63894 research outputs found
Sort by
Pengembangan Model Proyek "Aku Sayang Bumi" Berbasis Experiential Learning-Design Thinking (ELDING) untuk Peningkatan Perilaku Mandiri dan Bergotong Royong Anak di TK,
Penelitian ini dilatarbelakangi permasalahan terkait kurangnya realisasi pelaksanaan Model Proyek di Taman kanak-kanak, terindikasi antara lain pada rendahnya perilaku mandiri dan turunnya kemampuan bergotong royong anak di Taman Kanak-kanak. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menemukan masalah pelaksanaan model proyek saat ini dalam menstimulasi peningkatan perilaku mandiri dan begotong royong anak di TK, (2) menghasilkan desain Model Proyek “Aku Sayang Bumi” berbasis Experiential Learning - Design Thinking (ELDING), (3) menganalisis kelayakan model, (4) mendeskripsikan kepraktisan model, dan (5) menguji efektivitas model untuk peningkatan perilaku mandiri dan bergotong royong anak di TK.
Penelitian ini menggunakan pendekatan research and development (R&D) dengan model Borg and Gall. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sleman, DIY. Pemilihan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Sepuluh sekolah yang mengimplementasikan kurikulum merdeka dipilih sebagai subjek penelitian, dengan rincian lima sekolah sebagai kelompok eksperimen dan lima sekolah lainnya sebagai kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan metode kuisioner. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan melalui focus group discussion (FGD), analisis kelayakan menggunakan uji Ahli yang dihitung dengan formula Aiken’s V, analisis kepraktisan menggunakan analisis deskriftif kuantitatif dan uji efektivitas menggunakan pendekatan penelitian kuasi eksperimen dengan analisis data menggunakan inferensial nonparametrik yaitu Mann-Whitney U untuk membandingkan hasil post test pada kelompok eksperimen dan kontrol.
Penelitian ini menghasilkan lima temuan utama. Pertama, hasil FGD mengungkapkan bahwa pemahaman guru masih terbatas, panduan praktis minim, dan kegiatan pendukung perilaku mandiri serta gotong royong kurang tersedia. Hal ini menegaskan perlunya inovasi model proyek yang sistematis dan kontekstual untuk anak usia dini. Kedua, dikembangkan Model Proyek “Aku Sayang Bumi” berbasis Experiential Learning - Design Thinking (ELDING) dengan delapan sintaks pembelajaran. Ketiga, model ini dinyatakan sangat valid oleh para ahli dengan nilai rata-rata validitas di atas 0,88. Keempat, tingkat kepraktisan model mencapai 85%, termasuk dalam kategori sangat praktis. Kelima, uji efektivitas menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol dalam perilaku mandiri dan bergotong royong (p < 0,001), dengan rata-rata peringkat yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen. Secara keseluruhan, model ini terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku mandiri dan bergotong royong anak TK
Resiliensi dalam Ekosistem Well-Being Untuk Transformasi Pendidikan Berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis implementasi Program Sekolah Penggerak (PSP) di satuan pendidikan; (2) menemukan kondisi resiliensi kepala sekolah dan guru sebagai aktor utama pelaksana program; (3) menemukan kondisi ekosistem well-being pada program; (4) menemukan pola resiliensi dalam ekosistem well-being pada program. Fokus penelitian diarahkan untuk mengkaji resiliensi individu, tim, dan organisasi dalam dinamika implementasi PSP yang mendorong transformasi pendidikan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas personal maupun institusional secara multisite dan multilevel.
Penelitian ini menggunakan metode campuran concurrent embedded design, dengan pendekatan utama kualitatif dan diperkaya pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan di PSP Angkatan 1 Provinsi Jawa Timur, yang melibatkan informan dari kepala sekolah, guru, pengawas, dinas pendidikan, fasilitator, Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK), serta Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP). Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara, diskusi, observasi, dan dokumentasi secara luring maupun daring. Sedangkan data kuantitatif melalui survey daring menggunakan google form, mencakup 149 sekolah (PAUD, SD, SMP, SMA, SLB) yang tersebar di 8 Kabupaten/Kota, dengan total 555 responden kepala sekolah dan guru. Instrumen divalidasi dengan expert judgement dan uji keterbacaan pada PSP Angkatan 2 dan 3. Analisis data kualitatif dilakukan dengan teknik coding tematik dan analisis konfigurasi fsQCA (fuzzy set Qualitative Comparative Analysis). Untuk data kuantitatif diolah menggunakan STATA 17 (Statistical software for data science), kemudian dianalisis dengan kategorisasi skor indeks dalam empat level (rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi) dan analisis kuadran hubungan antar variabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) implementasi PSP mencapai kategori tinggi (good) hingga sangat tinggi (great) dalam ketercapaian intervensi, tujuan & manfaat, dan transformasi perubahan; (2) kondisi resiliensi kepala sekolah dan guru dilihat dari dimensi interpretasi, kapasitas, dan aksi dalam 7 komponen (regulasi emosi, kontrol impuls, optimisme, analisis kausal, empati, efikasi diri, dan reaching out). Tingkat resiliensi mencapai kategori tinggi (recovering) dan berbanding lurus dengan capaian implementasi PSP, yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal yang menjadi pelindung maupun risiko resiliensi, serta pengaruh konfigurasi kondisi institusional (status dan akreditasi sekolah) maupun pengalaman profesional (lama bekerja dan pendidikan terakhir); (3) PSP secara langsung menumbuhkan modal ekosistem seperti human, social, built, dan financial capital, serta mendukung layanan ekosistem sebagai provisioning, regulating, supporting, maupun cultural. Sehingga terwujud school well-being mencakup dimensi having, loving, being, dan health yang baik; (4) Pola resiliensi dalam ekosistem well-being berkembang melalui konstruksi resiliensi sebagai sifat, proses, dan hasil, yang membentuk pola disposisional, relasional, situasional, dan filosofis, sebagai penopang ketahanan dan transformasi pendidikan berkelanjutan, yang bermutu, resilien, dan well-being
Analisis Kelas Laten Siswa SMP dalam Keterampilan Berfikir komputasi: Hubungan antara Dekomposisi Massalah, Pengenalan Pola, Berfikir Algoritma, Abstraksi serta Generalisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelas laten dan hubungan
antar aspek kemampuan berpikir komputasi dengan Latent Class Analysis (LCA)
dan Structural Equation Modeling (SEM).
Penelitian ini menggunakan mixed method dengan model sequential
explanatory yang diawali dengan analisis kuantitatif untuk mengukur kemampuan
berpikir komputasi siswa sekolah menengah pertama (SMP), diikuti oleh analisis
kualitatif untuk mendalami faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan
berpikir komputasi. Sampel penelitian terdiri dari 597 siswa kelas VIII yang
diambil dengan teknik cluster random sampling dari 10 sekolah yang ada di
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan tes dan melalui wawancara serta dokumentasi.
Validitas dibuktikan melalui validitas isi, validitas kontruk dengan Confirmatory
Factor Analysis, reliabilitas dengan inter-rater reliability, dan keabsahan data
dengan triangulasi data. Analisis data kombinasi kuantitatif dan kualitatif
dilakukan dengan LCA dan SEM untuk menentukan hubungan antar aspek
kemampuan berpikir komputasi, dilanjutkan dengan pendekatan Miles dan
Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.
Hasil penelitian dijabarkan sebagai berikut. (1) Instrumen kemampuan
berpikir komputasi yang dihasilkan valid berdasarkan validitas isi dan konstruk,
serta reliabel dengan nilai inter-rater reliability berada pada tingkat “Moderate”
hingga “Very Good”, sehingga instrumen layak digunakan. (2) Hasil analisis
kelas laten menunjukkan bahwa kemampuan berpikir komputasi peserta didik
bervariasi di setiap kelas, dengan kelas 1 dengan 301 peserta didik (50,42%)
memiliki kemampuan sedang, kelas 2 dengan 208 siswa (34,84%) kemampuan
sangat rendah, dan kelas 3 dengan 88 siswa (14,74%) kemampuan sangat baik.
Kelemahan pada dimensi “Abstraksi dan generalisasi” menegaskan perlunya
pendekatan pembelajaran yang adaptif dan strategi yang beragam untuk
meningkatkan pemahaman dan motivasi di semua kelas. (3) Hasil uji statistik
dengan SEM menunjukkan dekomposisi masalah, berpikir algoritma, abstraksi
serta generalisasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir
komputasi, sementara pengenalan pola tidak menunjukkan kontribusi yang
signifikan
Pengembangan Instrumen Penilaian Keterampilan Abad ke-21 Dalam Pembelajaran Kimia di Sekolah Menengah Kejuruan Analis Kimia (SMK-SMAK) Makassar.
Tantangan di abad ke-21 ini menuntut upaya untuk membentuk peserta didik dengan nilai-nilai karakter yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menghasilkan konstruk instrumen penilaian keterampilan abad ke-21, (2) mendeskripsikan kualitas instrumen penilaian keterampilan abad ke-21 yang dikembangkan (3) mendeskripsikan kepraktisan instrumen yang telah dikembangkan, dan (4) mendeskripsikan profil keterampilan abad ke- 21 peserta didik kelas X, XI dan XII.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari Djemari Mardapi (2012) dengan 10 langkah, yaitu: (1) menentukan spesifikasi instrumen, (2) menulis instrumen, (3) menentukan skala, (4) menentukan system penskoran, (5) menelaah instrumen, (6) uji coba terbatas, (7) analisis, (8) merakit instrumen, (9) uji coba lapangan, dan (10) menafsirkan hasil pengukuran. Uji coba melibatkan 500 peserta didik dari SMK- SMAK di Makassar. Validitas isi dibuktikan secara kualitatif melalui expert judgement untuk kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan formula Aiken’s V. Validitas konstruk dibuktikan melalui Confirmatory Factor Analysis, sedangkan karakteristik instrumen dan keterampilan abad ke-21 peserta didik dianalisis menggunakan pendekatan Graded Response Model dengan bantuan program R.
Hasil penelitian ini adalah: (1) konstruk instrumen yang dikembangkan terdiri dari 26 butir berdasarkan empat aspek, yakni creative and innovation, critical thinking and problem solving, communication, dan collaboration dengan bentuk self assessment, (2) kualitas instrumen telah memenuhi syarat-syarat tes yang baik, yaitu meliputi valid secara isi berdasarkan Aiken’s V > 0,75, konstruk dengan CFA, reliabilitas instrumen berdasarkan hasil nilai CR 0,97, dan nilai VE 0,75, serta analisis karakteristik butir melalui IRT model GRM menghasilkan rentang kemampuan yang cukup luas, (3) instrumen yang dikembangkan terbukti praktis digunakan berdasarkan respon sebesar 74,1% peserta didik dan 93,7% guru, dan (4) profil keterampilan abad ke-21 peserta didik berada pada kategori membudaya (24.6%), berkembang (67,8%), mulai berkembang (0,6%) dan memerlukan bimbingan (7,0%)
Paradigma Struktur Mental Guru dalam Habitus Pembelajaran Musik di Sekolah Dasar.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan praktik pembelajaran musik guru SD dalam konteks struktur mental dan pengalaman profesionalnya; (2) menjelaskan alasan mendasar mengapa paradigma berpikir guru terinternalisasi sebagai struktur mental yang membentuk habitus pembelajaran musik di Sekolah Dasar; (3) menganalisis pengaruh lingkungan sosial dan kebijakan sekolah terhadap praktik pembelajaran musik; (4) menganalisis wujud paradigma berpikir guru dalam penguasaan materi, metode, strategi, media, dan pengelolaan pembelajaran; serta (5) menggali alternatif perbaikan pembelajaran musik berbasis paradigma struktur mental guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SD.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, etnografi, dan konstruktivisme sosial. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, angket terbuka, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap guru SD di Berbah yang mengajar musik tanpa latar pendidikan seni. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menyoroti pengalaman guru, modal sosial budaya, serta praktik mengajar musik dalam konteks struktur mental dan habitus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) praktik pembelajaran musik didominasi pendekatan hafalan akibat latar pendidikan non-musik, namun beberapa guru menunjukkan kreativitas kontekstual; (2) Paradigma berpikir guru terinternalisasi sebagai struktur mental karena dibentuk oleh pengalaman pendidikan masa lalu, pengaruh sosial sekolah, dan kebiasaan mengajar yang terus berulang, sehingga melahirkan habitus pembelajaran musik yang cenderung repetitif dan minim inovasi; (3) lingkungan sosial dan kebijakan sekolah memengaruhi praktik melalui dukungan kolegial, seni lokal, dan fleksibilitas kurikulum; (4) paradigma berpikir guru tercermin dalam variasi metode dan strategi mengajar dari hafalan hingga ekspresi musikal; dan (5) perbaikan pembelajaran dilakukan dengan memperkuat modal budaya, ekonomi, sosial, dan simbolik melalui pelatihan, pengadaan alat musik, penguatan jejaring profesional, integrasi musik dalam kegiatan sekolah, serta studi lanjut
Dinamika Transformasi Pondok Pesantren Tradisional (Studi kasus pada Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso dan Pondok Pesantren Al-Istiqomah Petanahan Kabupaten Kebumen),
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menemukan bentuk-bentuk transformasi yang dilakukan oleh pondok pesantren tradisional di kabupaten Kebumen, (2) faktor pendorong dan penghambat proses transformasi, (3) dampak transformasi terhadap identitas, sistem pendidikan, dan peran sosial-keagamaan pondok pesantren tradisional, dan (4) strategi pondok pesantren tradisional dalam menjaga nilai-nilai keislaman salafiyah di tengah proses transformasi.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso Kebumen dan Pondok Pesantren Al-Istiqomah Petanahan Kebumen. Subyek penelitian meliputi Kiai, Asatidz, ketua asrama putra dan putri, Alumni, dan masyarakat sekitar pondok. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data melalui analisis konten untuk dapat memberikan pemaknaan terhadap tema-tema, karakter, bisa dengan melaksanakan kegiatan mengurai data secara detail, hati-hati, sistematik dan menginterpretasikan materi atau data secara menyeluruh. Data yang didapatkan nantinya diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan untuk dimaknai sesuai dengan tujuan penelitian.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Bentuk-bentuk transformasi meliputi pendirian lembaga pendidikan formal, modifikasi kurikulum, pengembangan metode ajar, dan manajemen pesantren. (2) Faktor pendorong proses transformasi di Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso yaitu sinergitas perkembangan zaman, dukungan Kiai dan tokoh masyarakat. Faktor pendorong proses transformasi di Pondok pesantren Al-Istiqomah yaitu memfasilitasi keluarga, inovatif adaptif membaca tuntutan global. Faktor penghambat proses transformasi di Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso adanya pikiran yang tidak sepaham antara keluarga ndalem dengan Kiai sepuh dari luar yang menjadi pengurus yayasan sedangkan faktor penghambat pada Pondok Pesantren Al- Istiqomah Petanahan karena sarpras yang tidak memadai. (3) Dampak transformasi terhadap identitas, sistem pendidikan, dan peran sosial-keagamaan di kedua pondok pesantren tersebut yaitu menambah citra harum pondok pesantren, alumni yang sukses, mutualisme simbiosis antara madrasah dan pesantren, keterlibatan siswa dalam kegiatan pesantren, menjaga ketertiban dengan lingkungan masyarakat, apel kebangsaan hari-hari besar nasional. (4) Strategi kedua pondok pesantren ini dalam menjaga nilai-nilai kesislaman salafiyah di tengah proses transformasi yaitu menyelenggarakan kajian kitab kuning, melestarikan Al-Barzanji, pengajian rutin, ziarah masayikh, dan menanamkan nilai-nilai ketawadluán serta kemandirian
Pengaruh Disiplin Kerja, Budaya Sekolah, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru di Madrasah Aliyah Negeri Se- Kota Mataram
Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis sejauh mana disiplin kerja, budaya
sekolah, serta kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru pada
Madrasah Aliyah di wilayah Kota Mataram.
Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan metode ex-post facto dan
survei. Penelitian ini dalam pelaksanaannya menggunakan strategi survei dengan
memanfaatkan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Populasi penelitian terdiri dari
seluruh guru pada tiga Madrasah Aliyah Negeri di Kota Mataram, yang totalnya mencapai
169 orang. Sampel penelitian dipilih melalui teknik probability sampling, sehingga terpilih
114 guru dari ketiga MA tersebut. Untuk proses pengumpulan data, kuesioner yang
digunakan telah divalidasi baik secara ahli maupun melalui uji empiris guna mendukung
keakuratan penelitian. Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan dengan
bantuan perangkat lunak SPSS Versi 26.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara parsial, disiplin kerja berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja guru dengan koefisien regresi sebesar 0.459. Budaya
sekolah menunjukkan pengaruh negatif terhadap kinerja guru dengan koefisien regresi
sebesar -0.176. Sementara itu, kepemimpinan kepala sekolah juga berpengaruh positif
signifikan terhadap kinerja guru dengan koefisien regresi 0.498. Secara simultan, ketiga
variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru, dengan nilai F hitung
sebesar 98.026 yang lebih besar dari F tabel sebesar 2.68. Temuan ini menegaskan bahwa
peningkatan kinerja guru sangat dipengaruhi oleh tingkat disiplin kerja, kualitas
kepemimpinan kepala sekolah, serta kondisi budaya sekolah yang mendukung
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI PECAHAN MELALUI MEDIA PAPAN PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 7 NGRAYUN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri 7 Ngrayun materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama serta pecahan senilai melalui media papan pecahan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 7 Ngrayun yang berjumlah 15 siswa. Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart dengan tahap perencanaan, tindakan dan observasi, serta refleksi yang berlangsung dalam dua siklus. Siklus pertama
dan kedua masing-masing dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi dengan instrumen pengumpulan data berupa lembar wawancara, lembar observasi, tes tertulis, dan dokumen foto. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media papan pecahan dalam pembelajaran matematika materi operasi
hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama serta pecahan senilai dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 7 Ngrayun tahun ajaran 2024/2025. Media papan pecahan meningkatkan rata-rata hasil belajar siswa dari 66,33 pada siklus I menjadi 77,33 pada siklus II. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 10 siswa dengan persentase 66,67% kemudian menjadi 13 siswa dengan persentase 86,67% pada siklus II. Hasil observasi aktivitas guru meningkat dari 71,25% menjadi 92,5% dan aktivitas siswa meningkat dari 66,25% menjadi 90%.
Kata Kunci : hasil belajar, materi pecahan, papan pecaha
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MENGGUNAKAN METODE STRUKTURAL ANALITIK DAN SINTETIK (SAS) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS II SD NEGERI JLEGONG, KABUPATEN BANJARNEGARA
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya permasalahan pada peserta didik yang
mengalami kesulitan membaca. Salah satu penyebab utama masalah ini adalah
penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan memabaca permulaan dengan menerapkan
metode struktural analitik sintetik (SAS) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
pada peserta didik kelas II di SD Negeri Jlegong, Kabupaten Banjarnegara.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart. Subjek penelitian
adalah peserta didik kelas II yang berjumlah 10 peserta didik SD Negeri Jlegong.
Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Instrumen
pengumpulan data yang digunakan yaitu soal tes kemampuan membaca, lembar
observasi pendidik, lembar observasi peserta didik. Teknik analisi data
menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Indikator keberhasilan
dalam penelitian ini adalah skor rata-rata kelas dalam kemampuan membaca
mencapai ≥ 75%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunakan metode SAS dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan membaca
permulaan. Hasil tes kemampuan membaca pada hasil diagnosa awal sebesar
49,38%, siklus I meningkat sebesar 60%, dan siklus II sebesar 78,13%. Sehingga
metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
berhasil meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas II SD
Negeri Jlegong, Kabupaten Banjarnegara. Kata Kunci : bahasa Indonesia, kemampuan membaca, metode SA
ANALISIS KEMANDIRIAN BELAJAR PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN IPAS DI KELAS V SDN 101802 NAMORAMBE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemandirian belajar serta faktor pendukung dan penghambat kemandirian belajar siswa pada pembelajaran IPAS kelas V SDN 101802 Namorambe.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian mix method (metode campuran) antara kuantitatif dengan kualitatif. Adapun yang menjadi responden pada penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas V SDN 101802 Namorambe. Pengambilan data digunakan dengan menggunakan angket untuk mengetahui kemandirian belajar pada pembelajaran IPAS. Kemudian dilanjutkan dengan tahap wawancara yang bertujuan untuk memperkuat data dari hasil observasi yang diperoleh.
Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan analisis data kemandirian belajar siswa pada pembelajaran IPAS yang dilihat berdasarkan tiga indikator kemandirian belajar dibagi dalam tiga kategori yaitu kategori tinggi, sedang dan rendah. Mengacu pada ketiga indikator tersebut maka kemandirian belajar siswa menunjukkan 4 atau 29% siswa memiliki kemandirian belajar yang tinggi, 8 atau 57% siswa memiliki kemandirian belajar yang sedang dan 2 atau 14% siswa memiliki kemandirian belajar yang rendah. Artinya kemandirian belajar siswa berada pada kategori sedang hal ini ditunjukan 57% dari 14 siswa berada pada kategori sedang. Hal tersebut membuktikan bahwa capaian indikator kemandirian belajar belum tercapai secara utuh. Terdapat faktor pendukung karakter
kemandirian belajar siswa diantaranya motivasi yang membuat peserta didik menjadi lebih semangat untuk mengikuti pembelajaran dengan mandiri. Fasilitas dan prasarana menjadi hal yang penting dan sangat mendukung dalam menunjang proses pembentukan kemandirian belajar siswa. Selain itu guru yang berkulitas juga menjadi penentu keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan faktor penghambat terbentuknya kemandirian belajar siswa adalah rendahnya kepercayaan akan kemampuan dirinya sehingga segala sesuatu yang dilakukan menjadi ragu ragu. faktor penghambat lainnya disebabkan oleh rendahnya kemampuan bersosialisasi individu.
Kata Kunci: Kemandirian Belajar, Percaya Diri, Disiplin, Tanggung Jawab, IPA