91757 research outputs found
Sort by
MENINGKATKAN GERAK DASAR SENAM LANTAI MERODA MELALUI MEDIA TALI KARET DI SDN CIBOGO
Penelitian ini dilakukan berdasarkan permasalahan dari banyaknya siswa di SDN CIBOGO yang kesulitan menguasai gerakan dasar senam lantai meroda, penelitian ini mencoba menerapkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat dan rasa percaya diri siswa dalam pembelajaran senam lantai meroda, metode yang digunakan adalah menerapkan pembelajaran senam lantai meroda melalui media tali karet. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian siswa kelas IV SD CIBOGO. Basil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah dilaksanakannya pembelajaran melalui media tali karet mulai dari pra siklus, siklus I dan siklus II. Basil setelah dilaksanakan siklus I dan II menunjukkan nilai siswa meningkat dari jumlah siswa awal yang tuntas hanya 5 siswa atau 31,25% dengan nilai terendah 44. meningkat signifikan menjadi 15 siswa atau sekitar 93,75% siswa yang tuntas. Dan siswa yang belum tuntas sebanyak 1 siswa atau 6,25%. Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran senam meroda balik melalui media tali karet dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran pendidikanjasmani, kesehatan dan olahraga, materi senam lantai meroda.
This study was conducted based on the problem ofmany students at SDN CIBOGO who have difficulty mastering the basic movements offloor gymnastics somersaults, this study tries to apply learning that can foster students' interest and self-confidence in learning floor gymnastics somersaults, the method used is to applyfloor gymnastics learning somersaults through rubber rope media. This study is a classroom action research with research subjects ofgrade IV students ofSD CIBOGO. The results ofthe study showed an increase in student learning outcomes after learning through rubber rope media startingfrom pre-cycle, cycle I and cycle II. The results after cycles I and II showed that student scores increasedfrom the initial number ofstudents who completed only 5 students or 31.25% with the lowest score of 44. increased significantly to 15 students or around 93. 75% ofstudents who completed. And students who have not completed as many as 1 student or
6.25%. So it can be concluded that the method of learning floor gymnastics somersaults through rubber rope media can improve student learning outcomes in
physical education, health and sports learning, floor gymnastics material somersaults
PENGARUH TEKNIK TOTAL-TASK PRESENTATION MELALUI MEDIA KONKRET UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MAKAN PADA REMAJA DOWN SYNDROME DI SLB YPDP BANDUNG
Masalah keterampilan bina diri pada individu berkebutuhan khusus masih sering ditemukan di lingkungan sekolah, salah satunya masalah keterampilan makan menggunakan sendok pada remaja Down syndrome. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh teknik total-task presentation melalui media konkret terhadap peningkatan keterampilan makan pada remaja Down syndrome di SLB YPDP Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode eksperiman dengan pendekatan single-subject research (SSR) menggunakan desain A-B-A. Subjek penelitian berjumlah satu yaitu remaja Down syndrome. Teknik pengumpulan data menggunakan instrument tes perbuatan dan observasi. Olah data melalui analisis visual menggunakan grafik garis dalam kondisi dan antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan keterampilan makan dari rata-rata skor 69,23% pada fase baseline 1 (A1), kemudian mencapai skor tertinggi 90,38% saat fase intervensi (B). Namun, terjadi penurunan skor menjadi 88, 46% pada fase baseline 2 (A2) yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan kondisi subjek. Kesimpulan dari penelitian ini adalah teknik total-task presentation melalui media konkret memberikan pengaruh dalam meningkatkan keterampilan makan menggunakan sendok pada remaja Down syndrome. Implikasinya guru dan orang tua dalam pembelajaran dapat menggunakan teknik Total-Task Presentation menggunakan media konkret untuk meningkatkan keterampilan makan menggunakan sendok pada remaja Down syndrome.
Kata kunci: keterampilan makan menggunakan sendok, total-task presentation, Down Syndrome, bina diri, Single-Subject Research
Self-care skill problems in individuals with special needs are still commonly found in school environments, one of which is the difficulty of eating using a spoon among adolescents with Down Syndrome. This study aimed to determine the effect of the total-task presentation technique through concrete media on improving spoon-feeding skills in adolescents with Down Syndrome at SLB YPDP Bandung. The research used an experimental method with a single-subject research (SSR) approach and an A-B-A design. The research subject was one adolescent with Down Syndrome. Data were collected through performance tests and observation. Data were analyzed using visual analysis with line graphs within and between conditions. The results showed an improvement in eating skills from an average score of 69.23% in the first baseline phase (A1), reaching the highest score of 90.38% during the intervention phase (B). However, there was a slight decrease to 88.46% in the second baseline phase (A2), caused by environmental factors and the subject's condition. The conclusion of this study is that the total-task presentation technique through concrete media has an effect on improving spoon-feeding skills in adolescents with Down syndrome. The implication is that both teachers and parents can apply this technique to support the development of spoon-feeding skills in adolescents with Down Syndrome.
Keywords: Spoon-feeding skills, total-task presentation, Down syndrome, self-care, Single-Subject Researc
PENGARUH SOCIAL PRESENCE TERHADAP PURCHASE INTENTION MELALUI CUSTOMER TRUST PADA LIVE STREAMING SHOPPING TIKTOK @DDHIVAAAA
Penelitian ini mengkaji pengaruh social presence terhadap purchase intention melalui customer trust dalam konteks live streaming shopping di TikTok @ddhivaaaa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan kuesioner, melibatkan 130 responden, serta dianalisis menggunakan PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social presence berperan penting dalam membangun customer trust, dan customer trust secara signifikan meningkatkan purchase intention. Namun, social presence of viewers tidak berpengaruh signifikan terhadap trust in streamer, dan trust in streamer tidak memediasi hubungan antara keduanya. Sebagian besar pengaruh social presence terhadap purchase intention terbukti dimediasi oleh customer trust, baik pada produk maupun streamer. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun kehadiran sosial yang kredibel dalam live streaming untuk meningkatkan kepercayaan dan mendorong niat beli. Pelaku live commerce disarankan menciptakan interaksi responsif, memperkuat citra streamer, serta menyampaikan informasi produk secara jujur dan persuasif.
This study examines the influence of social presence on purchase intention through customer trust in the context of live streaming shopping on TikTok @ddhivaaaa. The research employed a quantitative approach using questionnaires, involving 130 respondents, and was analyzed using PLS-SEM. The results show that social presence plays an important role in building customer trust, and customer trust significantly enhances purchase intention. However, the social presence of viewers does not have a significant effect on trust in the streamer, and trust in the streamer does not significantly mediate the relationship between them. Most of the influence of social presence on purchase intention is mediated by customer trust, both in products and in the streamer. These findings highlight the importance of establishing a strong and credible social presence during live streaming sessions to foster trust and drive purchase intention. Live commerce practitioners are advised to create responsive interactions, strengthen the streamer’s personal image, and deliver product information honestly and persuasively
EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO ANIMASI BERBANTUAN MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI SISWA FASE B SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan menulis karangan narasi siswa Fase B sekolah dasar, yang ditandai dengan kesulitan menyusun teks narasi yang runtut, mengembangkan ide cerita, serta menerapkan struktur dan unsur narasi secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas media pembelajaran video animasi berbantuan model pembelajaran Discovery Learning dalam meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan quasi-eksperimental dan desain non-equivalent control group design. Sampel penelitian terdiri dari 40 siswa kelas IV yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu 20 siswa pada kelas eksperimen dan 20 siswa pada kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes menulis karangan narasi yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Teknik analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas, uji-t, uji Mann-Whitney, dan analisis N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan keterampilan menulis yang lebih signifikan dibandingkan kelas kontrol, dengan nilai rata-rata N-Gain sebesar 0,59 (kategori sedang) pada kelas eksperimen dan 0,15 (kategori rendah) pada kelas kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan media video animasi berbantuan model Discovery Learning efektif dalam membantu siswa memahami struktur narasi, mengembangkan ide, dan menyusun karangan secara runtut dan kreatif.
This research was motivated by the low narrative writing skills of Phase B elementary school students, as indicated by difficulties in composing coherent narrative texts, developing story ideas, and applying narrative structure and elements appropriately. The aim of this study was to determine the effectiveness of animated video-based learning media assisted by the Discovery Learning model in improving students’ narrative writing skills. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental method and a non-equivalent control group design. The sample consisted of 40 fourth-grade students, divided into two groups: 20 students in the experimental class and 20 students in the control class. The research instrument was a narrative writing test administered before and after the treatment. Data analysis techniques included normality test, homogeneity test, t-test, Mann–Whitney test, and N-Gain analysis. The results showed that the experimental class experienced a more significant improvement in narrative writing skills compared to the control class, with an average N-Gain score of 0.59 (medium category) in the experimental class and 0.15 (low category) in the control class. These findings indicate that the use of animated video-based learning media assisted by the Discovery Learning model is effective in helping students understand narrative structure, develop ideas, and compose narratives in a coherent and creative
TEACHERS’ CODE-SWITCHING IN PROMOTING CLASSROOM INTERACTION: A Study of a Bilingual Classroom Program
Penelitian ini mengkaji penggunaan alih kode oleh guru dalam program kelas bilingual untuk meningkatkan interaksi di kelas. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis alih kode yang paling dominan digunakan oleh guru bilingual serta menganalisis fungsinya dengan menggunakan kerangka Foreign Language Interaction (FLINT). Meskipun banyak penelitian sebelumnya telah membahas fungsi umum alih kode, penelitian yang secara khusus menyoroti jenis alih kode yang paling sering digunakan guru serta menelaah fungsinya dalam memfasilitasi interaksi kelas masih terbatas. Untuk mengisi kesenjangan tersebut, penelitian kualitatif ini dilakukan di sebuah SMP swasta di Indonesia dengan
melibatkan tiga guru bilingual yang mengajar mata pelajaran IPA, matematika, dan bahasa Inggris. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode intra-sentensial merupakan jenis yang paling sering digunakan di ketiga mata pelajaran dan berperan penting dalam memfasilitasi interaksi dengan siswa. Jenis alih kode ini terbukti menjadi strategi yang efektif dalam mendorong pembelajaran interaktif di lingkungan kelas bilingual.
This study examines teachers’ use of code-switching in a bilingual classroom program to promote classroom interaction. It focuses on identifying the dominant type of code-switching employed by bilingual teachers and analyzing its function through the Foreign Language Interaction (FLINT) framework. While many previous studies have explored the general functions of code-switching, there is still limited research that focuses on the dominant type of code-switching most frequently used by teachers and further examines its specific function in facilitating classroom interaction. To address this gap, a qualitative case study was conducted
at a private junior high school in Indonesia involving three bilingual subject teachers of science, mathematics, and English. Data were collected through classroom observations, interviews, and document analysis. The findings show that
intra-sentential code-switching was the most frequently used type across all subjects and played a key role in facilitating interaction with students. This type of code-switching proved to be an effective strategy for promoting interactive learning in the bilingual classroom setting
STUDI EKSPLORATIF STRATEGI PENCEGAHAN PERUNDUNGAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI 027 BENGKULU UTARA PADA SISWA DENGAN LATAR BELAKANG EKONOMI
The high number of violence cases in Indonesia, reaching 19,628 by 2024, is a worrying problem among children, making them vulnerable to becoming victims of bullying, abuse, oppression, intimidation, and social exclusion. Bengkulu Province, located on the island of Sumatra, also faces serious challenges related to bullying cases among children, especially in North Bengkulu Regency, where the level of bullying in educational institutions, especially elementary schools, is still very high. The purpose of this study is to explore the strategies used by schools to prevent bullying in schools. This study uses an exploratory method because the problems studied are not numerous and the boundaries are not clear. Data collection techniques include interviews, observations, and documentation studies. The results of the study show that: (1) the forms of verbal and physical bullying that occur are not merely spontaneous actions, but are part of a social process influenced by economic inequality, weak social control, low emotional attachment, and minimal internalization of moral values in schools. (2) The factors causing bullying are still complex. Economic limitations create exclusive social relations and give rise to symbolic standards in friendship, which if not met will trigger exclusion. (3) The three prevention efforts carried out by schools, such as character and restorative approaches, have not fully touched the root of the problem due to limited communication with parents, the absence of a structured prevention system, and the absence of affirmative policies for poor students. Referring to Hirschi's social control theory, weakening social ties (attachment, involvement, commitment, belief) increases the opportunity for deviation to occur.
Keywords: Bullying, Economic background, Bullying preventio
STRATEGI PEMBINAAN ETIKA DASAR DI SEKOLAH SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN HABITUS SISWA: Studi Kasus di SMA Negeri 15 Bandung
Etika dasar merupakan seperangkat prinsip dan nilai moral yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di suatu lingkungan salah satunya di lingkungan sekolah. Sekolah berperan dalam membentuk siswa agar memiliki sikap patuh dan disiplin terhadap aturan yang telah ditetapkan, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya permasalahan yang dapat memicu munculnya perilaku menyimpang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan selama delapan bulan, wawancara tidak terstruktur dengan Wakasek kesiswaan, guru BK, wali kelas, guru piket, kepala sekolah dan siswa, serta dokumentasi berupa foto dan video. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan model Miles dan Huberman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk sosialisasi etika dasar, bentuk pelanggaran etika dasar, strategi pembinaan, serta hambatan dalam proses pembinaan etika dasar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sosialisasi formal dan sosialisasi informal. Pelanggaran etika dasar di sekolah ini tergolong pada perilaku menyimpang ringan seperti berkata kasar kepada teman, tidak mendengarkan dan bermain Hp guru menjelaskan materi, dan tidur saat jam pelajaran berlangsung. Strategi pembinaan yang diberikan sekolah menggunakan pendekatan preventif, kuratif dan persuasive humanis. Adanya hambatan dari dalam sekolah dan luar sekolah dalam proses pembinaan ini sepertinya kurangnya kerja sama antar guru, perbedaan pendapat antar guru, orang tua yang tidak mendukung, dan pergaulan siswa diluar sekolah. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembinaan etika dasar di sekolah sebagai pengendalian sosial dilingkungan sekolah dan pembentukan habitus siswa di masa depan.
Basic ethics is a set of moral principles and values that serve as guidelines for attitudes and actions in accordance with prevailing norms in a given environment, including schools. Schools play a role in shaping students' adherence to and discipline toward established rules, with the goal of preventing problems that could trigger deviant behavior. This research used a qualitative approach with a case study design. Data collection techniques were conducted through participant observation for eight months, unstructured interviews with the Vice Principal for Student Affairs, the Guidance and Counseling teacher, homeroom teachers, on-duty teachers, the principal, and students, as well as documentation in the form of photos and videos. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions based on the Miles and Huberman model. This study aims to examine the forms of socialization of basic ethics, forms of violations of basic ethics, development strategies, and obstacles in the process of developing basic ethics for students. The results of the study indicate that there is formal and informal socialization. Violations of basic ethics in this school are classified as mild deviant behavior such as swearing at friends, not listening and playing with cell phones while the teacher explains the material, and sleeping during class hours. The coaching strategy provided by the school uses a preventive, curative, and persuasive humanist approach. There are obstacles from within and outside the school in this coaching process such as a lack of cooperation between teachers, differences of opinion between teachers, unsupportive parents, and students' social interactions outside of school. This study emphasizes the importance of fostering basic ethics in schools as social control in the school environment and in shaping students' future habitus
Dampak Pendekatan Keterampilan Adaptasi dan Fleksibilitas pada Anak Usia Dini
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bagaimana peran guru, faktor, tantangan, serta dampak pengenalan nilai-nilai dasar keterampilan adaptasi dan fleksibilitas pada anak usia dini melalui pembelajaran STEAM. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Mix Methode desain Concurrent Embedded dengan partisipan dua orang guru dan 11 anak usia 4-5 tahun di PAUD Labshool UPI kampus Purwakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, catatan anekdot, dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu, teknik analisis data kualitatif menggunakan teknik Miles and Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan teknik analisis data kuantitatif yaitu ex post facto. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa dalam proses pengenalan keterampilan adaptasi dan fleksibilitas pada anak melalui pembelajaran STEAM, guru memiliki peranan penting dalam membangun lingkungan terstruktur, penyeimbang proses pembelajaran, memberi ruang eksplorasi bagi anak. Pembelajaran STEAM di PAUD Labschool UPI kampus Purwakarta berdampak signifikan terhadap keterampilan adaptasi dan fleksibilitas pada anak. Sebanyak 92% indikator keterampilan adaptasi dan fleksibilitas muncul dalam perilaku anak. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengenalan keterampilan adaptasi dan fleksibilitas pada anak melalui pembelajaran STEAM yaitu minat anak, kolaborasi antar siswa, transisi dan variasi, serta penerapan pembelajaran STEAM. Dalam proses pengenalan keterampilan adaptasi dan fleksibilitas teridentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi guru diantaranya yaitu keterbatasan fokus anak dan egosentri anak.
-----
This study aims to analyze and describe the roles of teacher, factors, and challenges encountered in introducing the fundamental values of adaptation and flexibility skills to early childhood through STEAM learning. The research method used in this study is a Mixed Method Concurrent Embedded design with participants of two teachers and 11 children aged 4-5 years at PAUD Labshool UPI Purwakarta campus. Data collection techniques used interviews, observations, anecdotal notes, and documentation. Data analysis techniques in this study are divided into 2, namely, qualitative data analysis techniques using the Miles and Huberman technique, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. While the quantitative data analysis technique is ex post facto. Based on the research results obtained, it states that in the process of introducing adaptation and flexibility skills to children through STEAM learning, teachers have an important role in building a structured environment, balancing the learning process, providing space for exploration for children. STEAM learning at PAUD Labschool UPI Purwakarta campus has a significant impact on adaptation and flexibility skills in children. As many as 92% of indicators of adaptation and flexibility skills appear in children's behavior. Factors that need to be considered in introducing adaptation and flexibility skills to children through STEAM learning include children's interests, collaboration between students, transitions and variations, and the implementation of STEAM learning. In the process of introducing adaptation and flexibility skills, challenges faced by teachers were identified, including limited focus and egocentrism
MEDIA ARTICULATE STORYLINE UNTUK BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA DI SEKOLAH DASAR
keterampilan berpikir kreatif peserta didik pada materi sistem pernapasan pada manusia. Media Articulate Storyline merupakan salah satu jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran interaktif yang memungkinkan penggabungan beberapa jenis media pembelajaran seperti video, teks, atau grafik, sambil memberikan interaksi dengan peserta didik. Desain penelitian yang digunakan adalah metode Design-Based Research. Tahapan Design-Based Research yaitu Identifikasi dan analisis masalah, perancangan solusi, percobaan berulang dalam pengujian dan penyempurnaan rancangan, dan refleksi untuk menghasilkan prinsip-prinsip desain dan implementasi. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan angket. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif sesuai prosedur pengembangan. Sampel penelitian yaitu peserta didik kelas V di SDN 3 Sukamenak Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya. Berdasarkan hasil penelitian media pembelajaran Articulate Storyline sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran IPA, khususnya pada materi sistem pernapasan manusia proses pembelajaran lebih interaktif, kontekstual, dan kreatif di sekolah dasar. Media ini dapat dijadikan alternatif solusi pembelajaran berbasis teknologi yang selaras dengan tuntutan kurikulum abad ke-21 dan prinsip Merdeka Belajar.
This research aims to produce Articulate Storyline media for students' creative thinking skills on the topic of the human respiratory system. Articulate Storyline media is a type of media that can be used in interactive learning, allowing the integration of various types of learning media such as videos, texts, or graphics, while providing interaction with students. The research design used is the Design-Based Research method. The stages of Design-Based Research include problem identification and analysis, solution design, iterative testing and refinement of the design, and reflection to produce design and implementation principles. The data collection methods used were observation, interviews, and questionnaires. The data analysis technique was conducted using qualitative descriptive analysis according to the development procedure. The research sample consisted of fifth-grade students at SDN 3 Sukamenak, Purbaratu District, Tasikmalaya City. Based on the research results, the Articulate Storyline learning media is very effective in the science learning process, especially on the human respiratory system material, making the learning process more interactive, contextual, and creative in primary schools. This media can be an alternative solution for technology-based learning that aligns with the demands of the 21st-century curriculum and the principles of merdeka belajar
BIMBINGAN KARIER BERDASARKAN PROFIL KESADARAN KARIER PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR : Studi Deskriptif di SD Laboratorium Percontohan Universitas Pendidikan Indonesia Tahun Ajaran 2024/2025.
Peserta didik sekolah dasar berada pada tahap perkembangan menuju masa remaja awal sehingga tugas perkembangan sebaiknya mampu dilalui dengan baik, yaitu memiliki wawasan dan kesiapan karir, seperti kesadaran karier. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan rumuskan program bimbingan karier berdasarkan profil kesadaran karier peserta didik sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan desain cross-sectional study. Pengumpulan data menggunakan instrumen kesadaran karier yang dikembangkan dengan pengujian keterbacaan, rasional, dan empiris. Penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh yang melibatkan seluruh peserta didik kelas IV dan V SD Laboratorium Percontohan Universitas Pendidikan Indonesia sebanyak 121 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan peserta didik kelas IV dan V SD Laboratorium Percontohan Universitas Pendidikan Indonesia memiliki kesadaran karier di kategori tinggi. Hasil penelitian ini menjadi dasar penyusunan program bimbingan karier berdasarkan Panduan Operasional Penyelanggaraan Bimbingan dan Konseling (POP BK) untuk mengoptimalkan kesadaran karier.
Elementary school students are in the early adolescent developmental stage, so they should be able to complete their developmental tasks well, namely having career insight and readiness, such as career awareness. The aim of this research is to produce a career guidance program formulation based on awareness of the career profiles of elementary school students. This study used a quantitative approach with a survey method and a cross-sectional study design. Data collection used a career awareness instrument developed through readability, rationality, and empirical testing. This study used a saturated sampling technique involving all 121 students in grades IV and V of the Elementary School Laboratory Pilot School, Universitas Pendidikan Indonesia. The results showed that overall, students in grades IV and V of the Elementary School Laboratory Pilot School, Universitas Pendidikan Indonesia had a high level of career awareness. The results of this study serve as the basis for developing a career guidance program based on the Operational Guidelines for Implementation of Career Guidance