan keterampilan produktivitas dan akuntabilitas. Penelitian melibatkan 2 guru dan 14 anak kelompok A di PAUD Labschool UPI Purwakarta. Data kualitatif di analisis menggunakan Miles & Huberman, sedangkan data keterampilan produktivitas dan akuntabilitas di analisis dengan menghitung persentase kemunculan indikator perilakunya. Hasil penelitian menunjukkan peran guru yakni menampilkan hasil pekerjaan anak di lingkungan kelas, memberikan motivasi, memberikan kebebasan berkarya dan menyediakan alat bahan, mendorong anak melakukan refleksi, mendorong anak aktif dan mengapresiasi. Dampak STEAM terlihat signifikan dengan kategori sudah muncul sebesar 93% dan belum muncul sebesar 7%. Faktor yang menjadi perhatian yakni pemahaman anak terhadap tugas dan tujuan pembelajaran, sikap egosentris anak, kemampuan berpikir kritis, aturan waktu yang ditetapkan guru, implementasi pembelajaran selain STEAM, dan motivasi orang tua. Tantangan yang dihadapi guru seperti anak pesimis, menentukan kelompok, memastikan anak mengerjakan tugas, dan berbagi pengawasan memotivasi.
-----
The challenges of the 21st century emphasize the importance of acquiring 21st century skills in education, including life and career skills to facilitate children in choosing future careers. One of them, productivity and accountability skills still need more stimulation to manage and be responsible for their tasks, and need to further encourage the learning process that introduces these skills. Therefore, STEAM was chosen as the learning to introduce productivity and accountability
skills. The purpose of this study is to describe and analyze the role of teachers, factors, challenges, and the impact of STEAM learning on productivity and accountability skills. The method used is Mixed Method with concurrent embedded design. In this method, a combination of data is carried out between, primary qualitative data in the form of interviews, anecdotal notes, and documentation, and secondary quantitative data in the form of productivity and accountability skill development profile data. The study involved 2 teachers and 14 group A children at PAUD Labschool UPI Purwakarta. Qualitative data were analyzed using Miles & Huberman, while productivity and accountability skills data were analyzed by calculating the percentage of occurrence of behavioral indicators. The results
showed that the role of teachers is to display children's work in the classroom environment, provide motivation, provide freedom of creativity and provide materials, encourage children to reflect, encourage children to be active and appreciate. The impact of STEAM was significant with the category already appearing at 93% and not appearing at 7%. Factors of concern were children's understanding of learning tasks and objectives, children's egocentric attitudes, critical thinking skills, time rules set by teachers, implementation of learning other than STEAM, and parental motivation. Challenges faced by teachers include pessimistic children, determining groups, ensuring children complete assignments, and sharing motivating supervision
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP KUALITAS MENGAJAR GURU IPS DENGAN LITERASI DIGITAL SISWA KELAS 8 DI SMP NEGERI 1 CIMAHI
Kemajuan teknologi membuat seluruh akses dalam satu genggaman, semua sektor termasuk sektor pendidikan menjadikan teknologi untuk membantu mewujudkan proses yang optimal. Data pendukung menyebutkan pengguna media sosial di Indonesia mencapai 221 juta jiwa. Namun, tidak semua orang mampu menggunakan media sosial dengan bijak. Berdasarkan pra-penelitian ditemukan permasalahan bahwa di era globalisasi terjadi maraknya hal-hal negatif yang dilakukan oleh remaja di media sosial yang menimbulkan terjadinya penyimpangan sosial. Salah satu elemen penting dalam membentuk karakter siswa adalah melalui proses belajar. Guru dengan kualitas mengajar yang mengacu pada kompetensi pedagogik secara komprehensif membentuk guru dengan kualitas yang baik untuk mewujudkan cita-cita pendidikan nasional serta membentuk literasi digital siswa. Penelitian ini secara khusus berfokus pada guru IPS sebab sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS yaitu menciptakan good governance melalui pembelajarannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kualitas mengajar guru IPS yang mengacu pada kompetensi pedagogik guru pada Standar Nasional Pendidikan dengan literasi digital peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket kepada peserta didik. Obyek penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Cimahi sebagai sekolah yang mengedepankan visi pembelajaran dengan pendekatan STEM serta menyesuaikan pembelajaran dengan kemajuan IPTEK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi umum yang dimiliki oleh guru IPS secara internal dan eksternal mendukung kualitas mengajar guru IPS, peserta didik kelas 8 SMP Negeri 1 Cimahi memiliki pemahaman dan keterampilan digital yang memadai, serta adanya hubungan yang positif antara kualitas mengajar guru IPS dengan literasi digital peserta didik.
Technological advances have made everything accessible at our fingertips, with all sectors, including education, utilizing technology to help optimize processes. Supporting data shows that there are 221 million social media users in Indonesia. However, not everyone is able to use social media wisely. Based on preliminary research, it was found that in the era of globalization, there has been a surge in negative activities carried out by teenagers on social media, leading to social deviance. One of the key elements in shaping students' character is through the learning process. Teachers with teaching quality that aligns with comprehensive pedagogical competencies form teachers of high quality to realize the national education vision and develop students' digital literacy. This study specifically focuses on social studies teachers because it is in line with the learning objectives of social studies, which is to create good governance through learning. The purpose of this study is to determine the relationship between the teaching quality of social studies teachers, which refers to the pedagogical competence of teachers in the National Education Standards, and the digital literacy of students. This research uses a quantitative approach with a correlational method. Data collection techniques were carried out by distributing questionnaires to students. The research was conducted at Public Junior High School 1 Cimahi, a school that prioritize a learning vision with a STEM approach and adapts learning to advances in science and technology. The results showed that the general conditions possessed by social studies teachers, both internally and externally, supported the teaching quality of social studies teachers, that grade 8 students at Public Junior High School 1 Cimahi had adequate digital understanding and skills, and that there was a positive correlation between the teaching quality of social studies teachers and the digital literacy of students