75643 research outputs found
Sort by
Uji Toksisitas Beberapa Isolat Metarhizium Anisopliae yang Diperbanyak pada Beberapa Media Terhadap Hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal)
Hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) merupakan hama utama pada tanaman padi yang perlu dikendalikan, diantaranya dengan aplikasi jamur entomopatogen yaitu Metarhizium anisopliae. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui toksisitas beberapa isolat M. anisopliae yang diperbanyak pada beberapa media terhadap hama wereng coklat. Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu faktor A: Asal Isolat (3 isolat) dan faktor B: Media Perbanyakan (3 media) dan kontrol yang diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan terdiri dari I1 : Isolat Baliriam, I2 : Isolat Jember, I3 : Isolat Madura, P1 : Media Jagung, P2 : Media Beras, P3 : Media Milet.
Variabel yang diamati yaitu viabilitas spora isolat M. anisopliae, efektivitas jamur M. anisopliae , dan toksisitas jamur M. anisopliae dengan mengunakan konsentrasi 104, 105, 106, 107 dan 108. Data mortalitas dianalisis dengan menggunakan analisis ANOVA dan jika terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji DMRT. Data toksisitas dianalisis dengan analisis probit. Viabilitas spora jamur M. anisopliae tertinggi yaitu isolat jamur M. anisopliae asal Madura 74,5%. Kombinasi antara asal isolat jamur M. anisopliae dan media perbanyakan menunjukkan tidak adanya korelasi terhadap mortalitas N. lugens. Asal isolat jamur M. anisopliae yang berpengaruh terhadap mortalitas N.lugens yaitu isolat asal Madura dengan mortalitas 53,33% dan media perbanyakan yang paling pengaruh terhadap mortalitas N.lugens yaitu media jagung dengan mortalitas 18,51%. Nilai LC50 yang dapat membunuh N. lugens sebesar 50% yaitu konsentrasi 3,9×106 dan nilai LT50 yang dapat membunuh N. lugens sebesar 50% yaitu dengan waktu 5 hariDosen Pembimbing Skripsi : Ir. Sigit Prastowo, MP
Association rule mining method for the identification of internet use
nternet penetration in the majority of Indonesian cities has exponentially increased,
as seen from the increasing number of internet users in schools, businesses and society in
general. The purpose of internet use varies to include searching for information, sending
emails, chatting, entertainment, as well as buying and selling goods/services, among other
reasons. However, it is compelling to note that one of the factors affecting internet use is
gender. Hence, this research aims to reveal the different patterns in internet use by considering
gender differences. The data comes from the National Social Economic Survey conducted in
the East Java Province, and association rule is used for the data mining method. The results
from examining one itemset show that both male and female genders mostly use the internet to
access social media. However, the outcomes are different for other itemsets. The results from
analysing two itemsets based on male and female groups reveal that both genders use the
internet for financial services and news. The use of association rule mining to examine three
itemsets demonstrates that most male users simultaneously access emails, financial services
and news. Meanwhile, most female users access financial services, goods/services and news
Kebijakan Mitigasi Bencana Gunung Semeru
Bencana sering diidentikkan dengan suatu hal yang
terjadi karena alam dan berada di luar kontrol manusia.
Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana pasal 1, bencana diartikan sebagai
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam atau
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik
yang disebabkan oleh faktor alam dan/atau non-alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis. Menurut International Strategy
for Disaster Reduction (ISDR) (2004), bencana merupakan suatu
gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat,
sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada
kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi, atau
lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat
yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan
sumberdaya mereka sendir
Produksi Cuka Asam Laktat Mandai Sebagai Inovasi Varian Pengolahan Cempedak Arthocarpus Champeden
Cempedak merupakan salah satu buah yang berasal dari Indonesia khususnya
daerah Kalimantan. Pada tahun 2018 total panen cempedak di indonesia sebanyak
775.480 ton, khusu untuk wilayah Kalimantan Timur total panennya berjumlah 12.658
ton. Melimpahnya jumlah panen dari cempedak tersebut memiliki potensi suntuk
diolah menjadi makanan khas. Cempedak dapat diolah menjadi mandai, tetapi mandai
tersebut sudah banyak diproduksi oleh masyarakat lokal dengan memanfaatkan kulit
buah cempedak Mandai pada umumnya menggunkan kadar garam tinggi sebgai
suksesi bakteri asam laktat yang memiliki dampak kurang baik ketika dikonsumsi
jangka panjang. Hal tersebut dapat diperbaiki dengan merubah proses suksesi bakteri
asam laktat dengan proses pemanasan dan penambahan kultur pemula Lactobacillus
casei strain Shirota sebelum fermentasi.
Hal yang dapat ditingkatkan dari pemanfaatan kulit cempedak selain untuk
dijadikan mandai yaitu dengan mengolahnya menjadi cuka mandai karena memiliki
hasil fermentasi berupa asam-asam organik. Cuka mandai memiliki potensi sebagai
salah satu produk derivat dari cempedak dengan tujuan utama memproduksi asam
organik volatil berupa asam laktat. Faktor penting yang perlu diperhatikan dalam
pembuatan cuka ialah suhu fermentasi. Proses pembuatan cuka mandai ini berfokus
pada suhu fermentasi dengan parameter total bakteri dan kapang, derajat keasaman,
total asam tertitrasi dan adanya asam organik volatil (asam asam laktat, asam propionat,
asan butirat dan asam valerat).
Fermentasi cuka mandai dilakukan selama tujuh hari dengan tiga variasi suhu
yang teridiri dari suhu rendah (6-10oC), suhu ruang (29-31oC) dan suhu 37ºC. Hasil
fermentasi dilakukan pengujian pada hari ke 0; 3; 5; 7 yang meliputi, total bakteri dan
total kapang, pengukuran total asam dengan titrasi dan pengukuran derajat keasaman.
Deteksi adanya asam organik volatil dilakukan pada sampel yang difermentasi pada
hari ke-0 dan hari ke-7 menggunakan metode GC-MS dengan sasaran asam laktat,
asam propionat, asam butirat dan asam valerat.Dr.Ir. Jayus (Dosen Pembimbing
Tsunami risk levels mapping in Puger Sub-District, Jember Regency
Puger sub-district is categorized as a tsunami-prone area because of its location in the
South Coast, directly facing the Indian Ocean, which is the meeting point for two active tectonic
plates. The active plate zone is prone to causing earthquakes that raise tsunamis. This article will
describe the tsunami hazard and vulnerability level in Puger sub-district using the Geographic
Information System (GIS) application. The method in this study uses a weighted overlay method.
The weighting method is carried out to determine the level of tsunami hazard and vulnerability
by following the weighting criteria in previous studies. Physical vulnerability criteria include
land elevation, slope, beach type, land use, coastline distance, and rivers. The tsunami hazard
level is determined based on the tsunami run-up map from previous studies. Based on the results
of the risk mapping, it was found that there were five risk categories in Puger sub-district, namely
the very low level (13.90 Ha), low level (271.99 Ha), medium level (7133.25 Ha), high level
(644.22 Ha), and very high level (23.29 Ha)
Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Kader dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Berkunjung ke Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember
Posyandu bertujuan untuk menunjang percepatan penurunan angka kematian ibu, angka kematian bayi dan angka kematian anak balita melalui upaya pemberdayaan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang diberikan di posyandu sangat erat hubungannya dengan partisipasi masyarakat. Tingkat partisipasi masyarakat di suatu wilayah diukur dengan indikator D/S. Berdasarkan data cakupan D/S Dinas Kesehatan Kabupaten Jember pada tahun 2017, 2018, dan 2019 secara berurutan adalah 86,25%, 85,79% dan 86,00%. Puskesmas Jelbuk merupakan puskesmas dengan cakupan D/S terendah dan belum memenuhi target yaitu 85%. Pada tahun 2017 sebesar 66,18%, tahun 2018 sebesar 58,92% dan tahun 2019 sebesar 63,6%. Kader posyandu memiliki peran penting yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau masyarakat dan melakukan tatap muka lebih sering dibandingkan dengan petugas kesehatan lainnya. Salah satu tugas dan tanggung jawab kader yaitu mengajak masyarakat untuk berkunjung dan memanfaatkan kegiatan posyandu. Pencapaian cakupan D/S yang rendah dapat dipengaruhi oleh kinerja kader yang belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kinerja kader dalam meningkatkan partisipasi masyarakat berkunjung ke posyandu wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan waktu cross sectional dan dilakukan di desa wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2020. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 66 kader posyandu dengan teknik simple random sampling. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan instrumen kuesioner. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis menggunakan uji chi square dengan tingkat signifikansi α = 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kinerja kader dalam meningkatkan partisipasi masyarakat berkunjung ke posyandu yaitu pengetahuan (p=0,040), hal ini dikarenakan kader yang memiliki pengetahuan baik akan mampu mengaplikasikan ilmunya dengan baik pula. Motivasi (p=0,021), kader yang memiliki motivasi tinggi akan mendorong kader untuk bekerja lebih giat untuk mencapai hasil yang optimal. Imbalan (p=0,001), karena imbalan yang diberikan dapat mempengaruhi semangat kerja kader. Sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan kinerja kader dalam meningkatkan partisipasi masyarakat berkunjung ke posyandu yaitu keterampilan (p=1,000), dikarenakan tidak selalu semua kader yang memiliki keterampilan baik diwujudkan dalam suatu tindakan berupa kinerja kader yang tinggi dalam menjalankan tugasnya. Kemungkinan dikarenakan keterampilan yang diperoleh tidak dipraktikkan dalam bekerja. Sarana dan prasarana (p=0,197), dapat disebabkan karena sebagian kader tidak melihat ada atau tidaknya sarana dan prasarana posyandu di tempat mereka bekerja. Kader tetap melaksanakan tugasnya meskipun terdapat fasilitas yang tidak tersedia. Supervisi (p=0,786), karena ada atau tidaknya petugas puskesmas yang hadir pada saat kegiatan posyandu berlangsung tidak memberikan pengaruh kepada kader hal ini disebabkan oleh kesibukan petugas puskesmas. Dukungan tokoh masyarakat (p=0,460), disebabkan karena ada atau tidaknya dukungan tokoh masyarakat tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja kader. Walaupun dukungan tokoh masyarakat rendah namun kegiatan posyandu masih tetap berjalan, kader masih bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam kegiatan posyandu.
Saran dalam penelitian ini adalah meningkatkan pelatihan kader dengan menggunakan metode pelatihan dan pembelajaran seperti metode SCL (Student Centered Learning) dengan melibatkan partisipasi kader sehingga hasilnya lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader terkait macam-macam tugasnya dan memberikan arahan kepada kader terkait tugas yang harus dilakukan pada saat kegiatan berlangsung serta mempertahankan motivasi kader dengan cara menambah uang transportasi, mengadakan perlombaan antar kader, dan memberikan penghargaan berupa sertifikat kepada kader.Dosen Pembimbing Utama : Christyana Sandra, S.KM., M.Kes.
Dosen Pembimbing Anggota : Mury Ririanty, S.KM., M.Kes
The Relationship of Delayed Appendectomy to the Incidence of Surgical Site Infection (SSI) in Acute Appendicitis Patients: a Narrative Review
Acute appendicitis is one of the most common causes of surgery worldwide. Appendectomy is a
skeptical surgical intervention associated with the risk of Surgical Site Infection (SSI). The purpose
of this analysis was to describe the relationship between delayed appendectomy in acute appendicitis
and the incidence of SSI. Reviewers selected articles containing data on the incidence of SSI due to
appendectomy delays for 3 to 48 hours from seven databases, namely Pubmed, Nature, SpringerLink,
Science Direct, ProQuest, Oxford Open Access Journal, and Cochrane Library. The data source was
secondary data from international articles published in 2011 to 2020 based on the PICO criteria. The
data obtained were then grouped and synthesized without meta-analysis/Synthesis Without Metaanalysis (SWiM) descriptively. A total of 2,778 articles were collected, of which 24 studies met the
inclusion criteria. A total of 4 articles showed an association between appendectomy delay and SSI while
the other 20 articles did not show a relationship between the two. There was no relationship between
appendectomy delays for less than 48 hours since hospital admission to surgery with the incidence of
SSI, however a delayed for more than 48 hours showed a significant value. The results showed there
was no relationship between delayed appendectomy for less than 48 hours since the time the patient
was admitted to the hospital until the surgery took place, but a delayed appendectomy delay for more
than 48 hours showed a significant relationship with the incidence of SSI. This narrative review supports
early surgical intervention of acute appendicitis cases by considering the severity of the patient to avoid
other surgical complications
Pengaruh Imunisasi Intranasal Epitop Protein Rrgb Streptococcus Pneumoniae Terhadap Konsentrasi Β – Defensin 2
Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang dapat menyebabkan
berbagai penyakit infeksi pneumococcal disease seperti pneumonia, sinusitis, otitis
media, sepsis, dan meningitis. Hingga saat ini pneumonia akibat S. pneumoniae
masih menjadi masalah kesehatan di dunia dengan angka morbiditas dan mortalitas
yang tinggi. Vaksin pneumokokus yang direkomendasikan yakni PPV23 (23-
Valent Pneumococcal Polyssacharide Vaccine) dan PCV13 (13-Valent
Pneumococcal Conjugate Vaccine) masih belum efektif serta memiliki beberapa
kekurangan. Salah satu kandidat vaksin yang menjanjikan adalah vaksin berbasis
epitope protein RrgB Streptococcus pneumoniae. Untuk membuktikan potensi
vaksin tersebut pada penelitian ini dilakukan imunisasi secara intranasal 5 epitope
protein RrgB pada tikus Wistar untuk mengetahui kemampuan vaksin dalam
menginduksi sistem imun mukosa. Salah satu respon imunitas mukosa yang penting
terhadap infeksi S. pneumoniae adalah β-defensin 2.
Penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental in vivo post-test only
control group design dengan menggunakan 28 ekor tikus Wistar (Rattus norvegicus)
jantan, dengan usia 12 – 16 minggu. Sampel secara acak dibagi menjadi 7 kelompok,
K1 diimunisasi 40 μL PBS, K2 diimunisasi 2 μL CTB yang dilarutkan dalam 40 μL
PBS dan K3 hingga K7 diberikan 2 μL CTB ditambah 20 µg lima jenis epitope protein
RrgB S. pneumoniae berbeda yang dilarutkan dalam 40 μL PBS. Konsentrasi β defensin 2 diukur dengan menggunakan metode ELISA dan dilakukan di Laboratorium
Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
Pada penelitian ini didapatkan rerata konsentrasi β-defensin 2 pada bilasan
hidung tikus Wistar setelah tiga kali imunisasi intranasal secara berurutan epitope
1 sebesar 699,02 ± 31,31 pg/mL, adjuvan sebesar 650.23 ± 27.58 pg/mL, epitope 3
sebesar 640,71 ± 26,37 pg/mL, epitop 4 sebesar 633.05 ± 10.82 pg/mL, epitope 5
sebesar 631,47 ± 40,69 pg/mL, epitope 2 sebesar 613,94 ± 75,73 pg/mL, dan kontrol
sebesar 396.19 ± 143.59 pg/mL. Hasil uji statistik Kruskall wallis didapatkan nilai
p sebesar 0,018 (p<0,05) kemudian dilanjutkan uji Posthoc Mann Whitney
menunjukan pemberian imunisasi intranasal epitope protein RrgB S. pneumoniae
mampu meningkatkan konsentrasi β-defensin 2 pada mukosa hidung tikus Wistar
secara sigifikan (p<0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Rerata konsentrasi β defensin 2 paling tinggi terjadi pada kelompok epitope 1 protein RrgB S.
pneumoniae. Hasil ini menunjukan imunisasi intranasal epitope protein RrgB S.
pneumoniae mampu meningkatkan konsentrasi β-defensin 2 dan perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk membuktikan potensinya sebagai kandidat vaksin
pneumokokus.Dr. dr. Diana Chusna Mufida, M.Kes. ; Dosen Pembimbing
dr. Bagus Hermansyah, M.Biome
KEABSAHAN PERJANJIAN TIDAK TERTULIS DALAM ARISAN ONLINE (Studi Putusan Nomor. 106/Pdt.G/2017/PN Plk)
Kegiatan arisan di Indonesia sangatlah familiar terutama di kalangan kaum hawa, umumnya kegiatan arisan adalah saling berkumpul dan mengumpulkan uang ataupun barang secara teratur tiap periode tertentu. Setelah uang atau barang telah terkumpul kemudian akan ada undian nama atau nomor yang akan dinyatakan sebagai pemenang undian arisan, dan berakhir ketika semua peserta arisan telah mendapatkan undian atau menang. Tidak berbeda jauh, arisan online juga sedang marak dikalangan masyarakat Indonesia jika biasanya arisan harus berkumpul dan bertatap muka, tidak dengan jenis arisan ini, karena kegiatannya dapat melalui media atau dengan kata lain ada perantara atau jembatan untuk menghubungkan para peserta arisan online. Akan tetapi setiap peristiwa pasti ada risiko, begitu juga dengan arisan online di mana memiliki banyak sekali celah untuk pihak yang kurang bertanggung jawab memanfaatkan celah tersebut. Salah satunya adalah dengan tidak memenuhi kewajiban nya yaitu tidak membayar iuran rutin arisan, yang pada akhirnya akan menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Perbuatan tersebut dapat dikatakan sebagai perbuatan ingkar janji atau wanprestasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengambil judul skrispsi “KEABSAHAN PERJANJIAN TIDAK TERTULIS DALAM
ARISAN ONLINE (Studi Putusan Nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk)”. Adapun rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu: Pertama, Keabsahan perjanjian yang dibuat secara tidak tertulis menurut hukum perjanjian. Kedua, Penggolongan wanprestasi dengan tidak dipenuhinya pembayaran iuran dalam arisan online. Ketiga, Kesesuaian terhadap ketentuan yang berlaku berdasarkan pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk tentang wanprestasi dalam perjanjian arisan online. Skripsi ini memiliki dua tujuan penulisan yakni tujuan umum dan tujuan khusus; metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini yaitu penelitian hukum yuridis normatif (normative legal research). Untuk pendekatan masalahnya, penulis menggunakan pendekatan undang-undang, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Skripsi ini juga terdiri dari tiga bahan hukum yaitu: bahan hukum primer seperti undang-undang; bahan hukum sekunder seperti buku-buku literatur, jurnal hukum, tulisan-tulisan hukum; serta bahan hukum non hukum seperti data yang didapat dari internet, bahan-bahan yang didapat dari makalah dan kamus.
Sementara tinjauan pustaka pada skripsi ini berisi tentang literatur – literatur yang bersifat luas atau menyeluruh guna memudahkan orang yang membaca skripsi ini mudah dan mampu menangkap isitilah - istilah ataupun pengertian yang mungkin akan dijumpai pada bab selanjutnya dalam skripsi ini. Tinjauan pustaka dalam skripsi ini berisi perjanjian, wanprestasi, dan arisan online.
Pembahasan dalam skripsi ini yaitu: Pertama, keabsahan suatu perjanjian yang dibuat secara tidak tertulis dalam hukum perjanjian. Berdasarkan pada Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa ada empat syarat sah yang harus dipenuhi dalam pembuatan suatu perjanjian. Kemudian pada Pasal 1338 KUHPerdata mengenai kebebasan berkontrak di mana adanya kebebasan dalam mengadakan suatu perjanjian. Kedua, Tidak dipenuhinya pembayaran iuran dalam arisan online dapat digolongkan wanprestasi, menurut Pasal 1238 KUHPerdata
xiii
bahwa menyatakan untuk waktu terjadinya suatu wanprestasi, dimana terdapat pihak yang tidak memenuhi kewajiban sesuai perjanjian. Ketiga, Pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk tentang wanprestasi dalam perjanjian arisan online sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, hal tersebut dapat dilihat dari fakta persidangan dan dasar hukum yang digunakan oleh hakim dalam menetapkan perkara tersebut dan juga penerapan putusan tersebut.
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, kesimpulan yang dapat ditarik dalam skripsi ini yaitu : Pertama, Perjanjian yang dibuat secara tidak tertulis merupakan perjanjian yang sah sebagaimana dalam kajian hukum perdata selama tidak bertentangan dengan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jadi perjanjian lisan tetaplah sah dan memiliki kekuatan hukum untuk menyatakan seseorang melakukan wanprestasi. Kedua, Tidak dipenuhinya pembayaran iuran arisan online dapat digolongkan sebagai perbuatan wanprestasi atau ingkar janji. Untuk waktu terjadinya suatu wanprestasi diatur pada Pasal 1238 KUHPerdata, jadi dari ketentuan tersebut bahwa wanprestasi dikatakan baru terjadi ketika pihak yang terlibat dalam pembuatan perjanjian atau dengan kata lain pihak yang memiliki kewajiban melaksanakan prestasi dalam suatu perjanjian, dinyatakan lalai untuk melakukan prestasinya atau dengan kata lain bahwa wanprestasi ada jika terdapat pihak yang memiliki kewajiban tidak dapat membuktikan bahwa dirinya melakukan wanprestasi itu di luar kesalahannya atau karena keadaan memaksa. Ketiga, Pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk tentang wanprestasi dalam perjanjian arisan online telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kemudian memberikan putusan bahwa Para Tergugat dinyatakan telah melakukan perbuatan ingkar janji atau wanprestasi dikarenakan Para Tergugat tersebut tidak memenuhi kewajiban sesuai apa yang diperjanjikan. Saran penulis yaitu: Pertama, Kepada masyarakat yang hendak membuat suatu perjanjian dalam bentuk tidak tertulis, para pihak harus dan perlu memprediksi terlebih dahulu mengenai akibat atau kerugian yang nantinya akan timbul jika terjadi wanprestasi hal ini dikarenakan bahwa perjanjian secara tidak tertulis mudah untuk disangkal atau diingkari kebenarannya. Oleh karena itu, apabila membuat suatu perjanjian secara tidak tertulis para pihak disarankan untuk menggunakan saksi, karena saksi berguna untuk mencegah adanya penyangkalan perjanjian atau perjanjian yang tidak diakui. Kedua, Kepada seluruh pihak arisan online yang terlibat dalam pembuatan suatu perjanjian memenuhi hak dan kewajiban masing-masing sebagaimana yang diperjanjikan sampai berakhirnya perjanjian tersebut sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dan tidak timbul sengketa antara para pihak dalam perjanjian. Ketiga, Kepada majelis hakim dalam Putusan Nomor. 106.Pdt.G/2017/Pn Plk yang diketuai oleh Dr. Erwanto, S.H., M.H., serta hakim anggota Zulkifli, S.H., M.H., dan Yuli Artha Pujayotama, S.H., M.H. dalam memutus perkara sudah memenuhi kesepakatan yang ada dan majelis hakim sudah mengadili sesuai dengan gugatan yang diajukan oleh Penggugat terhadap Para Tergugat
Katarak dan Penangannya (Edisi Revisi)
Katarak adalah hilangnya transparansi lensa yang
mengganggu penglihatan. Katarak merupakan penyebab utama
kebutaan, terhitung lebih dari 50% kasus diseluruh dunia.
Patofisiologi katarak tergantung dari faktor biofisik, biokimia,
seluler, stress oksidatif, stress reticulum endoplasma dan apoptosis.
Berbagai temuan ilmiah menunjukkan adanya hubungan fungsional
antara stres retikulum endoplasma dan stres oksidatif, namun
mekanisme di balik korelasi tersebut belum sepenuhnya diketahui.
Satu-satunya cara yang tersedia dan efektif untuk mengatasi
katarak adalah operasi, namun memerlukan biaya yang relative
mahal dan tenaga yang sangat terlatih. Teknik operasi tersebut
meliputi Intracapsular Cataract Extraction (ICCE), Extracapsular
Cataract Extraction (ECCE) dan Small incision cataract surgery
(SICS). Teknik operasi terbaru adalah Phacoemulsification dan
Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLCAS