63894 research outputs found
Sort by
Model Evaluasi Program Pembelajaran Biologi dengan Pendekatan Interdisipliner di SMA.
Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan desain
model evaluasi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran biologi interdisipliner
di SMA, (2) menghasilkan informasi mengenai kualitas model tersebut, (3)
mendeskripsikan kepraktisan model, dan (4) mendeskripsikan hasil evaluasi
pembelajaran biologi di SMA dengan model yang dikembangkan.
Penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan langkah analyze,
design, develop, implement, dan evaluate. Desain model dikembangkan
berdasarkan studi literatur dan analisis kondisi lapangan. Uji kualitas model
dilakukan pada buku model, panduan penggunaan model, dan instrumen dengan
pembuktian validitas dan estimasi reliabilitas. Penilaian buku model dan panduan
penggunaan model dilakukan oleh 10 ahli. Pembuktian validitas isi instrumen oleh
6 pakar di bidang evaluasi pendidikan, pengukuran, dan pembelajaran biologi, serta
uji keterbacaan oleh 3 guru dan 28 peserta didik. Hasil penilaian buku dianalisis
secara deskriptif kuantitatif dan hasil penilaian instrumen dianalisis dengan rumus
Aiken V. Uji coba dilakukan pada 414 peserta didik dari 5 SMA di DIY dan
hasilnya digunakan untuk membuktikan validitas konstruk dengan CFA. Estimasi
reliabilitas instrumen diperoleh dari nilai loading factor dan indeks kesalahan tiap
observed variabel. Uji kepraktisan dilakukan dengan cara mewawancarai pengguna
model dengan hasil wawancara diolah secara deskriptif kualitatif. Model dan
instrumen yang berkualitas diimplementasikan untuk mengevaluasi pembelajaran
biologi interdisipliner. Hasil implementasi diolah dalam Ms.Excel yang mewadahi
model sehingga dapat diketahui keputusan akhir dan rekomendasi evaluasi.
Hasil penelitian dan pengembangan adalah berikut: (1) Dihasilkan model
evaluasi yang diberi nama EPABINTER. Model EPABINTER merupakan
seperangkat alat dan cara untuk mengevaluasi program pembelajaran biologi
dengan pendekatan interdisipliner di SMA. Aspek pembelajaran yang dievaluasi
adalah sumber daya, implementasi instruksional, hasil instruksional, dan
kebermanfaatan program pembelajaran. Setiap aspek evaluasi terkandung objek,
teknik, instrumen, waktu, dan penanggung jawab evaluasi; (2) Dihasilkan model
yang berkualitas dan instrumen yang memenuhi validitas isi, validitas konstruk,
serta memenuhi estimasi reliabilitas yang tinggi; (3) Dihasilkan model yang praktis
karena mendukung dilaksanakannya evaluasi secara murah, mudah, namun tetap
integratif, objektif, dan komprehensif; serta (4) Model diimplementasikan pada
sekolah yang menerapkan pembelajaran biologi dengan pendekatan interdisipliner
dan dihasilkan informasi bahwa rata-rata skor hasil evaluasi sekolah yang lebih
dahulu mengimplementasikan pembelajaran biologi interdisipliner lebih tinggi
dibandingkan sekolah yang baru dalam mengimplementasikan pendekatan
interdisipliner
Pergeseran Paradigma Pembelajaran PAI di Era Transformasi Digital Masyarakat 5.0.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap (1) masalah paradigma
pembelajaran dalam pendidikan agama Islam di Yogyakarta, (2) alur pergeseran
paradigma pembelajaran PAI di era transformasi digital Masyarakat 5.0, (3)
paradigma pembelajaran yang digunakan guru pendidikan agama Islam dalam
melaksanakan proses pembelajaran, dan (4) pola paradigma pembelajaran PAI yang
dapat digunakan guru dalam mendasari metode pembelajaran pendidikan agama
Islam di era transformasi digital Masyarakat 5.0.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif fenomenologis, yang
dilaksanakan di sekolah negeri pada jenjang menengah atas dan kejuruan di Kota
Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Sumber data yang digunakan meliputi guru
pendidikan agama Islam, pakar filsafat dan pendidikan agama Islam, dan dokumen.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan,
dan penelusuran dokumen. Analisis data dilakukan secara fenomenologis
prosedural, yaitu menuliskan seluruh transkrip hasil wawancara, menemukan
pernyataan tentang fokus penelitian, mengelompokkan pernyataan-pernyataan
tersebut ke dalam unit-unit yang bermakna, dan mengonstruksi seluruh penjelasan
tentang makna dan esensi pengalaman para informan.
Temuan penelitian adalah sebagai berikut. (1) Permasalahan paradigma
pembelajaran pendidikan agama Islam berkaitan dengan kemampuan dan
kesanggupan dari guru pendidikan agama Islam. (2) Pergeseran paradigma
pembelajaran PAI ke arah era transformasi digital Masyarakat 5.0 memuat integrasi
nilai-nilai kemanusiaan dan teknologi dalam pendidikan agama Islam. Keselarasan
antara nilai-nilai agama Islam dan nilai-nilai kemanusiaan dalam konteks
Masyarakat 5.0 sangat relevan dan perlu diperhatikan secara serius dalam upaya
meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara keseluruhan. (3) Peta paradigma
pembelajaran PAI yang digunakan oleh guru pendidikan agama Islam dalam
melaksanakan pembelajaran agama Islam, yakni (a) paradigma legalistradisionalis, (b) paradigma tradisionalis-modernis, dan (c) paradigma spiritualiskolaboratif. (4) Paradigma pembelajaran PAI yang sesuai untuk mendasari metode
pembelajaran pendidikan agama Islam di era transformasi digital Masyarakat 5.0
adalah paradigma spiritualis-kolaboratif. Paradigma lain yang ditemukan untuk
membantu guru pendidikan agama Islam dalam menghadapi era Masyarakat 5.0
meliputi a) paradigma pragmatis-konektivis; b) paradigma spiritual-profetik; c)
paradigma konstruktivis-humanis; d) paradigma sosial-humanis; e) paradigma
positivis-pragmatis. Budaya sekolah dan kesejahteraan guru adalah penunjang
proses pembentuk paradigma guru pendidikan agama Islam
Pendidikan Multikultural dalam Budaya Panen Lontar menurut. Adat Orang Rote.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis penerapan pendidikan multikultural dalam budaya panen lontar di kalangan masyarakat Rote, Fokusutama adalah untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat diintregrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi, yang melibatkan konservasi langsung dan wawancara mendalam dengan anggota masyarakat Rote, termasuk tokoh adat. Data yang dikumpulkan dianalisis untuk mengidentifikasi pola dan tema yang berkaitan dengan pendidikan multikultural dan budaya panen lontar. Penelitian ini juga mempertimbangkan konteks sosial dan budaya dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahawa: Nilai-nilai dari budaya panen lontar dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal, mendukung dimensi pendidikan multikultural dan profil pelajar pancasila. Keterlibatan masyarakat dalam proses pendidikan terbukti dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan lokal
Pengembangan Model Outdoor Learning Activity (OLA) Berbasis Budaya Jawa untuk Meningkatkan Working Memory dan Cognitive Flexibility Anak Usia Dini.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model Outdoor Learning Activity (OLA) Berbasis Budaya Jawa yang: (1) layak, (2) praktis, dan (3) efektif untuk meningkatkan working memory dan cognitive flexibility.
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan yang menggunakan model ADDIE. Penelitian dilaksanakan di lembaga PAUD di Kota Magelang. Subjek penelitiannya adalah peserta didik yang berusia 5-6 tahun. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner dan tes working memory dan cognitive flexibility (validitas dari tes working memory 49 item diperoleh r hitung > t tabel dengan r tabel= 0,244 dan reliabilitasnya adalah 0,954; sedangkan hasil uji validitas instrumen tes cognitive flexibility dari 15 item menunjukkan r hitung > t tabel dengan r tabel = 0,244 dan reliabilitasnya sebesar 0,911. Analisis data menggunakan Nonequivalent Control Group Desain dilanjutkan dengan One-Way ANOVA dan N-Gain Score.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model Outdoor Learning Activity (OLA) berbasis budaya Jawa dikembangkan melalui kegiatan Tari Tradisional, Permainan Tradisional, dan Fun Cooking dengan sintaks: pemilihan permainan, pengumpulan informasi, penentuan aturan, pelaksanaan, dan diskusi. (2) Model ini dinyatakan layak berdasarkan penilaian ahli teori (1>0,75), ahli PAUD (0,98>0,75), ahli materi (0,96>0,75), dan ahli bahasa (0,94>0,75). (3) Model dinyatakan praktis berdasarkan hasil FGD dengan 23 pendidik (0,82>0,64) dan implementasi di lapangan dengan 7 pendidik (0,91>0,76). (4) Model ini juga efektif meningkatkan working memory dan cognitive flexibility, dibuktikan melalui uji One Way ANOVA dengan signifikansi 0,000 (<0,05). Rata-rata working memory kelompok kontrol adalah 58,59, sedangkan Eksperimen 1 dan 2 masing-masing 92,35 dan 93,64, dengan N-Gain Score di atas 76. Rata-rata cognitive flexibility pada kelompok kontrol 31,53 , sementara Eksperimen 1 dan 2 mencapai 84,05 dan 82,59, juga dengan N-Gain Score di atas 76. Permainan Tradisional terbukti paling efektif dalam meningkatkan kedua aspek tersebut
Tuturan Berbisik dalam Praksis Pendidikan Anak Keluarga Jawa.
Penelitian ini bertujuan untuk (a) memetakan bentuk tuturan berbisik yang digunakan orang tua di keluarga Jawa dalam mendidik anak-anaknya, (b) memetakan strategi orang tua di keluarga Jawa berkomunikasi menggunakan tuturan berbisik dalam mendidik anak-anaknya, dan (c) menganalisis dan mensintesiskan pengaruh tuturan berbisik terhadap terciptanya sinergi orang tua
dan anak dalam mewujudkan tujuan pendidikan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Tempat penelitian ini
berada di Kabupaten Klaten, dengan mengambil sampel di desa Jimbung, Ceporan, Jabung, Karanganom, dan Desa Katekan. Subyek penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling. Subjek penelitian adalah 50 keluarga yang memiliki anak usia 7 sampai 12 tahun. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, dan wawancara mendalam. Pengumpulan data melalui observasi dilakukan dengan bantuan beberapa kolaborator yang dekat dengan subjek penelitian untuk mengamati secara berkelanjutan, sedangkan wawancara dilakukan sendiri oleh peneliti kepada subjek penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara mendalam melalui tahapan analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema kultural.
Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, Orang tua di Jawa menggunakan tuturan berbisik untuk mendidik anaknya dalam bentuk perintah, larangan, ajakan, dan berbagi informasi. Penggunaan bentuk-bentuk tuturan berbisik bertujuan untuk mengarahkan, memahamkan, membiasakan, dan mendisiplinkan anak. Kedua, strategi orang tua dalam melakukan tuturan berbisik adalah dengan mengatur momentum agar anak fokus pada materi yang disampaikan, membangun ikatan kedekatan dengan suara yang menciptakan kondisi tenang serta nyaman pada anak, memberikan sugesti yang ekspresif agar mendapatkan respon dan kerjasama yang baik, dan dengan menambahkan gerak pendukung untuk menguatkan hubungan antara orang tua dengan anak. Ketiga, tuturan berbisik yang digunakan orang tua mempunyai pengaruh besar kepada anak. Pengaruh yang dihasilkan saat terjadi komunikasi adalah menciptakan harmonisasi suara antara orang tua dengan anak, menjaga emosi anak dalam kondisi stabil, menghasilkan respon yang kooperatif, dan menghindarkan cedera psikologi pada anak. Pengaruh penggunaan tuturan berbisik orang tua kepada anak jangka panjang adalah membentuk karakter tenang, lembut, sabar, berempati, menghormati orang tua, selain itu juga berpengaruh dalam menciptakan hubungan orang tua dengan anak yang harmonis
Evaluasi Program Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 Se-Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hasil evaluasi Program Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan model evaluasi KirkPatrick 4 level: reaksi, pembelajaran, perilaku, dan hasil.
Penelitian ini menggunakan mixed-method dan melibatkan 310 peserta pelatihan dengan 10 titik pelatihan yang dilaksanakan 11 Maret - 08 April 2024. Pengumpulan data menggunakan angket dan tes, serta melalui wawancara. Pembuktian validitas isi Aiken dan konstruk dengan analisis faktor konfirmatori untuk data kuantitatif, dan triangulasi sumber untuk data kualitatif. Analisis data kuantitatif dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan kategori sesuai level dan analisis data kualitatif dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan kesimpulan.
Evaluasi Level 1 tentang ketercapaian keseluruhan dari reaksi atau kepuasan peserta pada materi, pemateri, fasilitator, panitia dan fasilitas menunjukkan hasil yang memuaskan (rata-rata skor 83%). Evaluasi Level 2, yaitu pembelajaran selama pelatihan yang meliputi pemahaman materi keislaman, kemuhammadiyahan, keorganisasian Ke -IPMan, serta psikologi, menunjukkan hasil sangat baik, (rata- rata skor 85%). Evaluasi Level 3, tentang perubahan perilaku peserta setelah mengikuti pelatihan menunjukkan hasil perubahan yang positif dengan pertimbangan sudut pandang dari peserta, orangtua peserta, guru, dan pimpinan penyelenggara, serta evaluasi hasil yang juga menunjukkan Melati 1 sebagai transformasi nilai-nilai keislaman pada peserta dan hadirnya bibit-bibit renegerasi kepemimpinan IPM tingkat ranting dan cabang. Rekomendasi untuk Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1: (1) diperlukan waktu persiapan yang lebih panjang untuk memastikan pelaksanaan pelatihan berjalan optimal, (2) penting untuk mengembangkan alat ukur mandiri guna memastikan materi yang disampaikan sesuai dengan target yang diharapkan; (3) perlu adanya pendampingan berkelanjutan pasca pelatihan untuk memantau perubahan perilaku positif kader sesuai sistem IPM, meningkatkan kualitas literasi melalui kajian buku, serta mencegah kader “lepasan” yang hanya mengikuti pelatihan tanpa melanjutkan peran di tingkat ranting atau cabang; (4) dibutuhkan pembinaan berkelanjutan bagi kader baru di tingkat ranting dan cabang, serta sistem yang lebih jelas dalam seleksi peserta dan kegiatan pasca pelatihan untuk memastikan keberlanjutan hasil pelatihan
Pengembangan Instrumen Penilaian Karakter Bernalar Kritis dan Kreatif pada Peserta Didik SMK.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menghasilkan konstruk instrumen penilaian karakter yang tepat untuk mengukur bernalar kritis dan kreatif pada siswa SMK, (2) Mendeskripsikan kualitas instrumen penilaian karakter bernalar kritis dan kreatif bagi siswa SMK, dan (3) Mendeskripsikan performa instrumen penilaian bernalar kritis dan kreatif pada siswa SMK.
Penelitian pengembangan ini dilakukan secara sistematis mengikuti model pengembangan Mardapi (2017), yang mencakup tahapan: (1) penentuan spesifikasi instrumen, (2) penulisan instrumen, (3) penetapan skala, (4) penentuan sistem penskoran, (5) telaah instrumen, (6) uji coba, (7) analisis instrumen, (8) perakitan instrumen, (9) pelaksanaan pengukuran, dan (10) interpretasi hasil pengukuran. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI dan XII dari tujuh SMK di Kota Yogyakarta, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data PPDB Kota Yogyakarta 2023 dengan jumlah sampel yang digunakan yaitu 518 responden. Instrumen yang dikembangkan diuji validitas nya melalui content validity dengan expert judgment, dan dianalisis lebih lanjut menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Reliabilitas instrumen dibuktikan, dan karakteristik butir dianalisis menggunakan Item Response Theory (IRT) untuk memastikan kualitas instrumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Konstruk instrumen penilaian karakter terdiri dari dua dimensi utama: bernalar kritis dan kreatif, yang masing-masing memiliki beberapa elemen. Instrumen ini dikembangkan dalam dua paket: Paket A, dengan 10 butir untuk bernalar kritis dan 4 butir untuk kreatif; Paket B, dengan 13 butir, 7 butir untuk bernalar kritis dan 6 butir untuk kreatif. Instrumen menggunakan skala Intensi Prosocial (I-P) sebagai dasar pengukuran. (2) Instrumen ini telah memenuhi validitas dan reliabilitas yang tinggi, terbukti dengan content validity (indeks Aiken = 0,94) dan hasil CFA yang menunjukkan nilai loading factor ≥ 0,3 serta model pengukuran yang fit dengan p-values ≥ 0,05; CFI ≥ 0,90; TLI ≥ 0,90; RMSEA 0,7 pada kedua paket. (3) Performa instrumen berdasarkan responden yang berbeda menunjukkan bahwa pada dimensi bernalar kritis, Paket B lebih unggul dengan 52% siswa berada pada kategori "Membudaya", sementara Paket A 44%. Sebaliknya, pada dimensi kreatif, Paket A lebih efektif dengan 63% siswa dalam kategori "Membudaya", dibandingkan dengan 39% pada Paket B. Temuan ini mencerminkan variasi efektivitas kedua paket dalam mengembangkan kemampuan kritis dan kreatif siswa, dan memberikan dasar untuk memperkuat area yang masih kurang optimal sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
Pengembangan Model Latihan Teknik Smash Forehand Berbasis Hybrid Virtual Reality untuk Peningkatan Performa Atlet Tenis Meja Usia 12–17 Tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengatasi kekurangan model latihan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pukulan smash forehand pada atlet tenis meja usia 12–17 tahun; (2) membandingkan efektivitas model latihan teknik smash forehand berbasis hybrid Virtual Reality (VR) dengan model latihan konvensional dalam meningkatkan performa atlet; dan (3) menentukan kelayakan model latihan yang dikembangkan.
Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan tahapan: analisis kebutuhan, perancangan model, validasi ahli, uji coba skala kecil, revisi, uji coba skala besar, dan penetapan model final. Model latihan dirancang dengan pendekatan hybrid, yaitu menggabungkan simulasi teknik berbasis VR secara imersif dengan latihan fisik konvensional di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model latihan berbasis hybrid VR mampu mengatasi keterbatasan latihan konvensional dalam hal visualisasi teknik, konsistensi repetisi, dan feedback real-time. Uji perbandingan menggunakan desain pretest-posttest control group menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen dibanding kelompok kontrol, terutama dalam aspek kecepatan, akurasi, dan kekuatan pukulan (p 85%). Model latihan hybrid VR ini dinilai inovatif, aplikatif, dan efektif dalam meningkatkan performa teknik smash forehand, serta berpotensi diintegrasikan ke dalam program pembinaan atlet tenis meja usia muda untuk mendukung pencapaian prestasi jangka panjang
Pengembangan Instrumen Penilaian Diagnostik Pemahaman Teks Bahasa Inggris Materi Descriptive Dan Recount Tingkat SMA Menggunakan Model G-DINA.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan instrumen penilaian diagnostik pemahaman
teks bahasa inggris materi descriptive dan recount di tingkat SMA, (2) mendeskripsikan kualitas instrumen
intrumen penilaian diagnostik pemahaman teks bahasa inggris materi descriptive dan recount tingkat SMA
menggunakan model G-DINA, (3) mendeskripsikan profil siswa dalam mengerjakan instrument penilaian
diagnostik pemahaman teks bahasa inggris materi descriptive dan recount tingkat SMA menggunakan
model G-DINA.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembahan instrumen. Tahapan pertama meliputi observasi
dan pengkajian literatur terkait pengembangan instrumen diagnostik materi descriptive dan recount
menggunakan model G-DINA, validasi item pernyataan melalui expert judgmen, dan analisis
menggunakan formula Aiken. Tahapan selanjutnya adalah uji coba terbatas di SMA N 3 Kota Magelang
yang melibatkan peserta didik kelas X. Uji coba dilakukan kepada 60 dan dianalisis menggunakan software
QUEST. Uji coba skala luas melalui teknik sampling Proportionate Stratified Random Sampling diperoleh
subyek 180 peserta didik kelas X di SMA N 3 Magelang, SMA N 4 Magelang, dan SMA N 5 Magelang di
Kota Magelang dan dianalisis menggunakan program R.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Instrumen penilaian diagnostik pemahaman teks
bahasa inggris menghasilkan 30 item pertanyaan. (2) Kualitas instrumen yang dianalisis menggunakan
model G-DINA menunjukan bahwa berdasarkan guessing terdapat 30% item yang tidak baik dan 70% item
baik. Berdasarkan slip diketahui bahwa 20% item pertanyaan perlu ditinjau, 20% item pertanyaan tidak
baik, dan 60% item baik.Reliabilitas instrumen menggunakan Alpha Cronbach sebesar 0.92 dan dinyatakan
reliabilitas baik. (3) Deskripsi profil siswa diidentifikasi oleh kemampuan yang arus dimiliki siswa untuk
dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Kemampuan tersebut diklasifikasikan sebagai A1, A2, A3, A4,
dan A5. Berdasarkan hasil analisis menggunakan model G-DINA diketahui bahwa 43.06% siswa
menguasai A1, 58.27% siswa menguasai A2, 45.59% siswa menguasai A3, 48.78% siswa menguasai A4,
dan 74.80% siswa menguasai A5
Pola Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Marginal Desa.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menemukan pola-pola pemberdayaan ekonomi perempuan marginal desa, 2) mengkaji peran pemerintah dan para aktor pemberdayaan, 3) menemukan keberhasilan dan hambatan pemberdayaan ekonomi perempuan marginal desa, dan (4) mengkonstruk pola pemberdayaan ekonomi yang lebih praktis dan produktif bagi perempuan marginal desa.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon dan Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Informan pada penelitian ini terdiri dari pemerintah desa, pengurus lembaga kemasyarakatan desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga ekonomi desa, pengelola program pemberdayaan, kader desa dan perempuan marginal desa yang ditentukan secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Analisis menggunakan teknik analisis kualitatif model interaktif Miles & Huberman, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan; kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konformabilitas.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut: 1) pola-pola pemberdayaan yang dilakukan pada kedua desa berbasis potensi lokal dan dilaksanakan dengan tahapan pemberdayaan mulai dengan identifikasi potensi desa, pemetaan masalah, dilanjutkan pada tahapan penyadaran, pengkapasitasan, pendayaan, penguatan dan pembentukan kelembagaan, jejaring kemitraan serta monitoring evaluasi untuk keberlanjutan pemberdayaan. 2) Peran pemerintah desa sebagai simpul utama pemberdayaan meliputi pembuat kebijakan, alokasi anggaran, perencana dan pelaksana, fasilitasi dan mendesain kolaborasi untuk kemitraan dengan para aktor lain dari unsur organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta serta lembaga ekonomi dan komunitas desa. 3) Hasil pemberdayaan ekonomi perempuan marginal di kedua desa meliputi; peningkatan kapasitas ekonomi dan keterampilan produksi, peningkatan pendapatan dan literasi keuangan, peningkatan partisipasi dan aktualisasi diri perempuan, rasa kepemilikan pada komunitas, dan peningkatan transparansi serta akuntabilitas lembaga. Sedangkan hambatan pemberdayaan, meliputi; kurangnya pemanfaatan fasilitas bersama, rendahnya literasi digital, ketimpangan akses pasar, keterbatasan sumber daya manusia, dan dinamika motivasi bisnis yang fluktuatif. 4) Pola pemberdayaan ekonomi perempuan desa yang lebih praktis dan produktif dikembangkan berbasis potensi lokal yang bersifat komunitas, partisipatif dan kontekstual dengan intergrasi pendekatan kolaborasi sosial learning dan situated learning melalui tahapan proses pemberdayaan