75643 research outputs found
Sort by
Toothache experiences: findings from 21 years longitudinal survey
To describe the pattern of toothache experience in a
cohort of children aged 2-5 over 21 years and to find the
relationship between previous toothache experience and later
reports of toothache to get finding on the most critical period
of toothache as a problem in life. Methods: This is a secondary
data analysis from Indonesia Family Life Survey (IFLS).
A total of 1,927 children from IFLS-1 with complete data were
included as baseline participants. They were followed up four
times within 21 years (age 6-9y, age 9-12y, age 16-19y, age 23-
26y). Toothache was based on the question of self-reported
toothache experience during the last four weeks. After 21 years,
a total of 1,098 individuals could be traced and completed every
cohort of the survey. Toothache experiences were reported for
frequencies in every cohort and accumulative experiences
over 21 years. Logistic regression tests were performed to
analyze the association of previous toothache experience
and later toothache experience. Results: Almost 40% of the
respondents reported toothache at least once in their life.
The age of 6-9 years is the period when a high percentage of
children had teeth-related pain. The experience of toothache
at this period was significantly related to every period of age
in life. Conclusions: The period of early mixed dentition is
important. Oral health status in this period is associated with
future oral health. A comprehensive dental health prevention
program targeting this population is essential to increase the
quality of life
Optimasi Konsentrasi Karbomer dan Etil Selulosa dalam Preparasi Mucoadhesive Microspheres Siprofloksasin Hidroklorida
Infeksi saluran kemih merupakan infeksi yang masih sering terjadi di komunitas terutama pada perempuan. Sekitar 10-20% perempuan pernah mengalami infeksi saluran kemih sepanjang hidupnya. Antibiotik yang menjadi salah satu terapi lini pertama untuk mengobati infeksi saluran kemih adalah siprofloksasin hidroklorida (Shahidulla dan Fatima, 2019). Dosis siprofloksasin hidroklorida yang dianjurkan untuk terapi infeksi saluran kemih adalah 500-750 mg diberikan dalam 2 kali dosis terbagi (Febrianto dkk., 2013). Siprofloksasin hidroklorida memiliki bioavailabilitas sekitar 70-82%. Penyerapan utama obat ini terjadi di bagian saluran pencernaan khususnya bagian lambung (Olivera dkk., 2010). Siprofloksasin memiliki waktu paruh yang singkat yaitu sekitar 3 sampai 4 jam sehingga perlu diberikan secara berulang. Frekuensi pemberian oral siprofloksasin yang berulang menyebabkan ketidaknyamanan dan ketidakpatuhan pasien (Begg dkk., 2000). Kepatuhan pasien dapat ditingkatkan melalui pengurangan frekuensi pemberian obat yang berulang. Pelepasan obat yang diperpanjang dalam waktu yang lama dapat meningkatkan bioavailabilitas obat di dalam sirkulasi sistemik sehingga tujuan mengurangi frekuensi pemberian obat dapat tercapai. Sistem pembawa obat pada penelitian ini menggunakan microspheres yang dikombinasikan dengan sistem mucoadhesive yang dapat meningkatkan waktu tinggal obat di dalam saluran pencernaan khususnya di bagian lambung. Microspheres adalah sistem pembawa obat berbentuk bola matriks yang berukuran 1-1.000 µm. Polimer matriks yang terdispersi pada permukaan microspheres akan mengontrol pelepasan obat pada gastrointestinal (Sahil dkk., 2011). Polimer matriks yang digunakan pada penelitian ini adalah etil selulosa. Kombinasi sistem microspheres dengan sistem mucoadhesive akan meningkatkan ketersediaan hayati dari obat yang diberikan. Polimer mucoadhesive yang digunakan pada penelitian kali ini adalah karbomer. Preparasi mucoadhesive microspheres siprofloksasin hidroklorida pada penelitian ini menggunakan teknik solvent evaporation. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karbomer dan etil selulosa sehingga diperoleh formula optimum dari mucoadhesive microspheres siprofloksasin hidroklorida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan formula optimum dari penggunaan karbomer dan etil selulosa serta melihat pengaruh masing-masing konsentrasi polimer dan interaksinya terhadap respon yang meliputi entrapment efficiency, ukuran partikel, dan kekuatan mucoadhesive. Formula optimum yang didapatkan nantinya akan dilakukan verifikasi menggunakan uji-T (one sample ttest) dan karakterisasi yang meliputi penilaian drug loading, yield, analisis SEM, analisis FTIR, dan uji disolusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi karbomer 300 mg dan etil selulosa 1000 mg menghasilkan formula yang optimum dengan nilai entrapment efficiency 68,963 %, ukuran partikel 404,523 µm, dan kekuatan mucoadhesive 64,266 gram. Karbomer dan etil selulosa memiliki efek meningkatkan entrapment efficiency, ukuran partikel, dan kekuatan mucoadhesive. Interaksi kedua faktor dapat meningkatkan entrapment efficiency dan ukuran partikel namun dapat menurunkan kekuatan mucoadhesive. Formula optimum yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki nilai drug loading 19,13 % dan nilai yield sebesar 99,823%. Analisis FTIR menunjukkan tidak ada perubahan signifikan gugus fungsi formula optimum mucoadhesive microspheres siprofloksasin hidroklorida setelah preparasi dibandingkan dengan siprofloksasin hidroklorida murni. Mucoadhesive microspheres yang dihasilkan memiliki bentuk sferis dan permukaan yang halus. Uji disolusi menunjukkan bahwa kadar pelepasan bahan aktif telah memenuhi syarat uji disolusi yakni lebih dari 80%.Apt. Lusia Oktora Ruma K S, S.F., M.Sc. (Dosen Pembimbing I)
Apt. Dwi Nurahmanto, S.Farm, M.Sc. (Dosen Pembimbing II
Efek Imunisasi Protein Pili 65.5 kDa Klebsiella pneumoniae terhadap Kadar IFN-γ Limpa Mencit Galur BALB/c
Klebsiella pneumoniae adalah bakteri gram-negatif yang merupakan ancaman terhadap masyarakat global. Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) menyatakan banyak negara yang telah kehabisan antibiotik efektif untuk infeksi K. pneumoniae. Tingkat resistensi terhadap ciprofloxacin, antibiotik yang biasa digunakan meningkat dari 4,1% menjadi 79,4%. Saat ini, tidak ada vaksin untuk K. pneumoniae yang dilisensikan oleh Food and Drug Administration (FDA). Terhambatnya pembuatan vaksin K. pneumoniae disebabkan banyak calon vaksin yang gagal pada tahap uji klinis karena reaksi silang yang merugikan. Faktor virulensi pili memiliki variasi antigen yang sedikit sehingga terjadinya reaksi silang rendah, sehingga dapat dijadikan alternatif pilihan sebagai kandidat vaksin. Kelebihan pili mudah memicu terbentuknya antibodi dibandingkan faktor virulensi lainnya. Pada penelitian sebelumnya, protein pili 65.5 kDa merupakan band yang paling tebal dari hasil elektroforesis SDS-PAGE. Pili K. pneumoniae bersifat imunogenik yang memicu respons imun, salah satunya sitokin IFN-γ. Produksi IFN-γ secara signifikan berada di paru-paru, hati, dan limpa saat terinfeksi K. pneumoniae. Splenosit limpa adalah sumber sel penghasil utama IFN-γ. IFN-γ berfungsi dalam pencegahan dini, IFN-γ akan mengaktifkan sel limfosit B untuk menstimulasi produksi imunoglobulin G (IgG) yang dapat mencegah terjadinya infeksi K. pneumoniae. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya efek imunisasi protein pili 65.5 kDa K. pneumoniae terhadap kadar IFN- limpa mencit galur BALB/c dengan mengidentifikasi berat molekul protein pili K. pneumoniae menggunakan SDS-PAGE dan mengukur kadar IFN- menggunakan metode ELISA.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental murni dengan randomized post test only controlled grup design, yang dilakukan di Laboratorium Hewan Coba, Mikrobiologi, dan Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Jember pada bulan September Desember tahun 2021. Hewan coba yang digunakan adalah 21 ekor mencit jantan galur BALB/c berusia 6-8 minggu dengan berat ± 25 gram. Jenis data pada variabel yang diukur dalam penelitian ini merupakan data primer yang diambil dari K. pneumoniae berupa protein pili 65.5 kDa dan kadar sitokin IFN- dari hewan coba yang diimunisasi. Selanjutnya dilihat kadar IFN-γ limpa mencit dengan metode ELISA dari 3 kelompok yakni kelompok kontrol PBS, kelompok perlakuan protein pili 65.5 kDa dengan adjuvan, dan kelompok perlakuan adjuvan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji ANOVA untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efek imunisasi K. pneumoniae terhadap kadar IFN-. Data akhir diolah menggunakan IBM SPSS Statistics 24.
Analisis statistik menggunakan One-way ANOVA menunjukkan p < 0.05 maka terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. Hasil uji Post Hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan antigen+adjuvan (p = 0.037), dan antara kelompok kontrol dengan adjuvan (p = 0.005), namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok antigen+adjuvan dengan adjuvan (p = 0.363). Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa imunisasi protein pili 65.5 kDa tidak memiliki efek terhadap peningkatan kadar IFN-γ di limpa pada mencit galur BALB/c.Dr.dr. Diana Chusna Mufida, M.Kes.
dr. Pulong Wijang Pralampita, Ph.D
Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Perawat RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar di Masa Pandemi Covid-19
Penyebaran kasus Covid-19 di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Seluruh elemen masyarakat berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru termasuk saat melakukan pekerjaan. Perawat merupakan salah satu kelompok terbesar tenaga kesehatan yang secara langsung berperan dalam proses penanganan pasien Covid-19. Jenis gangguan psikologis yang dapat menyerang perawat yang bekerja merawat pasien Covid-19 yakni stress dan cemas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara faktor karakteristik individu, faktor pekerjaan, faktor dukungan sosial, dan faktor keterpaparan Covid-19 dengan tingkat kecemasan perawat RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain Cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah perawat pelaksana sebanyak 142 orang sementara sampel penelitian sebanyak 105 perawat pelaksana. Hasil penelitian menunjukan mayoritas responden berada pada usia dewasa awal, mayoritas perempuan, mayoritas telah menikah, mayoritas tidak memiliki riwayat penyakit fisik, mayoritas tidak memiliki riwayat penyakit mental keturunan, sebagian besar memiliki masa kerja Rp. 3.500.000, sebagian besar memiliki beban kerja mental golongan mediun, sebagian besar patuh terhadap penggunaan APD, sebagian besar mendapatkan dukungan sosial kategori tinggi, sebagian besar memiliki riwayat kontak dengan pasien Covid-19, mayoritas tidak memiliki keluarga/teman/saudara yang terkonfirmasi Covid-19, mayoritas tidak memiliki keluarga/teman/saudara meninggal akibat Covid-19 dan sebagian kecil menderita kecemasan sedang. Hasil uji Spearman’s rho menunjukan bahwa usia (p=0,024) dan penggunaan APD (p=0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian kecemasan pada perawat selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, hasil uji koefisien kontingensi terhadap riwayat penyakit fisik (p=0,001) dan riwayat kontak terhadap pasien Covid-19 (p=0,044) menunjukan terdapat hubungan dengan tingkat kecemasan perawat dimasa pandemi Covid-19. Sementara itu, variabel jenis kelamin, status pernikahan, riwayat penyakit mental keturunan, masa kerja, bagian kerja, tingkat pendapatan, beban kerja mental, dukungan sosial, riwayat keluarga/teman/kerabat terkena Covid-19, dan riwayat keluarga/teman/meninggal akibat Covid-19 tidak memiliki hubungan dengan kejadian kecemasan.Kurnia Ardiansyah Akbar, S.KM., M.KKK dan dr. Ragil Ismi Hartanti, M.S
Strategi Pengelolaan Risiko Rantai Pasokan (Supply Chain) Komoditi Cabai Merah Besar di Kabupaten Jember
Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis komoditi hortikultura dengan tingkat konsumsi dan produksi yang cukup tinggi. Kabupaten Jember merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang budidaya cabai merah besar cukup tinggi. Hasil pengamatan awal di lapangan terindikasi beberapa permasalahan yang terjadi seperti ketidakseimbangan distribusi risiko pada pelaku rantai pasok. Petani sebagai pelaku utama dalam rantai pasok memiliki risiko tertinggi yaitu kegagalan panen akibat ketidakpastian musim. Analisis dan evaluasi rantai pasok akan memberikan informasi mengenai permasalahan yang terdapat dalam rantai pasok yang kemudian dilakukan identifikasi risiko penyebab rantai pasok kurang optimal serta menentukan arah perbaikan rantai pasok cabai merah besar secara kontinu, efektif, dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalisir ataupun menghilangkan dampak terjadinya risiko yang terjadi selama kegiatan rantai pasok cabai merah besar di Kecamatan Ambulu. Penelitian ini dilakukan dengan penerapan model SCOR untuk pemetaan aktivitas rantai pasok dan model House Of Risk (HOR) untuk pengelolaan risiko rantai pasok. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa aktivitas rantai pasok cabai merah besar di Kecamatan Ambulu memiliki empat pola aktivitas, kemudian terdapat 28 kejadian risiko (risk event) dan 24 sumber risiko (risk agent) yang terjadi pada aktivitas rantai pasok cabai merah besar. berdasarkan hasil perhitungan di dapatkan hasil berupa tujuh strategi penanganan risiko pada rantai pasok cabai merah besar yang terdiri atas melakukan evaluasi rutin, memilih pestisida yang tepat, bekerja sama dengan pemerintah setempat, melakukan pengobatan rutin pada tanaman, training tenaga kerja, manajemen usaha tani, dan penyuluhan tentang pemilihan bibit yang tepat kepada petani.Dr. Ida Bagus Suryaningrat, S.TP., M.M., IPU
Winda Amilia, S.TP., M.S
Analisis Yuridis Putusan Bebas dalam Tindak Pidana Pengedaran Sediaan Farmasi Berupa Obat Tramadol (Putusan Nomor 94/Pid.Sus/2021/PN.Tdn)
Finalisasi unggah file repositori tanggal 21 April 2022_KurnadiPerkembangan tindak pidana kesehatan di bidang farmasi marak terjadi, salah satunya yaitu pengedaran sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu. Berbagai macam obat keras diedarkan secara bebas tanpa adanya izin edar maupun dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian di bidang tersebut. Penegakan hukum yang dilakukan belum efektif karena penjatuhan hukuman tidak memiliki efek jera dan tidak setimpal dengan keuntungan yang didapatkan pelaku. Salah satu kasus yang menarik untuk dibahas adalah Putusan Nomor 94/Pid.Sus/2021/PN.Tdn dengan Terdakwa Heri Purnomo alias Roby Bin Kiki Basuki, didakwakan oleh Penuntut Umum dengan bentuk dakwaan tunggal yakni Pasal 196 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Berdasarkan uraian tersebut, terdapat 2 (dua) permasalahan yang dianalisis oleh penulis yaitu : (1) Apakah bentuk surat dakwaan Penuntut Umum dalam Putusan Nomor 94/Pid.Sus/2021/PN.Tdn telah sesuai dengan perbuatan terdakwa?, dan (2) Apakah pertimbangan hakim yang menyatakan tidak terbuktinya sub elemen unsur “sediaan farmasi” telah sesuai dengan fakta yang terungkap di persidangan? Tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah untuk mengetahui dan menganalisis bentuk surat dakwaan tunggal Penuntut Umum dalam Putusan Nomor 94/Pid.Sus/2021/PN.Tdn yang dikaitkan dengan perbuatan terdakwa dan untuk menganalisis pertimbangan hakim yang menyatakan tidak terbuktinya sub elemen unsur sediaan farmasi dalam Putusan Nomor 94/Pid.Sus/2021/PN.Tdn yang dikaitkan dengan fakta yang terungkap di persidangan. Guna mendukung penulisan skripsi ini menjadi sebuah karya tulis ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan, maka metode penelitian dalam penulisan skripsi ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif. Penelitian hukum yuridis normatif mengkaji beragam aturan hukum yang bersifat formal seperti peraturan perundang-undangan, literatur-literatur yang bersifat konsep teoritis, kemudian dikaitkan dengan persoalan yang merupakan inti pembahasan. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Sumber bahan hukum yang digunakan yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan non hukum. Analisis bahan hukumnya menggunakan metode deduktif, yaitu cara melihat suatu permasalahan secara umum sampai dengan hal-hal yang bersifat khusus untuk mencapai preskripsi atau maksud yang sebenarnya. Kesimpulan berdasarkan uraian pembahasan dari rumusan masalah yang telah dipaparkan oleh penulis, yaitu Pertama surat dakwaan berbentuk tunggal yang disusun oleh Penuntut Umum dalam Putusan Nomor 94/Pid.Sus/2021/PN.Tdn tidak sesuai dengan perbuatan terdakwa karena perbuatan terdakwa ternyata berpotensi menyinggung ketentuan pasal lain yang saling berkaitan dan jenis tindak pidananya sama, yakni Pasal 197 UU Kesehatan. Maka, seharusnya penuntut umum lebih tepat mendakwa terdakwa dengan bentuk dakwaan subsidair karena dakwaannya disusun secara bertingkat, mulai dari dakwaan yang paling berat sampai dakwaan yang paling ringan. Kedua, pertimbangan hakim yang menyatakan tidak terbuktinya sub elemen unsur sediaan farmasi tidak sesuai dengan fakta hukum yang terungkap di persidangan karena alat bukti Surat Uji Tramadol yang diperkuat oleh keterangan ahli Rr. Dyah Antuni, S.Farm, APT. menyatakan bahwa bungkusan bertuliskan Tramadol HCl yang diedarkan terdakwa kepada Saksi Darman dan Saksi Uden dan yang dihadirkan sebagai barang bukti di persidangan memang benar mengandung positif Tramadol HCl. Maka, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dalam hal mengedarkan bungkusan bertuliskan pil Tramadol HCl tersebut adalah sama dengan pengertian mengedarkan sediaan farmasi, yaitu berupa obat Tramadol. Adapun saran yang dapat penulis berikan berdasarkan uraian yang telah ada pada bab pembahasan dan kesimpulan, yaitu Pertama, penuntut umum dalam merumuskan surat dakwaan harus benar-benar cermat, jelas, dan lengkap, sehingga dapat memilih bentuk surat dakwaan dan menerapkan pasal-pasal dakwaan yang tepat sesuai dengan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Pengetahuan terkait teori, doktrin, maupun pedoman penggunaan surat dakwaan serta pengalaman dari penuntut umum untuk menyusun surat dakwaan juga sangat diperlukan, agar mampu menghasilkan dakwaan yang efektif dan tepat yang menyebabkan pelaku dapat dijatuhi pidana. Kedua, Majelis Hakim dalam memberikan pertimbangan berdasarkan fakta-fakta di persidangan, seharusnya lebih cermat dan teliti dengan memperhatikan alat bukti dan barang bukti yang diajukan di persidangan sebab pertimbangan hakim mengenai terbukti atau tidaknya unsur pasal dan perbuatan yang didakwakan menjadi dasar dalam menjatuhkan putusan. Seharusnya hakim juga perlu memperhatikan teori atau doktrin yang berkaitan, sehingga akan memberikan interpretasi yang lebih baik. Fakta persidangan tidak dapat diabaikan oleh hakim agar nantinya diharapkan mampu memberikan putusan pengadilan yang memiliki kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan dalam masyarakat.Echwan Iriyanto, S.H., M.H., : Dosen Pembimbing Utama
Fiska Maulidian Nugroho, S.H., M.H., : Dosen Pembimbing Anggot
Pola Komnunikasi Keluarga Osing Abangan dalam Transmisi Etika Sosial di Kabupaten Banyuwangi: Kajian Etnografi Komunikasi
Finalisasi unggah file repositori tanggal 7 Juni 2022_KurnadiPola Komunikasi Keluarga Osing Abangan dalam Transmisi Etika Sosial di Kabupaten Banyuwangi: Kajian Etnografi Komunikasi; Sahara Megawati; 200120201006; 2022; 183 halaman, Magister Linguistik; Fakultas Ilmu Budaya; Universitas Jember.
Pada keluarga abangan Suku Osing Dusun Dukuh Kampung Baru, Desa Glagah, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, keluarga memiliki peran utama dalam upaya pengembangan kepribadian anak. Keluarga abangan menggunakan etika sosial dalam mendidik anaknya. Etika sosial merupakan keteraturan hidup yang dijalankan oleh seorang atau kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menggali jenis tindak tutur yang digunakan oleh keluarga abangan Suku Osing dan pola komunikasi yang digunakan dalam mentransmisikan etika sosial.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Data penelitian ini berupa percakapan antara orang tua dan anak serta kakak dan adik yang mengandung transmisi etika sosial yang berupa etika pergaulan, kesantunan, pendidikan, dan keagamaan serta konteks yang melatarbelakangi percakapan tersebut. Metode pengumpulan data menggunakan introspeksi, observasi partisipasi, dan wawancara dengan teknik rekam dan catat. Metode analisis data menggunakan teori komponen tutur “SPEAKING-grid.”
Hasil penelitian menunjukkan jenis tindak tutur yang digunakan oleh keluarga abangan di Dusun Dukuh Kampung Baru adalah ilokusi direktif, perlokusi direktif, ilokusi asertif, perlokusi asertif, ilokusi deklaratif, ilokusi komisif, dan ilokusi ekspresif. Orang tua menggunakan tindak tutur yang bersifat koersif, sedangkan anak menggunakan tindak tutur yang berfungsi fatis.
Pola komunikasi yang terbangun bersifat dialogis (timbal balik) diawali oleh pertanyaan, tahapan pemberian pemahaman etika sosial, dan perintah melaksanakan yang disertai dengan peringatan, serta teguran pada anak ketika perintah dari orang tua tidak dilaksanakan. Tuturan orang tua yang disertai dengan tahapan teguran berbentuk kurva, yakni: mulai dari peringatan verbal tanpa disertai dengan nada marah, teguran verbal disertai dengan nada marah, hingga pemberian sanksi fisik. Hubungan emosional yang terjalin menunjukkan bahwa, bapak lebih dekat dengan anak laki-lakinya sedangkan anak perempuan lebih dekat dengan ibu. Perbedaan dari pola komunikasi yang terjadi antara anak perempuan dan anak laki-laki terletak pada nada (tone), body languange, dan tercapainya tujuan tutur (ends). Anak laki-laki berani menggunakan nada tinggi, body languange tidak serius, dan percakapan jarang mencapai tujuan tutur, terkecuali dengan bapak. Hal tersebut menunjukkan bahwa anak laki-laki lebih bengkak (nakal) daripada anak perempuan. Pola komunikasi yang terbentuk mendukung norma/nilai yang mengatur hubungan antara orang tua dengan anak dan kakak dengan adik dalam mencerminkan kebudayaan Suku Osing khususnya di Dusun Dukuh Kampung Baru, Desa Glagah, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa, hasil didikan orang tua yang menggunakan tindak tutur koersif menjadikan anak lebih tertutup, sedangkan didikan yang tidak menggunakan itu, menjadikan anak hormat dan lebih terbuka. Hal itu dibuktikan dengan anak menggunakan campur kode bahasa Osing ke bahasa Jawa sebagai bentuk pola komunikasi yang menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada mitra tutur. Setiap tuturan yang terjadi, mencapai tujuan tutur atau tidaknya dipengaruhi oleh siapa penutur dan lawan tuturnya, status sosial (peran, jabatan), umur, keeratan hubungan, dan jenis kelamin.1. Prof. Dr. Akhmad Haryono, M.Pd.(Dosen Pembimbing)
2. Dr, Agus Sariono, M.Hum. (Dosen Pembimbing
The Impact of Overhead Dumbbell Squat Towards Swimming Speed of Tirta Palm Swimming Club Members
Swimming athletes compete by how fast they can swim at a certain distance. One of the most important things that affect the swimming speed was the muscle strength of the arms and legs. The swimming speed can be increased by doing the physical exercise that can affect the arms and legs muscle which was called overhead dumbbell squat (ODS) exercise. The purpose of this study was to find out if there was an effect of ODS towards increased breaststroke swimming speed of Tirta Palm swimming club members. This study was an experimental study with one group pretest-posttest design that was implemented for a month about 16-20 years old that met the qualifications of inclusion did the ODS exercise thrice a week for 4 weeks. The duration of each exercise was 10 repetitions, 6 sets, and breaks for a minute in each set. The result showed that the average pretest swimming speed was 67,84 seconds and the post-test was 59,07 seconds. The analysis result of paired sample t-test showed a value p<0,001, so there was a significant difference between pretest and posttest. It could be concluded that overhead dumbbell squat exercises could enhance the swimming speed of Tirta Palm swimming club members
Construction of Financial Statement for Islamic Household
This study aims to investigate how to develop sharia accounting to compile Islamic household financial statements. The study was used qualitative research for analytical, empirical data. The respondents for the research are 5 Islamic housewives and accountant educators (accounting lecturers) who were selected by purposive sampling in East Java. The obtained data were analyzed via Miles Huberman's approach with three analytical elements. The results showed that Islamic household financial statements consisted of; (a) statement of financial position, (b) cash flow statement and, (c) statement of changes in funds. The Islamic accounting development model for Islamic household entities uses an integration, interaction, and evolution approach that was developed from empirical facts about the existence of financial statements occurring in Islamic households synchronized with the opinions of educators accountants about Islamic financial statements and then integrated with Islamic teachings
Analisis Pemahaman dan Kepedulian Pelaku UMKM Tempe dan Tahu dalam Penerapan Green Accounting di Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur
Pelaku UMKM Tempe dan Tahu perlu menyediakan dana untuk biaya lingkungan yang digunakan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Adanya dana yang disediakan oleh pelaku UMKM Tempe dan Tahu untuk biaya lingkungan menjadi bentuk dari penerapan green accounting. Pelaku UMKM Tempe dan Tahu perlu memiliki pemahaman dan kepedulian dalam penerapan green accounting. Pemahaman dalam penerapan green accounting ditunjukkan dengan memahami pengertian, jenis, dan cara menganggarkan biaya lingkungan. Pemahaman terkait biaya lingkungan akan menjadi dasar dari tindakan proaktif pelaku UMKM Tempe dan Tahu dalam menyediakan dana untuk biaya lingkungan. Tindakan proaktif dalam menyediakan dana untuk biaya lingkungan merupakan bentuk dari kepedulian dalam penerapan green accounting. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman dan kepedulian pelaku UMKM Tempe dan Tahu dalam penerapan green accounting.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan metode purposive sampling. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah 5 pelaku UMKM Tempe dan 2 pelaku UMKM Tahu di Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur yang memahami dan peduli terhadap penerapan green accounting. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumen. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 pelaku UMKM Tempe dan 2 pelaku UMKM Tahu memiliki pemahaman terhadap green accounting. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya upaya untuk meningkatkan pengetahuannya terkait cara menjaga kelestarian lingkungan. Cara yang mereka lakukan beragam, ada yang mengikuti sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup maupun dari Komunitas UMKM Tempe dan Tahu, serta membaca buku maupun artikel terkait cara menjaga kelestarian lingkungan di internet. Selain itu mereka juga telah melakukan penganggaran dana untuk biaya lingkungan pada tahun 2021. Besaran dana yang mereka anggarkan berbeda-beda, yaitu mulai dari Rp 240.000,00 hingga Rp 2.160.000,00. Penentuan jumlah dana tersebut didasarkan pada catatan pengeluaran kas tahun 2020 (cost history) dan juga didasarkan pada harga barang dan jasa terkini (current input cost).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 5 pelaku UMKM Tempe dan 2 pelaku UMKM Tahu memiliki kepedulian terhadap penerapan green accounting. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya dana yang dikeluarkan untuk membiayai perencanaan menjaga kelestarian lingkungan yang disusun sebelumnya. Dana tersebut digunakan untuk berlangganan jasa kebersihan, membeli perlengkapan kebersihan, membayar biaya pendaftaran sosialisasi dari komunitas UMKM Tempe dan Tahu, membeli buku terkait cara menjaga kelestarian lingkungan, dan membayar wifi untuk mengakses artikel terkait cara menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu mereka juga mencatat setiap transaksi tersebut ke dalam catatan pengeluaran kasnya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari lupa catat, untuk bahan evaluasi, serta dasar penentuan anggaran tahun selanjutnya.
Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa 5 pelaku UMKM Tempe dan 2 pelaku UMKM Tahu memiliki pemahaman terhadap green accounting dengan upaya meningkatkan pengetahuan terkait cara menjaga kelestarian lingkungan yang berbeda-beda. Mereka juga telah melakukan perencanaan dana untuk menjaga kelestarian lingkungan setiap periode. Mereka juga telah memiliki kepedulian terhadap penerapan green accounting yang ditunjukkan dengan dikeluarkannya dana untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dana yang dikeluarkan juga dicatat dengan baik ke dalam catatan pengeluaran kas mereka.Dosen Pembimbing I Dr. Sri Kantun, M.Ed
Dosen Pembimbing II Dwi Herlindawati, S.Pd., M.P