91757 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENATAAN TEMPAT DUDUK FORMASI “CHEVRON” TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR IPAS SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
Aktivitas belajar siswa merupakan salah satu indikator penting keberhasilan proses pembelajaran. Namun pada pelaksanaannya, aktivitas belajar siswa masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penataan tempat duduk formasi chevron terhadap aktivitas belajar pada mata pelajaran IPAS siswa kelas IV SD. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain quasi experiment jenis non-equivalent control group design. Subjek penelitian terdiri dari 50 siswa, dengan 25 siswa di kelas eksperimen dan 25 siswa di kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui lembar observasi aktivitas belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan aktivitas belajar pada kelas eksperimen setelah penerapan formasi chevron, serta perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol. Nilai N-Gain pada kelas eksperimen berada pada kategori sedang, sedangkan kelas kontrol pada kategori rendah. Dengan demikian, formasi tempat duduk chevron terbukti efektif meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPAS.
Student learning activity is one of the key indicators of the success of the learning process. However, in practice, student learning activity is still relatively low. This study aims to determine the effect of chevron seating arrangement on learning activity in the Natural and Social Sciences (IPAS) subject of fourth-grade elementary school students. The research method employed was quantitative with a quasi-experimental design, specifically the non-equivalent control group design. The research subjects consisted of 50 students, with 25 students in the experimental class and 25 students in the control class. Data were collected using student learning activity observation sheets and analyzed using paired sample t-test and independent sample t-test. The results showed a significant increase in learning activity in the experimental class after the implementation of the chevron seating arrangement, as well as a significant difference between the experimental and control classes. The N-Gain value in the experimental class was in the medium category, while the control class was in the low category. Thus, the chevron seating arrangement proved effective in enhancing student learning activity in the IPAS subject
RANCANG BANGUN MULTIMEDIA INTERAKTIF DENGAN GAYA BELAJAR KOLB UNTUK MENINGKATKAN ANALYTICAL THINKING SISWA SMK
Mata Pelajaran informatika materi algoritma dan pemrograman merupakan salah satu materi yang sulit untuk dipelajari karena didapatkan masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi algoritma dan pemrograman. Dengan kemampuan berpikir analitis dapat membantu siswa dalam mempelajari materi algoritma dan pemrograman. Tidak hanya itu gaya belajar siswa juga dapat membantu dalam mempelajari sesuatu yang mana gaya belajar setiap individu berbeda-beda. Gaya belajar seseorang tidak terfokus pada satu gaya belajar, tetapi cenderung membentuk kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu. Adapun untuk membantu siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media yang penggunanya dapat mengatur alur media secara langsung yang bernama multimedia interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang multimedia interaktif berbasis android dengan gaya belajar kolb untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah R&D (Research and Development) dengan model pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluate). Dari penelitian ini diperoleh hasil: (1)Didapatkan kenaikan nilai rerata pretest kemampuan berpikir analitis yang semula sebesar 52,35% menjadi 66,43% pada hasil posttest dengan gain rerata sebesar 0,296. (2)Peserta didik memberikan repons positif terkait media pembelajaran dengan nilai sebesar 73% sehingga media pembelajaran mendapat klasifikasi “Baik”. Sehingga dapat disimpulkan penerapan multimedia interaktif dengan gaya belajar kolb dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa
ANALISIS DEKONSTRUKTIF GEN-Z TERHADAP MAKNA PERNIKAHAN DAN RELEVANSINYA DENGAN FENOMENA LIVING TOGETHER: Studi Kasus Tren #MarriageIsScary pada Platform TikTok
Tren #MarriageIsScary yang ramai diperbincangkan di TikTok mencerminkan ketakutan dan keraguan generasi Z terhadap institusi pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang konstruksi makna pernikahan melalui pendekatan dekonstruktif berdasarkan teori dekonstruksi sosial Jacques Derrida dengan fokus pada persepsi Gen-Z. Jenis penelitian skripsi ini adalah penelitian kualitatif eksploratif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam kepada 11 narasumber yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan cara analisis tematik dengan mengelompokkan data ke dalam beberapa kodifikasi tematik yang kemudian divisualisasikan menggunakan diagram Sankey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dipersepsikan tidak lagi sebagai prioritas yang harus dilakukan, melainkan sebagai pilihan rasional yang penuh dengan pertimbangan atas ruang penuh tekanan, ketidakpastian, dan ekspektasi sosial yang membebani. Studi ini juga diperkuat oleh kajian literatur yang membahas teori dekonstruksi sosial Jacques Derrida, serta perubahan nilai-nilai pernikahan dalam konteks masyarakat digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketakutan terhadap pernikahan di kalangan Gen-Z merupakan bentuk resistensi terhadap narasi normatif dan idealisasi institusi pernikahan yang selama ini dominan.
Kata kunci : dekonstruksi sosial, Gen-Z, #MarriageIsScary, norma, pernikahan,
The #MarriageIsScary trend that is widely discussed on TikTok reflects Generation Z's fears and doubts about the institution of marriage. This study aims to re-examine the construction of the meaning of marriage through a deconstructive approach based on Jacques Derrida's theory of social deconstruction with a focus on Gen-Z's perceptions. This thesis research type is exploratory qualitative research. Data was obtained through in-depth interviews with 11 informants determined using purposive sampling techniques. Data analysis was carried out using thematic analysis by grouping data into several thematic codifications which were then visualized using a Sankey diagram. The results of the study show that marriage is no longer perceived as a priority that must be done, but rather as a rational choice that is full of considerations over a space full of pressure, worry, and boring social expectations. This study is also strengthened by a literature review that discusses Jacques Derrida's theory of social deconstruction, as well as changes in marriage values in the context of a digital society. This study concludes that fear of marriage among Gen-Z is a form of resistance to the normative narrative and idealization of the institution of marriage that has been dominant so far.
Keywords: Gen-Z, marriage, #MarriageIsScary, norms, social deconstruction
PENGARUH ACADEMIC SELF CONCEPT DAN STUDENT ENGAGEMENT TERHADAP PRESTASI AKADEMIK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SISWA SMA DI BANDUNG
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Academic Self-Concept (ASC) dan Student Engagement (SE) terhadap prestasi akademik siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat Sekolah Menengah Atas. Latar belakang penelitian didasari oleh pentingnya memahami faktor psikologis dan motivasional yang berkontribusi terhadap keberhasilan belajar siswa, khususnya dalam konteks pembelajaran agama. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui angket terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, serta disebarkan kepada 247 siswa kelas XI di salah satu SMA unggulan di Kota Bandung. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ASC siswa berada pada kategori sedang (73,7%) dan tinggi (26,3%), sedangkan tingkat SE berada pada kategori tinggi (51,0%) dan sedang (48,2%). Prestasi akademik siswa pada mata pelajaran PAI didominasi kategori baik (43%) dan sangat baik (34%). Uji F menunjukkan bahwa ASC dan SE secara simultan berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik PAI (F = 14,619; p < 0,001). Namun, uji t mengindikasikan bahwa hanya ASC yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik (β = 0,357; p < 0,001), sedangkan SE tidak berpengaruh signifikan (p = 0,362). Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,107 menunjukkan bahwa ASC dan SE secara bersama-sama menjelaskan 10,7% variasi prestasi akademik siswa. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya penguatan persepsi diri akademik siswa melalui strategi pembelajaran PAI yang mampu menumbuhkan keyakinan atas kemampuan akademiknya, sementara pengaruh SE memerlukan kajian lebih lanjut untuk memahami dinamika keterlibatan siswa dalam konteks pembelajaran agama.
This study investigates the influence of Academic Self-Concept (ASC) and Student Engagement (SE) on students’ academic achievement in Islamic Religious Education (IRE) at the senior high school level. Recognizing the significance of psychological and motivational factors in shaping learning outcomes, a quantitative survey design was employed. Data were obtained through a validated and reliable questionnaire administered to 247 eleventh-grade students in a top-performing high school in Bandung, Indonesia. Multiple linear regression was applied for data analysis. Findings indicate that ASC levels were predominantly moderate (73.7%) or high (26.3%), while SE levels were high (51.0%) or moderate (48.2%). Academic achievement was largely classified as good (43%) or very good (34%). The F-test confirmed that ASC and SE jointly exerted a significant effect on academic achievement (F = 14.619; p < 0.001). However, the t-test revealed that only ASC had a positive and significant effect (β = 0.357; p < 0.001), whereas SE was not significant (p = 0.362). The model explained 10.7% of the variance in students’ academic achievement. These results highlight the pivotal role of enhancing students’ academic self-perception through IRE pedagogy, while further research is needed to clarify the limited impact of SE in this context
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA ANIMASI BERBASIS AUGMENTED REALITY TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATERI BIOTEKNOLOGI KULTUR JARINGAN TUMBUHAN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya penguasaan konsep dan motivasi belajar siswa pada materi bioteknologi kultur jaringan tumbuhan karena materinya bersifat abstrak dan sulit untuk divisualisasikan dengan media konvensional. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis Pengaruh Penggunaan Media Animasi Berbasis Augmented reality Terhadap Penguasaan Konsep Dan Motivasi Belajar Siswa Pada Materi Bioteknologi Kultur Jaringan Tumbuhan. Metode penelitian yang digunakan yaitu quasi experiment dengan desain penelitiannya nonequivalen control group design. Penelitian dilakukan di dua kelas dengan dengan jumlah partisipan masing-masing sebanyak 32 siswa di kelas X SMA Negeri Kota Cimahi. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan berupa penggunaan media animasi berbasis augmented reality dan kelas kontrol berupa penggunaan video digital. Adapun teknik pengumpulan data yaitu berupa tes penguasaan konsep dan kusioner motivasi belajar siswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur penguasaan konsep berupa soal pilihan ganda, kuesioner untuk mengukur motivasi belajar siswa, dan kuesioner untuk tanggapan siswa sebagai data tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media animasi berbasis augmented reality tidak berpengaruh signifikan terhadap penguasaan konsep dan motivasi belajar siswa. Hal ini disebabkan karena penggunaan video digital sudah cukup baik untuk meningkatkan penguasaan konsep dan motivasi belaajar siswa. Meskipun tidak berpengaruh signifikan, penggunaan media animasi berbasis augmented reality memiliki efektivitas lebih tinggi dalam meningkatkan penguasaan konsep setiap jenjang kognitifnya daripada penggunaan video digital. Selain itu, penggunaan media animasi berbasis augmented reality juga dapat meningkatkan persentase kategori tinggi motivasi belajar siswa sebesar 3,1%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media animasi berbasis augmented reality dapat menjadi media pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bioteknologi kultur jaringan tumbuhan.
This research was motivated by the low mastery of concepts and students' learning motivation in the material of plant tissue culture biotechnology because the material is abstract and difficult to visualize with conventional media. The purpose of this study was to analyze the Effect of Using Augmented Reality-Based Animation Media on Students' Mastery of Concepts and Learning Motivation in the Material of Plant Tissue Culture Biotechnology. The research method used was a quasi-experimental research design with a nonequivalent control group design. The study was conducted in two classes with 32 participants each in grade X of Cimahi City State Senior High School. In the experimental class, treatment was given in the form of the use of augmented reality-based animation media and the control class in the form of the use of digital video. The data collection techniques were in the form of a concept mastery test and a questionnaire on student learning motivation. The research instruments used to measure concept mastery were in the form of multiple choice questions, a questionnaire to measure student learning motivation, and a questionnaire for student responses as additional data. The results of the study indicate that the use of augmented reality-based animation media does not have a significant effect on students' mastery of concepts and learning motivation. This is because the use of digital video was good enough to improve students' mastery of concepts and learning motivation. Although not significantly effective, the use of augmented reality-based animation media was more effective in improving conceptual mastery at each cognitive level than digital video. Furthermore, the use of augmented reality-based animation media also increased the percentage of students in the high learning motivation category by 3.1%. The study concluded that the use of augmented reality-based animation media can be an innovative learning medium to improve the quality of learning in plant tissue culture biotechnology
PEMANFAATAN WEBSITE LITERACY CLOUD SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI SD KELAS V
Teknologi hampir menyelimuti seluruh bagian pendidikan, seperti terjadi peralihan media pembelajaran ke dalam bentuk digital, namun faktanya tidak sedikit guru yang kesulitan dalam menentukan media pembelajaran digital. Website literacy cloud dapat dimanfaatkan oleh siswa maupun guru dalam membantu proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan website literacy cloud sebagai media pembelajaran di SD kelas V. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, angket terbuka dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan seluruh siswa kelas V B di SD Negeri Sindang IV. Hasil penelitian menunjukkan hasil yang sangat baik. Hasil merujuk pada guru yang mampu menggunakan website literacy cloud hingga mengintegrasikannya pada mata pelajaran pendidikan pancasila. Guru mengungkapkan sempat mengalami kendala dalam memadukan website literacy cloud dengan mata pelajaran pendidikan pancasila, namun pada prosesnya guru mampu mengatasi kendala tersebut. Ditandai dengan seluruh siswa yang memberikan tanggapan positif terhadap pemanfaatan literacy cloud dalam pembelajaran. Siswa merasa terbantu dalam menginterpretasikan pemahaman mereka, khususnya pada mata pelajaran pendidikan pancasila. Siswa merasakan nuansa yang baru, nyaman dan menyenangkan ketika belajar. Website literacy cloud ini sangat direkomendasikan untuk berbagai kalangan seperti anak-anak, orang tua maupun guru untuk diperkenalkan kepada siswanya baik sebagai media pembelajaran ataupun alternatif bacaan. Berdampak pada kegiatan pembelajaran yang akan lebih menyenangkan, membantu terjalinnya interaksi antara guru dengan siswa dan memberikan pengalaman belajar dengan nuansa yang berbeda.
Technology has almost enveloped all parts of education, such as the transition of learning media into digital form, but in fact there are not a few teachers who have difficulty in determining digital learning media. The literacy cloud website can be utilized by students and teachers in assisting the learning process. This study aims to determine the utilization of the literacy cloud website as a learning media in grade V elementary schools. This research uses a qualitative approach with a case study method. The data collection techniques used were observation, interviews, open-ended questionnaires and documentation. The subjects in this study were teachers and all students of class V B at SD Negeri Sindang IV. The results showed very good results. The results refer to teachers who are able to use the literacy cloud website to integrate it into Pancasila education subjects. The teacher revealed that he had experienced obstacles in integrating the literacy cloud website with Pancasila education subjects, but in the process the teacher was able to overcome these obstacles. Marked by all students who gave positive responses to the use of literacy cloud in learning. Students feel helped in interpreting their understanding, especially in Pancasila education subjects. Students feel a new, comfortable and fun nuance when learning. This literacy cloud website is highly recommended for various groups such as children, parents and teachers to introduce to their students either as a learning medium or alternative reading. Impact on learning activities that will be more fun, help establish interaction between teachers and students and provide learning experiences with different nuances
RELEVANSI BUKU TEKS IPAS UNTUK MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS SISWA FASE B SEKOLAH DASAR
Kemampuan literasi sains siswa sangat bergantung pada faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan proses pembelajaran, seperti sistem pendidikan yang digunakan, peran guru, pemilihan jenis model pembelajaran, metode, strategi pengajaran, gaya belajar siswa, serta penggunaan buku teks sebagai sumber belajar. Di antara berbagai faktor-faktor penting dalam proses pembelajaran, buku teks sebagai sumber belajar memainkan peran yang sangat signifikan dalam mempengaruhi literasi sains. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi buku teks IPAS fase B untuk mengembangkan literasi sains siswa sekolah dasar, yang mencakup kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah atau fenomena ilmiah, memahami konsep-konsep sains, menerapkan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari, menggunakan bukti ilmiah, serta menerapkan nilai dan sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten terhadap dua buku teks IPAS fase B, yaitu kelas III dan IV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks fase B memperoleh skor rata-rata relevansi sebesar 73,33% yang termasuk dalam kategori cukup. Namun, dari segi penyajian konten pada buku yang merefleksikan indikator buku teks yang memuat literasi sains, belum terakomodasi secara optimal. Beberapa kelemahan ditemukan pada tidak adanya penyajian konten mengenai hukum, teori, belum dikenalkannya profesi di bidang sains dan teknologi, serta tersajinya kegiatan yang melibatkan perhitungan dan penyajian tabel maupun lembar kerja dalam buku siswa.
Students’ scientific literacy skills are highly influenced by factors directly related to the learning process, such as the education system, the role of teachers, the choice of instructional models, teaching methods and strategies, students’ learning styles, and the use of textbooks as learning resources. Among these various factors, textbooks play a significant role in shaping students’ scientific literacy. This study aims to analyze the relevance of IPAS textbooks in enhancing scientific literacy of phase B elementary students, which includes students’ abilities to identify scientific problems or phenomena, understand scientific concepts, apply scientific concepts in life, use scientific evidence, and demonstrate scientific values and attitudes in daily decision-making and behavior. This research employed a qualitative approach with content analysis methods on two IPAS phase B textbooks, namely for grades III and IV. The results showed that the phase B textbooks obtained an average relevance score of 73,33%, which falls into the fair category. However, not all indicators of textbook scientific literacy are optimally accommodated in the presentation of content. Several shortcomings were identified, including the absence of content on scientific laws and theories, lack of exposure to technological professions, and the limited inclusion of activities involving calculation, data tables, and student worksheets in the textbooks
ANALISIS BUKU BERGAMBAR TEMA TUMBUHAN DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN LITERASI LINGKUNGAN PADA ANAK USIA DINI : Analisis Konten terhadap Buku Cerita Bergambar Anak Usia Dini dengan Tema Tumbuhan
Permasalahan lingkungan hidup yang semakin kompleks memerlukan perhatian sejak dini, termasuk melalui pendidikan literasi lingkungan bagi anak usia dini. Anak usia dini berada dalam tahap perkembangan yang kritis untuk menanamkan nilai-nilai peduli lingkungan melalui media yang sesuai, seperti buku bergambar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi buku bergambar bertema tumbuhan dalam menumbuhkan kesadaran literasi lingkungan pada anak usia dini. Metode yang digunakan adalah analisis konten dengan pendekatan deskriptif. Objek penelitian terdiri dari tiga buku cerita bergambar anak yang bertema tumbuhan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan analisis teks naratif serta ilustrasi visual, dengan kategori yang mengacu pada indikator literasi lingkungan anak usia dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga buku
bergambar mengandung unsur yang berkontribusi terhadap pengembangan kesadaran literasi lingkungan, terutama dalam hal pengenalan jenis tumbuhan, hubungan manusia dengan alam, dan nilai-nilai tanggung jawab menjaga lingkungan. Namun demikian, tidak semua buku secara eksplisit menanamkan pesan keberlanjutan atau aksi nyata terhadap lingkungan. Kesimpulannya, ketiga buku cerita bergambar memiliki potensi sebagai media edukatif dalam menumbuhkan literasi lingkungan pada anak usia dini dan memiliki kelebihan masing-masing dari setiap aspek alur cerita, ilustrasi dan bahasa. Rekomendasi atas penelitian ini adalah perlunya kolaborasi antara penulis, pendidik, dan orang tua dalam mengembangkan buku bergambar agar buku bergambar anak dibuat lebih menarik dan berisi pesan-pesan lingkungan yang mudah dipahami dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari anak.
----------
Environmental issues are becoming increasingly complex and require early attention, including through environmental literacy education for early childhood. Early childhood is a critical stage of development for instilling environmental awareness values through appropriate media, such as picture storybooks. This study aims to analyze the content of plant-themed picture books in fostering environmental literacy awareness in young children. The method used is content analysis with a descriptive approach. The research objects consist of three children’s picture storybooks with a plant theme. Data collection techniques were carried out through documentation and analysis of narrative texts and visual illustrations, using categories based on early childhood environmental literacy indicators. The results of the study show that all three picture books contain elements that contribute to the development of environmental literacy awareness, particularly in terms of introducing plant species, human-nature relationships, and values of environmental responsibility. However, not all of the books explicitly convey messages of sustainability or real actions for the environment. In conclusion, the three picture books have the potential to serve as educational media in fostering environmental literacy in early childhood, and each offers strengths in aspects such as storyline, illustrations, and language. Based on the findings, it is recommended that writers, educators, and parents collaborate in developing children's picture books that are more engaging and contain environmental messages that are easy for children to understand and apply in their daily lives
IMPLEMENTASI PENDEKATAN OPEN-ENDED DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMK
Siswa membutuhkan kemampuan pemahaman, komunikasi matematis, dan kemandirian belajar yang memadai dalam pembelajaran matematika. Namun, ketiga aspek tersebut masih belum optimal pada siswa SMK. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan alternatif, salah satunya adalah pendekatan open-ended. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pendekatan open-ended pada materi barisan dan deret guna meningkatkan pemahaman matematis, komunikasi matematis, dan kemandirian belajar siswa SMK. Berbeda dengan pendekatan langsung yang berpusat pada guru dan latihan terstruktur, pendekatan open-ended mendorong siswa untuk mengeksplorasi berbagai solusi secara mandiri. Penelitian menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI pada salah satu SMK di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dengan sampel 72 siswa dari dua kelas yang dipilih secara purposive sampling yaitu kelas XI TKJ 1 dan TKJ 2. Data dikumpulkan melalui tes uraian, kuesioner, wawancara, dan observasi, kemudian dianalisis dengan uji normalitas, homogenitas varians, dan perbedaan rerata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pendekatan open-ended lebih efektif daripada pendekatan langsung dalam meningkatkan pemahaman matematis siswa.; 2) siswa dengan KAM sedang dan rendah menunjukkan peningkatan pemahaman matematis lebih signifikan dibanding KAM tinggi melalui pendekatan open-ended; 3) pendekatan open-ended meningkatkan komunikasi matematis siswa lebih signifikan daripada pendekatan langsung; 4) siswa KAM sedang dan rendah mengalami peningkatan komunikasi matematis lebih baik dengan open-ended dibanding KAM tinggi; 5) pendekatan open-ended meningkatkan kemandirian belajar siswa lebih signifikan daripada pendekatan langsung; 6) siswa KAM sedang-rendah menunjukkan peningkatan kemandirian belajar lebih tinggi dengan open-ended dibanding KAM tinggi; dan 7) tidak ada interaksi signifikan antara pembelajaran dan KAM terhadap pemahaman atau komunikasi matematis, namun ada interaksi pada kemandirian belajar. Temuan ini memperlihatkan efektivitas pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika pada materi barisan dan deret di SMK, terutama dalam mengembangkan kemampuan eksplorasi solusi.
Students need adequate understanding, mathematical communication, and self-regulated learning skills in learning mathematics. However, these three aspects are still not optimal in vocational students. To overcome this, an alternative approach is needed, one of which is the open-ended approach. This study aims to examine the implementation of the open-ended approach to the material of rows and sequences to improve mathematical understanding, mathematical communication, and self-regulated learning of vocational students. Unlike the teacher-centered direct approach and structured exercises, the open-ended approach encourages students to explore various solutions independently. The study employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design. The population comprised 11th-grade students from an SMK in Pandeglang District, Banten Province. A sample of 72 students was selected through purposive sampling, consisting of two classes (11th-grade TKJ 1 and TKJ 2). Data were collected using essay tests, questionnaires, interviews, and classroom observations. Subsequently, the data were analyzed through normality tests, homogeneity of variance tests, and mean difference tests. The results of the study indicate that: 1) the open-ended approach is more effective than the direct approach in improving students' mathematical understanding; 2) students with moderate and low KAM show a more significant increase in mathematical understanding than those with high KAM through the open-ended approach; 3) the open-ended approach improves students' mathematical communication more significantly than the direct approach; 4) students with moderate and low KAM experience better improvement in mathematical communication with the open-ended approach than those with high KAM; 5) the open-ended approach significantly improved students' self-regulated learning more than the direct approach; 6) students with moderate to low KAM showed higher improvement in self-regulated learning with the open-ended approach than those with high KAM; and 7) there was no significant interaction between learning and KAM on mathematical understanding or communication, but there was interaction on self-regulated learning. These findings demonstrate the effectiveness of the open-ended approach in mathematics learning on sequences and series in vocational high schools, particularly in developing solution exploration skills
PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP SUHU PERMUKAAN LAHAN DI SEKITAR BENDUNGAN JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANG MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH
Pembangunan Bendungan Jatigede di Kabupaten Sumedang telah memberikan dampak signifikan terhadap perubahan bentang lahan dan kondisi termal wilayah sekitarnya. Perubahan tutupan lahan berpotensi memengaruhi suhu permukaan lahan (land surface temperature), terutama karena alih fungsi lahan vegetatif menjadi kawasan terbangun atau badan air. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kondisi tutupan lahan tahun 2009, 2017, dan 2024; (2) menganalisis perubahan suhu permukaan lahan; serta (3) mengkaji pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap suhu permukaan lahan di sekitar Bendungan Jatigede. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan penginderaan jauh melalui analisis citra Landsat 5 TM dan Landsat 8 OLI/TIRS menggunakan supervised classification dan algoritma mono-window. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan signifikan pada tutupan lahan, khususnya peningkatan luas badan air dan permukiman, serta penurunan hutan dan sawah. Kenaikan badan air diikuti oleh penurunan suhu permukaan lahan di sekitarnya, sedangkan alih fungsi hutan dan sawah menjadi permukiman dan tanah terbuka menyebabkan peningkatan suhu. Uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan berpengaruh terhadap variasi suhu permukaan lahan dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,021 untuk periode 2009–2017, 0,193 untuk periode 2017–2024, dan 0,255 untuk periode 2009–2024. Temuan ini mengindikasikan bahwa konversi lahan, terutama dari hutan dan sawah menjadi permukiman dan tanah terbuka, berkontribusi pada peningkatan suhu permukaan lahan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pengelolaan tata ruang yang mempertahankan tutupan vegetasi, khususnya di wilayah tangkapan air bendungan, sebagai langkah mitigasi terhadap peningkatan suhu di masa mendatang.
The construction of the Jatigede Reservoir in Sumedang Regency has significantly impacted land cover changes and the thermal conditions of the surrounding area. Land cover change has the potential to affect land surface temperature (LST), particularly due to the conversion of vegetated areas into built-up areas or water bodies. This study aims to: (1) analyze land cover conditions in 2009, 2017, and 2024; (2) analyze changes in land surface temperature; and (3) examine the influence of land cover change on LST around the Jatigede Dam. A quantitative approach was applied using remote sensing analysis of Landsat 5 TM and Landsat 8 OLI/TIRS imagery through supervised classification and the mono-window algorithm. The results indicate significant land cover changes, particularly an increase in water bodies and settlements, alongside a decrease in forest and paddy fields. The expansion of water bodies was followed by a decrease in LST in nearby areas, while the conversion of forests and paddy fields into settlements and bare land resulted in an increase in LST. Simple linear regression analysis shows that land cover change affects variations in LST, with a coefficient of determination (R²) of 0.021 for the 2009–2017 period, 0.193 for 2017–2024, and 0.255 for 2009–2024. These findings indicate that land conversion—particularly from forests and paddy fields to settlements and bare land—contributes to the increase in LST. Therefore, spatial planning policies that maintain vegetation cover, especially in dam catchment areas, are necessary as a mitigation measure against future temperature increases