Universitas Jember

UNEJ Repository
Not a member yet
    75643 research outputs found

    Keragaman Parasitoid Hymenoptera pada Tanaman Refugia di UPT Agrotechnopark Universitas Jember

    No full text
    Rekayasa ekologi adalah bentuk pelayanan ekologi dengan teknik memodifikasi lingkungan untuk menyediakan kondisi lingkungan yang sesuai bagi kehidupan musuh alami. Salah satu upaya dalam rekayasa ekologi yaitu penanaman refugia. Pemanfaatan refugia sebagai teknik konservasi musuh alami memberikan dampak positif terhadap keragaman musuh alami, seperti parasitoid Hymenoptera. Upaya UPT Agrotechnopark untuk meningkatkan populasi serangga parasitoid dengan memanfaatkan berbagai jenis tanaman berbunga seperti C. pulcherrima, I. javanica, P. grandiflora, R. tuberosa, T. corymbosa, T. subulata, dan T. ulmifolia, namun penelitian mengenai jenis parasitoid yang terdapat pada masing-masing refugia tersebut masih belum dilakukan sehingga belum diketahui jenis-jenis parasitoid Hymenoptera yang berkunjung pada tanaman tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka akan dilakukan penelitian untuk mengetahui keanekaragaman parasitoid Hymenoptera pada 7 tanaman refugia yang terdapat di UPT Agrotechnopark Universitas Jember. Penelitian dilakukan pada tanaman refugia C. pulcherrima, I. javanica, P. grandiflora, R. tuberosa, T. corymbosa, T. subulata, dan T. ulmifolia. Teknik pengambilan sampel parasitoid Hymenoptera dengan yellow pan trap dan vacum dilakukan dengan interval pengamatan setiap 7 hari sekali selama 4 minggu pada pukul 07.00-09.00 WIB. Serangga yang didapatkan dengan perangkap kemudian disortasi dan dimasukkan ke dalam botol kecil berisi alkohol 70%. Pembuatan spesimen kering menggunakan card point untuk proses identifikasi hingga tingkat famili. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis statistika deskriptif serta dilakukan analisis yang berkaitan dengan indeks keanekaragaman dan kekayaan jenis parasitoid pada tanaman refugia di UPT Agrotechnopark Universitas Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah parasitoid Hymenoptera tertinggi didapatkan pada T. subulata dengan yellow pan trap sebanyak 42 individu dan vacum sebanyak 6 individu, sedangkan terendah didapatkan pada R. tuberosa dengan yellow pan trap sebanyak 9 individu dan vacum tidak mendapatkan serangga. Nilai indeks keanekaragaman pada semua jenis refugia termasuk dalam kategori sedang sehingga masih bersifat stabil yang berkisar antara 1,03 - 1,89, kecuali pada P. grandiflora sebesar 0,69 dan R. tuberosa yang tidak mendapatkan serangga dengan metode vacum. Nilai indeks keanekaragaman tersebut besarnya dipengaruhi oleh adanya dominasi beberapa famili parasitoid dan jumlah masing-masing tanaman refugia yang kurang merata. Nilai kekayaan jenis pada semua jenis refugia berkisar antara 0 – 2,14 sehingga termasuk dalam kategori rendah. Faktor yang mempengaruhi hasil tersebut yaitu jarak tanam, kondisi cuaca, dan lokasi Agrotechnopark.Ir. Hari Purnomo, M.Si., Ph.D., DI

    Determinasi Dosis Optimal Protein Rekombinan DBL2B-PFEMP1 dalam Menginduksi Respons Imun Tikus (Rattus Norvegicus) sebagai Kandidat Vaksin Malaria

    No full text
    Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditransmisikan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Pada tahun 2017, 63% dari keseluruhan kasus malaria di Indonesia disebabkan oleh P. falciparum (WHO, 2021). Malaria berat akibat P. falciparum dimediasi oleh antigen Plasmodium falciparum erythrocyte membrane protein 1 (PfEMP1). Antigen PfEMP1 memiliki domain DBL2β yang bersifat spesifik mengikat reseptor intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1), reseptor yang terlibat dalam kejadian malaria berat. Peningkatan antibodi karena protein rekombinan DBL2β dapat memblokir pengikatan antara DBL2β dan reseptor ICAM-1. Karena peran penting dalam patogenesis malaria berat, DBL2β-PfEMP1 menjadi kandidat vaksin malaria berbasis peptida. Protein rekombinan DBL2β-PfEMP1 telah terbukti bersifat imunogenik dalam suatu penelitian in vivo. Namun, belum ada data mengenai dosis optimal protein rekombinan tersebut. Penelitian ini menguji respons imun yang direpresentasikan oleh kenaikan jumlah leukosit dan IgG. Nilai IgG akan menjadi dasar penentuan dosis optimal protein rekombinan DBL2β-PfEMP1. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan tikus berusia 2-3 bulan dengan berat 150-350 g. Protein DBL2β-PfEMP1 diproduksi, diekstraksi, dipurifikasi, divisualisasi dengan SDS-PAGE, kemudian dianalisis konsentrasinya dengan menggunakan Bradford protein assay. Dosis protein rekombinan yang diberikan yaitu, 100 µg, 150 µg, dan 200 µg. Injeksi dilakukan sebanyak tiga kali dengan jeda waktu tiga minggu. Leukosit dihitung menggunakan kamar hitung Improved Neubauer dan diamati di bawah mikroskop, sedangkan konsentrasi IgG diukur menggunakan uji ELISA. Hasil hitung jumlah leukosit dianalisis dengan uji Friedman dan Kruskal Wallis. Konsentrasi IgG memenuhi syarat uji parametrik, sehingga hasilnya dianalisis dengan Mixed ANOVA. Untuk mengetahui kelompok yang berbeda signifikan, dilakukan uji post hoc Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata leukosit terendah adalah pada saat pre-injeksi dan rata-rata leukosit tertinggi adalah pada saat 8 hari pasca injeksi injeksi sekunder II. Leukosit meningkat secara signifikan pada kelompok perlakuan (p<0,05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan leukosit. Pada data IgG, terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok tikus (p<0,05). Perbedaan yang signifikan terjadi antara kelompok kontrol dan kelompok dosis 150 µg. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan. Dengan demikian, dosis optimal protein rekombinan DBL2β-PfEMP1 yang dapat menginduksi respons imun tikus adalah 150 µg.dr. Irawan Fajar Kusuma, M. Sc., Sp. PD dr. Rosita Dewi, M. Biote

    Combination of Dental Pulp Stem-Cell Secretome and Robusta Coffee Bean Extract (Coffea canephora) in Enhancing Osteocalcin and Alkaline Phosphatase Expression in Periodontitis-Induced Wistar Rats

    No full text
    Introduction: Indonesia riches with many beneficial herbal ingredients; one of them is coffee obtained from Jember which has antibacterial and anti-inflammatory properties for treating periodontitis. Meanwhile, dental pulp stem cells (DPSCs) during culture secrete various advantageous secretome for tissue regeneration. This investigation intended to examine the expression of osteocalcin (OCN) and alkaline phosphatase (ALP) after the administration of the combination between DPSC secretome and the Robusta coffee bean extract (RCBE) in periodontitis-induced animal model. Materials and methods: Thirty-five Wistar rats were randomly selected and divided into seven groups accordingly; group K0, group K1-7 (untreated periodontitis rats for 7 days), group K1-14 (untreated periodontitis rats for 14 days), group K2-7 (periodontitis rats administered with RCBE for 7 days), group K2-14 (periodontitis rats administered with RCBE for 14 days), group K3-7 [administered with both RCBE and stem-cell secretome (SCS) for 7 days], and group K3-14 (administered with both RCBE and SCS for 14 days). Periodontitis was induced by implementing wire installed in the rat’s first mandibular molar. The combination of RCBE and DPSC secretome was administered intrasulcus in the rat’s first mandibular molar gingiva. Moreover, least significant difference was performed after the analysis of variance test to investigate the significant difference between groups (P < 0.05). Results: The highest OCN and ALP were expressed in group K3-14, whereas the lowest OCN expression was found in K1-7 group and lowest ALP expression was displayed in K0 group. Additionally, there was significant difference in OCN and ALP between groups. Conclusion: The administration of the combination between dental pulp stem-cell secretome and RCBE (Coffea canephora) can enhance OCN and ALP expression as documented immunohistochemically

    PERENCANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

    No full text
    Pada bab ini akan dibahas tentang pengertian program tahunan dan program semester, komponen program tahunan dan program semester, langkah-langkah penyusunan program tahunan dan program semester, dan contoh program tahunan dan program semester mata pelajaran matematika pada jenjang SMP atau SMA atau SMK. Materi program tahunan dan program semester disajikan untuk tiga pertemuan. Kompetensi minimal yang harus dimiliki mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan materi program tahunan dan program semester adalah mahasiswa mampu menganalisis dan menyusun program tahunan dan program semester mata pelajaran matematika SMP/MTs dan SMA/SMK/MA secara berkelompok. Desain perkuliahan untuk materi program tahunan dan program semester dilakukan dengan tiga tahap. Tahap pertama, mahasiswa menerima masing-masing satu contoh program tahunan dan program semester matematika untuk jenjang SMP dan SMA. Tahap kedua, mahasiswa diminta untuk menganalisis program tahunan dan program semester yang ada. Tahap ketiga, mahasiswa bersama dengan teman sekelompok menyusun (1) program tahunan berdasarkan kompetensi yang akan dicapai yang telah ditetapkan di kurikulum dan (2) program semester berdasarkan program tahuna

    PENGARUH EKSTRAK DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness.) TERHADAP HISTOLOGI GINJAL MENCIT (Mus Musculus L.)

    No full text

    Respon Induksi FEC Terhadap Media CAM, CIM dan GD beberapa Varietas Ubi Kayu (Manihot esculanta Crantz)

    No full text
    Finalisasi unggah file repositori tanggal 28 Juni 2022_KurnadiUbi kayu di indonesia merupakan salah satu komoditas penting untuk ketahanan pangan. Permasalahan yang dihadapi saat penanaman ubi kayu . Upaya yang dapat dilakukan dengan perbaikan genetika salah satunya dengan menginduksi FEC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana respon beberapa varietas ubi kayu terahadap induksi FEC penelitian ini dilaksanakan di laboraturium universitas jember Variable pengamatan meliputi 1. waktu munculnya swollen 2. waktu munculnya embrio somatic 3. waktu munculnya FEC 4. persentase FEC 5. warna FEC . Hasil penelitian ini bahwa adira 1, malang 6 dan gajah memiliki respon yang baik pada semua variable pengamatan yang dilakukan sedangkan varietas UK 1 dan UK 2 tidak menunjukan respon pada beberapa variableIr. Didik Pudji Restanto, M.S., Ph.D

    Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Menyelesaikan Soal Open-Ended Bangun Ruang Sisi Lengkung Berdasarkan Level Van Hiele

    No full text
    This study aims to describe student’s creative thinking skills in solving open-ended questions on curved side spaces based on van Hiele levels. This research is a descriptive study using a qualitative approach. Data collection methods in this research are test and interview methods. The subjects in this study consisted of 6 students. The subject was obtained through a test of the ability to think geometrically based on the van Hiele level. The subject was given an open-ended test followed by an interview and then analyzed with his creative thinking ability.The triangulation used in this research is method triangulation. The results showed that research subjects who were at the same level did not necessarily have the same creative thinking abilities. Students at the visualization level, the first subject only met the flexibility aspect, while the second subject did not meet any of the creative thinking aspects. Students at the analytical level meet the aspects of fluency and flexibility. Students at the informal deduction level, the first subject meets the fluency, flexibility, and originality aspects, while the second subject only meets the fluency originality aspects.Dr. Susanto, M.Pd. (Dosen Pembimbing) Dr. Erfan Yudianto, S.Pd, M.Pd. (Dosen Pembimbing

    Nigella sativa toothpaste promotes anti-inflammatory and anti-destructive effects in a rat model of periodontitis

    No full text
    Objective: Periodontitis is an infectious disease that results in gingiva tissue damage. This study aimed to evaluate the effects of Nigella sativa (N. sativa) toothpaste in a periodontitis tissue repair based on inflammation and periodontal extracellular matrix in vivo. Design: The periodontitis disease model was developed using Wistar rats infected with Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis). The rats were divided into three main groups as follows: those that did not receive any toothpaste treatment; those that were treated with N. sativa toothpaste twice a day (simultaneously with P. gingivalis induction); and normal healthy rats. The rats were sacrificed after 1 and 7 days of animal modeling. The number of inflammatory cells, matrix metalloproteinase (MMP)1 + and MMP8 + cells, levels of cytokines (interleukin-1β (IL-1β) and prostaglandin E2 (PGE2)) and density of collagen type 1 were determined in the gingival tissues of the rats. Results: The rats treated with N. sativa toothpaste had significantly lower numbers of neutrophils, macrophages and lymphocytes than the non-treated rats after 1 and 7 days of treatment; likewise, the levels of IL-1β and PGE2 were lower in the treated experimental rats. In addition, the group treated with N. sativa toothpaste had fewer numbers of MMP1 + and MMP8 + cells and higher collagen density after 1 and 7 days of administration. Conclusions: N. sativa toothpaste exhibited anti-inflammatory effects by reducing both inflammatory cell count and activity. Additionally, N. sativa toothpaste demonstrated anti-destructive effects on the periodontal extracellular matrix. Thus, N. sativa toothpaste might be potentially used for the management of periodontitis

    Rain Station Network Analysis in the Sampean Watershed: Comparison of Variations in Data Aggregation

    No full text
    The lack of rainfall-runoff accuracy is important for some applications. The choice of data aggregation that affects the estimation results is important at the level of accuracy. Some commonly used aggregations are daily, ten days, and monthly rainfall. This study aimed to compare the results of the estimation of the effect of data aggregation and to analyze the density of the rain gauge network in the Sampean watershed. The evaluation of the rain station network is carried out through the Kagan calculation. Rainfall data are from the rainfall data records for 20 years at 33 rain gauge stations. Measurement of the performance of aggregation variations using the relationship between the correlation value of rainfall with the distance between station locations. Station network positioning is assessed from alignment errors and interpolation errors. The results showed differences in the correlation and estimation values in the variation of data aggregation.The greater interval can increase the effectiveness of deployment with minimum error. Based on Kagan's analysis, there is an uneven distribution of gauge stations in the Sampean watershed eventhough the average and interpolation error in the monthly rainfall is less than 5%. It is this inequality that causes gauge stations to be inefficient

    Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-faktor Produksi pada Usahatani Kubis di Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso

    No full text
    Finalisasi unggah file repositori tanggal 6 Juni 2022_KurnadiHortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang potensial dalam memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi Indonesia. Subsektor hortikultura memiliki beberapa komoditas unggulan yang berpotensi ekpor, salah satunya yaitu tanaman kubis. Berdasarkan hal tersebut, maka tanaman kubis termasuk salah satu tanaman subsektor hortikultura yang potensial untuk dikembangkan. Salah satu daerah yang menjadi sentra produksi kubis yaitu Kabupaten Bondowoso. Kondisi alam yang mendukung menjadikan beberapa daerah di Kabupaten Bondowoso sebagai sentra produksi kubis dengan potensi yang baik, salah satunya yaitu Desa Jampit Kecamatan Ijen. Desa Jampit sebagai daerah sentra produksi kubis disisi lain juga mengalami permasalahan meliputi perbedaan teknik usahatani kubis dan rendahnya tingkat produktivitas kubis. Berdasarkan kedua permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani kubis di Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Keragaan usahatani kubis di Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso; (2) Faktor-faktor produksi yang mempengaruhi hasil produksi kubis di Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso; dan (3) Tingkat efisiensi teknis, tingkat efisiensi alokatif, dan tingkat efisiensi ekonomi pada penggunaan faktor-faktor produksi usahatani kubis di Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso. Metode penentuan lokasi pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan Purposive Method yaitu Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dan metode analitik. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu Simple Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 42 responden. Metode analisis data pada penelitian ini meliputi (1) Analisis deskriptif yang ditujukan untuk memberikan penjelasan terkait keragaan usahatani kubis yang dilakukan oleh petani di Desa Jampit; (2) Analisis Fungsi Produksi Cobb Douglass yang ditujukan untuk mengetahui pengaruh antara faktor-faktor produksi terhadap hasil produksi kubis di Desa Jampit; dan (3) Analisis efisiensi penggunaan faktor produksi yang ditujukan untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi secara teknis, alokatif dan ekonomi pada usahatani kubis di Desa Jampit. Hasil analisis pada penelitian ini menujukkan bahwa: (1) Keragaan usahatani kubis yang dilakukan oleh responden petani kubis di Desa Jampit terdiri dari beberapa tahapan, meliputi (a) penyemaian benih; (b) pengolahan lahan; (c) penanaman; (d) penyulaman; (e) pemupukan; (f) pengendalian hama dan penyakit; dan (g) pemanenan; (2) Hasil analisis fungsi produksi Cobb Douglass menunjukkan pada taraf kepercayaan 95%, variabel luas lahan, benih, pupuk organik, pupuk anorganik, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja secara bersamasama berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi usahatani kubis di Desa Jampit. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata secara parsial terhadap hasil produksi usahatani kubis di Desa Jampit pada taraf kepercayaan 95%, yaitu luas lahan (X1), benih (X2), pupuk organik (X3) dan tenaga kerja (X7); dan (3) Penggunaan faktor produksi usahatani kubis di Desa Jampit meliputi luas lahan, benih, pupuk organik, pupuk anorganik, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja telah efisien secara teknis, belum efisien secara alokatif, dan belum efisien secara ekonomi.Dosen Pembimbing utama : Prof. Dr. Ir. Soetriono, MP

    6,632

    full texts

    75,643

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UNEJ Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇