75643 research outputs found
Sort by
The Association Between Patient Characteristics and Disease Outcomes of COVID-19 in Jember, Indonesia
COVID-19 can cause serious conditions in both comorbid and elderly patients; hence, they need to be given proper follow-up treatment. This study aimed to determine the association between patient characteristics and disease outcomes of COVID-19 in Jember, Indonesia. This research is an analytic observational study with a cross-sectional approach. The sample was 304 patients confirmed positive for COVID-19 at the COVID-19 referral hospitals in Jember. This study used medical record data analyzed using both univariate and bivariate tests. Patient characteristics related to the disease outcomes in patients who were positive for COVID-19 in Jember, are as follows: age (p = 0.000), clinical symptoms (p = 0.017), comorbidities (p = 0.000), and complications (p = 0.000). The unrelated variables were sex (p = 0.455), education level (p = 1.000), domicile (p = 1.000), occupation (p = 0.322), and smoking history (p = 0.147). Patients most at risk of developing fatal outcomes are those with complications. Patient characteristics associated with the disease outcomes in patients positive for COVID-19 were age, clinical symptoms, comorbidities, and complications. While, those that were not related to the disease outcomes in patients were sex, education level, occupation, domicile, and smoking history
The Role Of Peer Group Education In Improving Basic Life Support (Bls) Abilities Of Farmersin Lumajang
Pengurangan risiko kegawatdaruratan terpadu petani berbasis agricultural nursing sangat diperlukan
dengan peningkatan kemampuan petani. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan
bantuan hidup dasar (BHD) pada petanidenganpendekatan peer groupeducation di Kabupaten
Lumajang.Desain pada penelitian ini adalah quasy-experimental dengan rancangan pre and post
testgroup design pada 209 responden. Analisis bivariate dalam penelitian ini menggunkan uji Wilcoxon
untuk mengetahui pengaruhkemampuan BHD sebelum dan sesudahdiberikan peer groupeducation.
Responden mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 168 orang (80,4%) denganusia produktif
35-50 94 orang (45%) dan tingkat pendidikan SMA 84 orang (41%).Sebelum dilakukan pendampingan
sebesar 72% dalam kategori kurang meningkat menjadi 56% memiliki kemamuan baik setelah diberikan
pendampingan tentang BHD. Penerapan pendekatan peer group education diharapkan mampu
meningkatkan keselamatan di area pertanian dan meminimalkan bahan bahaya di lingkungan kerja
pertanian. Untuk meningkatkan kemampuan petani tentang bantuan hidup dasar, tidak hanya dengan
metode pelatihan saja, tetapi dapat diperoleh dari media elektronik maupun media cetak mengenai
aplikasi tentang bantuan hidup dasar
Analisis Pengaruh Ukuran Bahan terhadap Emisi Spontan Fotodioda Galium Arsenida Tipe P-I-N Junction
Perkembangan penelitian mengenai perangkat optoelektronika banyak dilakukan. Salah satu perangkat yang banyak diteliti adalah fotodioda. Fotodioda adalah sensor cahaya semikonduktor yang mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Hal ini dapat terjadi ketika cahaya mengenai permukaan fotodioda mengakibatkan elektron tereksitasi dan menimbulkan hole (lubang) yang bermuatan positif. Elektron akan tertarik ke sumber tegangan positif dan hole tertarik ke sumber tegangan negatif, sehingga arus listrik dapat mengalir dalam sebuah rangkaian. Besarnya jumlah pasangan elektron-hole berbanding lurus dengan besar intensitas yang didapatkan fotodioda. Fotodioda dapat menghantarkan arus listrik ketika dikenai cahaya (foton). Partikel dapat berinteraksi dengan cahaya (foton) melalui cara mengabsorpsi atau mengemisikan foton. Emisi cahaya dapat terjadi secara spontan atau terstimulasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi ukuran bahan fotodioda terhadap emisi spontan yang terjadi pada fotodioda tersebut. Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah bahan semikonduktor galium arsenida (GaAs).
Penelitian ini dilakukan secara simulasi menggunakan aplikasi Comsol Multiphysic 5.2a. Tahapan simulasi yang dilakukan adalah pertama-tama masukkan parameter input yang telah didapat dari beberapa referensi, langkah kedua adalah membentuk geometri fotodioda dalam bidang 2D, ketiga melakukan pengaturan kondisi batas menggunakan metode doping analitik dan geometri, langkah keempat yaitu menambahkan jenis bahan dan pembuatan mesh, kelima menyelesaikan permasalahan menggunakan persamaan Poisson dan Kontinuitas, langkah keenam mengatur nilai variasi ukuran bahan dan yang terakhir membuat kurva emisi spontan. Variasi ukuran bahan fotodioda yang divariasikan meliputi tebal dan lebar devais. Tebal devais divariasikan dari 0,5�m sampai 1�m. Lebar devais divariasikan dari 1�m sampai 5�m.
Hasil simulasi yang dilakukan menghasilkan kurva emisi spontan. Kurva
tersebut menyatakan hubungan antara energi foton terhambur dan daya emisi spontan. Pada variasi tebal devais fotodioda antara 0,5�m sampai 1�m, didapatkan hasil bahwa pada ketebalan devais paling kecil nilai emisi spontan maksimum yang didapatkan adalah yang paling besar. Hal ini dinyatakan melalui variasi tebal devais terkecil 0,5�m didapatkan emisi spontan maksimum sebesar 2,47 × 1026(m-3s-1) pada energi foton terhambur 1,440eV. Pada variasi lebar devais fotodioda antara 1�m sampai 5�m, didapatkan hasil bahwa pada lebar devais paling kecil nilai emisi spontan maksimum yang didapatkan adalah yang paling besar. Hal ini dinyatakan melalui variasi lebar devais terkecil 1�m didapatkan emisi spontan maksimum sebesar 1,11 × 1019 (m-3s-1) pada energi foton terhambur 1,441eV. Kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian ini adalah pada tebal dan lebar devais paling kecil, memiliki nilai emisi spontan maksimum terbesar yang dihasilkan
Pelanggaran Maksim Kerja Sama, Kesopanan, Serta Penggunaan Daya Ironi dan Kelakar pada Video Humor Pak Ndul di YouTube (Kajian Pragmatik)
Validasi unggah file repositori_Kacung
Finalisasi unggah file repositori tanggal 21 April 2022_KurnadiPenelitian ini dilatarbelakangi akibat ditemukannya tuturan humor pada
video Pak Ndul di YouTube. Berdasarkan pengamatan sementara, tuturan humor
Pak Ndul tercipta akibat tuturan pelanggaran maksim kerjasama dan kesopanan
serta tuturan daya ironi dan kelakar.
Video humor Pak Ndul di YouTube sangat menarik untuk diteliti. Hal
tersebut didasari beberapa alasan. Pertama, video humor Pak Ndul merupakan
fenomena baru dalam dunia humor khususnya di Indonesia. Kedua, penggunaan
topik yang sedang ramai dibicarakan oleh masyarakat pada video humor Pak Ndul
menjadi sebuah strategi untuk menarik perhatian penonton. Ketiga, berdasarkan
jumlah subscriber, viewer, dan likes menjadi penanda bahwa video humor Pak
Ndul sangat diminati oleh masyarakat.
Berdasarkan latar belakang tersebut, ditentukan rumusan masalah dalam
penelitian ini (1) Bagaimana bentuk pelanggaran maksim kerja sama dan maksim
kesopanan pada video humor Pak Ndul di YouTube?; (2)Bagaimana bentuk
tuturan ironi dan kelakar pada video humor Pak Ndul di YouTube?
Metode dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Data dalam
penelitian ini berupa data tuturan Pak Ndul yang dihasilkan melalui teknik dasar
simak dan teknik lanjut simak bebas libat cakap. Penyimakan dilakukan dengan
cara melakukan pengamatan terhadap sembilan sumber data berupa video yang
telah diunduh dari media sosial YouTube. Kemudian, data yang diinginkan dalam
penelitian ini didokumentasikan menggunakan teknik catat untuk metranskrip
tuturan menjadi beberapa penggalan dialog. Selain penggalan dialog, pencatatan
konteks tuturan, kode sumber data, serta waktu durasi terjadinya tuturan dilakukan
pada tahap ini. Pada tahap analisis data, peneliti melakukan klasifikasi terhadap
data berdasarkan jenis tuturan pelanggaran maksim kerja sama dan kesopananDosen Pembimbing utama : Prof. Dr. Bambang Wibisono, M.Pd.
Dosen Pembimbing anggota : Didik Suharijadi, S.S,. M.
Optimasi Tween dan Polietilen Glikol Dalam Nanokrim Asam Kojat Dipalmitat Dengan Virgin Coconut Oil Sebagai Fase Minyak
Asam Kojat Dipalmitat atau kojic acid dipalmitate merupakan senyawa
sintetik turunan dari asam kojat. Asam kojat dipalmitat merupakan agen penghambat
enzim tirosinase berfungsi dalam sintesis melanin yang dapat mencerahkan kulit.
Rentang konsentrasi asam kojat dipalmitat sebagai pencerah kulit adalah 0,4% - 4%.
Asam kojat dipalmitat bekerja pada stratum basal sehingga perlu menembus stratum
korneum yang merupakan hambatan utama sediaan topikal. Asam kojat dipalmitat
memiliki berat molekul yang besar yaitu 618,9 g/mol. Berdasarkan mekanisme kerja
dan berat molekul asam kojat dipalmitat diperlukan pengembangan sediaan topikal
sistem nano untuk meningkatkan penetrasi. Salah satu inovasi pengembangan sediaan
topikal adalah nanokrim.
Nanokrim merupakan bentuk sediaan yang berbasis nanoemulsi berbentuk
setengah padat yang digunakan secara topikal yang memiliki ukuran diameter droplet
20-500 nm. Nanokrim memiliki kelebihan yaitu dapat meningkatakan efektivitas dan
penetrasi zat aktif yang lebih baik dengan efek samping lebih kecil. Komponen dalam
sediaan nanokrim adalah surfaktan, kosurfaktan, fase minyak, dan fase air. Surfaktan
dan kosurfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan muka antara dua komponen
yang tidak saling campur yakni fase air dan fase minyak. Surfaktan dan kosurfaktan
yang terpilih dalam penelitian ini yaitu tween 80 dan PEG 400. Tween 80 bersifat
non-ionik, tidak toksik, dan memiliki nilai HLB tinggi. PEG 400 membantu
menurunkan tegangan muka lebih maksimal sehingga dapat diperoleh nanokrim yang
stabil. Fase minyak yang terpilih adalah virgin coconut oil karena mampu melarutkan bahan aktif, tidak mengiritasi, dan pada sediaan kosmetik virgin coconut oil mampu
melembabkan kulit.
Tujuan penelitian ini untuk mengoptimasi pengaruh tween 80 dan PEG 400
dalam formulasi sediaan nanokrim asam kojat dipalmitat serta responnya terhadap
transmitan, daya sebar, dan viskositas. Penelitian ini menggunakan metode simplex
lattice design yang akan menghasilkan formula optimum dan selanjutnya dilakukan
uji verifikasi dan karakterisasi yang meliputi organoleptis, pH, stabilitas, tipe
nanokrim, ukuran partikel, distribusi partikel, dan zeta potensial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tween 80 dan PEG 400
mampu meningkatkan nilai transmitan, daya sebar, dan viskositas, serta tidak ada
pengaruh interaksi antara tween 80 dan PEG 400 terhadap nilai transmitan,
viskositas, dan daya sebar. Tween 80 memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap
nilai transmitan dan viskositas dibandingan dengan PEG 400. PEG 400 memiliki
pengaruh lebih besar terhadap nilai daya sebar dibandingkan Tween 80. Formula
optimum nanokrim asam kojat dipalmitat mempunyai komposisi tween 80 dan PEG
400 dengan jumlah 35,4% dan 4,6% dengan prediksi nilai transmitan 99,044%, daya
sebar 5,9 cm dan viskositas 377,322 dPa.s. Formula optimum nanokrim asam kojat
dipalmitat memiliki karakterisasi dengan tampilan yang berwarna putih susu,
berbentuk emulsi kental, dan aroma khas minyak kelapa; memiliki nilai pH
5,22±0,0103; tipe nanokrim menunjukkan minyak dalam air; ukuran partikel sebesar
227,4 nm; distribusi ukuran partikel sebesar 0,115; potensial zeta -35,5 mV dan uji
stabilitas formula optimum nanokrim asam kojat dipalmitat stabil secara fisik, tidak
mengalami pemisahan fase, cracking,dan creamingDosen Pembimbing Utama : apt. Viddy Agustian Rosyidi S.Farm.,M.Sc.
Dosen Pembimbing Anggota : Dr. apt. Yudi Wicaksono,S.Si.,M.S
Pertimbangan Hakim Menjatuhkan Pidana Tambahan Kebiri Kimia dalam Tindak Pidana Perkosaan Anak
Kasus tindak pidana perkosaan anak pada 25 April 2019, Pengadilan Negeri Mojokerto menjatuhkan Putusan Nomor: 69/Pid. Sus/2019/Pn. Mjk yang memuat adanya sanksi pidana tambahan kebiri kimia terhadap Terpidana Muhammad Aris bin Syukur yang telah melakukan pemaksaan persetubuhan terhadap anak berusia 5 (lima) tahun 8 (delapan) bulan. Putusan tersebut menjadi putusan pertama di Indonesia yang menjatuhkan sanksi pidana tambahan kebiri kimia dan menjadi pro kontra dalam isu hukum pidana di Indonesia secara meluas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kasus perkara pada putusan tersebut, memberikan pemberatan vonis putusan yang sejatinya tidak seharusnya dijatuhkan kepada terdakwa. Cukup banyak fakta-fakta hukum yang peneliti temukan untuk memperkuat argumentasi hukum berkaitan hal tersebut, antara lain bahwasanya diketahui pada awalnya dakwaan Jaksa penuntut umum memberikan tuntutannya terhadap terdakwa atas tindak pidana perkosaan anak dengan 1 (satu) korban saja dan tanpa ada dakwaan atas hukuman tambahan kebiri kimia. Namun Majelis Hakim dalam putusannya, memberikan hukuman melebihi dakwaan penuntut umum yakni terdapat hukuman tambahan berupa kebiri kimia kepada terdakwa. Mencermati fakta hukum pada pelaksanaan proses pembuktian dan pemeriksaan alat bukti di persidangan, diketahui bahwa Majelis Hakim dalam dasar pertimbangannya memberikan hukuman tambahan kebiri kimia terhadap terdakwa tersebut hanya berdasarkan atas keterangan terdakwa saja yang menyebutkan telah melakukan perbuatannya atas 9 (sembilan) korban anak yang berbeda-beda. Namun keterangan terdakwa tersebut diketahui tidak ditindak lanjuti oleh majelis hakim untuk setidaknya mencari dan menggali kebenaran materiil sebagaimana ketentutan dan aturan Hukum Acara Pidana yang berlaku. Pada kesesuaiannya putusan Majelis Hakim dengan syarat pemidanaan hukuman kebiri kimia juga ditemukan yang berlawanan dan tidak sesuai, sehingga tentu dasar pemberatan putusan tersebut dapat dikatakan kurang tepat dijatuhkan kepada terdakwa.Dr. Fanny Tanuwijaya, S.H., M.Hum ( Dosen Pembimbing Utama)
Halif, S.H., M.H. (Dosen Pembimbing Anggota
Pola Penggunaan Obat Pada Pasien Osteoartritis Lutut DI Rumah Sakit Bina Sehat Jember
Osteoartritis adalah penyakit degeneratif yang ditandai dengan kerusakan
pada tulang rawan sendi yang bersifat progresif dan merupakan gangguan sendi
yang paling umum. Osteoartritis dapat memengaruhi lutut, pinggul, tangan, tulang
belakang, dan kaki. Berdasarkan data nasional dari Badan Penelitian dan
Pengembangan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dalam Riset Kesehatan
Dasar pada tahun 2013, prevalensi penyakit osteoartritis di Indonesia adalah 24,7%.
Prevalensi osteoartritis akan terus meningkat dan berlanjut seiring pertambahan
populasi dan usia. Kasus osteoartritis lutut lebih sering terjadi daripada osteoartritis
jenis lainnya. Tingginya angka prevalensi osteoartritis akan berimplikasi pada
tingginya regimen pengobatan yang diberikan kepada pasien. Penggunaan obat
yang tidak rasional dapat mengakibatkan drug related problems (DRPs). Drug
related problems berhubungan dengan pola pemilihan obat, ketidaksesuaian dosis
obat, durasi penggunaan obat, banyak obat yang diresepkan, kombinasi obat yang
tidak tepat, dan perilaku penggunaan obat pada pasien. Semakin banyaknya
regimen pengobatan yang diberikan, maka efek samping dan kemungkinan
interaksi obat yang terjadi akan cukup tinggi.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Penelitian ini dilakukan di
Rumah Sakit Bina Sehat Jember. Sampel pada penelitian ini adalah pasien
osteoartritis lutut di Poli Penyakit Dalam, Poli Ortopedi, dan Poli Saraf Rumah
Sakit Bina Sehat Kabupaten Jember yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling.
Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien
periode Januari 2020 - April 2021.
Hasil penelitian dengan total 97 sampel ini menunjukkan terdapat
peggunaan terapi kombinasi dan monoterapi pada pasien osteoartritis lutut di Poli
Penyakit Dalam, Poli Ortopedi, dan Poli Saraf Rumah Sakit Bina Sehat Kabupaten
Jember. Golongan obat yang diberikan pada pasien osteoartritis lutut di Rumah
Sakit Bina Sehat Jember dalam penelitian ini mulai dari obat anti inflamasi
nonsteroid (OAINS), symptomatic slow acting drugs for osteoarthritis
(SYSADOA), asetaminofen, analog gamma-aminobutyric acid (GABA), hingga
analog vitamin D dengan rute pemberian secara per oral. Golongan obat yang paling
banyak digunakan adalah OAINS. Sebanyak 3 pasien osteoartritis lutut berpotensi
untuk mengalami kejadian drug related problems dengan kategori interaksi obat.dr. Desie Dwi Wisudanti, M. Biomed. (Dosen Pembimbing)
dr. Muhammad Ali Shodikin, M. Kes., Sp. A (Dosen Pembimbing
Pengembangan Taman Wisata Alam Kawah Ijen Berbasis Ekowisata Di Kabupaten Banyuwangi
Taman wisata alam merupakan salah satu kawasan yang dapat
dimanfaatkan untuk melestarikan kawasan hutan dan pembentukan pariwisata
berbasis alam. Keberagaman serta keunikan flora dan fauna yang dimiliki di taman
wisata alam berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan wisata serta pendidikan,
dengan potensi yang dimilikinya taman wisata alam dapat menarik para wisatawan
untuk berkunjung serta mempelajari mengenai lingkungan beserta pelestariannya.
Taman wisata alam Kawah Ijen merupakan salah satu kawasan yang memiliki
berbagai macam flora dan fauna yang beragam akan tetapi selama beberapa tahun
terakhir seringkali terjadi kebakaran hutan yang salah satunya disebakan oleh
pembukaan lahan dengan cara dibakar, pembakaran tersebut tidak dapat terkontrol
sehingga membakar kawasan TWA Kawah Ijen secara besar-besaran. Taman
wisata alam Kawah Ijen sangat luas yakni mencapai 306,12 hektar, agar terjadi
keseimbangan antara pemanfaatan kawasan menjadi tempat pariwisata dan tempat
pelestarian alam, perlu adanya pengembangan mengenai kedua hal tersebut agar
tidak terjadi eksploitasi hutan secara berlebihan. Permasalahan lain di TWA Kawah
Ijen yakni masih minimnya sumber daya manusia yang memanfaatkan kawasan
wisata alam TWA Kawah Ijen. Umumya masyarakat hanya bekerja sebagai
penambang belerang sehingga perlu adanya pengembangan pariwisata baik dari
pemerintah maupun pengelola Kawah Ijen untuk meningkatkan SDM di kawasan
tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model
pengembangan ekowisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendeskripsikan
“Pengembangan Taman Wisata Alam Kawah Ijen berbasis ekowisata di Kabupaten
Banyuwangi”. Tempat penelitian dipilih dengan metode purposive area. Subjek
penelitian yaitu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur
ix
Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi selaku pengelola TWA Kawah Ijen.
Informasi mengenai kajian penelitian didapat melalui data primer dan data
sekunder. Metode pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi
partisipan serta dokumen. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan
analisis data menurut Burhan Bungin yaitu (reduksi data, display data dan penarikan
kesimpulan).
Hasil penelitian menjelaskan bahwa Pengembangan Ekowisata yang
dilakukan di TWA Kawah Ijen dibagai menjadi 2 aspek yaitu: (1) Konservasi
sumber daya alam, Pengembangan taman wisata alam Kawah Ijen melalui
konservasi sumber daya alam dilakukan dengan pembentukan blok konservasi yang
terdiri dari 3 blok yakni blok perlindungan, blok pemanfaatan dan blok publik. Blok
perlindungan memiliki fungsi untuk menjaga kelestarian flora dan fauna serta untuk
kepentingan pendidikan, sementara blok pemanfaatan berfungsi sebagai kawasan
wisata dan dimanfaatkan sebagai tempat membuka usaha seperti warung makan
oleh masyarakat sekitar TWA Kawah Ijen. Blok terkahir yaitu blok publik
berfungsi sebagai tempat membuka usaha bagi pihak swasta dan dimanfaatkan oleh
masyarakat sebagai tempat pengelohan belerang. (2) Kesadaran lingkungan hidup,
pengembangan melalui kesadaran lingkungan hidup dilakukan dengan melakukan
gerakan lingkungan hidup diantaranya kegiatan Ijen rijik, pemulihan ekosistem
serta sosialisasi dan edukasi mengenai lingkungan. Dengan dilakukannya kegiatan kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan juga pengunjung
mengenai pentingnya menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan. Hasil
penelitian juga menjelaskan bahwa di TWA Kawah Ijen dilakukan pengelolaan
pengembangan pariwisata yang melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya.
Masyarakat dilibatkan dengan dijadikan sebagai pelaku pariwisata diantaranya
menjadi tour guide, penyedia jasa troli, pedagang asongan dan pemilik warung.
Pengembangan taman wisata alam Kawah Ijen memberikan dampak yang positif
yaitu keberagaman flora dan fauna yang tersebar di kawasan TWA Kawah Ijen
terjaga kelestariannya dan berkurangnya sampah di dalam kawasan TWA Kawah
Ijen. Dampak lain dari pengembangan tersebut yakni terbukanya lapangan
pekerjaan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitarDr. Sukidin, M.Pd (Dosen Pembimbing)
Wiwin Hartanto, S.Pd., M.Pd (Dosen Pembimbing
Evaluasi Prediksi Konsumsi Gas Bumi Menggunakan Artificial Neural Network (Ann)
The national energy demand, especially the oil and gas sector, is increasing in line with the
increasing population and the condition of national economic growth which continues move
positively. The increase of energy demand is on average more than 5% per year for this decade.
Meanwhile, the condition of national oil and gas reserves and production sector continues to
decline every year. This has resulted in Indonesia becoming a net importer of oil and gas. Domestic
demand for natural gas increases every year, while on the other hand Indonesia still has
commitments to sell natural gas abroad, pipeline gas and LNG. For this reason, a more accurate
prediction of natural gas in Indonesia will be very helpful for policy makers so that policies taken
are right on target so that natural gas which should be consumed domestically is not exported
abroad. One of the good prediction methods is using artificial neural network (ANN). In this study,
the input data used are economic growth, population, and gas prices, while the output data is
natural gas consumption. This study uses five ANN architectural models that are formed. From
the simulation results, the best accuracy is model 1 with an accuracy of 96.89%
Isolasi Fungi Tanah Desa Kema Satu Lokasi Tiga Minahasa Utara dan Skrining Aktivitas Antibakteri Terhadap Pseudomonas Aeruginosa
Penyakit infeksi merupakan salah satu penyebab utama masalah di masyarakat
baik dari sudut morbiditas dan mortalitas sepanjang sejarah manusia. Penyakit
infeksi disebabkan oleh organisme patogen, seperti bakteri, virus, fungi, prion,
cacing, atau parasit lainnya. Pengobatan yang tepat untuk penyakit infeksi karena
bakteri adalah antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat
mengarahkan kepada resistensi antibiotik. Salah satu bakteri yang mengalami
resistensi antibiotik adalah Pseudomonas aeruginosa. Diperlukan suatu tindakan
yang dapat menekan terjadinya kasus resistensi antibiotik terhadap Pseudomonas
aeruginosa. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah menemukan agen
antibakteri baru yang potensial dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Pseudomonas aeruginosa yang masih sensitif.
Sumber baru yang dapat dimanfaatkan sebagai agen antibakteri adalah fungi
tanah muara. Ekosistem hutan bakau yang terdapat di tanah muara memiliki
kondisi ekstrem bagi fungi untuk tumbuh, seperti salinitas tinggi, pasang surut
ekstrem, kecepatan angin tinggi, suhu tinggi, dan tanah liat anaerobik. Kondisi
tersebut membuat fungi menghasilkan metabolit bioaktif sebagai bentuk adaptasi
dan pertahanan kimiawi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri dari fungi tanah muara
dalam menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa. Tanah muara
yang digunakan pada penelitian ini diambil dari Desa Kema Satu lokasi tiga,
Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.
Pengambilan sampel tanah muara dilakukan atas kerja sama dengan peneliti
dari politeknik Perikanan dan Kelautan Bitung, Bapak Saeful A. Tauladani.
Sampel tanah yang diberi kode nama BTG-9 ini kemudian dibiakkan dalam media PDA dan diisolasi. Hasil isolasi yang didapatkan selanjutnya dilakukan uji kontak
langsung sebagai skrining awal untuk melihat potensinya dalam menghambat
pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa. Hasil uji kontak langsung menunjukkan
enam isolat tunggal fungi tanah muara yang berpotensi dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa, yaitu IS1-BTG-9.1, IS2-BTG9.2.1, IS2-BTG-9.2.2, IS2-BTG-9.3.2, IS3-BTG-9.3.3.1, dan IS3-BTG-9.3.3.2.
Berdasarkan hasil identifikasi makroskopis dan mikroskopis, enam isolat tunggal
fungi tanah muara tersebut merupakan fungi tanah jenis khamir. Enam isolat
tunggal fungi tanah muara kemudian dilakukan fermentasi selama 14 hari lalu
diekstraksi dengan menggunakan pelarut etil asetat. Setelah didapatkan ekstrak
etil asetat fungi tanah muara dari hasil fermentasi dilakukan skrining kandungan
senyawa alkaloid, terpenoid dan fenolat serta uji aktivitas antibakteri.
Dari hasil skrining kandungan senyawa dengan metode Kromatografi Lapis
Tipis (KLT) menunjukkan ekstrak etil asetat fungi tanah muara dengan kode
nama IS1-BTG-9.1, IS2-BTG-9.2.1, IS2-BTG-9.2.2, IS2-BTG-9.3.2, IS3-BTG9.3.3.1, dan IS3-BTG-9.3.3.2 mengandung senyawa terpenoid. Uji aktivitas
antibakteri dilakukan dengan menggunakan konsentrasi tunggal yaitu 100 µg/L
dan mengacu pada satandar CLSI M07-A9. Kontrol positif yang digunakan yaitu
gentamisin konsentrasi 1µg/L dan kontrol negatif yaitu DMSO konsentrasi 1%.
Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa dilaporkan dalam
nilai persen penghambatan. Hasil uji ini menunjukkan enam ekstrak etil asetat
fungi tanah muara dapat menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa
dengan nilai persen penghambatan masing-masing kode nama, yaitu IS1-BTG-9.1
sebesar 51,2% ± 1,5% , IS2-BTG-9.2.1 sebesar 46,2% ± 5,0%, IS2-BTG-9.2.2
sebesar 49,5% ± 3,7%, IS2-BTG-9.3.2 sebesar 48,8% ± 2,0%, IS3-BTG-9.3.3.1
sebesar 47,7% ± 3%, dan IS3-BTG-9.3.3.2 sebesar 49,4% ± 4,5%Dosen Pembimbing Utama : apt. Ari S. Nugraha, S.F., GDipSc., M.Sc-Res., Ph.D.
Dosen Pembimbing Anggota : apt. Dwi Koko Pratoko, S.Farm., M.Sc