75643 research outputs found
Sort by
The Relationship Model Between Fear of COVID-19, Travel Anxiety, and Risk Attitude Towards Travel Intention in New Normal Era
Pariwisata merupakan salah satu daya tarik dari sebuah negara atau suatu tujuan wisata yang dapat menarik para wisatawan berkunjung. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penting bagi roda perekonomian Indonesia. Pada awal tahun 2020 dunia dikejutkan dengan munculnya pandemi Covid-19, tak terkecuali di Indonesia. Kegagalan dalam melakukan tindakan pencegahan/mitigasi terhadap berbagai ancaman bencana tersebut secara signifikan mempengaruhi keberlanjutan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model keterkaitan fear of covid-19, travel anxiety, dan risk attitude terhadap travel intention di era new normal dengan studi kasus pada wisata bahari di wilayah Tapal Kuda. Objek penelitian dalam penelitian ini yaitu wisatawan pada ekowisata BeeJay Bakau Resort, Pantai Payangan, Pantai Pulau Merah, serta Pantai Pasir Putih. Pendekatan riset yang digunakan pada penelitian ini adalah explanatory research. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling dan metode pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini tidak terhingga, dengan menggunakan metode Partial Least Square sehingga sampel penelitian yang digunakan sebanyak 324 responden. Metode analisis data yang digunakan adalah Partial Least Square. Penelitian ini menggunakan data cross section, sumber data yaitu data primer dan data sekunder.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fear of covid-19 berpengaruh signifikan terhadap travel anxiety, fear of covid-19 tidak berpengaruh signifikan terhadap risk attitude dan travel intention, travel anxiety berpengaruh signifikan terhadap risk attitude dan travel intention, dan terakhir risk attitude berpengaruh signifikan terhadap travel intention.Dr. Ika Barokah Suryaningsih, S.E., M.M. (Dosen Pembimbing)
Dr. Arnis Budi Susanto, S.E., M.Si (Dosen Pembimbing
Impact of The Covid-19 Pandemic on The Psychological Response of Adolescents: A Literature Review
The COVID-19 pandemic has had a tremendous impact on all aspects of life at all ages, especially
adolescents, that require appropriate resolution. This virus causes panic and restrictions imposed by
public health authorities in many countries, including travel bans, limiting social gatherings, and
closing public schools. This limitation impacts the psychology of adolescents that are prone to
emotional and behavioral development. This literature review aims to explore the impact of the covid19 pandemic on adolescent psychological responses. This study uses a literature review method with
article searches conducted on the Pubmed, ScienceDirect, and Scopus electronic databases. There
were 686 articles in the search databases Pubmed, ScienceDirect, and Scopus, but only ten articles
met all the inclusion criteria and were reviewed. The covid-19 can affect the physical and mental
health of a teenager. The prevalence of psychological disorders in adolescents is relatively high
There are four psychological symptoms: stress, depression, anxiety, and sleep disturbances. As
nurses, we can teach adolescents simple exercises, including deep breathing, muscle relaxation, and
positive self-talk. Nurse has an essential helping them understand their role in society, understand
that physical distance is not equal to distance emotional, and identify problems during the pandemic
Pengrauh Disiplin Kerja, Budaya Organisasi, dan Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan pada PT Intidaya Dinamika Sejati Jember
Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat mencapai tujuannya, salah
satu sumber daya perusahaan yang memiliki peran penting dalam mencapai
tujuannya adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan faktor
yang paling menentukan baik atau buruknya kinerja suatu perusahaan, semakin
baik sumber daya manusia maka kinerjanya akan baik pula, begitupun sebaliknya
sumberdaya manusia yang buruk maka juga akan menghasilkan kinerja yang
buruk. Di era yang semakin modern ini, semakin banyak perusahaan-perusahaan
baru yang bermunculan, mengakibatkan kompetisi antar perusahaan semakin
ketat, sehingga perusahaan akan meningatkan kualitas sumber daya manusia yang
dimilikinya agar dapat terus bersaing. Peningkatan Kinerja karyawan harus
menjadi perhatian bagi perusahaan, beberapa cara meningkatkan kinerja karyawan
adalah meningkatkan disiplin kerja karyawan, meningkatkan pemahaman akan
budaya organisasi, dan juga komunikasi yang baik.. Penelitian ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh disiplin kerja,
budaya organisasi, dan komunikasi terhadap kinerja karyawan pada PT Intidaya
Dinamka Sejati Jember. Waktu penelitian selama bulan November 2021 hingga
bulan Maret 2022. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian in
adalah explanatory research. Populasi penelitian ini adalah sebanyak 185 orang
dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling
dengan total sampel sebanyak 55 responden. Jenis data yang digunakan adalah
data kualitatif yang di kuantitatifkan. Sumber data menggunakan data primer
melalui kuisioner dan data sekunder dari website perusahaan. Metode analisis
yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.
Hasil penelitian menggunakan software SPSS v.26 menunjukkan bahwa
variable disiplin kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja karyawan, budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja karyawan, dan komunikasi memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja karyawan.Dosen Pembimbing I Dr. Arnis Budi Susanto, S.E, M.Si, CRA.
Dosen Pembimbing II Drs. Nyoman Gede Khrisnabudi, M.Agb
Investigating the Causes of Willingness To Communicate in English Classroom Among Students at SMP Negeri 3 Jember
Communication is a skill that needs to be furnished over time. Tara and O'Hara (2008) argue that communication is neither a passive or predictable event. However, aside from the fact that most people acquired the ability to talk since they were born, not all people can communicate well unless they are committed into making special efforts to develop and refine this skill further (Ludlow & Panton, 1992). Beyond the classroom environment, there are no multilingual settings that demand students to use the English language, particularly in rural areas. Moreover, they have only little contact with the speakers of English in their environment. (Daming, 2003; Li, 1998). Thus, developing students’ willingness to communicate (WTC) is important to make students more frequent in using English within communicative activities. The extent of WTC that learners have would affect their performance in communicative activities and determine the result of their learning outcome. This research used a qualitative case study that investigated the causes of students’ WTC in English classroom environment. Through the qualitative case study, I can get thorough data that could give me a holistic understanding of students’ WTC causes. In getting the data, I used observation and interview methods. I developed the observation criteria and interview questions based on MacIntyre, et al (1998) WTC aspects in L2. I collected observation data to get the depiction of WTC aspects in students’ learning environment and choosing the 3 research participants. For the interview, I used it to get students’ WTC information from research participants’ (students) perspective and context participant’s (teacher) perspective. I chose students of a Junior High School in Jember as the school for me to get my research data. I analyzed the result from the interview and observation using content analysis that I adopted from Erlingsson & Brysiewic (2017). The procedures are analyzing the meaning units within the data texts, then turn them into condensed meaning units and,finally, those condensed meaning units would be coded then I can interpret the relevance of the finding to answer my research question. The result of this research showed that the causes of students’ WTC in classroom were divided into internal causes and external causes. For Internal causes, there are English-language confidence, self-perceived interpersonal relationship, and personality. On the other hand, the external causes are learning activities, lesson’s complexity, teacher’s classroom management, classroom facilities, peers' attitude, and lesson’s time placement. Internal causes come from the students themselves and those causes is difficult to alter as those causes are attached to students personally. However, external causes can be altered by the teacher as it comes from students’ surroundings. Thus, these two types of causes indeed have some extent of effect towards students’ willingness to communicate. The result of this research is hoped to provide meaningful contributions especially for the English teacher, and the other researchers. For English teachers, the results of this study can be applied when English teachers decided to make a more communicative learning activity because students’ WTC would be more likely to be higher as the WTC causes are taken into consideration. Moreover, for the other researchers, the result of this research can inspire other researchers to investigate the topic of willingness to communicate in different focus by employing different WTC theories or taking other research participants to gain more different result and, thus, fulfill the void of knowledge in WTC.Siti Masrifatul Fitriyah, S.Pd., M.A., Ph.D (Dosen Pembimbing I)
Mutiara Bilqis, S.Pd, M.Pd (Dosen Pembimbing II
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Sharing Task dan Jumping Task pada Materi Aritmatika Sosial ditinjau dari Kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin modern
dibutuhkan pembelajaran dasar yang berhubungan untuk menghadapinya.
Pembelajaran dasar yang berhubungan pada perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan yaitu salah satunya pembelajaran matematika, diperlukan kemampuan
yang berkaitan dengan pembelajaran matematika, yakni kemampuan berpikir kritis,
logis, serta kreatif. Salah satu kemampuan penting pada pembelajaran matematika
ialah kemampuan berpikir kritis. Terdapat hasil penelitian yang membuktikan
bahwa kemampuan berpikir kritis yang dimiliki siswa masih berada pada golongan
rendah. Hasil penelitian Hidayanti et al, (2016) menyimpulkan bahwasannya “siswa
kelas IX SMPN 2 Malang dengan hasil yang diperoleh pada setiap indikator masih
berada dibawah 50%. Dengan demikian, tingkat kemampuan berpikir kritis siswa
kelas IX SMPN 2 Malang berada pada kategori rendah”. Penerapan kemampuan
berpikir kritis dapat dilakukan dengan beberapa metode. Salah satunya dengan
menggunakan soal sharing task dan jumping task. Setiap individu memiliki
kemampuan berpikir kritis yang berbeda-beda hal ini dipengaruhi oleh karakter
kepribadian masing-masing. Kepribadian setiap individu dapat mempengaruhi
aktivitas yang dikerjakan maupun keputusan yang dibuat. Hal tersebut juga berlaku
pada siswa yang memiliki perbedaan tipe kepribadian untuk mengerjakan soal yang
berbasis sharing task dan jumping task. Tujuan penelitian ini ialah untuk
mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa kepribadian ekstrovert dan introvert
dalam menyelesaikan soal sharing task dan jumping task materi aritmatika sosial.
Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2022 dengan
pemberian angket tipe kepribadian siswa, soal jumping task, soal sharing task yang
telah divalidasi oleh tiga validator yakni satu orang dosen pendidikan bahasa
inggris, satu orang dosen pendidikan matematika, dan guru matematika SMP
Negeri 11 Jember. Penelitian dilakukan di kelas VIII F oleh semua siswa yang
berjumlah 30. Setelah siswa mengisi angket tes tipe kepribadian diperoleh 12 siswa
dengan kepribadian introvert dan 18 siswa dengan kepribadian ekstrovert, lalu
siswa mengerjakan soal jumping task secara individu. Setelah itu, dari hasil angket
tipe kepribadian dan hasil mengerjakan soal jumping task siswa akan
dikelompokkan sesuai dengan tipe kepribadian dan kriteria kemampuan berpikir
kritis untuk mengerjakan soal sharing task sesuai kelompok yang telah ditetapkan.
Pemilihan subjek wawancara sebanyak 6 siswa dengan masing-masing tipe
kepribadian dan kriteria kemampuan berpikir kritis tinggi, sedang dan rendah.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang
memiliki kepribadian ekstrovert dan introvert dalam menyelesaikan soal sharing
task dan jumping task pada materi aritmatika sosial berada pada kategori tinggi,
sedang, dan rendah. Hal ini berdasarkan hasil rata-rata nilai akhir siswa kepribadian
ekstrovert mengerjakan soal sharing task dan jumping task yakni 77, 70 dan 43 serta
hasil rata-rata nilai akhir siswa kepribadian introvert mengerjakan soal sharing task
dan jumping task yakni 83, 62 dan 35. Keterpenuhan indikator subjek SE 1
memenuhi lima indikator kemampuan berpikir kritis yakni: focus, reason,
inference, situation, clarity. Subjek SE 2 memenuhi tiga indikator yakni: focus,
inference, dan situation. Subjek SE 3 memenuhi dua indikator yakni: focus dan
overview. Keterpenuhan indikator subjek S1 1 memenuhi enam indikator
kemampuan berpikir kritis yakni: focus, reason, inference, situation, clarity dan
overview. Subjek SI 2 memenuhi empat indikator yakni: focus, inference, situation,
dan overview. Subjek SI 3 memenuhi dua indikator yakni: focus dan overview.
Dengan demikian, siswa dengan kepribadian ekstrovert dapat memenuhi indikator
kemampuan berpikir kritis dari hasil wawancara dan hasil tes sharing task dan
jumping task yakni: focus, inference dan situation dan siswa dengan kepribadian
introvert dapat memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis dari hasil
wawancara dan hasil tes sharing task dan jumping task yakni: focus, inference,
situation, dan overview.Dosen Pembimbing utama : Dr. Dian Kurniati, S.Pd., M.Pd.
Dosen Pembimbing anggota : Dhanar Dwi Hary Jatmiko, S.Pd., M.Pd
STRESS ANALYSIS ON PROVISION CRANE JOINT OF HECTOR SHIP 888 K.17091
Finalisasi unggah file repositori tanggal 14 April 2022_KurnadiThe Hector 888 ship is a type of tugboat that is used to pull or push other ships that will enter the port and to carry goods. The process of loading and unloading goods that occur at the pier requires a crane to help transport or move goods. Cranes use welded joints to connect each part of the structure. The method used in this research is static structural with ANSYS workbench. This study seeks to obtain the value of the stress that occurs in welded joints with the shape of the H-Beam section and the pipe cross-section. The purpose of this study is to determine the amount of stress that occurs in the provision crane so that it can determine the potential failure that occurs. The load that occurs on the provision crane with a pipe cross section of A100 SCH 80 using von-mises can be found to be 81,272 MPa on the simulation results using ANSYS R18.1 software and has a value of 56.391 MPa on the results of mathematical calculations using the von-mises. The loading that occurs in the H-beam SS400 using von-mises can be found to be 94,378 MPa on the simulation results and has a value of 68,685 MPa on the results of mathematical calculations using the von Mises. Stress von-mises connection boom arm with the boom arm is 81,079 MPa. Sectional welding connection H-Beam stress concentration occurs at the hinge with a von-mises stress of 64,226 MPa.Dosen Pembimbing Utama : Dr. Ir. Gaguk Jatisukamto, S.T., M.T.
Dosen Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Mochamad Asrofi, S.
Dinamika Penelitian Sistem Informasi Akuntansi Pemerintahan Daerah di Indonesia
Pemerintahan daerah mengembangkan proses pelaporan keuangan dengan
menggunakan sistem informasi akuntansi yang mudah dipahami. Pemerintahan daerah
melakukan perkembangan mengenai standar akuntansi pemerintahan pada PP No 71
Tahun 2010 berkembang menjadi PP No 95 Tahun 2018 yang mengatur mengenai
sistem elektronik di pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Oleh karena itu,
peneliti ingin mengembangkan penelitian sistem informasi akuntansi pemerintahan
daerah di Indonesia dengan memahami dan mengkaji terkait metode penelitian,
variabel penelitian, dan disiplin ilmu. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Charting the Field. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
metode dokumentasi dengan jurnal jurnal yang terakreditasi SINTA 2, SINTA 3, SINTA
4, dan SINTA 5 dan menggunakan tahun penelitian 2010-2020 dengan topik sistem
informasi akuntansi pemerintahan daerah di Indonesia. Hasil penelitian dapat
menjelaskan bahwa perkembangan penelitian terkait sistem informasi akuntansi
pemerintahan daerah di Indonesia pada tahun 2010-2020 mengalami naik turun dalam
jumlah publikasinya. Peneliti juga telah melakukan klasifikasi penelitian sistem
informasi akuntansi pemerintahan daerah di Indonesia dengan metode penelitian
sebanyak 5 metode penelitian, variabel penelitian sebanyak 2 variabel penelitian, dan
disiplin ilmu sebanyak 5 disiplin ilmu. Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan
penelitian terkait faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi
pemerintahan daerah di Indonesia.Moch. Shulthoni, S.E., M.SA.(Pembimbing I)
Dr. Wahyu Agus Winarno, S.E., M.Sc., Ak .(Pembimbing II
Peran Wanita dalam Rumah Tangga Buruh Pemetik Teh di PTPN XII Gunung Gambir Desa Gelang Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember
Perkebunan Teh Gunung Gambir merupakan salah satu perkebunan teh yang berasal dari Kabupaten Jember tepatnya berada di Kecamatan Sumberbaru. Perkebunan Teh Gunung Gambir merupakan sub sektor pertanian yang berada di bawah naungan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang menyerap tenaga kerja paling banyak khususnya tenaga kerja wanita dalam bidang pemanenan atau pemetikan pucuk teh yang merupakan faktor terpenting dalam perkebunan. Keikutsertaan wanita yang telah berstatus menikah dalam mencari nafkah akan menimbulkan peran ganda dan dituntut agar dapat bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga, pekerjaan serta sebagai anggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) peran tenaga kerja wanita buruh pemetik teh di Desa Gelang Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember (2) akses dan kontrol buruh pemetik teh Desa Gelang Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive menthod). Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif. Metode penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling dengan pertimbangan bahwa kriteria yang ditetapkan oleh peneliti dapat tepat sasaran pada informan yang dapat memberikan informasi terkait dengan permasalahan dalam penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang dianalisis menggunakan metode analisis Harvard. Uji keabsahan data menggunakan dua macam trianggulasi yakni sumber dan trianggulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) peran wanita dalam rumah tangga buruh pemetik teh di PTPN XII Gunung Gambir Desa Gelang meliputi peran produktif dengan bekerja sebagai buruh pemetik teh. (2) Peran domestik meliputi kegiatan memasak, belanja, merawat anak, menyetrika dan mencuci baju, membersihkan rumah dan mendampingi suami. (3) Peran sosial meliputi kegiatan arisan, pengajian dan gotong-royong. (2) Akses dan kontrol dalam rumah tangga buruh pemetik teh di PTPN XII Gunung Gambir Desa Gelang terdiri dari sumberdaya dan manfaat. Sumberdaya meliputi peralatan atau teknologi dan kredit koperasi sedangkan untuk manfaat yang didapatkan terdiri dari pemenuhan kebutuhan dasar (makanan), kerjasama, status kerja dan penghasilan yang diperoleh.Lenny Widjayanthi, SP., M.Sc., Ph.D (Dosen Pembimbing I
Implikatur Nonkonvensional Tuturan Guru dalam Pembelajaran di SMA Negeri Arjasa: Kajian Pragmatik
Pembelajaran merupakan proses penyampaian ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memberikan sesuatu yang bermakna bagi peserta didik dalam situasi formal yang difasilitasi oleh guru. Guru sebagai fasilitator pembelajaran tentu menggunakan tuturan pada saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan-tuturan yang dimunculkan dapat memiliki makna dan maksud yang berbeda. Hal ini dapat dikatakan bahwa guru telah menggunakan implikatur tuturan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud dan fungsi implikatur nonkonvensional, menginterpretasikan manfaat penggunaan implikatur nonkonvensional, dan memaparkan tanggapan peserta didik terhadap penggunaan implikatur nonkonvensional tuturan guru pada saat pembelajaran berlangsung.
Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian kualitatif. Wujud data penelitian ini adalah kata-kata dalam tuturan guru dan konteks yang menyertainya. Subjek penelitian ini adalah guru mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Tempat penelitian di SMA Negeri Arjasa. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik simak, catat, rekam, dan wawancara. Setelah diurutkan dan diberi kode, data dianalisis dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Analisis data dilakukan untuk mengungkap wujud dan fungsi implikatur nonkonvensional, manfaat penggunaan implikatur nonkonvensional, dan memaparkan tanggapan peserta didik terhadap penggunaan implikatur nonkonvensional yang dilakukan guru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengajar guru menggunakan implikatur nonkonvensional. Implikatur nonkonvensional yang digunakan dalam bentuk modus tuturan yang berbeda-beda. Wujud yang ditemukan ialah modus deklaratif, imperatif, dan interogatif. Implikatur nonkonvensional yang diwujudkan dengan modus deklaratif memiliki ciri, yaitu terdapat subjek (S) dan Predikat (P) sebagai penanda menyatakan sesuatu hal. Modus imperatif diwujudkan dengan menggunakan kata kerja yang biasanya juga diikuti dengan partikel ¬–lah atau –kan sebagai wujud perintah atau suruhan. Modus interogatif diwujudkan dengan membubuhkan pemarkah pertanyaan seperti apa, siapa, bagaimana, dan sebagainya. Selain itu, modus interogatif juga ditandai dengan penggunaan partikel –kah
Selanjutnya, implikatur nonkonvensional yang dimunculkan oleh guru juga memiliki fungsi yang bervariasi. Pertama, berfungsi meminta atau menyuruh peserta didik untuk melakukan suatu hal. Kedua, implikatur yang berfungsi mengancam peserta didik agar tidak melakukan perbuatan atau aktivitas tertentu. Berikutnya, fungsi menasihati agar peserta didik mampu menjadi seseorang yang lebih baik. Keempat, fungsi menyindir peserta didik agar lebih peka dan sigap atas sesuatu hal. Terakhir, fungsi menegur peserta didik agar segera memperbaiki (mengubah) perilaku atau sikap yang kurang pantas. Fungsi-fungsi tersebut ditemukan dengan cara mengaitkan antara tuturan dengan konteks yang gayut di dalamnya.
Selain itu, penggunaan implikatur oleh guru dilatarbelakangi oleh hal-hal tertentu, yaitu untuk memperhalus tuturan, melatih kepekaan, memunculkan kesan humor, dan memotivasi peserta didik. Motivasi guru untuk memperhalus tuturan agar peserta didik tidak tersinggung dengan ucapan guru. Guru juga termotivasi untuk melatih kepekaan peserta didik agar mampu tanggap dan sigap dalam menghadapi suatu permasalahan. Latar belakang penggunaan implikatur untuk memunculkan kesan humor dilakukan guna mencairkan suasana pembelajaran yang mulai terasa jenuh. Selanjutnya, guru menggunakan implikatur dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memotivasi peserta didik agar menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya. Peserta didik senang dengan penggunaan implikatur nonkonvensional oleh guru karena merasa dihargai. Rasa senang tersebut karena peserta didik secara umum telah memahami implikatur nonkonvensional yang digunakan oleh guru.Prof. Dr. Sukarno, M.Litt.
Prof. Dr. Bambang Wibisono, M.Pd
Tinjauan Yuridis Perkosaan dalam Rumah Tangga (Putusan Nomor 899/Pid.Sus/2014/PN.Dps)
Finalisasi unggah file repositori tanggal 27 April 2022_KurnadiKekerasan seksual terhadap istri yang terjadi dalam rumah tangga lebih
dikenal oleh masyarakat umum disebut dengan istilah marital rape yang diartikan
sebagai pemerkosaan yang terjadi dalam sebuah ikatan perkawinan. Akan tetapi,
pengertian yang lebih luas dipahami oleh berbagai kalangan perihal marital rape
adalah istri yang memperoleh tindak kekerasan seksual oleh suami atau
pemaksaan yang dilakukan oleh semua terhadap istri untuk melakukan aktivitas
seksual tanpa mempertimbangkan kondisi istri. Atau memaksakan untuk
melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau tidak disukai
istri.
Di Indonesia sudah ada beberapa putusan pengadilan mengenai masalah
kekerasan seksual dalam rumah tangga, salah satunya yaitu Putusan Nomor
899/Pid.Sus/2014/PN.Dps yang dilakukan oleh Tohari. Tohari terbukti telah
melakukan kekerasan seksual kepada istrinya dan melanggar Pasal 8 huruf a Jo
Pasal 46 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga.
Perbuatan terdakwa, didakwa dengan dakwaan alternatif. Bentuk dakwaan
ini digunakan bila belum didapat kepastian tentang Tindak Pidana mana yang
paling tepat dapat dibuktikan. Meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan,
tetapi hanya satu dakwaan saja yang akan dibuktikan. Oleh karena dakwaan
disusun secara alternatif maka Majelis Hakim akan mempertimbangkan dakwaan
yang dianggap terbukti yaitu Dakwaan Alternatif Kesatu, melanggar Pasal 46 UU
No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
karena terdakwa memenuhi unsur setiap orang, dimana dalam fakta persidangan
terdakwa pada waktu awal pemeriksaan persidangan telah dinyatakan oleh Majelis
Hakim identitas terdakwa yang tercantum di dalam surat dakwaan dan dijawab
oleh terdakwa yang tercantum dalam surat dakwaan dan setiap pertanyaan yang
diajukan di muka persidangan kepada terdakwa telah dapat dijawab dengan baik
sehingga terdakwa tidak cacat jiwanya dan mampu bertanggung jawab terhadap
perbuatan yang telah terdakwa lakukan. Dengan demikian unsur setiap orang telah
terbukti secara sah dan meyakinkan, Terdakwa juga memenuhi unsur melakukan
perbuatan kekerasan seksual sebagaimana dimaskdu dalam Pasal 8 huruf a UU
No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor
899/Pid.Sus/2014/Pn.Dps diantaranya terdakwa telah terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan seksual dalam rumah
tangga yang tercantum dalam Pasal 46 UU No.23 Tahun 2004. Majelis hakim
dalam memutus perkara ini menggunakan Pasal 46 UU No. 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga Pertimbangan hakim
sebagaimana sesuai dengan fakta-fakta hukum yang telah dibuktikan oleh jaksa
penuntut umum bahwa terdakwa dengan sengaja melakukan tindak kekerasan
seksual dalam rumah tangga yang menimbulkan luka fisik pada tubuh dan
kemaluan korban. Serta sudah terpenuhinya unsur- unsur yaitu unsur setiap orang
dan unsur melakukan perbuatan kekerasan seksual. Dari faktor yang memberatkan
dan meringankan hukuman, salah satu faktor yang memberatkan hukuman adalah
terdakwa telah menyakiti dan melukai saksi korban yang merupakan istri
terdakwa dan terdakwa tidak merasa bersalah dengan perbuatan yang sudah
dilakukannya. Sedangkan faktor yang meringankan adalah terdakwa belum pernah
dihukum dan terdakwa berusia lanjut. Maka dari fakta dan pertimbangan hukum
tersebut, majelis hakim menjatuhkan hukuman 5 (lima) bulan penjara kepada
terdakwa dari tuntutan semula 10 (sepuluh) bulan dari jaksa penuntut umum.Dosen Pembimbing Utama,SAMSUDI, S. H., M. H
Dosen Pembimbing Anggota, LAILI FURQONI, S. H., M. H