63894 research outputs found
Sort by
PENINGKATAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PENDIDIKAN PANCASILA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI SISWA KELAS IV SD NEGERI SURYODININGRATAN 2
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya hasil belajar kognitif
Pendidikan Pancasila kelas IV SD Negeri Suryodiningratan 2. Berdasarkan
masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
kognitif Pendidikan Pancasila menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD pada siswa kelas IV SD Negeri Suryodiningratan 2. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain mengacu pada model Kemmis dan Mc. Taggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yang meliputi tahap perencanaan, observasi, tindakan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Suryodiningratan 2, yang berjumlah 25 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan soal tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif siswa kelas IV
SD Negeri Suryodiningratan 2 pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dapat
ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang
ditandai dengan meningkatnya presentase hasil belajar kognitif siswa. Rata-rata
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila pada pra siklus
adalah 51,28 dengan presentase 28% siswa yang mencapai KKM, kemudian ratarata siklus I adalah 70,2 dengan presentase siswa yang mencapai KKM sebanyak
64%. Setelah dilakukan refleksi dan upaya perbaikan pada siklus I, pada siklus II
hasil belajar kognitif siswa meningkat dengan rata-rata hasil belajar kognitif siswa
adalah 81,4 dan presentase siswa yang mencapai KKM sebesar 84%.
Kata kunci: hasil belajar kognitif siswa, Model pembelajaran kooperatif tipe
STA
PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI SE-GUGUS IV KECAMATAN SEMANU KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
efikasi diri terhadap motivasi belajar siswa kelas V SD Negeri Se-Gugus IV
Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis survei. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri se-Gugus IV Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul yang berjumlah 139 siswa dengan sampel penelitian sebanyak 106 siswa ditentukan dengan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen skala efikasi diri
dan motivasi belajar. Uji validitas isi menggunakan teknik expert judgement. Uji
reliabilitas menggunakan rumus alpha cronbach. Teknik analisis data yang
digunakan adalah regresi linear sederhana. Diperoleh nilai signifikansi yaitu 0,00 artinya sig < 0,05 maka variabel efikasi diri berpengaruh terhadap variabel motivasi belajar dimana variabel efikasi diri dapat memprediksi variabel motivasi belajar. Pada persamaan regresi Y = 28,901 + 0,510X = 29,411X. Nilai positif (0,510) yang terdapat pada koefisien regresi variabel bebas yaitu efikasi diri menunjukkan bahwa arah hubungan antara variabel efikasi diri dengan variabel motivasi belajar adalah searah yang memiliki
arti bahwa setiap satu satuan variabel efikasi diri akan menyebabkan prediksi
motivasi belajar siswa sebesar 28,901 + 0,510X = 29,411X. Nilai koefisien
determinasi sebesar 0,703 yang artinya efikasi diri memberikan sumbangan efektif
sebesar 70,3% terhadap motivasi belajar.
Kata Kunci : Efikasi Diri, Motivasi Belajar, Siswa Sekolah Dasa
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) SISWA KELAS IV SD NEGERI SIDOMULYO SLEMAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa melalui model pembelajaran CIRC di kelas IV SD Negeri Sidomulyo Sleman. Penelitian ini dilatarbelakangi dari permasalahan yang terdapat pada siswa kelas IV SD Negeri Sidomulyo Sleman yaitu terkait kemampuan membaca pemahaman yang masih rendah.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan model PTK Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dengan dua pertemuan pada masing-masing siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Sidomulyo yang terdiri dari 24 siswa. Objek yang diteliti yaitu peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan penerapan model pembelajaran CIRC. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu terdiri dari soal tes, lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran CIRC, dan lembar observasi pembelajaran membaca pemahaman menggunakan model pembelajaran CIRC. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan hasil tes membaca pemahaman yang mengalami peningkatan pada tiap siklusnya. Pada siklus I diperoleh hasil tes dengan nilai rata-rata 62,7 dan persentase ketuntasan sebesar 42%. Selanjutnya pada siklus II diperoleh hasil tes dengan nilai rata-rata 86,5 dan persentase ketuntasan sebesar 88%. Melalui hasil tes tersebut terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan pada setiap siklusnya serta telah memenuhi kriteria keberhasilan tindakan yang ditetapkan sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CIRC terbukti efektif dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa.
Kata Kunci: Membaca Pemahaman, CIRC, Siklu
PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV SDN SE-GUGUS V KAPANEWON PENGASIH KABUPATEN KULON PROGO
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui seberapa besar prestasi belajar siswa; (2) Mengetahui seberapa besar tingkat keterlibatan orang tua dalam belajar siswa; (3) Mengetahui pengaruh keterlibatan orang tua dalam belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas IV di SDN se-Gugus V Kapanewon Pengasih pada Tahun Pelajaran 2024/2025.
Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian kuantitatif ex-post facto. Populasi yang diteliti terdiri dari siswa kelas IV SD negeri se-Gugus V di Kapanewon Pengasih, yang berjumlah 73 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, di mana seluruh populasi dijadikan sebagai sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dokumentasi, yang telah diuji untuk validitas dan reliabilitas cronbach’s alpha sebesar 0.803. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif serta pengujian hipotesis menggunakan regresi linear sederhana.
Berdasarkan hasil penelitian, keterlibatan orang tua dalam belajar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Variabel keterlibatan orang tua dalam belajar memberikan kontribusi sebesar 32,3% terhadap prestasi belajar. Siswa dengan tingkat keterlibatan orang tua dalam belajar yang tinggi cenderung mencapai prestasi belajar yang lebih baik. Sebaliknya, siswa dengan keterlibatan orang tua dalam belajar yang rendah menunjukkan prestasi belajar yang juga rendah. Persentase keterlibatan orang tua dalam belajar siswa kelas IV di SD Negeri se-Gugus V Kapanewon Pengasih berada pada kategori tinggi, yaitu sebesar 36,99%. keterlibatan orang tua dalam belajar yang tinggi ini berdampak positif pada kemampuan belajar anak. Hal ini sejalan dengan prestasi belajar siswa kelas IV di SD Negeri se-Gugus V Kapanewon Pengasih, di mana sebagian besar siswa berada dalam kategori tuntas, mencapai 73%.
Kata Kunci: Keterlibatan Orang Tua, Prestasi Belaja
Pengembangan Model Penilaian Kemampuan Fisika Terintegrasi Keterampilan Abad ke-21 pada Peserta Didik SMA.
Penelitian ini secara umum untuk mengembangkan model penilaian kemampuan fisika terintegrasi keterampilan abad ke-21 (KFA 21). Secara rinci, tujuan penelitian untuk menghasilkan: 1) desain model penilaian KFA 21; 2) model penilaian KFA 21 yang berkualitas baik dan praktis; dan 3) profil kemampuan peserta didik berdasarkan hasil penilaian model KFA 21.
Metode penelitian yang yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan yang terdiri dari beberapa tahapan. Secara rinci, tahapan penelitian dan pengembangan: 1) review literatur dan studi lapangan; 2) perencanaan tujuan; 3) penyusunan kisi-kisi, butir instrumen, dan pedoman penskoran; 4) validasi instrumen dengan pakar; 5) uji coba keterbacaan dan revisi; 6) pelaksanaan uji coba; 7) penskoran, analisis hasil uji coba, dan revisi; 8) pelaksanaan penilaian; 9) penskoran dan analisis hasil penilaian; dan 10) interpretasi hasil analisis dan perakitan instrumen. Instrumen divalidasi oleh tujuh pakar yang selanjutnya dianalisis dengan formula Aiken. Uji coba keterbacaan diberikan kepada 10 peserta didik SMA, pelaksanaan uji coba tes KFA 21 diberikan kepada 330 peserta didik sedangkan uji coba LKPD KFA 21 diberikan kepada 68 peserta didik dengan melakukan pembelajaran berbantuan PhET. Penilaian tes KFA 21 diberikan kepada 768 peserta didik SMA. Validitas konstruk instrumen diperoleh dengan menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA), sedangkan estimasi reliabilitas konstruk dengan Cronbach’s Alpha dan Omega. Analisis butir menggunakan pendekatan Multidimensional Item Response Theory dengan model bifaktor. Profil peserta didik dianalisis menggunakan statistik deskriptif.
Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa: 1) Kisi-kisi tes mengacu pada materi fisika esensial dengan sebaran terdiri dari butir kemampuan fisika terintegrasi dengan berpikir kritis dan kreatif dan LKPD KFA 21 mengikuti langkah-langkah keterampilan proses sains; 2) tes KFA 21 memiliki kualitas dan kepraktisan yang baik berdasarkan validitas isi, validitas dan reliabilitas konstruk, analisis butir dengan melihat paramater daya beda dan tingkat kesukaran dan respons positif dari peserta didik. Untuk produk LKPD KFA 21 memilik kualitas yang baik berdasarkan penilaian layak dari pakar dan respons positif peserta didik. Terakhir, produk instrumen keterampilan kolaborasi dan komunikasi memiliki kualitas yang baik berdasarkan penilaian layak dari pakar; 3) profil peserta didik berdasarkan tes KFA 21 sebagian besar pada level Pemahaman dan Eksplorasi, Aplikasi dan Adaptasi, dan Analisis dan Sintesis. Selain itu, pembelajaran pada kelas menggunakan LKPD Fluida dan Termodinamika menunjukkan peserta didik sangat kolaboratif dan komunikatif yang mana kontras dengan pembelajaran pada kelas yang menggunakan LKPD Gelombang
Pengembangan Model Asesmen Diagnostik pada Blended Learning Matematika Untuk Siswa Sekolah Dasar.
Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) Menghasilkan desain model asesmen diagnostik matematika SD pada blended learning; (2) Mendeskripsikan model asesmen diagnostik matematika yang sesuai untuk siswa SD pada blended learning; (3) Mendeskripsikan model asesmen diagnostik matematika SD pada blended learning yang praktis; (4) Mendeskripsikan hasil asesmen diagnostik matematika SD dan tindak lanjutnya pada blended learning.
Pengembangan model asesmen diagnostik berbasis blended learning menggunakan model ADDIE. Tahap Analysis mengidentifikasi kebutuhan siswa, guru, dan potensi teknologi. Tahap Design menyusun rancangan model asesmen diagnostik, panduan implementasi, dan desain platform teknologi. Tahap Development menciptakan prototipe model, instrumen, panduan, dan platform teknologi untuk diuji. Tahap Implementation melibatkan uji coba pada 238 siswa di 8 sekolah. Tahap Evaluation memastikan validitas, reliabilitas, dan efektivitas produk melalui validasi ahli, analisis uji coba, dan revisi. Data diperoleh melalui studi literatur, FGD, tes diagnostik, dan kuesioner. Analisis validitas dilakukan dengan formula Aiken dan CFA, sedangkan reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach. Kualitas butir soal dianalisis dengan IRT menggunakan model PCM, GPCM, GRM dan MGRM. Kepraktisan model asesmen diagnostik dianalisis dengan statistik deskriptif.
Hasil Penelitian adalah: (1) model asesmen diagnostik pada blended learning matematika mencakup framework, asesmen diagnostik, platform asesmen, dan panduan model. Instrumen terdiri dari 7 asesmen diagnostik two-tier untuk mendeteksi miskonsepsi. Platform asesmen dilengkapi fitur rekomendasi materi untuk mengatasi miskonsepsi siswa dan terintegrasi dengan LMS Moodle. Panduan asesmen dirancang untuk membantu guru menyusun soal, menganalisis hasil, dan memanfaatkan platform secara optimal; (2) Validitas model asesmen diagnostik kategori “sangat baik” dan “baik”. Validitas isi butir pada 7 asesmen diagnostik berkategori baik (V=Aiken > 0,8) dan validitas konstruk memiliki kecocokan model yang baik (CFI & TLI > 0,9; RMSEA & SMSR 0,8). Analisis butir soal menunjukkan daya beda tinggi dan tingkat kesukaran bervariasi; (3) model asesmen praktis digunakan dalam mendeteksi miskonsepsi matematika siswa, memberikan rekomendasi kepada siswa, dan membantu guru merancang intervensi pembelajaran; dan (4) hasil asesmen diagnostik mengidentifikasi bahwa siswa mengalami miskonsepsi pada materi pecahan dan desimal. Rekomendasi hasil asesmen diagnostik dapat ditindaklanjuti oleh guru dan masing-masing siswa
Meta Analisis : Pengaruh Blended-Learning Model Station Rotation Terhadap Hasil Belajar Siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran blended learning tipe station rotation terhadap hasil belajar siswa melalui pendekatan meta-analisis. Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, khususnya setelah pandemi COVID-19, yang mendorong guru untuk menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring dalam satu kesatuan strategi pembelajaran. Model station rotation dipandang efektif karena memberikan fleksibilitas waktu belajar, memfasilitasi pembelajaran diferensiasi, dan meningkatkan interaksi antara guru dan siswa. Namun, hasil penelitian terdahulu menunjukkan variasi tingkat efektivitasnya, sehingga diperlukan sintesis komprehensif untuk memperoleh gambaran umum pengaruhnya terhadap hasil belajar. Penelitian ini menggunakan metode meta-analisis dengan mengacu pada panduan PRISMA, yang melibatkan tahapan identifikasi, seleksi, kelayakan, dan inklusi studi. Sumber data diperoleh dari artikel jurnal nasional dan internasional yang terindeks, dengan kriteria inklusi meliputi: (1) penelitian kuantitatif eksperimen atau kuasi eksperimen, (2) menggunakan model station rotation, (3) mengukur variabel hasil belajar, dan (4) memiliki data yang memadai untuk perhitungan effect size.
Analisis dilakukan menggunakan Program R untuk menghitung effect size dan menguji heterogenitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa model station rotation memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa, dengan kategori pengaruh sedang hingga tinggi. Selain itu, moderator seperti jenjang pendidikan, mata pelajaran, durasi intervensi, dan lokasi penelitian memengaruhi besar pengaruhnya. Studi ini menegaskan bahwa implementasi station rotation dapat menjadi strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar, khususnya jika diintegrasikan dengan desain pembelajaran yang adaptif dan penggunaan media digital yang relevan. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pendidik, pengembang kurikulum, dan pembuat kebijakan dalam mengoptimalkan penerapan model blended learning, khususnya tipe station rotation, di berbagai jenjang pendidikan. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas kajian pada variabel non-kognitif seperti motivasi, keterlibatan belajar, dan keterampilan abad ke-21, sehingga gambaran efektivitas model ini menjadi lebih komprehensif
Pengembangan Model Pembelajaran Etnos-TPACK Berbantuan Augmented Reality untuk Meningkatkan Literasi Sains dan Literasi Budaya Siswa SMP.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menghasilkan Model Pembelajaran Etnos- TPACK yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA bagi siswa SMP sesuai dengan karakteristik model pembelajaran; (2) menghasilkan Model Pembelajaran Etnos-TPACK yang memenuhi kriteria layak berdasarkan validasi ahli; (3) menghasilkan Model Pembelajaran Etnos-TPACK yang memenuhi kriteria efektif dalam meningkatkan literasi sains dan literasi budaya siswa SMP; dan (4) menghasilkan Model Pembelajaran Etnos- TPACK yang memenuhi kriteria praktis dalam implementasi pembelajaran IPA di kelas.
Model dikembangkan melalui tahapan Analyze-Design-Develop-Implement- Evaluate (ADDIE), sedangkan efektivitasnya diuji menggunakan desain quasi- experiment nonequivalent control group. Model dirancang mengikuti karakteristik model pembelajaran Joyce dan Weil, berlandaskan teori TPACK, etnosains, konstruktivisme, sosiokultural, dan model mental. Struktur model mencakup delapan sintaks utama yang mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran IPA secara konseptual dan kontekstual. Instrumen penelitian mencakup literasi sains, literasi budaya, keterlaksanaan, kepraktisan, serta lembar validitas model dan perangkat, yang dirumuskan berdasarkan indikator teoretis dan divalidasi oleh ahli kurikulum, media digital, dan pembelajaran IPA. Hasil validasi berada pada rentang Aiken’s V sebesar 0,73–0,87, sedangkan validitas konstruk literasi dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA) terhadap 408 siswa dari sebelas SMP di Sulawesi Tengah. Kelayakan dan kepraktisan model diuji melalui uji coba terbatas di SMPN 2 Luwuk, 53 siswa, dua kelas eksperimen dan kontrol. Uji coba luas di SMPN 3 dan 4 Luwuk, 133 siswa, tiga kelas, Etnos-TPACK berbantuan AR, tanpa AR, dan kontrol, dengan sampel acak sesuai standar uji asumsi.
Hasil penelitian menunjukkan (1) Model Pembelajaran Etnos-TPACK telah dikembangkan berdasarkan karakteristik model dengan mengintegrasikan prinsip TPACK, teori etnosains, dan teknologi berbasis Augmented Reality. (2) Model dinyatakan layak berdasarkan validasi ahli dengan nilai Aiken’s V antara 0,73 hingga 0,87, mencakup komponen model pembelajaran. (3) Model terbukti efektif meningkatkan literasi sains dan budaya siswa secara signifikan pada uji coba terbatas dan luas; peningkatan literasi budaya secara umum diikuti oleh peningkatan literasi sains, dan pada dua kelas yang tidak teruji signifikan akibat latar belakang demografi dan pengetahuan awal budaya siswa. (4) Kepraktisan model dikonfirmasi melalui hasil uji keterlaksanaan dan persepsi guru serta siswa, yang menunjukkan penilaian sangat baik dalam hal kemudahan implementasi, relevansi materi, dan kontribusinya terhadap motivasi dan pemahaman konsep sains secara kontekstual
Pengembangan Model Pembelajaran Flipped Classroom Terintegrasi Green Skills pada Elemen Gambar Teknik di Sekolah Menengah Kejuruan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengembangkan model pembelajaran
Flipped Classroom yang dapat digunakan untuk meningkatkan Green Skills siswa
pada elemen gambar teknik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). (2) Menilai
kelayakan model Flipped Classroom dalam meningkatkan Green Skills siswa pada
elemen gambar teknik di SMK berdasarkan validasi ahli. (3) Menganalisis
pengaruh model pembelajaran Flipped Classroom dalam meningkatkan Green
Skills siswa pada elemen gambar teknik di SMK. (4) Menganalisis keefektifan
model pembelajaran Flipped Classroom dalam meningkatkan Green Skills siswa
pada elemen gambar teknik di SMK.
Penelitian ini merupakan Research and Development (R&D) menggunakan
model pengembangan 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan terdiri dari tahapan
Define, Design, Develop, dan Disseminate. Populasi penelitian adalah SMK dengan
konsentrasi keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan di Kota Medan dan
Kabupaten Deli Serdang. Subjek penelitian adalah siswa kelas X di SMK Negeri 1
Percut Sei Tuan sebanyak 30 orang sebagai kelas eksperimen dan SMK Negeri 2
Medan sebanyak 30 siswa sebagai kelas kontrol. Desain uji coba menggunakan
Quasi Experimental Design untuk menganalisis pengaruh dan efektivitas model
pembelajaran. Pengumpulan data penelitian meliput observasi, wawancara,
penyebaran angket skala likert, tes pilihan ganda dan essay serta LKPD yang telah
divalidasi oleh ahli materi, ahli media dan ahli pengguna. Analisis data yang
digunakan adalah uji Independent Sample T Test dan uji N-Gain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model pembelajaran Flipped
Classroom terintegrasi Green Skills pada elemen gambar teknik di SMK berhasil
dikembangkan melalui tahapan 4D dengan 3 siklus meliputi 6 sintaks pembelajaran.
(2) Hasil validasi yang dilaksanakan melalui Focus Group Discussion (FGD) oleh
ahli materi, ahli media, dan ahli pengguna menunjukkan bahwa model
pembelajaran masuk dalam kategori Layak Digunakan, dengan rata-rata hasil
validasi ahli materi sebesar 86,20, ahli media sebesar 76,46, dan ahli pengguna
sebesar 85,41. (3) Uji t menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,000; < 0,05)
dengan nilai effect size Cohen's d (d = 3.32; > 1.00), sehingga model pembelajaran
Flipped Classroom terbukti berpengaruh Sangat Besar dalam meningkatkan Green
Skills siswa SMK. (4) Uji efektivitas melalui N-Gain menunjukkan kategori Cukup
Efektif (60,58%) pada kelas eksperimen dan Kurang Efektif (50,47%) pada kelas
kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Flipped Classroom
mampu meningkatkan Green Skills siswa, khususnya dalam aspek pemahaman
dasar-dasar gambar teknik dan konsep rumah ramah lingkungan
Pengaruh Supervisi Akademik, Penghargaan (Reward), dan Lingkungan Kerja terhadap Motivasi Kerja Guru di SMA Kabupaten Kepulauan Meranti
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh supervisi akademik, penghargaan
(reward), dan lingkungan kerja terhadap motivasi kerja guru di SMA Kabupaten Kepulauan
Meranti. Penelitian ini menyoroti bagaimana ketiga variabel tersebut, baik secara simultan
maupun parsial, memengaruhi motivasi kerja guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan ex post facto dan
rancangan korelasional. Data diperoleh melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan
reliabilitasnya menggunakan uji Pearson dan Cronbach's Alpha. Sampel penelitian adalah 196
guru yang dipilih melalui Teknik simple random sampling dari total populasi 368 guru. Teknik
analisis data melibatkan uji regresi linier berganda untuk mengukur hubungan antar variabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik, penghargaan, dan
lingkungan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru, baik
secara parsial maupun simultan. Supervisi akademik berkontribusi melalui peningkatan
keterampilan profesional, penghargaan memengaruhi apresiasi dan semangat kerja, serta
lingkungan kerja memberikan suasana yang mendukung produktivitas. Direkomendasikan agar
supervisi akademik lebih terstruktur, pemberian penghargaan dilakukan secara konsisten, dan
lingkungan kerja diperbaiki untuk mendukung kinerja optimal guru