Yogyakarta State University

Lumbung Pustaka UNY (UNY Repository)
Not a member yet
    63894 research outputs found

    Pengembangan Model Aktivitas Belajar Gerak Multilateral untuk Meningkatkan Physical Literacy Peserta Didik Kelas Rendah di Sekolah Dasar.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan model aktivitas belajar gerak multilateral untuk meningkatkan physical literacy peserta didik kelas rendah Sekolah Dasar, (2) menguji kelayakan model aktivitas belajar gerak multilateral untuk meningkatkan physical lietracy peserta didik kelas rendah Sekolah Dasar, (3) menguji kepraktisan model aktivitas belajar gerak multilateral untuk meningkatkan physical lietracy peserta didik kelas rendah Sekolah Dasar, dan (4) menguji efektivitas model aktivitas belajar gerak multilateral untuk meningkatkan physical lietracy peserta didik kelas rendah Sekolah Dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D) berdasarkan model Borg & Gall dengan menggunakan sepuluh tahapan penelitian. Subjek penelitian adalah 75 peserta didik Sekolah Dasar kelas rendah yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan mencakup kuesioner uji kelayakan dan kepraktisan model, serta kuesioner kemampuan physical literacy. Validitas isi diuji menggunakan rumus Aiken’s V, sedangkan efektivitas model dianalisis dengan uji paired sample t-test. Hasil dari penelitian ini adalah (1) mengahasilkan lima model aktivitas belajar gerak multilateral untuk meningkatkan physical literacy peserta didik kelas rendah Sekolah Dasar. (2) menghasilkan model aktivitas belajar gerak multilateral dinilai sangat layak oleh para ahli dengan skor validitas 0,86, (3) menghasilkan kepraktisan model mendapat skor rata-rata 4,6 dari skala 5 menurut guru pendidikan jasmani, dan (4) Uji efektivitas menunjukkan peningkatan signifikan dalam indikator physical literacy, dengan peningkatan rata-rata sebesar 25% dan tingkat signifikansi p<0,05. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model aktivitas belajar gerak multilateral terbukti layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan physical literacy peserta didik kelas rendah di Sekolah Dasar. Model aktivitas belajar gerak multilateral mampu meningkatkan motivasi, keterampilan gerak, rasa percaya diri, serta pemahaman konsep gerak peserta didik secara signifikan

    Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa dalam Kewarganegaraan Ekologis di Daerah Istimewa Yogyakarta.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menguji konstruksi teoretis tanggung jawab sosial sebagai individu dalam kewarganegaraan ekologis; 2) mendeskripsikan profil tanggung jawab sosial mahasiswa dalam kewarganegaraan ekologis di DIY; 2) menganalisis pola tanggung jawab sosial mahasiswa dalam kewarganegaraan ekologis di DIY; 4) menyusun desain konseptual pendidikan tanggung jawab sosial sebagai individu dalam kewarganegaraan ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan strategi eksplanatoris sekuensial, melalui tahapan berikut : 1) penelitian kuantitatif dengan analisis SEM dan analisis deskritif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Interrater validity menggunakan koefisien Aiken’s V dan uji empirik menggunakan confirmatory factor analysis; 2) penelitian kualitatif fenomenologi, menggunakan wawancara mendalam-semi terstruktur, uji keabsahan triangulasi sumber, dan analisis data interpretatif; 3) penelitian kualitatif dengan studi literatur melalui kajian literatur dan meta-analisis, yang dianalisis dengan langkah reduksi, penyajian, dan verifikasi. Hasil penelitian: 1) Uji konstruksi teoretis tanggung jawab sosial sebagai individu dalam kewarganegaraan ekologis menunjukkan: interrater validity berdasarkan koefisien Aiken’s V dalam kategori sangat tinggi dengan nilai 0,80 0,5; reliabilitas konstruk dikategorikan baik dengan nilai CR > 0,7; uji kecocokan model dengan Goodness of Fit Index menunjukkan kecocokan model yang baik; 2) Profil tanggung jawab sosial mahasiswa dalam kewarganegaraan ekologis menunjukkan 15,6% sangat tinggi, 33,49% tinggi, 35,62% rendah, dan 15,26% sangat rendah; 3) Pola tanggung jawab sosial mahasiswa dalam kewarganegaraan ekologis mencakup: aspek pengetahuan (ekologis, kontekstual, tindakan dan nilai); aspek sikap (perilaku pro lingkungan aktivisme, pro lingkungan non aktivis di ruang publik, dan pro lingkungan ruang privat); dan aspek karakter (keadilan ekologis dan kesadaran ekosentrisme); 4) Desain konseptual pendidikan tanggung jawab sosial sebagai individu dalam kewarganegaraan ekologis disusun berdasarkan tiga tahapan: deskripsi desain konseptual, uji kelayakan desain konseptual, dan penyempurnaan desain konseptual. Desain konseptual ini bertujuan mengembangkan tanggung jawab sosial individu dalam kewarganegaraan ekologis melalui kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat guna membentuk pendidikan yang efektif dan holistik; peningkatan pengetahuan, sikap, dan karakter berwawasan lingkungan; penerapan kerangka pendidikan yang sistematis dan kontekstual; serta pembentukan perilaku pro-lingkungan yang konsisten dan berkelanjutan. Hasil uji kelayakan terhadap desain menunjukkan bahwa interrater validity berdasarkan koefisien Aiken’s V memperoleh nilai di atas 0,80, sehingga desain konseptual pendidikan dinyatakan sangat layak

    Pengembangan Model Problem-Based Learning Berpendekatan Science, Environment, Technology, Society (PBL-SETS) pada Mata Pelajaran IPAS untuk Meningkatkan Ekoliterasi Siswa Sekolah Dasar.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk 1) menghasilkan model Problem-Based Learning berpendekatan Science, Environment, Technology and Society (PBL-SETS) pada mata pelajaran IPAS, 2) menghasilkan model Problem-Based Learning berpendekatan Science, Environment, Technology and Society (PBL-SETS) yang layak untuk meningkatkan ecoliteracy siswa, 3) menghasilkan model Problem-Based Learning berpendekatan Science, Environment, Technology and Society (PBL-SETS) pada mata pelajaran IPAS yang praktis untuk meningkatkan ecoliteracy siswa, dan 4) menghasilkan model Problem-Based Learning berpendekatan Science, Environment, Technology and Society (SETS) pada mata pelajaran IPAS yang efektif untuk meningkatkan ekoliterasi siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan dengan menerapkan prosedur Borg and Gall yang terdiri dari 10 langkah. Subjek uji coba lapangan utama yaitu 66 siswa kelas IV yang berasal dari 33 siswa di kelas eksperimen, dan 33 siswa di kelas kontrol pada satu sekolah dasar di Kabupaten Sleman. Subjek uji coba lapangan operasional yaitu 124 siswa kelas IV yang berasal dari 62 siswa di kelas eksperimen, dan 62 siswa di kelas kontrol dari dua SD di Kabupaten Sleman. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data analisis kebutuhan dianalisis menggunakan deskriptif kuantitatif; data kelayakan dan kepraktisan model PBL-SETS dianalisis menggunakan deksriptif statistik; dan data keefektifan menggunakan desain ekperimen nonequivalent pretest-posttest quasi-eksperimental yang dianalisis dengan paired sampel t-test dan independent sample t-test. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Model PBL-SETS terdiri dari landasan filosofi (progresivisme), teori belajar konstruktivistik (teori perkembangan kognitif Piaget, teori sosiokultural Vygotsky); sintaks (orientasi, eksplorasi, investigasi, presentasi hasil, dan evaluasi); prinsip reaksi (respon guru terhadap siswa); sistem sosial (kerja sama antar siswa); sistem pendukung (buku model, buku panduan, modul ajar, LKPD, instrumen ekoliterasi); dampak instruksional (ekoliterasi); dampak pengiring (kekompakan, kreatif, sikap positif terhadap kepedulian lingkungan); (2) Model PBL-SETS dinyatakan layak dalam pembelajaran IPAS berdasarkan penilaian dari ahli (dosen dan praktisi); (3) Model PBL-SETS yang dinyatakan sangat praktis berdasarkan hasil uji kepraktisan dan keterlaksanaan model pada uji coba lapangan utama dan operasional; (4) Model PBL-SETS efektif dalam meningkatkan ekoliterasi siswa pada pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Keefektifan model pembelajaran dilihat dari adanya perbedaan yang signifikan antara kelas yang menggunakan PBL- SETS dengan pembelajaran konvensional. Dengan demikian, model PBL-SETS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ekoliterasi siswa SD

    Evaluasi Manajemen Pembinaan Prestasi Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Mukti Kabupaten Lebak Banten

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil evaluasi context, input, process, dan product pada manajemen pembinaan prestasi Sekolah Sepak Bola Bina Mukti Kabupaten Lebak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan metode Kualitatif dengan model evaluasi CIPP. Subjek dalam penelitian ini yaitu pengurus, pelatih, dan atlet SSB Bina Mukti. Teknik sampling menggunakan purposive sampling, dengan kriteria: 3 orang pengurus yang aktif bertugas, 3 orang pelatih yang terlibat dalam pembinaan program latihan, dan 9 atlet yang masih aktif latihan. Evaluasi menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu evaluasi program pembinaan prestasi Sekolah Sepak Bola Bina Mukti dari keseluruhan aspek mendapatkan kriteria cukup yang berarti program pembinaan prestasi Sekolah Sepak Bola Bina Mukti masih belum optimal. Berdasarkan hasil dari masing-masing aspek dengan mengacu pada standar kriteria pembinaan prestasi yang berpedoman pada UU No. 11 tahun 2022 yaitu aspek context masuk kriteria cukup, input cukup, process baik dan product baik sekali. Terdapat catatan penting pada aspek context, input, process, dan product. Rekomendasi bagi pengelola antara lain aspek context untuk menambah jumlah pengurus agar kinerja kepengurusan menjadi lebih optimal, aspek input untuk menjalin kerjasama dengan mitra donatur atau sponsor terkait sumber pendanaaan, aspek process untuk meningkatkan disiplin atlet dalam proses latihan serta lebih dioptimalkan agar menjadi lebih baik lagi, aspek product ketika tim SSB Bina Mukti mengikuti turnamen tingkat nasional harus bisa memaksimalkan pemain-pemain yang ada sehingga target juara bisa dicapai

    Pengembangan Instrumen Penilaian Kemampuan Fisika Siswa SMA Topik Mekanika Berbasis Penyetaraan tanpa Butir Bersama.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan: (1) menghasilkan konstruksi tes kemampuan fisika SMA topik Mekanika pada paket A dan paket B menggunakan validasi isi, validitas konstruk, dan reliabilitas klasik, (2) mengevaluasi kualitas karakteristik butir tes kemampuan fisika SMA topik Mekanika pada paket A dan paket B menggunakan pendekatan teori respons butir, (3) merumuskan persamaan penyetaraan horizontal untuk perangkat tes kemampuan fisika SMA topik Mekanika antara paket A dan paket B dengan menggunakan metode penyetaraan dengan pendekatan teori respons butir, (4) mendeskripsikan profil hasil pengukuran kemampuan fisika peserta didik pada topik Mekanika. Penelitian pengembangan ini meliputi tiga tahap. Tahap perancangan diawali dengan analisis kebutuhan dan literatur, penyusunan perangkat tes, analisis butir melalui validasi isi, dan revisi. Tahap uji coba lapangan melibatkan 497 siswa kelas XI dari tiga SMA negeri di Yogyakarta yang dipilih secara stratified random sampling. Validitas konstruk diuji dengan confirmatory factor analysis (CFA) dan reliabilitas diestimasi menggunakan KR-20. Analisis karakteristik butir dan fungsi informasi tes dilakukan dengan pendekatan teori respons butir (TRB). Penyetaraan horizontal memanfaatkan paket “equateIRT” berbantuan program R melalui metode Haebara, Stocking–Lord, Mean–Mean, Mean–Sigma, dan Mean Geometric-Mean; metode terbaik dipilih berdasarkan nilai Root Mean Square Difference (RMSD) dan nilai agregat. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) dihasilkan dua perangkat tes paralel, masing-masing berisi 30 item pilihan majemuk yang merepresentasikan delapan dimensi; (2) pada setiap paket, 29 item terbukti valid dan reliabel berdasarkan validasi isi, CFA, reliabilitas klasik, serta analisis butir dan fungsi informasi TRB; (3) analisis awal menegaskan kedua paket belum paralel. Konstanta penyetaraan A dan B berturut-turut adalah Haebara (0,824; –0,170), Stocking–Lord (0,991; –0,111), Mean–Mean (1,041; –0,123), Mean–Geometric-Mean (0,993; 0,137), dan Mean–Sigma (1,045; –0,122). Stocking–Lord dipilih sebagai metode terbaik berdasarkan nilai agregat dan kesesuaian kurva karakteristik tes; (4) kemampuan fisika peserta didik pada topik Mekanika tergolong rendah, dengan capaian tertinggi pada subtopik Besaran Gerak dan GLB/GLBB, serta terendah pada Hukum Newton

    Pengembangan Model PePA (Peer-Engaged Project Application Model) untuk Meningkatkan Emerging Soft Skills.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan langkah-langkah model pembelajaran PePA (Peer-Engaged Project Application Model) dalam pembelajaran praktik konstruksi fabrikasi sebagai strategi untuk mengembangkan emerging soft skills mahasiswa Program Studi D4 Teknik Mesin; (2) menghasilkan model pembelajaran PePA yang layak diterapkan untuk meningkatkan emerging soft skills mahasiswa dalam pembelajaran praktik konstruksi fabrikasi; (3) menghasilkan model PePA yang efektif diterapkan untuk mengembangkan emerging soft skills mahasiswa; (4) menghasilkan konsep baru model pembelajaran PePA untuk pembelajaran praktik konstruksi fabrikasi. Penelitian merupakan research and development dengan model pengembangan ADDIE (analysis, design, development, implementation, evaluation). Penelitian dilaksanakan di Departemen Pendidikan Teknik Mesin, FT UNY dari Februari sampai dengan Juli 2024. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner serta melalui wawancara dan dokumentasi. Validitas instrumen mencakup validitas isi dan validitas konstruk. Uji efektivitas dilakukan dengan equivalent time series design. Data dianalisis secara deskriptif, kualitatif, dan kuantitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Model pembelajaran PePA yang dikembangkan terdiri dari tujuh sintaks utama: membuat tim, membuat proyek, menentukan proyek dan peran kelompok, menyusun rencana kerja, membuat produk, presentasi hasil, dan refleksi; (2) Model tersebut dinilai sangat layak dan efektif oleh pendidik dan peserta didik, dengan skor rata-rata di atas 3,25, yang termasuk kategori sangat layak; (3) Model tersebut terbukti efektif dalam mengembangkan emerging soft skills mahasiswa, dengan peningkatan skor rata-rata komunikasi dari 3,03 pada perlakuan I menjadi 3,63 pada perlakuan III, kerja sama tim dari 3,20 menjadi 3,79, dan pemecahan masalah dari 3,13 menjadi 3,72. Peningkatan signifikan terjadi pada aspek komunikasi, kerja sama tim, dan pemecahan masalah, dengan nilai signifikansi < 0,05 berdasarkan analisis paired sample t-test; (4) Model PePA memiliki kebaruan pada integrasi sistematis antara cooperative-based learning dan project-based learning, dengan skema unik di mana mahasiswa mengerjakan proyek rancangan tim lain dan berbagi peran secara sistemis. Dikembangkan pula instrumen khusus untuk mengukur ketercapaian emerging soft skills, yaitu komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah

    Pengembangan Model Praktik Sistem Siklus dan Bersertifikat (SISBER) untuk Meningkatkan Keterampilan Rekayasa Proses Pemesinan.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan model praktik sistem siklus dan bersertifikat (SISBER) yang mempunyai karakteristik untuk meningkatkan keterampilan rekayasa proses pemesinan; (2) menguji kelayakan model yang dihasilkan; dan (3) menguji keefektifan model yang dikembangkan. Penelitian ini merupakan research and development (R&D) menggunakan model ADDIE. Tempat penelitian di Program Studi D-IV Teknik Mesin Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara, kuesioner, observasi, lembar validasi, dan tes tertulis. Analisis data menggunakan Paired Sample T-Test, uji N-Gain Score, dan tabel kriteria penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) model praktik sistem siklus dan bersertifikat (SISBER) mempunyai karakteristik dengan tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tindak lanjut, tahap presentasi, serta terintegrasi dengan sertifikasi kompetensi; (2) hasil penilaian uji kelayakan oleh expert judgement berupa skor sebesar 92,03% serta hasil uji coba terbatas didapatkan skor penilaian respon Dosen sebesar 92,5% dan skor penilaian respon Mahasiswa sebesar 81,88% yang masuk dalam kategori sangat layak, sehingga model praktik sistem siklus dan bersertifikat (SISBER) sangat layak untuk meningkatkan keterampilan rekayasa proses pemesinan; (3) hasil uji menggunakan Paired Sample T-Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan rekayasa proses pemesinan setelah menggunakan model praktik sistem siklus dan bersertifikat (SISBER). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji N-Gain Score pada aspek pengetahuan yang menunjukkan bahwa adanya peningkatan sebesar 67,19%. Pada aspek keterampilan dan sikap diperoleh skor sebesar 92,97 yang apabila dibandingkan dengan tabel kriteria penilaian masuk dalam kategori baik sekali. Dapat disimpulkan bahwa model praktik sistem siklus dan bersertifikat (SISBER) efektif untuk meningkatkan keterampilan rekayasa proses pemesinan

    Model Pembelajaran Computer Aided Manufacturing Selaras Industri (CASI) untuk Meningkatkan Adaptive Machining Skills.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan langkah-langkah pengembangan model pembelajaran CASI untuk meningkatkan adaptive machining skills, (2) menghasilkan model pembelajaran CASI yang layak diterapkan untuk meningkatkan adaptive machining skills, (3) menghasilkan model pembelajaran CASI yang efektif dalam meningkatkan adaptive machining skills. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan dengan model pengembangan Richey & Klein dengan tahapan 1) Pengembangan Model; 2) Validasi Model; 3) Aplikasi Model. Penelitian ini dilaksanakan di Departemen Teknik Mesin dan Otomotif, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Yogyakarta (FV UNY), PT. YPTI, dan Departemen Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik UNY dari Februari sampai dengan Juli 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validitas instrumen mencakup validitas isi dan validitas konstruk. Uji efektivitas menggunakan equivalent time series design. Data dianalisis secara deskriptif, kualitatif, dan kuantitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Model pembelajaran CASI yang telah dikembangkan memiliki kebaharuan pada integrasi antara cooperative learning dan work-based learning serta rumusan adaptive machining skills yang meliputi keterampilan problem solving, critical thinking, leadership, dan kompetensi CAM level 5. Model Pembelajaran CASI yang dikembangkan memiliki tujuh siktaks utama yaitu: pemberian materi, pembentukan kelompok, penentuan job CASI, pengerjaan job, pemeriksaan hasil praktik, presentasi, dan refleksi. (2) Model CASI dinilai sangat layak oleh pendidik dan peserta didik, dengan skor rata- rata di atas 81,25, yang termasuk kategori sangat layak. (3) Model pembelajaran CASI tersebut terbukti efektif dalam mengembangkan adaptive machining skills mahasiswa, pada perlakuan I rata-rata nilai problem solving 69, critical thinking 67, leadership 68,75, dan nilai kompetensi CAM 75,31 naik pada perlakuan III menjadi rata-rata nilai problem solving 86,25, critical thinking 88,5, leadership 88, dan nilai kompetensi CAM 86,25. Berdasarkan uji paired sample t-test perbedaan perlakuan 1 dan sesudah perlakuan 3 menunjukkan bahwa model pembelajaran CASI meningkatkan adaptive machining skills secara signifikan dengan nilai signifikansi <0.05. Model pembelajaran CASI yang dikembangkan terbukti menjadi pendekatan pembelajaran yang efektif untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia industri

    Model Struktural Technopreneurship Skill Siswa SMK Program Keahlian Teknik Otomotif.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengembangkan model struktural technopreneurship skill siswa SMK Teknik Otomotif, 2) menguji pengaruh antara variabel pendidikan technopreneurship, growth mindset, modal psikologis, modal sosial, modal digital, dan modal manusia terhadap technopreneurship skill siswa SMK Teknik Otomotif, 3) mengembangkan model konseptual pendidikan technopreneurship di SMK Teknik Otomotif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian campuran sekuensial eksplanatori (Sequential Explanatory Mix-Method). Metode kuantitatif bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model struktural serta menguji hipotesis penelitian. Metode kualitatif bertujuan untuk memperdalam temuan unik dari hasil penelitian kuantitatif. Data kuantitatif dikumpulkan dari 300 siswa SMK Teknik Otomotif melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Tahap kualitatif dilakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap informan terpilih untuk menafsirkan temuan statistik yang dianggap unik. Hasil temuan penelitian: 1) pengembangan model struktural techopereneurship skill siswa SMK Teknik Otomotif terbukti secara empiris dan memenuhi persyaratan evaluasi model pengukuran, evaluasi model struktural, dan evaluasi kecocokan model dengan nilai SRMR 0.07 (good fit), NFI 0.83 (acceptable fit), d_ULS 2.06 (fit), dan d_G 0.82 (fit). 2) Pengaruh langsung dan mediasi antar variabel menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Pendidikan technopreneurship berpengaruh signifikan terhadap growth mindset, yang selanjutnya memediasi pengaruh terhadap modal psikologis, modal digital, dan modal manusia. Ketiga modal tersebut juga terbukti memiliki kontribusi signifikan terhadap technopreneurship skill siswa. Temuan unik dalam penelitian ini adalah modal sosial tidak berpengaruh secara langsung maupun mediasi terhadap pembentukan technopreneurship skill siswa. Hasil eksplorasi kualitatif memperkuat bahwa pendidikan technopreneurship yang dikembangkan secara sistemik dan kontekstual serta didukung oleh penguatan growth mindset dan modal internal siswa merupakan determinan penting dalam menumbuhkan technopreneurship skill siswa. Hasil ini juga merekomendasikan penguatan modal sosial siswa dengan berbagai program. 3). Model konseptual pendidikan technopreneurship di SMK Teknik Otomotif yang dikembangkan adalah Model Go-HeruFitta yang mewakili dimensi kunci Growth Mindset Oriented (GO), modal psikologi: Hope, Efficacy, Resilience, Optmism (HERU), modal sosial: Friendship and Interaction (FI), modal digital: Technology (T), dan modal manusia: Talent Adaptability (TA)

    Kondisi Kantin Sehat di Sekolah Dasar Negeri Sekapanewon Ngemplak Kabupaten Sleman

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kondisi kantin sehat khususnya bagi Sekolah Dasar di wilayah Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei. Sampel penelitian ditentukan menggunakan metode total sampling, sehingga seluruh populasi sekolah dasar negeri di Kapanewon Ngemplak menjadi bagian dari penelitian ini. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif untuk memberikan gambaran kondisi kantin tanpa melakukan analisis lebih lanjut atau menarik kesimpulan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kantin sehat di sekolah dasar negeri di Kapanewon Ngemplak termasuk dalam kategori "baik", dengan rata-rata skor keseluruhan sebesar 3,33. Skor tertinggi terdapat pada indikator Pangan Jadi, Fasilitas Sanitasi, dan Dapur atau Ruang Pengolahan Makanan yang masing-masing memperoleh skor 4,00. Sementara itu, skor terendah berada pada indikator Komitmen dan Manajemen sebesar 2,00, serta Fasilitas Meja/Kursi dan Rambu-Rambu sebesar 2,20. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar indikator telah memenuhi standar yang baik, aspek manajerial dan fasilitas pendukung masih perlu ditingkatkan untuk mendukung keberlanjutan kantin sehat di sekolah

    51,344

    full texts

    63,894

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Pustaka UNY (UNY Repository)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇