75643 research outputs found
Sort by
Pengembangan Game Edukasi Mu Math Dengan Materi Pola Bilangan untuk Meningkatkan Penalaran Matematis Siswa Dengan Bantuan Software Unity
Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan dalam seluruh bidang ilmu secara khusus bidang pendidikan. Tuntutan global menuntut dunia pendidikan untuk selalu dan senantiasa menyesuaikan perkembangan teknologi terhadap usaha dalam peningkatan mutu pendidikan, terutama penyesuaian penggunaannya bagi dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan cara atau metode yang dilakukan dalam rangka untuk menyampaikan materi dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran memerlukan media pembelajaran yang bisa diminati oleh peserta didik, yang pada intinya dalam proses pembelajaran itu memerlukan adanya variasi pembelajaran supaya menimbulkan minat bagi peserta didik, dan menjadi salah satu media pembelajaran yang menarik. Pengembangan Game sebagai media pembelajaran adalah suatu permainan yang dapat menghibur dan mengandung unsur-unsur pendidikan, yang bertujuan untuk bisa menjadi alat pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran matematika berbasis Game akan terlihat menarik dengan tambahan gambar dan suara.
Game edukasi Mu Math adalah Game berbasis PC (Personal Computer), dan Laptop yang memiliki Operating System Windows. Game Mu Math atau Master Ur Math yang memiliki arti “Menguasai Matematika mu”. Game berjenis Adventure Open world dimana pemain bisa bertualang menyusuri map-map yang sudah di sediakan. Pemecahan dalam bentuk matematika sangat di perlukan untuk menyelesaikan Game ini. Terdapat 2 misi dalam Game ini, misi tersebut adalah:
Misi pertama dalam Game ini pemain diberikan enam pola bilangan matematika. Pola bilangan tersebut terbagi menjadi enam pulau. Pulau-pulau tersebut memuat materi: Pulau bilangan asli; Pulau bilangan genap; Pulau bilangan ganjil; Pulau bilangan segitiga; Pulau bilangan persegi; Pulau bilangan persegi panjang;
Misi ke-dua dalam Game ini pemain akan diberikan permasalahan pola bilangan dengan mengumpulkan 12 point yang terbagi dalam Maps di Game ini.
Setelah pemain menyelesaikan ke 2 misi, pemain akan diberikan Tes penalaran matematis untuk menguji kemampuan penalaran matematis siswa
Proses pengembangan pada penelitian ini menggunakan model Thiagarajan yang terdiri dari empat tahap, yaitu Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran). Uji coba penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas VIII B SMPN 1 Umbulsari. Hasil Game edukasi telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif yang di jabarkan sebagai berikut:
Kriteria kevalidan dengan nilai koefisien korelasi pada Game edukasi sebesar 0,8 berdasarkan nilai rata-rata dalam kategori valid dengan interpretasi tinggi
Kriteria kepraktisan mendapatkan persentase 93,94% dan menjadikan Game edukasi dikategorikan sangat baik dengan nilai 80% < P ≤ 95% dan rata-rata perolehan angket per indikator adalah 4,697 sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran matematika selanjutnya sebagai Game edukasi untuk meningkatkan kemampuan penalaran siswa pada permasalahan pola bilangan.
Kriteria keefektifan ditunjukkan dengan nilai N-Gain rata-rata dari sampel Tes Penalaran Awal dan Tes Penalaran Akhir yang menghasilkan nilai 0,43 yang menunjukkan nilai keefektifan cukup Efektif karena dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa dengan nilai tafsiran efektifitas N-Gain berada pada 0,3≤g≤0,7
Pengaruh Adsorpsi Arang Aktif Tempurung Kelapa Terhadap Nilai Massa Jenis dan Indeks Bias Minyak Goreng
Minyak merupakan salah satu bahan kebutuhan pokok rumah tangga untuk
mengolah makanan. Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga (skala kecil).
minyak juga digunakan dalam dunia industri seperti industri kerupuk dimana
dalam penggunaanya membutuhkan minyak dalam skala besar. Kebiasaan
memakai ulang minyak setelah digunakan akan menurunkan kualitas minyak
tersebut dan dapat beresiko pada kesehatan konsumen. Tehnik penjernihan yang
tidak tepat dapat menimbulkan komposisi dalam minyak akan semakin buruk dan
tidak layak diapaki berulang kali. Arang aktif merupakan media adsorben yang
efektif untuk penjernihan fluida cair seperti air keruh dan minyak. Oleh karena itu,
diperlukan cara pengolahan minyak bekas yang aman dan dapat mengurangi
resiko timbulnya penyakit akibat penggunaan berrulah dari minyak jelantah.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh adsorpsi arang aktif
terhadap (1) nilai massa jensi dan (2) nilai indeks bias minyak goreng.
Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni skala
laboratorium. Titik tuju pengambilan sampel minyak diambil dari rumah industri
krupuk di Dusun Gondangrejo, Desa Cakru, Kec. Kencong, Kab. Jember. Arang
aktif yang digunakan untuk proses adsorpsi pada minyak adah arang tempurung
kelapa yang telah diaktifkan dan berbentuk serbuk atau butiran kecil. minyak
dengan perlakuan arang aktif dibagi menjadi lima bagian masing – masing 300ml
kemudian ditambahkan arang aktif dengan lima kadar variasi berbeda. Alat yang
digunakan untuk mengukur massa jenis adalah menggunakan piknometer
sedangkan untuk mengukur indeks bias menggunakan prisma berongga
yangterbuat dari kaca. Minyak dimasukkan ke dalam prisma kemudian dilakukan
pengukuran indeks bias. Pengambilan data dilakukan sebanyak tiga kali
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
ix
pengulangan pada masing – masing parameter dari minyak goreng baru, minyak
goreng bekas, hingga minyak goreng setelah perlakuan arang aktif.
Hasil Penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai massa jenis dan
indeks bias dari setiap sampel. Terlihat nilai massa jenis minyak goreng baru
sebesar 9,9 x 102
kg/m3
dan massa jenis minyak goreng bekas mengalami
penurunan yaitu 8,8 x 102
kg/m3
, selanjutnya nilai massa jenis setelah pengaruh
adsorpsi arang aktif terlihat sebesar 9,9 x 102
kg/m3 sama dengan massa jenis
minyak goreng baru. Hasil perhitungan nilai indeks bias minyak goreng baru
sebesar 1,472, minyak goreng bekas sebesar 1,660. Terdapat peningkatan cukup
signifikan dari minyak goreng baru. Setelah mendapat perlakuan arang aktif,
minyak goreng bekas mengalmi pemecahan molekul kembali kemudian disaring
dan menghasilkan nilai indeks bias 1,454 dengan adsorpsi arang aktif 25 gr.
Indeks bias 1,492 dengan arang aktif 40 gr, penambahan 55 gr menghasilkan nilai
n 1,538, selanjutnya meningkat 1,549 dengan penambahan arang aktif 70 gr dan
85 gr.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah pengaruh arang
aktif tempurung kelapa mampu memperbaiki kualitas minyak goreng bekas
menjadi minyak layak pakai dan memenuhi standart yang telah berlaku. nilai
massa jenis dengan penambahan lima variasi arang aktif tidak menunjukkan
perbedaan nilai, namun dapat menjadi acuan pembeda dengan minyak goreng
bekas. nilai indeks bias yang sama dengan SNI adalah 1,454 dengan penambahan
arang aktif 25 gr dan merupakan kosentrasi paling efektif diberikan pada minyak
300 ml.Drs. Albertus Djoko Lesmono, M.Si
, Dr. Yushardi, S.Si., M.S
Progressivity analysis of pleomorphic adenoma toward carcinoma ex pleomorphic adenoma
Background: Pleomorphic adenoma (PA) is a benign salivary gland tumour with high incidence and recurrence after treatment. It
may recur with the same appearance or develop toward malignancy, namely as carcinoma ex pleomorphic adenoma (CXPA). How
this tumour can transform into a CXPA remains unclear. Purpose: The aim of this study was to analyse the possibility of pathogenesis
and progressivity of PA to CXPA. Methods: Twenty-four samples of PA and three control samples of CXPA were stained with
haematoxylin and eosin (HE), Mallory’s trichrome, and Periodic acid–Schiff (PAS). All of the PA cases were identified through
different kinds of stroma, tumour cells types, morphologic patterns, or else through atypical appearance of the PA similar to the CXPA.
Results: Twenty-four samples of PA demonstrated that the most dominant stroma was myxofibrous, and the dominant tumour cell type
was plasmacytoid cells with a trabecular pattern. Additionally, in the pleomorphic histological picture of adenomas we found several
patterns of malignant tumour behaviour, including pseudopodia, metaplasia and hyalinisation, and cholesterol crystals that are thought
to come from fat cell necrosis derived from adipose metaplasia. Conclusions: PA displays several atypical characteristics that have
the potential to develop into malignancies such as CXPA, due to capsular infiltration, necrosis, hyalinization and high mitotic activity
of cells, but all these atypical characteristics that we observed still cannot be clearly classified as CXPA because they require other
specific examinations
Analisis dan Klasifikasi Pola Aroma Kopi Robusta Kabupaten Probolinggo dengan Metode K-Nearest Neighbor untuk Mengembangkan Prototype E-Nose
i robusta merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan daerah tumbuh yang luas jika dibandingkan kopi arabika karena kopi robusta mampu tumbuh didataran <700 mdpl. Aroma kopi yang dapat tercium oleh indera diakibatkan senyawa volatil dalam kopi seperti aldehida, alkohol, dan ester yang dipengaruhi oleh kondisi tanah, suhu udara dan intensitas penyinaran ketika proses penanaman. Aroma kopi yang memiliki kandungan gas volatil tersebut dapat mempengaruhi karakteristik kopi yang dapat dideteksi dengan electronic nose. Proses kerja electronic nose perlu bantuan software seperti LabVIEW dengan memanfaatkan machine learning untuk pengelolaan data. Pengelolaan data, ekstraksi fitur, dan proses training menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) dan metode K-Nearest Neighbor (KNN) sebagai metode pengklasifikasi. Tingkat akurasi rata-rata yang dihasilkan pada pengujian sampel kopi robusta menggunakan fitur selisih adalah 60% dan pada fitur integral sebesar 96,66%. Berdasarkan tingkat akurasi yang diperoleh dari proses pengujian menggunakan metode PCA-KNN menghasilkan bahwa program dengan model fitur integral dapat memprediksi klasifikasi kelas lebih baik daripada menggunakan model fitur selisih
Social Functioning of Online Game Addicts (Descriptive Study of Adolescent Using Online Game at Warnets Around University of Jember)
Terdapat cukup banyak remaja pemain Game Online di Kabupaten Jember, terdapat beberapa tempat penyedia layanan internet termasuk game online yang hingga kini diminati oleh para remaja baik itu siswa sekolah maupun mahasiswa. Tempat ini dikenal sebagai warung internet atau disingkat warnet. beberapa warnet tersebut diketahui sebagai warnet terbesar di lingkungan kampus Universitas Jember. Remaja yang dikenal sebagai generasi muda dan diketahui juga memiliki peran dan fungsi sosialnya dimasyarakat malah menghabiskan kebanyakan waktunya berada di warnet untuk bermain game online sehingga remaja tersebut sulit untuk menjalankan peran dan fungsinya dengan baik sesuai dengan status sosialnya, sehingga mengalami banyak hambatan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti sangat tertarik untuk mengkaji dan melakukan penelitian secara mendalam dengan menggunakan perpektif kajian Ilmu Kesejahteraan Sosial pada remaja yang banyak menghabiskan waktunya di warnet untuk bermain game online.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana keberfungsian sosial para remaja pecandu game online yang ada di warnet-warnet di daerah sekitar kampus Unej. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan menggunakan pusposive. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan pencarian data mentah, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik keabsahan data yang digunakan berupa triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberfungsian sosial dibagi menjadi tiga indikator. Pertama, terkait bagaimana mereka menjalankan peran dan fungsinya dalam masyarakat. Dalam hal ini, remaja pecandu game online dianggap kurang mampu dalam menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal. Kedua, dilihat dari bagaimana mereka memenuhi semua kebutuhannya. Sementara pada indikator kedua, remaja dianggap masih mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka baik fisik, keamanan, sosial, penghargaan serta aktualisasi diri. Dari beberapa kebutuhan tersebut dapat dikatakan mereka kurang dalam memenuhi beberapa kebutuhan nya. Kemudian indikator terakhir mengacu pada bagaimana mereka dapat memecahkan permasalahan. Hal ini tentu salah satu pemicu para remaja tersebut semakin sering bermain game online. Dalam menghadapi permasalahan, mereka cenderung melarikan diri karena menganggap masalah sebagai hal rumit untuk diselesaikan. Kebiasaan menghindari masalah membawa mereka semakin banyak menghabiskan waktu untuk bermain game online. Kesimpulan penelitian didapat dengan melihat beberapa indikator mulai dari keberfungsian remaja pecandu game online dalam melaksanakan peran dan fungsinya di masyarakat, pemenuhan kebutuhan mereka hingga bagaimana mereka menyelesaikan masalah, peneliti memberi kesimpulan bahwa para remaja pecandu game online ini dikategorikan dalam keberfungsian sosial yang beresiko atau at-risk social functioning. Dengan kata lain, remaja pecandu game online termasuk dalam kategori rentan yakni keberfungsian sosial mereka terancam tidak dapat berjalan dengan efektif.Kusuma Wulandari, S.Sos., M.Si (Dosen Pembimbing
Segmentasi Wilayah Kanker Payudara Berbasis Active Contour Lankton Menggunakan GLCM (Gray Level Co-Occurrence Matrix) di Siloam Hospitals Jember
Finalisasi unggah file repositori tanggal 22 April 2022_KurnadiSegmentasi area kanker payudara telah dipelajari menggunakan Active Contour Lankton dan GLCM (Gray Level Co-occurrence Matrix). Data berupa citra mammogram jaringan payudara normal dan ganas diambil di Siloam Hospitals Jember. Area kanker disegmentasi menggunakan metode yang diterapkan. Diinterpolasi menggunakan teknik bicubic dan disaring menggunakan filter gaussian. Segmentasi dilakukan berdasarkan teknik kontur yaitu Active Contour Lankton dan terakhir sifat statistik dari citra tersegmentasi diekstraksi menggunakan metode GLCM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kanker dengan high-density tersegmentasi dengan jelas. Lankton menutupi area kanker dengan sempurna. Namun, itu tidak bekerja dengan jenis kanker dengan low-density. Areanya tidak tersegmentasi dengan benar. Selain itu, sifat statistik dari gambar tersegmentasi kurang menggambarkan pertumbuhan kanker. Perbedaan rata-rata properti terlalu dekat untuk diklasifikasikan.Agung Tjahjo Nugroho,S.Si.,MPhil.,PhD (Dosen Pembimbing)
Bowo Eko Cahyono, S.Si.,M.Si.,Ph.D (Dosen Pembimbing
Molecular Docking Analysis of Seagrass (Enchalus Acoroides) Phytochemical Compounds as an Antidiabetic
Enhalus acoroides have potential to inhibit the α-glucosidase enzyme and as an antidiabetic drug. Twenty-seven phytochemical compounds of seagrass (E. acoroides) were analyzed by molecular docking method. All possible candidate compounds predicted ADME pharmacokinetic properties using the swiss ADME website. A molecular docking analysis was carried out using the PyRx 0.8 Autodock Vina software. Furthermore, the interaction analysis between molecules was carried out using PyMOL software and the Discovery Studio Visualizer BIOVIA. There were 17 of the 27 compounds which had the best potency as oral antidiabetic drug candidates. The validation results showed that all ligands had aroot mean score deviation (RMSD) value <2Å with the best value of 0.0. The binding affinity with the strongest bond value was -9.2 (kcal/mol) on the NAMPT bond with tannin, while the weakest value was 40.01 at 3l4y (α-glucosidase) with 3-methyl. The 2h6d receptor can bind to all ligands, and the α-glucosidase receptor can bind to two test ligands. The docking method used in this study was valid, and the phytochemical compounds of seagrass have the potential to be an alternative to antidiabetic drugs
Pemanfaatan Limbah Cair Tahu dengan Teknologi Microbial Fuel Cell (MFC) Berbasis Keramik
Penelitian ini melakukan pengukuran arus dan tegangan terhadap limbah cair tahu dengan sistem Microbial Fuel Cell (MFC) berbasis keramik untuk mendapatkan nilai power density. Microbial fuel cell (MFC) adalah salah satu teknologi ramah lingkungan yang mengkonversi energi dengan memanfaatkan kemampuan metabolisme bakteri. Metode penelitian ini dilakukan perhitungan tegangan dan arus pada sistem MFC yang dari data pada saat dilakukaan penambahan variasi konsentrasi substrat dan variasi luas permukaan elektroda (katoda dan anoda). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan variasi konsentrasi substrat dan mengetahui pengaruh dilakukannya variasi luas permukaan elektroda (anoda dan katoda), sehingga menghasilkan nilai power density maksimum untuk kurun waktu selama 13 hari pengukuran. Pengukuran dilakukan secara langsung dengan mengukur dan menginput data hasil tegangan dan kuat arus listrik dari sistem MFC untuk menentukan power density maksimum dengan variasi konsentrasi substrat limbah cair tahu dan variasi perbandingan luas permukaan pada elektroda (anoda dan katoda). Tahap awal pengukuran tegangan dan kuat arus dengan konsentrasi substrat tanpa proses pengenceran, kemudian variasi konsentrasi dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali, 8 kali, 6 kali, 4 kali, dan 2 kali pada keramik ukuran diameter 8 cm. Tahap kedua pengukuran tegangan dan kuat arus dilakukan dengan memvariasi luas permukaan elektroda (katoda dan anoda). Substrat dengan nilai power density maksimum tertinggi digunakan sebagai patokan dalam pengukuran tahap kedua, yang menghasilkan data berupa variasi luas permukaan elektroda (katoda dan anoda), tegangan, dan kuat arus yang divariasikan dengan variasi resistor sehingga mendapatkan nilai power density maksimum tahap kedua.
Hasil dari pengukuran limbah cair tahu menggunakan sistem MFC untuk penambahan variasi konsentrasi substrat menghasilkan nilai power density yang semakin besar seiring dengan besarnya konsentrasi yang diberikan pada saat dilakukan pengukuran. Nilai power density maksimum yang didapat sebesar 188,23 mW/m2 tanpa proses pengenceran yaitu dengan konsentrasi 3640 ppm untuk hari ke-3. Sedangkan, hasil dari pengukuran variasi luas permukaan elektroda didapat nilai power density maksimum 205,88 mW/m2 pada luas permukaan elektroda 3,57 m2 untuk hari ke-3. Semakin luas permukaan elektroda yang diberikan pada saat pengukuran, maka kontak bakteri pada elektroda semakin banyak sehingga menyebabkan nilai power density yang dihasilkan juga semakin besar.Bowo Eko Cahyono, S.Si., Ph.D (Dosen Pembimbing I)
Tri Mulyono, S.Si., M.Si, (Dosen Pembimbing II
Analisis Gaya Kepemimpinan Ketua pada Karyawan di Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Banyuwangi
Finalisasi unggah file repositori tanggal 9 Juni 2022_KurnadiKoperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat yang sekaligus berperan serta
untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur dalam sistem
perekonomian nasional yang dibangun sebagai badan usaha bersama berdasarkan
asas kekeluargaan dan ekonomi berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 (Undang-Undang 25/92, 3). Koperasi Pegawai Negeri memiliki unit
terbanyak dibandingkan Koperasi Unit Desa (KUD) dan koperasi dengan jenis
keanggotaan lainnya sejumlah 23.328 unit dengan total anggota mencapai
2.813.469 orang (Database Kementerian Koperasi dan UKM, 2020). Di Jawa Timur,
Koperasi Pegawai Negeri mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan
kelompok koperasi lainnya, yakni sejumlah 65,95% sejak diadakannya survei
perdana koperasi yang dilakukan pada tahun 1990 (Bank Data Diskopukm Provinsi
Jawa Timur, 2021), dan memiliki jumlah anggota Koperasi Pegawai terbanyak seIndonesia (Database Koperasi Kemenkop & UKM, 2021). Portal Data Diskop
UKM Jawa Timur menunjukkan bahwa Pusat Koperasi Pegawai Republik
Indonesia (PKPRI) banyak tersebar di berbagai kota/kabupaten di Provinsi Jawa
Timur, salah satunya adalah Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI)
di Banyuwangi.
Ketua pengurus koperasi dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam Rapat
Anggota dengan masa jabatan paling lama 5 (lima) tahun (Undang-Undang 25/92,
29:1,4). Ketua sebagai seorang pemimpin organisasi memiliki tugas sebagai
koordinator organisasi, koordinator usaha dan keuangan, serta perwakilan baik di
dalam maupun di luar organisasi (LPJ Pengurus dan Pengawas PKPRI Banyuwangi,
2020). Ketua tidak melakukan pengawasan kepada karyawan yang bekerja di kantor
secara langsung, namun kinerja Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia
(PKPRI) Banyuwangi secara umum selalu melampaui target yang telah
direncanakan. Hasil kinerja ini diproyeksikan ke dalam Laporan Pertanggung
Jawaban (LPJ) Pengurus dan Pengawas Tahun Buku 2020. Gaya kepemimpinan
Ketua Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Banyuwangi
memegang peranan penting dalam mendorong perkembangan Gerakan Koperasi
(LPJ Pengurus dan Pengawas Tahun, 2020). Gerakan Koperasi adalah keseluruhan
organisasi koperasi dan kegiatan perkoperasian yang bersifat terpadu menuju
tercapainya cita-cita bersama koperasi (Undang-Undang 25/92, 1;5).
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena apa yang
sedang dialami oleh subyek peneliti dengan cara mendeskripsikannya berupa katakata dalam konteks alamiah sesuai dengan permasalahan riset yang terkait.
Penggunan metode kualitatif dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
sesuatu sesuai dengan apa yang sedang terjadi di lapang tentang gaya
kepemimpinan yang diterapkan oleh Ketua pada karyawan di Pusat Koperasi
Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Banyuwangi. Proses pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan ditetapkan
sebagai Informan Kunci dan Informan Pendukung. Teknik analisis data yang
digunakan adalah Analisis Domain dan Analisis Taksonomi, lalu selanjutnya
dilakukan penarikan kesimpulan dan saran.
Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa Ketua Pusat Koperasi Pegawai
Republik Indonesia (PKPRI) Banyuwangi menerapkan 3 (tiga) macam gaya
kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan demokratik, partisipatif dan gaya
kepemimpinan delegatif. Gaya kepemimpinan demokratik diperoleh dari bentuk
pengambilan keputusan. Koperasi sebagai badan usaha yang berasaskan
kekeluargaan dan gotong royong, segala keputusan yang diambil harus didasari
oleh kata mufakat atau suara terbanyak. Ketua terbuka terhadap kritik atau saran
dari sesama pengurus dan karyawan. Gaya kepemimpinan partisipatif dapat dilihat
dari penyampaian motivasi dari Ketua yang memfokuskan pada perasaan saling
memiliki dan tanggung jawab dari seluruh stakeholder koperasi sehingga
terbentuknya perasaan tersebut menciptakan sebuah keserasian dalam bekerjasama
dan loyalitas.Dosen Pembimbing Utama : Drs. Sutrisno, M.Si.
Dosen Pembimbing Anggota : Drs. Suhartono, M.P
Peran Terapi Applied Behavior Analysis (ABA) Dalam Meningkatkan Perkembangan Bahasa Anak Autis Ringan Usia 4-5 Tahun Di SLB STARKIDS Jember
Gangguan perkembangan yang dialami anak autis ringan di SLB Starkids Jember salah satunya adalah perkembangan bahasa.
Terapi ABA dipilih untuk membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak autis berdasarkan pertimbangan bahwa komunikasi dua arah yang aktif, menambah kosakata sederhana, mampu mengungkapkan apa yang anak inginkan dan yang tidak diinginkan, mampu menyimak perkataan orang lain diperlukan agar anak autis ringan dapat sosialisasi ke dalam lingkungan yang umum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran terapi Applied Behavior Analysis (ABA) dalam meningkatkan perkembangan bahasa anak autis ringan usia 4-5 tahun di SLB Starkids Jember. Analisis data yang dipaparkan di dalam penelitian ini adalah berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi yang dilakukan yaitu untuk mengamati anak autis ringan ketika mengikuti terapi ABA dalam meningkatkan perkembangan bahasa. Adapun teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran terapi ABA dalam meningkatkan perkembangan bahasa anak autis ringan, terapi ABA dapat meningkatkan perkembangan bahasa anak autis ringan di antaranya perkembangan bahasa ekspresif : 1) Mengungkapkan apa yang diinginkan, 2) Mengungkapkan apa yang tidak diinginkan. Perkembangan bahasa reseptif: 1) Anak mampu menyimak, 2) Anak mampu memahami perintah, 3) Anak mampu memahami pertanyaan. Untuk meningkatkan perkembangan bahasa ekspresif, terapis berperan memberikan stimulus agar anak mengatakan apa yang diinginkan. Stimulus berupa pertanyaan misalkan benda apa yang diinginkan dan yang tidak diinginkan anak, menawarkan permainan, menirukan kata seperti mengucap salam (peran melatih). Untuk meningkatkan bahasa reseptif, terapis berperan melatih kemampuan anak, memberikan instruksi, memberikan clue (petunjuk) non verbal, membimbing melalui prompt fisik ketika anak tidak merespon