UNY Journal (Universitas Negeri Yogyakarta)
Not a member yet
20087 research outputs found
Sort by
BURGER DENGAN SUBSTISUTI KENTANG YANG DIPADUKAN DENGAN PATTY YANG DIGEMARI OLEH REMAJA
Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan produk makanan cepat saji berupa burger kentang yang memiliki kandungan serat tinggi dan cocok dikonsumsi oleh remaja. Produk ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mempertimbangkan faktor kepraktisan dan cita rasa yang digemari oleh kalangan remaja. Tujuan khusus penelitian ini meliputi: merumuskan resep burger kentang yang tepat, menentukan bentuk penyajian dan kemasan yang menarik, mengukur tingkat kesukaan konsumen, serta menetapkan harga jual dan Break Even Point (BEP) produk.
Metode yang digunakan adalah R&D (Research and Development) dengan model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate). Tahap Define dilakukan dengan menguji tiga resep acuan untuk bun dan patty. Tahap Design mengembangkan formula dengan substitusi kentang pada bun (20%, 40%, 60%) dan balutan patty (25%, 50%, 75%). Formula terbaik (bun dengan kentang 20% dan patty dengan tepung kentang 50%) dipilih melalui uji sensoris oleh panelis ahli. Tahap Develop menyempurnakan produk berdasarkan hasil validasi, sedangkan tahap Disseminate dilakukan melalui uji penerimaan masyarakat oleh 80 panelis. Hasil uji menunjukkan bahwa produk “Burgato” disukai secara keseluruhan, dengan peningkatan signifikan pada aspek warna, aroma, rasa, dan kemasan (p < 0,05). Produk ini memiliki harga jual Rp15.000 dan BEP sebesar 4 unit, sehingga layak dikembangkan sebagai alternatif makanan sehat untuk remaja
INOVASI SORGUM CRUNCHIES: COOKIES FREE GLUTEN DAN TINGGI SERAT SUBSTITUSI TEPUNG SORGUM
Permasalahan gizi seperti intoleransi gluten, kekurangan serat, dan rendahnya konsumsi pangan lokal masih menjadi tantangan di kalangan anak-anak hingga remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk cookies sehat bersubstitusi tepung sorgum merah sebagai alternatif pangan fungsional yang bebas gluten dan tinggi serat. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model 4D yang mencakup tahapan Define, Design, Develop, dan Disseminate. Produk dikembangkan dengan substitusi tepung terigu menggunakan tepung sorgum merah dalam beberapa variasi, kemudian diuji secara organoleptik oleh panelis terlatih dan tidak terlatih. Analisis data menggunakan paired samples t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada aspek aroma, tekstur, kemasan, dan keseluruhan (p < 0,05), sementara aspek warna dan rasa tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Hasil ini membuktikan bahwa cookies dengan substitusi tepung sorgum sebesar 75% dapat diterima dengan baik oleh konsumen. Produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi khusus, tetapi juga berkontribusi terhadap pemanfaatan pangan lokal sebagai solusi inovatif dalam peningkatan ketahanan pangan
PEMANFAATAN BAHAN LOKAL DAN PERBANDINGAN TINGKAT KESUKAAN KONSUMEN TERHADAP ENERGY BAR
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk energy bar berbasis bahan lokal dengan memanfaatkan intip sebagai bahan substitusi dalam pembuatan Copanut Bar serta menganalisis tingkat kesukaan konsumen terhadap produk hasil pengembangan dibandingkan produk acuan. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model 4D yang meliputi tahap Define, Design, Develop, dan Disseminate. Proses pembuatan intip dilakukan melalui pencucian beras, pemasakan, penjemuran, penggorengan, dan penirisan. Produk Copanut Bar dikembangkan melalui substitusi rolled oat dengan intip sebanyak 30% serta penambahan cokelat compound sebagai bahan perekat dan penambah rasa. Uji organoleptik dilakukan terhadap dua produk (acuan dan pengembangan) oleh 80 panelis tidak terlatih untuk menilai atribut warna, aroma, rasa, tekstur, kemasan, dan keseluruhan. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa Copanut Bar memiliki tingkat kesukaan lebih tinggi secara signifikan pada semua atribut yang diuji dibandingkan dengan produk acuan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan intip sebagai bahan lokal dapat meningkatkan daya terima konsumen terhadap energy bar. Disarankan agar pengembangan lebih lanjut dilakukan dengan variasi bahan lokal lain untuk memperkaya inovasi produk pangan fungsional di Indonesia
COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS PROYEK CATERING SERVICE PADA MATA KULIAH PRAKTIK USAHA BOGA
Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi biaya dan efektivitas hasil pembelajaran melalui proyek catering service pada mata kuliah Praktik Usaha Boga di Program Studi Pendidikan Tata Boga, Universitas Negeri Yogyakarta. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik Cost-Effectiveness Analysis (CEA). Data diperoleh dari laporan keuangan 13 kelompok mahasiswa yang melaksanakan proyek catering service selama satu semester. Analisis dilakukan dengan menghitung rasio Cost-Effectiveness Ratio (CER) sebagai perbandingan antara total biaya dan tingkat efektivitas hasil yang dicapai. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata CER sebesar Rp 90.395,75 per 1% efektivitas, yang menandakan tingkat efisiensi biaya pembelajaran praktik tergolong baik. Kelompok 11 memiliki CER terendah (Rp 15.110,00) dengan pengelolaan biaya dan perencanaan usaha yang efisien, sedangkan kelompok 12 memiliki CER tertinggi (Rp 477.712,59) akibat tingginya pengeluaran dibandingkan pendapatan. Variasi nilai CER menunjukkan perbedaan kemampuan mahasiswa dalam manajemen biaya, produksi, dan strategi kewirausahaan. Secara keseluruhan, proyek catering service efektif meningkatkan kompetensi teknis dan manajerial mahasiswa, meskipun efisiensinya sangat bergantung pada kemampuan pengendalian biaya. Analisis cost-effectiveness dapat dijadikan alat evaluasi pembelajaran praktik vokasional untuk meningkatkan efisiensi, relevansi, dan kesiapan kerja mahasiswa di era Society 5.0
EKSPERIMEN TERHADAP PALA BANDA SEBAGAI KONSEP CIPTA SENI MODE BERBASIS LINGKUNGAN
Memadukan isu lingkungan dengan adanya fast fashion dan kekayaan alam Indonesia melalui pala banda, maka penulis memiliki gagasan untuk melakukan penelitian eksperimental terhadap pala banda, untuk dapat dijadikan sebagai ide pemantik perumusan konsep. Sehingga dapat diaplikasikan pada permukaan tekstil sebagai motif dengan harapan dapat menjadi medium pembuatan desain yang timeless serta menjadi bagian dari slow fashion dan tidak tergerus oleh zaman juga tergeser tren. Apabila hal ini berhasil diwujudkan, maka akan dapat menjadi salah satu contoh kecil model implementasi SDGs dalam perkembangan industri fashion kedepannya. Metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan eksperimental digunakan dalam membedah subyek penelitian yaitu buah pal abanda yang diperoleh dari dua lokasi berbeda di Bali, yaitu di wilayah Ubud dan Bangli. Hasil dari eksperimen kemudian distilasi dan disusun komposisinya hingga menghasilkan tiga desain pengembangan. Pada penelitian selanjutnya akan dilakukan upaya proses kreatif untuk mewujudkan tiga desain pengembangan ini. Penelitian lanjutan dirasa perlu dilakukan untuk mendapatkan sebuah konsep cipta seni mode yang dapat menghadirkan nilai-nilai keberlanjutan melalui olah kreatif terhadap surface design pada tekstil yang lebih utuh dan baik. Tidak hanya aspek alam yang menjadi perhatian, namun juga siklus produksi yang lebih lambat atau slow fashion dengan desain yang lebih timeless, melalui penggunaan benang produksi UMKM lokal, konsep cipta seni mode ini diharapkan dapat membangun kolaborasi antar pihak hingga membentuk ekosistem produksi mode yang berkelanjuta
Unlocking the potential: Transformative applications of generative AI in East Kalimantan's educational landscape
AI systems like ChatGPT are rapidly changing education, giving teachers both new opportunities and new problems to deal with. This study investigates ChatGPT's evolving importance in the educational environment of East Kalimantan, focusing on educators' and practitioners' perceptions of its advantages, constraints, and ethical considerations. A qualitative design was used, incorporating semi-structured interviews with 15 participants (N=15), comprising teachers, administrators, and vocational instructors from various educational tiers. Participants were intentionally recruited through professional networks to ensure a representation of various institutional contexts. Data were gathered from March to May 2024 and examined through reflexive thematic analysis to discern the main themes and interpretive significances. Strict adherence to ethical protocols was maintained, including informed consent, secrecy, and voluntary participation. Nine themes emerged: Catalyst for Innovation, Enhancing Accessibility, Efficiency, and Teacher Support, Threat to Critical Thinking, Ethical Dilemmas, Digital Divide, Balancing Human Interaction, Depersonalization of Education, and Continuous Adaptation. The results show that ChatGPT encourages personalized learning, language inclusion, and efficient teaching, but also raises ethical concerns and exacerbates digital inequalities. Participants stressed the importance of teacher guidance, interpersonal connections, and institutional policies to ensure responsible use. The study finds that for ChatGPT to work well, teachers must continue learning, there must be ethical governance, and the digital infrastructure must be fair. This research, despite its regional limitations and reliance on self-reported data, offers significant insight for policymakers and educators addressing AI integration in evolving educational frameworks
The influence of health education through physical education on the healthy living behavior of elementary school students
This study evaluates the impact of integrating health education into physical education on healthy living behaviors of elementary students at State Elementary School SDN 48 Kuranji, Padang City. Employing a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group, the study involved 60 students. The experimental group received health education integrated into physical education, while the control group followed standard physical education. Data collection used questionnaires and observations, analyzed through descriptive and inferential statistics, including paired t-tests. Results revealed significant improvements in knowledge, attitudes, and behaviors in the experimental group, with higher posttest scores than pretests, while the control group showed no notable changes. These findings underscore the effectiveness of combining health education with physical education to enhance health behaviors, supporting earlier research on the value of experiential learning. This study highlights the importance of a holistic educational approach to foster healthy lifestyles from an early age. Further research is recommended to assess long-term impacts and optimize program implementation in diverse educational settings
Enhancing pedagogical content knowledge of preservice science teacher students through the inquiry reflective teaching model
Reflecting the substance of the Preservice science teachers must have the ability to teach science appropriately. This ability is related to pedagogical and content knowledge. Teaching with inquiry is important in the development process of teacher professionalism. This is an urgency for preservice science teacher students to be equipped with teaching skills inquiry and the ability to reflect in learning. This research aimed to analyze the validity and practicality of the developed Inquiry Reflective Teaching (IRT) model; and to find the effectiveness of the IRT model in improving PCK. This study used the Research and Development (R&D) method. The data collection techniques used were IRT model assessment, practicality questionnaire, and Pedagogical Content Knowledge test. The data were analyzed using quantitative and qualitative analysis techniques. Quantitative data analysis techniques were used to determine the validity and practicality categories of the IRT model. Qualitative data analysis techniques were utilized to analyze data in the form of suggestions from experts, practitioner lecturers, and preservice science teacher students. The results of this study showed that the validity assessment was in a ‘very valid’ category. Likewise, the results of the assessment of the practicality of the IRT model were categorized as ‘very practical’. The IRT model can effectively improve the PCK of preservice science teachers
Multidisciplinary collaborative model for identification and assessment services for students with special needs in inclusive schools
This study aims to understand the multidisciplinary collaboration among professionals who voluntarily participate and share common goals in implementing assessment and identification services for children with special needs. This collaboration involves a multidisciplinary team working to develop an assessment service model and recommendations from the multidisciplinary for assessing children with special needs in inclusive schools. This research is qualitative approach with a case study method. Data sources included psychologists, orthopedagog, medis, principals, teachers, and parents at an inclusive school in Yogyakarta, Indonesia. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation. Data validation was performed using two triangulation techniques: source triangulation and method triangulation. The results show that assessment services for primary school children with special needs comprise three service models: educational assessment model, psychological assessment model, and medical assessment model. The preparation stage is divided into four activities: formulating goals, identifying targets, preparing instruments, and preparing for implementation. The implementation stage includes four aspects: approach, techniques, methods, and referral. The reporting stage is divided into two parts: result analysis and recommendations. The final stage, follow-up, is conducted through a case conference
Improving Student's Understanding About Animal Metamorphosis through Ecoterm Media for Deaf Student
This study aims to improve the understanding of deaf students in class VII Junior High School at SLBN Cicendo on animal metamorphosis material through ecoterm media. The method used was classroom action research with five learners as subjects. The research instruments included interview guidelines, observations, and written objective test adapted to the independent phase D curriculum on animal metamorphosis material. In the pre-cycle stage, learning using conventional media (videos) only achieved classical completeness of 20%. After the application of ecoterm media, the completeness increased to 40% in cycle I and 100% in cycle II. The written test results also showed a gradual increase. The ecoterm media proved to be effective because it provided a concrete learning experience that involved various sensory modalities, making it easier to understand abstract concepts such as animal metamorphosis. This study concludes that ecoterm media can significantly improve deaf learners' understanding of animal metamorphosis learning materials, helping them achieve more optimal learning outcomes.