Indonesia University of Education

Repository UPI
Not a member yet
    91757 research outputs found

    PEMETAAN JALUR EVAKUASI UNTUK MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNGAPI GEDE DENGAN PENDEKATAN NETWORK ANALYSIS DI KECAMATAN CIPANAS

    Full text link
    Gunung Gede merupakan salah satu Gunungapi aktif di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawah. Namun, hingga saat ini, belum tersedia jalur evakuasi yang terencana dengan baik dan didasarkan pada analisis ilmiah yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk membuat peta jalur evakuasi sebagai bagian dari mitigasi bencana, ini dilakukan di empat kecamatan di Kabupaten Cianjur yaitu Cipanas yang teridentifikasi sebagai daerah dengan risiko tinggi terhadap dampak erupsi Gunung Gede. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis jaringan (Network Analysis) menggunakan SIG. Hasil penelitian menunjukkan peta jalur evakuasi dari masing-masing desa yang ada di Kecamatan Cipanas, pada Desa Cimacan terdapat 3 titik evakuasi sementara yang dapat digunakan untuk menghindari Erupsi Gunung Gede, Desa Ciloto terdapat satu titik evakuasi sementara yang dapat digunakan, Desa Sindangjaya terdapat 2 titik evakuasi sementara yang dapat digunakan, Desa Cipanas terdapat 2 titik evakuasi sementara yang dapat digunakan, Desa Sindanglaya terdapat 2 titik evakuasi sementara yang dapat digunakan, dan Desa Palasari terdapat satu titik evakuasi sementara yang dapat digunakan. Terdapat total 11 titik evakuasi sementara dan 62 rute yang dapat digunakan mulai dari fasilitas seperti kantor desa, sekolah, dan lapangan melalui jalan arteri sebagai rute utama. Dengan menggunakan Network Analysis metode Closest Facility menunjukan Desa Cipanas adalah yang paling baik dalam dilaksanakan evakuasi karena terdapat dua titik evakuasi sementara yang terpisah dan masing-masing lembur dapat menuju titik evakuasi sementara terdekat jika terjadi bencana. Mount Gede is one of the active volcanoes in Indonesia that poses a high level of disaster risk, particularly for communities living around its crater. However, to date, there has been no well-planned evacuation route based on comprehensive scientific analysis. This study aims to develop an evacuation route map as part of disaster mitigation efforts, focusing on four sub-districts in Cianjur Regency, namely Cipanas, which has been identified as a high-risk area affected by Mount Gede’s eruption. The research method employed is a quantitative descriptive method with a network analysis approach (Network Analysis) using GIS. The results of the study show evacuation route maps for each village in Cipanas Sub-district: Cimacan Village has 3 temporary evacuation points that can be utilized to avoid the eruption of Mount Gede, Ciloto Village has 1 temporary evacuation point, Sindangjaya Village has 2 temporary evacuation points, Cipanas Village has 2 temporary evacuation points, Sindanglaya Village has 2 temporary evacuation points, and Palasari Village has 1 temporary evacuation point. In total, there are 11 temporary evacuation points and 62 routes that can be used, starting from facilities such as village offices, schools, and fields through arterial roads as the main routes. By applying the Closest Facility method of Network Analysis, the findings indicate that Cipanas Village is the most optimal for carrying out evacuations, as it has two separate temporary evacuation points, allowing each hamlet to access the nearest point in the event of a disaster

    PENGARUH BRAND EXPERIENCE TERHADAP BRAND LOYALTY MELALUI BRAND CREDIBILITY: Survei pada Anggota Xiaomi Community Indonesia @xiaomicommunity_id

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dan pengaruh brand experience terhadap brand loyalty melalui brand credibility pada anggota Xiaomi Community Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan verfikatif. Dengan pendekatan kuantitatif populasi dalam penelitian ini berjumlah 55.000 dengan sampel berjumlah 346 responden yang merupakan anggota Xiaomi Community Indonesia dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data diolah secara statistic dengan metode Structural Equation Modeling (SEM). Hasil temuan pada penelitian ini menemukan bahwa brand experience memiliki pengaruh signifikan terhadap brand loyalty melalui brand credibility. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung brand experience terhadap brand credibility, hal tersebut ditunjukkan dengan besaran nilai critical ratio yang lebih besar dari nilai minimal artinya terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel brand experience terhadap brand loyalty melalui brand credibility. Pernyataan tersebut dapat diasumsikan semakin baik perusahaan memperhatikan brand experience dan brand credibility akan semakin baik juga brand loyalty yang muncul pada pelanggan untuk perusahaan tersebut. Berdasarkan temuan tersebut, penulis merekomendasikan agar perusahaan memperkuat elemen sensorik, emosional, dan interaksi pelanggan melalui desain produk yang inovatif dan pelayanan yang konsisten, menjaga kualitas produk, memberikan informasi yang transparan, serta memperkuat komunikasi merek melalui testimoni, ulasan positif, dan kolaborasi dengan influencer kredibel guna membangun kredibilitas yang kuat dan mendorong loyalitas pelanggan yang lebih tinggi. This study aims to gain an overview and examine the influence of brand experience on brand loyalty through brand credibility among members of the Xiaomi Community Indonesia. The research method used is descriptive and verification, with a quantitative approach. The population in this study consists of 55,000 individuals, with a sample of 346 respondents who are members of the Xiaomi Community Indonesia, selected using a simple random sampling technique. The data were processed statistically using the Structural Equation Modeling (SEM) method. The findings of this study reveal that brand experience has a significant influence on brand loyalty through brand credibility. These findings indicate an indirect effect of brand experience on brand credibility, as shown by a critical ratio value greater than the minimum threshold, meaning there is a positive and significant relationship between brand experience and brand loyalty through brand credibility. This suggests that the better a company manages brand experience and brand credibility, the stronger the brand loyalty that will emerge among its customers. Based on these findings, the author recommends that companies strengthen sensory, emotional, and customer interaction elements through innovative product design and consistent service quality, maintain product quality, provide transparent information, and enhance brand communication through testimonials, positive reviews, and collaboration with credible influencers in order to build strong credibility and encourage greater customer loyalty

    ANALISIS SAJIAN MATERI PENGUKURAN PANJANG PADA BUKU TEKS MATEMATIKA KELAS III SEKOLAH DASAR BERDASARKAN PRAKSEOLOGI

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran strategis buku teks sebagai sumber belajar utama dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Materi pengukuran panjang merupakan konsep dasar yang menuntut keterpaduan aspek konseptual dan prosedural agar pemahaman siswa berkembang secara utuh. Akan tetapi, hasil telaah awal menunjukkan bahwa penyajiannya dalam buku teks belum sepenuhnya memenuhi keterpaduan tersebut sehingga berpotensi menimbulkan hambatan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sajian materi pengukuran panjang pada buku teks matematika kelas III sekolah dasar terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) edisi tahun 2022 berdasarkan kerangka Prakseologi yang mencakup empat komponen utama, yaitu Task (tugas), Technique (teknik penyelesaian), Technology (penjelasan konsep) dan Theory (landasan teoritis). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi. Data diperoleh melalui analisis buku teks siswa dan guru, wawancara dengan guru kelas III, serta asesmen dokumen menggunakan instrumen berbasis Prakseologi didaktis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyajian materi pengukuran panjang pada buku teks matematika kelas III sekolah dasar telah mencakup komponen Task dan Technique dengan baik, akan tetapi pada aspek Technology dan Theory masih perlu dikembangkan. Hal tersebut mengakibatkan pemahaman siswa lebih berorientasi pada prosedur dari pada pada konsep. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pada aspek konseptual dan kontekstual agar pembelajaran lebih bermakna serta sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif siswa sekolah dasar. This study is motivated by the strategic role of textbooks as the primary learning resources in mathematics instruction at the elementary school level. The topic of length measurement is a fundamental concept that requires the integration of conceptual and procedural aspects to ensure students’ holistic understanding. However, preliminary analysis indicates that the presentation of this material in textbooks has not fully achieved such integration, potentially leading to learning obstacles. This study aims to analyze the presentation of length measurement content in third-grade elementary school mathematics textbooks published by Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), 2022 edition, based on the praxeological framework, which consists of four main components: Task, Technique, Technology, and Theory. The research employed a qualitative descriptive method using a content analysis approach. Data were collected through analysis of student and teacher textbooks, interviews with third-grade teachers, and document assessment using praxeology-based instruments. The findings reveal that the presentation of length measurement content in third-grade mathematics textbooks adequately addresses the Task and Technique components; however, the Technology and Theory aspects require further development. This condition results in students’ understanding being more oriented toward procedural skills rather than conceptual understanding. Therefore, strengthening the conceptual and contextual aspects is necessary to make learning more meaningful and aligned with the cognitive developmental characteristics of elementary school students

    PENGARUH MODEL RADEC BERBANTUAN E-MODUL KERAGAMAN BUDAYA TERHADAP PEMAHAMAN MULTIKULTURAL DAN SIKAP TOLERANSI SISWA KELAS IV SD

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model RADEC yang dibantu e-modul keragaman budaya serta menguji pengaruhnya terhadap pemahaman multikultural dan sikap toleransi siswa kelas IV SD. Penelitian ini juga membandingkan peningkatan kedua variabel antara kelompok yang menerapkan model RADEC berbantuan e-modul keragaman budaya dan kelompok yang menggunakan model ekspositori. Penelitian menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain Non-equivalent Control Group Design. Partisipan penelitian terdiri atas siswa kelas IV dari dua sekolah dasar di Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, angket, dan tes esai, sedangkan analisis data menggunakan paired-sample t-test dan independent-sample t-test dengan bantuan aplikasi IBM SPSS versi 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model RADEC berbantuan e-modul keragaman budaya terlaksana dengan baik pada kelompok eksperimen. Uji paired-sample t-test menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman multikultural dan sikap toleransi dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (Sig. < 0,05). Selanjutnya, uji independent-sample t-test membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol baik pada pemahaman multikultural (Sig. = 0,000 untuk post-test; Sig. < 0,05 untuk n-gain) maupun sikap toleransi (Sig. = 0,000 untuk post-test; Sig. < 0,05 untuk n-gain). Selain itu, nilai n-gain kelompok eksperimen berada pada kategori tinggi untuk pemahaman multikultural (0,79) dan sikap toleransi (0,90), sedangkan kelompok kontrol berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa model RADEC berbantuan e-modul keragaman budaya efektif dalam meningkatkan pemahaman multikultural dan sikap toleransi siswa. Implikasi praktis penelitian ini adalah bahwa guru dapat memanfaatkan model RADEC berbantuan e-modul untuk memperkuat keterampilan literasi, berpikir kritis, dan kolaborasi siswa. This study aims to describe the implementation of the RADEC learning model (LM) assisted by e-modules on cultural diversity and to examine its effect on the multicultural understanding and tolerant attitudes of fourth-grade elementary school students. It also compares the improvement of both variables between students taught using the RADEC LM assisted by e-modules on cultural diversity and those taught using the expository learning model. The study employs a quasi-experimental approach with a Non-equivalent Control Group Design. The participants consist of fourth-grade students from two elementary schools in Waringinkurung District, Serang Regency, Banten Province. Data are collected through observations, questionnaires, and essay tests, and are analyzed using paired-sample t-tests and independent-sample t-tests with the assistance of IBM SPSS Statistics version 29. The results show that the implementation of the RADEC LM assisted by e-modules on cultural diversity is carried out effectively in the experimental group. The paired-sample t-test indicates significant effects on both multicultural understanding and tolerant attitudes, with significance values of 0.000 (Sig. < 0.05). The independent-sample t-test also demonstrates significant differences between the experimental and control groups in multicultural understanding (Sig. = 0.000 for posttest; Sig. < 0.05 for n-gain) and tolerant attitudes (Sig. = 0.000 for posttest; Sig. < 0.05 for n-gain). Furthermore, the n-gain scores of the experimental group fall into the high category for multicultural understanding (0.79) and tolerant attitudes (0.90), while the control group scores fall into the moderate category. These findings indicate that the RADEC LM assisted by e-modules on cultural diversity is effective in enhancing students’ multicultural understanding and tolerant attitudes. The study implies that teachers can employ this model to strengthen students’ literacy, critical thinking, and collaboration skills

    ANALISIS STRATEGI BERPIKIR DAN KESULITAN SISWA FASE C DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah, strategi berpikir, kesulitan yang dihadapi, serta bentuk bantuan yang diberikan guna membantu siswa mengatasi kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi operasi hitung campuran pecahan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Sebanyak 26 siswa fase C mengikuti tes uraian, kemudian dilakukan purposive sampling sehingga didapatkan 3 subjek penelitian yang akan dianalisis strategi berpikirnya. Hasil pengukuran menggunakan indikator Krulik & Rudnick (1988) menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa relatif kuat pada tahap explore and plan dan select a strategy, tetapi masih rendah pada tahap read and think serta reflect and extend. Hal ini menunjukkan pemahaman siswa terhadap materi pecahan masih terbatas, dan proses refleksi atas jawaban belum menjadi bagian dari kebiasaan berpikir siswa. Strategi berpikir siswa cenderung homogen, mekanistik, dan sangat terikat pada contoh soal yang pernah diberikan guru. Tiga siswa yang dianalisis secara mendalam menunjukkan kecenderungan menggunakan strategi yang sama, yaitu draw visual representation, equivalent forms, patterning dan guess and check. Variasi strategi kreatif seperti, work backward, make a table tidak muncul. Siswa mengalami kesulitan pada seluruh tahapan pemecahan masalah Krulik & Rudnick, dengan kesulitan paling dominan pada tahap memahami masalah, membangun model matematika, dan melakukan refleksi. Kesulitan ini muncul bukan semata karena salah menghitung, tetapi karena lemahnya penguasaan konsep pecahan, ketidakmampuan merepresentasikan informasi, serta hambatan dalam memodelkan situasi kontekstual. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih berada pada level dasar dan belum berkembang secara representasional maupun konseptual. Berdasarkan hasil tersebut, bantuan (scaffolding) yang dibutuhkan siswa berbeda-beda sesuai karakter kesulitan yang dialami, sehingga intervensi guru perlu diarahkan pada penguatan pemahaman konsep, pendampingan dalam memodelkan masalah, serta latihan refleksi terhadap strategi penyelesaian. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran yang berorientasi pada proses, bukan sekadar hasil akhir, agar perkembangan kemampuan pemecahan masalah siswa dapat berlangsung secara lebih bermakna dan berkelanjutan. This research aims to describe problem-solving skills, thinking strategies, difficulties faced, and the form of assistance provided to help students overcome difficulties in solving mathematical story problems of fractional mixed calculation operation material. The research method used is qualitative research with a case study design. A total of 26 phase C students took the description test, then purposive sampling was carried out so that 3 research subjects were obtained to analyze their thinking strategies. The results of the measurement using the Krulik & Rudnick indicator showed that students' problem solving skills were relatively strong at the explore and plan and select a strategy stages, but still low at the read and think and reflect and extend stages. This shows that students' understanding of fractional material is still limited, and the process of reflection on answers has not become part of students' thinking habits. Students' thinking strategies tend to be homogeneous, mechanistic, and very tied to examples of questions that teachers have given. The three students who were analyzed in depth showed a tendency to use the same strategies, namely draw visual representation, equivalent forms, patterning and guess and check. Variations of creative strategies such as, work backward, make a table do not appear. Students had difficulty at all stages of Krulik & Rudnick's problem-solving, with the most dominant difficulty at the stage of understanding the problem, building mathematical models, and reflect. This difficulty arises not only because of miscalculation, but because of weak mastery of the concept of fractions, inability to represent information, and obstacles in modeling contextual situations. These findings show that students' problem-solving skills are still at the basic level and have not developed both representationally and conceptually. Based on these results, the scaffolding assistance needed by students varies according to the character of the difficulties experienced, so teachers' interventions need to be directed at strengthening concept understanding, assistance in modeling problems, and reflection exercises on solution strategies. Thus, this study emphasizes the importance of process oriented learning, not just the end result, so that the development of students' problem solving skills can take place in a more meaningful and sustainable manner

    EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA EDUCAPLAY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V PADA MATERI PANTUN

    Full text link
    Perkembangan teknologi digital yang pesat mendorong dunia pendidikan untuk mengintegrasikan media pembelajaran interaktif guna meningkatkan kualitas proses belajar siswa. Namun, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar masih banyak didominasi oleh media konvensional yang kurang melibatkan partisipasi aktif siswa, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar, khususnya pada materi pantun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan media Educaplay terhadap hasil belajar siswa kelas V pada materi pantun dibandingkan dengan media konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan quasi experimental design. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas V SDN 152 Cigagak yang berjumlah 50 siswa, dengan satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar yang telah divalidasi dan dianalisis menggunakan uji N-Gain serta uji U Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol (p = 0,007). Nilai rata-rata pascates kelas eksperimen (75,40) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (65,60), dengan peningkatan N-Gain kategori sedang pada kelas eksperimen (60,65%) dan rendah pada kelas kontrol (29,48%). Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan media Educaplay yang bersifat interaktif dan berbasis permainan efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pantun, khususnya pada indikator unsur-unsur pantun. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan media pembelajaran yang secara khusus berfokus pada peningkatan kemampuan siswa dalam menganalisis nilai-nilai pantun. The rapid development of digital technology has encouraged the integration of interactive learning media in education to improve the quality of students’ learning processes. However, Indonesian language instruction in elementary schools is still predominantly characterized by conventional media that provide limited opportunities for active student participation, resulting in low learning outcomes, particularly in pantun material. This study aimed to analyze the effectiveness of Educaplay as an interactive learning medium on fifth-grade students’ learning outcomes in pantun compared to conventional. The research employed a quantitative approach with a quasi-experimental design. Purposive sampling was used to select the sample, which consisted of two fifth-grade classes at SDN 152 Cigagak, totaling 50 students, with one class assigned as the experimental group and the other as the control group. The research instrument was a validated learning achievement test, and the data were analyzed using N-Gain analysis and the U Mann Whitney U test. The results indicated a significant difference in learning outcomes between the experimental and control groups (p = 0.007). The post-test mean score of the experimental group (75.40) was higher than that of the control group (65.60), with a moderate N-Gain improvement in the experimental group (60.65%) and a low N-Gain improvement in the control group (29.48%). These findings confirm that the use of Educaplay, as an interactive and game-based learning medium, is effective in improving students’ learning outcomes in pantun material, particularly in mastering pantun elements. Future studies are recommended to develop learning media that specifically emphasize the enhancement of students’ higher-order thinking skills, especially in analyzing the values embedded in pantu

    KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN OPERASI PERKALIAN ALJABAR DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN

    Full text link
    Kemampuan penalaran matematis berperan penting dalam memahami relasi antar variabel, menyusun argumen, dan menghasilkan solusi yang logis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan penalaran matematis serta pola kesalahan siswa ekstrovert dan introvert dalam menyelesaikan operasi perkalian aljabar. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri Kota Bandung pada tahun pelajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan enam siswa sebagai subjek utama berdasarkan hasil skala tipe kepribadian. Data diperoleh melalui tes penalaran matematis, skala tipe kepribadian, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis kesalahan dilakukan menggunakan Newman Error Analysis (NEA) untuk mengidentifikasi hambatan pada tahapan reading, comprehension, transformation, process skills, dan encoding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan penalaran matematis siswa ekstrovert cenderung cepat dan intuitif, namun lemah dalam justifikasi dan verifikasi. Siswa introvert menunjukkan penalaran yang lebih runtut dan hati-hati, tetapi masih terfragmentasi dan belum mampu mengintegrasikan langkah-langkah penyelesaian secara utuh. Berdasarkan analisis Newman, kesalahan terbesar siswa ekstrovert terletak pada comprehension, transformation, dan encoding, yang dipengaruhi oleh kecenderungan berpikir cepat dan kurang teliti. Sementara itu, siswa introvert mengalami kesalahan utama pada transformation, process skills, dan encoding, yang dipengaruhi oleh pemahaman parsial serta proses berpikir yang kurang fleksibel. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian berpengaruh terhadap cara siswa memahami, memodelkan, dan menyelesaikan masalah aljabar. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya strategi pembelajaran yang mempertimbangkan karakteristik kepribadian siswa, penggunaan scaffolding yang membantu integrasi langkah penyelesaian, serta penerapan asesmen diagnostik berbasis Newman untuk memetakan titik kesalahan siswa secara lebih akurat. Mathematical reasoning plays a vital role in understanding relationships among variables, constructing arguments, and generating logical solutions. This study aims to analyze the mathematical reasoning abilities and error patterns of extroverted and introverted students in solving algebraic multiplication problems. The subjects of this study were 30 eighth-grade students from a public junior high school in Bandung during the 2025/2026 academic year. A descriptive qualitative approach was employed, involving six students selected purposively based on the results of a personality-type scale. Data were collected through a mathematical reasoning test, personality-type scale, interviews, observations, and documentation. Students’ errors were examined using Newman Error Analysis (NEA) to identify errors at the stages of reading, comprehension, transformation, process skills, and encoding. The findings indicate that extroverted students tend to reason quickly and intuitively, but display weaknesses in justification and verification. Introverted students demonstrate more sequential and careful reasoning; however, their thinking remains fragmented and they struggle to integrate the steps of problem solving into a coherent whole. Based on the Newman analysis, the major errors of extroverted students occur at the comprehension, transformation, and encoding stages, influenced by their tendency to think rapidly and less thoroughly. In contrast, introverted students exhibited major errors in transformation, process skills, and encoding due to partial understanding and limited flexibility in connecting ideas and procedures. These findings suggest that personality differences influence how students interpret, model, and solve algebraic problems. The study implies the need for instructional strategies that consider student personality characteristics, the use of scaffolding to support the integration of solution steps, and the application of Newman-based diagnostic assessments to accurately map students’ errors

    PERAN BUSINESS ENVIRONMENT TERHADAP BUSINESS AGILITY MELALUI MEDIASI BUSINESS STRATEGY DAN BUSINESS INTELLIGENCE

    Full text link
    Dalam lingkungan bisnis yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian, Business Agility menjadi kapabilitas kunci bagi organisasi untuk mempertahankan daya saing. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan struktural antara Internal Business Environment, External Business Environment, Business Strategy, Business Intelligence, dan Business Agility pada organisasi di Indonesia. Berlandaskan Resource-Based View, Dynamic Capability Theory, dan Contingency Theory, penelitian ini mengembangkan dan menguji secara empiris model integratif yang menjelaskan peran mekanisme strategis dan berbasis informasi dalam memediasi pengaruh lingkungan terhadap Business Agility. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui survei terhadap 206 responden dari berbagai jenis organisasi yang telah menerapkan Business Intelligence. Organisasi yang diteliti meliputi perusahaan swasta dan instansi pemerintah, termasuk BUMN/BUMD, yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) untuk menguji pengaruh langsung dan tidak langsung antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Internal Business Environment dan External Business Environment berpengaruh signifikan terhadap Business Strategy, Business Intelligence, dan Business Agility. Konstruk Business Strategy dan Business Intelligence terbukti memiliki peran mediasi parsial, baik secara paralel maupun serial, yang saling melengkapi dalam meningkatkan Business Agility. Secara teoretis, penelitian ini memperluas literatur Business Agility dan Dynamic Capabilities dengan menempatkan Business Intelligence sebagai kapabilitas strategis, bukan sekadar alat teknologi, serta menegaskan peran orkestratif strategi bisnis dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan. Secara praktis, temuan ini memberikan kerangka kerja bagi manajer dan pembuat kebijakan dalam membangun ketahanan adaptif organisasi melalui keselarasan strategi dan pengambilan keputusan berbasis data dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia

    PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KESIAPAN MENIKAH PADA DEWASA AWAL DI JAWA BARAT

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan dukungan sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 492 orang dewasa awal yang berdomisili di berbagai wilayah Jawa Barat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Brief Emotional Intelligence Scale (BEIS-10) dengan teori utama dari Salovey & Mayer (1997) yang dikembangkan oleh Davies et.al (2010) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Julia Eva Putri (2024) untuk mengukur kecerdasan emosional, SPS (Social Provisions Scale) dengan teori dari Weiss (1974) yang dikembangkan oleh Cutrona dan Rusell (1987) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Allya Rachmanisa Kahani (2021) untuk mengukur dukungan sosial, serta Skala Kesiapan Menikah yang mengacu pada teori Bob dan Blood (1978) yang disusun oleh Iswari (2015) untuk mengukur kesiapan menikah. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah, dukungan sosial secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah, serta kecerdasan emosional dan dukungan sosial secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal di Jawa Barat. This study aims to examine the effect of emotional intelligence and social support on marital readiness among early adults in West Java. This research employed a quantitative approach with a correlational research design. The respondents consisted of 492 early adults residing in various regions of West Java. The instruments used in this study were the Brief Emotional Intelligence Scale (BEIS-10), based on the theory of Salovey and Mayer (1997), developed by Davies et.al. (2010), and translated into Indonesian by Julia Eva Putri (2024) to measure emotional intelligence; the Social Provisions Scale (SPS), based on Weiss’s (1974) theory, developed by Cutrona and Russell (1987), and adapted into Indonesian by Allya Rachmanisa Kahani (2021) to measure social support; and the Marital Readiness Scale, developed by Iswari (2015) based on the theory of Bob and Blood (1978) to measure marital readiness. Data were analyzed using simple and multiple linear regression to examine both partial and simultaneous effects. The results revealed that emotional intelligence has a positive and significant effect on marital readiness, social support has a positive and significant effect on marital readiness, and both emotional intelligence and social support simultaneously have a positive and significant effect on marital readiness among early adults in West Java

    MODEL PENGAJARAN MIKRO BERBASIS PROYEK UNTUK PENGUATAN TPACK CALON GURU MATEMATIKA MENGGUNAKAN SUCCESSIVE APPROXIMATION MODEL

    Full text link
    Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) merupakan kerangka pengetahuan yang merepresentasikan pemahaman terpadu tentang teknologi, pedagogi, dan konten, yang wajib dimiliki guru dan calon guru. Realita dilapangan TPACK guru dan calon guru masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk penguatan TPACK calon guru matematika melalui model pengembangan pengajaran mikro berbasis proyek dengan model pengembangan Successive Approximation Model (SAM). Tahapan SAM meliputi Preparation Phase, Design Phase dan Iterative Development Phase. Subjek penelitian terdiri atas calon guru matematika semester IV berjumlah 17 mahasiswa sebagai subjek utama dan semester VI berjumlah 15 mahasiswa sebagai subjek tambahan, serta dosen pengampu mata kuliah pengajaran mikro. Instrumen penelitian mencakup analisis kebutuhan, observasi, wawancara, kuesioner TPACK, serta uji validitas dan praktikalitas model pengajaran mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pengajaran mikro berbasis proyek yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis dan efektif dalam memperkuat TPACK CGM. Model ini terdiri atas komponen utama berupa RPS dan silabus berbasis proyek, modul, suplemen pembelajaran, soal TPACK, serta Learning Management System (LMS). Hasil uji validitas menunjukkan bahwa penilaian ahli materi memperoleh rata-rata 96,75%, ahli bahasa 76,83% dan ahli media 92,50%. Sementara itu, uji kepraktisan menunjukkan bahwa LMS dinilai sangat praktis oleh ahli dengan rata-rata 93,96% dan praktis oleh pengguna dengan rata-rata 84,19%. Berdasarkan hasil implementasi, rata-rata pemahaman CGM mencapai 79,18% dan performa berbasis TPACK 75,47%. Selain itu, ditemukan hubungan positif dengan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,58 (kategori sedang) dengan koefesien determinasi 0,3364, artinya TPACK CGM memepengaruhi performa berbasis TPACK CGM sebesar 33,64% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain

    91,208

    full texts

    91,757

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository UPI is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇