Indonesia University of Education

Repository UPI
Not a member yet
    91757 research outputs found

    STRATEGI BUDAYA UNTUK PENGUATAN IDENTITAS: Perkembangan Kesenian Gambang Kromong Komunitas Cina Benteng di Kota Tangerang Tahun 1967-2022

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai perkembangan kesenian Gambang Kromong Komunitas Cina Benteng di Kota Tangerang sebagai strategi budaya dalam mempertahankan dan memperkuat identitas mereka. Kesenian Gambang Kromong merupakan kesenian tradisional hasil akulturasi budaya Tionghoa dan budaya Betawi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses akulturasi dan strategi budaya yang dilakukan oleh komunitas Cina Benteng di Tangerang dalam memperkuat identitas budayanya.Penelitian ini menggunakan metode historis yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu studi pustaka dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan strategi yang digunakan oleh Komunitas Cina Benteng dalam mempertahankan identitasnya yaitustrategi akulturasi dan adaptasi budaya. Akulturasi dalam kesenian Gambang Kromong diantaranya terjadi pada aspek musik dan instrumen, lagu, dan tarian Cokek yang beradaptasi dengan kebudayaan Betawi. Selain itu, kesenian Gambang kromong mengalami perkembangan dan transformasi. Melalui adaptasi instrumen musik dan liriklagunya, kesenian Gambang Kromong dapattetap terjaga eksistensinya ditengah perubahan zaman yang semakin modern. Kesimpulannya,kesenian Gambang Kromong menjadi simbol identitas dan sarana mempertahankan kebudayaan komunitas Cina Benteng di Tangerang. Kata Kunci: Gambang Kromong, Cina Benteng, Akulturasi, Adaptasi, Identitas Budaya. ABSTRACT This research examines the development of Gambang Kromong art within the Cina Benteng community in Tangerang Cisty as a cultural strategy for preserving and strengthening their identity. Gambang Kromong is a traditional art form tahat emerged from, the acculturation beetween Chinese and Betawi cultures. The purpose of this research is to analyze the process of acculturation and cultural strategies employed by the Cina Benteng community in Tangerang to reinforce their cultural identity. This research adopts a historical method consisting of heuristics, source sriticism, interpretation, and historiography. Data Collection techniquesinclude literature review and interviews. The findings reveal that the strategies used by the Cina Benteng community to maintain their identity involve acculturation and cultural adaptation approaches.Acculturation in the art of Gambang Kromong includes aspects of music and instruments, songs, and Cokek dances that adapt to Betawi Culture. Futhermore, the Gambang Kromong art form has undergone development and transformation. By adapting musical instruments and song lyrics, Gambang Kromong has managed to sustain its existence amidst rapid modernization. In conclusion, Gambang Kromong serves as both a cultural identity symbol and a medium for preserving the heritage of the Cina Benteng community in Tangerang. Keywords: Gambang Kromong, Cina Benteng, Acculturation, Adaptation, Cultural Identity

    ANALISIS KETERAMPILAN MENGGAMBAR DIGITAL MENGGUNAKAN SKETCHBOOK PADA MATERI UNSUR RUPA KELAS V SEKOLAH DASAR: Penelitian Kualitatif pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas V di SDN Cangkuang 03 Kecamatan Rancaekek

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan Kurikulum Merdeka yang mengharuskan integrasi teknologi dalam pembelajaran, termasuk dalam Seni Budaya. Di era digital, pemanfaatan teknologi menjadi keharusan agar siswa dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran menggambar digital menggunakan aplikasi Sketchbook pada materi unsur rupa serta bagaimana keterampilan siswa dalam menerapkan unsur-unsur seni rupa secara digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Cangkuang 03 Kecamatan Rancaekek yang berjumlah 19 orang. Instrumen penelitian terdiri dari observasi, angket, serta dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, keterampilan menggambar siswa menggunakan aplikasi Sketchbook menunjukkan variasi penguasaan dalam berbagai aspek. Pada aspek penguasaan fitur aplikasi, 19 siswa telah menguasai fitur Marker, 16 siswa menguasai fitur pustaka warna, dan 4 siswa menguasai fitur alat lainnya. Pada aspek penguasaan unsur seni rupa, seluruh siswa mampu menerapkan unsur titik, garis, bentuk, dan bidang, sementara 17 siswa menguasai unsur warna, 7 siswa menguasai unsur tekstur, dan hanya 2 yang menguasai unsur gelap terang. Selain itu, pada aspek penggunaan touchscreen, sebanyak 17 siswa telah menguasai proses menggambar menggunakan perangkat digital. ------- This research is motivated by the demands of the Merdeka Curriculum which requires the integration of technology in learning, including in Cultural Arts. In the digital era, the use of technology is a must so that students can develop according to the times. This study aims to determine how the learning process of digital drawing using the Sketchbook application on visual element material and how students' skills in applying the elements of fine art digitally. This research uses a qualitative approach. The participants in this study were the fifth grade students of SDN Cangkuang 03 Rancaekek District, totaling 19 people. The research instruments consisted of observation, questionnaire, and documentation. Based on the research results, students' drawing skills using the Sketchbook application show variations in mastery in various aspects. In the aspect of mastering application features, 19 students have mastered the Marker feature, 16 students mastered the color library feature, and 4 students mastered other tool features. In the aspect of mastering the elements of fine art, all students were able to apply the elements of point, line, shape, and plane, while 17 students mastered the elements of color, 7 students mastered the elements of texture, and only 2 mastered the elements of dark and light. In addition, in the aspect of using touchscreen, 17 students have mastered the drawing process using digital devices. Keywords: Digital drawing, Sketchbook, visual elements, student skills

    MODEL RESOLUSI KONFLIK BERBANTUAN MEDIA KAIN PERCA TERHADAP SIKAP MENGHARGAI KARYA ORANG LAIN: Penelitian Model pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas VI di SDN Cangkuang 03 Kecamatan Rancaekek

    Full text link
    Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) di sekolah dasar tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pengembangan sikap dan keterampilan. Salah satu sikap penting yang perlu dikembangkan adalah sikap menghargai karya orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan penerapan model resolusi konflik berbantuan media kain perca dalam meningkatkan sikap menghargai karya orang lain pada siswa kelas VI SD. Penelitian ini dilakukan karena masih rendahnya kesadaran siswa dalam menghargai hasil karya teman, yang terlihat dari kurangnya apresiasi dan masih adanya sikap meremehkan dalam pembelajaran seni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Cangkuang 03 Kecamatan Rancaekek yang berjumlah 16 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model resolusi konflik berbantuan kain perca memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam bekerja sama dan memahami pentingnya menghargai karya orang lain. Proses pembelajaran dengan model ini mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok, saling mendukung dalam pembuatan karya, dan mengapresiasi hasil teman-temannya. Penelitian ini memberikan implikasi bagi guru untuk mengadopsi pendekatan berbasis seni dan resolusi konflik dalam pembelajaran SBdP. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan berkarya tetapi juga membangun nilai-nilai positif dalam kehidupan sosialnya. ------ Learning Cultural Arts and Crafts (SBdP) in elementary schools does not only focus on cognitive aspects, but also on developing attitudes and skills. One of the important attitudes that need to be developed is the attitude of respect for the work of others. This study aims to analyze and describe the application of the conflict resolution model assisted by patchwork media in improving the attitude of respect for the work of others in grade V students. This research was conducted because of the low awareness of students in appreciating the work of friends, which can be seen from the lack of appreciation and there is still a dismissive attitude in art learning. This research used a qualitative method with a descriptive approach. The participants in this study were the fifth grade students of SDN Cangkuang 03, Rancaekek District, totaling 16 people. Data collection techniques were conducted through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The results showed that the application of the patchwork-assisted conflict resolution model gave students direct experience in working together and understanding the importance of appreciating the work of others. The learning process with this model encourages students to actively participate in group discussions, support each other in making works, and appreciate the results of their friends. This research provides implications for teachers to adopt an art-based approach and conflict resolution in SBdP learning. Thus, students not only develop creative skills but also build positive values in their social life

    PENGEMBANGAN PROGRAM PELATIHAN PANGGILAN JIWA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING

    Full text link
    Robbani Alfan. 2025. Pengembangan Program Pelatihan Panggilan Jiwa Guru Bimbingan dan Konseling. Disertasi. Dibimbing oleh Prof. Dr. M Solehuddin, M.Pd., M.A (Promotor), Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd (Ko-promotor), dan Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd (Anggota). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Kekhasan profesi guru bimbingan dan konseling (BK) tercermin pada salah satu identitas profesionalnya yaitu panggilan jiwa. Perkembangan panggilan jiwa menjadi esensial bagi kesejahteraan psikologi guru BK dan kualitas layanan yang diselenggarakan untuk peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan program pelatihan panggilan jiwa guru BK. Program pelatihan dengan pendekatan pembelajaran naratif dikembangkan melalui tiga tahap dalam strategi Educational Design Research, yaitu (1) analisis dan eksplorasi masalah seputar panggilan jiwa guru BK, (2) perancangan dan konstruksi program pelatihan hingga tersusun buku panduan, dan (3) evaluasi dan refleksi melalui uji coba micro-cycle (2 kali iterasi). Konstruk panggilan jiwa guru BK diukur menggunakan Inventori Panggilan Jiwa (IPJ). Untuk memperoleh gambaran panggilan jiwa, inventori yang telah valid dan reliable tersebut disebarkan kepada 126 Guru BK di Provinsi Banten dan tahap uji coba melibatkan total 15 guru BK. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan IPJ dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif berbasis modus. Data kualitatif dikumpulkan menggunakan pedoman observasi dan rekaman video dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan 61,1% guru BK telah mencapai tahap keempat atau tahap tertinggi perkembangan panggilan jiwa, yaitu tahap menjalani panggilan jiwa (living a calling). Indikator panggilan jiwa yang paling berkembang yaitu indikator tujuan bermakna, hasrat mendalam, orientasi prososial dan keberlanjutan. Indikator perintah transenden dan pengorbanan ditemukan belum berkembang optimal di sebagian besar guru BK. Perbedaan jenis kelamin dan usia responden memperlihatkan perbedaan kecenderungan panggilan jiwa. Sebaliknya, kecenderungan panggilan jiwa berdasarkan latar belakang pendidikan dan sertifikasi tidak tampak berbeda. Penelitian juga menghasilkan program pelatihan panggilan jiwa yang fisibel bagi guru bimbingan dan konseling. Hasil penelitian ini direkomendasikan kepada peneliti selanjutnya untuk pengujian efektivitas program pelatihan panggilan jiwa

    PERAMALAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) MENGGUNAKAN MODEL VAR-TARCH

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan peramalan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan model Vector Autoregressive (VAR) - Threshold Autoregressive Conditional Heteroskedastic (TARCH). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data harian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Harga Emas Berjangka, Harga Minyak Mentah WTI Berjangka, dan Nilai Tukar Dollar AS terhadap Rupiah Indonesia mulai dari bulan Oktober 2021 sampai Oktober 2024. Pemilihan model VAR-TARCH didasarkan pada karakteristik data keuangan yang cenderung fluktuatif dan memiliki efek asimetris. Tahapan analisis pada penelitian ini meliputi uji stasioneritas, analisis VAR, uji white noise, uji ARCH-LM, penaksiran model ARCH/GARCH, uji signifikansi model ARCH/GARCH, uji Sign Bias Test, estimasi parameter TARCH, uji signifikansi TARCH, hingga evaluasi keakuratan peramalan menggunakan nilai MAPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model VAR(2)-TARCH(1,1) mampu menangkap pola pergerakan IHSG dengan baik, ditunjukkan oleh nilai MAPE dibawah 10% yaitu sebesar 5,7173%. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa model VAR-TARCH dapat menjadi alat yang efektif untuk melakukan peramalan IHSG. This study aims to forecast the Indonesia Composite Index (IDX Composite) using the Vector Autoregressive (VAR) - Threshold Autoregressive Conditional Heteroskedastic (TARCH) model. The data used in this research consists of daily data from the Indonesia Composite Index (IDX Composite), Gold Futures Prices, WTI Crude Oil Futures Prices, and the US Dollar to Indonesian Rupiah Exchange Rate from October 2021 to October 2024. The selection of the VAR-TARCH model is based on the characteristics of financial data, which tends to be fluctuative and exhibits laverage effects. There are several stages in this study include stationarity tests, VAR analysis, white noise tests, ARCH-LM tests, ARCH/GARCH model estimation, ARCH/GARCH model significance tests, Sign Bias Tests, TARCH parameter estimation, TARCH significance tests, and forecasting accuracy evaluation using MAPE values. The results show that the VAR(2)-TARCH(1,1) model effectively captures the IDX Composite movement patterns, demonstrated by a MAPE value below 10%, specifically 5.7173%. These findings indicate that the VAR-TARCH model can be an effective tool for forecasting the IDX Composite

    PENGEMBANGAN KARAKTER GOTONG ROYONG PROFIL PELAJAR PANCASILA DALAM SENI BELA DIRI PENCAK SILAT

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mengembangkan karakter gotong royong siswa melalui pembelajaran pencak silat berbasis media pop-up video. Desain penelitian menggunakan model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) dengan pendekatan mixed method yang mengintegrasikan data kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian melibatkan 30 siswa Madrasah Ibtidaiyah Tarunajaya. Instrumen penelitian berupa angket, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk mengukur perkembangan karakter siswa. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dan n-gain, sementara data kualitatif digunakan untuk memperkuat temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pop-up video efektif meningkatkan nilai-nilai gotong royong siswa. Skor rata-rata meningkat signifikan dari 9,1 pada pretest menjadi 16,0 pada posttest, dengan peningkatan rata-rata 75,82%. Uji paired sample t-test menunjukkan nilai p < 0,000, menandakan perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi. Analisis n-gain dengan rata-rata 0,68 mengindikasikan efektivitas sedang hingga tinggi. Selain itu, observasi menunjukkan peningkatan interaksi sosial, kerja sama, dan sikap saling membantu di antara siswa setelah intervensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran pencak silat berbasis media pop-up video mampu memperkuat karakter gotong royong siswa. Metode ini juga relevan dengan Profil Pelajar Pancasila, terutama dalam membangun solidaritas dan kerja sama. Hasil ini memberikan rekomendasi bagi pendidik untuk menggunakan media inovatif dalam pembelajaran karakter, khususnya di tingkat sekolah dasar. Kata Kunci : Karakter Gotong Royong,Pencak Silat,Media Pop-Up This study aims to develop students' mutual cooperation character through pencak silat learning based on pop-up video media. The research design uses the 4D model (Define, Design, Develop, Disseminate) with a mixed method approach that integrates qualitative and quantitative data. The subjects of the study involved 30 students of Madrasah Ibtidaiyah Tarunajaya. The research instruments in the form of questionnaires, observations, and documentation were used to measure the development of students' character. Quantitative data were analyzed using paired sample t-test and n-gain tests, while qualitative data were used to strengthen the findings. The results showed that pop-up video media was effective in increasing students' mutual cooperation values. The average score increased significantly from 9.1 in the pretest to 16.0 in the posttest, with an average increase of 75.82%. The paired sample t-test showed a p value <0.000, indicating a significant difference between before and after the intervention. The n-gain analysis with an average of 0.68 indicated moderate to high effectiveness. In addition, observations showed an increase in social interaction, cooperation, and mutual assistance among students after the intervention. This study concluded that the pop-up video media-based pencak silat learning approach was able to strengthen students' mutual cooperation character. This method is also relevant to the Pancasila Student Profile, especially in building solidarity and cooperation. These results provide recommendations for educators to use innovative media in character learning, especially at the elementary school level. Keywords: Mutual Cooperation Character, Pencak Silat, Pop-Up Medi

    PERBANDINGAN TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA EKSTRAKURIKULER FUTSAL DAN PENCAK SILAT DI SMA NEGERI 19 BANDUNG

    Full text link
    Tujuan penelitian ini untuk menguji perbandingan tingkat kebugaran jasmani siswa ekstrakurikuler futsal dan pencak silat di SMA Negeri 19 Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deksriptif dengan desain komparatif. Populasi dalam penelitian ini siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal dan pencak silat di SMAN 19 Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Sampel yang digunakan dalam pelitian ini 15 siswa ekstrakurikuler futsal dan 15 siswa ekstrakurikuler pencak silat. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen Tes Kebugaran Pelajar Nusantara (TKPN). Hasil penelitian menunjukan bahwa kebugaran ekstrakurikuler futsal termasuk dalam kateori baik dengan hasil capaian akhir 3,3 sedangkan kebugaran ekstrakurikuler pencak silat termasuk dalam kategori kurang dengan hasil capaian akhir 1,9. Perbandingan tingkat kebugaran jasmani siswa ekstrakurikuler futsal dan pencak silat berdasarkan hasil uji independent sample t-test menyatakan nilai Sig sebesar 0,025 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kebugaran jasmani siswa ekstrakurikuler futsal dan pencak silat di SMA Negeri 19 Bandung. Kata Kunci: Kebugaran Jasmani, Futsal, Pencak Silat The purpose of this study was to examine the comparison of physical fitness levels of futsal and pencak silat extracurricular students at SMA Negeri 19 Bandung. This study used a descriptive quantitative approach with a comparative design. The population in this study were students who participated in extracurricular futsal and pencak silat at SMAN 19 Bandung. The sampling technique used Purposive Sampling. The samples used in this study were 15 futsal extracurricular students and 15 pencak silat extracurricular students. Data collection in this study used the Student Fitness Test Nusantara (TKPN) instrument. The results showed that futsal extracurricular fitness was included in the good category with the final achievement result of 3.3 while pencak silat extracurricular fitness was included in the poor category with the final achievement result of 1.9. Comparison of the level of physical fitness of futsal and pencak silat extracurricular students based on the results of the independent sample t-test test states a Sig value of 0.025 <0.05, it can be concluded that there is a significant difference between the level of physical fitness of futsal and pencak silat extracurricular students at SMA Negeri 19 Bandung. Keywords: Physical Fitness, Futsal, Pencak Sila

    INTEGRASI PENDEKATAN LIVING VALUES EDUCATION (LVE) MELALUI AKTIVITAS OLAHRAGA BELA DIRI UNTUK MENGEMBANGKAN SELF REGULATION REMAJA

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah mengkaji integrasi pendekatan Living Values Education (LVE) melalui aktivitas olahraga bela diri untuk mengembangkan self regulation remaja. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini merupakan remaja dengan rentang usia 16-18 tahun yang mengikuti aktivitas olahraga bela diri (karate, taekwondo, pencak silat) di Kota Bandung sebanyak 245 remaja. Sebanyak 71 sampel terpilih dalam penelitian ini menggunakan teknik stratified proportional random sampling. Setelah menentukan jumlah sampel, peneliti melakukan pengundian acak (random assigment) untuk membagi sampel ke dalam dua kelompok A1 (kelompok integrasi LVE) sebanyak 36 sampel dan kelompok A2 (kelompok tanpa integrasi LVE) sebanyak 35 sampel. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan self-regulation martial arts questionnaire (SR-MAQ) untuk mengukur self regulation remaja pada aspek perilaku, metakognitif dan motivasi. Hasil penelitian menunjukan (1) terdapat pengaruh integrasi pendekatan living values education (LVE) melalui aktivitas olahraga bela diri terhadap self regulation remaja, (2) terdapat pengaruh aktivitas olahraga bela diri tanpa integrasi pendekatan living values education LVE terhadap self regulation remaja, (3) terdapat perbedaan pengaruh integrasi living values education (LVE) dan tanpa integrasi living values education melalui aktivitas olahraga bela diri terhadap self regulation remaja. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah 1)Integrasi Living Values Education (LVE) melalui olahraga bela diri berpengaruh signifikan terhadap self-regulation remaja, 2) tanpa integrasi LVE dan dukungan pelatih yang kompeten, olahraga bela diri tidak efektif dalam mengembangkan self regulation pada remaja, 3) Integrasi Living Values Education (LVE) melalui aktivitas olahraga bela diri memberikan pengaruh yang berbeda secara signifikan terhadap self regulation remaja dibandingkan dengan tanpa integrasi LVE. The purpose of this study was to examine the integration of the Living Values Education (LVE) approach through martial arts activities to develop adolescent self-regulation. This study used an experimental method with a pretest-posttest control group design. The population in this study were adolescents aged 16-18 years who participated in martial arts activities (karate, taekwondo, pencak silat) in Bandung City, totaling 245 adolescents. A total of 71 samples were selected in this study using the stratified proportional random sampling technique. After determining the number of samples, the researcher conducted a random assignment to divide the samples into two groups A1 (LVE integration group) totaling 36 samples and group A2 (group without LVE integration) totaling 35 samples. The instrument in this study used the self-regulation martial arts questionnaire (SR-MAQ) to measure adolescent self-regulation in the aspects of behavior, metacognition and motivation. The results of the study showed (1) there is an influence of the integration of the living values education (LVE) approach through martial arts activities on adolescent self-regulation, (2) there is an influence of martial arts activities without the integration of the living values education LVE approach on adolescent self-regulation, (3) there is a difference in the influence of the integration of living values education (LVE) and without the integration of living values education through martial arts activities on adolescent self-regulation. The conclusion of this study is 1) Integration of Living Values Education (LVE) through martial arts has a significant effect on adolescent self-regulation, 2) without LVE integration and the support of competent coaches, martial arts are not effective in developing self-regulation in adolescents, 3) Integration of Living Values Education (LVE) through martial arts activities has a significantly different effect on adolescent self-regulation compared to without LVE integration

    IMPLEMENTASI ELLIPTIC CURVE DIGITAL SIGNATURE ALGORITHM DAN SECURE HASH ALGORITHM 256 PADA LOGIN AKUN DENGAN SISTEM TWO-FACTOR AUTHENTICATION

    Full text link
    Autentikasi dua faktor (2FA) merupakan metode keamanan yang semakin banyak digunakan untuk meningkatkan keamanan login akun. Penelitian ini membahas implementasi algoritma Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) dan Secure Hash Algorithm 256 (SHA 256) dalam sistem 2FA. ECDSA digunakan untuk menghasilkan tanda tangan digital sebagai bukti keaslian pengguna, sedangkan SHA 256 diterapkan dalam proses hashing untuk melindungi informasi sensitif, seperti username, password, dan kunci privat. Proses autentikasi terdiri dari dua tahap utama, yaitu verifikasi username dan password pengguna, serta validasi tanda tangan digital. Jika username dan password benar, server mengirimkan pesan acak kepada client untuk ditandatangani menggunakan kunci privat ECDSA, lalu hasil tanda tangan dikirim kembali ke server untuk diverifikasi menggunakan kunci publik. Implementasi dilakukan menggunakan bahasa pemrograman Python dengan penyimpanan berbasis file txt. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode ini mampu meningkatkan keamanan autentikasi dengan mencegah akses tanpa izin, meskipun masih memerlukan optimasi lebih lanjut dalam aspek efisiensi dan pengelolaan kunci privat. Selanjutnya, sistem ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan basis data untuk penyimpanan yang lebih aman, serta diimplementasikan dalam aplikasi berbasis web atau mobile agar lebih mudah diadopsi secara luas. Two-factor authentication (2FA) is a security method that is increasingly being used to improve account login security. This research discusses the implementation of the Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) and Secure Hash Algorithm 256 (SHA 256) algorithms in a 2FA system. ECDSA is used to generate digital signatures as proof of user authenticity, while SHA 256 is applied in the hashing process to protect sensitive information, such as usernames, passwords and private keys. The authentication process consists of two main stages, such as verifying the user's username and password, and validating the digital signature. If the username and password are correct, the server sends a random message to the client to be signed using the ECDSA private key, then the signature results are sent back to the server to be verified using the public key. Implementation is carried out using the Python programming language with txt file-based storage. Test results show that this method is able to increase authentication security by preventing unauthorized access, although it still requires further optimization in terms of efficiency and private key management. Furthermore, this system can be further developed by using a database for safer storage, as well as implemented in a web-based or mobile application to make it easier to adopt widely

    AKTIVITAS PEREKAYASAAN MOLEKUL PADA PERKULIAHAN KIMIA MATERIAL BERBASIS PENELITIAN UNTUK MENINGKATKAN LITERASI KEBERLANJUTAN MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN BERPIKIR SISTEM

    Full text link
    Literasi keberlanjutan sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami dan mengatasi masalah keberlanjutan. Hal ini melibatkan molecular basis of sustainability dari interaksi kimia dan transformasinya. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi perkuliahan kimia material berbasis penelitian yang terintegrasi aktivitas perekayasaan molekul untuk meningkatkan literasi keberlanjutan melalui pembelajaran berpikir sistem. Aktivitas perekayasaan molekul yang dilakukan berupa seleksi cairan ionik eutektik untuk ekstraksi logam menggunakan COSMO-RS. Metode penelitiannya adalah mixed method dengan exploratory sequential design yang dipadukan dengan Model of Educational Reconstruction (MER). Instrumen penelitiannya adalah lembar analisis konten, pedoman wawancara prakonsepsi, repertory grid, peta konsep, soal tes, dan angket persepsi mahasiswa. Desain pembelajaran yang dikembangkan terdiri dari 4 tahapan utama dengan konten pembelajaran berdasarkan hasil analisis konten dan wawancara prakonsepsi yang menunjukkan pemahaman awal mahasiswa tentang topik daur ulang material masih rendah. Rancangan desain pembelajaran yang dihasilkan berbasis Course-Based Undergraduate Research Experiences (CUREs) dan diimplementasikan kepada mahasiswa kimia dan calon guru kimia. Profil berpikir sistem dapat dilihat pada bagaimana mahasiswa mengaitkan elemen-elemen menjadi suatu konstruk dan mengaitkan konsep-konsep menjadi peta konsep. Berdasarkan analisis repertory grid, keterampilan berpikir sistem mahasiswa berada pada tingkat analisis (77,54%), sintesis (19,32%), dan implementasi (3,14%), kemudian analisis klaster fokus menggunakan Rep Plus V.2.0 menunjukkan kategori tinggi (5,56%), sedang (58,33%), dan rendah (36,11%). Hasil analisis peta konsep menunjukkan mahasiswa mampu membuat konsep berupa komponen (72,71%) dan proses (27,29%). Keberhasilan implementasi pembelajaran juga dapat dilihat dari nilai N-Gain rata-rata. Keterampilan berpikir sistem mahasiswa berada pada kategori sedang dengan mahasiswa kimia memperoleh N-Gain lebih besar (0,63) daripada calon guru kimia (0,54). Literasi keberlanjutan mahasiswa juga berada pada kategori sedang dengan mahasiswa kimia memperoleh N-Gain lebih besar (0,68) daripada calon guru kimia (0,60). Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa kimia lebih mampu mengembangkan kemampuan berpikir sistematis dalam menganalisis konsep daur ulang material sehingga dapat menghubungkannya dengan aspek-aspek keberlanjutan. Pendekatan ini berhasil meningkatkan literasi keberlanjutan mahasiswa. Sustainability literacy is essential for students to understand and address sustainability issues. This involves the molecular basis of sustainability from chemical interactions and their transformations. This study aims to reconstruct a research-based material chemistry course that is integrated with molecular engineering activities to improve sustainability literacy through systems thinking learning. The molecular engineering activity carried out was the selection of eutectic ionic liquids for metal extraction using COSMO-RS. The research method was a mixed method with exploratory sequential design combined with the Model of Educational Reconstruction (MER). The research instruments were content analysis sheets, preconception interview guidelines, repertory grids, concept maps, test questions, and student perception questionnaires. The learning design developed consisted of 4 main stages with learning content based on the results of content analysis and preconception interviews which showed that students' initial understanding of the topic of material recycling was still low. The resulting learning design was based on Course-Based Undergraduate Research Experiences (CUREs) and implemented to chemistry students and prospective chemistry teachers. The systems thinking profile can be seen in how students link elements into a construct and link concepts into a concept map. Based on the repertory grid analysis, students' systems thinking skills are at the level of analysis (77.54%), synthesis (19.32%), and implementation (3.14%), then focus cluster analysis using Rep Plus V.2.0 shows high categories (5.56%), medium (58.33%), and low (36.11%). The results of the concept map analysis show that students are able to create concepts in the form of components (72.71%) and processes (27.29%). The success of learning implementation can also be seen from the average N-Gain value. Students' systems thinking skills are in the medium category with chemistry students obtaining a greater N-Gain (0.63) than prospective chemistry teachers (0.54). Students' sustainability literacy is also in the medium category with chemistry students obtaining a greater N-Gain (0.68) than prospective chemistry teachers (0.60). This indicates that chemistry students are better able to develop systematic thinking skills in analyzing the concept of material recycling so that they can connect it to aspects of sustainability. This approach has succeeded in increasing students' sustainability literacy

    91,208

    full texts

    91,757

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository UPI is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇