UNY Journal (Universitas Negeri Yogyakarta)
Not a member yet
    20087 research outputs found

    The academic self-efficacy scale in mathematics using Confirmatory Factor Analysis (CFA)

    No full text
    The development of an academic self-efficacy instrument is considered necessary for one's ability to manage and complete a series of actions required to accomplish a task. This study aims to develop and test the validity and reliability of the self-efficacy instrument, specifically the Academic Self-Efficacy Questionnaire, comprising 15 items across three dimensions, each with five indicators. The research method in this study involved developing an instrument in six stages. Participation in this study consisted of 203 junior high school and Madrasah Tsanawiyah (MTs) students. Participation was spread across 51 students (25.1%) in Grade VII, 100 students (49.3%) in Grade VIII, and 52 students (25.6%) in Grade IX.  Based on the analysis results, it was found that the 15 items developed were fit because they met eight model fit criteria, including Chi-square = 90.45 < 2df (df = 79),  p-value = 0.17802 ( ≥ 0.05), RMSEA= 0.027  (≤ 0.05), NFI = 0.99 (≥ 0.9), CFI = 1 (≥ 0.9), IFI = 1 (≥ 0.9), GFI = 0.94 (≥ 0.9), AGFI = 0.91 (≥ 0.9), PGFI = 0.62 (≥ 0.6), NNFI = 1.00 (≥ 0.9). Thus, the questionnaire developed is in accordance with the planned dimensions, which reflect the variable of self-efficacy in a valid, reliable, and significant manner, supported by behavioural indicators for each dimension. Therefore, this instrument can be used for further measurement

    Curriculum evaluation in tourism education: Assessing the fulfillment of OBE principles

    No full text
    The shift toward Outcome-Based Education (OBE) in higher education requires tourism programs to conduct systematic curriculum evaluations to ensure relevance to evolving societal needs. This study evaluates the fulfillment of OBE principles in the Resort and Leisure Management (MRL) Program using the Stufflebeam’s CIPP (Context, Input, Process, Product) model. The evaluation analyzed the program’s curriculum document, 30 lesson plans, observed 18 courses, and conducted interviews and FGDs with lecturers, students, and program leaders. Context evaluation findings indicate that 9 of 10 PLOs lack measurable performance demonstrations with less than half of CLOs consistently aligned with PLOs. Input evaluation supports the feasibility of a redesigned backward curriculum structure, while process evaluation highlights implementation gaps, particularly the predominance of lecture-based teaching, underutilization of digital learning systems, and administrative challenges in applying criteria-based assessments. Product evaluation confirms that although the curriculum is structurally OBE-compliant, its practical enactment does not yet guarantee authentic demonstration of graduate competencies. The study contributes empirical evidence showing the gap between curriculum documentation and instructional reality in tourism education. It also demonstrates the utility of the CIPP model as a system-oriented approach for improving OBE implementation

    Implementasi Total Quality Management (TQM) pada Manajemen Pembelajaran Karakter di MTs Negeri 1 Balikpapan

    No full text
    Pembelajaran karakter merupakan proses transfer, pembiasaan dan pembentukan nilai-nilai karakter oleh guru kepada peserta didik. Konsep total quality management dilakukan berdasarkan kualitas, kepuasan pelanggan dan perbaikan secara kontinutas terhadap suatu program atau organisasi yang tengah dikelola. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dekskriptif, Kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara menggambarkan secara sistematis fakta-fakta yang ada di lapangan seperti permasalahan, kondisi dan situasi yang dideskripsikan secara faktual dan cermat. Penelitian ini berfokus pada kajian mengenai impelementasi pembelajaran karakter berbasis total quality management di MTs Negei 1 Balikpapan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa hal sebagai brikut: 1) MTs Negeri 1 Balikapapan Telah mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter pada kegiatan yang biasa dilakukan di madrasah. Nilai-nilai pendidikan karakter meliputi (religius, gotong royong, mandiri dan integritas). 2) MTs Negeri 1 Balikpapan telah mengimplementasikan total quality management dalam manajemen  pembelajaran karakter yang ditinjau memalui kualitas, kepuasan pelanggan dan perbaikan terus menurus yang telah dilakukan oleh madrasah dalam upaya mengoptimalkan pembelajaran karakter pada peserta didik. 3) MTs Negeri Balikpapan telah menerapkan kurikulum merdeka dan dalam pembelajaran karakter telah menerapkan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkan perencanaan pembelajaran

    Analisis Pengambilan Keputusan Calon Mahasiswa dalam Memilih Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

    No full text
    Siswa yang akan lulus dari SMA nantinya dihadapkan pada berbagai pilihan-pilihan yang sulit terutama saat memilih jurusan. Setiap tahun siswa-siswa SMA yang merencanakan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi harus memutuskan pilihan ke bidang atau jurusan tertentu untuk mencapai tuntutan masa depannya. Siswa SMA tentu memiliki pertimbangan-pertimbangan serta alasan yang berbeda dalam memilih dan memutuskan untuk masuk jurusan PGPAUD sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengetahuan siswa SMA sederajat tentang Program Studi PGPAUD, mengetahui minat siswa SMA melanjutkan studi ke PGPAUD, dan mengetahui alasan siswa SMA memilih atau tidak memilih Program Studi PGPAUD. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan jenis penelitian kuantitatif. Dilaksanakan di SMAN 1 Talun. Prosedur dan teknik pengambilan sampel menggunakan teknil proportional random sampling sebanyak 168 siswa dari 289 siswa kelas 12 SMAN 1 Talun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan siswa SMA sederajat terkait program studi PGPAUD masih tergolong sedang hingga rendah. Tingkat minat siswa SMA sederajat untuk melanjutkan studi ke PGPAUD masih tergolong sedang hingga rendah. Dan tingkat ketertarikan serta alasan siswa yang memilih program studi PGPAUD UM tergolong masih rendah. Alasan siswa SMA sederajat yang akan memilih Program Studi PGPAUD UM sebagian besar karena adanya keinginan untuk mendapatkan wawasan tentang pendidikan anak usia dini. Alasan siswa SMA yang tidak akan memilih Program Studi PGPAUD UM sebagian besar karena keinginan untuk memilih studi pada bidang alternatif dan kurangnya minat dalam mengajar anak usia dini

    Navigating Educational Challenges in Indonesia: Strategic Planning for Sustainable Education Inspired by Philip H. Coombs

    No full text
    This study examines the educational challenges and opportunities within Indonesia's educational system, drawing on the foundational insights of Philip H. Coombs and his emphasis on strategic educational planning. Set against the backdrop of demographic shifts and increasing demands for equitable access, the research aims to identify strategies for fostering sustainable education. Utilizing a literature review, the study synthesizes existing research on educational policies, demographic trends, and technological advancements. Findings highlight significant progress in curriculum development and technology integration yet underscore persistent challenges such as teacher shortages and resource disparities across regions. The analysis reveals that public-private partnerships and community involvement are crucial for bridging funding gaps and enhancing infrastructure. Coombs' principles of aligning educational goals with society needs are particularly relevant, emphasizing the need for a balanced approach that integrates both quantitative expansion and qualitative enhancement. The study concludes that effective policy and leadership are vital for sustainable educational planning, requiring inclusive and adaptable strategies that reflect Indonesia's diverse cultural and geographic landscape. Future research should focus on assessing the long-term impacts of technological solutions and developing incentive models for educator retention in underserved areas. This research underscores the importance of collaboration among stakeholders to create an educational system that is resilient, equitable, and prepared for future challenges

    Penerapan Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah dalam Membangun Budaya Belajar di RA Amanatul Izzah Desa Cangkring Sidoarjo

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk memahami penerapan kepemimpinan transformasional kepala madrasah dalam membangun budaya belajar di RA Amanatul Izzah Desa Cangkring Sidoarjo. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala madrasah menerapkan empat dimensi kepemimpinan transformasional—idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration—dalam praktik kepemimpinannya. Penerapan tersebut mendorong lahirnya budaya belajar yang reflektif, kolaboratif, dan berakar pada nilai-nilai spiritual Islam. Kepemimpinan yang meneladani nilai keikhlasan, empati, dan inovasi terbukti mampu meningkatkan motivasi, profesionalisme, serta semangat belajar guru. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional berbasis nilai religius dapat menjadi strategi efektif dalam menciptakan komunitas pembelajar di lingkungan madrasah

    Strategi Guru dalam Meningkatkan Kosa Kata Siswa Tunarungu Tingkat TK di SLB Pangudi Luhur

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peningkatan penguasaan kosakata pada anak tunarungu melalui penerapan metode Maternal reflektif (MMR) di SLB Pangudi Luhur, Bekasi.  Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan memanfaatkan teknik studi kasus, di samping metode pengumpulan data antara lain observasi, wawancara, dokumentasi, dan penilaian.  Subjek penelitian adalah dua mahasiswa TKLB tunarungu yang berkonsentrasi pada penerapan strategi pembelajaran berbasis MMR.  Reflektif Ibu metode utama strategi ini adalah perdati (hati ke hati-percakapan untuk mengatur emosional konteks), penentuan titik awal (mendapatkan tema dari anak pengalaman kehidupan nyata), visualisasi dan penguatan (menggunakan beton media), penyimpanan (menyimpan kosa kata melalui tulisan dan pengulangan), percami (ideovisual membaca untuk memahami struktur kalimat), dan refleksi dan evaluasi.  Strategi-strategi ini digunakan secara terencana dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Hasilnya menunjukkan bahwa menggunakan strategi MMR meningkatkan pemahaman kosakata dalam konteks serta volume perolehan kosakata.   Siswa tunarungu menunjukkan peningkatan dalam kemampuan mereka untuk menyusun kalimat, memahami pertanyaan, dan menghubungkan kosakata dengan pengalaman pribadi mereka. Pemrosesan mental dan pemahaman bahasa anak tunarungu telah terbukti meningkat dengan penggunaan strategi pembelajaran ini, yang meliputi refleksi, komunikasi, dan alat bantu visual. Dengan demikian, strategi dalam metode Maternal Reflektif sangat efektif dalam meningkatkan penguasaan dan pemahaman kosakata anak tunarungu usia dini, karena mengintegrasikan pendekatan emosional, visual, dan linguistik dalam konteks kehidupan anak

    Meningkatkan Konsentrasi pada Anak dengan Sindrom Down Melalui Intervensi Motorik Berbasis Keluarga: Studi Penelitian Subjek Tunggal

    No full text
    Penelitian ini mengeksplorasi kemanjuran intervensi motorik berbasis keluarga dalam meningkatkan tingkat konsentrasi pada anak dengan sindrom Down menggunakan desain Single Subject Research (SSR). Dua anak usia sekolah dasar dengan sindrom Down berpartisipasi dalam penelitian ini. Intervensi terdiri dari aktivitas motorik terstruktur, yang dilaksanakan di lingkungan rumah dengan keterlibatan orang tua. Data dikumpulkan menggunakan pengamatan perilaku dan penilaian konsentrasi standar di seluruh fase awal, intervensi, dan tindak lanjut. Hasil menunjukkan peningkatan konsentrasi Hasil menunjukkan peningkatan konsentrasi yang signifikan dengan rata-rata 40% dan 35% setelah intervensi.  Temuan ini menunjukkan potensi aktivitas motorik berbasis keluarga untuk mendukung perkembangan kognitif pada anak-anak dengan sindrom Down dan rekomendasi untuk menerapkan intervensi serupa dalam konteks Pendidikan dan terapi.

    Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan Dari Masa Klasik Sampai Pasca Reformasi

    No full text
    Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan merupakan kawasan konservasi Cagar Budaya yang berada di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang yang saat ini menjadi kawasan konservasi Cagar Budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Selama ini masyarakat luas mengenal kawasan tersebut sebagai kawasan bekas Ibu Kota Kerajaan Majapahit, padahal tinggalan arkeologi yang terdapat di kawasan tersebut menunjukkan bahwa peradaban yang pernah menghuni kawasan tersebut tidak hanya merupakan tinggalan dari masa Majapahit, namun juga terdapat peradaban lain yang lebih tua usianya. Perkembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan pasca Majapahit juga memiliki dinamika yang cukup dramatis, namun kawasan tersebut tetap mempertahankan identitasnya sebagai kawasan yang menyimpan sisi historis yang sangat menarik untuk dikaji. Penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana perkembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan dari aspek historis mulai masa klasik hingga pasca reformasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang melalui empat tahap penelitian, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan telah dihuni oleh berbagai peradaban manusia sejak abad ke-10 masehi sampai pasca reformasi yang memiliki andil dalam membentuk kebudayaan yang ada di kawasan tersebut.Kata kunci: Kawasan Cagar Budaya Nasional, Trowulan, Majapahi

    Edukasi Hygiene der Tropen dan Upaya Pengawasan Kualitas Pangan Olahan oleh Voedingsmiddelen-Commissie pada 1914-1935

    No full text
    Tulisan ini menyoal tentang edukasi makanan bersih di Hindia Belanda, sebagai respon dari banyaknya penyakit yang salah satunya ditimbulkan oleh konsumsi makanan tidak berfaedah (kotor). Seiring dengan perkembangan pemahaman akan higiene sebagai perwujudan pengetahuan modern, edukasi makanan bersih semakin digencarkan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Edukasi tentang makanan bersih ini disampaikan salah satunya melalui terbitan surat kabar seperti “Tjahaja-Timoer”. Selain edukasi makanan bersih, tindakan lain yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit dari konsumsi makanan yaitu pengawasan yang berkelanjutan. Pengawasan ini didasari oleh praktik penipuan dan pemalsuan pangan oalahan yang mulai terjadi di masa ini. Pengawasan pangan ini dilakukan oleh pemerintah dengan membentuk badan khusus dan oleh pihak swasta dengan melakukan uji laboratorium salah satunya dilakukan oleh voedingsmiddelen-commissie. Penelitian ini mengkaji tiga pertanyaan penting: (1) bagaimana edukasi makanan bersih menghasilkan pengetahuan tentang kesadaran akan higienitas makanan pada kehidupan masyarakat di Hindia Belanda; dan (2) bagaimana pangan dilakukan oleh voedingsmiddelen-commissie. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, tulisan ini menyimpulkan bahwa edukasi makanan bersih mengambil peran dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Selain itu, tentang kontribusi voedingsmiddelen-commissie dengan melakukan uji laboratorium yang digunakan sebagai acuan pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan, meskipun pada akhirnya komisi ini runtuh karena kurangnya dukungan dana. Metode  yang  digunakan  adalah  metode  sejarah,  dengan sumber data berasal dari era sezaman. Kata kunci: higiene , pengawasan, voedingsmiddelen-commisie   This study examines the discourse on clean food in the Dutch East Indies, which emerged in response to widespread illnesses, many of which stemmed from the consumption of unhygienic and contaminated food. As hygiene became increasingly recognized as a cornerstone of modern scientific knowledge, both colonial authorities and private entities intensified efforts to promote public awareness of food sanitation. Publications such as the newspaper “Tjahaja-Timoer” served as key mediums for disseminating these educational campaigns. Beyond public instruction, systematic food oversight was implemented as a preventive measure, with the colonial government establishing specialized regulatory bodies while private initiatives, including laboratory testing by the “voedingsmiddelen-commissie”, supplemented these efforts. This research addresses two central inquiries: (1) how clean food education shaped public consciousness regarding dietary hygiene in colonial society, and (2) the mechanisms of food regulation employed by the “voedingsmiddelen-commissie”. Employing historical methodology with contemporaneous sources, the study concludes that clean food education significantly contributed to elevating living standards. Furthermore, the voedingsmiddelen-commissie contributed by conducting laboratory tests, which were frequently used as a reference for government policymaking, though the commission ultimately collapsed due to insufficient funding. The methodology employed in this study is historical, with primary data sources drawn from contemporaneous records.  Keywords: Hygiene, oversight, voedingsmiddelen-commissie 

    8,503

    full texts

    20,087

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UNY Journal (Universitas Negeri Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇