91757 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN PREMENSTRUAL SYNDROME (PMS) DENGAN REGULASI EMOSI PADA REMAJA AWAL PUTRI DI SMP NEGERI 1 CIMALAKA
Premenstrual syndrome (PMS) merupakan gangguan neuroendokrin yang ditandai oleh gejala fisik dan psikologis yang muncul pada fase luteal siklus menstruasi, yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari dan kesejahteraan emosional pada remaja awal perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara PMS dan regulasi emosi pada siswi kelas VII dan VIII di SMP Negeri 1 Cimalaka, Kabupaten Sumedang, dengan menggunakan kerangka biopsikososial George L. Engel. Penelitian kuantitatif korelasional dengan desain potong lintang (cross-sectional) dilakukan pada 199 siswi berusia 11–13 tahun yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Gejala PMS diukur menggunakan 0o (sPAF), sedangkan regulasi emosi diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Data dianalisis menggunakan uji normalitas yang dilanjutkan dengan analisis korelasi Spearman (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian PMS didominasi oleh tingkat sedang hingga berat, sementara tingkat regulasi emosi sebagian besar berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Ditemukan hubungan negatif yang lemah namun bermakna secara statistik antara PMS dan regulasi emosi (r = −0,191; p = 0,007), yang menunjukkan bahwa semakin berat PMS yang dialami, semakin rendah kemampuan regulasi emosi. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi keperawatan promotif dan preventif, khususnya program berbasis sekolah yang berfokus pada pengembangan keterampilan regulasi emosi dan strategi koping adaptif, untuk mendukung remaja putri dalam mengelola perubahan emosional selama fase pramenstruasi.
Premenstrual syndrome (PMS) is a neuroendocrine disorder characterized by physical and psychological symptoms during the luteal phase of the menstrual cycle that may disrupt daily functioning and emotional well-being in early adolescent girls. This study aimed to examine the relationship between PMS and emotional regulation among seventh- and eighth-grade female students at SMP Negeri 1 Cimalaka, Sumedang Regency, using George L. Engel’s biopsychosocial framework. A quantitative correlational study with a cross-sectional design was conducted among 199 female students aged 11–13 years selected through stratified random sampling. PMS symptoms were measured using the Shortened Premenstrual Assessment Form (sPAF), while emotional regulation was assessed using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Data were analyzed using normality testing followed by Spearman correlation analysis (p < 0.05). The results of the study showed that the prevalence of PMS was mostly at moderate to severe levels, while the level of emotional regulation was mostly low to very low. A weak but statistically significant negative relationship was found between PMS and emotional regulation (r = −0.191; p = 0.007), indicating that higher PMS severity was associated with lower emotional regulation abilities. These findings underscore the importance of promotive and preventive nursing interventions, particularly school-based programs focusing on emotional regulation skills and adaptive coping strategies, to support adolescent girls in managing emotional changes during the premenstrual phase
HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN PERILAKU MAKAN PADA MAHASISWA S1 KEPERAWATAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS SUMEDANG
Perkembangan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa, termasuk dalam pembentukan gaya hidup dan pola perilaku makan. Tingginya paparan informasi visual, konten makanan, iklan digital, serta interaksi sosial daring berpotensi mempengaruhi kecenderungan makan tanpa kontrol maupun makan secara emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan perilaku makan pada mahasiswa Keperawatan Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan jumlah responden sebanyak 215 mahasiswa yang dipilih melalui teknik probability sampling dengan jenis Proportionate Stratified Random Sampling. Instrumen pengumpulan data berupa Social Networking Time Use Scale (SONTUS) untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) untuk menilai perilaku makan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial terhadap perilaku makan mahasiswa (p-value (<0,001) <0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa meningkatnya intensitas penggunaan media sosial berpotensi mempengaruhi pola makan, termasuk kecenderungan makan tanpa kontrol, makan emosional, maupun makan karena pengaruh lingkungan digital. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar dalam perancangan strategi pembinaan literasi digital serta intervensi promotif untuk mendorong perilaku makan sehat pada mahasiswa.
The rapid expansion of social media has become an integral aspect of students’ daily life, influencing lifestyle patterns including eating behaviors. Continuous exposure to visual food content, digital advertising, and online social interaction has the potential to shape tendencies such as emotional eating, uncontrolled eating, and external eating responses triggered by environmental cues. This study aims to determine the relationship between social media use intensity and eating behavior among Nursing students at the Indonesia University of Education, Sumedang Campus. This research employed a quantitative method with a cross-sectional design, involving 215 respondents selected through probability sampling. Data were collected using the Social Networking Time Use Scale (SONTUS) to measure social media use intensity and the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) to assess eating behavior patterns. Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The findings revealed a significant association between social media use intensity and eating behavior (p (<0,001) < 0,05). These results indicate that higher social media engagement may contribute to changes in eating tendencies influenced by digital exposure. This study provides an evidence-based reference for strengthening digital literacy strategies and health promotion programs aimed at improving healthy eating behavior among students
EKSPLORASI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL OPEN-ENDED DITINJAU DARI SELF-EFFICACY
Kemampuan pemecahan masalah matematis (KPMM) merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika, namun banyak siswa masih mengalami kesulitan saat mengerjakan soal open-ended yang menuntut pemahaman konsep dan penggunaan strategi yang fleksibel. Self-efficacy turut memengaruhi cara siswa menghadapi masalah, terutama terkait usaha, ketekunan, dan keyakinan dalam memilih strategi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan KPMM siswa dalam menyelesaikan soal open-ended, menggambarkan self-efficacy siswa dalam pembelajaran matematika, serta menganalisis keterkaitan antara keduanya dalam menyelesaikan soal open-ended. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek terdiri dari 39 orang siswa SMA di Pekanbaru, Riau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPMM siswa bervariasi pada setiap langkah Polya. Siswa kategori KPMM tinggi mampu memenuhi tiga hingga empat langkah pemecahan masalah, siswa dengan KPMM sedang memenuhi dua hingga tiga langkah, sedangkan siswa kategori KPMM rendah hanya memenuhi satu hingga dua langkah. Self-efficacy siswa berada pada kategori tinggi dan sedang, dengan perbedaan pada keberanian mencoba strategi, ketekunan, dan keyakinan menghadapi soal kompleks. Analisis menunjukkan bahwa self-efficacy berperan dalam kelancaran proses pemecahan masalah, namun tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman konsep. Temuan ini menegaskan pentingnya pembelajaran yang menguatkan konsep sekaligus meningkatkan keyakinan diri siswa dalam menghadapi soal matematika terbuka.
Kata kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, Soal Open-Ended, Self-Efficacy
Mathematical problem-solving ability is a fundamental competence in mathematics education, yet many students still encounter difficulties when working on open-ended problems that require strong conceptual understanding and flexible strategies. Self-efficacy also plays a significant role in shaping how students approach and respond to mathematical tasks, particularly regarding effort, persistence, and confidence in selecting solution strategies. This study aims to describe students’ mathematical problem-solving ability in solving open-ended problems, portray their self-efficacy in mathematics learning, and analyze the association between these two aspects. A qualitative approach with a case study design was employed. The participants consisted of 39 senior high school students in Pekanbaru, Riau.
The findings indicate that students’ performance varies across Polya’s problem-solving steps. Students with high problem-solving ability successfully completed three to four steps, those with moderate ability completed two to three steps, while students with low ability completed only one to two steps. Students’ self-efficacy fell into high and moderate categories, distinguished by differences in their willingness to attempt strategies, persistence, and confidence when dealing with complex problems. The analysis shows that self-efficacy contributes to the fluency of the problem-solving process, although it does not always correspond to students’ conceptual understanding. These results highlight the importance of instructional practices that strengthen conceptual mastery while simultaneously enhancing students’ confidence in solving open-ended mathematical problems.
Keywords: Mathematical Problem-Solving Ability, Open-Ended Problems, Self-Efficac
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN RESILIENCE TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS DAN SELF-EFFICACY DALAM PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN
Defri Mulyana. NIM 2208428. "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN RESILIENCE TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS DAN SELF-EFFICACY DALAM PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN". Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. Adang Suherman, M.A., Prof. Dr. Komarudin, M.Pd., Dr. Bambang Abduljabar, M.Pd. Program Studi Pendidikan Olahraga, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia. Implementasi model pembelajaran tidak optimal dikarenakan dalam memilih model pembelajaran masih terbatas, sehingga kurang sesuai dengan prinsip student-centered learning dalam Kurikulum Merdeka, serta tidak mempertimbangkan resiliensi peserta didik dalm proses pembelajaran. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy siswa SMA dalam pembelajaran PJOK menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran dan resilience terhadap kemampuan berfikir kritis dan self-efficacy peserta didik Sekolah Menengah Atas. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain faktorial 2x2. Sampel yang digunakan sebanyak 2 kelas dari 36 kelas di SMAN 5 Kota Tasikmalaya dengan cara Cluster Random Sampling. Variabel bebas yaitu model PBL dan PjBL, Terdapat empat kelompok eksperimen diantaranya kelompok resilience tinggi dengan model PBL (A1B1), kelompok resilience rendah dengan model (PBL) (A1B2), kelompok resilience tinggi dengan model PjBL (A2B1), kelompok resilience rendah dengan model PjBL (A2B2). Instrumen penelitian menggunakan CD-RISC untuk resilience, CCTST untuk kemampuan berfikir kritis dan NGSS untuk self-efficacy. Analisis data menggunakan uji t dan two-way ANOVA. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap kemampuan berfikir kritis dan self-efficacy peserta didik. Model PBL lebih besar pengaruhnya terhadap kemampuan berfikir kritis dan self-efficacy peserta didik. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan resilience terhadap kemampuan berfikir kritis dan self-efficacy peserta didik. Terdapat pengaruh antara model pembelajaran terhadap kemampuan berfikir kritis dan self-efficacy pada kelompok peserta didik dengan tingkat resilience tinggi. Model PBL lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan model PjBL pada kelompok resilience tinggi. Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap kemampuan berfikir kritis dan self-efficacy pada kelompok peserta didik dengan tingkat resilience rendah. Model PBL lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan model PjBL pada kelompok resilience rendah.
Kata Kunci : Model Problem Based Learning (PBL), Model Project Based Learning (PjBL), Resilience, Kemampuan Berfikir Kritis, Self-efficacy.
Defri Mulyana. Student ID: 2208428. “The Effect of Learning Models and Resilience on Critical Thinking Ability and Self-Efficacy in Physical Education, Sports, and Health.” This dissertation is supervised by Prof. Dr. Adang Suherman, M.A., Prof. Dr. Komarudin, M.Pd., and Dr. Bambang Abduljabar, M.Pd. Study Program of Sports Education, Graduate School, Universitas Pendidikan Indonesia. The implementation of the learning model is not optimal because the selection of learning models is still limited, so it is not in accordance with the principles of student-centered learning in the Independent Curriculum, and does not consider student resilience in the learning process. As a result, the critical thinking skills and self-efficacy of high school students in PJOK learning are low. This study aims to examine the effect of learning models and resilience on critical thinking skills and self-efficacy of high school students. The research method used is an experiment with a 2x2 factorial design. The sample used was 2 classes out of 36 classes at SMAN 5 Tasikmalaya City by Cluster Random Sampling. The independent variables are the PBL and PjBL models. There are four experimental groups including the high resilience group with the PBL model (A1B1), the low resilience group with the (PBL) model (A1B2), the high resilience group with the PjBL model (A2B1), and the low resilience group with the PjBL model (A2B2). The research instruments used were CD-RISC for resilience, CCTST for critical thinking skills, and NGSS for self-efficacy. Data analysis used t-tests and two-way ANOVA. The conclusion of this study is that the learning model influences students' critical thinking skills and self-efficacy. The PBL model had a greater influence on students' critical thinking skills and self-efficacy. There was no interaction between the learning model and resilience on students' critical thinking skills and self-efficacy. The learning model influenced critical thinking skills and self-efficacy in the group of students with high resilience levels. The PBL model had a greater influence than the PjBL model in the high resilience group. The learning model influenced critical thinking skills and self-efficacy in the group of students with low resilience levels. The PBL model had a greater influence than the PjBL model in the low resilience group.
Keywords: Problem-Based Learning (PBL) Model, Project-Based Learning (PjBL) Model, Resilience, Critical Thinking Skills, Self-efficacy
KEMAMPUAN SPASIAL SISWA SMP KELAS IX PADA MATERI TRANSFORMASI GEOMETRI DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF BERDASARKAN TEORI APOS
Kemampuan spasial merupakan kemampuan kognitif penting dalam pembelajaran geometri, khususnya pada materi transformasi geometri yang menuntut visualisasi, manipulasi mental, dan perubahan perspektif, serta dipengaruhi oleh perbedaan gaya kognitif Field Independent (FI) dan Field Dependent (FD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan spasial siswa FI dan FD pada aspek visualisasi spasial, rotasi mental, dan orientasi spasial, serta menelaah tahapan proses berpikir siswa berdasarkan teori APOS (Action–Process–Object–Schema) dalam menyelesaikan soal transformasi geometri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek enam siswa kelas IX yang dipilih berdasarkan hasil Group Embedded Figures Test (GEFT), terdiri atas tiga siswa FI dan tiga siswa FD. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan spasial dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi capaian kemampuan spasial serta tahapan proses berpikir siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan spasial siswa FI dan FD tidak berkembang secara merata pada seluruh aspek. Siswa FI cenderung menunjukkan capaian lebih baik pada aspek visualisasi spasial, sementara capaian pada aspek rotasi mental dan orientasi spasial bervariasi dan tidak seluruh siswa FI memenuhi indikator. Pada siswa FD, kemampuan spasial umumnya hanya tampak pada aspek visualisasi spasial, sedangkan pada aspek rotasi mental dan orientasi spasial seluruh siswa FD mengalami kesulitan. Analisis tahapan APOS menunjukkan bahwa sebagian siswa FI mampu mencapai tahap schema, sedangkan siswa FD umumnya berhenti pada tahap action. Temuan ini menegaskan pentingnya memperhatikan proses berpikir siswa dan perbedaan gaya kognitif dalam pembelajaran transformasi geometri.
Spatial ability is an important cognitive ability in learning geometry, particularly in geometric transformation topics that require visualization, mental manipulation, and changes in perspective, and it is influenced by differences in cognitive styles, namely Field Independent (FI) and Field Dependent (FD). This study aims to analyze the spatial abilities of FI and FD students in the aspects of spatial visualization, mental rotation, and spatial orientation, as well as to examine students’ stages of thinking processes based on APOS theory (Action–Process–Object–Schema) in solving geometric transformation problems. This study employed a qualitative approach with six Grade IX students selected based on the results of the Group Embedded Figures Test (GEFT), consisting of three FI students and three FD students. Data were collected through a spatial ability test and semi-structured interviews and then analyzed to identify students’ spatial ability achievements and stages of thinking processes. The results indicate that the spatial abilities of FI and FD students do not develop evenly across all aspects. FI students tend to demonstrate better achievement in spatial visualization, while achievements in mental rotation and spatial orientation vary and not all FI students meet the indicators. For FD students, spatial ability generally appears only in the aspect of spatial visualization, whereas all FD students experience difficulties in mental rotation and spatial orientation. The APOS stage analysis shows that some FI students are able to reach the schema stage, whereas FD students generally stop at the action stage. These findings emphasize the importance of considering students’ thinking processes and differences in cognitive styles in teaching geometric transformations
PEMBINGKAIAN FENOMENA FEMISIDA DALAM PORTAL BERITA ONLINE DI INDONESIA : Analisis Framing Pada Detikcom, Kompas, Tribunnews, dan CNN Indonesia
Femisida atau pembunuhan perempuan telah menjadi masalah kritis HAM yang masih menjadi ancaman serius bagi perempuan hampir di berbagai negara termasuk Indonesia. Portal berita online sebagai salah satu sumber informasi utama memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman publik terkait isu-isu sensitif dan kompleks ini, sekaligus masih menjadi rujukan utama Komnas Perempuan untuk menyusun catatan tahunan. Sejumlah penelitian telah meneliti bagaimana isu ini dibingkai melalui media berita. Namun, penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan dengan belum banyak menjangkau aspek pembingkaian media secara lebih luas melalui analisis terhadap struktur narasi berita, labelisasi terhadap pelaku dan korban/konstruksi karakter pelaku dan korban, analisis kepada siapa publik diarahkan untuk bersimpati, hingga analisis penggunaan kategori bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori Media Framing Analysis model Giles dan Shaw (2009) untuk menganalisis konstruksi fenomena femisida pada portal berita online Indonesia. Data dikumpulkan melalui studi dokumen pada empat portal berita Indonesia, yaitu Detikcom, Kompas, Tribunnews, dan CNN Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan femisida dibingkai dengan penekanan pada kronologi sensasional, emosional, dan relasi personal korban dan pelaku. Identifikasi karakter menempatkan korban dan pelaku sebagai individu kunci, sementara profesional, saksi dan keluarga tampil sebagai individu pendukung. Media mengidentifikasi pembaca sebagai individu yang empati pada korban, menormalisasi emosi pelaku hingga fokus pada aksi sadis dan konsekuensi hukum pelaku. Identifikasi bentuk narasi pada keempat portal berita berbentuk hard news yang menyoroti aspek kriminalitas dan hukum. Pemilihan bahasa yang digunakan media menggambarkan fenomena femisida sebagai tindakan kriminal yang memiliki konsekuensi serius.
Femicide has become a critical human rights issue that continues to pose a serious threat to women in many countries, including Indonesia. Online news portals, as major sources of information, play an important role in shaping public understanding of such sensitive and complex issues, while also serving as reference for government institutions such as Komnas Perempuan in compiling annual reports and monitoring. Previous studies have examined how this issue is framed in the media. However, they remain limited, as they have not sufficiently explored framing through analyses of narrative structures, labeling of perpetrators and victims, the direction of public sympathy, and the use of language categories. This study seeks to fill that gap by employing a qualitative approach and the Media Framing Analysis model by Giles and Shaw (2009) to analyze the construction of femicide in Indonesian online news portals. Data were collected through document studies on four major Indonesian portals: Detikcom, Kompas, Tribunnews, and CNN Indonesia. The findings show that femicide is framed with emphasis on sensational and emotional chronologies as well as personal relations between victims and perpetrators. Victims and perpetrators are identified as key figures, while professionals, witnesses, and families appear as supporting actors. The media positions readers as empathetic toward victims, normalizes perpetrators’ emotions, and highlights both the brutality of the acts and their legal consequences. Narrative forms across the four portals predominantly take the shape of hard news focusing on criminality and law, with language choices portraying femicide as a serious criminal act with grave consequences
PERAN EFIKASI DIRI DAN GREEN SELF IDENTITY DALAM MEMEDIASI PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP PERILAKU KONSUMSI HIJAU
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan sosial (konformitas teman sebaya, penggunaan media sosial, dan dukungan orang tua) terhadap perilaku konsumsi hijau, serta peran efikasi diri dan green self identity dalam memediasi pengaruh lingkungan sosial (konformitas teman sebaya, penggunaan media sosial, dan dukungan orang tua) terhadap perilaku konsumsi hijau. Metode penelitian ini menggunakan metode survey dengan jenis penelitian deskriptif-verifikatif. Sampel penelitian ini berukuran 266 siswa yang diperoleh menggunakan software G*Power, dimana unit analisis yang diteliti merupakan siswa SMA Negeri se-Kota Metro Provinsi Lampung. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan The Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), dengan software SmartPLS versi 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya dan penggunaan media sosial berpengaruh terhadap perilaku konsumsi hijau. Sedangkan dukungan orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku konsumsi hijau. Peran efikasi diri dan green self identity memediasi pengaruh konformitas teman sebaya, penggunaan media sosial, dan dukungan orang tua terhadap perilaku konsumsi hijau. Temuan ini mendukung Teori Konstruktivisme bahwa proses perkembangan kognitif dan perilaku siswa berasal dari proses pembelajaran melalui interaksi sosial. Hasil temuan juga mendukung Social Cognitive Theory pada determinan timbal balik triadik yaitu faktor lingkungan, personal, dan perilaku. Hasil penelitian juga mengonfirmasi prinsip Theory of Planned Behavior mengenai norma subjektif dan kontrol perilaku. Serta, Theory of Consumption Values mengenai keputusan siswa dalam mengonsumsi produk hijau berdasarkan nilai fungsional, sosial, kondisional, emosional, dan epistemik.
This study aims to analyze the influence of social environment (peer conformity, social media use, and parental support) on green consumption behavior, as well as the role of self-efficacy and green self-identity in mediating the influence of social environment (peer conformity, social media use, and parental support) on green consumption behavior. This study uses a survey method with a descriptive verificative research design. The sample size for this study was 266 students, obtained using G*Power software, where the unit of analysis was public high school students in Metro City, Lampung Province. Data analysis in this study used The Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), with SmartPLS software version 3. The results showed that peer conformity and social media use influenced green consumption behavior. Meanwhile, parental support did not influence green consumption behavior. The roles of self-efficacy and green self identity mediate the influence of peer conformity, social media use, and parental support on green consumption behavior. These findings support the Constructivist Theory, which states that students’ cognitive and behavioral development processes originate from learning processes through social interaction. The findings also support the Social Cognitive Theory, which posits the triadic reciprocal determinants of environmental, personal, and behavioral factors. The study's results also confirm the principles of the Theory of Planned Behavior regarding subjective norms and behavioral control. Additionally, the Theory of Consumption Values, which informs students’ decisions about consuming green products, is based on functional, social, conditional, emotional, and epistemic values
PENGARUH TAYANGAN KONTEN YOUTUBE TERHADAP PEMBENTUKAN KONSEP DIRI REMAJA (Studi Korelasi pada Subscribers YouTube “Satu Persen – Indonesian Life School”)
Penggunaan media sosial yang berlebihan memberikan dampak negatif seperti memiliki konsep diri yang kurang stabil. Dimana mereka cenderung mengatakan bahwa mereka memiliki diri yang ideal, membuat representasi diri secara online, dan membangun citra diri tetapi tidak konsisten dengan dirinya di dunia nyata. Sebuah konsep diri yang baik dapat diperkuat dengan rasa percaya diri dan dapat dibantu oleh konten yang memberikan motivasi untuk berkembang, menjalani gaya hidup sehat atau melakukan aktivitas pribadi yang positif dengan tontonan yang ada di YouTube. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh tayangan konten YouTube terhadap pembentukan konsep diri remaja subscribers channel YouTube Satu Persen. Penelitian ini menempatkan teori Jarum Hipodermik sebagai landasan teorinya. Penelitian ini menggunakan metode korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah tayangan konten YouTube dengan sub variabel frekuensi (X1), durasi (X2), dan atensi (X3) terhadap variabel terikat (Y) yaitu konsep diri. Temuan penelitian ini menunjukkan hasil 1) pengaruh sebesar 33% secara simultan terhadap variabel konsep diri, 2) lalu sisanya sebesar 67% dipengaruhi oleh beberapa faktor yang lain yang tidak dijelaskan, 3) adapun uji regresi linear berganda dengan nilai konstan dari seluruh variabel sebesar 46.316 menunjukkan nilai positif, 4) sebaran data penelitian ini berdistribusi normal dengan nilai sebesar 0,200. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang dampak penggunaan media sosial, khususnya YouTube, terhadap psikologi remaja. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi para peneliti dan praktisi dalam mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan media sosial.
Excessive use of social media has a negative impact such as having a less stable self-concept. Where they tend to say that they have an idealized self, create self-representations online, and build a self-image but are inconsistent with themselves in the real world. A good self-concept can be strengthened by self-confidence and can be helped by content that provides motivation to develop, live a healthy lifestyle or do positive personal activities with the spectacles on YouTube. The purpose of this study is to analyze the effect of YouTube content viewing on the formation of the self-concept of teenage subscribers to the One Percent YouTube channel. This research places the Hypodermic Needle theory as its theoretical basis. This study uses a correlation method with a quantitative approach. The independent variable (X) in this study is YouTube content impressions with sub-variables of frequency (X1), duration (X2), and attention (X3) on the dependent variable (Y), namely self-concept. The findings of this study show the results of 1) a simultaneous 33% influence on the self-concept variable, 2) then the remaining 67% is influenced by several other factors that are not explained, 3) as for the multiple linear regression test with a constant value of all variables of 46,316 showing a positive value, 4) the distribution of this research data is normally distributed with a value of 0.200. This research contributes to the understanding of the impact of using social media, especially YouTube, on adolescent psychology. Thus, this study can be a reference for researchers and practitioners in developing more effective strategies to overcome the negative impacts of social media use
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MEDIA AUGMENTED REALITY (AR) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR HISTORIS IMAJINATIF: Penelitian Tindakan Kelas X.E-9 SMA Negeri 3 Tasikmalaya
Penelitian dengan judul Penerapan Pembelajaran Berbasis Media Augmented Reality (AR) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Historis Imajinatif (Penelitian Tindakan Kelas X.E-9 SMA Negeri 3 Tasikmalaya), di latarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir historis imajinatif peserta didik dalam pembelajaran sejarah di kelas X.E-9 SMAN 3 Tasikmalaya yang cenderung membosankan karena pembelajaran sejarah hanya berfokus pada buku tanpa adanya media pembelajaran yang baru bagi peserta didik. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk meningkatkan keterampilan berpikir historis imajinatif menggunakan media pembelajaran Augmented Reality. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) di kelas X. E-9 SMAN 3 Tasikmalaya yang menggunakan media pembelajaran Augmented Reality untuk meningkatkan keterampilan berpikir historis imajinatif. Hasil penelitian menunjukkan media pembelajaran Augmented Reality dapat meningkatan keterampilan berpikir historis imajinatif. Pada penelitian ini terdapat tiga siklus dimana setiap siklusnya terdapat empat tindakan dan setiap tindakannya terdapat peningkatan terhadap indikator keterampilan berpikir historis imajinatif. Pada siklus I persentase keterampilan berpikir historis imajinatif peserta didik 51,05% yang menunjukkan keterampilan berpikir historis imajinatif cukup. Pada siklus II rata-rata persentase keterampilan berpikir historis imajinatif peserta didik mengalami peningkatan menjadi 69,96% yang menunjukkan peserta didik memiliki keterampilan berpikir historis imajinatif yang baik dikarenakan terdapat kenaikan pada setiap indikatornya serta peserta didik dapat memanfaatkan penggunaan Augmented Reality berbasis aplikasid engan baik. Pada siklus III terjadi peningkatan kembali mencapai 81,25%. Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Augmented Reality tentunya terdapat berbagai kendala yang peneliti hadapi, namun dalam mengatasi hal tersebut peneliti bekerja sama dengan guru mitra untuk mengoptimalkan penggunaan Aplikasi Augmented Reality dengan membaca dan mengakses seluruh informasi dari Augmented Reality. Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik sudah memiliki keterampilan berpikir historis imajinatif yang baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan Augmented Reality dapat meningkatkan keterampilan berpikir historis imajinatif peserta didik dalam pembelajaran sejarah di kelas X. E-9 SMAN 3 Tasikmalaya. Penelitian ini direkomendasikan untuk kepala sekolah SMAN 3 Tasikmalaya, Guru Sejarah, Dinas Pendidikan, dan bagi peneliti lanjutan.
The research entitled Application of Augmented Reality (AR) Media-Based Learning to Improve Imaginative Historical Thinking Skills (Action Research Class X.E-9 SMA Negeri 3 Tasikmalaya), is motivated by the low level of imaginative historical thinking skills of students in history learning in class 3 Tasikmalaya tends to be boring because history learning only focuses on books without any new learning media for students. The aim of this research is to improve imaginative historical thinking skills using Augmented Reality learning media. This research uses the classroom action research (PTK) method in class X. E-9 of SMAN 3 Tasikmalaya which uses Augmented Reality learning media to improve imaginative historical thinking skills. The research results show that Augmented Reality learning media can improve imaginative historical thinking skills. In this research there are three cycles where in each cycle there are four actions and in each action there is an increase in the indicators of imaginative historical thinking skills. In cycle I, the percentage of students' imaginative historical thinking skills was 51.05%, indicating sufficient imaginative historical thinking skills. In cycle II, the average percentage of students' imaginative historical thinking skills increased to 69.96%, which shows that students have good imaginative historical thinking skills because there was an increase in each indicator and students were able to make good use of application-based Augmented Reality. In cycle III there was an increase again reaching 81.25%.In carrying out learning using Augmented Reality, of course there are various obstacles that researchers face, but in overcoming this, researchers work together with partner teachers to optimize the use of Augmented Reality Applications by reading and accessing all information from Augmented Reality. Based on this research, it shows that students already have good imaginative historical thinking skills. Thus it can be concluded that the use of Augmented Reality can improve students' imaginative historical thinking skills in history learning in class X. E-9 at SMAN 3 Tasikmalaya. This research is recommended for the principal of SMAN 3 Tasikmalaya, History Teachers, Education Services, and for advanced researchers
EARLY DATING IN DIGITAL NATIVE ERA: Dampak Konten Digital Terhadap Fenomena Tren Pacaran Dini Gen Alpha di Sekolah Dasar
Berbagai macam tantangan pada pendidikan karakter di sekolah dasar hadir seiring digitalisasi, tak terkecuali dengan fenomena pacaran dini yang dilakukan oleh generasi alpha di sekolah dasar. Mereka adalah digital native yang tak luput dari konten-konten digital yang kian hari kian banyak dikonsumsi. Akibatnya mereka memiliki kecenderungan mengimitasi perilaku orang dewasa, dalam hal ini berpacaran. Penelitian ini berusaha menyorot dampak konten digital terhadap fenomena tren pacaran dini gen alpha di sekolah dasar. Metode yang digunakan berupa studi fenomenologis berpendekatan kualitatif, dengan teknik pengambilan data berupa wawancara pada 34 subjek, observasi, dan dokumentasi. Pengambilan data tersebut dilakukan di tiga sekolah dengan karakteristik tersendiri tetapi memiliki satu pengikat yakni sekolah yang terdigitalisasi, baik itu di kota, daerah transisi, maupun desa. Hasil menunjukkan pemberian akses digitalisasi pada anak, turut membawa konten-konten digital yang memicu perilaku pacaran dini di usia sekolah dasar. Termasuk membuat konten itu sendiri. Berbagai persoalan lanjutan juga timbul seperti turunnya fokus belajar, emosional, bahkan sampai melanggar aturan agama. Dalam konteks ini, pendidikan karakter dan bimbingan dari guru sekolah dasar dan orang tua sangatlah diperlukan. Pada kondisi di lapangan, beberapa strategi dan solusi sudah dan akan digerakan seperti dengan adanya pengawasan, proteksi digital, pendidikan agama, pendidikan seksual, hingga bekerja sama dengan pihak eksternal. Kesimpulannya pacaran dini adalah satu fenomena yang tak terhindarkan di era digital, tetapi sekolah dan keluarga bisa berkolaborasi bersama dalam mencegah maupun menanganinya.
Various challenges in character education in elementary schools come along with digitalization, including the phenomenon of early dating carried out by the alpha generation in elementary schools. They are digital natives who are inseparable from the digital content that is increasingly consumed. As a result, they have a tendency to imitate adult behavior, in this case dating. This study attempts to highlight the impact of digital content on the phenomenon of the early dating trend of the alpha generation in elementary schools. The method used is a phenomenological study with a qualitative approach, with data collection techniques in the form of interviews with 34 subjects, observation, and documentation. The data collection was carried out in three schools with their own characteristics but with one link, namely digitalized schools, whether in cities, transition areas or villages. The results show that providing access to digitalization for children also brings digital content that triggers early dating behavior at elementary school age. Including creating the content itself. Various follow-up problems also arise such as decreased focus on learning, emotionality, and even violating religious rules. In this context, character education and guidance from elementary school teachers and parents are very necessary. In conditions on the ground, several strategies and solutions have been and will be implemented, such as monitoring, digital protection, religious education, sexual education, and collaborating with external parties. In conclusion, early dating is an unavoidable phenomenon in the digital era, but schools and families can collaborate together in preventing and handling it