75643 research outputs found
Sort by
Analisis Strategi Mitigasi Risiko pada Implementasi Supply Chain Management PT. Mitratani Dua Tujuh Menggunakan Model House of Risk (HOR)
PT. Mitratani Dua Tujuh merupakan perusahaan agroindustri yang bergerak pada bidang produksi sayuran beku khususnya edamame. Secara garis besar terdapat 4 proses utama pada rantai pasok PT. Mitratani Dua Tujuh yaitu budidaya, pengadaan bahan penunjang, pengolahan, serta pengiriman. Dalam pelaksanaannya, PT. Mitratani Dua Tujuh juga mengalami berbagai masalah dalam rantai pasoknya. Tantangan terbesar yang dialami PT. Mitratani Dua Tujuh yaitu ketidakpastian cuaca dan order. Ketidakpastian cuaca seperti tingkat kelembaban yang tinggi dapat memengaruhi hasil panen karena menyebabkan munculnya dark spot pada edamame yang dapat menurunkan kualitas. Sedangkan ketidakpastian order memiliki dampak yang besar bagi rantai pasok PT. Mitratani Dua Tujuh hingga ke hulu. Permasalahan-permasalahan pada agroindustri tersebut seringkali tidak dapat diprediksi secara tepat oleh perusahaan karena sifatnya yang tidak pasti. Untuk mengurangi berbagai kerugian yang muncul pada jaringan rantai pasok agroindustri diperlukan sebuah manajemen risiko. Terdapat beberapa tahap dalam manajemen risiko antara lain, identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi risiko, dan evaluasi risiko. Identifikasi risiko dilakukan untuk mengetahui kejadian yang dapat menyebabkan kerugian dan juga agen atau penyebab terjadinya risiko. Penilaian risiko dilakukan untuk mendeskripsikan dan mengkuantifikasi risiko. Mitigasi risiko merupakan proses merespon risiko yang telah dinilai sedangkan evaluasi risiko dilakukan untuk menilai efektivitas mitigasi risiko yang telah diterapkan. Pujawan dan Geraldin telah mengembangkan model khusus untuk pengelolaan risiko rantai pasok yang disebut House Of Risk (HOR). Model House of Risk berfokus pada pencegahan dengan mengurangi kemungkinan terjadinya agen risiko, dengan mengurangi agen risiko maka dapat mencegah terjadinya suatu risiko. Pada House of Risk fase 1 ditemukan sebanyak 32 kejadian risiko dan 38 agen risiko. Sedangkan pada HOR fase 2 ditemukan sebanyak 16 agen risiko yang menjadi prioritas mitigasi kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi strategi mitigasi yang dapat diterapkan. Pada penilaian House of Risk fase 2 menghasilkan 8 strategi prioritas mitigasi yaitu komunikasi intens, menentukan batas minimum stok aman bahan penunjang, memberikan margin of error terhadap setiap perencanaan produksi, menyediakan sistem informasi yang terkoordinasi dan tersinkronisasi , memberi batas waktu maksimal perubahan order kepada customer, diperlukan maintenance dan penggantian spare part secara berkala, menyediakan spare part cadangan untuk spare part tertentu yang sering rusak, dan menyediakan spare time untuk menyelesaikan tanggungan produksi yang terbengkalai saat mesin rusak atau saat listrik padam.Windi Eka Yulia Retnani S.Kom., MT (Dosen Pembimbing I)
Beny Prasetyo S.Kom., M.Kom (Dosen Pembimbing II
Marketplace’s Perceived Ease of Use, Harga dan Promosi Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Perceived Ease of Use, Harga dan
Promosi terhadap Minat Beli Ulang konsumen di Tokopedia. Teknik pengambilan
sampel adalah purposive sampling merupakan teknik pengumpulan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 120 responden. Jenis
data menggunakan data kualitatif melalui berbagai macam teknik pengumpulan data
serta data kuantitatif dimana data yang berbentuk angka atau bilangan. Sumber data
yang digunakan menggunakan kuesioner dan yang bertujuan untuk menunjang
penelitian ini. Metode analisis data menggunakan metode analisis regresi linier
berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa Perceived Ease Of Use, Harga dan
Promosi berpengaruh terhadap terhadap minat beli ulang konsumen
Kerawanan Bencana Longsor Berbasis Sistem Informasi Geografis Sebagai Acuan Mitigasi Bencana di Kecamatan Panti
Curah hujan menjadi salah satu penyebab terjadinya tanah longsor saat hujan terjadi maka akan ada presipitasi oleh tanah yang akan menyebabkan tingkat ke jenuhan pada tanah yang menjadikan kondisi tanah menjadi labil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi bencana alam khususnya longsor sehingga diharapkan ada persiapan ketika bencana terjadi, Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survey yang dilakukan untuk mengukur data primer, sampel yang diambil sebanyak 10 titik sampel yang di ambil dengan mempertimbangkan jarak pemukiman dengan lereng. Analisis data yang di gunakan berupa pembuatan peta dengan metode weighted overlay dan dipaparkan secara deskriptif. Penyusunan strategi untuk mengurangi dampak bencana longsor dan melakukan skema-sekema penanggulangan bencana yang di lakukan menggunakan hasil analisis SWOT yang di pengaruhi oleh dua factor eksternal dan factor internal. Hasil analisis menunjukan lereng atas dan lereng tengah dari pembagian tiga zonasi kerawanan memiliki tingkat kerawanan tinggi hingga sangat tinggi dengan erosi parit yang berada di lereng atas yang memicu run off danpenjenuhan horizon tanah oleh air. Hasil dari analisis SWOT yaitu menyiapkan ruang evakuasi bencana yang memadai dan mudah di akses oleh masyarakat yang berada di lereng bawah dari pembagian zonasi (SO), pemerintah perlu membuat kebijakan untuk melarang pembangunan pada kawasan rawan (WO), melakukan edukasi berupa penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat terkait kebencanaan dan kesadaran akan pentingnya kesiapan menhadapi bencana untuk memperkuat pengetahuan kebencanaan masyrakat (ST).Dosen Pembimbing Utama : Prof. Dr. Sri Astutik, M.Si
Dosen Pembimbing Anggota : Fahmi Arif Kurnianto, S.Pd., M.P
Analisis Faktor Penerimaan Pengguna pada Aplikasi Mobile KAI Access Menggunakan Metode Unified Technology of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)
Finalisasi unggah file repositori tanggal 13 April 2022_KurnadiKAI Access merupakan sebuah aplikasi berbasis mobile yang dirilis oleh PT. Kereta Api Indonesia. Adapun berbagai fitur yang bisa diakses dari aplikasi ini diantaranya pemesanan tiket, melihat jadwal keberangkatan kereta api maupun ketersediaan tiket kereta api. Aplikasi KAI Access dibuat dengan tujuan agar memudahkan masyarakat dalam melakukan pembelian tiket kereta api secara online. Berdasarkan penilaian pada Google Playstore, aplikasi telah mendapatkan nilai rating yang cukup baik, namun nilai rating tidak dapat menunjukkan kekurangan apa saja yang masih dialami dalam implementasi aplikasi tersebut. Oleh karena itu, untuk mengetahui kekurangan apa saja yang masih dialami pada implementasi aplikasi KAI Access, maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap penerimaan pengguna Aplikasi KAI Access berdasarkan variabel yang terdapat pada model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Diharapkan dengan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengarui penerimaan penggunan, maka pihak PT. KAI dapat melakukan beberapa perbaikan untuk memaksimalkan penggunaan dari berbagai fitur pada Aplikasi tersebut. Jika tidak dilakukan perbaikan ada kemungkinan minat pengguna untuk menggunakan aplikasi tersebut akan berkurang sehingga tujuan awal dari penggunaan aplikasi tidak tercapai dengan baik. Penelitian ini Penelitian melibatkan sejumlah 349 responden sebagai sampel dari populasi pengguna aplikasi KAI Access. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan SMARTPLS. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi evaluasi bagi pihak untuk pengembangan aplikasi di masa yang akan datang guna meningkatkan penggunaan aplikasi.Windi Eka Yulia Retnani, S.Kom., M.T. (Dosen Pembimbing I)
Januar Adi Putra, S.Kom., M.Kom (Dosen Pembimbing II
The Correlation between Tuberculous Lymphadenitis and Nutritional Status in Children
Tuberculous lymphadenitis may cause weight loss and lead to malnutrition in children.
This study analyzes the correlation between tuberculous lymphadenitis and nutritional
status in children. It was an analytic observational study with a cross-sectional design.
The population was pediatric patients under 18 years old with lymphadenitis, outpatient
and inpatient admitted from January 2018 to December 2020 in dr. Soebandi public
hospital, Jember, Indonesia. The samples were 76 respondents with total sampling.
There were 52 tuberculosis lymphadenitis patients in the case group, while 24 were nontuberculosis in the control group. The body weight data was from the medical record
when the first diagnosis of lymphadenitis. Instruments were weight-for-age z-score
curves (WHO, 2007) for under 60 months old children, while CDC Growth Charts 2000
for more than five-year-old children. Then, data analysis used the Chi-square test.
Mostly, tuberculous lymphadenitis patients were girls (65.4%), 12-17 years old (67.3%),
not underweight (61.5%), and lived in rural areas (73%). Furthermore, all of them were
given isoniazid, rifampicin, and pyrazinamide. In addition, 100% of them had successful
treatment. Meanwhile, most of the non-tuberculous lymphadenitis patients were boys
(54.2%), 6-11 years old (58.3%), lived in the rural areas (79%), and were not
underweight (66.7%). Treatment of the non-tuberculous lymphadenitis group consisted
of antibiotics, analgesics, vitamins, and symptomatic medicine. The Chi-square test
results obtained p=0.667 (p>0.05). In conclusion, tuberculosis lymphadenitis in the
early incubation period does not correlate with nutritional status among children under
18 years ol
Pengembangkan Inovasi Pengemasan dan Pemasaran Royal Catering Pada Masa Pandemi COVID-19
Pandemi Covid-19 memiliki dampak negatif tidak hanya sektor kesehatan saja, tetapi juga
memberikan dampak besar bagi perekonomian Indonesia. Dampak negatif tersebut salah satunya
dirasakan oleh sektor usaha mikro kecil menengah yaitu berupa penurunan omset penjualan.
Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberikan solusi strategis bagi pengembangan usaha
Catering pada masa pandemi. Metode pengabdian yaitu dengan melakukan observasi langsung
terhadap objek pengabdian dan melakukan pendampingan dalam proses produksi dan pemasaran
produk catering di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Provinsi
Jawa Timur. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa dengan adanya KKN Back to Village
Universitas Jember dapat memberikan nilai positif bagi pelaku usaha catering yaitu berupa inovasi
pengemasan produk, logo/merk produk catering dan sistem pemasaran produk melalui media sosial
yang mendukung pengembangan usaha dan peningkatan pendapatan usaha
The Influence of Service Quality and Price and Location on Consumer Satisfaction at Legian Jember Restaurant
This study aims to examine and analyze the effects of (a) service quality; (b) price; (c) location. Quantitative research approach. This type of research is explanatory research. This study uses primary data of distributing questionnaires online. for the last 1 month period with a purposive sampling with the criteria of respondents being at least 19 years old and consumers who visit and make purchases at Legian Resto so that a total sample of 114 observation for last 1 month period. The research model multiple linear regression analysis using SPSS analyzed. The results of the study found that (a) service quality has a significant effect positive on customer satisfaction (b) price has a significant and positive effect on customer satisfaction ; (c) location has a significant and positive effect on customer satisfaction. LegianJember Restaurant better keeps it up to service quality design indicators of the dining room and small space should be kept clean and must be selective in choosing the quality of food ingredients. Price compatibility should be in accordance with the quality of the product. The location should pay more attention to the traffic around the restaurant. Future research needs to add customer loyalty variables
Persepsi Petani Tebu Terhadap Penerapan Sistem Pembelian Tebu (SPT) di Kabupaten Situbondo
Finalisasi unggah file repositori tanggal 21 April 2022_KurnadiTanaman tebu merupakan komoditas unggulan di Indonesia khususnya di
Situbondo karena tebu adalah bahan baku yang telah umum untuk memproduksi
bahan pokok masyarakat yaitu gula kristal putih. Kabupaten Situbondo adalah salah
satu kabupaten penghasil tebu tertinggi di Jawa Timur dengan produksi tebu terbesar
ke-6 se Jawa Timur dan didukung oleh tiga pabrik gula yang berlokasi di Kabupaten
Situbondo. PG Asembagus menjadi salah satu pabrik pengolahan gula kristal terbesar
di Kab. Situbondo dengan kapasitas giling 6.000 TCD. PG Asembagus, dalam
memenuhi kebutuhan bahan baku tebunya, menyuplai dari Sebagian tebu sendiri (TS)
dan selebihnya berasal dari tebu rakyat (TR). Petani tebu rakyat dalam menjual hasil
panennya pada PG Asembagus pada umumnya sejak dulu dilakukan melalui sistem
kemitraan. Pada tahun 2019 pemerintah menetapkan sistem pembelian tebu (SPT)
dengan skema transaksi jual-beli putus yang menggunakan ukuran bobot tebu, sebagai
pangganti sistem bagi hasil (SBH) yang telah lama dijalankan oleh petani tebu di
Situbondo. Berdasarkan pada kondisi tersebut, peneliti berminat untuk mendalaminya
dan tujuan penelitian ini untuk: (1) Untuk mengetahui persepsi petani tebu terhadap
penerapan Sistem Pembelian Tebu (SPT) di Kabupaten Situbondo; (2) Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani tebu terhadap penerapan
Sistem Pembelian Tebu (SPT) di Kabupaten Situbondo.
Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif dan analitik.
Metode penentuan lokasi penelitian menggunakan purposive, menentukan Kecamatan
Asembagus dengan pertimbangan lokasi tersebut memiliki jumlah petani terbesar dan
terdampak langsung dari penerapan sistem SPT. Data yang digunakan adalah data
primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode
wawancara, observasi dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan skala likert dan
rentang skala untuk mengetahi persepsi petani serta analisis regresi linier berganda
dengan variable dummy untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi persepsi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Persepsi petani tebu terhadap
penerapan sistem pembelian tebu (SPT) dinyatakan dengan beberapa indikator yang
kumulatif memiliki skor sebesar 3.777 dari 7.380, dimana petani tebu berpersepsi
bahwa penerapan sistem SPT secara umum memberikan dampak positif. (2)
Seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh pada variabel
pesepsi petani terhadap penerapan sistem SPT. Factor-faktor yang berpengaruh
signifikan secara parsial terhadapa persepsi petani tebu adalah lama berusahatani,
pendidikan petani dan diversifikasi pekerjaan, sementara usia petani, luas lahan,
status lahan tidak berpengaruh secara secara signifikan.Ebban Bagus Kuntadi, S.P.,M.Sc. (Pembimbing I
Factors Affecting Senior High School Students' Willingness to Communicate in English in the EFL Classroom
Finalisasi unggah file repositori tanggal 9 Juni 2022_KurnadiWillingness to communicate (WTC) in English is crucial for English
students in the process of learning the language. It was reported that students’
WTC in English greatly affects their achievement in that target language (Ningsih
et al., 2018). Further, MacIntyre et al. (1998) stated that the objective of foreign
language learning should be to encourage the students to have a higher degree of
WTC in the target language, and to make them get more involved in the authentic
L2 use. Nevertheless, in EFL classrooms, there are some students who voluntarily
speak up while some others are reluctant to speak, when they are given the
opportunity to use the L2 (Riasati and Rahimi, 2018). Regarding this, MacIntyre
(2007) stated that there are various factors that encourage or discourage someone
to use the L2 in communication. Hence, English teachers definitely need to
understand these factors that affect the students’ WTC in English in the
classroom, so that they can establish a learning environment that promotes the
students’ degree of WTC in English.
Regarding the concept of WTC in L2, a theory was proposed by
MacIntyre et al. (1998). It hypothesizes that one’s WTC in L2 is affected by both
individual and situational factors. Some later researchers (e.g. Riasati and Rahimi,
2018; Tuyen et al., 2019; Azwar et al., 2021) proved the theory through their
research findings that individual factors such as self-confidence, self-perceived
communication competence, and fear to make mistakes influence students’ WTC
in English. Moreover, situational factors such as task types, the topic of
discussion, and interlocutors also affect the students’ WTC in English. Therefore,
the present study used the theory and the findings of the related previous studies
as references.
Though there have been some studies addressing a similar topic, those
previous studies mostly focused on university students. University students and
senior high school students have different emotional characteristics due to their
age differences. Senior high school students, who are adolescents, commonly
experience more of a lack of self-esteem compared to older students/adults (Wild
& Schwartz, 2012). This lack of self-esteem may lead senior high school students
to low self-confidence and shyness, which may hinder them to communicate in
English. Hence, the way adolescent students see English communication can be
different from how older students see it. Therefore, the present study tried to
address factors affecting senior high school students’ WTC in English. Further,
the form of communication which became the focus of investigation in the present
study was spoken communication, in classroom interactions.
The present study employed a descriptive quantitative research design. It
involved 57 sample students of a state senior high school in Sumenep Regency,
who were selected through simple random sampling. Regarding the research
instrument, the present study adapted a validated questionnaire which was
developed by Riasati & Rahimi (2018). The adapted questionnaire was a six-point
Likert-type questionnaire that consisted of 25 items dealing with individual and
situational factors affecting students’ WTC in English in the classroom context.
Descriptive statistics were used to analyze the data of the distributed
questionnaire. The result showed that the individual factors affecting the students’
WTC in class included L2 self-confidence, L2 self-perceived communication
competence, L2 anxiety, and fear of making mistakes. The majority of the
students were indicated to have low self-confidence, negative self-perception on
their communication competence, and high anxiety which cause them to be
unwilling to speak English in class. These are depicted through the finding which
showed that the students were unwilling to ask questions in English in class
(69.9%), to present opinions in English in class (68.4%), to talk than listen in an
English conversation (57.9%), to use English for classroom social interaction
(63.2%), and to give a speech in English in front of the class (70.1%). Besides, the
students were also indicated to experience a high level of fear to make mistakes.
This is depicted through the finding which revealed that the majority of the
students were willing to answer in English if they are sure that their answer is
correct (77.2%), and that some students were unwilling to speak English if they
know that their speaking will be graded (23.1%).
Meanwhile, the situational factors which were identified to affect the
students’ WTC in English included task types, topic of discussion, interlocutors’
gender and position, and seating locations. These are depicted through the finding
which revealed that the students were identified to be more willing to speak
English in pairs (59.7%), or in small groups (61.4%) and large groups (40.4%)
rather than speaking individually (40.3%), be more willing to speak English to a
classmate with the same gender (61.4%) rather than to the opposite one (42.1%),
be more willing to discuss something in English with their teacher (49.1%) than
with their friends (36.8%), and be more willing to speak English when they sit in
the back rows (38.9%) than when they sit in the front rows (35.2%). Besides, the
students were also identified to be more willing to speak English if the topic is
familiar (57.9%) and interesting (65.0%).
The findings of the present study support the initial theory by MacIntyre et
al. (1998). The theory basically hypothesized that someone’s WTC in a target
language is not merely affected by individual factors, but also situational factors.
The findings are also in line with some previous studies which revealed similar
results that both factors coming from the English students and the factors that
exist in the classroom affect their degree of WTC in English during the language
learning session (e.g. Riasati & Rahimi, 2018; Tuyen et al., 2019; Azwar et al.,
2021).
As an implication, English teachers need to focus on both the students’
feelings and the learning environment that they design to promote the students’
degree of WTC in English. The English teachers should not only encourage the
students’ self-confidence in speaking English or convince them that making
mistakes is part of learning, but also should be careful in deciding the type of task
given, topic to be discussed, and even the seating arrangements for their students,
since all of these affect the students’ WTC in English in class.Dr. Aan Erlyana Fardhani, M.Pd.
Eka Wahjuningsih, S.Pd., M.Pd
Pola Kepemimpinan KHR. Achmad Azaim Ibrahimy di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo
Validasi unggah file repositori_Fendi K
Finalisasi unggah file repositori tanggal 20 Mei 2022_KurnadiPenelitian ini menggambarkan tentang Pola Kepemimpinan Kharismatik KHR.
Achmad Azaim Ibrahimy di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi‟iyyah Sukorejo
Situbondo. Kepemimpinan kharismatik Kiai Azaim dapat dilihat dari sifat dan
perilakunya di pondok pesantren, seperti memberikan pendidikan pada santri,
mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat, dan mengajak orang lain agar
bersedia melakukan tindakan-tindakan yang mencerminkan nilai-nilai agama.
Kharismatik Kiai Azaim juga didukun oleh sifat-sifat yang diwariskan oleh
Rosulullah seperti Shiddiq. Amanah, Tabligh, dan Fatonah.Dosen Pembimbing utama : Drs. Joko Mulyono ,M.S