75643 research outputs found
Sort by
Pengembangan Edible Sensor Berbasis Antosianin Kubis Merah (Brassica Oleracea Var. Capitata L.) Untuk Monitoring Kesegaran Fillet Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Ikan nila sejatinya merupakan sumber protein paling terkenal dipasar dunia
dalam bentuk fillet, karena memiliki beberapa kelebihan, seperti dapat diolah
menjadi berbagai produk olahan baru, mudah didistribusikan serta dapat dipasarkan
dalam bentuk yang menarik. Kesegaran fillet ikan nila merupakan indikasi paling
mendasar dalam penentuan kualitas fillet ikan nila sebelum dikonsumsi. Bentuk
upaya pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap bahan makanan yang segar,
bersih, aman serta berkualitas mulai banyak dikembangkan sensor kimia dengan
bentuk label indikator, salah satu indikator kolorimetri yang paling banyak
dikembangkan adalah indikator pH yang akan berubah seiring dengan peningkatan
pH. Berdasarkan hal tersebut maka dikembangkan sensor kesegaran untuk ikan nila
dengan indikator pH dari antosianin kubis merah menggunakan membran yang
terbuat dari kitosan dan pati jagung.
Dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi kubis merah dengan metode
maserasi menggunakan etanol 96%, sehingga diperoleh kadar antosianin total
1.944,310 mg/L. Edible film dibuat drai campuran kitosan, pati jagung, gliserol, dan
asam asetat sehingga diperoleh membran tipis berwarna putih. Selanjutnya
dilakukan optimasi kondisi fabrikasi edible film meliputi optimasi waktu
imobilisasi, optimasi konsentrasi bahan pengikat, dan optimasi perbandingan antara
ekstrak dan bahan pengikat (PVA). Waktu imobilisasi optimum adalah 90 menit
dengan konsentrasi PVA yang digunakan 1% dan perbandingan ekstrak dengan
PVA 1:3. Pengamatan perubahan warna edible sensor dianalisis menggunakan
program ImageJ dengan memperhatikan nilai mean red.
Karakterisasi edible film yang dilakukan pada penelitian ini meliputi
pengamatan morfologi permukaan membran menggunakan SEM dan analisa gugus
fungsi menggunakan FTIR sebelum dan setelah membran diimobilisasi. Hasil SEM sebelum dan setelah imobilisasi menunjukkan membran berpori dan kurang halus.
Hasil FTIR setelah imobilisasi menunjukkan adanya gugus fungsi antosianin.
Karakterisasi edible sensor pada penelitian kali ini meliputi waktu respon,
reprodusibilitas, dan waktu pakai. Waktu respon dilakukan dengan mereaksikan
edible sensor pada pH segar ikan nila (6,9) dan pH busuk ikan nila (7,8) dan
menunjukkan keadaan steady state pada menit ke-14 dengan nilai mean red
berturut-turut 171,614±4,783 dan 165,451±0,669. Reprodusibilitas dilakukan
dengan pengamatan edible sensor pada pH 6,9 dan 7,8 selama 3 hari berbeda pada
kondisi yang relatif sama menunjukkan nilai RSD <5% yang artinya memenuhi
persyaratan. Pengujian waktu dilakukan pada dua kondisi berbeda yaitu pada suhu
ruang dan suhu chiller pada pH segar dan pH busuk, pengamatan dilakukan hingga
sensor menunjukan perubahan karakteristik >15%. Perubahan edible sensor yang
disimpan pada suhu ruang terjadi setelah hari ke-12 dan hari ke-15 pada suhu
chiller.
Aplikasi sensor fillet ikan nila telah menghasilkan parameter yang sesuai
dengan parameter kesegaran fillet ikan nila yang meliputi uji nilai pH, uji total
mikroba, uji TVBN, dan uji organoleptis. Edible sensor berwarna ungu tua saat
fillet ikan nila segar, warna ungu muda masih segar aman untuk konsumsi, dan
warna ungu keabu-abuan fillet ikan nila sudah busuk tidak aman untuk konsumsiProf. Drs. Bambang Kuswandi, M.Sc., Ph.D ; Dosen Pembimbing
Dr. apt. Ayik Rosita Puspaningtyas, S.Farm.,
M.Far
Perencanaan Angkutan Pelajar SMP Dan SMA di Jalan Letjen Panjaitan ,Jalan Mastrip dan Jalan Jawa Kabupaten Jember
Jumlah kendaraan bermotor di kabupaten jember sebanyak 770.000.an unit dengan 70-75%adalah kendaraan roda dua.Jumlah tersebut akan terus bertambah dan menyebabkan kemacetan di beberapajalan di kabupaten jember
The Effect of Charades Game on the Eighth Grade Students’ Vocabulary Achievement at SMPN 1 Pakusari
Vocabulary is the most important aspect in learning a language, because it is one of the elements that link the four language skills: listening, speaking, writing and reading (Ong et al., 2019). Besides, students need to use words to express their ideas, opinion, their feeling and understand what other says (Gunday & Atmaca, 2016). But the fact shows that students still have difficulties in memorizing the English vocabulary. Therefore, the English teachers have to determine the use of an appropriate technique for teaching vocabulary to develop students’ English vocabulary (Pranowo, 2006). In this research, the researcher considered to use charades game in teaching and learning vocabulary. Charades game is expected to attract students’ attention to the lesson.
Quasi experimental research with post-test only design was used in this research as the purpose of this research was to know whether there was a significant effect of using charades game on the eighth grade students vocabulary achievement at SMPN 1 Pakusari or not. The researcher chose SMPN 1 Pakusari as the research area because charades game has never been used by the English teacher in teaching vocabulary for the eighth grade students in 2020/2021 academic year. The population of this research was the eighth grade students. The research participants were determined based on the result of homogeneity test by using ANOVA formula, in which the result showed that the value of the variance (0.066) was more than 0.05. It means that the population was homogeneous so that the experimental class and control class was chosen randomly. The number of the participants was 64 in total. The experimental group consisted of 32 students and so did the control group. The participants of this research were selected by cluster random sampling; VIII A as the experimental group and VIII B as the control group. The researcher taught vocabulary by using charades game to the
experimental group, while the control group was taught by giving the examples and asked them to find the meaning of the vocabulary by themselves. The teaching and learning process was done online because of the pandemic Covid-19.
There were two kinds of data used in this research; they were primary data and supporting data. The primary data were collected from students’ post-test, while the supporting data were collected from the result of interview and documentation. The result of the post-test was analyzed by using independent sample t-test formula on SPSS to find the significant differences of the experimental group and control group. The result of the t-test formula analysis showed that the value of the significant 2 tailed was 0.006, which means that it was lower than the significant degree (0.05). Therefore, the null hypothesis saying that “there is no significant effect of Charades Game on the eighth grade students’ vocabulary achievement” was rejected. Consequently, the alternative hypothesis saying that “there is a significant effect of Charades Game on the eighth grade students’ vocabulary achievement” was accepted. Also from the test, it showed that the mean score of the experimental group was higher than the mean score of control group.
Based on the result above, it proved that there was a significant effect of using Charade Game on the eighth grade students’ vocabulary achievement. Consequently, it is suggested for the English teacher of SMPN 1 Pakusari to use charades game in teaching vocabulary. Therefore, it is hoped that charades game can be used by the English teacher because charades game is effective to attract students’ attention to be more focus during teaching and learning process and make them more enthusiast. For the students, it is suggested that they can use charades game in learning vocabulary because it can help them improve their vocabulary easily. For the future researcher, it is expected that the result of this research can be used as additional information to conduct a further research dealing with the similar topic but using different research design such as Classroom Action Research to improve students’ vocabulary achievement by using charades game. It is recommended that this study can be conducted at otherDosen Pembimbing I Drs. Bambang Arya W.P. Dip.Ed., Ph.D
Dosen Pembimbing II Rizki Febri Andika H, S.Pd,M.P
Kajian Psikologi Eksistensial dalam Novel Rooftop Buddies Karya Honey Dee dan Pemanfaatannya sebagai Alternatif Materi Pembelajaran Sastra di SMA
Penelitian ini membahas psikologi eksistensial teistik yang dialami Rie dalam novel Rooftop Buddies karya Honey Dee dan pemanfaatannya sebagai alternatif materi pembelajaran sastra di SMA. Permasalahan yang diteliti adalah ketiadaan, dinamika eksistensial, ada-dalam-dunia, dan pemanfaatan sebagai alternatif materi pembelajaran sastra di SMA. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ketiadaan, dinamika eksistensial, ada-dalam-dunia, dan pemanfaatan sebagai alternatif materi pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan psikologi eksistensial teistik. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Data dalam penelitian ini yaitu kata-kata, kalimat, atau paragraf dalam novel Rooftop Buddies yang memuat hubungan dengan lingkungan, orang lain, dan diri sendiri, kekosongan, kesepian, kecemasan, dan perkembangan kepribadian. Selain itu, data berupa rumusan Kompetensi Dasar kurikulum 2013 kelas XI semester 1. Sumber data penelitian ini adalah novel Rooftop Buddies karya Honey Dee dan silabus kurikulum 2013 revisi 2018. Analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif Miles dan Huberman. Berdasarkan data yang diperoleh, Ketiadaan Rie disebabkan tiga hal yaitu sikap psimis, merasa tidak diakui, dan takut menghadapi masa depan. Dinamika eksistensial berkaitan dengan tahap perkembangan kepribadian Rie yaitu menggunakan rasa bersalah terhadap Tuhan, diri sendiri dan orang lain, sebagai alasan bangkit dari ketiadaan menjadi meng-ada. Ada-dalam-dunia dipengaruhi keberhasilan Rie menemukan makna hidup yang diberikan Tuhan. Hasil penelitian dinamika eksistensial dan ada-dalam-dunia dapat dimanfaatkan sebagai alternatif materi pembelajaran di SMA kelas XI sesuai KD 4.11 Menyusun ulasan terhadap pesan dari satu buku fiksi yang dibaca.Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd. (Pembimbing I)
Fitri Nura Murti, S.Pd., M.Pd. (Pembimbing II
Legal Principle of Authentication Power of Authenti31ue to Age Limit for Notary Appearers
Besides having to obey the Law on Notary Position and the Code of Ethics, a Notary must pay attention to certain principles, one of which is the Precautionary Principle. This Principle is an important factor in knowing the appearers attending the Notary Office. To avoid mistakes and errors in making the deeds, the Notary must be able to acknowledge the appearers. In addition, the Notary should read the deed in front of the parties, so that the parties signing and witnessing the birth of the deed are fully aware of every point stated by the deed and its legal consequences. Furthermore, other significant matter that the notary must also pay attention to is the age of the attending parties. Article 39 paragraph (1) of the Act on Office of Notary Public states that a person who appears before the Notary to make a deed should meet the requirements of the minimum age 18 (eighteen) years or married. (2) The appearers must be recognized by the Notary or introduced to him by 2 (two) knowing witnesses attaining the minimum age of 18 (eighteen) years or married, and is capable of taking legal actions or is introduced by other 2 (two) appearers. Article 40 states: Every deed read out by a notary is attended by at least 2 (two) witnesses, unless the statutory regulations stipulate otherwise. Witnesses as referred to in paragraph (1) shall meet the following requirements: a. attaining the minimum age of 18 (eighteen) years or married; b. being capable of doing legal actions; c. understanding the language used in the deed; d. being able to affix signature and initials; and e. mot having marriage relations in upper or lower straight line without any degree limitation and until the third degree with the Notary Public or parties.Referring to Article 39 of the Act on Office of Notary Public regarding the minimum age of appearers, philosophically is also related to the legal age limit. In fact, several laws and regulations in Indonesia show the differences between one another in determining the adult age limit. The Civil Code considers that adults boundary is at the age of 21 (twenty one) years, Article 47 paragraph (1) of the Law on Marriage states 18 (eighteen) years, and Act on Office of Notary Public is at least 18 (eighteen) years old. It certainly affects the legal certainty of the adult age limit. If the appearer is still under 18 (eighteen) years of age, then the deed that will be made by the notary will become underhanded deed, while the position of the deed is weak and does not have legal certainty
Analisis Stakeholder dalam Kebijakan Kepemilikan Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) di Kabupaten Banyuwangi
Finalisasi unggah file repositori tanggal 8 Juni 2022_KurnadiPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014 tentang
Pelayanan Kesehatan Tradisional mewajibkan penyehat tradisional untuk
memiliki STPT. Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) merupakan suatu
bentuk izin penyelenggaraan pelayanan bagi setiap orang yang memberikan
pelayanan kesehatan tradisional. STPT sebagai salah satu bentuk pembinaan dan
pengawasan oleh pemerintah.Dosen Pembimbing utama : Eri Witcahyo, S.KM., M.Kes
The Influence of Prices, Customer Trust Through Satisfaction of Word of Mouth (Wom) On Customers on Bank Mandiri Credit Card Products in the Era of the COVID-19 Pandemic
During the pandemic, the banking sector
experienced a very significant impact. Many
companies experienced a decline in revenue due to
the difficulty of finding new customers and the
difficulty of retaining customers so as not to
experience delays in Bank Mandiri credit card
payments. To overcome this problem, the
government is preparing the banking sector in a
"new era" or known as the new normal. Banking in
this case provides comfort and convenience for
customers so as not to lose customers and still be
able to retain customers in the era of the covid-19
pandemic. The sample in this study amounted to 200
respondents. The analysis technique used is SEM
(Structural Equation Modeling). The results showed
that price, trust through satisfaction with WO
Specific Regulation of Financial Technology Taxes in the Form Of Information Technology Based Loaning Services
Tujuan melakukan penelitian adalah untuk menemukan apakah sistem
perpajakan yang selama ini diterapkan pada teknologi finansial dalam bidang
Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi sudah sesuai
teori kemanfataan hukum dan asas certainty, dan juga untuk menemukan
pengaturan kedepan tentang pajak teknologi finansial yang diberlakukan bagi
layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi di Indonesia. Manfaat
penelitian dibagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis yang memberikan kontribusi
pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu hukum yaitu mengenai hukum
pajak, khususnya dalam permasalahan mengenai regulasi baru dalam bidang pajak
teknologi finansial yang selama ini masih belum ada pengaturannya, selanjutnya
ada manfaat praktis yang memberikan masukan dan kontribusi bagi pemerintah
dan instansi yang terkait dalam pembentukan peraturan perundang-undangan
terkait kepastian hukum khususnya pajak dalam kegiatan bisnis teknologi
finansial di Indonesia. Penelitian ini dibuat dengan metode yuridis normatif, dan
pendekatan penelitian yang digunakan ada tiga, yaitu pendekatan perundang undangan (Statute Approach), pendekatan konseptual (Conceptual Approach), dan
pendekatan komparatif (Comparative Approach). Penyelesaian isu yang ada
memerlukan sumber-sumber penelitian hukum, yaitu bahan hukum primer, bahan
hukum sekunder, dan bahan non-hukum. Penulis menggunakan metode analisa
bahan hukum deduktif dalam penelitian ini.
Pembahasan terdiri dari dua subbab, yang Pertama: Pengaturan tentang
Pajak yang Diberlakukan bagi Teknologi Finansial dalam Bidang Layanan Pinjam
Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi Belum Sesuai dengan Teori
Kemanfaatan Hukum dan Asas Certainty. Sampai saat ini belum ada peraturan
pajak khusus yang mengatur tentang LPMUBTI, sehingga menggunakan pajak
penghasilan konvensional, yang dibuat jauh sebelum Teknologi Finansial ada,
sehingga jika dikaitkan dengan teori kemanfaatan hukum yang mana teori tersebut
memiliki pengertian bahwa hukum ada untuk menjamin kebahagiaan orang
sebanyak-banyaknya, dan dikaitkan dengan asas certainty (kepastian hukum
dalam hal pajak), karena didalam LPMUBTI setidaknya ada tiga pihak yang berpotensi untuk dikenai pajak, subjek dan objek pajak harus jelas, dimana
mereka harus membayar, hal-hal tersebut menjadi celah tersendiri bagi negara
karena bisa menjadikan wajib pajak lolos untuk tidak membayar pajak. Yang
Kedua: Pengaturan Kedepan tentang Bisnis Teknologi Finansial dalam Bidang
Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi di Indonesia.
Dengan menggunakan sistem pemungutan pajak seperti sekarang, yaitu self
assessment system, dimana para wajib pajak menghitung dan membayar sendiri
pajaknya, sedangkan fiskus hanya memberikan penerangan dan pengawasan, hal
ini tentu sangat memungkinan untuk melakukan dengan sengaja menghindarkan
diri dari pungutan pajak, meskipun mungkin cara yang digunakan legal.
Kesimpulan atas penelitian tesis ini, yang Pertama: Pengaturan pajak yang
sekarang diberlakukan bagi kegiatan bisnis teknologi finansial LPMUBTI dinilai
kurang memadai dengan keadaan yang ada, bahkan tidak sesuai dengan teori
kemanfaatan hukum, yang tujuannya hukumnya adalah mengupayakan
kebahagiaan orang sebanyak-banyaknya dan juga tidak sesuai dengan asas The
Certainty, yang mengatakan bahwa setiap peraturan pemungutan pajak harus
memiliki kepastian, tentang siapa subjeknya dan bagaimana tata cara
pembayarannya, dalam PPh dan PPN tidak diatur tentang kegiatan teknologi
finansial khususnya Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi
Informasi (LPMUBTI). Yang Kedua : Peraturan PPh dan PPN dengan sistem
pemungutan self assessment system yang saat ini digunakan untuk kegiatan
teknologi finansial LPMUBTI, dinilai kurang mampu mendapatkan potensi pajak
teknologi finansial secara maksimal, karena masih banyak celah yang ditemukan.
Saran dari penulis dari penelitian ini bahwa Indonesia harus membuat undang undang khusus pajak yang diberlakukan untuk teknologi finansial, khususnya
LPMUBTI, yang sesuai dengan teori kemanfaatan dan bahkan sesuai dengan asas
dasar pajak, yaitu asas certainty dan memilih sistem pemungutan pajak yang
berbeda dengan sistem pemungutan pajak yang ada di PPh dan PPN.Dr. Jayus, S.H, M.Hum ; Dosen Pembimbing
Dr. Ermanto Fahamsyah, S.H.,M.
Analisis Literasi Matematis Berdasarkan Kemampuan Matematika Siswa Kelas VI SDN 2 Kedunggebang Banyuwangi
Literasi matematis adalah kapasitas atau potensi siswa secara individual
untuk dapat merumuskan, menerapkan konsep serta menginterpretasikan ilmu
matematika dalam konteks tertentu. Potensi siswa yang memiliki cakupan nalar
dan mengkonstruk konsep, prosedural, menggambarkan fakta dan alat
matematis, serta mampu menjelaskan dan memberikan suatu prediksi fenomena
dalam hitungan matematis sehingga matematika dapat digunakan dalam
kehidupan sehari-hari saat terdapat problematik yang harus diselesaikan secara
logis.
Berdasarkan pada jenis data penelitian, dan fenomena atau masalah yang
dikaji penelitian ini mengambil jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
deskriptif kualitatif dilakukan untuk menganalisis atau mendiskripsikan
kemampuan literasi matematis siswa kelas VI SDN 2 Kedunggebang dengan
dasar kemampuan matematika yang diklasifikasikan menjadi tiga level yakni level
rendah, level sedang, level tinggi. Analisis literasi matematis siswa didasarkan
pada kemampuan merumuskan masalah, mengoperasikan atau menerapkan
konsep, menginterpretasikan jawaban. Subjek penelitian yang dimaksudkan
adalah responden dalam penelitian adalah siswa kelas VI total 28 siswa dengan
jumlah 9 siswa laki-laki dan jumlah 19 siswa perempuan.
Analisis literasi matematis menggunakan soal dengan ketentuan yakni dua
butir soal LOTS dan dua butir soal HOTS disesuaikan dengan indikator literasi
matematis. Proses wawancara hanya diambil dua siswa tiap kategori kemampuan
matematika karena keterbatasan waktu yang dimiliki saat penelitian,
pengkategorian tersebut dilakukan dengan cara memasukkan siswa kedalam
kategori berdasarkan nilai KKM yang SDN 2 Kedunggebang gunakan yakni nilai
75. Didapatkan 7 siswa yang memiliki kemampuan matematika rendah, 16 siswa
yang memiliki kemampuan sedang dan 5 siswa yang memiliki kemampuan tinggi.
Siswa dengan kemampuan matematika yang rendah mampu
menyelesaikan literasi matematis merumuskan masalah, menerapkan konsep, dan
interpretasi dengan runtut dan tepat pada 1 soal dari 4 soal yang diberikan,
ditunjukkan oleh jawaban 1 soal dengan tepat, satu soal dengan tidak tepat dari 4
soal yang diberikan yakni tidak mampu menuliskan rumusan masalah dengan
tepat, dan menyelesaikan masalah hingga menginterpretasikan persoalan. Siswa
dengan kemampuan matematika sedang mampu menyelesaikan literasi matematis
merumuskan masalah, menerapkan konsep, dan interpretasi dengan runtut dan
tepat pada 2 soal dari 4 soal yang diberikan, ditunjukkan oleh jawaban 2 soal dari
4 soal yang diberikan yaitu mampu menuliskan rumusan masalah diketahui dan
ditanyakan dengan tepat, menerapkan konsep dan menginterpretasikan persoalan
pada soal nomor 1 dan soal nomor 2, sedangkan pada soal nomor 3 dan soal
nomor 4 siswa kesulitan untuk merumuskan masalah sehingga siswa juga tidak
mampu memenuhi menerapkan konsep dan menginterpretasikan persoalan.
Siswa dengan kemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan
literasi matematis merumuskan masalah, menerapkan konsep, dan interpretasi
dengan runtut dan tepat pada 3 soal dari 4 soal yang diberikan, ditunjukkan oleh
jawaban menjawab 3 soal dari 4 soal yang diberikan bahwa siswa mampu
menuliskan rumusan masalah diketahui dan ditanyakan dengan tepat, menerapkan
konsep hingga menginterpretasikan persoalan dengan tepat pada soalan nomor 1
dan soal 2, sedangkan sisanya terdapat beberapa siswa yang mengerjakan soal
nomor 3 dan soal nomor 4. Hasil tersebut juga dibandingkan dengan penelitian
lain maupun hasil literasi oleh PISA, sehingga tidak jauh berbeda dengan
kesimpulan yang didapatkan. Secara umum literasi haruslah dilakukan dengan
runtut dan dapat diselesaikan hingga interpretasi. Penelitian yang dilakukan oleh
Aeni (2020) mendapat hasil yakni literasi matematis cenderung mengikuti
kemampuan matematika siswa, oleh karena itu, penelitian ini juga menunjukkan
hal serupa yakni literasi matematis siswa merupakan representasi dari kemampuan
matematika siswa.Dosen Pembimbing Utama : Dra.Titik Sugiarti, M.Pd.
Dosen Pembimbing Anggota : Ridho Alfarisi, S.Pd, M.Si
Analisis Determinan Penyerapan Tenaga Kerja di Jawa Timur
Validasi_Ratna Sari
Finalisasi 27 Mei 2022_KurnadiPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak
langsung IPM, angkatan kerja, dan inflasi melalui pertumbuhan ekonomi terhadap
penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif. Metode analasis data yang digunakan yaitu yaitu path analysisatau
analisis jalur. Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa IPM berpengaruh
signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi, IPM berpengaruh signifikan
dan memiliki hubungan negatif terhadap penyerapan tenaga. Angkatan kerja tidak
berpengaruh signifikan dan memiliki hubungan yang positif terhadap
pertumbuhan ekonomi, Angkatan kerja tidak berpengaruh signifikan dan memiliki
hubungan negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Inflasi tidak berpengaruh
signifikan dan memiliki hubungan yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi,
Inflasi tidak berpengaruh signifikan dan memiliki hubungan yang positif terhadap
penyerapan tenaga kerja. Dan Pertumbuhan ekonomi sebagai variabel intervening
memiliki pengaruh yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif secara
langsung terhadap penyerapan tenaga kerjaDosen Pembimbing Utama : Dr. I Wayan Subagiarta, M.Si
Dosen Pembimbing Anggota : Dr. Sebastiana Viphindrartin, M.Ke