75643 research outputs found
Sort by
Structured Accounting Recording as a Media for Supporting Business Sustainability and Progress Online Shop
It can be seen in many places that there are still many online business people who only pay attention to the profits they
make without knowing the history of the transactions that have occurred. Of course, this will later result in the
development of an ongoing business being hampered due to neglect of financial records, which is an important thing in a
business. For this reason, to find out the importance of the role of structured accounting records in helping online
business professionals when developing and promoting their business, the authors conducted research related to this.
This research uses literature study method which consists of data analysis of scientific journals and reference books. The
results show that there are five things that must be considered when structured accounting records are carried out,
among others, the online store business, the concept of structured accounting records, structured accounting records
that support the online store business, good and correct accounting procedures, and the continuity of the online store
business. Based on the research results, it can be concluded that structured accounting records can support the
continuity and progress of the online store busines
Perbandingan Sistem Rainwater Harvesting di Kota dan Desa sebagai Alternatif Mengatasi Kekeringan (Studi Kasus Desa Krajan Timur dan Desa Panduman, Kabupaten Jember)
Air adalah sumber daya yang terus dibutuhkan manusia. Dengan menggunakan sistem
Rainwater Harvesting RWH), air hujan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan domestik. Penelitian ini tidak hanya membahas potensi air yang dapat
dimanfaatkan dari sistem RWH yang ada pada satu lokasi saja, akan tetapi
mempertimbangkan dua lokasi yang merupakan lokasi yang lebih padat penduduk dan
dikategorikan sebagai wilayah kota (Desa Krajan Timur, Sumbersari) dan lokasi yang
lebih jarang penduduknya dan dikategorikan sebagai wilayah desa (Desa Panduman,
Jelbuk). Dalam penelitian ini digunakan beberapa data yaitu peta lokasi, data curah
hujan, dan data kebutuhan air penduduk. Untuk mengetahui kebutuhan air dan sumber
air yang digunakan penduduk sehari-hari, dilakukan survey kepada masyarakat yaitu
20 rumah di wilayah kota dan 20 rumah di wilayah desa. Perhitungan potensi air dari
sistem RWH dilakukan dengan metode F. J. Mock menggunakan debit andalan 50%.
Dari studi ini diperoleh hasil bahwa pada 20 rumah di wilayah kota, sistem RWH
berpotensi menghasilkan air sejumlah 3,168 liter/bulan sampai 31,825 liter/bulan.
Adapun pada 20 rumah di wilayah desa, potensi air dari sistem RWH pada setiap
rumah berkisar antara 15,090 liter/bulan sampai 33,952 liter/bulan. Potensi air
tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan air pada 20 rumah di desa dan 17 rumah
di kota, serta dapat memenuhi 44% sampai 72% kebutuhan air pada 3 rumah di
wilayah kota
Respon Tanaman Jagung (Zea mays L.) Terhadap Jarak Tanaman Pada Sistem Tanam Tumpangsari Dengan Tiga Jenis Tanaman Legum
Jagung merupakan tanaman pangan yang memiliki kandungan karbohidrat
kedua setelah padi menyebabkan kebutuhan jagung terus meningkat seiring
dengan berkurangnya lahan pertanian serta rendahnya kandungan bahan organik
tanah menjadi kendala dalam peningkatan produksi jagung, sehingga dibutuhkan
upaya untuk meningkatkan jumlah produksi tanaman jagung pada kondisi
tersebut. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
tanaman adalah dengan menggunakan sistem tanam tumpangsari. Namun dalam
sistem tanam tumpangsari terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu
jarak tanam dan jenis tanaman yang akan dikombinasikan dengan tanaman pokok.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil
tanaman jagung akibat jarak tanam pada sistem tanam tumpangsari dengan tiga
jenis tanaman legum.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pajurangan Kecamatan Gending
Kabupaten Probolinggo pada bulan Agustus hingga November 2020. Pola dasar
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK)
yang disusun secara faktorial, terdiri dari dua faktor yaitu jarak tanam jagung
terdiri dari 2 taraf meliputi jarak tanam jagung 80 cm x 20 cm (J1) dan jarak
tanam jagung 120 cm x 20 cm (J2) sedangkan jenis tanaman legum terdiri dari 3
taraf yaitu kacang hijau (K1), kedelai (K2) dan kacang tanah (K3) yang diulang
sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati yaitu pertumbuhan meliputi tinggi
tanaman serta jumlah daun dan hasil tanaman jagung terdiri dari bobot 100 butir
pipilan jagung, bobot tongkol, panjang tongkol serta diameter tongkol. Analisis
data dilakukan secara statistika dengan menggunakan sidik ragam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Tidak ada interaksi antara jarak
tanam jagung dengan tiga jenis tanaman legum terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman jagung (2) Perlakuan jarak tanam berpengaruh tidak nyata terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (3) Perlakuan jenis tanaman legum yaitu
kacang hijau (K1) memiliki pengaruh berbeda nyata terhadap jumlah daun
tanaman jagungPembimbing Utama : Drs. Yagus Wijayanto, M.A.,Ph.D
Systematic Mapping Review : Penggunaan Bahan Alam Pada Pengobatan Tradisional Penyakit Tidak Menular di Indonesia
Indonesia memiliki keberagaman suku/komunitas dan hampir setiap suku
bangsa memiliki budaya, pengetahuan dan cara yang berbeda mengenai pengobatan
tradisional. Obat tradisional banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
memelihara kesehatan dan mengobati penyakit kronis seperti penyakit tidak
menular. Penyakit tidak menular telah menjadi beban di seluruh negara dan
menyebabkan 73% kematian di Indonesia. Pada 2012-2017 Pemerintah Indonesia
telah melakukan Riset Tanaman Obat dan Jamu untuk menginventaris pengetahuan
lokal suku/komunitas terkait pengobatan tradisional. Di luar RISTOJA beberapa
penelitian secara sporadis di bidang ini sudah dilaporkan. Namun, hingga kini
penelitian-penelitian tersebut masih belum dimanfaatkan selain untuk dokumentasi.
Pemetaan terhadap pengobatan tradisional dari berbagai suku dan komunitas di
Indonesia perlu dilakukan untuk menjadi pijakan guna penelitian lanjutan.
Pemetaan terhadap pengobatan tradisional dari berbagai suku dan
komunitas di Indonesia dapat dilakukan melalui telaah pustaka metode systematic
mapping review. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penelitian
penggunaan bahan alam dalam pengobatan tradisional penyakit tidak menular;
mengetahui berbagai bahan alam yang dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional
penyakit tidak menular; dan mengetahui tren penelitian tentang penelusuran
pemanfaatan bahan alam dalam pengobatan tradisional untuk penyakit tidak
menular berbasis suku/komunitas di Indonesia berdasarkan tahun publikasi.
Data diperoleh dari penelusuran literatur mengenai penggunaan bahan alam
pada pengobatan tradisional penyakit tidak menular di Indonesia. Literatur
diperoleh melalui basis data Google Scholar, GARUDA, Neliti, dan PubMed.
Penyaringan literatur berdasarkan judul dan abstrak serta penyaringan naskah
penuh dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria kelayakan yang telah
ditetapkan untuk mendapatkan literatur yang diharapkan.Hasil penelusuran literatur dari basis data Google Scholar, GARUDA,
Neliti, dan PubMed diperoleh total literatur sebanyak 1.293. Pada tahap
penyaringan judul dan abstrak sebanyak 885 literatur dieksklusi. Selanjutnya pada
tahap penyaringan naskah penuh sebanyak 228 literatur dieksklusi sehingga
diperoleh 48 literatur yang memenuhi kriteria kelayakan. Ekstraksi data dilakukan
untuk pengolahan dan analisis data berdasarkan rumusan masalah.
Data menunjukkan penelitian penggunaan bahan alam dalam pengobatan
tradisional penyakit tidak menular telah dilakukan di 40 suku/komunitas di 42
lokasi penelitian dengan rentang tahun 1987-2020. Wilayah yang paling sering
dilakukan penelitian yaitu Sumatera, Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Bahan alam
yang digunakan untuk klaim khasiat penyakit tidak menular sebanyak 851 spesies
tumbuhan dan 13 spesies hewan. Sementara itu, klaim khasiat untuk penyakit tidak
menular sebanyak 171 macam klaim yang termasuk dalam 12 kategori penggunaan.
Awal masa penelitian penggunaan bahan alam untuk pengobatan tradisional
penyakit tidak menular di Indonesia dimulai sejak 1987. Pada kurun waktu yang
bersamaan dengan RISTOJA penelitian di luar RISTOJA dengan topik ini juga
meningkat. Setelah RISTOJA berakhir, pada tahun 2018-2020 publikasi terkait
topik ini semakin banyak. Hal ini menunjukan bahwa adanya RISTOJA tidak
menutup peluang penelitian ini di berbagai daerah di Indonesia, secara langsung
maupun tak langsung meningkatkan minat penelitian dengan topik ini, dan juga
penelitian di luar RISTOJA ikut berkontribusi mendukung penelitian RISTOJA
yang telah ada.
Kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat literatur yang membahas
secara khusus penggunaan bahan alam pada pengobatan tradisional penyakit tidak
menular. Bahan alam yang digunakan dalam pengobatan tradisional penyakit tidak
menular adalah tumbuhan dan hewan. Penelitian mengenai penggunaan bahan alam
untuk pengobatan tradisional belum dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia.
Dengan demikian, penelitian mengenai penggunaan bahan alam untuk pengobatan
tradisional oleh suku/komunitas perlu dilakukan lebih lanjut di seluruh wilayah
Indonesia
Progression in Designing and Fabrication of Minimum Quantity Lubrication (MQL) System with an Arduino Based Controller
Using cutting fluids in machining with petroleum-based creates health hazards issues to the machining operator and environmental problems due to the waste. One effort to reduce it is by applying minimum quantity lubrication (MQL). This research aims to develop an MQL system with an Arduino controlled based on the previous design. The main hardware was changed, i.e., pump, power supply, nozzle, sensor, and temperature setting changed from 70 oC to 150 oC. The fluid consumption was measured in machining with a depth of cut of 2.3 mm and 2.5 mm and cutting liquid composition of 3:7 and 7:3 (water to dromus cutting fluid). The calculation showed that cutting fluid consumption is mostly more than 1000 ml/h, or it has not achieved a maximum of 500 ml/h. However, compared to the previous design, it has reduced up to half of the former scenario. From the tool deterioration perspective, the depth of cut of more than 2.0 mm results in severe tool deterioration in the form of chipping. The higher the depth of cut, the intense the tool deteriorated. For the next design, we should add an air compressor in the MQL system and solenoid(s) to regulate the spraying
Analisis Pemecahan Masalah Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel Berdasarkan Ideal Problem Solving Ditinjau dari Gaya Belajar Visual-Auditorialkinestetik (Vak)
Validasi unggah file repositori_Reva
Finalisasi unggah file repositori tanggal 21 Juni 2022_KurnadiKemampuan pemecahan masalah tidak dapat dipisahkan ketika belajar matematika. Pemecahan masalah bukan sekedar menjadi tujuan belajar matematika tetapi juga merupakan alat untuk belajar matematika. Hasil TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik di Indonesi sangat rendah. Hal ini dapat dijadikan refleksi terhadap pembelajaran matematika yang telah berlangsung di dalam kelas. Peserta didik perlu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah sehingga nantinya dapat bersaing lebih baik di kompetisi internasional. Langkah pemecahan masalah menurut Bransford & Stein disebut dengan IDEAL problem solving yaitu dari I (Identify Problem), D (Define Goals), E (Explore Possible Strategies), A (Anticipate Outcomes and Act), dan L (Look Back and Learn). Terdapat kemungkinan terjadinya perbedaan kemampuan dalam melaksanakan langkah IDEAL problem solving. Kemungkinan ini terjadi karena setiap peserta didik memiliki cara belajar yang berbeda dalam memahami suatu permasalahan. Perbedaan tersebut disebut dengan gaya belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemecahan masalah Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel (SPLTV) berdasarkan IDEAL problem solving ditinjau dari gaya belajar VAK yaitu Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Jember. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket, metode tes, metode wawancara, dan metode think aloud. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 21 April – 7 Mei 2021 di SMA Negeri 2 Jember kelas X MIPA 5 dengan jumlah 35 siswa. Pengambilan subjek penelitian dengan melakukan snowball sampling dari tiap tipe gaya belajar tunggal hingga keseluruhan data dianggap jenuh. Berdasarkan analisis hasil tes, wawancara, dan think aloud, disimpulkan bahwa pemecahan masalah peserta didik tiap tipe gaya belajar berbeda-beda dalam menyelesaikan permasalahan materi Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel berdasarkan IDEAL problem solving. Peserta didik dengan tipe gaya belajar visual cenderung menuliskan informasi yang diketahui dengan membaca soal berkali-kali secara lengkap dan dapat menuliskan permasalahan yang ditanyakan. Selain itu, peserta didik dengan tipe gaya belajar visual cenderung menuliskan 1 startegi dan dapat melaksanakan strategi yang dipilih dengan benar. Peserta didik dengan tipe gaya belajar visual cenderung mengoreksi cara-cara pemecahan masalah yang telah dilakukan, dapat melakukan pembuktian kebenaran jawaban, serta dapat menuliskan kesimpulan. Peserta didik dengan tipe gaya belajar auditorial cenderung menuliskan informasi yang diketahui dengan membaca soal sekilas berkali-kali dan dapat menuliskan permasalahan yang ditanyakan. Selain itu, peserta didik dengan tipe gaya belajar auditorial cenderung menuliskan 1 startegi dan dapat melaksanakan strategi yang dipilih dengan benar. Peserta didik dengan tipe gaya belajar auditorial cenderung mengoreksi cara-cara pemecahan masalah yang telah dilakukan, dapat melakukan pembuktian kebenaran jawaban, serta dapat menuliskan kesimpulan. Peserta didik dengan tipe gaya belajar kinestetik cenderung menuliskan informasi yang diketahui dengan membaca soal sambil mengetukkan sesuatu pada meja dan dapat menuliskan permasalahan yang ditanyakan. Selain itu, peserta didik dengan tipe gaya belajar kinestetik cenderung menuliskan 1 startegi tetapi belum dapat melaksanakan strategi yang dipilih dengan benar. Peserta didik dengan tipe gaya belajar kinestetik mengoreksi cara-cara pemecahan masalah yang telah dilakukan tetapi belum dapat melakukan pembuktian kebenaran jawaban, serta dapat menuliskan kesimpulan.Dra. Dinawati Trapsilasiwi, M.Pd. (Dosen Pembimbing I)
Ervin Oktavianingtyas, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pembimbing II
Perspektif Teori Sirkuit Moneter pada Perilaku Variabel Kebijakan Moneter di Negara Asean Terpilih
Teori sirkuit moneter menjadi pembahasan penting terkait dengan berjalannya sirkulasi aktivitas ekonomi dan peluang implikasi kebijakan di sektor moneter dan keuangan dengan pendekatan pemikiran heterodoks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku variabel kebijakan moneter dengan teori sirkuit moneter di negara ASEAN terpilih (Indonesia, Malaysia dan Filipina) serta mengetahui prognosa terkait penerapan teori sirkuit moneter di negara ASEAN terpilih. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder berupa data runtun waktu dari tahun 1986-2019. Hasil penelitian disampaikan dengan metode deskriptif dan kuantitatif. Metode kuantitatif yang digunakan adalah metode ekonometrika estimasi Ordinary Least Square (OLS). Berdasarkan estimasi OLS diketahui bahwa fenomena sirkuit moneter tidak terjadi di Indonesia. Namun, fenomena teori sirkuit moneter terjadi di Malaysia dan FilipinaPembimbing I : Adhitya Wardhono, S.E., M.Si., M.Sc., Ph.D.
Pembimbing II : M. Abd. Nasir, S.E., M.
Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kapulaga Amomum Compactum Terhadap Tiga Jenis Tanaman Naungan Pada Sistem Agroforestri
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kapulaga (Amomum
compactum) Terhadap Tiga Jenis Tanaman Naungan pada Sistem
Agroforestri; Dika Probo Pangestu; 161510501011; 2021; Program Studi
Agroteknologi; Fakultas Pertanian; Universitas Jember.
Vegetasi hutan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu
pola tanam pada sistem pertanian berkelanjutan. Tanaman yang cocok
dibudidayakan dengan pendekatan agroforestri salah satunya adalah tanaman
kapulaga. Menurut BPS (2018) Tanaman kapulaga yang dibudidayakan di
Indonesia pada tahun 2018 mengalami penurunan luas panen sebesar 857,99
hektar (19,67 %). Hal tersebut menyebabkan terjadinya penurunan produksi yang
dihasilkan kapulaga yaitu sebanyak 9.062.879 kg (9,98 %).Tanaman kapulaga
yang ditanam menggunakan sistem agroforestri menjadi salah satu penunjang dari
produksi kapulaga yang baik, sebab menyediakan tempat tumbuh yang sesuai
dengan karakter tanaman kapulaga. Oleh karena itu dibutuhkan adanya penaung
yang tepat supaya tanaman kapulaga mampu tumbuh dan berproduksi secara
optimal.
Tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah untuk menentukan jenis
penaung yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kapulaga
pada sistem agroforestri. Penelitian dilakukan di Desa Burno, Kecamatan
Senduro, Kabupaten Lumajang. Penelitian ini menggunakan metode diagonal
yang diamati secara deskriptif pada tiga tipe agroforestri kapulaga yaitu kapulaga sengon, kapulaga-campuran dan kapulaga-jabon ,dimana titik pengambilan
sampel lainnya tersebar mengikuti arah angin yang berpusat pada titik tengah.
Data yang didapat akan dianalisis menggunakan korelasi dan regresi dengan
pendekatan korelasi menggunakan uji t-hitung. Variabel yang diamati berupa data
lingkungan meliputi intensitas cahaya, suhu dan kelembaban, serta terdapat data
tanaman berupa tinggi tanaman jumlah daun, jumlah tunas, klorofil daun, jumlah buah kapulaga, diameter buah kapulaga, berat kering buah kapulaga, laju asimilasi
bersih.Ir, Gatot Subroto, MP. (Dosen Pembimbing
Selling-and-Buying Transaction Patterns in a Traditional Market: A Generic Structure Potential Approach
This research aimed to investigate the patterns of selLing-and-buying transactions in a traditional market. The data sources of this research were the the sellers and the buyersin beef, chicken, fruit, grocery, and vegetable shopsof Pasar Waru, a traditional market, in Sidoarjo, Indonesia. The data were in the form of transactional conversations between the sellers and the buyers. Qualitative method was applied in this research by using the formula of generic structure potential theory proposed by Halliday & Hasan (1985) to describe the patterns of buying-and-selling transaction in the market. The result shows that generic structure elements in some shops at Pasar Waru comprises: greeting (G), sale initiation (SI), sale enquiry (SE), sale request (SR), sale compliance (SC), sale (S), purchase (P), purchase closure (PC), and finish (F). The grocery, beef, and chicken shop had a similar structure of G^SR^SC^S^P^PC, whereas the fruit shop showed its actual structure G^SI^SE^SR^SC^S^P^PC. Meanwhile, the vegetable shop had G^SI^SR^SC^S^P^PC structure. As a whole, the five shops produced generic potential structure [(G).^] [{ SR^ SC }^S^] P^PC
Standar Hotel Kapsul Sebagai Tempat Penginapan Sementara dan Perizinannya Di Indonesia
Di Indonesia sebenarnya sudah ada aturan yang membahas mengenai standar
perhotelan yang diatur di Peraturan Menteri Pariwisata Republik indonesia Nomor
12 Tahun 2019 tentag Standar Hotel. Di dalam aturan ini lebih cenderung
membahas standar hotel di indonesia secara keseluruhan (tanpa membedakan tipe).
Peraturan Permen Nomor 12 Tahun 2019 ini juga hanya membahas mengenai
pembagian kelas-kelas dari hotel pada umumnya berupa pembagian kelas hotel
bintang dan non-bintang, padahal di luar dari itu semua masih banyak tipe-tipe hotel
yang berbeda dengan tipe hotel yang di atur di peraturan itu. Salah satu tipe hotel
yang tidak diatur secara lebih rinci adalah tipe hotel kapsul yang keberadaannya
sempat menjadi tren terbaru di lingkup perhotelan di akhir tahun 2017.
Peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia mulai dari Undangundang sampai dengan Peraturan Daerah belum ada aturan yang membahas
mengenai hotel kapsul secara spesifik. Dengan adanya aturan hukum yang masih
ambigu ini mengenai sebuah inofasi baru berupa hotel kapsul, menimbulkan sebuah
pertanyaan besar mengenai cara perizinan dari hotel kapsul supaya memiliki izin
usaha dan memenuhi standar dari aturan-aturan yang ada.
Tujuan dari dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui dan memahami
seperti apa standar dari hotel kapsul di Indonesia yang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan juga tidak lupa perizinan dari hotel kapsul ditujukan agar
dapat menjalankan sebuah usaha jasa akomodasi penginapan yang memiliki izin
yang sah.
Dalam praktiknya di lapangan sebenarnya masih banyak hotel kapsul yang
tidak memenuhi dari aturan perundang-undangan terutama Peraturan Menteri
Kesehatan republik Indonesia Nomor 80/Menkes/Per/II/1990 tentang Persyaratan
Kesehatan Hotel dan juga hotel kapsul dianggap tidak menghiraukan keselamatan
dari konsumen jasa penginapan hotel kapsul. Apalagi tahun 2020 ini di semua negara dihadapkan dengan penularan virus covid 19 yang penularannya dapat
dilakukan melalui kontak langsung maupun tidak dengan batas radius penularan
kurang dari 1 meter. Hal tersebut tentunya sangat berbahaya bagi konsumen jasa
penginapan hotel kapsul yang tiap kamar kapsulnya berdekatan.
Pada akhirnya dari semua permasalahan tersebut, pemerintah haruslah
membuat aturan yang lebih spesifik membahas mengenai hotel kapsul mulai dari
standar hotel kapsul sampai dengan proses perizinannya meiliki aturan yang jelas.
Dari sisi pengusaha akomodasi jasa penginapan hotel kapsul haruslah
memperhatikan hak dan melindungi keselamatan dari konsumen hotel kapsul
dengan cara mebangun hotel kapsul yang seukuran kargo atau memiliki diameter
2X3 meter, sesuai dengan desain hotel kapsul yang pertama kali dibangun di
Jepang.Dosen Pembimbing Utama : Dr. Jayus, S.H, M.Hum.
Dosen Pembimbing Anggota : Dr. Iwan Rachmad Soetijono, S.H, M.H