91757 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENDEKATAN CONCRETE PICTORIAL ABSTRACT (CPA) BERBANTUAN TANGRAM TERHADAP KEMAMPUAN SPATIAL SENSE SISWA SEKOLAH DASAR: Penelitian Quasi Eksperimen pada Kelas IV SD Negeri 4 Nagrikaler di Kabupaten Purwakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan concrete pictorial abstract terhadap kemampuan spatial sense siswa pada mata pelajaran Matematika kelas IV di SD Negeri 4 Nagrikaler. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya kemampuan spatial sense siswa sekolah dasar, tercermin dari kesulitan siswa dalam memahami arah, ruang, dan bentuk, serta dalam memvisualisasikan objek geometri secara akurat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi-experiment). Sampel penelitian berjumlah 46 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan spatial sense. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan rata-rata yang signifikan antara kemampuan spatial sense siswa yang menggunakan pendekatan CPA dengan siswa yang menggunakan pendekatan saintifik. Rata-rata nilai post-test kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan concrete pictorial abstract berpengaruh positif terhadap kemampuan spatial sense siswa.
-----
This research aims to determine the effect of using the concrete pictorial abstract approach on students' spatial sense abilities in class IV Mathematics at SD Negeri 4 Nagrikaler. The background to this research is the low spatial sense abilities of elementary school students, reflected in students' difficulties in understanding direction, space and shape, as well as in visualizing geometric objects accurately. This research uses a quantitative approach with a quasi-experiment method. The research sample consisted of 46 students who were divided into two groups, namely the experimental class and the control class. The instrument used is a spatial sense ability test. The results of the research show that there is a significant difference in average improvement between the spatial sense abilities of students who use the CPA approach and students who use the scientific approach. The average post-test score for the experimental class was higher than the control class. Thus, it can be concluded that the concrete pictorial abstract approach has a positive effect on students' spatial sense abilities
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR : Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas V di Salah Satu Sekolah Dasar di Kabupaten Purwakarta Tahun Ajaran 2024/2025
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan abad 21, di mana keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah sangat dibutuhkan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh model Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen nonequivalent control group design. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di salah satu SDN di Kabupaten Purwakarta, adapun sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas VA dan VC di salah satu SDN di Kabupaten Purwakarta tahun ajaran 2024/2025 dengan total sampel 50 orang. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL), sementara kelas kontrol diberi perlakuan dengan menggunakan model Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD). Data dikumpulkan melalui instumen tes uraian pretest dan posttest yang disusun berdasarkan indikator Polya. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis secara signifikan pada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL). Temuan ini membuktikan bahwa model Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar.
-----
The low mathematical problem-solving ability of elementary school students has become a major concern in 21st-century education, where critical thinking and problem-solving skills ae essential. Based on this issue, this study aimed to analyze the effect of the Pproblem Based Learning (PBL) model on elementary school students’ mathematical problem-solving abilities. The research employed a quantitative approach with a quasi-experimental non-equivalent control group design. The population taken in this study were all fifth grade students in Purwakarta Regency. The sample of this study was VA and VC grade students at one of SDN in Purwakarta Regency in the 2024/2025 academic year with aa total sample of 50 people. The experimental class received treatment using the problem Based Learning (PBL) model, while the control class was taught using the Cooperative Type Student Teams Achievement Divisions (STAD) model. Data werw collected through pretest and posttest essay test based on Polya’s problem-solving indicators. The analysis showed a significant improvement in student’s mathematical problem-solving abilities in the Problem Based Learning (PBL) class compared to conventional instruction. These findings demonstrate that the Problem Based Learning (PBL) model is effective in enhancing mathematical problem-solving skills among elementary school students
PENINGKATAN KEMAMPUAN APRESIASI KRITIS CERPEN MELALUI PENDEKATAN RESPONS PEMBACA SISWA KELAS XI-3 SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI BANDUNG
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan apresiasi kritis terhadap cerpen pada siswa kelas XI-3 di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung dengan menggunakan pendekatan respons pembaca. Urgensi penelitian ini sangat penting, mengingat kemampuan apresiasi kritis siswa terhadap karya sastra, khususnya cerpen, menjadi kunci dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan respons pembaca dipilih karena memungkinkan siswa untuk terlibat lebih dalam menganalisis dan memahami cerpen melalui pengalaman pribadi dan interpretasi masing-masing. Penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas yang terdiri atas beberapa siklus, setiap siklus meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Jumlah responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah 22 siswa kelas XI-3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan respons pembaca efektif dalam meningkatkan kemampuan apresiasi kritis siswa. Pada siklus pertama, kemampuan apresiasi kritis siswa mulai mengalami peningkatan, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan dalam pemahaman dan analisis cerpen. Setelah perbaikan dalam strategi pembelajaran di siklus-siklus berikutnya, terlihat peningkatan signifikan dalam aspek pemahaman, interpretasi, dan penilaian kritis siswa terhadap cerpen. Pendekatan ini juga berhasil menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan mendorong siswa untuk berpikir kritis serta menyampaikan pendapat secara lebih terbuka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan respons pembaca dapat menjadi metode yang efektif dalam meningkatkan kemampuan apresiasi kritis cerpen pada siswa. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa pendekatan ini dapat dijadikan acuan bagi guru Bahasa Indonesia dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan mendorong partisipasi aktif siswa. Dengan penerapan pendekatan ini, diharapkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menanggapi karya sastra dapat semakin berkembang. This study aims to improve the critical appreciation skills of short story (cerpen) analysis among 22 students of class XI-3 at SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung by employing a reader response approach. The urgency of this research is significant, as developing critical appreciation skills for literary works, particularly short stories, is key to enhancing students' critical thinking abilities, which can be applied in everyday life. The reader response approach was selected because it allows students to engage more deeply in analyzing and understanding short stories through their personal experiences and interpretations. This research uses a classroom action research method, which consists of several cycles, each including planning, implementation, observation, and reflection stages. The results indicate that the reader response approach is effective in improving students' critical appreciation of short stories. In the first cycle, students' critical appreciation skills began to improve, although some gaps in understanding and analyzing the stories remained. After revisions to the teaching strategies in subsequent cycles, a significant improvement was observed in students' understanding, interpretation, and critical evaluation of the short stories. This approach also fostered a more interactive learning environment, encouraging students to think critically and express their opinions more openly. This study concludes that the reader response approach can be an effective method for enhancing students' critical appreciation skills in analyzing short stories. The implication of this research is that this approach can serve as a model for Indonesian language teachers in designing more interactive teaching strategies that promote active student participation. It is hoped that by applying this approach, students' critical thinking skills in responding to literary works will continue to develop
PENGARUH STRATEGI BRAIN BREAKS PADA PEMBELAJARAN MEMBACA TERHADAP KEMAMPUAN BERNALAR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR
Anak usia sekolah dasar cenderung memiliki rentang fokus yang pendek, sehingga sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian saat proses pembelajaran berlangsung. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan bernalar kritis siswa terutama dalam pembelajaran membaca pemahaman yang membutuhkan konsentrasi dan pemahaman yang mendalam. Brain Breaks dikenal sebagai salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengembalikan fokus seseorang dengan memberikan jeda atau dari aktivitas otak dan pikiran yang sedang dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan kemampuan bernalar kritis siswa yang menggunakan strategi Brain Breaks dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan strategi Sustained Cognitive Engagement. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan desain The Matching-Only Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel penelitian terdiri dari siswa kelas V dari dua sekolah dasar negeri di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes uraian untuk mengukur kemampuan bernalar kritis siswa pada pembelajaran membaca dengan materi fakta dan opini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Brain Breaks dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran membaca. Selain itu, terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan strategi Brain Breaks terhadap kemampuan bernalar kritis siswa. Perbedaan hasil juga terlihat antara kelompok ekperimen dan kelompok kontrol, di mana kelompok yang menggunakan strategi Brain Breaks menunjukkan skor bernalar kritis lebih tinggi. Dengan demikian, penggunaan strategi Brain Breaks dalam pembelajaran dapat menjadi alternatif yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang mendukung pengembangan kemampuan bernalar kritis siswa;
----------
Elementary school-aged children tend to have short attention spans, which often leads to difficulties in maintaining focus during the learning process. This condition can affect students' critical thinking skills, especially in reading comprehension, which requires sustained concentration and deep understanding. Brain Breaks are known as a strategy that can help restore focus by providing a break from ongoing mental and cognitive activities. This study aims to investigate the influence and differences in students’ critical thinking skills when using the Brain Breaks strategy compared to those who learn using the Sustained Cognitive Engagement strategy. The research employed a quasi-experimental method with a Matching-Only Pretest-Posttest Control Group Design. The research sample consisted of fifth-grade students from two public elementary schools in the Gedebage District, Bandung City. Data collection was conducted using essay tests to measure students’ critical thinking skills in reading lessons focused on facts and opinions. The results showed that the Brain Breaks strategy could be effectively implemented in reading instruction. Furthermore, there was a significant effect of the Brain Breaks strategy on students’ critical thinking skills. A notable difference was also observed between the experimental group and the control group, with the group using the Brain Breaks strategy achieving higher critical thinking scores. Therefore, the use of the Brain Breaks strategy in learning can serve as an alternative approach that supports the development of students' critical thinking skills
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW BERBANTUAN MEDIA WORDWALL TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN TEKS NONFIKSI SISWA SEKOLAH DASAR: Penelitian Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas V di SDN 1 Nagritengah Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta Tahun Ajaran 2024/2025
Penelitian dilakukan untuk melihat pentingnya kemampuan membaca pemahaman teks nonfiksi yang harus dikuasai oleh siswa sekolah dasar. Namun penguasaan siswa terhadap kemampuan ini rendah. Salah satu penyebab rendahnya adalah model pembelajaran yang digunakan guru di kelas belum menekankan keaktifan siswa dalam belajar. Tujuan penelitian ini untuk dapat mengetahui pengaruh dan peningkatan dengan tindakan dan kelompok yang berbeda dengan menggunakan empat indikator kemampuan membaca pemahaman untuk siswa kelas V sekolah dasar pada materi teks nonfiksi sejarah. Kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan media wordwall kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group dan jumlah sampel sebanyak 60 orang yang menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini mengumpulkan dua data yang akan dianalisis yaitu data tes berupa pre-test dan post-test sedangkan non tes berupa observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan membaca pemahaman teks nonfiksi siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan media wordwall lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD serta adanya pengaruh positif dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan media wordwall terhadap kemampuan membaca pemahaman teks nonfiksi siswa. Dengan demikian bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan media wordwall dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran khususnya pada kelas V materi teks nonfiksi sejarah.
-----
The study was conducted to see the importance of reading comprehension of nonfiction texts that must be mastered by elementary school students. However, students' mastery of this ability is low. One of the causes of the low level is that the learning model used by teachers in the classroom has not emphasized student activity in learning. The purpose of this study was to determine the influence and improvement through different actions and groups using four indicators of reading comprehension ability for fifth grade elementary school students on historical nonfiction text material. The experimental group used the Jigsaw cooperative learning model assisted by wordwall media, the control group used the STAD cooperative learning model. The research method used was a quasi-experimental with a non-equivalent control group design and a sample size of 60 people using the purposive sampling technique. This study collected two data to be analyzed, namely test data in the form of pre-test and post-test, while non-test data were in the form of observation and documentation. The results of the study showed that the increase in students' reading comprehension ability of non-fiction texts using the Jigsaw cooperative learning model assisted by wordwall media was better than students who used the STAD cooperative learning model and there was a positive influence in using the Jigsaw cooperative learning model assisted by wordwall media on students' reading comprehension of non-fiction texts. Thus, the Jigsaw cooperative learning model assisted by wordwall media can be an alternative that can be used in learning, especially in class V for historical non-fiction text material
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI BERBANTUAN MEDIA ASSEMBLR EDU TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR: Penelitian Quasi Ekperimen pada kelas V di SD Negeri 2 Nagri Kaler, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta.
Latar belakang dari penelitian ini yaitu masih rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri berbantuan media Assemblr Edu terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dan juga mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang mendapatkan penerapan Model Pembelajaran Inkuiri berbantuan Media Assemblr Edu lebih baik daripada siswa yang mendapatkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain quasi experimental yang berbentuk nonequivalent control group. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas VC dan VD di SDN 2 Nagri Kaler yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran inkuiri berbantuan media Assemblr Edu, sedangkan kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan berpikir kritis yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil koefisien determinasi sebesar 35%. Adapun untuk skor N-Gain kelas eksperimen sebesar 0,4221(Sedang), sedangkan kelas kontrol 0,2038 (Rendah). Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inkuiri berbantuan media Assemblr Edu berpengaruh dan meningkat terhadap kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar.
-----
The background of this study is the low critical thinking skills of elementary school students. Therefore, this study aims to determine the effect of the Assemblr Edu media-assisted inquiry learning model on improving students' critical thinking skills and also to determine the improvement of critical thinking skills in students who get the application of the Assemblr Edu Media-assisted Inquiry Learning Model better than students who get the application of the Student Team Achievement Division (STAD) type cooperative learning model. This research used experimental method with quasi experimental design in the form of nonequivalent control group. The samples in this study were VC and VD grade students in SDN 2 Nagri Kaler which were divided into experimental and control groups. The experimental group used the inquiry learning model assisted by Assemblr Edu media, while the control group used the STAD type cooperative learning model. The instrument used was a critical thinking skills test given before and after treatment. The results of data analysis showed that the coefficient of determination was 35%. The N-Gain score for the experimental class was 0.4221 (Medium), while the control class was 0.2038 (Low). Based on the results of the data analysis, it can be concluded that the inquiry learning model assisted by Assemblr Edu media has an effect and increases the ability to think critically
PENGARUH MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) BERBANTUAN MEDIA VIDEO ANIMAKER TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA SD: Penelitian Kuasi Eksperimen Pembelajaran Matematika Siswa Kelas III Salah Satu Sekolah Dasar di Kabupaten Purwakarta
Pemahaman konsep matematis merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran matematika. Namun, kenyataannya masih banyak siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika akibat model dan media pembelajaran tradisional yang kurang melibatkan siswa secara aktif. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan peningkatan pemahaman konsep matematis siswa salah satunya dengan cara menerapkan model Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media video animaker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah quasi eksperimen dengan desain non-equevalent control grup dan teknik purposive sampling. Penelitian ini membandingkan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.Pengumpulan data dilakukan melalui tes awal (Pre-test) dan tes akhir (Post-test), serta didukung oleh dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian model Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media video animaker lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Model Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media video animaker memberikan pengaruh sebesar 45,5% untuk mempengaruhi peningkatan pemahaman konsep matematis siswa.
-----
Understanding mathematical concepts is an important ability that students must have in learning mathematics. However, in reality there are still many elementary school students who have difficulty in understanding mathematical concepts due to traditional learning models and media that do not actively involve students. Therefore, this study aims to determine the effect and improvement of students' understanding of mathematical concepts, one of which is by applying the Teams Games Tournament (TGT) model assisted by animaker video media. The method used in this research is quasi experiment with non-equalent control group design and purposive sampling technique. This study compared two classes, namely the experimental class and the control class. Data collection was carried out through the initial test (Pre-test) and the final test (post-test), and supported by documentation. Based on the research results, the Teams Games Tournament (TGT) model assisted by animaker video media is more effective in improving students' understanding of mathematical concepts when compared to conventional learning. Teams Games Tournament (TGT) model assisted by animaker video media gives an influence of 45.5% to influence the increase in students' understanding of mathematical concepts
PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) BERBANTUAN MEDIA PERMAINAN ULAR TANGGA TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF IPAS SISWA KELAS IV SD: Penelitian Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas IV Bab 6 Topik B Kekayaan Budaya Indonesia di Salah Satu Sekolah Dasar di Wilayah Bekasi Timur
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar IPAS yang disebabkan oleh metode pembelajaran konvensional dan kurangnya variasi media. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model cooperative learning tipe Team Games Tournament (TGT) berbantuan media permainan ular tangga terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas IV SD. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Sampel penelitian terdiri dari kelas IVA sebagai kelas kontrol yang menggunakan model STAD berbantuan media PowerPoint dan kelas IVB sebagai kelas eksperimen yang menggunakan model Kooperatif tipe TGT berbantuan permainan ular tangga. Data dikumpulkan melalui tes pretest dan posttest dan dianalisis menggunakan SPSS versi 23. Hasil uji regresi linier sederhana menunjukkan nilai R-square sebesar 0,519, sedangkan nilai rata-rata n-gain kelas eksperimen sebesar 0,6137 dan kelas kontrol sebesar 0,3859. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model TGT lebih efektif dibandingkan model STAD dalam meningkatkan hasil belajar kognitif IPAS siswa kelas IV SD.
-----
This research is based on the low cognitive learning outcomes in science and social studies (IPAS), caused by conventional teaching methods and the lack of media variation. The aim of this study is to determine the effect of the cooperative learning model Team Games Tournament (TGT) assisted by a snake and ladder educational game on the cognitive learning outcomes of fourth-grade elementary students. This study used a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The research sample consisted of class IVA as the control group using the STAD model with PowerPoint media and class IVB as the experimental group using the TGT model with the snake and ladder game. Data were collected through pretest and posttest and analyzed using SPSS version 23. The simple linear regression test showed an R-square value of 0.519, while the average n-gain score of the experimental class was 0.6137 and the control class was 0.3859. These results indicate that the TGT model is more effective than the STAD model in improving students’ cognitive learning outcomes in IPAS
PENGARUH PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN MEDIA PIXTON TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS DESKRIPSI SISWA SEKOLAH DASAR: Penelitian Kuasi Eksperimen pada Kelas IV SDN Sukamaju Kabupaten Subang
Latar belakang penelitian adalah masih rendahnya keterampilan menulis siswa di jenjang sekolah dasar, terutama dalam menyusun teks deskripsi yang menghambat siswa dalam mengungkapkan ide, gagasan, dan informasi secara jelas dan terstruktur. Maka, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna mengetahui; 1) Pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan media Pixton terhadap keterampilan menulis teks deskripsi pada siswa kelas IV; 2) Peningkatan keterampilan menulis teks deskripsi siswa kelas IV dengan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan media Pixton dibandingkan siswa dengan model pembelajaran Cooperative Learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan jenis penelitian kuasi eksperimen. Desain penelitian ini ialah Nonequevalent Control Group Design dan memakai teknik Purposive Sampling dalam pengambilan sampelnya. Sampel pada penelitian ini yakni kelas IV A dan IV B di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Subang dengan jumlah masing-masing siswa 20. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes keterampilan menulis teks deskripsi berupa essay sebanyak satu soal yang dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran. Hasil analisis data tersebut menunjukkan terdapat pengaruh sebesar 62,2% pada kelas eksperimen, lalu terdapat perbedaan peningkatan sebesar 0,71 dengan kategori tinggi pada kelas eksperimen, sedangkan 0,44 dengan kategori sedang pada kelas kontrol. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Model Discovery Learning berbantuan media Pixton Berpengaruh terhadap keterampilan menulis teks deskripsi siswa; 2) Terdapat peningkatan keterampilan menulis teks deskripsi siswa yang mendapatkan penerapan model Discovery Learning berbantuan media Pixton lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan penerapan model Cooperative Learning.
-----
The background of this study is the low level of writing skills among primary school students, especially in composing descriptive texts, which hinders students from expressing their ideas, thoughts, and information clearly and structurally. Therefore, the researcher is interested in conducting research to determine: 1) The effect of implementing the Discovery Learning model assisted by Pixton media on the descriptive text writing skills of fourth-grade students; 2) The improvement in the descriptive text writing skills of fourth-grade students using the Discovery Learning model assisted by Pixton media compared to students using the Cooperative Learning model. The method used in this research is an experiment with a quasi-experimental research design. The research design is a Nonequivalent Control Group Design, and the sampling technique used is Purposive Sampling. The sample in this study consists of Grade IV A and IV B classes at one elementary school in Subang District, with each class having 20 students. The data used in this study are descriptive text writing skill tests in the form of one essay question administered before and after the learning process. The results of the data analysis showed that there was an influence of 62.2% in the experimental class, then there was a difference in improvement of 0.71 with a high category in the experimental class, while 0.44 with a moderate category in the control class. In this study, it can be concluded that: 1) The Discovery Learning model assisted by Pixton media has an effect on students' descriptive text writing skills; 2) There is an improvement in the descriptive text writing skills of students who received the Discovery Learning model assisted by Pixton media compared to students who received the Cooperative Learning model
ANALISIS PENGUASAAN KOSAKATA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR
Pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar mulai diterapkan secara merata melalui Kurikulum Merdeka. Fase peralihan dari kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka membuat sebagian rombongan belajar (rombel) menerima pelajaran Bahasa Inggris. Hasil observasi menunjukkan bahwa kondisi setiap kelas yang menerima pelajaran bahasa Inggris memiliki perbedaan yang beragam. Namun, kelas IV menunjukkan kemampuan yang lebih unggul dibandingkan dengan kelas lainnya. Keunggulan tersebut didukung oleh motivasi belajar yang tinggi serta metode belajar yang efektif yang diterapkan oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguasaan kosakata pada pembelajaran bahasa Inggris di kelas IV. Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan kosakata bahasa inggris siswa, mendeskripsikan proses pembelajaran bahasa Inggris serta mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi di SD Negeri Rejodadi 02, Cimanggu. Analisis data dilakukan menggunakan konsep Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas IV memiliki tingkat penguasaan kosakata yang cukup baik, meskipun pembelajaran bahasa Inggris merupakan pengalaman baru bagi siswa. Ditunjukkan dengan tingkat penguasaan kosakata siswa yang bervariasi dan dapat dikategorikan dalam tiga tingkat penguasaan: tinggi, sedang, dan rendah. Keberhasilan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris juga didukung oleh kebiasaan belajar mereka, seperti menonton konten berbahasa Inggris di platform YouTube dan mengulang materi di rumah. Selain itu, metode pengajaran yang diterapkan oleh guru cukup efektif, karena mampu membantu siswa pemula dalam meningkatkan penguasaan kosakata. Selain itu faktor lain yang terbagi ke dalam faktor internal seperti penulisan, pengucapan dan motivasi siswa serta faktor eksternal seperti lingkungan belajar, dukungan orang tua dan keterbatasan penggunaan media pembelajaran turut memengaruhi hasil belajar. Penelitian ini memberikan wawasan bagi pengembangan strategi pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar, khususnya pada fase implementasi Kurikulum Merdeka.
The teaching of English at the elementary school level has begun to be uniformly implemented through the Merdeka Curriculum. The transition phase from the 2013 Curriculum to the Merdeka made some study groups (rombel) receive English lessons. The results of the observation showed that the conditions of each class that received English lessons had various differences. However, class IV showed superior abilities compared to other classes. This advantage was supported by high learning motivation and effective learning methods applied by students. This study aims to analyze vocabulary mastery in English learning in class IV. The objectives of this study include identifying the level of students' English vocabulary mastery, describing the English learning process and examining the factors that influence English learning. This study uses a qualitative approach with a case study research design. Data were collected through interviews, observations, and documentation studies at Rejodadi 02 Elementary School, Cimanggu. Data analysis was carried out using the Miles and Huberman concept, namely data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that class IV students had a fairly good level of vocabulary mastery, even though learning English was a new experience for students. It is indicated by the varying levels of students' vocabulary mastery and can be categorized into three levels of mastery: high, medium, and low. Students’ success in English learning is supported by their learning habits, such as watching English-language content on YouTube and reviewing materials at home. Additionally, the teaching methods employed by teachers are effective in helping beginner students improve their vocabulary mastery. Furthermore, other factors influencing learning outcomes include internal factors such as writing, pronunciation, and student motivation, as well as external factors such as the learning environment, parental support, and limited use of teaching media