75643 research outputs found
Sort by
Tanggung Jawab Pelaku Usaha Atas Produk Makanan Repacking Kedaluwarsa
Validasi unggah file repositori_Arini Sulistyoningrum
Finalisasi unggah file repositori tanggal 24 Juni 2022_KurnadiPada hasil operasi Opson VIII-2019 yang dilakukan oleh Badan Pengawas
Obat dan Makanan (BPOM) bersama dengan Direktorat Jendral Bea Cukai dan
Kementerian Pertanian secara serentak di seluruh Indonesia banyak ditemui
pelanggaran-pelanggaran terhadap produksi pangan khususnya dalam jenis pangan
yang dikemas ulang (repacking) yang sudah kadaluwarsa seperti wafer, biskuit, mie
dan lain-lainnya. Produk makanan repacking kedaluwarsa tersebut apabila
dikonsumsi dapat mengakibatkan keracunan seperti mual, muntah, pusing, hingga
kematianEdi Wahjuni, S.H., M.Hum. (Dosen Pembimbing)
Rhama Wisnu Wardhana, S.H., M.H. (Dosen Pembimbing
The decomposition and efficiency of NPK-enriched biochar addition on Ultisols with soybean
This research aims to compare fresh biochar and NPK-enriched biochar and their
decomposition levels and nutrient absorption efficiency in acid soil with soybean. Factorial
randomized block design was used in this experiment and consisted of two factors. The
first factor, biochar source, comprised four levels: B0: biochar without NPK, B1: rice straw
biochar + NPK, B2: soybean straw biochar + NPK, and B3: wood biochar + NPK. The second
factor, biochar enrichment, comprised four levels: D1: 0.5 tons ha-1
, D2: 2.5 tons ha-1
, D3:
5.0 tons ha-1
, and D4: 10 tons ha-1
. Each treatment was replicated three times, yielding 48
experiment units. The results showed that biochar enrichment with NPK affected the
decomposition level. The percentage of increasing decomposition in enriched wood
biochar (0.09%) was lower than rice (0.28%) and soybean (0.53%) straw biochar. An
increase in NPK absorbance efficiency and soybean dry weight was evident in NPK-enriched
biochar. The highest N absorbance efficiency occurred in wood biochar (21%), followed by
soybean and rice straw biochar, respectively, while the highest P and K absorbances were
found in rice straw biochar (35% and 26%, respectively), followed by wood and then
soybean biocha
Analisis Pemilihan Moda Kereta API Dan Travel Menggunakan Metode Stated Preference (Studi Kasus: Rute Jember-Surabaya)
Pada saat new normal untuk penyedia jasa transportasi dan pengguna transportasi tetap harus mematuhi protokol kesehatan guna untuk memutus penyebaran covid-19. Pada rute Jember-Surabaya pelaku perjalanan pada masa new normal akan dihadapkan dalam pemilihan moda transportasi kereta api dan travel. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pertimbangan pelaku perjalanan dalam karakteristik penggunaan moda dan pemilihan moda transportasi rute Jember-Surabaya dalam memilih moda Kereta Api dan Travel, yang mana lebih dominan diminati oleh calon penumpang pada saat masa new normal.
Untuk mengetahui karakteristik pemilihan moda transportasi Rute Jember-Surabaya diperlukan data primer dan sekunder dengan menggunakan metode Stated Preference. Data Primer dapat diperoleh secara langsung dari lapangan dengan membagikan kuesioner pada responden pengguna Kereta Api dan Travel, sedangkan data sekunder dapat diperoleh dari jumlah penduduk produktif jember dari hasil Proyeksi Penduduk Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur tahun 2020, berbagai literatur, jurnal dan internet.
Berdasarkan hasil analisis karakteristik sosial ekonomi penumpang terhadap pemilihan moda transportasi travel dan kereta api rute Jember-Surabaya diperoleh bahwa penumpang kereta api dan travel didominasi oleh perempuan dengan rentang usia 21-30 tahun dengan berlatar pendidikan terakhir SMA/SMK/MA, memiliki jenis pekerjaan sebagai pelajar/mahasiswa dan pendapatan perbulan sebanyak <Rp. 1.000.000,00. Sedangkan hasil analisis karakteristik perjalanan penumpang penumpang terhadap pemilihan moda transportasi travel dan kereta api rute Jember-Surabaya diperoleh bahwa penumpang berasal dari Jember dengan tujuan melakukan perjalanan wisat
Pengaruh Islamic Branding dan Loyalitas Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Produk Kosmetik Wardah di Kabupaten Mojokerto
Islamic Branding dan Loyalitas Konsumen merupakan dua aspek yang dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk membeli produk kosmetik Wardah. Melalui Islamic Branding dan Loyalitas Konsumen terhadap produk kosmetik wardah diharapkan bisa menjadi pendorong perkembangan produk-produk Halal di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh Islamic Branding dan Loyalitas Konsumen terhadap keputusan pembelian konsumen produk kosmetik Wardah di Kabupaten Mojokerto.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode eksplanasi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Masyarakat di Kabupaten Mojokerto yang berjenis kelamin perempuan, dengan rentang usia 17-45 tahun. metode pengambilan sample yang digunakan yaitu metode Purposive Sampling dan ditentukan jumlahnya sebanyak 100 orang. Data diperoleh dengan menyebarkan angket berupa kuisioner secara online kepada responden, dan kemudian diolah dengan alat bantu software statistik yaitu SPSS Versi 23. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yakni pengukuran validitas dan reliabilitas serta pemenuhan asumsi klasik.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel Islamic branding berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian produk kosmetik Wardah. Variabel Loyalitas konsumen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen produk kosmetik Wardah.Prof. Dr. Mohammad Saleh, M.Sc.
Dr. Novi Puspitasari, S.E., M.M
Reyog Ponorogo dalam Bayang-Bayang PKI Studi Tentang Peranan Reog Ponorogo di Kabupaten Madiun dalam Menjaring Basis Massa PKI Tahun 1950-1965
Tulisan ini membahas tentang peranan Kesenian Reyog Ponorogo dalam
Menjaring Basis Massa PKI Kabupaten Madiun Tahun 1950-1965. Masalah yang
dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat,
perkembangan setiap partai politik yang bersaing dalam mencari simpati
masyarakat serta membahas tentang hubungan antara kesenian reyog Ponorogo
dengan kondisi politik pada saat itu. Perana kesenian reyog Ponorogo pada
mulanya hanya sebagai hiburan masyarakat saja, namun mulai dilarang para
penjajah untuk ditampilkan di khalayak ramai. Hal ini disebabkan karena
dianggap dapat menjadi saranan pemberontakan.
Melihat kesenian digemari masyarakat terutama kesenian reyog, partai partai politik mulai melirik hal tersebut. Hal ini dapat dijadikan sarana untun
melakukan pendekatan terhadap masyarakat. Terutama PKI yang pada saat itu
namanya buruk akibat adanya pemberontakan yang terjadi sebelumnya. PKI
melihat hal ini dapat dijadikan strategi untuk melakukan pendakatan serta
memulihakan nama baik mereka di masyarakat. PKI memberikan wadah serta
sarana yang dibutuhkan oleh para pelaku seni tersebut, dengan mulai adanya
wadah para pelaku seni mulai dapat menyampaikan gagasan serta ide-idenya.
Strategi yang diterapkan tersebut terbukti dengan mendapatkan dukungan
terbanyak. Dari penelitian ini menunjukan bahwa, kesenian reyog adalah sebuah
seni pertunjukan yang memiliki peran yang sangat penting dalam memobilisasi
massa pada tahun 1950-1965, terutama pada masa kampanye pemilu tahun 1955.Suharto,S.S.,M.A. (Dosen Pembimbing)
Drs Nurhadi Sasmita M.Hum (Dosen Pembimbing
Restrukturisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia Berbasis Hukum yang Berbhinneka Tunggal Ika
Globalisasi yang merupakan sebuah sistem yang merambah masuk ke negara Indonesia sudah tidak mungkin lagi dapat dibendung. Globalisasi yang membawa perubahan ke era modernitas memberikan perubahan paradigma masyarakat dan kemanusiaan secara global. Perubahan paradigma masyarakat ini kemudian mengarahkan manusia menjadi egois. Pandangan masyarakat yang egois ini tentu saja sangat bertentangan dengan nilai “Bhineka Tunggal Ika” dan nilai luhur dari Pancasila yaitu gotong royong. Pada kenyataannya hingga saat ini ‘Bhineka Tunggal Ika’ hanyalah menjadi sebuah slogan dan semboyan saja. Perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia justru mengarah pada perkembangan kehidupan yang saling mendominasi atau lebih parahnya adalah diskriminasi. Diskriminasi ini pun terwujud pula pada pembangunan hukum di Indonesia yang seharusnya dijiwai oleh nilainilai luhur Pancasila. Maraknya peraturan-peraturan daerah yang bersifat diskriminatif akan memperkokoh pula pembangunan manusia Indonesia yang Diskriminatif, sehingga tidak menutu kemungkinan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini pun akan terancam. Prinsip Bhineka Tunggal Ika yang diambil dari nilai-nilai kebudayaan dan sejarah Bangsa Indonesia mempunyai kekuatan lebih besar dibandingkan pemahaman pluralisme yang saat ini berkembang dan lebih banyak berasal dari pemikiran demokrasi liberal. Sebagai sebuah jiwa bangsa atau ruh, tentunya Pancasila membutuhkan sebuah badan untuk bisa tetap exist atau diketahui keberadaannya. Pemerintahan dari Indonesia lah yang seharusnya sebagai badan yang diisi oleh roh Pancasila ini
Penilaian Kualitas Air Saluran Irigasi Pertanian Organik Di Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember Dengan Menggunakan Family Biotic Index
Salah satu daerah di Indonesia yang menerapkan pertanian organik
yaitu di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe Kabupaten jember yang
dikelola oleh kelompok tani “Tani Jaya II”. Kelompok tani ini sudah mendapat
sertifikat pertanian organik oleh LeSOS. Pertanian organik adalah pertanian yang
dalam aktivitasnya menggunakan pupuk dan pestisida dari bahan-bahan alami
tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Penggunaan pupuk bahan alami tersebut
diduga berefek pada jumlah residu pupuk organik yang masuk ke saluran irigasi
sangat sedikit sehingga menyebabkan kualitas air saluran irigasi tidak mengalami
pencemaran. Penilaian kualitas air tersebut didasarkan pada indeks FBI (Family
Biotic Index). FBI merupakan indeks yang dapat menggambarkan tingkat
pencemaran organik di suatu perairan. Berdasarkan uraian tersebut maka penting
dilakukan penelitian tentang penilaian Kualitas Air Saluran Irigasi Pertanian
Organik di Desa RowosariKecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember dengan
Menggunakan Family Biotic Index.
Pengambilan sampel dilakukan di saluran irigasi pertanian organik di Desa
Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember sepanjang 18 m.
Penelitian ini dilakukan pada pagi hingga sore hari. Pengambilan sampel
makroinvertebrata bentos dilakukan sebanyak 15 kali menggunakan jala suber
sedangkan pengukuran faktor lingkungan pendukung keberadaan
makroinvertebrata bentos yang meliputi suhu, kekeruhan, konduktivitas, TDS, DO
dan pH dilakukan sebanyak tiga kali. Sampel makroinvertebrata bentos yang
diperoleh diidentifikasi sampai tingkat suku dan ditentukan jumlah individu setiap suku. Data nama suku, nilai toleransi dan jumlah individu setiap suku
makroinvertebrata bentos dianalisis dengan menggunakan indeks FBI untuk
menentukan kategori kualitas airnya. Data pengukuran faktor lingkungan
dimasukkan kedalam tabel ditentukan rentangannya, yaitu nilai terendah dan
tertinggi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di saluran irigasi pertanian organik di
Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember ditemukan tiga
kelas, sembilan bangsa dan 18 suku makroinvertebrata bentos. Suku
makroinvertebrata bentos yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu suku
Philopotamidae sedangkan suku dengan kelimpahan terendah yaitu
Amphipterygidae dan Planorbidae. Kualitas air saluran irigasi berdasarkan indeks
FBI yaitu sangat bagus (very good) dan tercemar ringan oleh materi organik
(possible slight organic pollution). Hal ini ditandai dengan jumlah organisme
makroinvertebrata bentos yang sensitif lebih banyak daripada yang toleran karena
kadar materi organik di saluran irigasi rendah.
Kesimpulan penelitian ini adalah komposisi suku makroinvertebrata
bentos saluran irigasi pertanian organik di Desa Rowosari, Kecamatan
Sumberjambe Kabupaten Jember terdiri atas 18 suku makroinvertebrata bentos.
Suku yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Philopotamidae dan kelimpahan
terendah yaitu Amphipterygidae dan Planorbidae. Kualitas air saluran irigasi
berdasarkan indeks FBI yaitu sangat bagus (very good) dan tercemar ringan oleh
materi organik (possible slight organic pollution).Dr. Retno Wimbaningrum, M.Si. (Dosen Pembimbing)
Dra. Hari Sulistiyowati, Ph.D (Dosen Pembimbing
Hubungan ko-infeksi soil-transmitted helminths terhadap status gizi pada penderita tuberkulosis di Kecamatan Puger
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kejadian ko-infeksi
parasit di daerah endemik TB sering dilaporkan yang mengakibatkan kondisi penderita TB semakin parah dan sulit
disembuhkan. Ko-infeksi cacing pada penderita TB diketahui berpengaruh terhadap respon imun, proses pengobatan,
status gizi, dan prognosisnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ko-infeksi soil-transmitted
helminthiasis (STH) terhadap status gizi pada penderita TB di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Studi ini adalah
penelitian observasi dengan desain cross sectional yang dilakukan di Puskesmas Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur pada
September 2019 sampai Januari 2020. Data ko-infeksi cacing pada penderita TB diperoleh dari pemeriksaan feses dengan
metode sedimentasi dan flotasi sedangkan status gizi diperoleh dari pengukuran indek masa tubuh (IMT). Analisis data
menggunakan uji Chi-square untuk mengethui adanya hubungan ko-infeksi STH terhadap status gizi penderita TB. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa 6 dari 32 pasien TB (18,72 %) terinfeksi STH, 4 (%) terinfeksi Ascaris lumbricoides, dan 2 (%)
terinfeksi hookworms. Hasil pengukuran IMT adalah18 (56,25%) yang mengindikasikan bahwa penderita TB berstatus gizi
kurang dan14 (43,75%) berstatus gizi normal. Hasil uji Chi Square menunjukkan tidak ada hubungan ko-infeksi STH
terhadap status gizi penderita TB (p>0,05). Dengan demikian, perlu dilakukan edukasi pada penderita TB tentang gizi
seimbang khususnya di wilayah puskesmas Puger Kabupaten Jember, Jawa Timur agar i status gizi dapat meningkat
Suburban Junior High School Students’ Pronunciation On Six English Sounds That Do Not Occur in The Indonesian Phonological System: A Descriptive Qualitative Analysis
This study examined the pronunciation of the suburban junior high school
students on the six English sounds that could not be found in the Indonesian
phonological system; the sound [ʒ], [v], [θ], [ð], [æ], and [ʌ] as they can be found in
the words Asia /ˈeɪʒə/, very /ˈveri/, thank /ˈθæŋk/, this /ˈðɪs/, add /ˈæd/, and up
/ˈʌp/.The background of examining this topic was to know the students’
pronunciation of those who are under low exposure to the use of English. The
students of suburban junior high school here were represented by the students of
SMPN 3 Kedungwaru, Tulungagung. They were chosen by applying the purposive
sampling method. Therefore, their pronunciation was reviewed through
pronunciation test activity in pronouncing words that contain those six targeted
sounds. There were ten words of the sound [v], [θ], [ð], [æ], and [ʌ], but only four
words for the sound [ʒ].
This study employed descriptive qualitative analysis to obtain the aimed
result in describing six English sounds that do not occur in the Indonesian
phonological system that were pronounced by the participants. The data were then
analyzed with Wolcott's analysis procedures, namely: describing, analysis, and
interpretation. The describing stage involved the phonetic transcription of each of the
students’ pronunciation based on the IPA (International Phonetic Alphabet). In the
analysis stage, the transcribed students’ pronunciation of the words was juxtaposed
with the phonetic transcription American (AmE) and British (BrE) pronunciation as
the overview to analyze the students’ pronunciation to see the sound differences.
Lastly, the interpretation stage was dealt with the sound features, the appearance within words, the comparison to AmE and BrE pronunciation, the sound changes,
and the phonological environment of each sound.
The result of this study indicated that the students changed the sounds in
pronouncing the sound [ʒ], [v], [θ], [ð], [æ], and [ʌ] within words even though some
others pronounced them as how they are pronounced in AmE and BrE. The students
pronounced the sound [ʒ] as [s], [ʃ], [ʤ], and [g]. For instance, in pronouncing the
word ‘Asia’ /ˈeɪʒə/, the students pronounced it as /ˈeʃia/. Then, the sound [v]
pronounced was as [f] and [v]. One example for this sound substitution was when the
students pronounced the word ‘very’ /ˈveri/ as /ˈferi/. For the sound [θ], the students
pronounced it as [s], [t], [d], [ð], [st], [ts] and [θ]. It can be seen as one example;
students pronounced the word ‘thank’ /ˈθæŋk/ as /ˈtæŋ/. Then, the sound [ð] was
pronounced by the students as [ð], [d], [t], [z], [dt], and [θt]. In this sound
substitution, the students pronounced the word ‘weather’ /ˈwɛðɚ/ as / ˈwɛtər/ for
instance. For the vowel [æ], the students pronounced it as [ɛ], [a], [ʌ], and [æ]. As the
example for this vowel substitution, the students pronounced the word ‘add’ /ˈæd/ as
/ˈɛd/. Last, the sound [ʌ] was variously pronounced as [a], [aː], [u], [ə], [ɔ], [o],
diphthong [aʊ] and the sound [ʌ] by the students. There was one example of this
sound substitution when the students pronounced the word ‘other’ /ˈʌðɚ/ as /ˈaðər/.
The different phonological system was the main reason of the sound substitution
performed by the students. Besides, the mother tongue interference.
At the end of the study, there are suggestions for English teachers and future
researchers that hopefully will bring valuable contributions. For the English teachers,
it is suggested to provide more classroom materials and activities focusing on
pronunciation. Meanwhile, for the future researchers, there are several suggestions to
elaborate more on students’ pronunciation; analyzing other sounds from [ʒ], [v], [θ],
[ð], [æ], and [ʌ], having the different focus of study such as the suprasegmental
features, or situating the background factors of students’ pronunciation.Siti Masrifatul Fitriyah, S.Pd., M.A., Ph.D.: Main Supervisor
Eka Wahjuningsih, S.Pd., M.Pd : Co-Superviso
Does Religious Holiday Allowance Policy during Covid-19 Provide Legal Certainty?
The Circular Letter of the Minister of Manpower No. M/6/HI.00.01/V/2020 concerning the Implementation of Religious Holiday Allowance Payment (THR) of 2020 in Companies during Covid-19 Pandemic is a regulation expected to complete THR payment problems in this Pandemic situation. However, normatively, this regulation raises new legal issues. This regulation's provisions contradict the principle of legal certainty because it contradicts the laws and regulations above it. Under the juridical normative type of research, the results of this research found the emergence of legal consequences due to industrial relations disputes for employment relations actors if the agreement on THR Payment is not achieved. This research has also found that the Minister Circular Letter on THR Payment basically contradicted the principle of legal certainty because the status does not belong to the statutory regulations, meaning that it has no force to be applied as statutory regulations do. Based on the Statutory regulation, the minister Circular Letter's legal status only applies to internal institutions which issue and belongs to technical and administrative arrangements. Thus, legal action as research result recommended to the government is revoking the minister's circular letter on THR Payment