75643 research outputs found
Sort by
Protein Kandidat Vaksin Malaria
Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia sudah mendeklarasikan program eliminasi malaria secara bertahap sampai 2030. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Selain pendekatan dengan diagnosis dini, terapi yang tepat dan cepat, pencegahan penularan melalui pengendalian vektor, dan surveillans epidemiologi, pendekatan dengan vaksin juga merupakan pilihan upaya yang dapat dilakukan untuk pengendalian penyakit infeksi, termasuk malaria. Pada buku pertama kami yang berjudul ‘Vaksin Malaria’ telah dibahas mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan vaksin malaria, mulai dari jenisjenis vaksin malaria, upaya pengembangan vaksin yang sudah dan sedang dilakukan mulai dari vaksin berisi parasit secara keseluruhan maupun pengembangan generasi vaksin kedua berupa vaksin subunit dan generasi vaksin ketiga yaitu vaksin DNA. Sebagai pengembangan pada buku pertama, buku berjudul ‘Protein Kandidat Vaksin Malaria’ ini akan dibahas secara lengkap tentang pendekatan vaksin generasi baru untuk mengendalikan malaria, yaitu melalui pendekatan bioteknologi. Pendekatan ini dipilih salah satunya berkaitan dengan kompleksitas siklus hidup parasite penyebab malaria. Dalam buku ini dikupas tentang macam-macam protein Plasmodium yang telah diteliti dan merupakan protein kandidat pengembangan vaksin malaria, baik yang baru menjalani uji praklinis maupun yang sudah sampai pada tahap uji klinis. Salah satu protein yang mempunyai potensi untuk menjadi kandidat vaksin malaria, yaitu Plasmodium falciparum Erythrocyte Protein 1 (PfEMP1) akan dibahas tuntas dalam buku ini, berikut protein-protein lain. Buku ini ditulis untuk para peneliti di bidang kedokteran dan kesehatan, praktisi kedokteran dan kesehatan, akademisi dan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah berperan dalam upaya memberikan pengetahuan, hasil penelitian dan menyelesaikan penulisan buku ini. Penulis berharap karya kecil ini dapat menjadi sumbangsih untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah terutama dalam hal pengendalian penyakit malaria
Transformative Learning Model for Parenting Education Program
The purpose of this study is to produce a transformative learning model in parenting education programs
organized by early childhood education institutions in changing the terms of reference for children's
education to be even better and in synergy with those carried out by educational institutions. This
research includes development model research. The results of this study are a transformative learning
model in a parenting education program that uses five components, namely (1) syntax; (2) Social
System; (3) Reaction Principle; (4) Support System and (5) Instructional Impact and Accompaniment.
The steps of Transformative Learning used in the parenting education process consist of 4 steps of field
activities, namely: (1) problem development steps; (2) critical reflection development steps; (3) location
of determination and implementation of action; and (4) assistance steps taken by educators of early
childhood education institutions to early childhood parents in the form of consultations, group
discussion activities, and face-to-face activities (class sessions). The success of transformative learning
in this parenting education program is that there is a change in the frame of reference of the parents of
early childhood which comes from themselves, and the function of educators in this transformative
learning process is as a facilitator and counselor in helping towards the change process
The caries pattern of tooth surface of children at SDN Mangaran 2 in Kebun Renteng, Jember Regency
Mengetahui pola karies permukaan gigi anak di SDN Mangaran 2 Kebun Renteng Jember. Metode: Deskriptif observasidengan pendekatancross sectional.Sampel adalah siswa kelas I-III berjumlah 38 siswa, dengan teknik total sampling.
Datadibahas secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel.Hasil:Kariespadagigisulunglebihseringterjadipadapermukaanmesialdanpalingsedikitpada permukaan fasial atau bukal,sedangkankariespadagigipermanenlebih sering terjadi pada
permukaan oklusal.Simpulan:Permukaan mesial merupakan permukaan yang palingrawankaries pada gigi sulung, sedangkan pada gigi permanen paling rawan mengalami karies pada permukaan oklusal.
Kata kunci: karies, gigi sulung, gigi permanen, permukaan gig
PATOLOGI MULUT Tumor Odontogen Rongga Mulut
Di dalam Pembelajaran dan atau praktik klinis kedokteran gigi
mahasiswa Kedokteran Gigi dan seorang dokter gigi seringkali menjumpai
tumor di rongga mulut yang menunjukkan gambaran klinis dan simtomsimtom yang sama atas sekelompok penyakit yang berbeda sehingga
menyulitkan dalam menegakkan diagnosis klinis, untuk itu mahasiswa dan
atau dokter gigi memerlukan satu atau lebih pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang dalam rangka untuk menegakkan diagnosis definitif
atau diagnosis pasti untuk tumor rongga mulut khususnya tumor odontogen
dilakukan dengan pemeriksaan radiografi dengan berbagai proyeksi, CT
Scanning, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan pemeriksaan Histo
Patologi Anatomi (HPA) melalui material biopsi ataupun material operasi.
Pemeriksaan HPA Tumor odontogen bertujuan untuk melihat
perubahan sel-sel odontogen atau jaringan pada kelainan patologis di rongga
mulut untuk mendapatkan diagnosa yang akurat melalui pewarnaan jaringan
konvensional maupun immunologis. Spesimen dapat diperoleh melalui pap
smear, stamp, biopsi punch, biopsi insisi,atau biosi eksis
waste management for environmental safety in the effort to support biosafety of agricultural biotechnology products university of jember
The purpose this study was to obtain information on waste management of biotechnology products,which focused on agricultural product at the university of jember
Isolation of Antimalarial Agents From Indonesian Medicinal Plants: Swietenia mahagoni and Pluchea indica
Malaria is a neglected tropical disease that still demands serious efforts to tackle successfully, including the need for new antimalarial
lead compounds to combat drug-resistant Plasmodium. Intensive phytochemical and pharmacological investigation into the
Indonesian medicinal plants Swietenia mahagoni and Pluchea indica successfully revealed 5 constituents. Antimalarial bioassays indicated
34,5-tri-O-caffeoylquinic acid (4) to be the most active against Plasmodium falciparum 3D7 and Dd2 strains with IC50 values of 8.2 and
8.8 µM, respectively. No cytotoxicity was observed against Human Embryonic Kidney cells at a concentration of 40 µM
Pengaruh Faktor Risiko Terjadinya Katarak Terhadap Katarak Senil pada Petani di Wilayah Kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember
Finalisasi unggah file repositori tanggal 7 Juni 2022_KurnadiBerdasarkan data penelitian Kesehatan Dasar Indonesia pada tahun 2007 dan
2013 prevalensi katarak senilis ditemukan sebesar 1,8 %, dalam hal ini
diperkirakan kejadian katarak pertahunnya akan ditemukan sebesar 0,1%.
Penduduk Indonesia cenderung menderita penyakit katarak 15 tahun lebih cepat
dibandingkan penduduk di negara subtropis. Hasil survei RAAB (Rapid
Assesment of Avoidable Blindness) yang dilakukan Kemenkes RI prevalensi
kebutaan pada penduduk usia diatas 50 tahun Provinsi Jawa Timur menjadi
provinsi paling tertinggi (4,4%). Proporsi kebutaan akibat katarak pada usia diatas
50 tahun di Jawa Timur mencapai 8,5%. Wilayah Kerja Puskesmas Tempurejo
adalah puskesmas yang menemukan angka kejadian katarak terbanyak di
Kabupaten Jember dengan 3,046 kasus katarak. Pada tahun 2018 angka katarak di
Kabupaten Jember mengalami peningkatan sebanyak 3,229 dengan catatan kasus
baru dan 1,578 kasus lama. Pada tahun berikutnya wilayah kerja Puskesmas
Tempurejo kembali menduduki wilayah tertinggi dengan angka kejadian katarak
yaitu sebanyak 404 penderita katarak baru. Jumlah keseluruhan kasus katarak di
Puskesmas Tempurejo tahun 2019 mengalami peningkatan kembali menjadi 346
penderita katarak dan merupakan prevalensi tertinggi diantara Puskesmas
Kabupaten Jember.
Penyakit katarak adalah salah satu gangguan penglihatan yang berpotensi
dialami oleh siapapun. Salah satu faktor yang menyebabkan katarak yaitu : jenis
kelamin, tingkat pendidikan, riwayat penyakit, paparan sinar ultraviolet, kebiasaan
merokok, dan faktor pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh faktor risiko katarak terhadap terjadinya katarak senil pada
petani di wilayah kerja puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan case
control. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Tempurejo
Kabupaten Jember pada bulan Maret - Mei 2021. Pengumpulan data dilakukan
dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun sampel kasus
penelitian ini adalah petani dengan status gangguan penglihatan yang terdiagnosis
sebagai kasus katarak di wilayah kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember
2020 sebanyak 48 petani. Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah petani
dengan status penglihatan mata normal dan tidak pernah terdiagnosis katarak di
wilayah kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember 2020 melalui teknik
accidental sampling sebanyak 48 petani. Pengambilan data dilakukan dengan cara
wawancara, dokumentasi, dan observasi. Analisis statistik data dilakukan dengan
SPSS 22.0 menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi
square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan kejadian katarak ditemukan pada
kebanyakan petani berjenis kelamin perempuan sebesar 54,2%, petani dengan
tingkat pendidikan dan pengetahuan rendah sebesar 63,5%, dan 47,9%, sosial
ekonomi kurang sebesar 66,7%; petani dengan tidak memiliki riwayat hipertensi
sebesar 75,0%, petani dengan berstatus mantan perokok/perokok sebesar 58,3%,
petani yang bekerja di luar gedung >4 jam per harinya sebesar 65,6%. Adapun
faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian katarak senil diantaranya yaitu
faktor jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pengetahuan, sosial ekonomi, dan
pekerjaan di luar gedung. Faktor risiko yang tidak memiliki pengaruh terhadap
katarak senil yaitu faktor riwayat hipertensi, dan kebiasaan merokok. Faktor risiko
yang paling berpengaruh dalam penelitian ini terhadap terjadinya katarak senil di
wilayah kerja Puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember yaitu variabel Jenis
kelamin.
Jadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah variabel jenis kelamin
merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian katarak senil di
wilayah kerja puskesmas Tempurejo Kabupaten Jember.
Rekomendasi dari penelitian ini yaitu pekerja petani melakukan
monitoring lingkungan kerja dengan cara menganalisis faktor-faktor risiko yang
mengarah terjadinya penyakit katarak senil di sektor pertanian. Meningkatkan
kualitas diri petani dengan mengikuti pendidikan atau pelatihan mengenai
pentingnya menjaga kesehtan mata dari penyakit katarak senil. Melakukan
pengaturan jam kerja dengan tujuan mengurangi lama paparan sinar ultraviolet
dengan memberikan jeda waktu istirahat dan atau pengaturan sift kerja di sektor
pertanian. Meningkatkan kualitas kesehatan dengan cara mengatur pola makan
akan kaya protein serta melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara rutin
ataupun secara berkala. Penggunaan alat pelindung diri secara lengkap saat
bekerja berupa penggunaan topi dan kacamata agar mampu meminimalisir
paparan sinar ultraviolet pada mataDosen pembimbing utama : dr. Al Munawir, M.Kes., Ph.D
Dosen Pembimbing Anggota : dr. Supangat, M. Kes., Ph.D., Sp.B
Strategi Pengembangan Unit Usaha Bumdes (Studi Kasus: Program Kemitraan PT. Pertagas Dengan Bumdes Sewu Barokah Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo)
Finalisasi unggah file repositori tanggal 28 Juni 2022_KurnadiSejak disahkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka negara Indonesia dibagi menjadi daerah provinsi dan kabupaten atau kota yang masing-masing memiliki pemerintahan daerahnya sendiri. Dalam desentralisasi, otonomi daerah mewajibkan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam sasaran pelaksanaan otonomi daerah, selain menempatkan provinsi dan kabupaten atau kota, pemerintah kemudian menempatkan desa yang kemudian disebut otonomi desa dan hal tersebut telah diakui dan disahkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Salah satu bentuk dalam rangka memajukan perkonomian masyarakat desa adalah dengan membentuk suatu lembaga yang mampu membuka ruang yang lebih luas untuk masyarakat, menambah penghasilan, serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa itu sendiri. Bentuk lembaga yang sesuai dengan kebutuhan tersebut adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Salah satu daerah di Jawa Timur yang telah memiliki BUMDes di pedesaannya adalah Kabupaten Sidoarjo, khususnya di Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin. BUMDes yang bernama BUMDes Sewu Barokah tersebut berdiri pada tahun 2019 dan mampu menjadikan Desa Penatarsewu yang pada mulanya merupakan desa tertinggal yang saat ini telah menjadi desa
vii
berkembang. Keberhasilan BUMDes tersebut menjadikan Desa Penatarsewu memiliki ikon desa tersendiri dengan adanya bangunan Resto Apung milik BUMDes yang telah bekerja sama dengan PT. Pertamina Gas (Pertagas). BUMDes tersebut juga telah membawa Desa Penatarsewu menjuarai lomba desa melangkah yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Namun pada saat ini, BUMDes Sewu Barokah melalui unitnya yang berupa Resto Apung yang menjadi ikon desa Penatarsewu tengah mengalami beberapa kendala sehingga memerlukan strategi yang perlu dilakukan untuk pengembangan Resto Apung tersebut.
Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan strategi pengembangan Bidang Usaha BUMDes Sewu Barokah di Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Waktu penelitian yang dilakukan adalah 2 bulan dengan rentang waktu bulan Oktober hingga November tahun 2021. Untuk menentukan strategi tersebut, peneliti menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) dengan mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal lingkungan terlebih dahulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, observasi non partisipatif dan non sistemik, serta dokumentasi.
Hasil identifikasi dalam penelitian ini memaparkan bahwa terdapat 16 faktor internal, yang terdiri dari 9 faktor kekuatan (strength) dan 7 faktor kelemahan (weakness) dengan nilai 2,00. Kemudian terdapat 11 faktor eksternal, yang terdiri dari 6 faktor peluang (opportunities) dan 5 faktor ancaman (threats) dengan nilai 1,2. Dalam penelitian ini, Resto Apung Seba berada pada kuadran I dengan mengutamakan strategi agresif. Dalam identifikasi matriks SWOT telah dirumuskan strategi agresif atau strategi S-O yang akan dilakukan oleh Resto Apung Seba, diantaranya (1) Mengoptimalkan wahana permainan yang tersedia seperti sepeda air, (2) Membuat kawasan spot foto di sekitar kawasan resto, (3) Menambah fasilitas alat pancing bagi pengunjung resto, (4) Mengupgrade bangunan saung agar lebih kokoh sehingga nuansa pedesaan tetap melekat, (5) Mengoptimalkan tambak untuk fasilitas kolam pancing, (6) Menggencarkan
viii
promosi melalui media sosial dan website, (7) Mendaftarkan resto pada aplikasi gofood dan grabfood, (8) Menggandeng reviewer kuliner untuk mempromosikan Resto, (9) Menambah area oleh-oleh khas Penatarsewu. Selain strategi S-O yang dilakukan oleh Resto Apung Seba, dalam identifikasi matriks SWOT juga terdapat strategi S-T, diantaranya (1) Menambah SDM atau tenaga kerja terutama juru masak yang ahli untuk mengganti juru masak sebelumnya, (2) Mempertahankan cita rasa produk yang telah dikenal oleh masyarakat, (3) Membuat ikon Resto Apung yang lebih menonjol sexbagai pembeda dari resto lainnya, (4) Membudidayakan beberapa jenis ikan di area tambak cadangan stok bahan baku. Strategi W-O diantaranya, (1) Membuat area playground untuk anak-anak, (2) Menambah fasilitas penunjang untuk spot foto, (3) Mengoptimalkan area tambak untuk event daerah, seperti kontes memancing Sidoarjo, (4) Memberlakukan diskon atau potongan harga, (5) Menambah wahana permainan air. Strategi W-T diantaranya, (1) Membuat akun media sosial khusus Resto Apung Seba, (2) Mengupload denah lokasi pada laman internet dan media sosial resto, (3) Melakukan upgrading menu agar tidak monoton, (4) Memperbaiki dan memperbarui bangunan yang mulai rapuh.Dosen Pembimbing Utama : Drs. Agus Suharsono, M.Si
Dosen Pembimbing Anggota : Drs. Anwar, M.S
Preferensi Penolong Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Botolinggo Kabupaten Bondowoso Tahun 2020
Finalisasi unggah file repositori tanggal 27 Mei 2022_KurnadiPersalinan di fasilitas kesehatan merupakan salah satu elemen kunci penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir. Pada tahun 2020 Puskesmas Botolinggo memiliki kasus Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 1 kasus dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak 5 kasus. Cakupan persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan yaitu sebanyak 270 kasus dengan presentase 97,12% dan persalinan yang dibantu oleh non-nakes atau dukun yaitu sebanyak 8 kasus dengan presentase (2,88%) dengan jumlah dukun tertinggi se Kabupaten Bondowoso yaitu 38 dukun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan preferensi penolong persalinan pada ibu yang melahirkan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan case-control. Dalam penelitian ini sampel dibagi menjadi dua yaitu kelompok (case) dan kelompok (control) dengan menggunakan perbandingan 1:3 yaitu 8 kelompok kasus (case) dan 24 kelompok kontrol (control) dengan jumlah 32 kasus yang dianalisis menggunakan metode univariat dan bivariat dengan uji Chi-square uji Regresi Logistik dengan nilai α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ibu yang melahirkan memiliki rentang umur 20-35 tahun, memiliki tingkat pendidikan menengah, memiliki pekerjaan, melahirkan anak 1-3 kali, memiliki pengetahuan yang rendah, jarak tempuh yang dilalui menuju fasilitas kesehatan jauh, biaya persalinan yang mahal, memiliki pendapatan yang rendah, serta tidak mendapat dukungan suami.Andrei Ramani, S.KM., M.Kes (Dosen Pembimbing)
Ni’mal Baroya, S.KM., M.PH (Dosen Pembimbing
Perencanaan Ulang Struktur Jembatan Menggunakan 1 Span Studi Kasus Tol Pasuruan-Probolinggo STA 37+747
Struktur jembatan merupakan salah satu komponen utama dalam jalan tol.
Struktur jembatan yang biasa digunakan pada jalan tol adalah jembatan beton
prategang. Hal ini dikarenakan jembatan beton prategang mampu menahan beban
dalam jangka waktu yang lama. Jembatan tol Pasuruan-Probolinggo Paket 4 STA
37+747 pada awalnya direncanakan menggunakan 2 span yaitu 20 m dan 30 m
namun dengan adanya peraturan baru Direktorat Jenderal Bina Marga perlu
diadakan perencanaan ulang menggunakan 1 span sepanjang 50 m menggunakan
PCI girder. Maka perlu direncanakan dimensi gelagar yang mampu menahan
beban optimum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Perencanaan
pembebanan jembatan mengacu pada SNI 1726-2016 dan RSNI t-12-2004. Untuk
mempermudah analisis struktur digunakan software SAP2000. Dengan mengubah
bentang jembatan tentunya dimensi gelagar juga lebih besar berdasarkan hasil
analisis struktur digunakan PCI girder dengan ukuran H-230 dan dibutuhkan
sebanyak 3 buah tendon dengan jenis strands Uncoated 7 wire super strands
ASTM A-416 grade 270. Jumlah masing-masing strands pada 3 tendon sebanyak
10 strands, 11 strands, 11 strands. Segmen girder ini terbagi atas 9 segmen
dengan panjang 5.5 m dan 6 m dengan jumlah pin conector sebanyak 5 buah yang
menghubungkan antar segmen. Jarak penghubung geser maksimum yang
digunakan sebesar 250 mmDosen Pembimbing Utama : Dr. Ir. Krisnamurti, M.T
Dosen Pembimbing Anggota : Nanin Meyfa Utami, S.T., M.